An Amazing Woman, Madam Uche (The Lesson) Part 1.

An Amazing Woman, Madam Uche (The Lesson) Part 1.

The lesson from Madam Uche.

Niat saya memposting tulisan ini sederhana ; Your vision about African will change!

Perkenalkan, wanita disebelah saya adalah Madam Uche, Executive Director sekaligus perintis perusahaan tempat saya bekerja sekarang, Newton & David (N&D) Events. Nama lengkapnya Maureen Weruche Okaru, sekarang Uche Majekodunmi, Majekodunmi itu nama keluarga suaminya, Adekunle Majekodunmi yang juga Director di perusahaan events yang berusia hampir 22 tahun. Saya menyebut Mr.Majekodunmi dengan sebutan Oga, bahasa asli disini yang artinya Sir atau Bapak/tuan.

Kesan pertama saat saya bertemu beliau mungkin persis seperti saat anda pertama kali melihat gambar diatas, kaget. Kenapa? Saya akui melihat perawakan besar, berkulit gelap dan tanpa rambut membuat saya mesmerised meski itu hanya bertahan beberapa menit. Anda tahu bahwa sebagian besar rambut orang Afrika adalah wig? Ya, wig. Dan Madam Uche bukan bagian daripada itu, ia teramat bangga dengan rambut tipisnya. Saya tak pernah melihat ia menggunakan wig dalam foto-foto semasa mudanya. Sangat natural sebagai seorang genuine African woman.

Pertemuan perdana dengan beliau terjadi setahun yang lalu, 26 Juni 2011 saat saya baru tiba di Lagos. Saat itu kakak kelas yang merekomendasikan saya ke N&D mengajak saya langsung ke rumah beliau sesaat setelah saya mendarat dari Dubai. Siang itu adalah hari pertama di mana saya menjejakkan kaki di negara orang. Di benua yang sama sekali tidak ada di pikiran saya sebelumnya, Afrika. Saya ingat betul saat saya tiba di rumah wanita kelahiran tahun 1960 ini. Ia menyambut saya dengan sangat hangat. Siang itu terik dan saya jelas lelah setelah terbang hampir 22 jam dari Jakarta. Sesampai di rumah beliau yang teduh, saya mengenalkan diri. Beliau menjawab ” Welcome to Nigeria” sambil tersenyum. Ia menyisipkan pesan pada pertemuan pertama bahwa saya harus memliki strong character untuk bisa menghadapi Nigeria yang sesungguhnya, saya ingat betul kata-kata itu. Dan saya tidak mengada-ngada, senyuman beliau saat itu benar-benar tulus hingga saya rasa tidak perlu lagi mesmerised seperti pertama kali melihat beliau. Ia benar-benar welcome.

***

Hari-hari pertama saat Madam Uche kembali beraktifitas di kantor, saya merasa bahwa saya masih amat kaku. Saya rasa wajar karena bekerja di lahan yang benar-benar baru butuh kerja keras untuk bisa menyatu melalui adaptasi. Hal pertama yang saya pelajari adalah mengucapkan salam “Good Morning Ma” diucapkan oleh staf di kantor. Saya? Saya mengikuti. Kakak kelas saya membimbing saya dalam hal etika di kantor. Mengucap selamat pagi di sini seperti tradisi.

Beberapa hari kerja saya mulai bisa beradaptasi dengan gaya kepemimpinan Madam. Ia tipikal wanita yang sangat disiplin dan pekerja keras. Saya bisa mengatakan seperti itu karena analisa visual hingga hari ini, satu tahun dua bulan saya bekerja di N&D. Beliau memiliki gaya yang tegas dalam memimpin dan tak perlu diragukan lagi ia disegani. Watak Madam memang keras dan maaf, jika beliau marah besar, O saya pun shaking :D. Menurut saya bukan karena ia pemarah, tapi lingkungan lah yang mempengaruhi ia kadang memiliki short tempered. Lingkungan? Ya, begini, pada dasarnya siapa yang suka marah jika tidak ada sesuatu yang salah?  Sesimpel itu kan? Sumber daya manusia Afrika memang harus diakui masih dibawah standar dan ini salah satu alasan kenapa ia harus bertindak tegas bahkan kadang harus shouting untuk membuat karyawannya mengerti apa yang ia maksud. Bukan hanya Madam, saya pun seperti berubah menjadi lebih keras dan tegas menghadapi orang Afrika :D Ini pernyataan serius, karena jika tidak, saya tidak akan cukup kuat survive di sini.

Standarisasi orang Afrika yang saya maksud di bawah standar tidak serta merta berlaku untuk orang yang beruntung bisa menganyam pendidikan atau pernah menetap di luar negeri. Itu yang saya perhatikan selama ini, Madam contohnya. Sebagai seorang yang memiliki dua kewarganegaraan, british dan nigerian ia berbeda. Beliau lahir di Manchester, Inggris dan pernah lama tinggal disana. Ayah Ibunya pun british meski asli nigerian dan sudah memiliki beberapa rumah di sana dengan pembantu seorang Inggris, bisa anda bayangkan?

Madam memang lahir dari keluarga yang berada dengan orang tua yang educated. Saya baru tahu jika Ibunya yang seorang guru pernah mengeyam pendidikan MA degree dari University of London. Beliau sempat mendapatkan penghargaan prestisius Helen Straw International Service Award di Swiss yang disponsori oleh The College of Human Ecology, The Ohio University of America. Saya tahu itu saat membantu beliau mendesain sampul buku yang ditulisnya sendiri. Bukunya tentang pendidikan yang bisa diterapkan di Nigeria adaptasi dari riset yang beliau lakukan selama di Jerman, Jepang, Inggris dan Wales. Ayahnya seorang pengusaha yang memiliki spot minyak mentah, dan bagi yang belum tahu, negara ini punya spot minyak mentah yang melimpah yang menjadi kekuatan utama ekonominya. Kedua orang tuanya juga sangat welcome. Saya kira Madam Uche mewarisi kesahajaan dari ibunya serta mewarisi disiplin tingkat tinggi ayahnya.

Madam Uche adalah lulusan teater dan drama, dan mengenyam pendidikan spesialis bunga dari florist kenamaan dunia asal Inggris, Paula Pryke. Madam merintis perusahaan ini berawal dari toko bunga kecil yang ia buka di rumahnya. Pekerjaan dekorasi pertamanya adalah mendekor sebuah gereja di Lagos. Dengan jerih payahnya ia berhasil mengembangkan usahanya hingga menjadi yang terbesar di Nigeria. Saya salut dengan kegigihannya mempertahankan N&D, perusahaan dekorasi pertama yang berdiri di Nigeria dengan standarisasi internasional. Sekedar catatan, membuka usaha di negeri ini sangat tidak gampang dilihat dari banyak hal. Dan kunci kesuksesannya ada pada keseriusannya memperhatikan keinginan klien entah itu klien dengan nilai proyek kecil apalagi besar. Mengembangkan usaha yang berawal dari rumah hingga bisa sukses menangani dekorasi di luar Nigeria baru-baru ini, di Gambia, London dan Marbella (Spanyol) bukanlah pekerjaan yang mudah jika tidak dikerjakan dengan passion.

Selanjutnya saya akan menuliskan hal-hal unik tentang Madam dan beberapa yang belum sempat saya sebutkan disini.

Part 2, NEXT.

Can’t Wait

JustBelieve1

AZ : “I inspired by the latest winter collection of Dolce Gabbana. See this pattern, it’s beautiful. See those roses. The first time I saw this pattern, I said it must be somewhere in my design”

MU : “It’s beautiful. Uh, it’s Italian, right?, Ah Azis if you go to Italy, you’ll be craze. You must go”

AZ : “I know, next year Ma”

MU : “Why next year? Why you’re not going this year? Azis, why you’re wasting time”

***

Siang itu, di sela kesibukan kantor yang random sekali, saya menunjukkan konsep sebuah acara yang akan dihelat oleh salah satu bank besar pada Madam Uche, Executive Director tempat saya bekerja saat ini. Acaranya sendiri semacam launching program khusus wanita berupa dinner plus award ceremony untuk business women, artis yang berprestasi, dan wanita-wanita berpengaruh di bidangnya masing-masing. Saat menjelaskan elemen-elemen desain yang ada di dalam desain interior serta inspirasi yang saya dapat dari pattern mawar koleksi musim dingin 2016 Dolce Gabbana, tiba-tiba percakapan di atas terjadi.

Yang menarik adalah penggalan kalimat terakhir. Why next year? Why you’re not going this year Azis? Europe? tahun ini?(??) yaelah, mau sih mau banget bisa pergi ke Eropa secepatnya, hehe.

Sesaat setelah beliau meng-encourage saya untuk segera pergi, diiringi senyum dalam hati, semangat saya pada Eropa kembali meletup. Sebagai seorang yang bekerja di bidang kreatif dan bertanggung jawab penuh untuk menghasilkan konsep-konsep yang unusual, distinct dan selalu baru, sudah seharusnya bepergian ke tempat-tempat indah macam Eropa diagendakan agar saya semakin kaya akan inspirasi. Sebenarnya it’s not a big deal really untuk packing dan pergi ke sana, world is a global village. Apalagi (bismillah) dengan dukungan beliau (baca : mengharap banget tiket ditanggung perusahaan :P), seems like Europe is closer to my eyes. Ini hanya perkara waktu yang tepat.

Saat ini saya hanya ingin fokus pada satu hal besar yang belum tuntas. Setelah itu, it’s time to see Europe. Standing in front of beautiful buildings when I just arrived in Paris, feel the magical ambiance surrounding, take train to Rome, Copenhagen is on my list I think, oh Prague, many places to see. Bicara tentang impian menyusuri Eropa, ada satu hal yang ingin sekali saya wujudkan jika berhasil ke sana. Being backpacker isn’t my dream, saat setiap kali ingin makan enak di Eropa harus mikir dua kali atau pusing dengan budget ketat. Being a lavish traveler juga bukan even if I wish :P. Style perjalanan yang saya ingini ada di tengah-tengah, menikmati Eropa secara ideal tanpa harus boros-boros amat. Memiliki uang yang cukup untuk merasakan proper dinner di salah satu restoran di Paris, membawa pulang oleh-oleh yang banyak di Itali, mengunjungi galeri-galeri inspiratif di Denmark how I fall in love with Dannish design, banyak lah yang ingin saya wujudkan, hehe.

Saat ini all I need to do is keep dreaming, keep believing and keep working. Dan postingan ini nampak seperti penyemangat lagi dari postingan galau two in a row sebelumnya. And I’ll try to keep this blog update while I’m having an earlier December in this industry!

JustBelieve2

JustBelieve3

Every time my spirit at work goes down, I always see those Paris photographs by Alice Gao and feel better. Ah, I just can’t wait.

Happy Birthday Ma!

MadamUche'sBday

First post for this year is a simply yet beautiful moment happened today.
We just celebrated our guru’s birthday, Madam Uche Majekodunmi, a super woman that never lose energy to do something big in her life. Madam Uche is a guru for us in our company, she is the one and only. Hopefully, our surprising celebration for her expressed how we love her as a mommy, as a guru, as a boss from the bottom of our hearts.
Dear Madam Uche, happy birthday, wish your life will be fulfilled with endless love and blessing a year ahead and ever after. A beautiful life, health, wisdom, prosperity and long life.

I wish I could capture our moment today in a better angle, hope you don’t mind for these pictures.

MadamUche'sBday2

MadamUche'sBday3

MadamUche'sBday4

MadamUche'sBday1

With Love,

Azis.

Apericena

Firstly forgive me cause this post has too many pictures, I couldn’t control myself to attach them on. All of them have been chosen from three hundred and sixty something that I took one day for official opening of the company where I’m working with present. Choosing them wasn’t easy :D.

I’m so excited for this because I just realized that I could capture better and better. I do believe that good isn’t enough when better is possible and that’s why I will always learn harder sharpen my eyes to capture beauties around. O yes, I’m such a hunger for photography recently esp for space (!!!).

Alright last week on Friday, my company finally launched officially the new branch on Victoria Island with Traditional Italian Apericena concept. Do you know what is Apericena? Basicly Apericena is comes from two words ; Aperitivo and Cenna. Aperitivo or Aperitiv in Italy is just like open meals when people gather around just standing up with wines, champagne or other alcoholic/non alcoholic drinks and small foods. Aperitivo itself being served in many cafe in the early evening all around Italy. And Cenna means ‘dinner’ where people eat heavier meals. So Apericena is just like gathering two Italian meal structures start from Aperitivo with small foods and drinks, then eat heavier after for dinner but the food as I knew is lighter foods.

The Italian concept wasn’t only the flows of the event, the foods, but also on the decor. We decided to build pergola in white with a rustic touch and delphiniums hanging from top as an entrance, everyone loved that!. Because our office isn’t big and has two spaces one for floral and the other for decor so, we did two different concepts. For the backside we hanged white paper lanterns in different sizes which was very dramatic. Anyway I’ll show from the decor, here we go!

Apericena-Decor2

Apericena-Decor3Apericena-Decor5

Apericena-Decor 4

Apericena-Decor1

Apericena-Decor6

Now I’ll show you the flowers that made all guests amazed, flowers are always breathtaking, eye-catching and enchanting! My fav one apart of Peonies (!) is the reflection of the window display, pic number three!. See that giant cactus is bigger than my head! I couldn’t imagine if somebody smacks that to my head ha!

Apericena-Flowers9

Apericena-Flowers1

Apericena-Flowers4

Apericena-Flower2

Apericena-Flower3

Apericena-Flowers2

Apericena-Flowers7

Apericena-Flowers8

Apericena Night

Apericena-Flowers6

After worked overnight for three days there, slept inside car, on top of reception table once, junk foods for dinner (yikes! <– I had no choice :3), so apart of my job, there was time to enjoy the foods! Not only enjoyed the western foods and Italian foods, I was too busy running up and down to capture them :P even when I was enjoying the foods! I was busy to find black background and kept my plate on straight line with left hand and the right hold Nex7! Haha ridiculous!

The Apericena foods were slow roasted fresh bacon with spicy tomatoes (<– for sure I couldn’t eat that :D), baguettes, cheeses ; mozzarella and scarmosa (love them!), pasta!!!, big prawns with olive sauce, carrot cakes with cheese on top, I couldn’t remember one by one but I still remember after I ate five prawns, my fingers were freezed for a second :D Oh I hope I have no cholesterol ;P I just love that prawns! Yum!.

Beside the Italian, fusion foods were served as well like beef in heavy sauce, couscous with pome, salad, lamb, anymore. I enjoyed the fusion before italian (<— this sentence makes me hungry right now!). O yeah the chef that cooked the Apericena came straight from Florence so the taste was genuine Italian, his name is Nicollo. Hey wait should I move to be a coast to coast chef and travel more outside country just only for cooking? Haha, no, I prefer to be a food photographer with the same chance :P, I talk to much right? Sorry, foods? this!

Apericena-Foods6

Apericena-Foods1

Apericena-Foods5

Apericena-Foods4

Apericena-Foods2

Let me attach behind the scene :)

Apericena-BehindTheScene1

Apericena-Foods3

Apericena-BehindTheScene3

Apericena-BehindTheScene4

Apericena-BehingTheScene5

Apericena-BehindTheScene7

1) Nicollo, the chef . 2) Cheeeese! . 3) All guest got the souvenirs, a cute kalanchoe and one bottle of red wine! . 4) Madam Uche and Gozie after TV Interviews, I love what was Madam Uche wore that day, stylish orange! . 5) That isn’t my hand :P I can’t arrange flowers! My flatmates did great job a night before the event :D . 6) Ups those cutlery is very nice, we ordered them from ASA Germany, do you know it’s a bit sad that we couldn’t use them all cause preparation time was too short :( my imagination of those foods pretty arranged on them were disappeared, I wish I could bring those white plates and play at house on Sunday :P

Last, don’t mind me, just wanna pop in small thing! :D O I bought that black shirt as dress code few hours before the event cause I had no one (<– pity you!), o damn, finally found small size and very nice black cotton after went in and out some stores but the price guys? I don’t want to mention it cause rrrgh my saving money…o…I’m going home soon…I need moneyyy!!! :( nope I can’t be like that, lemme change –> :)

See this pic below, grey shirt and black? I love that colors! hehehe I’m so monochrome for shirt :) forgive me Dad for that champagne :P. Am I right that this post is so loooong? haha hope you enjoy this :)

Azis

Apericena-BehindTheScene2

25

25

Personally, I always have a minor fear for my birthday for years, it sounds insane I know. There is nothing special for birth(day) unless the fact that I have to make tons of changes in life, for every single part of life, which means that some of the things I haven’t gotten yet MUST be on my hand and all dreams inside my bucket list must be REAL.

For me life isn’t easy when getting older and older, and probably that’s one of my personal reason that makes me hate to be stupid cause it will be harder. In the same time I should be grateful for everything that has been happened for past year, any wishes everything better for the next.

I’d like to write 24 memorable things that I should remember ;

  1. Had an encourage to show that I could raise my bar to another level, crossed the continent for the first time in my life
  2. One of the biggest fearless decision in life made me out from comfort zone
  3. Moved to the land where it has been teaching me so many things, out dare the real life since I started my steps, it’s unreal
  4. Working in the brand new industry where I find all the odds are endless
  5. Met an amazing Madam Uche who teach me so many priceless lesson
  6. Could be a wiser young man by loving adorable parents (+family) more, distance makes a real change
  7. Knew Alice Gao who inspire me a lot in (food) photography, I do love every single of her works, ALL (awe-inspiring Alice!)
  8. Met and worked for some well-known figures from this country, from politician, VS modelMiss Worldlawyers, until Vice President (more ahead)
  9. More grateful by enjoying every pieces of food that I could easily enjoy them, hm I’d like to be a serious glutton someday
  10. Stuck deeper into (food) photography since I got my mirrorless
  11. Had cool stuff(s) that I got from my own hard work (really worth it)
  12. Had an indescribable (or unforgettable) feeling when I got home after several months
  13. Spent three days at Ranu Kumbolo with 4 best friends, I could see entire sky full of stars along blissful night, felt a real freedom
  14. Eat out more
  15. Had some meetings with old friends, spent hours in some different places where we could share anything since we’ve been separated each other
  16. Salary raised (I spend more, seems the same :P)
  17. Having small private room where I can share anything, this young blog
  18. Did so many different projects that I couldn’t even believe that I could (port folio should be richer)
  19. Speaking English in daily life, learning more to speak with British accent, it would be enrich my language skill (and it’s free)
  20. Being expatriate in this age isn’t easy, but I’d like to be grateful for sure
  21. Broken hearted
  22. Respect myself more than before (so much)
  23. One of my biggest dream to visit my dream land has a mild sign into reality
  24. Spent 10 days for Ramadhan in my own country, it sounds ridiculous but it was meant to me

And I’d like to wish 25 things for a year ahead ;

  1. Keeping up my good work, build my self-esteem in my professional career
  2. Always ready for all the obstacles in the future
  3. Visiting different country in Africa where I can see the beauty of life clearly,
  4. Not only working but all experiences that I’ve gotten could open another door, another chances, another level of professionalism
  5. Meet more and more amazing figures who I can pick their brain and learn more
  6. Giving my parents small gift that I get from my hard work
  7. Not only see Alice Gao in her instagram feet, having chance for coffee time in NYC :P
  8. Exploring foods in different spots in Indonesia when I’m coming back, this year (can’t wait)
  9. Get my DSLR and high quality lenses
  10. More Apple products (!)
  11. Can fly back home twice in a year with executive class :P
  12. More new places, more travel, more experiences of life
  13. Enjoying more hi-end foods in hi-end places and capture them in hi-quality ones
  14. Meet more friends, can’t wait to see them this year (!)
  15. Salary raise twice oh no three times or four :P, and get another income from hobbies
  16. Posting more and more quality posts in this blog
  17. Taking part in some inter-continental projects
  18. Taking French class
  19. No more broken-hearted, can find perfect one for future (!!!)
  20. Visiting Marbella in April for work and spend more days to see Mediterranean, Paris – Berlin and their neighbours
  21. Celebrating I’d Fitr in houuuse this year (!)
  22. Getting my first step for Master Degree (!)
  23. Diving in many different amazing spots in Indonesia
  24. Taking swimming course (rggh!)
  25. Live this year fulfilled with energy and positivity, being meaningful person for others

Last, overwhelmed gratitude for all blesses every day, Thanks God.

Cheers,

Azis.

Bahagianya Pulang! (Bagian 1)

Tadi pagi hampir siang, sekitar pukul 11, saya baru mendapat kabar salah satu teman saya disini akhirnya sampai juga di Jakarta. Penerbangannya hampir sama dengan apa yang saya punya tahun lalu, pukul 5 sore berhasil mendarat di Jakarta. Darinya kemudian membuat saya tergerak untuk menulis secuil perjalanan pulang saya tahun lalu. Kepulangan pertama.

Yang namanya pulang kampung untuk seorang perantau bisa jadi salah satu momen istimewa. Bagi anda yang merantau di kota lain untuk bekerja, momen pulang kampung itu indah. Terlebih saat hari raya, saya amini momen itu sebagai momen penting. Penting dan indah bukan?. Jika kota tempat anda bekerja masih dalam satu negara yang sama, pulang kampung bisa sepenting itu, maka perantau macam saya yang tinggal dan bekerja di negara orang, momen itu berkali-kali lipat pentingnya. Saking pentingnya, momen itu berhasil membuat saya gelisah tahun lalu. Gelisah yang membahagiakan.

Tiga hari sebelum kepulangan, bayangan-bayangan kebahagiaan sudah terekam jelas di ingatan. Kadang agar tidak lupa, sesekali saya bubuhkan tinta di atas buku catatan. Sebenarnya, bukan dari tiga hari sebelum kepulangan bayangan-bayangan itu datang. Sebulan sebelum hari H sepertinya waktu yang tepat untuk menandai excitements on exciting mind. Saking bahagianya, bayangan-bayangan itu mengganggu daya konsentrasi padahal saya ingat, saat itu target pekerjaan sebelum saya cuti cukup banyak. I had a lot on my plate.

Bayangan itu bermacam-macam, dari hal besar yang ingin saya kerjakan hingga hal-hal kecil yang juga tak kalah manisnya. Dari daftar makanan Indonesia yang wajib saya makan, tempat-tempat yang belum pernah disinggahi, orang-orang yang wajib ditemui, hingga belanja pakaian-pakaian baru yang dibutuhkan (baca : diinginkan). Segitu banyaknya.

Waktu yang paling krusial merasakan bahagianya pulang adalah malam sebelum saya benar-benar ‘pulang’. Sebentar, coba saya ingat. Malam itu sekitar pukul delapan saya berada di kamar flatmate saya. Kebetulan hari itu kami pulang tepat waktu karena tidak ada pekerjaan yang mengharuskan kami bekerja overnight. Di dalam kamarnya kami berbincang ringan tentang apa saja yang ingin saya lakukan beberapa jam kedepan. Apa yang akan saya cari di Dubai, saat tiba di Jakarta, hingga dua puluh sembilan hari kedepan. Ya, saya hanya punya waktu sebulan di Surabaya. Malam itu flatmate saya mendapat telepon dari Madam Uche, Bos kami. Sebelumnya mereka berdua berbincang perihal pekerjaan hingga akhirnya saya memiliki kesempatan berpamitan kepadanya. Madam, seperti biasa, berpesan semoga perjalanan saya selamat sampai di rumah, salam untuk keluarga dan hal-hal semacam itu. Kebetulan saya hanya bisa berpamitan melalui telepon karena beliau sedang di Florence, Itali.

Beberapa jam setelahnya, saya kembali ke kamar memandangi koper yang masih terbuka. Beberapa baju dan oleh-oleh sudah hampir tertata rapi hingga akhirnya flatmate saya masuk dan membongkarnya kembali. Ia memberi saya pelajaran packing dadakan. Menata kembali baju-baju, buku, hingga beberapa benda yang harus diselundupkan. Ah, kalimat sebelum ini sepertinya berlebihan. Maksud saya merapikan benda-benda yang kami anggap akan menimbulkan sedikit kendala saat koper saya harus diperiksa petugas bandara. Benda-benda itu pastinya bukan narkotika *rolling-eyes* hanya beberapa craft asli Afrika yang sengaja saya beli sebagai buah tangan. Kenapa barang-barang itu harus ‘diselundupkan’? Nanti saya bahas.

Akhirnya sekitar sejam, koper saya sudah jauh lebih rapi dari sebelumnya. Craft-craft tadi sudah berada di lapisan kedua setelah baju dan tertutup oleh beberapa gulungan kemeja, kaos serta kotak MacBook yang ternyata sangat berhasil menutup benda selundupan tadi. Tatanan koper saya sungguh rapi. Sekali lagi, kata flatmate saya yang sudah empat kali pulang kampung, kerapian itu akan mengalihkan petugas bandara. Ah sebenernya saya malas menyebut mereka troublesome meskipun kenyataannya demikian. Saya ingat betul beberapa menit lepas pukul 12 malam akhirnya packing selesai dan, dan….saya berusaha untuk tidur. Sedikit gagal karena gelisahnya tak karuan.

***

Hari H

Paginya saya bangun dengan mata yang masih terkantuk. Pukul tujuh saya sudah berada di kamar mandi, berdiri di bawah pancuran air dingin agar saraf dan semangat saya terbangun. Tanpa air dingin semangat itu sebenarnya sudah bangun dari sebulan yang lalu, hanya saraf yang harus dilecut agar kantuk saya hilang.

Pukul delapan saya sudah siap dengan koper yang beratnya melebihi tiga puluh kilo. Saya turun ke bawah karena memang flat saya di lantai dua. Pagi itu gerimis. Saya dibantu sopir menaikkan koper hitam itu ke dalam bagasi. Berat.

Saya dan flatmate saya mampir ke kantor. Ia harus kembali bekerja sementara saya menunggu sekitar sejaman lagi sebelum saya meninggalkan kota ini. Tepat pukul sepuluh pagi saya meninggalkan kantor. Setelah sebelumnya berpamitan kecil dengan orang-orang disana, akhirnya saya menuju bandara ditemani Sammie, seorang asli Ghana yang bekerja sebagai head manager of operation (sayangnya sekarang ia sudah resign). Saya diantar Sammie hingga memasuki antrian kemudian….pemeriksaan koper!. Tak seperti di Indonesia dimana koper cukup melewati scanner. Disini, sebelum melewati scanner, koper harus dibuka untuk pemeriksaan. Nah ini yang tadi saya bilang proses yang sedikit membuat saya dag-dig-dug. Kenapa?

Petugas bandara disini benar-benar rgghh troublesome. Mereka sedemikian hingga akan mencari celah untuk menemukan masalah dan memojokkan kita. Seperti yang saya alami hari itu. Beberapa buah tangan sudah rapi tertata di koper sudah lolos pemeriksaan karena sewaktu mereka melihat tatanan rapi, mereka akan berpaling dan menutup koper seketika. Terus? Ah! Saya lupa memasukkan salah satu patung kayu yang terbungkus koran di tas jinjing. Selain koper dan ransel berukuran sedang di punggung, saya membawa tas jinjing. Nah, petugas itu bertanya apa yang saya bawa. Ia meminta saya menunjukkan tas dan yah! ia tahu saya membawa craft. Sialnya, ia menahan tas itu, alasannya? Saya harus menunjukkan sertifikat atau berkas-berkas apa saja yang menunjukkan kalau craft itu bukan warisan budaya. Damn it was so stupid and fucking ridiculous *cursed.

Saya agak was-was jika sampai ia menahan tas dan tak mengembalikannya. Saya tak mungkin merelakan benda-benda keren itu disita. Tas jinjing saya itu isinya bukan hanya patung kayu, ada telur burung unta berlapis peta Afrika pula yang harganya juga tak murah. Dibalik sialnya saya pagi itu, masih ada Sammie di samping. Berkat bantuannya menjelaskan apa yang saya bawa dengan campuran bahasa Inggris dan bahasa lokal, lengkap dengan tetek bengeknya akhirnya tas saya kembali. Tapi…ada salam tempelnya. Untungnya hanya seribu Naira. Fiuh!

Setelah melewati pemeriksaan tadi saya kembali harus melewati pemeriksaan lainnya sendiri. Tanpa Sammie. Setelah berpelukan, saya berpamitan padanya. Ia sempat bilang “Enjoy your leave, enjoy Soto Ayam”. Hehe, ia tau apa itu Soto Ayam. Setelahnya saya duduk di depan terminal tempat saya menunggu boarding time. Saat itulah saya menelpon flatmate saya terakhir kalinya untuk mengabari bahwa saya sudah di dalam, tinggal menunggu pesawat saja. Saya mengabari kakak, yang menjadi satu-satunya orang rumah yang tahu saya pulang hari itu. Dua jam di bandara, jam tangan saya mulai menunjukkan pukul dua belas. Beberapa menit lagi petugas maskapai penerbangan asal Uni Emirat Arab yang akan membawa saya pulang, mengumumkan terminal sudah dibuka.

Didalam terminal saya duduk, sembari setengah tidak percaya memandang ada pesawat besar yang akan membawa saya pulang. Sembari menunggu sebentar, saya sempat berbincang dengan gadis asal Iran. Saya lupa namanya. Ia akan naik pesawat yang sama dengan tujuan Malaysia. Ia sebulan di Lagos untuk mencari kemungkinan berbisnis di sini. Hari itu sesuai dengan visa yang didapat, ia akan kembali ke negara dimana ia tinggal selama lima tahun. Saya sempat bertanya tentang negara asalnya, Iran. Apa yang menarik disana, makanannya, pariwisatanya. Saya juga menceritakan bagaimana Indonesia. Ia belum pernah mengunjungi nusantara meski jaraknya sangat dekat dengan negara dimana ia tinggal dengan ibu dan adik-adiknya sedang ayahnya memilih tetap bekerja di Iran. Dengan perasaan bersemangat saya memberitahunya kepulangan pertama saya ini begitu spesial karena tidak ada yang tahu saya pulang selain kakak saya. “It’s gonna be surprising moment for all” ujar saya padanya.

Ah, menutup hari dimana saya akan pulang pada banyak orang itu rencana brilian!

Oke, petugas maskapainya sudah mempersilahkan saya masuk. Delapan jam kedepan saya sudah akan berada di Dubai.

-bersambung-

Lagos, 9:52 PM. 

Small Sweetness This Sunday.

Hola fellas! How was your Monday? Did you pass it with some enjoyment!? 

There’s two things that make me glad today. First, I got a warm hug from my sweet boss Madam Uche this morning (She’s back yeah!). She comes back to work after spent 3 weeks in London – Italy – Dubai (envy! hiks) for short vacay. Second, I have time to write this post (*jump around). I’m glad I could come home on time today and yes you’re right, I will spend time for this one. I’ll spread sweet enjoyment foya all!

Like what I mentioned from previous post that I’ve been enjoying my Sunday as long as I could, so these are the sweetness I’m talking about. I tried my first sweet, Dark Chocolate ice cream from Cold Stone Creamy. An American based brand that just opened here makes me curious not only the look of their various ice cream. My curiosity is on the taste and the way they present their ice cream as well.

As a chocolate lover I chose one scoop of dark chocolate served with coated crispy waffle, sprinkled with almond and choco chips (that was extra choice, extra price also *glek). They have different ingredients that stick on coated chocolate. Don’t know why I chose roasted coconut rather than mashed cashews (that coconut was too sweet for me, yikes). I enjoyed the almonds and choco chips for sure (was it just my reason that almond is healthier than other choices huh?). Overall my first sweet was nice with some notes, I should take tooth brush to clean up my teeth after enjoyed that frozen chips (they were sticked well ouch), and took a cup of spring water to refresh from the sweetness.

My second sweet was a funky coffee with raspberry syrup from Chocolate Royal, the cake and coffee shop that I always buy my fav pastry ever, croissant. I love the way they created syrup, milk, coffee and marshmallow foam cream into some layers beautifully. The best thing from the fusion of that coffee and syrup wasn’t too sweet (the sweetness from ice cream before was enough for me hehehe). I didn’t order snack or something while I was busy capturing that coffee (heh, that’s me, I would ignore my foods until I got perfect pics, that’s bad rite? hehe). Nope, me and my flatmates were spent just 45 minutes there that’s why we didn’t eat much.

And the last was Macarons! Mini ones, bite size. I got it from Chocolate Royal also and they were nice, not too sweet. I brought them home and enjoyed this morning. You can see from the lighting on my pics easily. If I remember Macaron I always think about Pierre Hermé Paris when Macaron was created for the first time. O damn! I will taste them when I reach Paris someday (*wink).

Hohoho, That’s it. As I said I will step back a bit from blogging until I’m finish with big project that will be done by first week of April. And probably I will post that project here. Hehe, I will. Alright, time to enjoy these sweetness!

DSC05538 copy

DSC05554 copy

DSC05553 copy

DSC05559 copy

DSC05563 copy

DSC05576 copy

DSC05573 copy

DSC05583 copy

DSC05593 copy

If Tomorrow Never Comes

If Tomorrow Never Comes

Azis BW

Pikiran saya bertambah runyam. Setelah beberapa hari belakangan perasaan dan pikiran terganggu karena seseorang, siang ini kabar buruk datang. Ibu dari Madam Uche tiada. Innalillahiwainna ilaihirojiu’n.

Kehilangan seseorang yang kita cintai memang tak akan pernah mudah. Apalagi yang meninggalkan kita adalah makhluk terdepan di deretan orang-orang penting di kehidupan semua manusia, Ibu. Saya tak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya kehilangan seorang Ibu. Kehilangan sosok yang tak akan pernah terganti bagi siapapun. Terlebih lagi saat saya harus tinggal a thousand miles away.

Tulisan singkat saya ini bisa jadi salah satu penawar instan untuk mencurahkan apa yang saya rasa detik ini. Teringat bahwa dari dulu pun salah satu rumus di dunia tetap sama, semuanya akan berpisah. Dan seindah apapun deskripsi yang disematkan orang lain disela kata perpisahan, bagi saya, perpisahan tetaplah mimpi buruk.

Tiba-tiba saya teringat lirik ini :

‘Sometimes late at night

I lie awake and watch her sleeping
She’s lost in peaceful dreams
So I turn out the lights and lay there in the dark
And the thought crosses my mind
If I never wake up in the morning
Would she ever doubt the way I feel
About her in my heart

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes

‘Cause I’ve lost loved ones in my life
Who never knew how much I loved them
Now I live with the regret
That my true feelings for them never were revealed
So I made a promise to myself
To say each day how much she means to me
And avoid that circumstance
Where there’s no second chance to tell her how I feel

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes

So tell that someone that you love
Just what you’re thinking of
If tomorrow never comes’

If Tomorrow Never Comes – Ronan Keating.

Kadangkala kita terus-menerus lalai berterima kasih kepada Tuhan untuk sebuah kesempatan. Kesempatan akan waktu untuk masih bisa mencintai, memandang, bercerita, berbagi, dan waktu-waktu manis lainnya. Dan sungguh, masih memiliki waktu bersama orang-orang yang kita cintai itu kekayaan yang tak terlihat.

Mi incontro con zi Efuru!

Mi incontro con zi Efuru!

Me and aunty Efuru.

Siang ini sebenarnya saya masih mengatur target-target pekerjaan yang berterbangan di otak, eh ada Aunty Efuru, bolehlah sedikit melepas penat, saya cerita sedikit ya tentang aunty Efuru. Lagos, 3:38 PM.

Mi incontro con zia Efuru, yang artinya saya bertemu tante Efuru. Kenapa saya menulisnya dalam bahasa Itali? Ya, karena saya iri dengannya hehehe, aunty Efuru fasih berbahasa Itali. Ia adalah adik Madam Uche yang lama tinggal di Itali, tepatnya di Florence. Kalau saya tidak salah ia tinggal sejak berumur lima belas tahun dan menetap hingga sekarang dengan suaminya yang seorang Itali.

Saya tak lama kenal dengannya namun ia selalu ingat nama saya mungkin karena kami seringkali bertemu saat ia ke Nigeria. Aunty Efuru orangnya baik, supel, classy, kocak, penggemar rancangan klasik desainer kenamaan Itali Valentino, dan seorang tenor terkenal Andrea Bocelli. Oya, ia salah satu Madam’s sibling yang menetap di luar negeri selain kakaknya yang bekerja di bank dunia dan memilih menetap di Amerika. Madam Uche adalah satu-satunya di keluarga yang memilih menetap di tanah airnya meski ia lahir di Inggris.

Kenapa saya selalu suka mendengar aunty Efuru berbincang dalam bahasa Itali? tak lain tak bukan karena kedengaran sangat keren. Saat ia berbicara dalam bahasa Itali membuat saya nampak bodoh karena hanya berbekal bahasa Inggris. Ah sepertinya saya harus mengatur rencana menguasai bahasa ketiga, Perancis atau Jerman mungkin pilihan bagus.

Seperti yang pernah saya sebut sebelumnya, saya selalu suka bertemu orang baru karena bisa menambah link, menambah wawasan, bertukar cerita, dan berteman. Mungkin saja suatu saat nanti jika saya berkesempatan mengunjungi negeri pizza bisa menikmati secangkir cappucino dan beberapa potong pizza otentik di Florence bersamanya. Ah, kebayang kerennya menghabiskan sore di negeri indah penuh sejarah, olala Itali.

Bolehlah saya memasukkan Itali kedalam daftar mimpi yang harus dicapai sebelum mati, hehehe.

Foto lagi! Hehehe, saya sengaja mengedit foto sebelumnya kedalam hitam putih. Anda tahu lah fashion Itali identik dengan garis-garis bersih dan dualtone, hitam putih. Klasik dan terkesan mahal….kenapa saya nyambung ke fesyen? Ah sudah ah…Kerja lagi!

Bertemu Aunty Linie!

Bertemu Aunty Linie!

Me and Aunty Linie.

Saya selalu suka bertemu dengan orang baru yang humble, kemudian berbincang, dan mulai bertukar wawasan. Saya pikir itu asik!

Sudah hampir dua minggu ini Aunty Linie, salah satu sahabat Madam Uche sering ke kantor mengerjakan sebuah riset untuk program yang ia kerjakan. Pertama bertemu dengannya, telinga saya mendeteksi aksen dan pronunciation-nya. Sepertinya wanita ini tinggal di luar dan ternyata dugaan saya tepat, ia tinggal di Amerika Serikat.

Saya sempat berbincang singkat dengan wanita asli Kenema dan tumbuh besar di Freetown, ibukota negara kecil di Afrika Barat, Sierra Leone. Aunty Lini pindah ke Amerika sejak tahun 1996 hingga sekarang menetap di negara bagian Maryland bersama suami dan kedua anaknya.

Perbincangan singkat saya awalnya dimulai dengan menanyakan hal-hal ringan seperti apa yang sedang ia kerjakan, tujuan risetnya, bla bla bla. Kemudian semakin lama kami mulai bercerita tentang hal yang kita tahu, mulai dari bagaimana dulu ia pertama mengunjungi Nigeria, kepindahannya ke Amerika hingga mencapai bahasan yang saya suka. Apa itu? Promosi tentang Indonesia.

Mulanya Aunty Linie bertanya tentang bahasa, budaya dan makanan Indonesia. Bagi saya ini kesempatan bagus untuk cas cis cus mengibarkan pesona Indonesia. Saya mulai menceritakan tentang apa itu Batik, Jawa, Papua, Raja Ampat, Reog Ponorogo dan bahasan budaya lainnya. Ia amat tertarik dan menyimak dengan seksama apa yang saya ceritakan. Apalagi saat saya menyebutkan jumlah pulau yang dimiliki Indonesia, 17 ribu lebih pulau yang membentuk kesatuan Republik Indonesia. Jumlah pulau yang berlimpah selalu membuat siapa saja yang bertanya tentang Indonesia disini mesmerised. Bagaimana bisa negara mempunyai pulau segitu banyaknya?

Aunty Linie bukan wanita lima puluh tahunan yang tidak suka sejarah dan budaya. Dari perbincangan sore itu saya bisa dengan mudah menyimpulkan ia suka membaca. Ia tahu apa itu Batik meski belum tahu makna dari motif-motif didalamnya. Saya begitu excited menceritakan bahwa di Jawa saja, rupa-rupa batik berwarna-warni dengan ciri khas daerah penghasilnya. Kemudian beralih ke kekayaan bawah laut terlengkap di dunia yang dimiliki Papua, kekayaan hutan di Kalimantan, hingga eksotisme Bali. Aunty Linie sendiri sudah mengunjungi beberapa negara di dunia kecuali ke Asia, dan ia menyebut Thailand sebagai negara yang ia ingin kunjungi jika memiliki kesempatan ke Asia. Kenapa Thailand? Ia bilang ingin belajar teknik memasak masakan Thailand. Kemudian apa yang saya ceritakan setelah ia menyebut makanan Thailand? Tentu saja promosi kuliner Indonesia! Saya menceritakan keanekaragaman kreatifitas kuliner yang dihasilkan setiap suku di Indonesia dan tentu saja dengan yakin memproklamirkan bahwa kekayaan kuliner Indonesia tentu lebih lengkap dari Thailand. Pertanyaan yang membuat saya semakin excited yang ia utarakan saat itu adalah “Apa yang membuat Malaysia lebih bagus dari Indonesia, dan kenapa banyak orang yang belum tahu apa itu Indonesia?” Whats???? Ia membandingkan negara saya dengan tetangga sebelah?

Saya menjawab dengan netral sesuai pandangan saya pribadi, bahwa yang saya tahu promosi keindahan Indonesia memang masih kalah dengan negara-negara tetangga yang semakin gencar mempromosikan negaranya sendiri. Ini cukup menyedihkan karena setiap kali saya melihat CNN di kantor, negara sekecil Georgia dan Azerbaijan saja bisa mondar-mandir beberapa kali setiap hari. Bagaimana dengan Indonesia? Promosi wisata yang efisien dan tepat sasaran mungkin bisa menjadi salah satu upaya untuk bisa tampil lebih cemerlang di kancah dunia. Apalagi jika industri pariwisata yang dikelola dengan cerdas bisa menjadi salah satu aset yang menjanjikan. Sangat disayangkan memang jika bangsa lain lebih mengenal Thailand atau Malaysia dibanding negera besar yang memiliki sejuta pesona seperti Indonesia.

Ada dua hal yang membuat saya selalu excited bertemu dengan orang baru yang lama tinggal di negara lain. Pertama, saya bisa cas cis cus dengan tata bahasa yang benar. Bahasa Inggris memang menjadi bahasa saya sehari-hari disini namun selalu ada yang berbeda jika saya berbincang dengan lawan bicara yang smart. Otak saya secara otomatis bekerja menyusun bahasa inggris dengan tenses di setiap kalimat yang saya hasilkan. Itu tidak mudah jika kita tidak melatih dan mempraktekannya setiap hari. Dulu pertama kali tinggal disini, saya masih membutuhkan tiga bulan untuk sesi listening dan memahami tone british english, pronunciation, dan pembendaharaan kata-kata baru. Bukannya saya tidak berbekal bahasa inggris, namun bahasa asing tetaplah bahasa asing, dan menurut saya kita baru bisa disebut menguasai bahasa asing saat kita mampu berbicara spontan dan lancar tanpa harus berpikir menyusun kalimat yang ingin diucapkan. Apalagi saat ingin marah dan mengumpat seseorang, ah itu bukan perkara mudah!

Kedua, bisa bertukar cerita tentang keunikan bangsa kita masing-masing terlebih dengan orang yang belum tahu dimana dan seperti apa Indonesia. Ah ini bagian menarik. Bukankah mempromosikan keindahan dan kekuatan bangsa itu salah satu bentuk sederhana membela negara? *kenapa menjurus ke PPKN < Hehehe. Saya pernah menulis tentang salah satu olahan jollof rice kan? Aunty Linie yang tahu seluk beluk budaya Afrika dengan baik menjelaskan pada saya bagaimana teknik memasak jollof rice yang otentik, termasuk bahan-bahannya sesuai dengan awal mulanya suku Wollof meracik menu ini. Ternyata dahulu suku Wollof memasak menggunakan kaldu ikan untuk bumbu nasi yang mereka ciptakan, memakannya pun dengan ikan bukan dengan daging sapi seperti yang saya tulis sebelumnya. Daging sapi dijadikan teman Jollof rice karena pengaruh Eropa, begitu ujarnya. Saya sempat menanyakan tentang suku Dogon di Mali, ia menyatakan bahwa salah satu suku otentik Afrika yang terkenal luas dengan kemampuannya dalam bidang astonomi itu memang magis. Sayangnya sepertinya keinginan saya mengunjungi Mali harus ditunda dulu saat ini karena kondisi negaranya yang masih dilanda konflik berkepanjangan. Tapi saya masih benar-benar ingin mengunjungi suku unik itu dan tentunya Timbuktu suatu saat nanti.

Aunty Linie sudah kembali ke Amerika dua hari yang lalu, ia meminta saya memotretnya bersama dengan Madam Uche dan Oga Majek di kantor sebagai kenang-kenangan. Lantas saya memberi copy foto mereka ke dalam laptop mungilnya. Sebelum ia meninggalkan kantor ia berpamitan pada saya sembari berpelukan, dan mengatakan terima kasih pada semua orang dikantor. Kini Aunty Linie mungkin sudah sampai di Maryland melanjutkan kehidupannya di negeri adidaya itu. Oya Aunty Lini sempat memberi alamat emailnya, dan menulis seperti ini “Hi Azis, So happy to know you, thank you for the wonderful pictures, you are very talented and I wish you much the best, Aunty Linie”. Ya saya senang mendapat kenalan baru, siapa tahu suatu saat nanti saya bisa sekedar mampir ke rumah Aunty Lini jika saya berkesempatan ke Amerika. Saya percaya, suatu hari nanti. Amin.

Le coeur a son réseau

Ton meilleur pote à Bruxelles

Mr and Mrs Globe Trot

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

PARK & CUBE

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

La Buena Vida

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

i am a food blog

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Finn Beales - Photographer

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Sam Is Home

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Penelope's Loom

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

cookinandshootin

"It's so beautifully arranged on the the plate - you know someone's fingers have been all over it." - Julia Child

Butter Me Up Brooklyn

baking makes friends.

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

seven spoons

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

What Katie Ate

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Chasing Delicious

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

after the cups

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Little Upside Down Cake

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Green Kitchen Stories

The healthy vegetarian recipe blog

La Tartine Gourmande

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Foi Fun!

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

lingered upon

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things