Yesterday At Nok

I had a quite pleasant yesterday cause one, could wake up a bit late (what else’s better than stick on the bed on Sunday morning, huh?). Second, managed my morning with quality light breakfast (some shots are coming!). Third, could get a piece to pay my arrears for one of my very good friends Atre (hope she’ll like the cloth!) and onyx bracelet for myself at Lekki market. Then I ended my Sunday outside with brunch and friends-talk with my Korean friend here, Kim, at Nok.

I finally met with Kim again after we first met at Indonesian Embassy for Independence Day Celebration. Our brunch at Nok was fine, the contemporary African food was good (beautiful plates and cutlery always steal my heart), and oh the afternoon light is my favourite thing there (where else I could find wide clear glass, here?). I managed myself for some shots below tho I felt a bit embarrassed with Kim (first alert if you have brunch with beautiful food served, please bear with me :))

Advertisements

Learn

 

Processed with VSCOcam with x1 preset

Layaknya manusia biasa, kadang saya melewati suatu hari dengan biasa. Meaningless. Bangun pagi, berangkat kerja, menghabiskan delapan jam dengan target-target pekerjaan di kantor, pulang, menikmati waktu sejenak sebelum akhirnya tidur. Tapi untungnya, pekerjaan saya cukup mobile. Tidak mengharuskan saya stuck di kantor dan mengulangi ritme harian tadi terus menerus. Kadang secara tak terduga, saya harus menghadiri meeting dadakan di suatu tempat dengan orang-orang yang I had no clue who. Pertemuan yang menghabiskan beberapa jam yang kadang menjemukan, kadang menyebalkan, kadang pula menyenangkan. Dengan ritme pekerjaan yang mobile tadi, secara tidak sadar mengajarkan saya untuk lebih memaknai suatu hari dengan memetik lebih sering pada hal-hal yang menginspirasi.

Minggu lalu, saat saya dan seorang teman sekantor mampir ke rumah klien selepas jam kerja, saya menggerutu dalam hati. Pasalnya, setelah kami menunggu dalam kebosanan, pertemuan singkat yang seharusnya selesai sore itu diundur keesokan harinya. Keadaan seperti itu jelas tidak mengenakkan. Saya mencoba mendamaikan diri dengan pikiran-pikiran jelek yang bisa merubah mood. Manusiawi memang jika saya berpikir apakah kami berdua diperlakukan adil. Saat kami harus menunggu klien untuk mendapatkan kontrak sebuah event, sedang rekan-rekan kerja yang lain sudah dalam perjalanan pulang atau mungkin ada yang sudah sampai di rumah. Alih-alih membiarkan pikiran-pikiran jelek tadi meninggi, saya lebih memilih berpikir positif. Mungkin tanggung jawab kami semakin besar hingga harus merelakan satu setengah jam di hari itu melayang begitu saja.

Akhirnya kami kembali ke kantor dan menunggu di luar karena pintu kantor sudah tutup. Hanya ada seorang sekuriti yang mendapat giliran jaga malam. Suasana amat lengang dan temaram. Maklum, Afrika masih saja Afrika. Masih banyak tempat yang belum terang benderang. Tak lama kami di sana, teman saya memilih untuk meninggalkan kantor lebih dulu. Biasanya, orang lokal seperti teman saya ini, meskipun ia seorang perempuan, tak akan meninggalkan orang kulit putih seperti saya sendirian. Bagaimanapun, ini Afrika. Kadang lebih aman jika kita ditemani penduduk asli daripada sendiri. Sama halnya dengan saya sore itu, ia pasti lelah hingga suasana rumah seperti melambaikan kenyamanannya untuk disinggahi secepatnya.

Sembari menunggu sopir yang terjebak macet dan hampir sampai, saya duduk di kursi plastik di samping sekuriti tadi. Untuk memecah kebosanan, saya iseng membuka percakapan dengannya setelah ia menawari saya duduk. Kira-kira begini ;

S : “Mr Azis, please seat here”

A : “Aw, thank you. So you’re working tonight?”

S : “Yes Sir”

A : “How can you keep your eyes open a whole night? Keeping our compound safe”

S : “Sometimes I’ll go around, sometimes my friend come to see me so we can have chat and I’m not sleepy”

A : “May I ask, how long you’ve been working as a security?”

S : “This is my fourth month. I started on December last year”

A : “Oh, so you’re still new. What was your job before?”

S : “I worked at KFC”

A : “Aw that’s fine. Working there was good, right?”

S : “Yeah, I worked for one and half year”

A : “Hmm, so why you left?”

S : “No, I just wanted to have a weekend for myself”

A : “Oh, you worked from Monday to Sunday? But it must be in shift, right?”

S : “Yes Sir, I wanted my Saturday and Sunday for myself. It’s impossible to have a weekend from my previous job. I worked as a cleaner before I worked at KFC”

A : “I agree, it has to be balance”

S : “I need my weekend because I have to go to school”

A : “Wow, so you’re studying right now?”

S : “Yes Sir, I’m studying at Polytechnic every Saturday and Sunday”

A : “Oh I see, so when you are not working tomorrow, you can rest and sleep in the afternoon and your second will resume. Then on Saturday and Sunday you’ll off”

S : “Yes Sir”

A : “That’s great. I always inspired by someone like you who is working for a better future. Good luck!”

S : “Thank you Sir”

A : “Okay then, good night!”


Saya mengakhiri perbincangan singkat sore itu saat sopir sudah di depan pagar kantor. Jarum jam menunjukkan pukul delapan lewat. Saya tak sabar ingin tiba di rumah secepat mungkin. Mengakhiri hari dengan istirahat di kamar atau memutar ulang film-film yang saya punya. Sopir saya memberitahu waktu tempuh ke rumah bakal sedikit lebih lama karena kondisi jalanan yang cukup macet. Akhir-akhir ini jalanan memang sering macet karena fuel-strike. Saya kira bukan karena fuel-nya yang langka, hanya sistem yang amburadul yang membuat keterlangkaan dan melahirkan deretan mobil-mobil yang mengular di sepanjang jalan. Satu setengah jam melayang karena meeting tadi plus kondisi jalanan yang macet. Lengkap sudah.

Di dalam mobil, saya kembali meredam pikiran-pikiran negatif yang ujung-ujungnya menghasilkan umpatan-umpatan sampah. Justru saya menikmati kemacetan sambil memetik pelajaran dari percakapan dengan sekuriti tadi. Pertama, saya belajar bahwa baik buruknya hari yang kita punya benar-benar tergantung bagaimana kita bersikap dan mamaknainya. Kedua, pelajaran hidup bisa ditemukan di mana saja. Mungkin jika meeting berjalan lancar dan saya tidak harus kembali ke kantor dan berbincang dengan sekuriti itu, saya tidak memetik pelajaran darinya. Jujur, saya terkesima dengan tekadnya melanjutkan pendidikan. Saya tak tahu bagaimana kualitas pendidikan yang ia jalani, saya pun tak tahu bagaimana ia menjalani hari-harinya di tempat ia belajar. Tapi yang saya tahu, tekadnya kembali ke sekolah, lebih-lebih ia membiayainya sendiri dari hasil tabungannya benar-benar menginspirasi. Seorang sekuriti yang berani melepas pekerjaan sebelumnya hanya karena ia ingin bebas memiliki hari Sabtu dan Minggu. Dua hari yang ia jalani untuk menuntut ilmu yang semoga suatu saat nanti mengantarkannya pada kehidupan yang lebih baik.

Learn2

Congo in Frames

It was an obligatory visit to the Art 21 Saturday last week after I did some hall measuring for upcoming events. And what I saw there was quite someting else, photography of Congo by the photographers, Alex Majoli and Paolo Pellegrin.

There was unexplained feeling when I stood in front of those photographs. The emotion of those portraits, the scenes, the landscapes, is just beyond words. I personally have more interest in to food (of course), travel and lifestyle photography, but Congo took my attention how to capture human beautifully. Deep and alive.

Congo1

Congo2

Congo3

FYI, if you heard about Congo, there is two countries called Congo. The bigger one, the immense Democratic Republic of Congo, previously known as Zaire, the former Belgian colony, whose capital is Kinshasa. But Majoli and Pellegrin’s Congo is the other one, the Republic of Congo, the former French colony, whose capital is Brazzaville.

My favourite photograph is just below this sentence. How beautiful the emotion in that scene, o my word.

Congo4

Congo5

Congo6

Congo7

Congo8

Congo9

Congo10

Ini Saja Sudah Cukup

IniSajaSudahCukup1

 

Hari terakhir di Lagos yang sedang dibasahi hujan, saya menyempatkan melaju ke salah satu mall untuk membawa pulang dua kain Ankara untuk ibu saya dan ibu rekan saya. Tahun ini, tak seperti biasanya, oleh-oleh kerajinan lokal tak memenuhi koper. Saya hanya membawa beberapa untuk orang-orang yang sudah saya janjikan. Karena selain sudah empat kali kembali ke Indonesia, saya menekan pengeluaran sebisanya karena pasti esok saat saya transit di Abu Dhabi, godaan membawa oleh-oleh sudah bergema di seantero bandara. Sesampainya di apartemen, saya mulai menyiapkan menu buka puasa terakhir disela packing yang selalu saja menyenangkan.

Rintik hujan sore itu tak berhenti hingga lepas pukul delapan. Isya’ disana dimulai sekitar pukul 8.15. Biasanya, bila jarum jam mendekati angka delapan, saya menjemput pak Tono untuk sholat Isya dan tarawih bersama selama Ramadhan. Beliau adalah florist berpengalaman yang bekerja sama dengan saya dan tiga orang Indonesia lainnya di perusahaan. Hampir setiap malam kami berdua menyempatkan sholat Isya’ dan tarawih berjamaah dengan sekumpulan warga lokal bersuku Hausa. Hausa adalah salah satu suku besar yang mayoritas (mungkin hampir semuanya) beragama Islam.

Jangan bayangkan kami sholat di masjid atau surau kecil seperti di Indonesia. Tempat kami sholat hanyalah halaman yang cukup lapang seperti foto di atas. Halaman yang dipenuhi trailer-trailer itu adalah komplek gudang gula yang berada di lingkungan apartemen ekspatriat India. Kami hanya perlu berjalan sekitar seperempat kilo dari apartemen sendiri, melewati jalanan yang kadang masih gelap karena pasokan listrik yang belum merata. Sekumpulan warga Hausa yang notabene bekerja sebagai sopir trailer dan sekuriti itulah yang menjadi teman-teman kami selama Ramadhan. Dulu, sebelum pak Tono menemukan mereka, saya menjalankan sholat tarawih sebisanya di kamar. Di luar Ramadhan, beliau sering menghabiskan waktu untuk sholat Subuh dan Isya’ berjamaah bersama mereka sedang saya hanya sempat jika Ramadhan tiba. Itupun, hanya sholat Isya’ dan tarawih.

 

IniSajaSudahCukup2

IniSajaSudahCukup3

 

Tarawih bersama pak Tono dan mereka di komplek gudang gula itu memang jauh dari apa yang biasa saya temukan di Indonesia. Tanpa kipas angin atau ac yang sejuk, sajadah beraneka corak, gema adzan dimana-mana, bunch of people yang hilir-mudik dengan baju koko, sarung, dan mukena yang nampak meriah saat Ramadhan. Tapi justru, di komplek gudang itu saya menemukan nikmat tarawih yang tak biasa. Tiga gulung tikar seadanya yang selalu siap bahkan sebelum kami berdua datang, angin sepoi-sepoi yang nikmatnya masyaallah, pendaran bulan yang kadang muncul saat langit sedang cerah-cerahnya, sampai cerita-cerita renyah masa muda pak Tono yang kadang beliau ceritakan disela menunggu mereka selesai wudhu, somehow, those are the real invisible luxury.

Malam itu gerimis kembali turun sesaat sebelum kami tarawih. Karena tak memungkinkan untuk sholat di halaman terbuka, kami pindah ke dalam sebuah kontainer bekas. Mungkin hanya puji syukur yang membuat kami menemukan kenikmatan tarawih di dalam sana. Di dalam kontainer bekas yang hanya beralaskan beberapa tikar apa adanya, tanpa kesejukan dan tanpa penerangan. Mungkin benar adanya, kenikmatan kadang lebih dihargai saat kita justru tak berada di dalam kenikmatan.

*** 

Ijinkan saya menyematkan rasa syukur karena tahun ini berkesempatan menghabiskan sisa Ramadhan lagi bersama keluarga dan sahabat-sahabat di Indonesia. I cant’ ask for more. Semoga tahun depan, saya beserta keluarga, sahabat-sahabat, anda juga, berkesempatan bertemu kembali dengan Ramadhan. Amin YRA.

Cheers,

-A-

Surabaya, 11 Juli 2015. 

Ditulis saat saya terbangun kembali setelah terlelap tepat usai tarawih. Dan oh, lima hari sudah saya di sini, di Indonesia :).

Bogobiri

There is one spot in this city I fell in love on my first visit. I pretty remember when me and my former flatmate went there after we had late noon meeting with our client. We met our good friend and spent an evening at Bogobiri, a small boutique hotel that offers authentic-onomatopoeic African ambiance. When we reached there, I said to myself, “this space is so ‘me’, calm, cozy, so African, and very loungy (I’m not a night club guy :P)“. After then, Bogobiri has become a perfect space to escape from my hectic world. I could spend Sunday morning there just to get some cups of coffee.

Apart of the boutique itself, Bogobiri offers the Bamboo Bar & Restaurant. The average price for the food is a bit pricey but their goat pepper soup is dangerously-must-try dish. Here, some mirrorless snaps of Bogobiri from last year (whatt? :|,’Ekabo’ on the first picture means ‘welcome’ :)).

Bogobiri1

Bogobiri2

Bogobiri3

Bogobiri4

Bogobiri5

Bogobiri6

Bogobiri7

Bogobiri8

Bogobiri9

Bogobiri10

Bogobiri11

Bogobiri12

Bogobiri13

Bogobiri14

Bogobiri15

Bogobiri16

I’ll Bring Some For This Year

I’ve promised myself that I would bring some souvenirs only this year. I found a wide gap if I compare with what I did last year :P but the fact is, I still the same every time my annual leave is on my face, I’m excited (!!!!!!). I spent two hours at an obligatory place I always visit before I’m going home (on 5th of July), just 30 minutes after I voted the next President of Indonesia here, at the Embassy.

Below are souvenirs I took home this year, yes, for my closest friends only. Picture number one, I have no idea for who and who, I think I’ll keep for myself :P (iPhone snaps here).

ThisYear1

ThisYear2

Oh, I found an old book that is a terrific read for anyone interested in food and cooking last week. I haven’t read everything but like always, food photographs stole my attention. A lot of articles from member of the Guild of Food Writers I should read later, ssst it’s a discounted one :P

AndThisDiscountedBook!

Happy Birthday Ma!

MadamUche'sBday

First post for this year is a simply yet beautiful moment happened today.
We just celebrated our guru’s birthday, Madam Uche Majekodunmi, a super woman that never lose energy to do something big in her life. Madam Uche is a guru for us in our company, she is the one and only. Hopefully, our surprising celebration for her expressed how we love her as a mommy, as a guru, as a boss from the bottom of our hearts.
Dear Madam Uche, happy birthday, wish your life will be fulfilled with endless love and blessing a year ahead and ever after. A beautiful life, health, wisdom, prosperity and long life.

I wish I could capture our moment today in a better angle, hope you don’t mind for these pictures.

MadamUche'sBday2

MadamUche'sBday3

MadamUche'sBday4

MadamUche'sBday1

With Love,

Azis.

Mr and Mrs Globe Trot

aroused by food & photography

PARK & CUBE

aroused by food & photography

La Buena Vida

aroused by food & photography

i am a food blog

aroused by food & photography

Finn Beales - Photographer

aroused by food & photography

Souvlaki For The Soul

A Food and Travel Experience

Sam Is Home

aroused by food & photography

Penelope's Loom

aroused by food & photography

cookinandshootin

"It's so beautifully arranged on the the plate - you know someone's fingers have been all over it." - Julia Child

Butter Me Up Brooklyn

baking makes friends.

aroused by food & photography

seven spoons

aroused by food & photography

What Katie Ate

aroused by food & photography

Chasing Delicious

aroused by food & photography

after the cups

aroused by food & photography

Little Upside Down Cake

aroused by food & photography

Green Kitchen Stories

The healthy vegetarian recipe blog

La Tartine Gourmande

aroused by food & photography

aroused by food & photography

Foi Fun!

aroused by food & photography

lingered upon

aroused by food & photography