Lebaran di Negeri Orang (lagi)

Selamat Lebaran!

Dulu, selepas subuh bapak selalu sibuk menyiapkan pakaian yang akan dipakai untuk ke masjid. Ibu sibuk menyeduh opor ayam, dan kakak memotong puding sama rata untuk kemudian dihantar ke tetangga. Rumah yang kecil selalu riuh. Suara takbir dari radio tua semakin menyemarakkan suasana pagi seperti tahun-tahun biasanya. Suasana itu kembali tidak saya rasakan dua kali. Tahun lalu saya melewati Idul Fitri di Abuja, ibukota Nigeria. Kota yang jauh lebih tenang dari Lagos.

***

Pagi ini saya bangun lebih awal. Selepas subuh mulai menyiapkan baju yang akan dikenakan untuk sholat Ied. Berusaha melakukan hal yang sama seperti apa yang Bapak saya lakukan. Keceriaan lebaran memang pantas dibangun pagi hari sesaat sebelum ke masjid. Sialnya tahun ini saya tidak menemukan baju koko. Sepertinya baju itu tertinggal di Indonesia. Entah saya ingin mengenakan baju baru pagi ini. Kemeja coklat susu lengan panjang dan celana panjang warna camel untuk bawahan. Saya tak memilih sarung seperti yang saya kenakan saat Idul Adha tahun lalu. Sekedar mengingat apa yang saya kenakan saat itu, baju koko putih tulang dipadu dengan sarung merah hati. Tak dinyana apa yang saya kenakan menjadi perhatian banyak orang. Saya baru tahu ternyata disini mereka tidak mengerti sarung, dan jika adapun sarung dipakai oleh wanita. Bukan pria. Pantaslah, saat itu hampir semua mata tertuju pada sarung saya. Tak hanya muslim Afrika, muslim dari negara Arab semacam Iran pun melihat pakaian yang saya kenakan.

Pukul delapan kami bertiga berangkat menuju lapangan tempat kami sholat Ied saat Idul Adha. Sebuah police camp yang memiliki beberapa lapangan yang amat luas. Kali ini kami tak ingin mengambil resiko terlewat momen sholat Ied. Tahun lalu saya kurang beruntung, terlambat datang ke masjid akbar Abuja. Tahun pertama saya tidak merayakan lebaran di Lagos, melainkan di ibukota Abuja. Saat itu saya dan mas Andhi tak menyangka sholat Ied dimulai lebih awal dari biasanya. Kita tersadar saat melihat lautan manusia semburat ke arah berlawanan. Ah! Sedih rasanya. Melewati lebaran pertama di negeri orang dan tidak bisa sholat Ied. Pagi itu hujan rintik-rintik menambah kesedihan saya merayakan lebaran tanpa keluarga.

Namun, alhamdulillah kesedihan tahun lalu terbayarkan tahun ini. Sholat Ied disini dimulai amat siang, tidak seperti di Indonesia yang biasanya dimulai pukul enam – setengah tujuh pagi, disini, sholat Ied dimulai pukul sepuluh pagi. Untung cuaca bersahabat. Tak terik seperti biasa. Mendung dan teduh. Takbiran dikumandangkan sebelum sholat dimulai meski nadanya berbeda. Nada takbir surau-surau di Indonesia jauh lebih indah. Tahun ini sholat Ied nya amat meriah. Jauh lebih ramai dari sholat Ied saat Idul Adha. Saya cukup tersentuh dengan apa yang saya lihat disini, berbagai macam rupa, warna kulit, strata, semuanya menyatu di satu tempat untuk merayakan hari yang kita sebut puncak kemenangan. Sebuah selebrasi tahunan yang menyentuh. Saya mengamati beberapa anak kecil semangat datang bersama orang tua mereka masing-masing. Sungguh berwarna.

Suasana sholat Ied di Police Camp.
Anak afrika mengenakan peci saat sholat Ied.
Orang Afrika menyukai pakaian vibrant! :)
Mas Andhi dan mas Manito berfoto dengan Muhammad, security perusahaan, selepas sholat Ied.

Setelah sholat Ied selesai kami langsung menuju rumah. Pikiran kami hanya makan! Ya, makan. Opor ayam yang sudah kami masak sejak tadi malam siap disantap. Apalagi dua keik yang kita beli kemarin. Buah untuk dessert pun ada. Ah! Makan makan dan makan! Tradisi ini hampir sama seperti apa yang biasa saya lalui setiap lebaran dirumah. Mulai memakan opor setelah selesain sholat, bedanya tahun ini saya tak menyertakan puasa sunnah sebelum sholat Ied.
Opor ayam kali ini lebih terasa nikmat dibanding tadi malam, mungkin karena bumbunya sudah kawin dengan ayam dan santannya. Menikmatinya dengan sambal terasi dan serundeng benar-benar mengingatkan akan masakan Ibu yang super maknyus. Sungguh paduan yang sempurna meskipun basicly saya tak terlalu suka makan makanan bersantan. Setelah opor selesai saatnya menyerbu dua jenis cakes, cheese cake dan triple chocolate cakes. Dua keik itu benar-benar memanjakan lidah bagi penggemar dessert seperti saya. Cheese cake medium yang kami beli seharga N3300 atau sekitar 198 ribu rupiah (1 naira = 60 rupiah) rasanya tak terlalu eneg. Tak seperti cheese cake biasa yang kadang terlalu creamy. Untuk keik coklat lapis tiga sama, rasanya seimbang. Tak terlalu memuakkan seperti keik coklat biasa. Yang ini kami beli seharga N2200 atau sekitar 132 ribu rupiah untuk ukuran 30 x 20 cm. Mereka tidak cukup murah tapi worth untuk disantap di hari raya. Lagipula mereka berdua sesuai selera saya, keik yang tak terlalu manis untuk ukuran dessert. Perfect!.
Apakah kami berhenti sampai di keik? No! Kami melanjutkannya dengan mint ice cream limited edition dari Walls produksi Perancis. Es krim yang kami beli seharga N2000 cukup mahal untuk ukuran satu setengah liter. Namun kembali lagi, ini lebaran! ;) no worries for three of us. Coklat menjadi pelengkap lebaran sebagai camilan yang mantap. Sepanjang hari ini kami bertiga hanya ingin menikmati rumah dan terus makan! :) Benar-benar menikmati hari libur yang terbatas dengan makan.

Opor ayam untuk lebaran tahun ini! Yaiy! Yummy!
Triple choco cake!
Tiga lapis coklat yang yummy!
Cheese cake :)
Cheese cake, anyone :) ?
Mint ice cream dari Walls.
Limited edition! Heavenly!
Dessert, jelly dan buah! Segar!
Coklat! Camilan andalan :)
Sup sayur, empal dan telur asin untuk makan malam :)

Karena kami tak memasak opor dalam porsi besar, sore ini saya memasak menu paling mudah untuk makan malam dari bahan makanan yang masih ada di lemari es. Dan saya memilih sup sayur disantap dengan empal sapi yang saya masak basah, tanpa digoreng, dan…..telur asin! Ya, telur asin yang saya bawa hanya sepuluh biji. Makan malam yang lengkap! :) Sungguh bersyukur bisa menikmati makanan yang kami olah dari kekayaan kuliner Indonesia untuk lebaran tahun ini! Alhamdulillah.
Tahun lalu tidak ada perayaan karena saya dan mas Andhi berada di Abuja untuk menyelesaikan pekerjaan interior rumah pribadi menteri penerbangan Nigeria. Tahun ini saya, mas Andhi dan mas Manito sepakat merayakan lebaran lebih meriah meskipun tak ada tradisi ‘unjung-unjung’ ke tetangga. Bagaimana ‘unjung-unjung’ jika tetangga satu flat kami tidak ada yang muslim. Tapi tak apalah, menikmati lebaran di rumah juga tidak kalah asik. Terlebih saat kami meminta maaf pada keluarga melalui telepon kami masing-masing. Itu momen sederhana yang cukup menyentuh. Meminta maaf pada orang tua meskipun tanpa tradisi sungkeman. Dan saya belajar banyak saat harus hidup jauh dari keluarga. Salah satunya bisa lebih terbuka mengungkapkan rasa sayang terhadap keluarga yang dulu acap kali hanya disimpan sendiri.
Saya bersyukur dan menganggap itu sebuah hikmah pendewasaan diri.

Lebaran oh lebaran. Momen indah yang dirayakan setiap tahun oleh umat muslim diseluruh dunia. Kita bersama merayakan dengan cara dan keunikan masing-masing. Mungkin ada beberapa orang yang tak seberapa antusias menyambut lebaran, apapun alasan yang melatar belakanginya, namun, lebaran tetaplah lebaran. Momen dimana kita sebagai manusia sudah seharusnya mensyukuri seluruh nikmat alam yang kita dapatkan sepanjang tahun. Tuhan benar-benar Maha Baik.

Happy Eid Mubarrak for all over moslems around the world! 
Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar, Laila Haillallahuallahuakbar, Allahuakbar Walillailham! :)

Ramadhan Kembali Berakhir di Lagos.

Sepuluh hari di Indonesia dan sisanya terlewati di sini, Lagos. Tahun ini saya kembali mengakhiri bulan ramadhan di luar. Tak terasa bulan puasa indah ini berpamitan pelan-pelan.

Buka puasa untuk terakhir kalinya sudah dilewati setengah jam tadi. Delapan belas Agustus. Besok lebaran. Ya! Lebaran.

Pagi tadi selepas subuh saya masih bertugas merampungkan pekerjaan hingga pukul dua siang. Set desain untuk sebuah peragaan fesyen anak-anak. Di Lagos libur lebaran sangat terbatas. Dua tahun lalu saya sempat merasakan libur seminggu saat masih di Surabaya, sekarang? Saya hanya dapat sehari setelah hari raya.

Hari ini saya pulang lebih awal seperti hari Sabtu biasanya. Itu berarti memiliki kesempatan untuk berbelanja bahan makanan untuk menu lebaran. Bersama flatmates saya menuju Goodies, supermarket dekat kantor. Ayam, salad dressing, beberapa snack, beberapa minuman, dan sayuran. Sepulang dari venue tadi siang kami menyempatkan mampir membeli dua buah cakes di tempat favorit kami, The Chocolate Royale di Victoria Island. Satu buah Vanilla Cheese Cake dan Triple Chocolate Cake untuk memeriahkan perayaan lebaran yang hanya akan dihabiskan dirumah.

Setibanya di rumah kami langsung memasak untuk buka puasa terakhir. Kami menginginkan menu yang lumayan lengkap dari biasanya. Hitung-hitung pesta kecil sebelum esok. Kami pun membagi tugas malam ini. Flatmate-ku, mas Andhi, memulai dengan opor. Ya, kami sepakat membuat opor ayam untuk disantap esok pagi setelah sholat Ied. Temannya? Tentu kami tak akan melewatkan teman terbaik dari opor, sambal dan kali ini sambal terasi. Sebagai orang Indonesia yang jauh dari rumah, sambal merupakan salah satu obat mujarab melumpuhkan kerinduan akan masakan rumah. Dan membawa terasi sama pentingnya membawa paspor, menurut saya. Rasa sambal kali ini nendang, komposisi terasi, garam, gula, bawang merah, bawang putih, tomat dan cabe rawit Afrika yang terkenal membakar lidah amat pas.

Ayam rempela pedas.
Salad.
Dressing.

Saya ingat satu hal! Kerupuk udang yang saya bawa setahun lalu masih tersisa beberapa. Goreng! Ini tugas mas Manito. Dan ah indahnya, tahun ini saya memiliki serundeng kelapa buatan ibu tercinta. Semakin semangat menyambut lebaran. Satu setengah jam masakan untuk malam ini selesai. Kami menunggu buka puasa. Saya sibuk mengambil gambar untuk blog ini, passion saya selain mendesain.

Akhirnya adzan berkumandang dari salah satu aplikasi islam yang terinstal di iPad. Mendengarkan adzan dari perangkat pintar itu tentu berbeda dengan mendengar kumandang live seperti yang selalu saya dapatkan selama di Indonesia. Saya harus kreatif mencari cara agar tak kalah dengan keterbatasan. Kebetulan flat saya tak dekat dengan masjid, dan juga di Lagos saya lebih mudah menemukan gereja daripada masjid. Adzan telah berkumandang artinya puasa berakhir. Puasa terakhir telah berakhir malam ini. Kami bertiga menyantap lahap satu persatu menu yang tertata rapi di meja. Baguette, salad, ayam dan rempela hati pedas sisa kemarin, sambal terasi yang menggoda, kerupuk udang dan teh manis hangat. Oh Tuhan, apa ada nikmat berbuka puasa di luar negeri yang lebih indah daripada ini? Kami benar-benar harus bersyukur. Harus.

Kami memulai buka puasa dengan appetizer, Baguette yang terpotong rapi beserta cocolan yang creamy. Mas Andhi membuatnya dari campuran mentega, bawang putih, garam dan mayonaise. Akhir-akhir ini kami kegandrungan Baguette terlebih mas Andhi. Sejak kepulangannya dari Spanyol dan Belanda kemarin, dia keranjingan menu Eropa. Opor yang semula direncanakan akan dimakan esok ternyata tak bertahan lama. Kami tak kuasa mencicipinya. Apalagi rasanya kawin dengan pedasnya sambal terasi. Kerupuk dan serundengnya menjadi pelengkap yang sempurna. Kurma yang seharusnya menjadi takjil, malah saya makan sebagai pencuci mulut. Bagaimana nasib  salad? Kami tak kuasa menyantapnya malam ini dan terpaksa harus disimpan di lemari es untuk besok.

Baguette.
Garlic creamy dressing.
Serundeng buatan Ibu tercinta.
Mas Andhi beraksi dengan sambal terasi.
Terasi, sama pentingnya seperti paspor :)
Resep sambal terenak di dunia, Terasi! :)
Kerupuk udang, pelengkap opor yang maksimal :)
Teh manis hangat, pasangan makan ternikmat.
Bukan sebagai takjil, malah menjadi pencuci mulut :)

Dan Alhamdulillah. Tuhan Maha Besar. 
Kami sadar ini malam istimewa. Malam takbiran. 

Tak ada suara takbiran. Menyedihkan. Tapi saya tak akan membiarkan larut dengan keterbatasan. Mungkin ini kedengaran norak, tapi memainkan lagu Selamat Lebaran dari Ungu bukan pilihan buruk. Kami mendengar beduk di aransemen mereka, beserta intro yang kami rindukan ‘…Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar, Laila Haillallahuallahuakbar, Allahuakbar Walillailham…..’. Saya merinding. Kesedihan dalam hati tak bisa saya acuhkan. Saat di Indonesia surau-surau berlomba mengumandangkan takbir. Gema takbir yang selalu magis menandakan kita harus ikhlas melepas ramadhan. Saya ingat Bapak saya selalu mengumandangkannya di musholla dekat rumah. Ah, saya benar-benar rindu suasana itu. Tapi tak apa, takbir dari iPad cukup menghibur.

Selamat Lebaran dari Ungu.
Aplikasi andalan untuk mendengarkan adzan.

Setelah menyantap menu buka puasa kami pun mulai santai sambil mengobrol renyah. Tak jarang kadang membahas keunikan perayaan lebaran di Indonesia yang tiada duanya.
Esok saya akan merayakan lebaran di Lagos untuk kedua kalinya. Lebaran yang tentunya atmosfernya berbeda dari kampung halaman. Jauh dari hingar bingar tradisi. Tradisi dan budaya Indonesia yang melebur didalam momen semagis lebaran memang tak akan pernah bisa ditemukan ditempat manapun di belahan dunia ini. Tradisi dan budaya itu murni lahir dari sejarah. Dan takkan pernah bisa terbeli. Ada kesedihan karena tahun ini tidak bisa merasakan atmosfer malam takbiran, tetapi saya tetap harus tegar karena perjuangan dalam hidup selalu memiliki harga yang harus dibayar.

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar…..Lailahaillallah Huallahuakbar, Allahuakbar Walillailham…

Selamat lebaran!
Selamat bagi seluruh umat Islam di belahan dunia manapun.

Memasaklah yang mudah (dulu)!

Tulisan ini hanya bentuk sederhana membagi apa yang saya tahu. Memasak dari resep-resep mudah yang saya yakin, siapapun yang mencobanya pasti berhasil. Tak perlu menghabiskan banyak waktu di dapur untuk kepuluh resep mudah ini. Mari mulai :)

1.Cheesy Bread.

Resep ini resep bayi yang bisa dibuat siapa saja. Sangat cocok untuk sarapan.

Jika anda tidak punya banyak waktu menyiapkan sarapan di pagi hari, coba ini. Saya berusaha memiliki persedian roti di kulkas sebagai selingan makanan jika bosan dengan nasi. Ide resep ini datang saat saya berpikir cara tercepat membuat roti yang disimpan dikulkas kembali empuk seperti dari oven. Caranya? Cukup dengan teknik sederhana. Mengukusnya kembali didalam rice cooker. Cukup lima menit roti sudah kembali empuk dan anda hanya perlu meletakkan keju cheddar diatas roti yang masih panas. Biarkan ia meleleh sendiri.

Jika saya memiliki cukup waktu di pagi hari, saya menyajikan roti ini dengan apel yang dipanggang di atas pan, dan dikaramel dengan gula pasir dan tetesan jeruk nipis. Cukup sedikit jeruk nipis karena rasa apel sudah agak masam.

2.Simple Sandwich.

Yang satu ini sangat mudah dan…fruitful! Jelas anda semua pasti bisa membuatnya!

Simple sandwich pilihan yang cukup cerdas karena enak dan mudah dibuat. Hanya butuh beberapa lembar roti dan isian sesuai selera anda. Saya biasa membuatnya untuk sarapan atau camilan. Yang anda butuhkan hanyalah mayonaise, mentimun, tomat, selada, telur rebus, daging asap (bisa diganti ayam), dan keju. Salah satu teknik yang harus anda kuasai dalam membuat sandwich adalah memotong bahan isian setipis mungkin agar tidak membuatnya berantakan. Mentimun dan tomat khususnya. Salah satu ciri sandwich yang berhasil adalah potongan sayuran yang rapi dan mempercantik tampilan keseluruhan sandwich.

Oya, untuk isian gunakan kreatifitas dan selera anda, bisa anda tambahkan jamur, zaitun, tergantung selera. Jika anda menginginkan sandwich yang agak spicy, bisa anda tambahkan saus sambal dengan sedikit garam dan lada ke dalam mayonaise sebelum mengolesnya di atas roti.

3.Sweet Crackers.

Ini hanya resep mainan! Tinggal bermain dengan kreatifitas anda!

Saya sebut resep mainan karena hanya dibuat dari bahan yang sudah ada tanpa mengolahnya sedikit pun. Ide mengawinkan beberapa camilan ini didapat saat saya mulai bosan menyantap cracker kering. Saya hanya menambahkan pasta coklat dicampur dengan sedikit susu kental manis agar sedikit cair. Oleskan diatas cracker dan tumpuk dengan cracker lainnya. Oleskan lagi dan tata sereal coklat dan kismis. Jika anda memiliki strawberry, bisa anda gunakan sebagai garnish. Simpel.

4.Banana in Tea.

Banana in Tea semacam sup buah termudah!

Idenya berasal dari “Setup/Setop” semacam sup manis yang dibuat Ibu saya saat ramadhan. Saya hanya mencoba mengganti bahan cairnya dengan teh. Saya menyeduh tehnya terlebih dahulu dengan sedikit gula dan jeruk lemon, kemudian merebus pisang dengan air gula. Jaga agar pisang tidak overcook. Setelah pisang setengah matang, masukkan teh kedalam rebusan dengan taburan daun mint untuk penambah aroma. Rebus kembali sekitar lima hingga tujuh menit. Terakhir masukkan potongan apel dan jeruk, biarkan panas dari sisa rebusan membuat mereka berdua matang dengan sendirinya. Apel dan jeruk harus dimasukkan terakhir agar mereka masih fresh dan crunchy saat dimakan.

Anda bisa menghidangkan satu mangkuk hangat Banana in Tea atau membiarkannya dingin, cukup simpan saja di lemari es dan nikmati sore anda dengan sup mudah ini.

5.Quacker in Egg

Quacker in Egg lahir saat saya tak punya bahan makanan kala itu! 

Ketidaksengajaan dan keterbatasan melahirkan resep sederhana ini. Saya hanya bermain dengan telur dan oats.

Dua buah telur dikocok lepas dengan gula pasir, susu bubuk, baking soda dan sedikit terigu. Tambahkan vanila dan sedikit garam. Satu sendok teh minyak zaitun dan sereal jagung. Semua jadi satu. Goreng di penggorengan dengan sedikit butter seperti anda membuat telur dadar. Setelah matang, tambahkan quacker oats mentah dengan lumuran susu kental manis diatas dan tangkup. Anda bisa mengembangkan ide ini dengan mengganti susu kental manis dengan pasta coklat atau kacang.

6.Banana Choco Rolls.

Pisang digulung…

Bahan dasarnya hampir sama dengan dadar gulung. Hanya terigu, telur, susu cair, gula, garam, dan baking soda. Kocok semua jadi satu. Bentuk dadar di atas pan yang sudah dipanasi dahulu dengan api sedang. Setelah semua adonan selesai, tinggal diisi dengan pisang yang sudah dikaremelisasi sebelumnya, kemudian gulung. Hidangkan dengan saus coklat yang bisa anda buat dari campuran pasta coklat, sedikit butter, dan milk cream. Tim di dalam wadah tahan panas diatas air mendidih. Saya menambahkan semacam sereal yang bercampur dengan potongan almond dan kismis kering. Anda bisa mengeksplor resep ini dengan mengganti isian dan jenis saus.

7.Simple Rolls with Blackcurrant Jam Filling.

Lagi-lagi, mari menggulung!

Yang ini jauh lebih mudah, hanya mengandalkan telur, tepung, dan gula. Selebihnya hanya didadar di atas pan. Setelah dadar matang, tinggal diisi dengan selai anggur plus sereal gandum, almond, dan kismis. Litta bit sweet :)

8. Spicy Mango Scrape with Ground Nuts.

Ngerujak!

Yang ini gampang bukan main. Hanya perlu mangga setengah matang. Pastikan rasanya manis bercampur asam. Tinggal diparut, dicampur dengan sesendok teh cuka, sedikit gula dan sejumput garam. Tambahkan potongan cabe rawit dan kacang tanah. Diamkan di kulkas hingga dingin dan sajikan! :)

9. Black Pepper Beef.

Sapi lada hitam!

Teknik masak daging sapi yang amat mudah untuk teman makan nasi. Hanya butuh daging sapi dan bumbu sederhana.

Bumbu yang saya pakai untuk resep ini hanya bumbu dasar, bawang merah dan bawang putih. Haluskan dengan blender. Kemudian tumis diatas api sedang dengan minyak sayur secukupnya sampai harum. Setelah harum, masukkan daging sapi yang telah diiris tipis sambil diaduk agar bumbu rata. Tambahkan sedikit air kedalam masakan untuk memperempuk daging. Tambahkan lada hitam, sedikit bubuk cabai, kecap manis secukupnya dan tak lupa garam. Tunggu sampai daging matang dan bumbu meresap.

Jika anda menyukai rasa yang lebih pedas, cukup tambahkan beberapa potong cabe rawit merah dan hijau bersamaan dengan bawang yang akan dihaluskan.

10. Spicy Fried Egg.

Namanya keren, ini mah telor dadar! :D

Ini resep sejuta umat. Siapapun pasti pernah memasak dan memakannya. Ya, olahan telur yang satu ini sangat teramat mudah dibuat. Hanya mengandalkan telur sebagai bahan utama dan beberapa isian sesuai selera. Saya memasaknya hanya dengan irisan bawang merah, bawang putih, daun bawang, dan kadangkala menambahkan jamur. Hanya telur kocok ditambah bahan tambahan tadi plus bumbu pelengkap, garam dan lada putih. Tinggal didadar diatas pan panas hingga matang.

Sajikan dengan campuran kecap manis, tetesan jeruk nipis, dan cabe rawit. Ini resep sederhana, murah dan yummy!

Kesepuluh resep paling mudah yang bisa dimasak siapa saja! Jika anda belum menyukai masak memasak, ayo, belajar mulai dari resep sesederhana ini. Memasak itu menyenangkan! Bisa melatih kreatifitas dan tentunya anda akan lebih mandiri.

Selamat memasak :)

Memasak itu fun!

Saya masih ingat pada suatu malam berdoa untuk bisa pergi dari kota kelahiran. Sempat terpikir Jakarta. Hidup jauh dari rumah. Jadi anak kos. Pasalnya, sejak kecil hingga sempat setahun tujuh bulan kerja setelah lulus kuliah, saya tetap tinggal di Surabaya.

Saya ingin merasakan tantangan lebih. Tantangan hidup yang lebih mandiri. Jika tak salah, doa itu terucap setahun yang lalu. Dan Tuhan tak tanggung-tanggung mengabulkan apa yang saya harapkan kala itu, bukan ke Jakarta, tapi ke Lagos. Afrika. Alamak, jauh sekali. Ya, Tuhan mengabulkan dan memberi kesempatan hidup di benua sebelah.

Sejak memutuskan pindah ke Lagos mau tak mau saya harus serba mandiri. Hampir semua aspek hidup harus saya urus sendiri. Sangat berbeda dengan hidup sebelumnya yang masih bisa dianggap santai. Jauh dari rumah, jauh dari keluarga, tak ayal harus bekerja lebih keras.Tinggal di flat pun ternyata tak mudah. Kadang berperan seperti seorang ayah, tak jarang pula sebagai ibu rumah tangga. Dulu sepulang kerja, selalu tersedia masakan rumahan ibu saya. Ibu jago masak, turunan dari almarhum nenek. Beliau semasa hidup terkenal jago masak di keluarga besar saya. Masakannya memang yahud.

Sejak hidup di Lagos memasak seperti sebuah ritual penghilang stress. Kegiatan yang ampuh mengusir kejenuhan. Dan memasak telah menjadi salah satu cara menghemat pengeluaran bulanan. Lagos memang lebih mahal dibanding Surabaya. Apalagi dari segi makanan. Sebagai gambaran, biaya hidup disini tiga kali lebih mahal dari Surabaya. Saya memang tak melulu makan masakan hasil sendiri, ada kalanya saya makan di luar untuk melatih indera pengecapan dan penglihatan. Namun tak sering. Jika saya tak cermat dan hemat, tentu saya akan kelabakan di akhir bulan.

Saya menggemari masak memasak sejak SMP, saya ingat suatu siang saat bel masuk datang dengan sekotak jajanan pasar yang saya masak sendiri saat it, Klepon. Kegemaran yang satu ini semakin menjadi kala saya duduk si bangku SMA. Teman-teman dekat saya sangat hapal menu apa saja yang ada di kotak makan siang. Mereka taster-taster setia. Dulu saya masih suka memasak cemilan manis dari jajanan pasar hingga roll cake. Sekarang? Lebih banyak memasak lauk.

Setahun tinggal di Lagos membuat saya lebih excited mengasah kemampuan ini. Sebagai perantau, memasak harus bisa menjadi salah satu keahlian dan bentuk kemandirian. Paling tidak itu yang saya rasakan.
*Saya akan mencoba membagi resep-resep mudah yang bisa dicoba di tulisan selanjutnya. Can’t wait to post it! ;)

Dari Jakarta, Dubai Kemudian Lagos

Perjalanan sesungguhnya pun dimulai malam itu. Dua jam sebelum pergantian hari menuju 2 Agustus 2012.

 

Selepas berpisah dengan Maya dan Winda, saya kembali masuk untuk check in penerbangan menuju Dubai. Konter Emirates malam itu tak seperti tahun lalu. Jauh lebih sepi dan tak ada antrian.

Layar kecil menunjukkan angka 31. Saya lega mengetahui berat koper saya tak overload. Satu dua kilo melebihi 30 kg (berat maksimal aturan internasional untuk bagasi) tak mengapa. Lebih dari itu, $50 per kilo harus direlakan untuk membayar biaya kelebihan bagasi ke Afrika. Ke Eropa? Lebih mahal lagi, sekitar tujuh puluh dolar. Selesai check-in saya menuju ke imigrasi. Saya berjalan terpingkal-pingkal. Tas-tas yang saya bawa tak ringan. Kesalahan dasar yang terpaksa saya buat untuk menghindari kelebihan bagasi yang semula 34 kilo.

***

Pemeriksaan terakhir sebelum masuk pesawat menyisakan sedikit kerelaan yang harus saya lakukan. Salah satu benda bawaan tak lolos. Sekotak kecil berisi petis. Ya, petis. Mungkin kedengaran norak, tapi membawa bahan makanan asli negeri sendiri yang mustahil bisa ditemukan di negara lain hukumnya fardhu ain. Petis pemberian ibunda si Sohib. Perasaan kecewa memang tidak terlalu besar meski menyesal karena lalai tak menaruhnya di koper. Tapi ya sudahlah, angan-angan membuat rujak petis harus dikubur.

Lepas dari pemeriksaan terakhir langsung menuju gate D1. Kali ini sama seperti tahun lalu, sesak dengan bule-bule yang akan pergi ke negara tujuan masing-masing. Saya pun tak dapat tempat duduk. Karena tak kuasa menahan beban di pundak dengan tas-tas berat yang masih harus dibawa sampai ke Dubai, bahkan Lagos, akhirnya dengan cueknya saya duduk di lantai. Ponsel saya masih menunjukkan angka 23.25. Masih ada waktu untuk berpamitan teman-teman dekat. Tak semua bisa dihubungi. Mungkin terlalu malam. Tak apalah.

***

 

Akhirnya saya sampai di kursi yang akan saya duduki selama perjalanan dari Jakarta hingga Dubai. Perfect! disamping jendela. Disamping saya sepertinya seorang TKI. Ia berbincang dengan seseorang dalam bahasa Madura.
Pukul 00.40 tanggal 2, pesawat mulai meninggalkan Indonesia menuju Dubai. Penerbangan selama hampir sembilan jam dari Jakarta ke Dubai saya habiskan dengan tidur. Saya tak tertarik menonton film dari layar sentuh. Bahkan lagu pun tidak saya dengarkan dari headset. Saya memilih istirahat mengusir capai selama sebulan liburan. Menu Emirates kali cukup saya nikmati. Perjalanan dari Jakarta mendapat nasi lemak. Lauknya ikan berbumbu, dan oh ya ada telur rebus dan ikan terinya.

Menu yang disajikan memang disesuaikan dengan menu khas negara asal saat pesawat hijrah. Menu yang saya dapat saat penerbangan kembali dari Nigeria menuju Dubai adalah Jollof Rice, nasi khas Nigeria. Bisa dibayangkan jika saya terbang dari Italia, mungkin mereka akan menyajikan Lasagna.

 

 

***

Sesampainya di Dubai saya jauh lebih percaya diri dibanding kali pertama sampai di bandara yang lebih mirip mall. Saya tak lagi pusing mencari gate 213 menuju Lagos. Tas-tas saya masih menjadi pengganggu perjalanan. Saya mulai menggerutu tak akan pernah lagi mengulangi kesalahan dasar yang bodoh.

Kali ini saya tak sibuk melihat banyaknya barang-barang indah yang dijual di bandara. Itu tentu akan berbeda saat kepulangan saya tahun depan. Saya akan memanfaatkan waktu transit lebih maksimal dari kepulangan tahun pertama. Pagi itu saya lebih memilih menunggu di gate dan membuka Mac. Tujuannya? Untuk membagi daya baterai kepada ponsel. Ya, ponsel saya saat itu sedang sekarat. Saya terpaksa harus menjaga daya baterai karena sewaktu-waktu saya membutuhkan ponsel sesampainya di Lagos. Di bandara sebenarnya ada fasilitas charger baterai untuk ponsel. Cuma jarak yang terlalu jauh dari gate membuat saya berpikir dua kali untuk memanfaatkan fasilitas itu.

Setelah transit sekitar tiga jam, saya kembali memasuki pesawat yang akan menerbangkan saya hingga ke Lagos. Lagi-lagi saya duduk disamping jendela. Kali ini di sebelah sepertinya seorang Belanda. Sepanjang perjalanan hanya saya isi dengan tidur. Merenggangkan kaki dan leher. Hanya sekali saya sempat memainkan layar sentuh memutar film The Lucky One. Perjalanan sekitar sembilan jam menuju Lagos saya masih sempat berpuasa. Artinya saya menolak semua menu selama di pesawat. Croissant super enaknya Emirates kali ini tak saya hiraukan.

Sesampainya di bandara Lagos, saya langsung mengaktifkan nomer-nomer lokal. Kali ini tak seperti tahun pertama dimana dulu saya masih harus mencari penolong yang mau meminjamkan telepon selularnya. Kali ini lancar jaya menghubungi mas Andhi untuk konfirmasi penjemputan. Alhamdulillah tahun ini Sammie, salah seorang operation manager di kantor, menjemput saya di depan pintu kedatangan pesawat. Ini jauh lebih mudah. Tak lama setelah lolos dari imigrasi dan merampungkan urusan bagasi, saya kembali harus berhadapan dengan salah satu petugas imigrasi yang bertugas mengecek koper. Petugas sialan itu kembali menahan paspor saya sesaat setelah ia memeriksa isi dalam koper. Alasannya, ada kerajinan yang saya bawa yang semestinya harus dilengkapi dengan surat-surat. Alasannya sungguh tak masuk akal. Setelah Sammie membantu saya menjelaskan kerajinan yang saya bawa, akhirnya ia mau mengembalikan paspor tanpa bayaran sepersen pun.

***

Keluar dari bandara kembali saya bertemu dengan mas Andhi. Semuanya lancar hingga saya, mas Andhi, Sammie menuju kantor dengan mobil yang dikendarai oleh sopir kita, pak Magnus. Tak lama kita menyempatkan ke kantor hanya untuk menyapa orang-orang disana. Semuanya senang melihat saya kembali, dan……beberapa langsung menanyakan oleh-oleh (dimana-mana sama, hihihi). Dengan cueknya saya bilang tak sempat membawakannya. Kenyataannya saya hanya membawa beberapa untuk orang yang cukup dekat. Lainnya? Tak mungkin lah menyesakkan koper yang sudah overload.

Sampai di Lagos dengan selamat, artinya, welcome back to reality! Selamat berjuang (kembali) menghadapi banyak hal selama sebelas bulan kedepan di Nigeria. Negara dimana fisik dan mental harus siaga menghadapi tantangan hidup.

Tahun kedua untuk Afrika.

Perjalanan panjang akan kembali diulang. Perjalanan merantau (lagi), perjuangan, cerita, kerinduan, dan berbagai carut marut hidup akan dihadapi untuk kedua kalinya. Kembali ke Afrika setelah sebulan bersenang-senang (yang terasa seperti seminggu) di tanah kelahiran telah usai.

Agustus tanggal satu, menuju bandara Juanda tepat pukul dua siang dari rumah. Keinginan saya untuk pergi sendiri akhirnya pupus. Tahun ini kembali diantar keluarga, bapak, ibu, kedua kakak, keponakan, dan sahabat sedari kecil, Sohib. Perjalanan satu setengah jam yang membuat saya kembali sedikit mengeluh. Kemacetan pasalnya.

Bukan, bukan kemacetan, hanya ego besar yang menuntut kenyamanan terganggu dengan koper besar yang juga duduk tepat disamping. Sesak. Sesampainya di Juanda ingatan saya seperti kembali setahun lalu. Kala itu saya juga diantar sebelum mengarungi perjalanan panjang ke Afrika. Bedanya saat itu selepas subuh. Hiruk pikuk bandara lebih parah dibanding tahun kedua. Bedanya lagi saya tak menggunakan jasa penerbangan low price yang kadang menyebalkan, kali ini bisa terbang dengan Garuda. Bukan jumawa, tapi kenyamanan sangat dibutuhkan dari awal perantauan. Afrika jauh. Capek yang akan dihadapi bukan main-main. Apalagi, saya kembali berangkat sendiri dengan satu koper besar seberat 34 kilo, dua tas jinjing berisi oleh-oleh pribadi yang beratnya juga lumayan, dan satu ransel berisi gadget-gadget juga tak ringan. Garuda pun langsung mendarat ke terminal dua Soekarno Hatta, artinya saya tak perlu ganti terminal seperti kedatangan tahun pertama sebulan yang lalu. Ganti terminal hanya menyisakan kekesalan. Saya tak memiliki tradisi pamitan yang dramatis. Semuanya teramat santai. Hanya mencium tangan kedua orang tua, menyalami kakak-kakak kemudian berpamitan.

Pamitan dramatisir hanya membuat hati dan pikiran lemah, karena bagaimanapun, sejauh apapun kita pergi, kerinduan akan keluarga itu jelas tak akan bisa ditepis. Setelah berpamitan saya langsung menuju gate. Tak cukup lama setelah menyempatkan sholat ashar saya masuk kedalam pesawat. Perjalanan sejam menuju ibukota saya lalui sendirian. Perasaan saya seperti biasa, santai. Namun itu hanya bertahan sekejap. Tiba-tiba perasaan menjadi aneh. Aneh dan cukup mengganggu.

Saya yang duduk disamping jendela kiri merasakan hati dan pikiran mendadak kacau. Tak tenang seperti biasanya. Pikiran saya terbang dan seakan ingin menukik kembali ke Surabaya. Tak seperti biasanya, kali ini saya nampak gelisah. Kedua orang tua ada di urutan pertama yang mengisi pikiran sore itu. Kemudian kakak. Setelah itu sahabat dan teman-teman.

Sebisa mungkin saya mencoba menghibur diri dengan cara-cara sederhana. Kadangkala mata menatap sekumpulan awan yang cantik sore itu. Mentari sedikit demi sedikit berpamitan dengan sopannya. Awan-awan sore itu nampak jauh lebih cantik saat mereka bermandikan cahaya mentari.

Kegelisahan saya sore itu berdampak pada konsentrasi hingga lupa buka puasa sebelum waktunya. Seperempat jam lebih awal dari waktu yang seharusnya, waktu Jakarta setengah jam lebih lama dari Surabaya.

Sesampainya di Soekarno Hatta, saya harus kembali konsentrasi. Tak boleh membiarkan perasaan gelisah menguras pikiran. Selesai dengan urusan bagasi saya kembali keluar bandara menyaksikan kesibukan manusia sore itu. Apa yang saya lihat saat itu kembali mengingatkan akan perjuangan hidup. Berbagai macam manusia sibuk dengan carut marut kehidupan mereka masing-masing.

***

Sembari menunggu kedatangan tiga teman saya, Mario, Maya dan Winda, saya putuskan menunggu sambil memperhatikan tingkah laku manusia di bandara. Hampir sejaman saya menunggu dan memutuskan memesan meja di Solaria. Tempat terdekat dari pintu kedatangan. Akhirnya Mario tiba juga disana. Kita memang punya janji bertemu sebelumnya. Mario punya beberapa titipan untuk mas Andhi –senior saya di Lagos– yang harus saya bawa. Tak lama setelah bertemu Mario, kedua teman yang tahun lalu ikut mengantarkan saya hingga terminal D, Winda dan Maya datang. Alhamdulillah paling tidak mereka tak membiarkan saya kesepian di bandara. Seperti biasa, Maya dan Winda kembali bergurau. Gurauan dan nada khas kita bertiga. Sayang tak ada Ruli, karena kita berempat sepertinya memiliki nada kebangsaan yang mempengaruhi cara kami berbicara. Hampir sejam setelah Mario merapikan barang-barang titipannya ia pun pamit pulang.

Akhirnya saya kembali bertiga seperti tahun lalu bersama Maya dan Winda. Setelah kami berbuka puasa di Solaria, kita langsung menuju ke atas. Menuju Terminal D. Tujuan kita ke Starbucks. Pesan kopi sembari mengobrol. Namu sayangnya malam itu Starbucks sudah tutup. Padahal masih pukul sembilan malam. Alternatif kita jatuh pada Coffee Bean. Bolehlah, saya juga belum pernah ngopi di Coffea Bean. Maya memesan sepotong Tiramisu dan segelas frozen black forest. Winda berbeda. Dia memilih cheese cake dan segelas caramel. Sedang saya cukup smoothie dari pisang dan mangga dan sebuah chocolate muffin.

Malam itu saya merasa bersyukur paling tidak ada teman yang sukarela menemani sebelum saya meninggalkan negaraku untuk kedua kalinya. Tak lama kita mengobrol ‘ngalor ngidul‘ hanya sekitar tiga puluh menitan. Karena Winda masih memiliki PR membuat slide presentasi untuk keesokan harinya. Tepat pukul sepuluh malam kami berpamitan. Maya dan Winda mengantarkan hingga didepan pintu masuk check in. Kami tak lupa mengambil gambar dari kamera dengan pose dan latar belakang yang sama. Seperti nostalgia.

Tak terasa malam itu kembali datang. Seperti pengulangan yang amat cepat. Tak terasa setahun yang lalu kami juga bertemu di tempat yang sama, di waktu yang sama. Soekarno Hatta, terminal D, pukul 10 malam. Sebelum berpisah, ritual mengambil gambar merupakan hal yang wajib. Tak ada yang bisa menggantikan gambar sebagai bagian terbaik dari momen perjalanan hidup.

Saya bersyukur bisa bertemu mereka lagi tahun ini. Kadangkala kekhawatiran saya masih sama, apakah bisa di waktu yang akan datang memiliki kesempatan bertemu dengan mereka dan teman-teman yang lain.

Hidup kadangkala sungguh tak bisa diduga.

Maya dan Winda di Coffee Bean. Mereka berhasil mengompas saya. Lagi. hihihi.
Saya dan Winda berfoto dengan pose yang sama tahun ini.
Saya dan Maya berpose dengan koper dan tas yang sama :)
Saya dan Winda setahun yang lalu.
Saya dan Maya setahun yang lalu.

Hello Fellas!

Hello fellas!

Sebenarnya membuat blog itu mudah, hitungan menit, menjaganya tetap layak dibaca itu yang tak mudah. GoofyDreamer adalah halaman yang menyajikan beragam hal, titik beratnya lebih pada kreatifitas.

Kenapa GoofyDreamer? Ya, kalimat yang cukup menggambarkan siapa saya, seorang pemimpi bodoh. Semua akun yang saya punya semuanya seragam “Goofy Dreamer | Love Designs & Foods”. Tak mudah menemukan kalimat yang sangat cocok dengan apa yang ingin saya tunjukkan pada dunia : Pemimpi bodoh yang suka desain dan makanan!

So, akan banyak bentuk kreatifitas dalam desain dan makanan yang akan saya coba suguhkan sebaik mungkin. Ujung-ujungnya, semoga semua yang saya post-kan disini berguna. Share. Itu kunci GoofyDreamer.

Selamat datang!

Cheers,

Azis Abdul.