Ternyata Sama

IMG_1906 copy

Saya kira saya tidak akan seperti ini. Saya kira saya sudah berbeda. Bisa kuat saat berhadapan dengan namanya perpisahan sementara.

Kemarin saat saya masih menyiapkan diri untuk kembali meninggalkan rumah, perasaan kecil yang pernah saya rasa setahun yang lalu muncul kembali. Setengah malas, setengah tak rela, dan berat. Setengah tak sadar kok saya sudah harus pergi lagi. Perasaan tadi diperparah Ibu saya. Ibu menangis saat saya menjabat tangan kemudian menciumnya. Beliau menangis sambil memeluk anak bungsunya ini. Dilain sisi saya terenyuh. Di lain sisi saya ingin menghentikan momen seperti itu karena saya benar-benar tidak menyukainya.

Tahun ini Ibu saya berbeda. Dua tahun yang lalu saat saya pergi meninggalkan rumah pertama kalinya untuk memulai hidup baru di Afrika, beliau tak menangis sedikit pun. Tahun kedua sama. Tak ada momen seperti kemarin. Parahnya tangisan beliau menular ke kakak-kakak perempuan saya. Sungguh, saya benci momen seperti itu. Hampir saja mata saya melelehkan air mata, hampir. Air mata saya sudah di ujung, sudah hampir tumpah. Ibu berujar masih merindukan saya. Beliau bermimpi saya bisa memiliki waktu yang lebih panjang di rumah. Beliau masih ingin saya di rumah. Hati saya sebenarnya berkata sama. Saya masih rindu rumah, rindu kota dimana saya dilahirkan dan dibesarkan, rindu akan negara indah ini.

Tadi saat masih di dalam kamar hotel tempat saya menginap semalam disini, di Jakarta, saya kembali ingat wajah Ibu. Saya akui masih belum banyak menghabiskan waktu berdua dengan beliau, namun tahun ini jauh lebih baik. Saya lebih sering di rumah dibanding tahun pertama saya pulang. Tahun ini saya mensyukuri banyak hal. Mensyukuri waktu, kesehatan dan kesempatan kembali pulang. Mensyukuri bisa menikmati masakan Ibu, merasakan kembali indahnya berbuka puasa di rumah, mendengarkan gema indah di malam takbiran, melihat seluruh keluarga dalam keadaan sehat, dan banyak berkah-berkah lain yang tak terlihat yang harus saya syukuri.

Saya berusaha menguatkan diri untuk selalu berpikir ke depan, berpikir bahwa yang namanya perubahan hidup selalu ada harganya. Saya memilih Afrika sebagai tempat mengais rejeki dengan harga yang tak murah. Harus meninggalkan kedua orang tua, saudara, sahabat ah, sungguh itu semua tidak murah. Dibalik itu, saya akui hikmah terbesar dari terpisahnya jarak antara saya dengan deretan orang-orang tadi membuat saya semakin mencintai mereka.

Menangkis perasaan-perasaan seperti hari kemarin, perasaan berat meninggalkan rumah untuk kembali ke Afrika, tak akan pernah mudah bagi saya. Saya sudah melewatinya dua kali dan ternyata sama beratnya.

Nanti malam saya akan kembali mengarungi waktu kembali ke Afrika. Selain selamat sampai disana, saya hanya punya harapan kecil ; semoga hati saya masih tegar melawan perasaan-perasaan rindu yang masih tersisa disini. Di Indonesia.

Jakarta ; 12.56 PM

Kotak Kecil Untuk Bapak

Kotak Kecil untuk Bapak

Siang tadi saya menemukan tulisan ini. Tak sengaja hingga saya menikmati setiap kalimatnya.

Sambil menikmati sepotong Tart aux Broccoli and Chicken di salah satu kedai, mata saya membaca postingan tadi secara perlahan. Menikmati setiap kalimatnya. Tulisan sederhana namun teramat menyentuh yang ditulis Bang Nuran (begitu biasa saya memanggilnya) saat ia bertemu (Alm) ayahnya di dalam mimpi.

Tiba-tiba saya teringat Bapak.

Kotak kecil di atas itu untuknya. Siang tadi akhirnya saya membawa pulang setelah hampir tiga kali melihatnya dari etalase. Saya memilihnya karena teringat benda pertama kali yang ia pegang saat saya pulang tahun lalu. Jam tangan. Ya, jam tangan abu-abu saya melingkar di pergelangan kanannya. Mungkin ia sudah teramat bosan dengan jam tangan Seiko sederhananya. Hehehe.

Tenang Pak, nanti jika saya sampai rumah (kembali), tak perlu menggelangkan jam tangan saya.

Lagos, 9 : 39 pm.

If Tomorrow Never Comes

If Tomorrow Never Comes

Azis BW

Pikiran saya bertambah runyam. Setelah beberapa hari belakangan perasaan dan pikiran terganggu karena seseorang, siang ini kabar buruk datang. Ibu dari Madam Uche tiada. Innalillahiwainna ilaihirojiu’n.

Kehilangan seseorang yang kita cintai memang tak akan pernah mudah. Apalagi yang meninggalkan kita adalah makhluk terdepan di deretan orang-orang penting di kehidupan semua manusia, Ibu. Saya tak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya kehilangan seorang Ibu. Kehilangan sosok yang tak akan pernah terganti bagi siapapun. Terlebih lagi saat saya harus tinggal a thousand miles away.

Tulisan singkat saya ini bisa jadi salah satu penawar instan untuk mencurahkan apa yang saya rasa detik ini. Teringat bahwa dari dulu pun salah satu rumus di dunia tetap sama, semuanya akan berpisah. Dan seindah apapun deskripsi yang disematkan orang lain disela kata perpisahan, bagi saya, perpisahan tetaplah mimpi buruk.

Tiba-tiba saya teringat lirik ini :

‘Sometimes late at night

I lie awake and watch her sleeping
She’s lost in peaceful dreams
So I turn out the lights and lay there in the dark
And the thought crosses my mind
If I never wake up in the morning
Would she ever doubt the way I feel
About her in my heart

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes

‘Cause I’ve lost loved ones in my life
Who never knew how much I loved them
Now I live with the regret
That my true feelings for them never were revealed
So I made a promise to myself
To say each day how much she means to me
And avoid that circumstance
Where there’s no second chance to tell her how I feel

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes

So tell that someone that you love
Just what you’re thinking of
If tomorrow never comes’

If Tomorrow Never Comes – Ronan Keating.

Kadangkala kita terus-menerus lalai berterima kasih kepada Tuhan untuk sebuah kesempatan. Kesempatan akan waktu untuk masih bisa mencintai, memandang, bercerita, berbagi, dan waktu-waktu manis lainnya. Dan sungguh, masih memiliki waktu bersama orang-orang yang kita cintai itu kekayaan yang tak terlihat.

Lebaran di Negeri Orang (lagi)

Selamat Lebaran!

Dulu, selepas subuh bapak selalu sibuk menyiapkan pakaian yang akan dipakai untuk ke masjid. Ibu sibuk menyeduh opor ayam, dan kakak memotong puding sama rata untuk kemudian dihantar ke tetangga. Rumah yang kecil selalu riuh. Suara takbir dari radio tua semakin menyemarakkan suasana pagi seperti tahun-tahun biasanya. Suasana itu kembali tidak saya rasakan dua kali. Tahun lalu saya melewati Idul Fitri di Abuja, ibukota Nigeria. Kota yang jauh lebih tenang dari Lagos.

***

Pagi ini saya bangun lebih awal. Selepas subuh mulai menyiapkan baju yang akan dikenakan untuk sholat Ied. Berusaha melakukan hal yang sama seperti apa yang Bapak saya lakukan. Keceriaan lebaran memang pantas dibangun pagi hari sesaat sebelum ke masjid. Sialnya tahun ini saya tidak menemukan baju koko. Sepertinya baju itu tertinggal di Indonesia. Entah saya ingin mengenakan baju baru pagi ini. Kemeja coklat susu lengan panjang dan celana panjang warna camel untuk bawahan. Saya tak memilih sarung seperti yang saya kenakan saat Idul Adha tahun lalu. Sekedar mengingat apa yang saya kenakan saat itu, baju koko putih tulang dipadu dengan sarung merah hati. Tak dinyana apa yang saya kenakan menjadi perhatian banyak orang. Saya baru tahu ternyata disini mereka tidak mengerti sarung, dan jika adapun sarung dipakai oleh wanita. Bukan pria. Pantaslah, saat itu hampir semua mata tertuju pada sarung saya. Tak hanya muslim Afrika, muslim dari negara Arab semacam Iran pun melihat pakaian yang saya kenakan.

Pukul delapan kami bertiga berangkat menuju lapangan tempat kami sholat Ied saat Idul Adha. Sebuah police camp yang memiliki beberapa lapangan yang amat luas. Kali ini kami tak ingin mengambil resiko terlewat momen sholat Ied. Tahun lalu saya kurang beruntung, terlambat datang ke masjid akbar Abuja. Tahun pertama saya tidak merayakan lebaran di Lagos, melainkan di ibukota Abuja. Saat itu saya dan mas Andhi tak menyangka sholat Ied dimulai lebih awal dari biasanya. Kita tersadar saat melihat lautan manusia semburat ke arah berlawanan. Ah! Sedih rasanya. Melewati lebaran pertama di negeri orang dan tidak bisa sholat Ied. Pagi itu hujan rintik-rintik menambah kesedihan saya merayakan lebaran tanpa keluarga.

Namun, alhamdulillah kesedihan tahun lalu terbayarkan tahun ini. Sholat Ied disini dimulai amat siang, tidak seperti di Indonesia yang biasanya dimulai pukul enam – setengah tujuh pagi, disini, sholat Ied dimulai pukul sepuluh pagi. Untung cuaca bersahabat. Tak terik seperti biasa. Mendung dan teduh. Takbiran dikumandangkan sebelum sholat dimulai meski nadanya berbeda. Nada takbir surau-surau di Indonesia jauh lebih indah. Tahun ini sholat Ied nya amat meriah. Jauh lebih ramai dari sholat Ied saat Idul Adha. Saya cukup tersentuh dengan apa yang saya lihat disini, berbagai macam rupa, warna kulit, strata, semuanya menyatu di satu tempat untuk merayakan hari yang kita sebut puncak kemenangan. Sebuah selebrasi tahunan yang menyentuh. Saya mengamati beberapa anak kecil semangat datang bersama orang tua mereka masing-masing. Sungguh berwarna.

Suasana sholat Ied di Police Camp.

Anak afrika mengenakan peci saat sholat Ied.

Orang Afrika menyukai pakaian vibrant! :)

Mas Andhi dan mas Manito berfoto dengan Muhammad, security perusahaan, selepas sholat Ied.

Setelah sholat Ied selesai kami langsung menuju rumah. Pikiran kami hanya makan! Ya, makan. Opor ayam yang sudah kami masak sejak tadi malam siap disantap. Apalagi dua keik yang kita beli kemarin. Buah untuk dessert pun ada. Ah! Makan makan dan makan! Tradisi ini hampir sama seperti apa yang biasa saya lalui setiap lebaran dirumah. Mulai memakan opor setelah selesain sholat, bedanya tahun ini saya tak menyertakan puasa sunnah sebelum sholat Ied.
Opor ayam kali ini lebih terasa nikmat dibanding tadi malam, mungkin karena bumbunya sudah kawin dengan ayam dan santannya. Menikmatinya dengan sambal terasi dan serundeng benar-benar mengingatkan akan masakan Ibu yang super maknyus. Sungguh paduan yang sempurna meskipun basicly saya tak terlalu suka makan makanan bersantan. Setelah opor selesai saatnya menyerbu dua jenis cakes, cheese cake dan triple chocolate cakes. Dua keik itu benar-benar memanjakan lidah bagi penggemar dessert seperti saya. Cheese cake medium yang kami beli seharga N3300 atau sekitar 198 ribu rupiah (1 naira = 60 rupiah) rasanya tak terlalu eneg. Tak seperti cheese cake biasa yang kadang terlalu creamy. Untuk keik coklat lapis tiga sama, rasanya seimbang. Tak terlalu memuakkan seperti keik coklat biasa. Yang ini kami beli seharga N2200 atau sekitar 132 ribu rupiah untuk ukuran 30 x 20 cm. Mereka tidak cukup murah tapi worth untuk disantap di hari raya. Lagipula mereka berdua sesuai selera saya, keik yang tak terlalu manis untuk ukuran dessert. Perfect!.
Apakah kami berhenti sampai di keik? No! Kami melanjutkannya dengan mint ice cream limited edition dari Walls produksi Perancis. Es krim yang kami beli seharga N2000 cukup mahal untuk ukuran satu setengah liter. Namun kembali lagi, ini lebaran! ;) no worries for three of us. Coklat menjadi pelengkap lebaran sebagai camilan yang mantap. Sepanjang hari ini kami bertiga hanya ingin menikmati rumah dan terus makan! :) Benar-benar menikmati hari libur yang terbatas dengan makan.

Opor ayam untuk lebaran tahun ini! Yaiy! Yummy!

Triple choco cake!

Tiga lapis coklat yang yummy!

Cheese cake :)

Cheese cake, anyone :) ?

Mint ice cream dari Walls.

Limited edition! Heavenly!

Dessert, jelly dan buah! Segar!

Coklat! Camilan andalan :)

Sup sayur, empal dan telur asin untuk makan malam :)

Karena kami tak memasak opor dalam porsi besar, sore ini saya memasak menu paling mudah untuk makan malam dari bahan makanan yang masih ada di lemari es. Dan saya memilih sup sayur disantap dengan empal sapi yang saya masak basah, tanpa digoreng, dan…..telur asin! Ya, telur asin yang saya bawa hanya sepuluh biji. Makan malam yang lengkap! :) Sungguh bersyukur bisa menikmati makanan yang kami olah dari kekayaan kuliner Indonesia untuk lebaran tahun ini! Alhamdulillah.
Tahun lalu tidak ada perayaan karena saya dan mas Andhi berada di Abuja untuk menyelesaikan pekerjaan interior rumah pribadi menteri penerbangan Nigeria. Tahun ini saya, mas Andhi dan mas Manito sepakat merayakan lebaran lebih meriah meskipun tak ada tradisi ‘unjung-unjung’ ke tetangga. Bagaimana ‘unjung-unjung’ jika tetangga satu flat kami tidak ada yang muslim. Tapi tak apalah, menikmati lebaran di rumah juga tidak kalah asik. Terlebih saat kami meminta maaf pada keluarga melalui telepon kami masing-masing. Itu momen sederhana yang cukup menyentuh. Meminta maaf pada orang tua meskipun tanpa tradisi sungkeman. Dan saya belajar banyak saat harus hidup jauh dari keluarga. Salah satunya bisa lebih terbuka mengungkapkan rasa sayang terhadap keluarga yang dulu acap kali hanya disimpan sendiri.
Saya bersyukur dan menganggap itu sebuah hikmah pendewasaan diri.

Lebaran oh lebaran. Momen indah yang dirayakan setiap tahun oleh umat muslim diseluruh dunia. Kita bersama merayakan dengan cara dan keunikan masing-masing. Mungkin ada beberapa orang yang tak seberapa antusias menyambut lebaran, apapun alasan yang melatar belakanginya, namun, lebaran tetaplah lebaran. Momen dimana kita sebagai manusia sudah seharusnya mensyukuri seluruh nikmat alam yang kita dapatkan sepanjang tahun. Tuhan benar-benar Maha Baik.

Happy Eid Mubarrak for all over moslems around the world! 
Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar, Laila Haillallahuallahuakbar, Allahuakbar Walillailham! :)

Le coeur a son réseau

Ton meilleur pote à Bruxelles

Mr and Mrs Globe Trot

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

PARK & CUBE

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

La Buena Vida

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

i am a food blog

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Finn Beales - Photographer

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Sam Is Home

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Penelope's Loom

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

cookinandshootin

"It's so beautifully arranged on the the plate - you know someone's fingers have been all over it." - Julia Child

Butter Me Up Brooklyn

baking makes friends.

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

seven spoons

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

What Katie Ate

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Chasing Delicious

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

after the cups

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Little Upside Down Cake

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Green Kitchen Stories

The healthy vegetarian recipe blog

La Tartine Gourmande

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Foi Fun!

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

lingered upon

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things