Ranukumbolo Accomplished {Day 3, Finally}

Indonesia. I proud you!
Indonesia. I proud you!

Pagi itu kedua mata saya silau meski tenda menaungi sepanjang malam. Sinar matahari membangunkan kami berlima di suatu pagi terakhir di Ranukumbolo.

***

Kami bangun sekitar pukul sembilan. Pagi itu matahari amat cerah sedang hawa sekitar masih terlalu dingin. Bangun tidur dari tenda mendapati danau yang tenang dengan kabut diatasnya itu istimewa. Langit biru tak kalah cerah. Kabut yang menggumpal diatas danau membuat saya buru-buru mengarahkan kamera seakan tak ingin melewatkan kesempatan mengabadikan Ranukumbolo. Pagi itu benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dibanding dengan pagi yang selalu saya lewati di Lagos. Tenang dan segar tanpa beban-beban pekerjaan yang biasa menggumpal di pikiran.

Tak lama setelah bangun, saya sudah ditagih Ayos menu apa yang akan menjadi sarapan kami berlima. Itu bukan pertanyaan aritmatika yang susah dijawab :P, karena saya sudah memiliki kunci jawabannya. Saya mencari spaghetti sembari berusaha menemukan saus bolognese siap pakai bersama Winda. Maya dengan ikhlasnya menuju danau untuk mencuci peralatan sisa memasak semalam. Setelah mendapati peralatan masak yang sudah bersih, saya berlagak sebagai koki gadungan. Saya memulai dengan merebus air yang diambil Maya dari danau, sementara Winda menyiapkan saus bolognese siap pakai. Tak lama setelah selesai merebus spageti, Winda kembali menyibukkan diri memotong dadu keju cheddar sebagai pelengkap sarapan kami. Saya tak akan pernah lupa kehebohan yang kami ciptakan setelah sarapan kami matang. Maya dan saya menciptakan sedikit kecongkakan dengan membandingkan sarapan kami dengan ‘tetangga’ yang hanya memasak mie instan. Sepertinya kami memang kerasukan ‘kesogehan’ Ruli hingga tak malu menyombongkan sarapan spaghetti abal-abal. Ah tapi saya benar-benar menikmati gelar tawa pagi itu.

***

Pukul sebelas kami mulai membereskan barang yang kami bawa kedalam ransel masing-masing. Kami beranjak meninggalkan Ranukumbolo. Kali ini raga kami tak disiksa dengan beban ransel karena dua potter yang disewa Maya. Kami menuju arah pulang.

Selalu ada kesempatan untuk melakukan salah satu sesi menarik dari setiap perjalanan. Apalagi jika bukan berfoto ria di sepanjang jalan setapak yang kami lewati untuk turun kembali ke Ranupani. Beberapa kali kami berhenti untuk berfoto. Salah satu foto favorit saya adalah saat kami berempat mengambil gambar dengan latar belakang Semeru. Perjalanan pulang kami lewati dengan perasaan lega. Formasi kami masih sama, Ayos dan Winda memimpin di depan sedang Maya, Ruli, saya dibelakang. Menapaki jalan setapak dibumbui humor Ruli dan Maya benar-benar mewarnai perjalanan pulang. Banyak hal yang kami ceritakan meski napas sudah ngos-ngosan. Saat itu kami masih saja bertemu (lagi) dengan tetangga yang kebagian spageti tadi. Maya kemudian membuat saya tertawa dengan asumsinya bahwa mereka sengaja dekat dengan kita agar dapat jatah makan. Hehehe it was so funny May!. Perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada saat kami mendaki. Kami tiba kembali di Ranupani sekitar pukul tiga sore.

***

Setelah meregangkan otot-otot kaki dan memanjakan perut dengan makan siang di warung setempat, kami buru-buru kembali ke rumah Bapak Sinambela, tempat kami menginap sebelumnya. Kami membersihkan kaki dan mengecek kembali isi ransel sebelum sebuah hardtop merah mengangkut kami berlima untuk kembali ke kota. Dan (lagi-lagi) kami satu hardtop dengan tetangga (setia) kami. Oh tidak, bukan hanya satu hardtop, satu angkot pula menuju terminal hehehe.

Pukul empat sore lewat kami berlima sudah di dalam bis menuju Surabaya. Perjalanan kembali menuju stasiun sedikit mencemaskan. Sepertinya Maya dan Winda kurang beruntung tak bisa mengejar kereta yang akan membawa mereka kembali pulang. Sore itu perjalanan dari Malang ke Surabaya sedikit macet sehingga mengharuskan Maya dan Winda merelakan tiket kereta eksekutif hangus begitu saja. Sesampainya di terminal, Maya dan Winda dibantu Ayos sibuk mencari penerbangan terakhir yang bisa membawa mereka ke Jakarta malam itu juga. Setelah berkutat hampir satu jam di terminal Bungurasih yang sibuk dengan berbagai rupa manusia, akhirnya Maya dan Winda berhasil mendapat last flight ke ibukota. Tentu harga penerbangan sedikit membuat mereka berdua mengerutkan dahi.

Kami akhirnya berpisah di terminal Bungurasih. Maya dan Winda harus kembali ke Jakarta sementara Ayos, saya dan Ruli kembali menuju kos. Malam itu saya agak berat menjabat tangan Maya dan Winda dan berandai kebersamaan kami berlima bisa lebih lama hehehe. Malam itu saya sadar satu hal. Menikmati pagi dengan angin semilir, danau yang tenang, langit biru, teman-teman yang menyenangkan adalah quality time yang perlu dijaga. Thank you guys!

Simply breathtaking.
Simply breathtaking.
Lovely morning at Ranukumbolo.
Lovely morning at Ranukumbolo.
Beautiful.
Beautiful.
Sesaat sebelum packing!
Tenda kami.
Maya ada paparazi! hehehe.
Maya ada paparazi! Eh disini Maya seperti ibu kos ya hehehe.
Winda was cooking sauce for our spaghetti!
Winda was cooking sauce for our spaghetti!
Our breakfast that time.
Our breakfast that time.
Maya dan saya menggigil tapi tetap gaya, hehehe.
Maya dan saya menggigil tapi tetap gaya, hehehe.
Ruli - Winda - Maya.
Ruli – Winda – Maya.
Ayos dan Winda. So sweet.
Ayos dan Winda. Tsah.
Foto perjalanan pulang.
Foto perjalanan pulang.
Winda - Maya.
Winda – Maya.
Foto! Wajib nih yang beginian.
Foto! Wajib nih yang beginian.
Foto sama abang-abang potter-nya Maya.
Foto sama abang-abang potter-nya Maya.
Wow we could see clouds! Amazing!
Wow we could see clouds! Amazing!
Ayos - Winda - Ruli - Maya. Like this picture.
Ayos – Winda – Ruli – Maya. Like this picture.
Ayos - Winda - Ruli dan saya.
Ayos – Winda – Ruli dan saya.
Semeru.
Semeru.
Yah bertemu tetangga kita lagi May!
Yah bertemu tetangga kita lagi May!
Semakin dekat dengan Ranupani. Kami kembali.
Semakin dekat dengan Ranupani. Kami kembali.
Tiba waktu pulang. Kami menuju rumah Bapak Sinambela sebelum benar-benar meninggalkan desa Ranupani. That day was so bright, wasn't it?
Tiba waktu pulang. Kami menuju rumah Bapak Sinambela sebelum benar-benar meninggalkan desa Ranupani. That day was so bright, wasn’t it?
Sampai di Ranupani ketemu ini. Yummy! Santap!
Sampai di Ranupani ketemu ini. Yummy! Santap! For sure tanpa saus ‘tomat’ merah dibelakangnya hehehe.
Naik ini...hmmm... adventurous!
Naik ini…hmmm… adventurous!
Maya dan Winda. Lelah.
Maya dan Winda. Lelah.
Lihat ekspresi Maya. Apakah ia kesal masih satu angkutan dengan 'tetangga' kita? Saya mengambil ini saat kami dalam perjalanan pulang menuju terminal bis yang akan membawa kita kembali ke Surabaya.
Lihat ekspresi Maya. Apakah ia kesal masih satu angkutan dengan ‘tetangga’ kita? Saya mengambil ini saat kami dalam perjalanan pulang menuju terminal bis yang akan membawa kita kembali ke Surabaya.

Rasanya saya tak akan kapok mendaki sepuluh kilometer menuju dan sepuluh kilometer lagi meninggalkan Ranukumbolo. Semuanya worth it. Tahun depan? Rinjani buka pilihan buruk bukan? Pertanyaannya? Kuatkah kami? :P

Sayonara 2012.

Sayonara 2012.
Sayonara 2012.

Tiga hari lagi.

Tahun ini akan berakhir. Apa yang saya dapat? Apa yang tak bisa saya dapatkan? Coba saya ingat.

2012 seperti tahun nano-nano buat saya. Tahun dimana banyak hal baru yang bahkan tak pernah saya bayangkan sebelumnya berhasil saya lewati. Saya akan mengingat dari awal.

Mengawali perayaan tahun di luar, bukan bersuka cita. Bukan berada di kerumunan manusia yang merayakannya dengan hura-hura, kembang api, gelar tawa, dan semacamnya. Saya tetap bekerja. Bahkan di malam tahun baru dan hari-hari setelahnya. Awal tahun yang berat. Sepertinya begitu.

Awal tahun 2012 sempat merasakan Lagos lumpuh total selama hampir sepuluh hari (hanya) karena adanya penghapusan subsidi bahan bakar. Harga bbm pun naik drastis hingga menyebabkan kondisi negara sedikit tidak kondusif. Bisa dilihat dari kota yang amat lengang, seperti kota mati. Bahkan ada kemungkinan saya dipulangkan sementara. Untungnya tidak. Meski saya berharap iya, hehehe bisa terbang kembali ke Indonesia dan….leyeh-leyeh di rumah dengan gaji tetap hingga saya bisa kembali kesini.

Tahun 2012 tahun di mana saya belajar lebih mandiri sebagai seorang dewasa awal. Meninggalkan rumah dan menantang diri untuk bisa survive di medan yang sungguh tidak mudah. Rintangan dan rasa tak nyaman kerap membisikkan godaan untuk menyerah. Tapi saya kira saya cukup berhasil mematahkan sekumpulan pikiran buruk pun lelah yang menumpuk, menjadi semangat.

Pertengahan tahun 2012 yang masih saya ingat betul ; salah satu perasaan paling membahagiakan tahun ini. Memandangi pesawat besar yang akan membawa saya pulang. Di ruang tunggu bandara beberapa detik setelah saya mengakhiri percakapan siang itu dengan seorang gadis Iran. Tak berhenti di sana. Tahun 2012 ini pula I could feel mesmerising feeling yang teramat luar biasa saat landing di Soekarno Hatta. Hati saya takjub setengah tak percaya bisa melewati satu tahun perjuangan di benua hitam. Benua yang mungkin sebagian besar manusia normal acuh dan memalingkan muka. Saya? Berpikir terbalik. Bersyukur. Bersyukur bisa mencuri kesempatan dan setumpuk pengalaman yang mungkin tak akan pernah dialami oleh sekumpulan orang-orang acuh itu. Serius. Meski tentu tak mudah sama sekali.

Tahun 2012 ini pula saya bisa membuka mata lebih lebar tentang arti persahabatan. Bisa bertemu kembali di bandara Juanda dengan seorang sahabat yang menyertai perjuangan saya hingga mencapai titik ini. Malam itu juga bisa dibilang salah satu momen terbaik. Menyempatkan ke bandara di waktu yang hampir pagi (lagi) hanya untuk menjemput saya bisa jadi hal yang berat jika ia bukan sahabat saya. Thank you dude.

Saya ingat momen menikmati makanan di warung pertama kalinya. Momen itu terjadi beberapa jam setelah mendarat di Surabaya. Seporsi rawon setan lengkap dengan tempe dan kerupuk putih plus es degan. Serius, selama sebelas bulan tinggal di Lagos, saya belum bertemu dengan es degan. Kesimpulannya, hidangan tengah malam itu benar-benar nikmat. Lebih nikmat lagi karena saya mentraktir sahabat saya yang ‘katanya’ super kaya itu. Hehehe.

Melewati pagi pertama di Surabaya beberapa jam setelah terbang selama dua puluh jam dari benua lain tentu ada di daftar momen terbaik tahun ini. Apa itu? Mengejutkan Bapak dengan beberapa ketukan sebelum akhirnya pintu rumah terbuka. Saya menyukai momen itu. Kenapa? karena sebelumnya beliau tak tahu saya akan kembali ke Indonesia. Begitu pintu terbuka, saya meraih tangan kanannya dan menciumnya. Salim hehehe. Oya, lucunya Bapak saya sebelumnya ngomel karena tak habis pikir ada tamu pagi-pagi buta. Pukul satu pagi lagi. Saya mendengar omelannya sebelum beliau membukakan pintu. It was a funny morning. Early morning lebih tepatnya.

Masuk kembali ke rumah kecil yang sesak dengan perabot-perabot yang masih saja sama menjadi perasaan terbaik pula yang harus diingat tahun ini. Membangunkan Ibu yang sedang tidur terlelap. Hal pertama apa yang saya dapat saat mata beliau terbuka? merasakan pelukan erat darinya. Saya melihat air mata menetes dari kedua matanya. Mungkin ia terharu mendapat kejutan konyol dari anak bungsunya yang pulang dari negeri antah berantah, hehehe.

Apalagi ya momen terbaik yang bisa layak saya ingat?. Oya, mengejutkan teman-teman terdekat adalah salah satu momen yang menyebalkan sekaligus menyenangkan. Menyebalkan untuk mereka, menyenangkan untuk saya. Yang paling diingat adalah mengejutkan sahabat saya yang lain, yang berhasil saya kibuli. Kronologisnya seperti ini : saya berpura-pura menanyakan suatu alamat dengan helmet dan slayer masih menempel di kepala dan wajah saat sahabat saya itu sedang menunggu jemputan pulang. Ia membalikkan badan, kemudian sempat tertegun beberapa detik. Saya sengaja tak banyak bicara hingga akhirnya ia menjerit kegirangan setelah berhasil menganalisa tatapan mata saya beberapa menit. Jeritannya itu mungkin tanda ia terkejut luar biasa setengah tak percaya, sahabat yang ia kira akan pulang akhir tahun ini mendadak ada dihadapannya sore itu. That was an awesome moment!.

Reuni kecil-kecilan bersama teman sekantor dulu juga tak kalah menarik. Oya, bisa disebut reuni kah jika ketemuannya lebih dari satu kali? Hmmm, saya pikir tidak. Yang ada dompet saya malah menipis. Hahaha! Kampret! Anyway, melihat mereka sehat saja saya bersyukur. Sungguh. Kumpul-kumpulnya penting juga kok, at least karena kami tak bertemu selama setahun.

Tahun 2012 pula saya merasa seperti seorang pengangguran yang keren selama sebulan. Tepatnya bulan Juli kemarin. Bisa leyeh-leyeh di kedai kopi siang hari bersama kakak saya tanpa harus berpikir pekerjaan, mentraktir Bapak secangkir kopi dan croissant. Berduaan pula, momen langka. Beberapa kali keluyuran bersama seorang sahabat saya yang lainnya. Yang ini sahabat yang saya punya sejak SMA, pergi nonton, traktiran, hingga curhat tentang wanita yang kami sukai hingga tengah malam. Membawa pulang barang yang dulu hanya bisa dilihat dari etalase sebuah toko juga tak kalah asik hehehe meski akhirnya penyesalan kecil membuat saya berpikir kembali mengapa (mau) membelinya.

Oya, traveling ke Ranukumbolo bersama keempat sahabat kocak tahun ini juga seru! Kali ini bersama sahabat-sahabat kuliah plus seorang sahabat baru, hehehe. Mengalami hal-hal seru di luar rutinitas harian sungguh jadi hal wajib saat saya cuti di Indonesia. Ranukumbolo tahun ini bukan pilihan buruk. Bisa menghirup udara pagi, cahaya matahari dari balik tenda, kabut lebat diatas danau, canda tawa dan cerita selama tiga hari bersama mereka. Tahun depan? Semoga kesempatan traveling dengan sahabat-sahabat saya ini kesampaian. Meskipun kami belum tahu akan kemana. Yang jelas, saya berterima kasih karena mereka mengenalkan lebih dalam lagi keindahan Indonesia. You guys so great!

2012 juga tahun dimana saya memiliki kesempatan sepuluh hari puasa di kota sendiri. Maklum, tahun sebelumnya saya berpuasa penuh di Afrika dengan atmosfer yang berbeda 360 derajat. Sayangnya lebaran masih harus dinikmati (kembali) di sini. Tak apalah. Semoga tahun depan berhasil mendengarkan gemuruh takbir yang tak ada tandingannya si seluruh dunia. Lebaran di Indonesia. Amin.

Sebenarnya masih banyak momen-momen yang bisa dimasukkan daftar momen terbaik 2012 meski saya tak bisa melupakan momen kebalikannya. Tentu saja tak akan indah melewati setahun penuh tanpa momen yang menyebalkan, menyesakkan, memilukan, yang semuanya sadar tak sadar membuat saya semakin kuat menghadapi realita hidup yang sesungguhnya. Itulah kenapa saya kadang kesal dengan sahabat saya sendiri yang seringkali mengeluh dengan keadaan buruk tiap kali kami berbincang di YM. Bagaimana mau berhasil jika kita dikalahkan dengan rasa takut, lemah dan terus mengeluh tanpa berani bertindak mengubah keadaan buruk. Hadapi saja dunia hai sahabatku! Biar dunia menghajarmu hehehe.

Jika saya harus memasukkan satu momen yang ‘memilukan’ versi saya adalah mengakui bahwa saya jatuh hati pada seseorang yang cukup dekat. Namun saya memilih mengubur perasaan yang membuat saya gelisah selama seminggu lebih. Entahlah saya sepertinya lebih mantap melihatnya bahagia dari kejauhan. Seminggu sendu itu diperparah dengan lagu-lagu patah hati macam Pupus-nya Dewa. Penutup akhir yang kurang baik, perhaps.

Sebentar lagi saya akan melewati awal tahun dengan hal yang sama. Bekerja, bekerja dan bekerja yang acap kali membuat saya dilain sisi merasakan capek yang kurang manusiawi, namun bahagia karena semakin hari semakin dekat untuk kembali pulang ke Indonesia. Dan semoga tahun depan masih dianugerahi hal-hal besar, merasakan getir hidup, masalah, kebahagian yang bisa membuat tahun depan lebih keren dari tahun ini. Apalagi kotak mimpi saya masih penuh. Banyak hal yang belum berhasil menjadi kenyataan tahun ini dan semoga tahun depan terwujud. Amin.

Jika saya harus merangkum tahun ini dalam satu kata, adventurous bisa mewakili semuanya. Oya tahun 2012 blog ini lahir….hehehe, anyway Sayonara 2012, Thank You!

Lagos, Fri  9:31 PM.

*Big thanks to @marischkaprue yang menginspirasi saya menulis Sayonara 2012 setelah membaca postingannya disini.

Accidental Recipe

Accidental Recipe.
Accidental Recipe.

I made a mistake with my cooking and I thought that was an embarrassing and terrible moment, but wait! As you know, It could be a moment you could create a new recipe if you use your sense of creativity!

Alright fellas, this is the story. That night I was so so damn tired reached flat at 9pm after a looong day but at the same time my tummy wanted a fill up. I had the urge to make something a bit special and so I chose to make meat ball soup. I searched through my kitchen to find ingredients that I needed to make my desired recipe.

I found beef meat and eggs in my fridge, flour and spices on my spice shelf. I used my blender to mince the beef, put the minced meat in a bowl with 3 eggs and kneaded the mixture. Then I added my spices – salt, white ground pepper, minced garlic, pinch of sugar for taste, and coriander as well. Then, I poured water into it. It seemed to be going fine, but then, I had this scary feeling that I might have added more water than I should have. Damn! my meat dough was too watery, soft. In my panic I decided that I had to put more maize or starch in my ‘too-soft’ dough and wished that it would make it all better.

But I was unlucky. My dough was still soft even after I added so much starch. I decided to go ahead and start molding my dough using 2 spoons and put them into pan full of boiling water. I wished that the meat balls would be floating after 5 until 10 minutes – a good sign that they are well done. Needless to say, I was disappointed when I saw that meat balls didn’t float. Then I decided not to give up and I chose to put my meat ball dough in the fridge overnight. But I still had 1 loud question in my head, how about my tummy? There was nothing I could do at this point, so I went to bedroom hungry. I was so upset really.

So, the next day, when I opened fridge, I saw my meat ball dough, and was still thinking of cooking again. While my dough became harder after being chilled, I took my pan, poured vegetable oil and Yes! I did! I fried the meat balls!!! And you know what? I tasted them, and seriously, they were really good. What a delightful surprise!

Then I remembered that I had tofu, chicken fillet, and paprikas. Without thinking twice I took garlic, onion, chillies, the basic spices I always for cook with. Then:

Step to step!
Step to step!
The last thing I did, paprikas! Lovely colors!
The last thing I did, paprikas! Lovely colors!

;

* I poured some vegetable oil about two tablespoons and let it heat up enough so I could stir-fry my basic spices. Onion and garlic first, then, I added chillies. I stir fried for just 5 minutes – my basic spices smelled good. Then I stirred in the chillies and let them fry for 2 minutes.

* I added cubes of tofu and stir-fried for 3-5 minutes, poured in 2 tablespoon of tomato sauce, 1 tablespoon of chilli sauce, and small water.

* Next step? I added black pepper, salt, pinch of sugar for sure *wink* my little secret*, and nutmeg.

* I fried chicken fillet before and I added them along with the fried meat balls. I let them mix for about 5 minutes and then I added soya sauce – put as much as you like. And for more flavour and colour, I cut some paprikas. I made sure I reduced the heat on my pan of meat balls while I was cutting the paprika. I didnt want my sauce to get dry. The last thing I did was spinkle some paprika to give more spicylicious taste and because I love red and orange colour of paprika.

Tarra! Feast your eyes on this accidental but perfect recipe on my sushi plate. I thought it would be prettier if I had sesame seeds and fresh leeks sprinkled on top of my freshly cooked meal.

Nyum nyum nyum, spicylicious!
Nyum nyum nyum, spicylicious!
That is the fried meat balls!
That is the fried meat balls!
Can you see the chicken? O gosh it makes me hungry immediately!
Can you see the chicken? O gosh it makes me hungry immediately!
Tofuuu!
Tofuuu!

;

I need to name this dish, any ideas? I keep thinking…hehehe…

O yeah, do not ever be nervous fellas if you make a mistake in cooking fellas, just relax be adventurous and think about creating something else and let your creativity work!!!

;

Cheers,

Azis.

If Tomorrow Never Comes

Azis BW

Pikiran saya bertambah runyam. Setelah beberapa hari belakangan perasaan dan pikiran terganggu karena seseorang, siang ini kabar buruk datang. Ibu dari Madam Uche tiada. Innalillahiwainna ilaihirojiu’n.

Kehilangan seseorang yang kita cintai memang tak akan pernah mudah. Apalagi yang meninggalkan kita adalah makhluk terdepan di deretan orang-orang penting di kehidupan semua manusia, Ibu. Saya tak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya kehilangan seorang Ibu. Kehilangan sosok yang tak akan pernah terganti bagi siapapun. Terlebih lagi saat saya harus tinggal a thousand miles away.

Tulisan singkat saya ini bisa jadi salah satu penawar instan untuk mencurahkan apa yang saya rasa detik ini. Teringat bahwa dari dulu pun salah satu rumus di dunia tetap sama, semuanya akan berpisah. Dan seindah apapun deskripsi yang disematkan orang lain disela kata perpisahan, bagi saya, perpisahan tetaplah mimpi buruk.

Tiba-tiba saya teringat lirik ini :

‘Sometimes late at night

I lie awake and watch her sleeping
She’s lost in peaceful dreams
So I turn out the lights and lay there in the dark
And the thought crosses my mind
If I never wake up in the morning
Would she ever doubt the way I feel
About her in my heart

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes

‘Cause I’ve lost loved ones in my life
Who never knew how much I loved them
Now I live with the regret
That my true feelings for them never were revealed
So I made a promise to myself
To say each day how much she means to me
And avoid that circumstance
Where there’s no second chance to tell her how I feel

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes

So tell that someone that you love
Just what you’re thinking of
If tomorrow never comes’

If Tomorrow Never Comes – Ronan Keating.

Kadangkala kita terus-menerus lalai berterima kasih kepada Tuhan untuk sebuah kesempatan. Kesempatan akan waktu untuk masih bisa mencintai, memandang, bercerita, berbagi, dan waktu-waktu manis lainnya. Dan sungguh, masih memiliki waktu bersama orang-orang yang kita cintai itu kekayaan yang tak terlihat.

Wakkis, Cita Rasa India Di Abuja

Selamat datang di Wakkis!
Selamat datang di Wakkis!

Wakkis, ‘swaadisht’ (Wakkis, ‘enak’ dalam bahasa India).

Jika anda berkunjung ke suatu tempat baru, hunting makanan mungkin bisa menjadi salah satu hal wajib yang harus anda centang di agenda. Itu pula yang saya lakukan setelah melewati empat hari super sibuk minggu lalu di Abuja, ibukota Nigeria.

Setelah menyelesaikan project event putri Wakil Presiden Republik Nigeria hari sabtu minggu lalu, saya memutuskan untuk memanjakan lidah sebelum kembali ke Lagos keesokan harinya. Empat hari mondar-mandir seperti headless chicken yang tak tidur selama dua hari, patut bagi saya untuk duduk manis memesan menu-menu baru yang belum pernah saya coba.

Pilihan saya jatuh pada Wakkis, restoran kecil yang terletak di 171 Aminu Kand Crescent, Abuja ini menawarkan menu-menu India otentik yang bisa menjadi alternatif spot kuliner. Saya sendiri sudah dua kali mampir ke restoran yang pengunjungnya rata-rata ekspatriat ini. Suasana restoran ini tipe favorit saya, tak terlalu besar, cozy, memiliki sentuhan etnik di beberapa ornamen interiornya, dan satu lagi poin penting, rasa.

Malam itu saya bersama ketiga flatmates langsung tancap gas setelah berhasil delivered venue tepat waktu. Sebenarnya kami ingin mengeksplor Suya, penganan daging-dagingan khas Nigeria. Namun kami berubah pikiran untuk menikmati malam itu dengan makanan yang lebih enak dan sedikit ‘bergaya’ layaknya ekspatriat lain. Begitu masuk kedalam restoran ini anda akan disambut dengan pemandangan kepala koki asli India yang memamerkan keahlian masaknya. Memandangi sekeliling interior yang didominasi warna coklat natural, anda akan melihat beberapa craft-craft khas Afrika menghiasi sudut-sudut restoran.

Selagi menunggu pesanan kami, tentu saja saya tak mau duduk manis menyilangkan tangan diatas meja kayu dengan runner bermotif seperti Batik –Ya, Batik, entahlah runner yang mereka gunakan untuk menghias meja-meja di restoran ini memang Batik atau sekedar motifnya. Saya bergegas mengeluarkan kamera saya dan mengambil beberapa gambar yang cukup untuk di attached kedalam tulisan ini. Sayang saja jika tidak didokumentasikan selagi saya mengunjungi Abuja.

Wakkis menawarkan beberapa menu India dan Nigeria dengan harga yang cukup masuk akal. Malam itu kami memesan 1 porsi Lamb Ribs, Roasted Ribs, Shrimps with Mayonaise, Spicy Chicken’s wings, dan dua porsi nasi Briyani. Sebagai teman makan, saya memilih jus semangka sedang ketiga flatmates saya memilih ‘Chapman‘, minuman sejenis cocktail yang terkenal di Nigeria hasil racikan dari soda, sprite, potongan nanas dan mentimun, perasan air jeruk, sedikit alkohol dan tentunya es batu. Pesanan kami tak terlalu banyak kan untuk empat orang? hehehe. Kami sengaja memesan dua porsi nasi Briyani yang disajikan dalam mangkuk metal khas India berukuran cukup kecil. Apakah dua porsi cukup untuk empat orang? Tentu saja karena niat kami memang mencicipi dan menghabiskan menu yang kami pesan.

Oh ya, kami mendapat complimentary dish berupa beberapa potong roti canai tipis yang krispi dengan rasa yang ringan. Roti canainya disajikan dengan salah satu saus kacang yang dibumbui rempah-rempah. Semua menu yang kami pesan memaksa kami mengeluarkan N16.000 atau sekitar $100. Mahal? Saya kira masih terjangkau untuk ukuran Abuja, kota dengan biaya hidup yang sedikit lebih tinggi dari Lagos.

Sepotong Lamb Ribs yang berdiri anggun diatas piring saya. Ini makanan pertama yang saya cicipi.
Sepotong Lamb Ribs yang berdiri anggun diatas piring saya. Ini makanan pertama yang saya cicipi.
Olala Ribs! Nyum!
Olala Ribs! Nyum!
Yang ini pilihan saya, Shrimps! Nyum nyum nyum! Saya penggemar udang hehehe.
Yang ini pilihan saya, Shrimps! Nyum nyum nyum! Saya penggemar udang hehehe.
Roasted Lamb. Wah yang ini saya beri nilai 9! Enak!
Roasted Lamb. Wah yang ini saya beri nilai 9! Enak!
Karena restoran India, makannya pun nasi Briyani.
Karena restoran India, makannya pun nasi Briyani.
Ini compliment alias gratis, roti canai tipis yang simple and crispy!
Ini compliment alias gratis, roti canai tipis yang simple and crispy!
Lihat meja kami, penuh ya? Malam itu kami berasa jadi orang kaya..hehehe
Lihat meja kami, penuh ya? Malam itu kami berasa jadi orang kaya..hehehe
Begitu masuk, ini pemandangan pertama yang akan anda dapat, koki India sedang pamer kemampuan masak.
Begitu masuk, ini pemandangan pertama yang akan anda dapat, koki India sedang pamer kemampuan masak.
Ini spot favorit saya, dekat pintu.
Ini spot favorit saya, dekat pintu.
Anda bisa menyaksikan koki India memasak menu-menu di Wakkis, seperti pada gambar.
Anda bisa menyaksikan koki India memasak menu-menu di Wakkis, seperti pada gambar.
Interior serba coklat, dengan cahaya temaram membuat restoran ini cozy.
Interior serba coklat, dengan cahaya temaram membuat restoran ini cozy.
Saya selalu suka sentuhan etnik Afrika seprti ukiran ini. Keren ya!
Saya selalu suka sentuhan etnik Afrika seperti ukiran ini. Keren ya!
Lihat runner diatas meja ini, ini Batik apa motifnya saja ya? hehehe.
Lihat runner diatas meja ini, ini Batik apa motifnya saja ya? hehehe.

Pinky-C, segarnya vitamin C.

Afrika panasnya juara!

Saya kira Surabaya juga sedang membara seperti yang sering saya dengar dari teman-teman di twitter. Well, jangan hanya bisa mengeluh saja karena cuaca panas, mari bertindak kreatif membuat suasana sedikit lebih dingin. Bikin es yang seger-seger saja, bagaimana? tertarik? 

Okay, Pinky-C, minuman racikan super mudah dan cepat ini rasanya semriwing! Saya mencoba meracik buah kiwi, strawberry, yogurt, sirup mawar, dan jelly menjadi minuman yang layak anda coba. Selain mudah dibuat, buah-buahan didalamnya membuat minuman ini tidak hanya segar namun mengandung vitamin C yang baik bagi tubuh anda.

Bahan yang anda butuhkan untuk 4 gelas Pinky-C sebagai berikut :

Bahan yang anda butuhkan, mudah didapat bukan?
Bahan yang anda butuhkan, mudah didapat bukan?

 

* 2 buah kiwi.

* satu cup strawberry atau kira-kira segenggam penuh (+/- 10 hingga 12 biji strawberry ukuran sedang).

* 250 cc plain yogurt. Saya memakai minuman yogurt dingin, sehingga saya hanya memerlukan sedikit air untuk mendapatkan kekentalan yang sempurna. 

* 2 sendok makan sirup mawar. Bisa anda ganti dengan sirup lainnya. Saya memkai sirup berwarna merah agar minuman ini sedikit berwarna dan tidak pucat. Anda bisa mengganti sirup dengan gula, yang penting jangan menambahkan terlalu banyak gula agar minuman ini tak terlalu manis. 

* 100 cc air mineral dingin.

* Jelly. Saya membuat jelly terlebih dahulu sebelum mencampurnya dengan bahan lainnya.

* whipped cream dan bah ceri sebagai garnish.

Caranya : Campur saja kiwi, strawberry, yogurt, sirup, air dingin, dan jelly ke dalam blender, kemudian…..tara dalam dua menit Pink-C pun sudah jadi! Tuang kedalam gelas dan hias dengan whipped cream dan ceri.

Tara, mudah sekali bukan? Dan saya yakin segarnya membuat anda sedikit relaks di tengah cuaca panas.
Tara, mudah sekali bukan? Dan saya yakin segarnya membuat anda sedikit relaks di tengah cuaca panas.

Tak kalah dengan minuman racikan restoran kan? Yang jelas ini jauh lebih murah daripada anda memesannya di restoran.