King Halim (bagian 1)

“Menulis postingan ini seperti berusaha merangkai pecahan puzzle. Menulisnya membuat saya sering tersenyum kecil. Kenangan-kenangan didalamnya lah penyebabnya”.

***

Hari pertama.

Saya mengenakan kemeja berwarna coklat yang sama sekali tidak menarik di hari pertama saya. Setengah jam lebih di sebuah ruangan kecil tempat sekuriti-sekuriti menghabiskan hari-harinya membuat saya berandai-andai. Apa yang akan saya lewati di hari pertama di sebuah perusahaan perhiasan. Tak lama setelah mencoba mengobservasi ruangan yang dipenuhi beberapa CCTV, ada dering telepon dari salah satu staf HRD yang mempersilahkan saya untuk bersiap masuk. Tak lama, pria itu menjemput saya, maklum, tempat saya akan bekerja tidak memiliki akses untuk sembarang orang. Saya mengikutinya melewati dua kali gerbang dengan sistem kunci otomatis hingga akhirnya saya duduk berhadapan dengannya.

Di sebuah ruangan yang hanya cukup untuk empat orang staf, surat perjanjian kerja sudah ia sodorkan untuk kemudian saya baca. Membacanya membuat saya harus ekstra hati-hati, persis seperti saat saya harus memenuhi jawaban lembar ujian bahasa Inggris. Disela-sela membaca lembar demi lembar, pria tadi, oh namanya mas Zaini, ia menjelaskan beberapa peraturan perusahaan. Sekitar tiga perempat jam saya disana, akhirnya ada seorang pria muda yang menjemput saya, namanya Astomo Ahmad, seorang asli Palu yang menjabat sebagai kepala tim konseptor.

Sambutan Tomo hangat sekali, mungkin sambutan seperti itu salah satu jurus membuat seseorang yang akan bergabung ke dalam timnya merasa welcome. Tomo mengantar saya ke ruangan bercat putih gading yang sedikit lebih besar dari ruang HRD tadi. Ia mulai memperkenalkan saya pada beberapa orang disana, seingat saya kala itu jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Ada empat orang yang saya salami satu-satu. Setelah dengan mereka, saya diajak berkenalan dengan staf-staf departemen lain yang membuat saya seperti hari pertama pada umumnya, tak bisa mengingat satu-persatu nama mereka.

Konseptor

Edwin-Yuriko-Jalal-Tomo-Saya (Saya? Omai!)

Di tim konseptor, saya bertemu dengan Jalal, seorang konseptor senior yang lebih banyak menjejali saya materi desain dibanding Tomo yang jauh lebih sibuk di ruang produksi. Ada pula seorang yang lebih banyak menghabiskan harinya di ruang konseptor, namanya Jonathan Edwin. Jebolan desain grafis Petra yang cukup dingin bagi siapa saja yang baru mengenalnya. Meski saya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruang konseptor dengan Edwin, kami berdua tak cukup intens berkomunikasi. Selain ia memang agak dingin, saya lebih suka mengobservasi teman-teman baru dibanding sok-kenal-sok-dekat attitude. Tomo, Jalal, dan Edwin serta satu lagi teman saya di konseptor. Namanya Yuriko, Yuriko Liao.

Ia satu-satunya anggota tim yang tidak saya temui di hari pertama kerja. Baru selang empat hari kami bertemu setelah ia kembali dari tugasnya. Pagi itu ia datang sekitar pukul setengah sebelas, berkaos polo merah yang amat kontras dengan kulit putihnya. Ia bercelana abu-abu muda, stylish sekali. Mulanya saya kira ia kepala tim desain karena selain perawakannya yang tinggi besar, penampilan stylish dan kelewat-santai hari itu nampak sangat berbeda dari kami semua. Kesan pertama berkenalan dengan seorang Yuriko (yang juga lulusan desain grafis Petra, ia satu angkatan dengan Edwin), ia friendly sekali. Bukan karena ia memberi dua buah coklat berisi kurma oleh-olehnya dari Dubai, tapi ia memang cukup ramah untuk ukuran seorang teman baru.

Oh iya, perkenalan dengan Yuriko sempat membuat saya berandai-andai akan kesempatan yang sama. Bisa menghabiskan tiga hari di Timur Tengah di tengah tugasnya ;  survey produk dan mendistribusikan produk perusahaan di Dubai. Saat itu kedengaran keren sekali, hingga saya optimis bisa merasakan kesempatan yang sama. Eh tapi sayang, pengandaian itu semu hingga saya resign. Sebentar, ini kok malah ada curhat colongan :P, Maaf. Mari fokus lagi.

Sebulan pertama bekerja disana ada dua hal yang sangat saya ingat. Tiap kali jarum jam berhenti di angka sebelas, mata saya terasa berat. Kedua, tiap kali membuka lembar demi lembar majalah terbitan Korea yang menumpuk di rak bertingkat empat, saya seperti melihat semua desain perhiasannya sama. Mungkin saking bosannya.

Saya lebih banyak menghabiskan waktu di meja meeting kami. Selain karena saya belum boleh menyentuh ‘computerised work’, saya lebih aman berpura-pura melatih sense of design dari majalah-majalah Korea. Alih-alih mengamati desain-desain yang semuanya nampak sama (saya mengulangi kata ini kah? :P), membaca artikel figur-figur inspiratif yang ada di beberapa majalah gaya hidup Indonesia lebih menarik. Selain itu, menghabiskan empat jam pertama sebelum jam istirahat dengan sketsa-sketsa random di atas meja setidaknya membuat saya nampak sibuk.

***

Pernak-pernik kami.

Kami berlimalah yang menahkodai konsep produk. Semua konsep lahir dari meja meeting kami yang tepat berada di tengah ruangan. Disamping kami berlima, ada beberapa supervisor desain yang menjembatani kami dengan desainer-desainer di sana. Desainer yang saya maksud disini adalah anak-anak yang bertugas menerjemahkan ide-ide konseptor kedalam desain tiga dimensi. Hampir semua desainernya adalah lulusan SMK yang direkrut dari Yogyakarta. Kebanyakan dari mereka berlatar belakang desain grafis dan ada beberapa yang berasal dari jurusan Akutansi.

Oh ada yang menarik dengan meja meeting kami. Jika saya harus mengingat meja meeting kami, ada banyak kenangan diatasnya. Setiap pagi, sesaat setelah bel masuk berbunyi, kami selalu berkumpul disana. Ada ritual yang selalu kami lakukan setelah berdoa, saya lupa kami menyebutnya apa. Semacam sharing kecil-kecilan tentang apa yang kami rasa dan kami alami setiap pagi sebelum bekerja. Setelahnya, kami mulai membahas pekerjaan, target harian, target hari kemarin yang selalu meleset, proyek-proyek baru, dan hal-hal semacam itu.

-bersambung-

Lagos, 8 ; 42 pm.

Advertisements

3 responses

  1. ziz… kalo dah tulis lanjutannya tag aku juga ziz… baca postinganmu ini juga bikin aku kembali ke masa lalu…. ke masa dimana aku kenal kalian… (halahh… siapalahsayaini)
    aku pengen baca bagian dimana kamu di bully sama patrick
    …. XD

    di tunngu kelanjutanya :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mr and Mrs Globe Trot

aroused by food & photography

PARK & CUBE

aroused by food & photography

La Buena Vida

aroused by food & photography

i am a food blog

aroused by food & photography

Finn Beales - Photographer

aroused by food & photography

Souvlaki For The Soul

A Food and Travel Experience

Sam Is Home

aroused by food & photography

Penelope's Loom

aroused by food & photography

cookinandshootin

"It's so beautifully arranged on the the plate - you know someone's fingers have been all over it." - Julia Child

Butter Me Up Brooklyn

baking makes friends.

aroused by food & photography

seven spoons

aroused by food & photography

What Katie Ate

aroused by food & photography

Chasing Delicious

aroused by food & photography

after the cups

aroused by food & photography

Little Upside Down Cake

aroused by food & photography

Green Kitchen Stories

The healthy vegetarian recipe blog

La Tartine Gourmande

aroused by food & photography

aroused by food & photography

Foi Fun!

aroused by food & photography

lingered upon

aroused by food & photography

%d bloggers like this: