A Shockin’ Evening

A Shockin’ Evening

The first Surabaya Fashion Parade award.

Saya akan mencoba mengumpulkan puzzle ingatan mengenai ini.

Saya menyebutnya iseng-iseng berhadiah. Empat tahun yang lalu tepatnya 2008 saya berani mengikuti salah satu kompetisi ilustrasi di Surabaya Fashion Parade. SFP adalah parade fesyen yang digelar oleh salah satu plaza terkenal di Surabaya, Tunjungan Plaza. Sekarang menjadi annual event setiap bulan Mei. Jika saya tak keliru, kompetisi itu pertama kali diadakan tahun 2008. Artinya saya mengikuti kompetisi SFP saat pertama kali digelar.

Kompetisi SFP tahun itu saya dengar dari sahabat kecil saya yang beberapa kali menjuarai kompetisi ilustrasi, panggil saja namanya Sohib, dia bisa anda temukan disini. Saya masih ingat saat mengunjungi rumahnya yang hanya terpaut beberapa rumah dari rumah saya. Sore itu, dia menyodorkan iklan SFP di salah satu surat kabar nasional. Surat kabarnya hanya saya bolak balik mencari artikel yang lebih menarik yang bisa saya baca. Saya jelas tak memiliki ketertarikan saat itu dengan SFP. Bahkan ia lah yang menyuruh saya menghubungi kontak yang ada di iklan, siapa tahu dengan mengikuti kompetisi itu saya bisa menang. Mungkin pikirnya begitu.

Saya membawa pulang surat kabar itu dan masih tak tertarik dengan kompetisinya. Setelah saya membaca surat kabar itu sekali lagi, saya menemukan alamat yang bisa didatangi untuk mendaftar. Ternyata tak jauh dari kampus saya. Sepulang dari kuliah perancangan III, sahabat saya di kampus, Ruli berhasil saya sikat untuk menemani saya mendaftar. Siang itu matahari cukup terik. Hanya beberapa menit dari kampus, saya dan Ruli sampai disana. Ternyata tempat pendaftaran yang terletak di perumahan itu salah satu basis ikatan desainer wilayah Jawa Timur. Hanya sepuluh menitan disana saya berhasil mendapatkan kartu peserta.

Beberapa hari setelahnya, saya pun berangkat kekampus dengan tas punggung yang lebih penuh dari biasanya. Alat-alat gambar sederhana saya sudah menempati kantong-kantongnya. Saat itu akhir musim kuliah, hanya menunggu dua hari sebelum minggu tenang yang biasa dilanjutkan dengan UAS. Saya masih ingat hari itu Jumat. Hari aktif terakhir ngampus sebelum libur seminggu. Kebetulan saya dan Ruli mengambil mata kuliah minor yang sama, digital modelling. Kuliah yang sebenarnya berakhir pukul lima sore, namun saya nyelonong pergi setelah menyelesaikan tugas studio pukul tiga. Kompetisinya sendiri dimulai pukul empat sore. Perjalanan dari kampus ke Plaza Tunjungan tak kurang setengah jam.

Saya menyempatkan mampir ke kos teman dekat kampus sebelum menuju kesana. Saya hanya ingin meminjam meja mini yang biasa dipakai untuk menaruh keyboard PCnya. Teman yang telah berbaik hati sore itu namanya Fajar, penggemar Vespa yang sekarang sukses berwirausaha. Setelah saya rasa bekal saya cukup, langsung tancap menuju venue. Mengendarai motor butut setia, akhirnya pukul empat sore lebih sepuluh menit saya tiba disana. Setelah menemukan kumpulan manusia dengan alat-alat gambarnya, saya daftar ulang dan langsung mendapatkan nomer resmi. Nomer 1, sesuai abjad nama saya. Hal ini mengingatkan saya dengan urutan yang selalu pertama saat jaman sekolah dulu. Selalu menempati urutan 1. Saya ingat perasaan saya saat itu. Tak tau arah, persis seperti orang kesasar di jalanan besar yang berisi orang-orang hedon.

Menunggu di deretan kursi peserta membuat nyali saya semakin ciut. Apalagi jika bukan karena pesaingnya yahud-yahud. Penampilan yahud ditunjang alat gambar berkualitas seakan menandakan kepercayaan diri yang tinggi. Lah saya? Baju kusut, muka berminyak tercampur debu dan asap jalanan. Benar-benar komplit. Setelah sejaman menunggu akhirnya kompetisi dimulai. Semuanya duduk sesuai nomer urut. Saya duduk sebelah kanan pojok. Tentunya didepan. Sesekali mata saya tak bisa fokus mengamati pesaing-pesaing di sebelah saya. Peralatan gambar mereka lebih tepatnya. Bagaimana nyali tidak ciut jika alat yang mereka bawa rata-rata bermerk. Pastilah kualitasnya yahud dan menunjang hasil karya nantinya. Saya? Hanya bermodal alat-alat murah, pensil warna yang umurnya mungkin sudah mencapai dua tahun dengan panjang yang berbeda di setiap warnanya. Pensil mekanik seharga tiga ribuan, penghapus pensil yang bentuknya pun sudah tak jelas karena seringkali diiris cutter, beberapa glitter pens, yang semuanya berada didalam kotak pensil biru. Plus meja belajar si Fajar menjadi alas gambar.

Oke, kertas gambar mulai dibagikan oleh panitia dengan tema jelas terpampang di pojok atas kertas A3, Ethnic Futuristic Ready To Wear. Saya mengamati keempat juri yang duduk dikursinya masing-masing, seorang jurnalis fesyen, fotografer majalah fesyen, ketua APPMI dan seorang fashion lecturer. Beberapa menit setelah saya mendapatkan kertas gambar sembari mendengarkan aturan kompetisi dari MC, saya mulai berpikir desain apa yang bisa mewakili konsep keseluruhan Ethnic Futuristic Ready To Wear. Sekilas saya berpikir memodifikasi batik sebagai material dasar dan membumbuinya dengan sedikit kreatifitas agar nampak lebih segar dan muda. Saya masih ingat tahun 2008 menandai kepopuleran batik dengan munculnya varian dan desain batik. Tanpa pikir panjang pikiran saya setuju untuk mengangkat batik. Saya mulai dengan membuat proporsi model dan berhasil menyelesaikannya dalam waktu semenit-Damn! Jika saya ingat apa yang saya gambar saat itu dan kembali melihatnya hari ini, proporsi yang saya buat sungguh berantakan. Kemudian mulai mendadani sketsa model saya dengan ilustrasi batik modern berupa asymmetric coat berwarna coklat tua dipadu dengan light dark green tee dan asymmetric skirt berbahan batik. Agar terkesan tak biasa, saya menambahkan ready to wear obi dengan detail yang rumit dipinggang –sayang saya tak bisa menampilkannya di blog ini, karena tak sempat mengekspornya ke format jpeg – coba saja dibayangkan dari penjelasan tadi :).

Jika kembali mengingat karya saya saat itu sungguh memalukan. Bagaimana tidak, proporsi yang berantakan, tidak setinggi proporsi model yang seharusnya, arsiran warna yang tak berarah, dan secara keseluruhan nampak tidak cukup istimewa. Tak lama menyelesaikan karya, kira-kira sejam dari empat jam yang diberikan panitia, saya memutuskan pulang. Saya sengaja melewati jalan dimana saya bisa melirik karya peserta lain dan damn! saya tercengang. Mereka rata-rata memiliki kemampuan yang wow!. Apa-apaan ini, jika begini saingannya mana bisa menang. Tak apalah, tak usah berpikir menang kalah yang penting sudah berani berkompetisi. Saya mencoba menenangkan diri. Melihat karya-karya gila yang ditunjang dengan alat-alat berkualitas tentunya akan membuat karya saya tenggelam dalam tumpukan gambar yang rata-rata dihasilkan dari pengenyam sekolah mode yang tahu persis bagaimana teknik ilustrasi. Ya sudahlah saya pulang saja.

***

Awarding Night

Tiga hari setelah lomba awarding night-nya digelar. Malam itu saya sangat malas datang karena migrain kiri saya kumat. Apalagi sepanjang sore itu saya sudah keliling mall untuk mendapatkan sebuah jaket. Menjelang pukul tujuh malam saya menelpon sahabat SMA, Fahmi namanya. Pikiranku berubah, tak apalah datang meski sebentar hanya ingin tahu saja siapa yang akan menang. Dengan begitu saya bisa tahu kualitas apa yang dipertimbangkan juri untuk pemenangnya. Akhirnya sahabat saya itu berbaik hati mengantarkan kesana. Karena invitation-nya admits two, kami pun bisa masuk ke zona makhluk-makhluk legal yang ternyata setelah saya sadar, kami duduk di barisan penonton, bukan barisan khusus peserta. Beberapa menit setelah kami sampai di venue, MC acara malam itu mulai masuk pada sesi awarding untuk illustration competition. Satu persatu dari total enam pemenang ditampilkan di giant screen di atas stage putih. Hitungan mundur dimulai dari pemenang favorit ketiga dan berlanjut hingga memasuki detik menegangkan untuk juara kedua. Kami mengamati ilustrasi yang ditampilkan di layar raksasa itu. Sambil berbisik saya katakan pada sahabat saya ilustrasi yang menang karya-karyanya ngeri. Saya mengajaknya pulang saja. Tapi dia mencegahku dengan alasan yang cukup logis. Sayang saja jika tidak mengikuti acaranya sampai selesai. Okay alasannya diterima meski kepalaku mulai terasa lebih berat dari sebelumnya.

Menjelang juara pertama diumumkan, MC nya pun mengeluarkan kata-kata yang mendebarkan bagi seluruh peserta kompetisi. “Siapakah pemenang pertama? langsung saja, pemenang pertama fashion ilustration Surabaya Fashion Parade 2008, pertama kali digelar, dimenangkan oleh peserta dengan nomer urut…….Wah ini spesial, pemenang pertama dimenangkan oleh nomer urut ; Satu!”. Hah? nomer satu kan milik saya. Bagaimana bisa? Saya hanya menatap heran ke layar raksasa malam itu. Bagaimana saya bisa percaya menumbangkan peserta-peserta dengan ide dan teknik yang rata-rata maknyus. Setengah tak percaya. Namun memang yang tertampang disana itu karya ecek-ecek kedangdut lengkap dengan nama saya. Sahabat saya pun menyuruh bergegas ke atas stage sesuai permintaan MC. Sambil bersorak, “traktiran!”. Saya pun langsung menuju stage yang sebelumnya harus menahan sorotan lampu-lampu yang bergemerlapan sepanjang runway berwarna putih. Langkah saya cukup mantap ingin segera mengakhiri di depan. Seorang model menyerahkan award lengkap dengan karya saya yang telah dibingkai. Ah, apa-apaan ini.

Tak percaya saja bagaimana bisa tiga hari sebelumnya saya datang dengan penampilan super kusut dan alat-alat murah meriah bisa menggondol piala dan beberapa hadiah yang cukup asik. Uang tunai, kursus gratis di Lasalle, akademi fesyen dan desain yang pusatnya di Kanada –sayang kursusnya tak pernah saya ambil karena saat itu saya hanya ingin menyelesaikan kuliah yang akan memasuki jenjang menuju Tugas Akhir– , beberapa parfum dan merchandise. Akhirnya pukul sepuluh malam kami pun meninggalkan venue. Kepala saya masih cekat-cekot namun terhibur dengan piala didalam tas dan uang tunainya :D. Ah leganya karena saya berhasil melewati hari yang melelahkan. Keputusan hadir di malam penghargaannya ternyata tak salah, meskipun saya sedikit menyesal tak sempat mengabadikan momen di stage padahal kamera saku sudah saya siapkan sehari sebelumnya.

Tak apalah, biar saya ingat saja setiap detailnya.

 

Memasaklah yang mudah (dulu)!

Memasaklah yang mudah (dulu)!

Tulisan ini hanya bentuk sederhana membagi apa yang saya tahu. Memasak dari resep-resep mudah yang saya yakin, siapapun yang mencobanya pasti berhasil. Tak perlu menghabiskan banyak waktu di dapur untuk kepuluh resep mudah ini. Mari mulai :)

1.Cheesy Bread.

Resep ini resep bayi yang bisa dibuat siapa saja. Sangat cocok untuk sarapan.

Jika anda tidak punya banyak waktu menyiapkan sarapan di pagi hari, coba ini. Saya berusaha memiliki persedian roti di kulkas sebagai selingan makanan jika bosan dengan nasi. Ide resep ini datang saat saya berpikir cara tercepat membuat roti yang disimpan dikulkas kembali empuk seperti dari oven. Caranya? Cukup dengan teknik sederhana. Mengukusnya kembali didalam rice cooker. Cukup lima menit roti sudah kembali empuk dan anda hanya perlu meletakkan keju cheddar diatas roti yang masih panas. Biarkan ia meleleh sendiri.

Jika saya memiliki cukup waktu di pagi hari, saya menyajikan roti ini dengan apel yang dipanggang di atas pan, dan dikaramel dengan gula pasir dan tetesan jeruk nipis. Cukup sedikit jeruk nipis karena rasa apel sudah agak masam.

2.Simple Sandwich.

Yang satu ini sangat mudah dan…fruitful! Jelas anda semua pasti bisa membuatnya!

Simple sandwich pilihan yang cukup cerdas karena enak dan mudah dibuat. Hanya butuh beberapa lembar roti dan isian sesuai selera anda. Saya biasa membuatnya untuk sarapan atau camilan. Yang anda butuhkan hanyalah mayonaise, mentimun, tomat, selada, telur rebus, daging asap (bisa diganti ayam), dan keju. Salah satu teknik yang harus anda kuasai dalam membuat sandwich adalah memotong bahan isian setipis mungkin agar tidak membuatnya berantakan. Mentimun dan tomat khususnya. Salah satu ciri sandwich yang berhasil adalah potongan sayuran yang rapi dan mempercantik tampilan keseluruhan sandwich.

Oya, untuk isian gunakan kreatifitas dan selera anda, bisa anda tambahkan jamur, zaitun, tergantung selera. Jika anda menginginkan sandwich yang agak spicy, bisa anda tambahkan saus sambal dengan sedikit garam dan lada ke dalam mayonaise sebelum mengolesnya di atas roti.

3.Sweet Crackers.

Ini hanya resep mainan! Tinggal bermain dengan kreatifitas anda!

Saya sebut resep mainan karena hanya dibuat dari bahan yang sudah ada tanpa mengolahnya sedikit pun. Ide mengawinkan beberapa camilan ini didapat saat saya mulai bosan menyantap cracker kering. Saya hanya menambahkan pasta coklat dicampur dengan sedikit susu kental manis agar sedikit cair. Oleskan diatas cracker dan tumpuk dengan cracker lainnya. Oleskan lagi dan tata sereal coklat dan kismis. Jika anda memiliki strawberry, bisa anda gunakan sebagai garnish. Simpel.

4.Banana in Tea.

Banana in Tea semacam sup buah termudah!

Idenya berasal dari “Setup/Setop” semacam sup manis yang dibuat Ibu saya saat ramadhan. Saya hanya mencoba mengganti bahan cairnya dengan teh. Saya menyeduh tehnya terlebih dahulu dengan sedikit gula dan jeruk lemon, kemudian merebus pisang dengan air gula. Jaga agar pisang tidak overcook. Setelah pisang setengah matang, masukkan teh kedalam rebusan dengan taburan daun mint untuk penambah aroma. Rebus kembali sekitar lima hingga tujuh menit. Terakhir masukkan potongan apel dan jeruk, biarkan panas dari sisa rebusan membuat mereka berdua matang dengan sendirinya. Apel dan jeruk harus dimasukkan terakhir agar mereka masih fresh dan crunchy saat dimakan.

Anda bisa menghidangkan satu mangkuk hangat Banana in Tea atau membiarkannya dingin, cukup simpan saja di lemari es dan nikmati sore anda dengan sup mudah ini.

5.Quacker in Egg

Quacker in Egg lahir saat saya tak punya bahan makanan kala itu! 

Ketidaksengajaan dan keterbatasan melahirkan resep sederhana ini. Saya hanya bermain dengan telur dan oats.

Dua buah telur dikocok lepas dengan gula pasir, susu bubuk, baking soda dan sedikit terigu. Tambahkan vanila dan sedikit garam. Satu sendok teh minyak zaitun dan sereal jagung. Semua jadi satu. Goreng di penggorengan dengan sedikit butter seperti anda membuat telur dadar. Setelah matang, tambahkan quacker oats mentah dengan lumuran susu kental manis diatas dan tangkup. Anda bisa mengembangkan ide ini dengan mengganti susu kental manis dengan pasta coklat atau kacang.

6.Banana Choco Rolls.

Pisang digulung…

Bahan dasarnya hampir sama dengan dadar gulung. Hanya terigu, telur, susu cair, gula, garam, dan baking soda. Kocok semua jadi satu. Bentuk dadar di atas pan yang sudah dipanasi dahulu dengan api sedang. Setelah semua adonan selesai, tinggal diisi dengan pisang yang sudah dikaremelisasi sebelumnya, kemudian gulung. Hidangkan dengan saus coklat yang bisa anda buat dari campuran pasta coklat, sedikit butter, dan milk cream. Tim di dalam wadah tahan panas diatas air mendidih. Saya menambahkan semacam sereal yang bercampur dengan potongan almond dan kismis kering. Anda bisa mengeksplor resep ini dengan mengganti isian dan jenis saus.

7.Simple Rolls with Blackcurrant Jam Filling.

Lagi-lagi, mari menggulung!

Yang ini jauh lebih mudah, hanya mengandalkan telur, tepung, dan gula. Selebihnya hanya didadar di atas pan. Setelah dadar matang, tinggal diisi dengan selai anggur plus sereal gandum, almond, dan kismis. Litta bit sweet :)

8. Spicy Mango Scrape with Ground Nuts.

Ngerujak!

Yang ini gampang bukan main. Hanya perlu mangga setengah matang. Pastikan rasanya manis bercampur asam. Tinggal diparut, dicampur dengan sesendok teh cuka, sedikit gula dan sejumput garam. Tambahkan potongan cabe rawit dan kacang tanah. Diamkan di kulkas hingga dingin dan sajikan! :)

9. Black Pepper Beef.

Sapi lada hitam!

Teknik masak daging sapi yang amat mudah untuk teman makan nasi. Hanya butuh daging sapi dan bumbu sederhana.

Bumbu yang saya pakai untuk resep ini hanya bumbu dasar, bawang merah dan bawang putih. Haluskan dengan blender. Kemudian tumis diatas api sedang dengan minyak sayur secukupnya sampai harum. Setelah harum, masukkan daging sapi yang telah diiris tipis sambil diaduk agar bumbu rata. Tambahkan sedikit air kedalam masakan untuk memperempuk daging. Tambahkan lada hitam, sedikit bubuk cabai, kecap manis secukupnya dan tak lupa garam. Tunggu sampai daging matang dan bumbu meresap.

Jika anda menyukai rasa yang lebih pedas, cukup tambahkan beberapa potong cabe rawit merah dan hijau bersamaan dengan bawang yang akan dihaluskan.

10. Spicy Fried Egg.

Namanya keren, ini mah telor dadar! :D

Ini resep sejuta umat. Siapapun pasti pernah memasak dan memakannya. Ya, olahan telur yang satu ini sangat teramat mudah dibuat. Hanya mengandalkan telur sebagai bahan utama dan beberapa isian sesuai selera. Saya memasaknya hanya dengan irisan bawang merah, bawang putih, daun bawang, dan kadangkala menambahkan jamur. Hanya telur kocok ditambah bahan tambahan tadi plus bumbu pelengkap, garam dan lada putih. Tinggal didadar diatas pan panas hingga matang.

Sajikan dengan campuran kecap manis, tetesan jeruk nipis, dan cabe rawit. Ini resep sederhana, murah dan yummy!

Kesepuluh resep paling mudah yang bisa dimasak siapa saja! Jika anda belum menyukai masak memasak, ayo, belajar mulai dari resep sesederhana ini. Memasak itu menyenangkan! Bisa melatih kreatifitas dan tentunya anda akan lebih mandiri.

Selamat memasak :)

Le coeur a son réseau

Ton meilleur pote à Bruxelles

Mr and Mrs Globe Trot

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

PARK & CUBE

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

La Buena Vida

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

i am a food blog

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Finn Beales - Photographer

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Sam Is Home

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Penelope's Loom

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

cookinandshootin

"It's so beautifully arranged on the the plate - you know someone's fingers have been all over it." - Julia Child

Butter Me Up Brooklyn

baking makes friends.

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

seven spoons

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

What Katie Ate

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Chasing Delicious

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

after the cups

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Little Upside Down Cake

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Green Kitchen Stories

The healthy vegetarian recipe blog

La Tartine Gourmande

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

Foi Fun!

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things

lingered upon

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris and nice things