Simply Love

OLEH2-1 copy

I’m a kind of person who love spending money for souvenir, yes I do. A month before I left Africa for my annual leave, I went to Lekki market three times. First visit was a time to find souvenirs for some best friends + my family and capturing Lekki itself, poor me it was drizzling. Second time I went again and got some additional souvenirs for my close friends and capturing Lekki was successful. And the third one I went there AGAIN, to find more souvenirs AGAIN. The last visit was for my new friends.

I had no issue for that because I knew myself would lie to what I’ve been promised before I left that I would bring SOME souvenirs only. Yes, because I already brought for some of them first year I came back home. In fact, I still took my pocket to Lekki. But hey by seeing pictures for this post when I gathered/edited them before is another simply joy for me.

I don’t know, I do love buying souvenirs. For me, a little thing you bring from where you travel/live outside could be a simply love worth to share to your beloved ones. I’m thank God this year, on my second time I went home, I could spread that simply love. Here they are my simply love for them :

AYOS

I always happy if I meet Ayos, one of inspiring friend I had. Even we just had only, hmm, just three hours this year I appreciated a lot. He’s awesome friend of mine who loves culture, so I brought this wood carving, the figures are Igbo women wearing Gele, a part of Nigerian woman’s traditional costume. O lemme tell you, I know it sounds garish, whenever after I meet Ayos I feel smarter, Hah.

AYOS1 copy

AYOS2 copy

WINDA

Yeah Winda got an African cloth called Kinte. It was so funny when I saw that cloth in Lekki my mind said that it would be fit and lovely for Winda. Gosh I love when Winda said so.

WINDA1 copy

WINDA2 copy

ATRE

Hah. Atre was the one who made me back to Lekki for third times! Yeah, when she tweeted me, I decided to go back AGAIN. I was so happy could see her in person, she’s my new fantastic friend. Atre got a tribal handmade African necklace.

ATRE1 copy

ATRE2 copy

MAYA

One bag made from wood bark, a cute key ring from Dubai and M&M’s chocolate in cute figure were for Maya. I remembered when Maya and I talked on our Line, she told me to bring THIS, THAT, and THIS, hahaha. Oh yeah the chocolate was for her cute toddler, Ranu :*

MAYA1 copy

MAYA2 copy

RULI

I met Ruli two times this year, I wish we had more. I brought a unique craft, Africa map shape, it’s a small jewelry box actually. What I love from that craft is the key to open the box is Nigeria map. Apart of the craft, I gave him Swiss chocolate inside gold box I found in DBX. Shit my spirit said “BUY!” immediately to give Ruli those GOLD, big GOLD  when I chose some chocolates for myself :P

RULI1 copy

RULI2 copy

SHOHIB

Shohib requested a stone bowl with African painting on it, see zebras, very Africa right?. He got something like this before in a smaller size. He loves history and culture as well, probably I will bring another thing next year. O yeah, Shohib wasn’t confident enough to pose in front of my camera. Dah.

SOHIB1 copy

PUTRI

Another new fantastic friend this year I could meet with. For Putri I got a tribal necklace in red as a gift. O yeah I love giving a gift for somebody and an elephant made from stone was a cuteness :). Hope she love it.

PUTRI1 copy

PUTRI2 copy

NURAN

I wasn’t sure this year I would have a chance to see Nuran a.k.a Bang Nuran in a person. So, when he passed Surabaya from where he traveled before, I agreed to meet even my time was so strict. Thank God I could manage my short time to meet him and shared breakfast. Oops shit I forgot to ask him to pose with his souvenirs, poor me. You have to know that he’s a brilliant writer, I officially say that he is one of my fav writer. One more thing, he’s good in cooking!

NURAN copy

JONATHAN

This guy is so funny, he asked me to bring wood statues that I gave to my other friends when we met last year. And can you imagine, Jonathan even forgot that he said so, Dah!. But I know myself I would bring something he asked for, I’m too kind right? :) I brought this craft for him for his birthday gift last month yeah, as souvenirs as birthday gift so :P. His photograph here wasn’t clear enough, sorry for that, I thought my hand was shaking and out-of-focus on his face when I snapped with iPhone. Sigh.

JONATHAN copy

FAHMI

Fahmi is my best friend since we were in high school until today. This year he got Akosombo, Toblerone and one key ring from Dubai. Key ring wasn’t on my list actually but I remember he gave me a very cute Mickey key ring one day. So, 1-1 right? :)

FAHMI1 copy

FAHMI2 copy

MBAK IKA

I respect Ika a.k.a Mbak Ika, a mom of two who always has time to see me when I come back home. She always try to find quality time to spend even when she is busy doing her thing. She just like my own sister who care about me since I live outside country. So, when she asked me to bring fridge magnets I grabbed some when I was in DBX, not only that because I thought Akosombo for woman would be lovely for her. O yes, I should thanks to LINE by keeping me close with Mbak Ika since I use my BB for phone only :) You will see her hilarious-posed here :P

MBAKIKA1 copy

MBAKIKA2 copy

LUKKI

She was my junior in school but wait, she grows so fast!. She is one of young talented award-winning movie director, was it cool? Yeah!. When I and Putri agreed to meet this year, we invited Lukki as well so I thought small souvenirs for her was a good idea. O yes, hope she has a chance to South Korea for her scholarship in movie next year!

LUKKI1 copy

LUKKI2 copy

Happy I could share simply love when I came back home last month. I’m gonna say thanks for all friends above due to they could take time to see me. I would love to see another new friends this year but sadly as I said time was my challenge. I had some of friends that got souvenirs as well I couldn’t attached here cause I couldn’t meet them :( but hopefully they were happy with the souvenirs. I felt that those souvenirs are so much better than what I brought last year, don’t you think so? You can compare with this.

Alright, I think I talk to much on this post but I’m gonna keep this post as one of my fav post on this blog. Hmm how about next year? I can’t promise myself to bring those souvenirs again EXCEPT my spirit says contrarily. Lets see.

Bahagianya Pulang! (Bagian 2, Selesai)

Lagos – Dubai.

Saya sudah duduk manis di dalam pesawat. Seperti halnya penerbangan dari Dubai ke Lagos, penerbangan sebaliknya ini tak selalu ramai. Beberapa kursi tampak tak ada yang memiliki. Saya duduk tepat di barisan kursi sebelah kiri, dekat jendela. Siang hari cahaya dari luar nampak sangat kuat menembus jendela membuat saya terpaksa menutupnya. Pesawat saya mulai take-off. Bahagia yang sesungguhnya pun dimulai.

Saya mulai menaruh headsets di kedua daun telinga, menikmati musik dari playlist ponsel saya sendiri. Bahagia kecil terjadi lagi saat waktu menikmati makan siang tiba. Saya belum seribet sekarang saat melihat makanan-makanan bagus ada di depan mata. Saat itu saya hanya menikmati complete meal  mulai dari nasi hingga dessert-nya. Mousse coklat Emirates memang juara. Sungguh lumer di lidah.

Saat hari sudah sore, saya mulai membuka jendela di samping untuk menikmati sore dari ketinggian saat awan-awan yang mirip kumpulan kapas itu mulai menguning. Senjanya cukup indah hari itu. Saya tidak memperhatikan layar di depan saya sudah berada di ketinggian negara mana. Yang jelas, bisa menikmati senja di ketinggian, staring up my window dan sadar bahwa saya berada di pesawat dalam perjalanan pulang itu bisa jadi bahagia kecil lainnya. Hari mulai gelap, saya mulai mengantuk. Mata saya sepertinya meminta tanggung jawab untuk dipejamkan. Jam tidur yang terganggu sehari sebelumnya berhasil saya tebus. Jaket tebal tidak cukup mempan mengurangi dinginnya temperatur di dalam pesawat. Namun saya tetap terlelap tidur. Sesekali bangun untuk memastikan saya sudah melewati negara mana saja. Dan yang terpenting pukul yang berlaku detik itu selalu saya perhatikan.

Tidak terasa saya sudah bangun dengan badan yang lebih segar. Layar di depan menunjukkan Dubai sudah dekat. Saya mulai menyesuaikan waktu setempat dengan jam tangan abu-abu yang melingkar di pergelangan kiri. Tujuannya tentu saja agar saya update dengan zona waktu yang berlaku saat itu. Ini penting sekali agar saya selalu waspada dengan jadwal penerbangan selanjutnya.

Pesawat tiba di Dubai. Pagi sekali, beberapa menit setelah melewati pukul dua belas waktu Dubai. Bandara masih sibuk meski tak segila pagi dan siang hari. Saya bersemangat mencari terminal selanjutnya dengan langkah yang lebih mantap. Saya harus memastikan jam penerbangan dan titik terminal saya tepat. Setelah saya yakin dengan jam terbang selanjutnya dan tentu saja letak terminalnya, saya kembali menyusuri bandara yang sekilas seperti mall itu dengan langkah tergesa-gesa. Waktu transit saya ternyata tidak sesuai dengan apa yang ada di tiket saya. Saya hanya memiliki sekitar satu setengah jam dari tiga jam yang tertera di tiket. Sial!

Saya menyusuri beberapa toko setelah berhasil menukar dollar ke dirham. Tidak banyak barang yang saya beli, hanya beberapa benda kecil yang menurut saya unik dan ringan. Sempat mampir ke kedai Starbucks sebentar dan mencomot mug serta botol minum berhiaskan Burj al Arab. Selain itu, toko yang memajang beberapa pernak-pernik khas negeri kaya itu berhasil menggoda saya. Beberapa magnet lemari es, gantungan kunci, miniatur hotel milik Dubai yang menjulang, dan beberapa suvenir berukuran mini saya pilih. Oh ya, saya sempat bertemu kembali dengan gadis Iran di salah satu gerai parfum ternama.

Sebenarnya saya belum puas mengelilingi bandara, namun karena tak ingin mengambil resiko terlambat check-in, akhirnya saya putuskan kembali ke terminal yang sudah nampak sangat penuh. Penuh dengan orang-orang negeri sendiri yang akan pulang, selebihnya orang-orang barat yang transit disana setelah penerbangan dari Amsterdam.

Ah, saya semakin dekat dengan Jakarta. Kali ini saya harus menempuh delapan hingga sembilan jam lagi. Pesawat dari Dubai ke Jakarta selalu sesak. Kali ini saya tak cukup beruntung duduk di spot favorit saya. Seorang Jerman duduk di dekat jendela. Disampingnya seorang Belanda dan setelahnya baru saya. Penerbangan saya saat itu was the best ever, tentu karena kepulangan pertama. Saya tak henti melihat layar dimana pesawat sudah melewati India, kemudian ke arah timur lagi dan lagi hingga menunjukkan sudah diatas Malaysia. O gosh it was so fantastic! Saya akan tiba di Jakarta.

***

Jakarta-Surabaya.

Akhirnya, sumringah saya ada pada titik tertinggi, Jakarta! Saya berhasil mendarat di negara sendiri setelah sebelas bulan lamanya.

Tiba di Jakarta, artinya beberapa jam lagi saya akan tiba di kampung halaman. Keluar dari pesawat masih setengah tidak percaya, Indonesia!. Terdengar norak ya? Ah anda mungkin belum bisa merasakan apa yang saya rasa saat itu. Setelah melewati imigrasi, saya langsung menuju tempat penukaran uang. Saya tak memiliki rupiah yang cukup untuk pulang.

Tiket Jakarta-Surabaya yang sudah di tangan sejak tiga hari sebelum saya tiba, menunjukkan penerbangan ke Surabaya pukul 7 malam. Cukup lah, tak terlalu malam. Tapi….sial sekali! Pesawat saya delayed hingga pukul sembilan dan terus hingga akhirnya berangkat pukul sepuluh. Artinya saya akan tiba hampir tengah malam, rrghh! Saya mencoba menikmati setiap momennya. Menapaki jalan menuju pesawat saat itu benar-benar membahagiakan. Sejam perjalanan ke Surabaya tidak saya lewatkan dengan tidur meski mata saya setengah ngantuk. Akhirnya ya akhirnya! Surabaya!

Selesai dengan urusan koper tiga puluh kilo itu, saya mencari muka seorang yang sudah memaki-maki saya sejak perbincangan via bbm di bandara Lagos. Tak lain tak bukan, manusia yang menasbihkan sebagai orang paling kaya, si Ruli. Setelah beberapa menit mencari batang hidungnya akhirnya ketemu juga. Gila! Ia tambah tambun, hahaha! Makian-makian Ruli tak akan pernah habis, bahkan sampai di warung tempat kami menikmati rawon tengah malam, warung di depan JW Marriot. Sebenarnya saya memilih bakso sebagai makanan yang harus dinikmati pertama kali, tapi rawon juga bukan pilihan buruk. Apalagi…apalagi…saya bertemu dengan tempe! Jiah tempe! Fav food ever! Plus kerupuk putih. Nikmat sekali.

Setelah selesai ‘ngewarung’ dini hari akhirnya saya sampai juga di kampung. Ow no, dini hari melenggang di kampung sendiri dan….waktunya knocking doors! Ini lucu. Mengetuk pintu rumah, yang ada bapak saya yang membukanya. Kedengaran dari dalam ia ngomel kecil, “siapa tamu pagi-pagi begini…” jiah…tak dinanya saat pintu terbuka…”oh, kamu…” hahaha. Kalau diingat lucu juga ya! Setelah bapak, giliran mengagetkan ibu yang terlelap tidur. Saya ‘jawil’ beliau, setengah tak sadar matanya terbuka perlahan dan…..jiah ini lebih dramatis sedikit, beliau langsung terbangun dan memeluk saya. Matanya berkaca-kaca, mungkin beliau rindu sebelas bulan tak melihat batang hidung anak bungsunya.

Malam itu, oh bukan pagi, pagi itu pagi pertama di rumah, berbincang sebentar dengan bapak, ibu dan kakak saya yang terbangun karena kedatangan dadakan saya. Kami mengobrol ringan hingga pukul 2. Setelah itu saya ingin tidur di kasur! Meskipun agak sulit karena jetlag. Ah akhirnya…rumah.

Saya menghabiskan cuti saya sebulan yang lebih terasa seperti seminggu itu dengan maksimal. Kenyataannya sih tak terlalu maksimal jika saya ingat lagi. Tiga hari dihabiskan di alam terbuka dengan Maya, Ruli, Winda dan Ayos. Selebihnya banyak disibukkan dengan jalan-jalan dan bertemu dengan teman-teman kerja dulu pun sahabat-sahabat saya. Menghabiskan waktu dengan keluarga sedikit sekali, itu kesalahan saya yang saya janji…insyaallah tak akan terulang tahun ini. Saya sudah punya daftar baru tentang apa saja yang akan saya kerjakan untuk cuti tahun ini. Oh, pulang!

Sebentar, biar lebih sahdu saya putar dulu Home-nya Michael Steven Bublé yang tak pernah gagal membuat khayalan rumah di depan mata. Sepagi ini berpikiran pulang, jiah tak boleh ah!

Bahagianya Pulang 1

Bahagianya Pulang 2

Bahagianya Pulang 3

Bahagianya Pulang 4

Bahagianya Pulang 5

PS : Foto-foto terlampir diatas itu beberapa buah tangan yang saya beli, tidak semua bisa saya tunjukkan disini. Saya baru sadar bahwa saya tak banyak memiliki potret tahun lalu, jadi beberapa di postingan ini lah yang berhasil saya temukan di hardisk. Tak apalah, tahun ini akan saya posting lebih detail dengan foto-foto yang lebih menarik. Ah saya jadi tak sabar ke Lekki Market di Ikoyi, tempat saya menemukan kerajinan asli Afrika, kemudian belanja lebih kalap di Dubai nanti. Nanti…kalau saya pulang, bukan nanti beberapa jam kedepan hehehe. Sebentar, saya lirik dulu dompet saya *kemudian hening….