Bertemu Aunty Linie!

Bertemu Aunty Linie!

Me and Aunty Linie.

Saya selalu suka bertemu dengan orang baru yang humble, kemudian berbincang, dan mulai bertukar wawasan. Saya pikir itu asik!

Sudah hampir dua minggu ini Aunty Linie, salah satu sahabat Madam Uche sering ke kantor mengerjakan sebuah riset untuk program yang ia kerjakan. Pertama bertemu dengannya, telinga saya mendeteksi aksen dan pronunciation-nya. Sepertinya wanita ini tinggal di luar dan ternyata dugaan saya tepat, ia tinggal di Amerika Serikat.

Saya sempat berbincang singkat dengan wanita asli Kenema dan tumbuh besar di Freetown, ibukota negara kecil di Afrika Barat, Sierra Leone. Aunty Lini pindah ke Amerika sejak tahun 1996 hingga sekarang menetap di negara bagian Maryland bersama suami dan kedua anaknya.

Perbincangan singkat saya awalnya dimulai dengan menanyakan hal-hal ringan seperti apa yang sedang ia kerjakan, tujuan risetnya, bla bla bla. Kemudian semakin lama kami mulai bercerita tentang hal yang kita tahu, mulai dari bagaimana dulu ia pertama mengunjungi Nigeria, kepindahannya ke Amerika hingga mencapai bahasan yang saya suka. Apa itu? Promosi tentang Indonesia.

Mulanya Aunty Linie bertanya tentang bahasa, budaya dan makanan Indonesia. Bagi saya ini kesempatan bagus untuk cas cis cus mengibarkan pesona Indonesia. Saya mulai menceritakan tentang apa itu Batik, Jawa, Papua, Raja Ampat, Reog Ponorogo dan bahasan budaya lainnya. Ia amat tertarik dan menyimak dengan seksama apa yang saya ceritakan. Apalagi saat saya menyebutkan jumlah pulau yang dimiliki Indonesia, 17 ribu lebih pulau yang membentuk kesatuan Republik Indonesia. Jumlah pulau yang berlimpah selalu membuat siapa saja yang bertanya tentang Indonesia disini mesmerised. Bagaimana bisa negara mempunyai pulau segitu banyaknya?

Aunty Linie bukan wanita lima puluh tahunan yang tidak suka sejarah dan budaya. Dari perbincangan sore itu saya bisa dengan mudah menyimpulkan ia suka membaca. Ia tahu apa itu Batik meski belum tahu makna dari motif-motif didalamnya. Saya begitu excited menceritakan bahwa di Jawa saja, rupa-rupa batik berwarna-warni dengan ciri khas daerah penghasilnya. Kemudian beralih ke kekayaan bawah laut terlengkap di dunia yang dimiliki Papua, kekayaan hutan di Kalimantan, hingga eksotisme Bali. Aunty Linie sendiri sudah mengunjungi beberapa negara di dunia kecuali ke Asia, dan ia menyebut Thailand sebagai negara yang ia ingin kunjungi jika memiliki kesempatan ke Asia. Kenapa Thailand? Ia bilang ingin belajar teknik memasak masakan Thailand. Kemudian apa yang saya ceritakan setelah ia menyebut makanan Thailand? Tentu saja promosi kuliner Indonesia! Saya menceritakan keanekaragaman kreatifitas kuliner yang dihasilkan setiap suku di Indonesia dan tentu saja dengan yakin memproklamirkan bahwa kekayaan kuliner Indonesia tentu lebih lengkap dari Thailand. Pertanyaan yang membuat saya semakin excited yang ia utarakan saat itu adalah “Apa yang membuat Malaysia lebih bagus dari Indonesia, dan kenapa banyak orang yang belum tahu apa itu Indonesia?” Whats???? Ia membandingkan negara saya dengan tetangga sebelah?

Saya menjawab dengan netral sesuai pandangan saya pribadi, bahwa yang saya tahu promosi keindahan Indonesia memang masih kalah dengan negara-negara tetangga yang semakin gencar mempromosikan negaranya sendiri. Ini cukup menyedihkan karena setiap kali saya melihat CNN di kantor, negara sekecil Georgia dan Azerbaijan saja bisa mondar-mandir beberapa kali setiap hari. Bagaimana dengan Indonesia? Promosi wisata yang efisien dan tepat sasaran mungkin bisa menjadi salah satu upaya untuk bisa tampil lebih cemerlang di kancah dunia. Apalagi jika industri pariwisata yang dikelola dengan cerdas bisa menjadi salah satu aset yang menjanjikan. Sangat disayangkan memang jika bangsa lain lebih mengenal Thailand atau Malaysia dibanding negera besar yang memiliki sejuta pesona seperti Indonesia.

Ada dua hal yang membuat saya selalu excited bertemu dengan orang baru yang lama tinggal di negara lain. Pertama, saya bisa cas cis cus dengan tata bahasa yang benar. Bahasa Inggris memang menjadi bahasa saya sehari-hari disini namun selalu ada yang berbeda jika saya berbincang dengan lawan bicara yang smart. Otak saya secara otomatis bekerja menyusun bahasa inggris dengan tenses di setiap kalimat yang saya hasilkan. Itu tidak mudah jika kita tidak melatih dan mempraktekannya setiap hari. Dulu pertama kali tinggal disini, saya masih membutuhkan tiga bulan untuk sesi listening dan memahami tone british english, pronunciation, dan pembendaharaan kata-kata baru. Bukannya saya tidak berbekal bahasa inggris, namun bahasa asing tetaplah bahasa asing, dan menurut saya kita baru bisa disebut menguasai bahasa asing saat kita mampu berbicara spontan dan lancar tanpa harus berpikir menyusun kalimat yang ingin diucapkan. Apalagi saat ingin marah dan mengumpat seseorang, ah itu bukan perkara mudah!

Kedua, bisa bertukar cerita tentang keunikan bangsa kita masing-masing terlebih dengan orang yang belum tahu dimana dan seperti apa Indonesia. Ah ini bagian menarik. Bukankah mempromosikan keindahan dan kekuatan bangsa itu salah satu bentuk sederhana membela negara? *kenapa menjurus ke PPKN < Hehehe. Saya pernah menulis tentang salah satu olahan jollof rice kan? Aunty Linie yang tahu seluk beluk budaya Afrika dengan baik menjelaskan pada saya bagaimana teknik memasak jollof rice yang otentik, termasuk bahan-bahannya sesuai dengan awal mulanya suku Wollof meracik menu ini. Ternyata dahulu suku Wollof memasak menggunakan kaldu ikan untuk bumbu nasi yang mereka ciptakan, memakannya pun dengan ikan bukan dengan daging sapi seperti yang saya tulis sebelumnya. Daging sapi dijadikan teman Jollof rice karena pengaruh Eropa, begitu ujarnya. Saya sempat menanyakan tentang suku Dogon di Mali, ia menyatakan bahwa salah satu suku otentik Afrika yang terkenal luas dengan kemampuannya dalam bidang astonomi itu memang magis. Sayangnya sepertinya keinginan saya mengunjungi Mali harus ditunda dulu saat ini karena kondisi negaranya yang masih dilanda konflik berkepanjangan. Tapi saya masih benar-benar ingin mengunjungi suku unik itu dan tentunya Timbuktu suatu saat nanti.

Aunty Linie sudah kembali ke Amerika dua hari yang lalu, ia meminta saya memotretnya bersama dengan Madam Uche dan Oga Majek di kantor sebagai kenang-kenangan. Lantas saya memberi copy foto mereka ke dalam laptop mungilnya. Sebelum ia meninggalkan kantor ia berpamitan pada saya sembari berpelukan, dan mengatakan terima kasih pada semua orang dikantor. Kini Aunty Linie mungkin sudah sampai di Maryland melanjutkan kehidupannya di negeri adidaya itu. Oya Aunty Lini sempat memberi alamat emailnya, dan menulis seperti ini “Hi Azis, So happy to know you, thank you for the wonderful pictures, you are very talented and I wish you much the best, Aunty Linie”. Ya saya senang mendapat kenalan baru, siapa tahu suatu saat nanti saya bisa sekedar mampir ke rumah Aunty Lini jika saya berkesempatan ke Amerika. Saya percaya, suatu hari nanti. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mr and Mrs Globe Trot

aroused by food & photography

PARK & CUBE

aroused by food & photography

La Buena Vida

aroused by food & photography

i am a food blog

aroused by food & photography

Finn Beales - Photographer

aroused by food & photography

Souvlaki For The Soul

A Food and Travel Experience

Sam Is Home

aroused by food & photography

Penelope's Loom

aroused by food & photography

cookinandshootin

"It's so beautifully arranged on the the plate - you know someone's fingers have been all over it." - Julia Child

Butter Me Up Brooklyn

baking makes friends.

aroused by food & photography

seven spoons

aroused by food & photography

What Katie Ate

aroused by food & photography

Chasing Delicious

aroused by food & photography

after the cups

aroused by food & photography

Little Upside Down Cake

aroused by food & photography

Green Kitchen Stories

The healthy vegetarian recipe blog

La Tartine Gourmande

aroused by food & photography

aroused by food & photography

Foi Fun!

aroused by food & photography

lingered upon

aroused by food & photography

%d bloggers like this: