Bersyukur

Besyukur

Tak terasa sudah seminggu saya disini, di Indonesia. Mencoba menikmati dan mengisi setiap hari yang saya punya. Mencoba bersyukur akan hal-hal kecil yang kadang terabaikan.

Biasanya, saat saya liburan selama sebulan disini, saya menjadi jauh lebih egois. Saya berubah menjadi manusia yang lebih mengedepankan kepentingan pribadi. Maklum, mungkin itu akibat dari sebelas bulan sibuk yang saya lalui tiap tahun di Afrika. Sebelas bulan yang sepertinya lebih tepat dikali dua. Saya tahu, kesibukan membuat saya selalu berangan-angan akan melakukan ini, membeli itu, membayar ini, menghadiahkan itu. Angan-angan itu selalu terjadi setiap kali saya akan pulang. Pulang kampung tidak serta merta membuat saya hanya sibuk mewujudkan ini itu yang (memang) ujung-ujungnya mungkin, perwujudan dari egois itu tadi. Pulang kampung (secara tak sadar) membuat saya lebih memaknai arti bersyukur. Salah satunya dengan cara mengamati beberapa orang yang saya temui beberapa hari belakangan.

Kemarin siang, saat duduk menunggu kudapan dan minuman yang saya pesan di suatu kedai, saya mencoba mengamati seorang pelayan. Saya membayangkan bagaimana ia bekerja, bagaimana ia menikmati setiap harinya hingga kemudian menerima gaji di akhir bulan. Kadangkala, saya membayangkan bagaimana ia, sebagai seorang pelayan di suatu kedai, yang entah ia menikmatinya atau sebaliknya, menjalani hari demi hari dengan pekerjaan yang (mungkin) monoton. Dulu, saat saya tertekan oleh pekerjaan di Afrika, saya berangan ingin menjalani pekerjaan yang ia kerjakan. Bekerja cukup santai, datang di jam yang sama setiap hari, pulang sore hari, tanpa pusing dengan target-target pekerjaan. Saya berpikir dua kali saat melihat pelayan kemarin menghampiri, menawarkan menu, hingga menghidangkannya di atas meja. Saya berpikir sambil menerka dibalik pekerjaannya yang santai itu, apakah ia bahagia?.

Beberapa kali pula saya mengamati petugas kebersihan di toilet-toilet pusat perbelanjaan. Melihat mereka membuat saya kembali berpikir, apakah mereka bahagia dengan pekerjaan mereka?. Bagaimana mereka menghidupi diri dan keluarga dengan gaji yang (mungkin) kurang dari cukup?. Apakah mereka terpaksa bekerja karena tak memiliki kesempatan lainnya?. Mungkin pertanyaan-pertanyaan tadi bodoh benar, tapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu (secara tak sadar) mengajarkan saya untuk kembali bersyukur.

Saat saya berangkat menuju masjid untuk sholat Ied, saya menemui penjual Semanggi menjajakan dagangannya. Saat itu saya berpikir, apakah Ibu itu tidak merayakan lebaran?, apakah ia tak memasak opor dan ketupat seperti ibu rumah tangga lainnya?, apakah ia tidak bersilaturahmi ke kerabat-kerabatnya lengkap dengan hantaran khas Hari Raya?. Apakah Ibu itu sengaja berjualan Semanggi karena tak ada kerabat disini, atau semua itu ia lakukan sekedar untuk mencukupi kebutuhan dapurnya hari itu? Entahlah.

Saya sadar, bahwa hidup bagi sebagian orang memang tidak mudah. Apalagi jika menyangkut kemampuan ekonomi, kebutuhan hidup yang mendesak, sedang pendapatan hanya apa adanya. Mengamati mereka tadi membuat setengah diri saya iba, setengah lagi sadar bahwa semua itu pilihan masing-masing. Bagi saya, manusia memiliki hak bulat untuk memilih apa yang ingin mereka kerjakan dan menjadi bahagia. Selama mereka mau bekerja keras, menjalani pekerjaan sepenuh hati, dan terus bekerja keras, pintu-pintu kesempatan pun pasti akan terbuka. Entah kapan dan dimana.

Delapan hari yang lalu, saya duduk di window seat menikmati pergantian siang ke sore, sore ke malam. Menikmati senja sebisanya selama perjalanan menuju Qatar. Saya tak menyangka perjalanan delapan belas jam itu mengantarkan saya kembali menikmati lebaran disini bersama keluarga. Salah satu nikmat kecil yang harus saya syukuri lagi :)

P.S. Saya sempat menangkap gemerlapnya Doha dari atas dengan iPhone, saya ingat sekali, malam itu saya mengucap syukur bahwa tahun ini saya berkesempatan pulang saat lebaran. Sama seperti tahun lalu. Semoga saja tahun depan saya bisa kembali mendengar kumandang takbir disini, di Indonesia. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mr and Mrs Globe Trot

aroused by food & photography

PARK & CUBE

aroused by food & photography

La Buena Vida

aroused by food & photography

i am a food blog

aroused by food & photography

Finn Beales - Photographer

aroused by food & photography

Souvlaki For The Soul

A Food and Travel Experience

Sam Is Home

aroused by food & photography

Penelope's Loom

aroused by food & photography

cookinandshootin

"It's so beautifully arranged on the the plate - you know someone's fingers have been all over it." - Julia Child

Butter Me Up Brooklyn

baking makes friends.

aroused by food & photography

seven spoons

aroused by food & photography

What Katie Ate

aroused by food & photography

Chasing Delicious

aroused by food & photography

after the cups

aroused by food & photography

Little Upside Down Cake

aroused by food & photography

Green Kitchen Stories

The healthy vegetarian recipe blog

La Tartine Gourmande

aroused by food & photography

aroused by food & photography

Foi Fun!

aroused by food & photography

lingered upon

aroused by food & photography

%d bloggers like this: