A Thing Called Opportunity

LoveForMyParents

Saya sempat memiliki kekhawatiran kecil jika saja tulisan ini nampak seperti wujud kecil dari riya’. Tapi sungguh, saya telah meyakinkan hati untuk membagi ini agar kita percaya, bahwasanya ada banyak kesempatan dalam hidup untuk berbahagia pun membahagiakan.

***

Saya belajar selagi tumbuh. Bahwa ternyata dalam hidup, kita tidak bisa mendapatkan banyak hal besar secara bersamaan. Ada yang namanya prioritas. Ada pilihan-pilihan akan suatu hal besar yang patut untuk diwujudkan lebih dulu. Jika saja anda pernah membaca sepotong kisah akan keinginan saya memiliki kamera profesional, yang hingga saat ini belum bisa saya wujudkan, itu karena saya memilih untuk mewujudkan satu mimpi besar yang lebih bermakna.

Impian besar itu telah lama ada di antara impian-impian besar lainnya yang saya pupuk tiga tahun lalu sebelum hijrah ke Afrika. Memutuskan untuk memulai hidup di tanah asing berkilo-kilo meter jauhnya sungguh bukan keputusan kecil. Keputusan yang membutuhkan tekad besar untuk mau bekerja keras agar impian-impian yang tadi saya pupuk, tumbuh, dan terus tumbuh hingga akhirnya bisa saya banggakan saat mereka terpetik. Dan alhamdulillah, salah satu impian besar itu terpetik tahun ini.

Menghadiahkan Ibu dan Bapak untuk berdiri di depan Ka’bah kemudian berdoa di depannya adalah kebanggaan yang tidak bisa saya pungkiri. Bangga bukan hanya karena saya bisa memberangkatkan mereka berdua, tapi bangga karena impian tiga tahun lalu itu akhirnya terwujud. Bangga karena saya bisa menghadiahkannya selagi mereka ada. Meski hanya sekedar umroh, bukan naik haji, tapi bagi saya rasa bangganya sama besar. 

Saya memiliki logika sederhana, umroh pun haji adalah ibadah. Dan saya pikir dengan sistem haji di Indonesia yang cukup rumit dan lama, umroh bisa menjadi jalan yang lebih ringkas untuk beribadah ke sana. Toh, saya yakin dengan berdoa di depan Ka’bah saat umroh, berdoa agar bisa kembali ke sana dalam rangka haji, Allah pasti akan mengabulkan suatu hari nanti (amin). Sesederhana itu. Dan lagi, bagi saya, yang terpenting adalah bisa mewujudkannya selagi mereka ada.

Setiap kali melihat foto Ibu dan Bapak saat Di sana, saya selalu merasakan goosebump. Saya belum mampu membayangkan bagaimana magisnya suara adzan di Masjidil Haram dan bagaimana hati ini akan tersentuh pada megahnya Ka’bah. Pada gema super indah nan tentram akan puja-puji pada Sang Khalik saat semua muslim, dari suku, bangsa, dan latar belakang yang berbeda bersatu di sana, bersenandung menyebut nama-Nya. Setiap kali mendengarkan cerita Ibu pada indahnya Ka’bah, cerita yang sering beliau ulang, saya tak bisa menyembunyikan secuil senyum di wajah saya. Senyum yang ada karena pada akhirnya beliau berkesempatan merasakan mimpi di kehidupan nyata. Berdua, bersama Bapak.

Saya pun masih ingat betul pada suatu malam selepas maghrib, duduk bersila dengan perasaan yang luar biasa abstrak untuk memutuskan apakah saya harus pergi atau tidak. Perasaan abstrak itu campuran rasa bahagia akan kesempatan besar di depan mata dan rasa sedih meninggalkan orang-orang tercinta. Perasaan abstrak yang berakhir pada keputusan besar untuk pindah ke Afrika. Tak ada yang tahu betapa seringnya saya menangis tengah malam di hari-hari pertama saya di sini. Berusaha menangkis perasaan-perasaan bingung pada apa yang akan saya capai dan pada usaha untuk bertahan. Tapi sekarang, saya mulai tersenyum pada banyak kenyataan bahwa impian-impian tiga tahun lalu itu bisa terwujud satu-persatu. Dan tangisan-tangisan tengah malam itu mengajarkan saya untuk percaya satu hal, bahwa hal besar yang kerap kita impikan, bisa terwujud di waktu yang tepat hanya dengan kemauan dan kerja keras. Mungkin saya akan menulis mimpi besar lainnya, bisa beribadah ke sana bertiga bersama Ibu dan Bapak, selagi mereka ada (amin :)).

***

Saat anda lelah dengan problematika hidup yang kadang amat rumit dan tak adang ujungnya, coba sejenak hargai pencapaian-pencapaian kecil pun besar yang pernah anda capai. Mungkin saja, ada sekelumit syukur yang terlewatkan. Bersyukurlah karena kita masih bekerja, bersyukurlah karena masih memiliki kedua orang tua yang masih sehat hingga bisa mendengarkan gelar tawa mereka, bersyukurlah karena Tuhan Maha Baik. Ada banyak cara menunjukkan bakti pada kedua orang tua kita dari hal sesederhana doa, agar Tuhan senantiasa menjaga mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka. Sebagaimana Ibu dan Bapak kita yang senantiasa mendoakan kita diam-diam di setiap malam mereka terjaga :).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mr and Mrs Globe Trot

aroused by food & photography

PARK & CUBE

aroused by food & photography

La Buena Vida

aroused by food & photography

i am a food blog

aroused by food & photography

Finn Beales - Photographer

aroused by food & photography

Souvlaki For The Soul

A Food and Travel Experience

Sam Is Home

aroused by food & photography

Penelope's Loom

aroused by food & photography

cookinandshootin

"It's so beautifully arranged on the the plate - you know someone's fingers have been all over it." - Julia Child

Butter Me Up Brooklyn

baking makes friends.

aroused by food & photography

seven spoons

aroused by food & photography

What Katie Ate

aroused by food & photography

Chasing Delicious

aroused by food & photography

after the cups

aroused by food & photography

Little Upside Down Cake

aroused by food & photography

Green Kitchen Stories

The healthy vegetarian recipe blog

La Tartine Gourmande

aroused by food & photography

aroused by food & photography

Foi Fun!

aroused by food & photography

lingered upon

aroused by food & photography

%d bloggers like this: