Fahmi Rahman

Hari itu, pukul sembilan malam waktu Afrika Barat (atau sekitar pukul tiga pagi waktu Indonesia), saya menghubungi seseorang dari sini. Saya bertanya, “Jam segini kok sudah bangun?, baru bangun apa ga bisa tidur?”. Ia menjawabnya dengan nada kompilasi galau – ‘deg-deg ser‘ – resah namun bahagia. “Sepertinya yang kedua Jis”, nadanya lirih.

Dugaan saya benar, ia pasti masih terbangun dan sedang diselimuti rasa yang luar biasa abstrak. Pelan-pelan saya meniti satu-persatu nada bicaranya. Dalam hati saya bergumam, “Oh, mungkin begini nada seseorang yang beberapa jam lagi akan melepas masa lajangnya”. Malam itu saya menyematkan beberapa pesan pun doa padanya agar kelak, jika ia sudah menjadi suami dan ayah, jadilah imam dan ayah yang baik. Yang bertanggung jawab dan tegas, itu saja. “Mungkin setelah ini kamu akan memiliki waktu lebih banyak dengan keluarga kecilmu. Hehe, mungkin kita tidak akan bisa menghabiskan banyak waktu seperti dulu. Well, I know, that’s life. I’m happy for you, tapi jangan lupa, kita akan bersahabat sampai nanti kita tua”. It sounds cheesy but that was what I said to him, few months ago. Saya tersadar, waktu benar-benar berjalan amat cepat.

***

Fahmi

Perkenalkan, foto diatas adalah salah satu sahabat baik saya, namanya Fahmi, Fahmi Rahman. Persahabatan saya dengannya sudah cukup tua, dua belas tahun lebih.

Pagi itu saya duduk di teras mushola dengan atasan putih dan bawahan abu-abu yang warnanya masih cemerlang. Saya tidak sendiri, beberapa anak berpakaian sama nampak berusaha untuk saling kenal. Saat itu, saya masih teramat malu. Tipikal kutu buku. Tak lama duduk di teras mushola berlantai marmer abu-abu muda, seorang yang wajahnya nampak tak asing duduk di sebelah saya. Ingatan saya masih cerah betul, pagi itu bukan pertama kali saya melihatnya. Dua tiga kali saya pernah duduk berhadapan dengannya saat saya masih berseragam putih biru. Di dalam angkutan umum.

Saat tahu kami akan belajar di kelas yang sama, saya mengiyakan ajakannya untuk duduk sebangku. Bukan awal yang buruk untuk langsung memiliki teman pada hari pertama tahun ajaran baru. Mengingat teman baik yang saya punya di sekolah menengah pertama hanya bisa dihitung jari. Di kelas satu itulah persahabatan saya dengan Fahmi berawal.

Setahun belajar di kelas yang sama menyisakan banyak kenangan akan persahabatan kami. Saya masih ingat betul bagaimana seorang Fahmi mendadak populer di kelas Matematika. Saat itu, kami masuk di kelas matrix. Saya yang tahu betul bahwa Fahmi tidak cukup mahir Matematika, terheran. Entah darimana ia mendapat mukjizat mengerjakan soal-soal matrix effortlessly. Saat guru kami melontarkan trivia tentang matrix, tangan kanan Fahmi selalu mengarah ke atas. Begitupun jika kami harus menghadapi ulangan mingguan. Nilainya sempurna. Tapi itu hanya matrix, setelah kami berganti bab yang membuat kepala semakin pusing, mukjizat Fahmi di kelas Matematika nampak pudar sedikit demi sedikit. Saya yakin, pasti ia akan tertawa setelah membaca tulisan sebelum kalimat ini.

Fahmi adalah penolong yang paling bisa dipercaya. Saya memiliki salah satu kesalahan besar dalam hidup ; saya tak bisa berenang. Kesalahan ini saya bawa sejak SMP hingga SMA. Setiap kali memasuki kelas olah raga dan harus menghadiri sesi berenang, saya seperti berdiri di atas bara api. Saya menyukai bulu tangkis meski tidak mahir benar. Saya pun menyukai sesi basket dan sepak bola, meski itu dulu sekali. Kasti? sesi olah raga yang paling saya gemari. Saya amat buruk di sesi voli tapi berenang, satu-satunya momok paling menakutkan yang pernah saya punya selama SMA. Fahmi selalu membantu saya untuk mendapatkan centang di buku absen saat sesi berenang bulanan diadakan.

Kerap kali kami berangkat dari sekolah menuju kolam renang publik yang ada di lantai paling atas di satu pusat perbelanjaan yang cukup tua di Surabaya. Sore pukul tiga, biasanya kami sudah siap berangkat. Dengan angkutan umum, kami menuju kesana. Fahmi yang tentu saja bisa berenang sudah pasti selalu semangat sedang saya, saya tak henti mencari alasan tiap bulan untuk sekedar menghindari kolam renang. Mulai dari tak enak badan, acara keluarga, hingga alasan yang paling buruk yang pernah saya buat saat itu ; nenek saya meninggal. Oh, mungkin Tuhan tersenyum pahit mendengar alasan yang pernah saya buat. Entah bagaimana saya sebodoh itu, menulis surat palsu bahwa nenek saya meninggal (padahal saat itu beliau masih sehat :(), melipatnya rapi ke dalam sebuah amplop putih, dan menitipkannya kepada Fahmi untuk diberikan kepada guru olah raga kami. Sial, dulu saya pernah tak waras :|.

Fahmi dan teman baik saya yang lain, Mikael, pernah dihukum di depan kelas Bahasa Indonesia. Pagi itu, kami bertiga, masih asik mengitari kantin sekolah layaknya hari-hari biasa. Menikmati aneka makanan ringan di kantin saat jam istirahat kerap kami habiskan bertiga. Saat bel masuk berbunyi, kami berjalan melewati aula sekolah. Saat melintasi aula yang memiliki jendela-jendela kaca dengan frame berwarna abu-abu tua, kami berhenti sejenak. Kami berhenti hanya sekedar melihat bagaimana kakak-kakak kelas dinilai saat ebta praktek senam. Saya ingat, saat itu saya terheran dengan beberapa penilaian senam yang melibatkan keahilan roll depan dan roll belakang. Saya terheran karena saya hampir selalu gagal dengan roll belakang. Saya terheran sambil membayangkan bagaimana dua tahun lagi saat saya harus dinilai di atas matras senam. Tak lama kami bertiga berdiri melihat kakak-kakak kelas dinilai, kami kembali ke kelas. Pintu kelas selalu terbuka seperti halnya kelas-kelas yang lain. Namun saat itu, suasana kelas nampak lebih tenang dari biasanya. Padahal jam istirahat baru saja berakhir. Nampaknya, guru kami sudah duduk memberi materi dan tugas. Melihat kami bertiga yang baru masuk kelas, beliau menanyakan pertanyaan menggelikan dengan gayanya yang khas. Tak lama, kami pun harus mejeng di depan kelas hingga kelas Bahasa berakhir. Tidak hanya malu menjadi pajangan di depan, saya, khususnya mendapat hukuman tambahan. Saya lupa karena apa, tapi saya ingat hukumannya apa. Menulis kalimat “astagfirullah hal adzim”, satu buku penuh.

Wali kelas satu kami, yang kebetulan mengurus pembagian kelas, rupanya baik hati memberi kami kesempatan bertemu lagi. Kelas dua, saya sekelas dengan Fahmi dan tentu saja, kami duduk sebangku lagi. Di kelas ini kami semakin akrab, tapi ada satu kenangan yang tak mungkin saya lupa. Di kelas dua, saya pernah marah besar pada Fahmi. Saya yang pagi itu sedang bad mood, tertimpa gurauan Fahmi yang tak menyenangkan. Saya mendiamkannya beberapa hari, hingga saya memilih untuk duduk di barisan belakang. Duduk dengan teman saya yang lain. Wali kelas kami sekaligus guru fisika yang ramah, kocak, dan dekat sekali dengan murid-muridnya (halo Bu Bik, how are you there?), mulai melihat ada yang aneh sejak saya tak sebangku lagi dengan Fahmi. Beliau dengan gayanya yang khas (I still remember how she spoke in our class), berhasil membuat saya dengan berat hati kembali ke bangku saya semula. Perlahan saya kembali duduk sebangku dan melanjutkan tugas yang diberi oleh guru Bahasa Inggris kami untuk membimbing Fahmi mendalami tenses. Oh, satu lagi, saya lupa kami memiliki masalah apa, tapi kami pernah pula bertengkar sesaat sebelum perpisahan kelas. Pertengkaran itu bahkan berlanjut hingga kami sekelas berlibur untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu, kami tak pernah memiliki masalah lagi. Saya mensyukuri dua momen itu sebagai bumbu persahabatan.

Kelas tiga kami tak sekelas lagi. Fahmi di IPA 4 sedang saya di IPA 2. Meski begitu, kami masih sering mengerjakan tugas bersama, saling meminjam catatan pelajaran, hingga tukar-menukar informasi setiap kali exam. Oh, di kelas tiga saya sebangku dengan Mikael dan bertemu dengan teman-teman baik saya saat kelas satu (pasti karena campur tangan wali kelas kami juga :)). Tak sekelas bukan berarti saya tidak merepotkan Fahmi di mata pelajaran renang. Lagi-lagi, saya masih bergantung pada bantuannya menyematkan alasan-alasan tak masuk akal hanya sekedar absen bulanan. Puncak ketakutan saya pada sesi berenang adalah saat ebta praktek. Saat itu, kami masih berangkat bersama dari sekolah. Tiba di kolam renang publik yang entah saya selalu merasakan fobia, Fahmi dan saya berpisah sesuai kelas masing-masing. Karena giliran penilaian kelas saya lebih dulu dari kelasnya, saya harus menanggung malu di dalam kolam renang. Pasalnya, hari itu, saya, yang jarang sekali menyeburkan diri ke kolam, mau tak mau harus menyeburkan diri sebagai syarat penilaian. Di saat itulah, saya tidak mampu berbohong lagi pada kenyataan bahwa saya tak bisa berenang. Saat guru olah raga memanggil nama kami satu satu, saya yang kebetulan nomer urut satu (you guys must know from my name :|), mau tak mau harus siap-siap berenang empat putaran. Saat enam orang menempati start-nya masing-masing, dan guru kami membunyikan peluitnya, mereka berlima mulai berenang. Saya?. Saya diam di tempat sembari menemukan alasan cerdik. Mata saya alergi dengan kaporit. Guru saya yang memandang heran hanya bisa menanyakan apakah saya tak keberatan mendapat nilai 6. Enam?, “who is fucking care with six?, cause my nightmare is over”, kira-kira begitu saya mengumpat dari hati. Toh masih ada penilaian basket yang jelas-jelas saya mampu melakukannya lebih baik. Setelah sesi renang itu, saya tak henti tersenyum pada Fahmi sembari tak bisa menahan tawa. Alasan-alasan yang selalu saya pikir setiap bulan tak perlu lagi saya lakukan. After that day, my life was so bright.

Kebersamaan saya dengan Fahmi tak henti setelah masa SMA berakhir. Kami masih bersama dengan teman baik kami lainnya, Anjar (yang hingga saat ini masih bersahabat erat), berjuang menemukan jalan pendidikan selanjutnya. Saya masih ingat betul bagaimana kami bertiga memulai pencarian jurusan hingga mendaftar ujian masuk universitas. Kami bertiga datang dari kelas IPA namun memilih IPC, alias campuran. Sejak dulu, saya ingin menjadi mahasiswa jurusan Hubungan Internasional, sedang Fahmi berminat mendalami Manajemen. Anjar, ia jatuh hati pada kimia.

Setelah kami melewati ujian, kami mulai berjalan sendiri-sendiri. Saya sibuk mendalami desain di Desain Produk ITS. Meski saya diterima di Hubungan Internasional Universitas Airlangga, saya lebih memilih mengasah kemampuan kreatif saya di ITS. Fahmi berhasil melanjutkan pendidikannya di fakultas Manajemen Universitas Negeri Surabaya. Persahabatan kami memang erat adanya. Fahmi adalah satu-satunya teman baik saya yang tahu bagaimana saya memulai perjuangan di desain. Ia adalah sahabat yang tulus mengantarkan saya mencari letak kampus, hingga berkunjung ke fakultas desain untuk pertama kalinya. Di siang yang cukup terik, melewati jalanan di area kampus yang ditumbuhi banyak pohon tua yang rindang, hingga duduk di bangku kayu dengan dua mangkuk bakso sebagai tanda terima kasih.

Dulu, saat kami hampir lulus kuliah, saya mendapat kabar kurang bahagia. Fahmi memutuskan untuk tidak melanjutkan skripsinya. Ia tak mau bercerita secara gamblang apa penyebabnya. Hingga sepuluh kali membujuk dengan pertanyaan yang sama, ia hanya bilang karena masalah pribadi. Saat itu saya seperti melihat sisi Fahmi yang lain, sisi yang belum pernah saya tahu. Keputusannya meninggalkan skripsi dan gelar sarjana di depan mata sungguh bukan perkara mudah bagi saya. Saya hanya ingat bagaimana kami berjuang bersama mencari pintu-pintu pendidikan selanjutnya setelah lulus SMA. Tapi apapun keputusannya saat itu, Fahmi tentu menjadi yang paling tahu.

***

Melepas masa kuliahnya, Fahmi menyambung impiannya menjadi pengusaha. Jika saja ia ingat, profesi pengusaha adalah kata yang ia sematkan pada buku kenangan kelas satu SMA yang saya ciptakan dulu. Hingga saat ini, perlahan ia mulai memantapkan langkahnya menjadi apa yang ia impikan. Memiliki usaha sendiri tanpa harus bergantung pada gaji.

Saya banyak belajar dari Fahmi. Belajar menjadi manusia yang rendah hati dan tahu diri. Ia yang lahir dari keluarga cukup berada tidak serta merta membuatnya tinggi hati. Kesederhanaan adalah bagian dari dirinya.

Saya selalu melihat Fahmi sebagai seorang yang diberkahi jalan hidup yang ideal. Tahun kedua saat saya liburan di Indonesia, dengan santainya ia menceritakan beberapa langkah masa depan yang telah ia mulai. Saya ingat betul, sore itu saat kami berangkat ke musholla dekat rumah orang tuanya setelah kami membawa pulang kue untuk lebaran, ia menunjuk sebuah rumah yang berada tepat di samping rumah orang tuanya. Ia bilang, “rumah itu sudah saya beli, Zis”. Saya bergumam pada diri sendiri, “saya tidak salah dengar kan?”. Saya menimpali, “lunas Mi?”, “belum, masih separuh. Cuman DP saja kok Zis, lunas? uang dari mana”, jawabnya sambil tertawa renyah. Saat itu, saya, yang bahkan belum memulai apa-apa untuk masa depan, beku seketika. Saya tahu, rumah bukan barang murah. Jadi, nilai berapapun untuk membayar lima puluh persen dari harga rumah tentu bukan nilai yang kecil. Sahabat saya ini sepertinya benar-benar menata hidupnya dengan amat rapi. Dan, ideal.

Rumah itu hanya awal dari tatanan hidupnya yang baru. Saat ia mengirim berita bahwa ia akan menikah dengan gadis yang menjadi tambatan hatinya, saya termenung. Bahagia yang saya rasakan saat membaca pesan pendeknya tentu tak bisa saya lukiskan di sini. Bukan hanya bahagia, saya pun dirundung sedih. Sedih karena jarak antara saya dengannya, memaksa saya hanya tersenyum dari sini. Bukan perkara mudah bagi saya untuk tidak hadir di hari paling bahagia sepanjang hidupnya. Andai saja, andai, saya mampu terbang ke Indonesia saat itu, pasti akan saya lakukan. Tapi toh saya sadar, doa tulus untuknya mampu mencairkan perasaan itu.

Kini, Fahmi tengah menanti kebahagian terbesar setelah pernikahannya. Beberapa bulan lagi, ia akan menyandang status baru sebagai seorang ayah. Rasa bahagia saya sama besar saat ia mengirim foto USG bayi yang ada di kandungan istrinya beberapa bulan lalu. Saya bersyukur bukan main bahwa Tuhan, benar-benar melimpahkan hidup yang sungguh ideal pada sahabat saya ini.

Saya tahu, ketertinggalan saya teramat banyak jika dibandingkan dengan Fahmi. Belum memiliki rumah, belum beristri, apalagi memiliki anak. Saya pun tahu, bukan perkara mudah membandingkan apa yang sudah ia capai dan apa yang belum saya capai. Yet I know, this life has no blueprint. Jalan hidup setiap manusia memang berbeda. Yang saya tahu, saya merasa beruntung dan bahagia, cause God has sent me a real bestfriend to celebrate this life with a real friendship.

Fahmi adalah sahabat yang mendengarkan di kala masalah-masalah hidup menjadi lebih rumit. Ia sahabat yang selalu menyemangati saya untuk berjuang lebih keras dan tak lupa bersyukur selama berjuang di sini. Padanya, beberapa kali saya membagi kegalauan saya pada apa itu patah hati. Ia yang selalu punya waktu setiap saya kembali ke Indonesia. Yang selalu tertawa pada obrolan-obrolan bodoh tengah malam. Ada satu pesan sederhana yang selalu saya panjatkan dalam doa, bahwa hidup dengan manusia-manusia baik yang dikirim Tuhan, keluarga, sahabat, dan orang-orang terkasih lainnya adalah hidup yang selalu saya inginkan.

Mi, Tuhan akan selalu menjagamu dan keluarga kecilmu, pun akan menjaga persahabatan kita. Percaya saja :).

 

P.S. I was so pleased when I could find his photographs again, since I had issue with my external hard drive where I saved all my pictures there. I pretty remember I took his picture through my iPhone 5 when I came back home to Surabaya and spent that noon with Fahmi. I always love to see a clear picture from my iPhone :).

 

Lagos, 10 : 42 pm.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mr and Mrs Globe Trot

aroused by food & photography

PARK & CUBE

aroused by food & photography

La Buena Vida

aroused by food & photography

i am a food blog

aroused by food & photography

Finn Beales - Photographer

aroused by food & photography

Souvlaki For The Soul

A Food and Travel Experience

Sam Is Home

aroused by food & photography

Penelope's Loom

aroused by food & photography

cookinandshootin

"It's so beautifully arranged on the the plate - you know someone's fingers have been all over it." - Julia Child

Butter Me Up Brooklyn

baking makes friends.

aroused by food & photography

seven spoons

aroused by food & photography

What Katie Ate

aroused by food & photography

Chasing Delicious

aroused by food & photography

after the cups

aroused by food & photography

Little Upside Down Cake

aroused by food & photography

Green Kitchen Stories

The healthy vegetarian recipe blog

La Tartine Gourmande

aroused by food & photography

aroused by food & photography

Foi Fun!

aroused by food & photography

lingered upon

aroused by food & photography

%d bloggers like this: