Mi incontro con zi Efuru!

Me and aunty Efuru.

Siang ini sebenarnya saya masih mengatur target-target pekerjaan yang berterbangan di otak, eh ada Aunty Efuru, bolehlah sedikit melepas penat, saya cerita sedikit ya tentang aunty Efuru. Lagos, 3:38 PM.

Mi incontro con zia Efuru, yang artinya saya bertemu tante Efuru. Kenapa saya menulisnya dalam bahasa Itali? Ya, karena saya iri dengannya hehehe, aunty Efuru fasih berbahasa Itali. Ia adalah adik Madam Uche yang lama tinggal di Itali, tepatnya di Florence. Kalau saya tidak salah ia tinggal sejak berumur lima belas tahun dan menetap hingga sekarang dengan suaminya yang seorang Itali.

Saya tak lama kenal dengannya namun ia selalu ingat nama saya mungkin karena kami seringkali bertemu saat ia ke Nigeria. Aunty Efuru orangnya baik, supel, classy, kocak, penggemar rancangan klasik desainer kenamaan Itali Valentino, dan seorang tenor terkenal Andrea Bocelli. Oya, ia salah satu Madam’s sibling yang menetap di luar negeri selain kakaknya yang bekerja di bank dunia dan memilih menetap di Amerika. Madam Uche adalah satu-satunya di keluarga yang memilih menetap di tanah airnya meski ia lahir di Inggris.

Kenapa saya selalu suka mendengar aunty Efuru berbincang dalam bahasa Itali? tak lain tak bukan karena kedengaran sangat keren. Saat ia berbicara dalam bahasa Itali membuat saya nampak bodoh karena hanya berbekal bahasa Inggris. Ah sepertinya saya harus mengatur rencana menguasai bahasa ketiga, Perancis atau Jerman mungkin pilihan bagus.

Seperti yang pernah saya sebut sebelumnya, saya selalu suka bertemu orang baru karena bisa menambah link, menambah wawasan, bertukar cerita, dan berteman. Mungkin saja suatu saat nanti jika saya berkesempatan mengunjungi negeri pizza bisa menikmati secangkir cappucino dan beberapa potong pizza otentik di Florence bersamanya. Ah, kebayang kerennya menghabiskan sore di negeri indah penuh sejarah, olala Itali.

Bolehlah saya memasukkan Itali kedalam daftar mimpi yang harus dicapai sebelum mati, hehehe.

Foto lagi! Hehehe, saya sengaja mengedit foto sebelumnya kedalam hitam putih. Anda tahu lah fashion Itali identik dengan garis-garis bersih dan dualtone, hitam putih. Klasik dan terkesan mahal….kenapa saya nyambung ke fesyen? Ah sudah ah…Kerja lagi!

The New Wave of Friendship.

A goofydreamer.

Saya ingat betul posisi duduk saya waktu menginjak kelas satu sekolah menengah pertama. Di pojok barisan paling depan, persis dekat pintu masuk. Saat jam pelajaran mulai masuk pukul 3 sore karena saat itu saya masuk sekolah siang hari, angin mulai menyapu wajah dan sejenak bisa mengubah hingar bingar kelas menjadi sunyi. Sunyi bagi saya setidaknya.

Ah itu dulu, jangan disamakan dengan sekarang. Dulu saat pertama kali masuk SMP saya jelas teramat pendiam hingga hanya memiliki beberapa teman yang bisa dihitung jari. Saya bukan termasuk daftar anak gaul yang populer. Mungkin dulu saya memang lambat beradaptasi ke dalam lingkungan sekolah yang rata-rata muridnya memiliki nilai akademis diatas rata-rata. Tapi itu hanya bertahan saat kelas satu dan berubah saat kelas dua dan tiga. Teman-teman saya mulai banyak.

Beralih ke SMA saya rasa saya cukup berhasil melalui masa transisi dari seorang murid yang pendiam dengan teman-teman yang terbatas menjadi murid yang banyak teman. Tentu saja saya cukup bersyukur karena mengawali SMA di kelas yang berisi teman-teman super humble. Kelas satu SMA merupakan kelas terbaik yang pernah saya lalui.

Sekarang? Semuanya berbeda. Mencari teman bukan perkara rocket science. Apalagi jaman sudah berubah sejak bermunculan jejaring sosial. Dimulai dari Friendster yang booming sekitar tujuh tahunan yang lalu, kemudian Facebook, Twitter dan yang terakhir Path dan Line. Jejaring sosial macam mereka memang banyak membantu memperluas pertemanan, paling tidak itu yang saya rasakan saat ini.

Sebagai contoh, saya mengenal Winda Savitri berawal saat saya mengurus visa di Jakarta. Saya dan Ruli yang kenal dengan Winda lebih dulu dari Ayos bertemu di Grand Indonesia Jakarta. Siang itu merupakan pertemuan pertama saya dengan Winda. Kami berbincang ringan di salah satu restoran Jepang sembari menikmati menu yang kami pesan. Saat pikir pertemuan itu salah satu awal dari pertemanan yang lebih luas hingga kemudian saya bertemu Maya Wuysang. Pertemuan saya dengan Maya terjadi saat saya, Ruli dan Winda sepakat berlibur singkat ke Bandung bulan Juni tahun lalu. Pertama kali bertemu Maya dengan kepribadian yang easy going saya pikir kami berempat benar-benar klik, bisa gila berempat dengan topik ‘kesogehan’ yang diagung-agungkan Ruli. Kami berteman baik hingga saat ini.

Selepas kenal dengan Maya, saya mulai kenal dengan Nuran Wibisono. Penulis ciamik lulusan Sastra Inggris Universitas Jember yang sekarang menimba ilmu di Magister UGM. Saya mengenalnya saat tak sengaja masuk ke blog miliknya, Foi Fun. Saat itu saya membuka blog Nuran dari link travel blog super kece Hifatlobrain milik The One and Only, Ayos Purwoadji. Blog dengan bahasan ringan namun berbobot itu cukup sering saya sambangi apalagi saat ia memposting tentang kesempatan mengunjungi beberapa negara Eropa hingga ke makam Jim Morisson. Dan memang harus diakui, Hifatlobrain dan Foi Fun adalah dua blog yang membuat saya mulai memberanikan diri membuat blog. Lebih tepatnya rajin memperbarui blog dengan konten yang berbobot. Dan saya rasa menulis di blog jauh lebih menyenangkan daripada nongkrong didepan Facebook dan melihat beberapa orang sibuk berkomentar di status orang lain. Coba buka blognya deh, saya jamin kontennya menarik. Saya dan Bang Nuran (begitu saya memanggilnya, karena dulu saya kira ia berusia 27-an, eh ternyata…beda setahun lebih tua dari saya, ealah!) lebih sering berkicau di twitter tentang makanan, resep, hingga battle masak yang belum kesampaian sampat saat ini. Oh ya, Bang Nuran ternyata juga memiliki  hobi masak. Mungkin suatu saat nanti kita bedua akan battle membuat sushi, hehehe.

Kenal dengan Nuran berlanjut dengan Slamet Utomo Rukmono atau biasa dipanggil Panjul. Teman bang Nuran ini seorang penggila sepak bola yang tak henti-hentinya berkicau tentang bola di akun twitternya. Saya juga sempat membaca beberapa tulisan bagusnya di blog miliknya. Mungkin suatu saat nanti saya bisa membuat si Panjul super iri jika bisa bertemu dengan suku magis Dogon di Mali. Kalau saya sampai bisa bertemu mereka saya janji akan memamerkan kisah perjalanan saya padanya. Masih satu line dengan Nuran, saya juga kenal dengan bang Sukmadedetraveler yang tak lelah mempromosikan Indonesia di setiap perjalanannya, simak cerita-cerita bapak satu anak ini disini. Sepertinya sekarang bang Sukma sedang gencar mempromosikan kids travelling, agar anak Indonesia mengenal negerinya sedini mungkin. Keren ya!

Pertemanan saya semakin melebar dan mulai kenal dengan traveler sekaligus writer cewek yang juga tak kalah kece, Dwi Putri Ratnasari atau mudahnya panggil saja Putri. Lulusan Airlangga ini sudah menyelusuri beberapa spot menarik di Indonesia, salah satu yang membuat saya iri ketika ia berkesempatan mengeksplor Sumba. Putri ini sepertinya juga seorang easy going dan kerennya lagi cewek ini pernah jadi salah satu traveler pilihan ACI bersama Ayos. Ia berkesempatan mengeksplor Kalimantan. Kunjungi blognya disini.

Baru-baru ini teman saya bertambah, namanya Fahri Zakaria. Ia punya blog yang memuat postingan spesifik tentang musik yang, yah ia bisa disebut music blogger. Baru-baru ini blognya sempat masuk nominasi blog musik terbaik yang dihelat salah satu provider telekomunikasi. Sepertinya Masjaki ini paham betul dan mengikuti perkembangan musik Indonesia dari era ke era. Ia juga pernah berkesempatan mengunjungi Iran officially (Keren!). Satu lagi, si mbak lucu Ririn Datoek. Ah belum bertemu saja kami sudah klik. Mbak satu ini saya kenal juga lewat blognya WOWnderfulife saat kesasar membaca postingannya tentang ibadah umrah yang pernah ia jalani. Kami sempat chatting di ym beberapa waktu lalu hingga larut malam. Mbak Ririn ini sepertinya orang super sibuk. Hari-harinya dipenuhi meeting dengan klien2nya di perusahaan advertising tempat ia hidup sekarang, Jakarta. Yang terakhir mas Immanuel Sembiring. Bapak ini gila! Sudah hampir keliling dunia sepertinya, dan salah satu yang membuat saya iri, ia pernah ke Macchu Picchu di Peru dan tempat-tempat eksotis lainnya, coba cek disini. Keren euy!

Mungkin akan lebih menyenangkan jika saya bisa bertemu langsung dengan bang Nuran, Panjul, bang Sukma, Fahri, Putri, mbak Ririn, Maya, Winda, Ayos, Ruli, bang Immanuel dan teman-teman kami lainnya di kesempatan yang sama suatu saat nanti. Semeja, menikmati keakraban, makanan yang enak, bertukar cerita, kemudian berfoto bersama! Sepertinya bakal menyenangkan. Semoga saja tahun depan kami tak hanya saling berkicauan di twitter, tapi bisa benar-benar bertemu. Semoga.

Ah, kali ini mungkin saya bisa mengejek balik bapak saya yang dulu sering sekali meremehkan pertemanan saya. Kata beliau saya tidak cukup pandai bergaul karena terlewat pendiam, sekarang ‘Hey dear Dad, I changed!’.

Bertemu Aunty Linie!

Me and Aunty Linie.

Saya selalu suka bertemu dengan orang baru yang humble, kemudian berbincang, dan mulai bertukar wawasan. Saya pikir itu asik!

Sudah hampir dua minggu ini Aunty Linie, salah satu sahabat Madam Uche sering ke kantor mengerjakan sebuah riset untuk program yang ia kerjakan. Pertama bertemu dengannya, telinga saya mendeteksi aksen dan pronunciation-nya. Sepertinya wanita ini tinggal di luar dan ternyata dugaan saya tepat, ia tinggal di Amerika Serikat.

Saya sempat berbincang singkat dengan wanita asli Kenema dan tumbuh besar di Freetown, ibukota negara kecil di Afrika Barat, Sierra Leone. Aunty Lini pindah ke Amerika sejak tahun 1996 hingga sekarang menetap di negara bagian Maryland bersama suami dan kedua anaknya.

Perbincangan singkat saya awalnya dimulai dengan menanyakan hal-hal ringan seperti apa yang sedang ia kerjakan, tujuan risetnya, bla bla bla. Kemudian semakin lama kami mulai bercerita tentang hal yang kita tahu, mulai dari bagaimana dulu ia pertama mengunjungi Nigeria, kepindahannya ke Amerika hingga mencapai bahasan yang saya suka. Apa itu? Promosi tentang Indonesia.

Mulanya Aunty Linie bertanya tentang bahasa, budaya dan makanan Indonesia. Bagi saya ini kesempatan bagus untuk cas cis cus mengibarkan pesona Indonesia. Saya mulai menceritakan tentang apa itu Batik, Jawa, Papua, Raja Ampat, Reog Ponorogo dan bahasan budaya lainnya. Ia amat tertarik dan menyimak dengan seksama apa yang saya ceritakan. Apalagi saat saya menyebutkan jumlah pulau yang dimiliki Indonesia, 17 ribu lebih pulau yang membentuk kesatuan Republik Indonesia. Jumlah pulau yang berlimpah selalu membuat siapa saja yang bertanya tentang Indonesia disini mesmerised. Bagaimana bisa negara mempunyai pulau segitu banyaknya?

Aunty Linie bukan wanita lima puluh tahunan yang tidak suka sejarah dan budaya. Dari perbincangan sore itu saya bisa dengan mudah menyimpulkan ia suka membaca. Ia tahu apa itu Batik meski belum tahu makna dari motif-motif didalamnya. Saya begitu excited menceritakan bahwa di Jawa saja, rupa-rupa batik berwarna-warni dengan ciri khas daerah penghasilnya. Kemudian beralih ke kekayaan bawah laut terlengkap di dunia yang dimiliki Papua, kekayaan hutan di Kalimantan, hingga eksotisme Bali. Aunty Linie sendiri sudah mengunjungi beberapa negara di dunia kecuali ke Asia, dan ia menyebut Thailand sebagai negara yang ia ingin kunjungi jika memiliki kesempatan ke Asia. Kenapa Thailand? Ia bilang ingin belajar teknik memasak masakan Thailand. Kemudian apa yang saya ceritakan setelah ia menyebut makanan Thailand? Tentu saja promosi kuliner Indonesia! Saya menceritakan keanekaragaman kreatifitas kuliner yang dihasilkan setiap suku di Indonesia dan tentu saja dengan yakin memproklamirkan bahwa kekayaan kuliner Indonesia tentu lebih lengkap dari Thailand. Pertanyaan yang membuat saya semakin excited yang ia utarakan saat itu adalah “Apa yang membuat Malaysia lebih bagus dari Indonesia, dan kenapa banyak orang yang belum tahu apa itu Indonesia?” Whats???? Ia membandingkan negara saya dengan tetangga sebelah?

Saya menjawab dengan netral sesuai pandangan saya pribadi, bahwa yang saya tahu promosi keindahan Indonesia memang masih kalah dengan negara-negara tetangga yang semakin gencar mempromosikan negaranya sendiri. Ini cukup menyedihkan karena setiap kali saya melihat CNN di kantor, negara sekecil Georgia dan Azerbaijan saja bisa mondar-mandir beberapa kali setiap hari. Bagaimana dengan Indonesia? Promosi wisata yang efisien dan tepat sasaran mungkin bisa menjadi salah satu upaya untuk bisa tampil lebih cemerlang di kancah dunia. Apalagi jika industri pariwisata yang dikelola dengan cerdas bisa menjadi salah satu aset yang menjanjikan. Sangat disayangkan memang jika bangsa lain lebih mengenal Thailand atau Malaysia dibanding negera besar yang memiliki sejuta pesona seperti Indonesia.

Ada dua hal yang membuat saya selalu excited bertemu dengan orang baru yang lama tinggal di negara lain. Pertama, saya bisa cas cis cus dengan tata bahasa yang benar. Bahasa Inggris memang menjadi bahasa saya sehari-hari disini namun selalu ada yang berbeda jika saya berbincang dengan lawan bicara yang smart. Otak saya secara otomatis bekerja menyusun bahasa inggris dengan tenses di setiap kalimat yang saya hasilkan. Itu tidak mudah jika kita tidak melatih dan mempraktekannya setiap hari. Dulu pertama kali tinggal disini, saya masih membutuhkan tiga bulan untuk sesi listening dan memahami tone british english, pronunciation, dan pembendaharaan kata-kata baru. Bukannya saya tidak berbekal bahasa inggris, namun bahasa asing tetaplah bahasa asing, dan menurut saya kita baru bisa disebut menguasai bahasa asing saat kita mampu berbicara spontan dan lancar tanpa harus berpikir menyusun kalimat yang ingin diucapkan. Apalagi saat ingin marah dan mengumpat seseorang, ah itu bukan perkara mudah!

Kedua, bisa bertukar cerita tentang keunikan bangsa kita masing-masing terlebih dengan orang yang belum tahu dimana dan seperti apa Indonesia. Ah ini bagian menarik. Bukankah mempromosikan keindahan dan kekuatan bangsa itu salah satu bentuk sederhana membela negara? *kenapa menjurus ke PPKN < Hehehe. Saya pernah menulis tentang salah satu olahan jollof rice kan? Aunty Linie yang tahu seluk beluk budaya Afrika dengan baik menjelaskan pada saya bagaimana teknik memasak jollof rice yang otentik, termasuk bahan-bahannya sesuai dengan awal mulanya suku Wollof meracik menu ini. Ternyata dahulu suku Wollof memasak menggunakan kaldu ikan untuk bumbu nasi yang mereka ciptakan, memakannya pun dengan ikan bukan dengan daging sapi seperti yang saya tulis sebelumnya. Daging sapi dijadikan teman Jollof rice karena pengaruh Eropa, begitu ujarnya. Saya sempat menanyakan tentang suku Dogon di Mali, ia menyatakan bahwa salah satu suku otentik Afrika yang terkenal luas dengan kemampuannya dalam bidang astonomi itu memang magis. Sayangnya sepertinya keinginan saya mengunjungi Mali harus ditunda dulu saat ini karena kondisi negaranya yang masih dilanda konflik berkepanjangan. Tapi saya masih benar-benar ingin mengunjungi suku unik itu dan tentunya Timbuktu suatu saat nanti.

Aunty Linie sudah kembali ke Amerika dua hari yang lalu, ia meminta saya memotretnya bersama dengan Madam Uche dan Oga Majek di kantor sebagai kenang-kenangan. Lantas saya memberi copy foto mereka ke dalam laptop mungilnya. Sebelum ia meninggalkan kantor ia berpamitan pada saya sembari berpelukan, dan mengatakan terima kasih pada semua orang dikantor. Kini Aunty Linie mungkin sudah sampai di Maryland melanjutkan kehidupannya di negeri adidaya itu. Oya Aunty Lini sempat memberi alamat emailnya, dan menulis seperti ini “Hi Azis, So happy to know you, thank you for the wonderful pictures, you are very talented and I wish you much the best, Aunty Linie”. Ya saya senang mendapat kenalan baru, siapa tahu suatu saat nanti saya bisa sekedar mampir ke rumah Aunty Lini jika saya berkesempatan ke Amerika. Saya percaya, suatu hari nanti. Amin.

Ranukumbolo Accomplished {Day 2}

Pagi sudah datang. Hari kedua untuk Ranukumbolo.

Saya terbangun dengan dada sesak. Tulang-tulang saya sepertinya marah karena beban lima belas kilo kemarin. Saya tak pernah merasakan sakit di dada yang cukup menyiksa seperti pagi itu. Hawa dingin yang masih saja tak mau pergi menambah remuk tulang dan persendian. Saya berusaha bangun meski tulang belakang saya sepertinya juga marah besar.
Saya melihat Ayos dan Ruli masih terlelap disamping saya, Maya dan Winda pun begitu di kamar mereka. Pukul tujuh pagi kami semua benar-benar bangun kemudian sibuk mengatur kembali ransel-ransel kami. Beberapa potong roti, Energen dan kopi tak lupa kami santap agar memiliki cukup tenaga untuk kembali menyusuri sepuluh kilometer. Kali ini kami tak ingin menghabiskan energi berlebih seperti hari pertama dengan ransel-ransel super berat. Maya bergegas mencari potter yang akan membantu membawakan ransel terberat sampai di Ranukumbolo. Hawa dingin sudah mulai mereda saat sinar mentari meninggi. Pagi itu langit semakin cerah.

Pukul delapan kami kembali semangat. Hari kedua kami lewati dengan awal yang mudah. Jalan setapak yang memiliki arah yang jelas menuntun kami menuju setiap pos di depan. Ternyata kemarin kami memang melewati jalur yang salah. Pantas saja tak ada satupun jalan setapak yang menandakan kami berada di jalur yang benar. Pagi itu formasi kami masih sama, Ayos dan Winda memimpin di depan, saya di barisan ketiga sedang Maya dan Ruli di barisan selanjutnya. Perjalanan menuju pos pertama memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam dengan jarak sekitar empat kilo. Saya, Maya dan Ruli cukup kewalahan menyusuri tanjakan dan landaian naik turun yang menguras energi. Ayos dan Winda sudah berada di depan. Saya berusaha mengejar dengan mengatur kecepatan langkah kaki dan nafas hingga sampai di pos pertama. Disana kami bertemu beberapa pejalan lain yang menikmati makan siang mereka masing-masing, beberapa diantaranya memasak mie instan dalam satu wadah. Kami menghabiskan sekitar setengah jam hanya untuk meluruskan kaki sembari mengeluarkan beberapa snack dan air mineral dari ransel. Kami butuh energi untuk bisa sampai di pos kedua yang jaraknya pun lumayan.

Setelah istirahat sejenak, kami memulai perjalanan kembali menuju pos kedua dengan formasi yang sama, saya di belakang Ayos dan Winda. Ruli dan Maya bersama saya. Jalan yang kami tempuh memang lebih pendek dibanding dari pos satu ke pos dua namun medannya mulai memiliki tanjakan yang lumayan menguras tenaga. Pukul sebelas, kami tiba di pos kedua. Kami masih perlu meregangkan kaki sebentar. Sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan pejalan-pejalan lain dengan alur berlawanan, tanda mereka telah berhasil menikmati Ranukumbolo. Perjalanan dari pos dua ke pos tiga memaksa saya seringkali berhenti dari langkah-langkah pendek. Maya dan Ruli pun begitu. Kami kelelahan.

***

Kali ini kami bertiga benar-benar tertinggal dari Ayos dan Winda yang sudah lebih dulu mengawali start dari pos kedua. Jarak dari pos dua ke pos tiga sebenarnya tidak terlalu jauh, namun tanjakan yang mulai meninggi kemudian melandai kembali benar-benar tidak mudah. Namun itu belum seberapa hingga saya menemui tanjakan yang lebih menantang menuju pos keempat. Di pos ketiga, saya benar-benar lapar hingga tak kuasa merampas meises coklat dan selai kacang si Maya untuk dioleskan diatas roti tawar yang kami bawa. Sembari menikmati makanan, tentu kami mulai mengabadikan perjalanan ini dengan kenarsisan masing-masing. Di pos tiga saya ingat satu hal, si Ruli dengan entengnya melempar kamera saya (kurang ajar!!!). Awalnya kami bertiga bergurau dengan teknik menyombongkan diri ala si Ruli (sigh!). Maya dan saya mulai menyombongkan  diri dengan membandingkan komputer tablet milik kita berdua dengan milik Ruli. Saya tak tahu kenapa saat itu Ruli kemudian berubah perasa dan melempar kamera saya. Mungkin, karena milik si Ruli bukan si buah itu! :D. Maya pun tertawa namun mulai khawatir saya dan Ruli akan bertengkar. Tapi Ruli benar-benar barbar! :D

***

Kabut mulai menebal siang itu dan kami masih harus berjuang menaklukan medan yang lebih terjal di depan. Perjalanan dari pos tiga ke pos empat benar-benar bagian tersulit. Medannya menanjak tinggi kemudian melandai cukup curam persis seperti yang sering dilontarkan pejalan lain yang berpapasan dengan kami. Perjalanan menuju pos empat yang terjal membuat saya agak khawatir dengan stamina Maya. Tapi saya akui ia begitu menikmati perjalanan ini. Semangat kami kembali membara saat mulai melihat danau dan tenda-tenda perkemahan dari ketinggian pertanda kami hampir sampai di Ranukumbolo. Kami bertiga menghabiskan waktu istirahat singkat di pos keempat sembari menikmati kabut yang masih cukup tebal. Meninggalkan pos keempat kemudian turun melalui jalan setapak yang cukup landai adalah salah satu hal terbaik yang kami lalui dari perjalanan ini. Kami sampai di tenda perkemahan yang telah didirikan oleh Ayos dan Winda setelah menghabiskan sekitar dua puluh lima menit perjalanan dari pos empat.

Ayos dan Winda sudah merebahkan badan masing-masing di dalam tenda begitu pula dengan kami bertiga. Kaki-kaki kami tak sabar untuk bernafas dan meminta untuk diluruskan. Kami tiba sore itu dengan perasaaan lega dan mempersiapkan diri melawan dinginnya malam di Ranukumbolo.

***

Hari mulai gelap dan kami mulai mencari cara menikmati malam. Kami memasak meski tak sekeren rencana saya. Sebelumnya saya berpikir akan memasak makanan yang begitu nikmat disantap malam itu. Namun suhu sekitar -5 derajat celsius melumpuhkan niat saya. Malam itu benar-benar dingin hingga saya harus menebalkan kaki dengan dua tumpuk kamos kaki seperti yang dilakukan Maya, Winda dan Ruli. Sepertinya Ayos lah yang paling tahan dingin. Malam itu kami memasak krim sup instan. Itu ide si Winda yang sepertinya malam itu mulai tak tahan lapar. Krim sup dengan tambahan potongan sosis dan keju cheddar rupanya cukup berhasil mengenyangkan kami berempat. Ruli sudah terlalu capai hingga tak bernafsu menyantap sup gurih itu.

Sebelumnya, kami berlima mulai narsis didalam tenda. Kami mengabadikan kebersamaan kami dengan gaya tren tahun ini, ‘unyu-unyu’ :P. Di dalam tenda, kami benar-benar menikmati senda gurau yang berhasil membuat kami benar-benar ngakak. Topik yang diangkat tentang si Zaenal, teman Ayos dan Ruli yang menjadi trending topic selama perjalanan.

Saya benar-benar menikmati malam itu terlebih saat saya bergabung dengan Ayos yang sibuk menangkap momen dengan kameranya. Malam itu benar-benar indah dengan beribu bintang memenuhi langit yang amat tenang. Cahaya api unggun yang diciptakan beberapa pejalan lain menambah keindahannya. Saya tak mau ketinggalan untuk mengabadikan langit. Dengan bantuan Ayos saya berhasil menangkap bintang-bintang itu. Merebahkan diri sebentar untuk menikmati langit yang sungguh luar biasa indah tak mungkin saya lewatkan meski badan tak kuasa menahan dingin.

Kami mengakhiri malam yang tenang dengan tidur lelap di tenda dan bersiap menyambut matahari esok pagi.

Maya kecapaian :D
Yey meises yang dibawa oleh Maya! Yummy!
Ini pos ketiga, tempat Ruli melempar kamera saya! Dasar barbar :(
Ayo foto-foto dulu dong, biar di gunung harus tetap eksis :D
Kita sudah bisa melihat Ranukumbolo dari ketinggian meski kabut masih tebal siang itu.
Tenda-tenda sudah banyak yang berdiri, lihat yang berwarna biru, itu tenda kami :)
Maya bersemangat karena kami semakin dekat :D
Maya masih sempat-sempatnya berpose :D
Ruli pun tak mau ketinggalan berpose :p
Sepertinya berfoto dengan signage sudah seperti keharusan ya? Saya dan Maya pun sempat berfoto di entrance :D
Wah Winda mencuri start istirahat :D Tapi tak apalah ia dan Ayos mendirikan tenda buat kami :)
Yey akhirnya kami bisa sampai dan menikmati Ranukumbolo siang itu.
View yang menenangkan!
Mereka senjata rahasia untuk tetap bersih di lingkungan yang dingin seperti Ranukumbolo.
Ini foto pesanan Maya, kakinya sudah ingin cepat-cepat bernafas! :D
Allahuakbar, bintang-bintangnya sempurna!
Foto-foto didalam tenda sebelum hoaaammm :D
Berunyu-unyu ria, ini ide si Maya! :D

 

Masih ada esok hari, hari ketiga di Ranukumbolo sebelum kami pulang ke rumah :).

Next.

Semangkuk Pineberry untuk Dhani.

Saya teringat Dhani, seorang teman asal Aceh yang saya kenal dua tahun lalu saat masih bekerja di perusahaan perhiasan di Surabaya. Dhani seorang yang amat lurus, mungkin salah satu teman yang paling taat beragama yang pernah saya punya.

Dhani seorang perantau yang pernah hidup dan belajar di Yogyakarta selama tiga tahun sebelum mengadu nasib di Surabaya. Ia menyelesaikan pendidikan politeknik jurusan jewelry berbekal beasiswa. Satu hal yang saya ingat dari seorang Dhani adalah kecintaannya pada buah nanas. Dulu saat sekantor dengannya hampir setiap kali membawa cemilan yang saya masak sendiri, nanas segar selalu ada buatnya. Dhani memang fanatik dengan nanas hingga bisa mendeteksi keberadaan nanas yang saya simpan di laci penyimpanan dari jarak kurang lebih satu hingga dua meter. Bukan tanpa alasan saya menyisipkan buah nanas di setiap cemilan yang saya buat. Karena saya ingat betul ekspresi Dhani saat menceritakan kerindukan akan kampung halamannya Aceh dimana ia tinggal bersama ibu dan adik-adiknya. Tentu bukan hanya kampung halaman yang ia rindukan, lebih dari itu. Ia merindukan ibunya. Ia sempat menceritakan bagaimana ia rindu es buah racikan sang ibu. Es buah sederhana campuran sirup lokal dengan potongan melon dan tentu saja, nanas.

Setiap kali ia menyebut ibunya, saya terenyuh dan sadar bahwa cintanya pada ibunya sangat besar. Sepeninggal almarhum ayahnya, Dhani hanya memiliki seorang ibu dan adik-adiknya. Dan merantau di tanah jawa tidak serta membebaskannya mudah mengunjungi Aceh. Mengunjungi keluarganya.
Sejak saat itu nanas selalu saya siapkan untuk Dhani meski hanya potongan nanas segar dengan garam dan cabe rawit sebagai temannya. Kadangkala campuran sirup, nanas, strawberry, kiwi dan jelly yang terendam seharian didalam lemari es kantor menjadi menu segar untuk buka puasa. Dhani amat menjaga puasa sunnah senin kamis, dan tak hanya itu, sholat Dhuha di kantor pun ia jalani. Saya salut dengan keteguhannya memegang ajaran Islam.

Saya ingat pesan Dhani di hari terakhir saya bekerja dengannya. Dhani mengetahui rencana kepindahan saya ke Afrika sore itu sesaat setelah saya selesai berpamitan pada semua rekan kerja disana. Ia kaget saat saya mengutarakan akan pergi melanglang hingga ke benua lain. Dhani berpesan agar saya harus bisa menjaga sholat lima waktu di luar sana, ini persis dengan pesan yang disampaikan ayah saya sebelum berangkat kesini. Dhani juga berpesan jika saya harus bisa kuat menghadapi rintangan di negeri orang dengan tekad dan ikhtiar. Satu lagi pesannya, jika saya merindukan keluarga saya, cukup ambil air wudhu, sholat kemudian baca ayat Al-Quran. Pesannya mujarab, membaca Al-Quran saat hati dan pikiran bermasalah memang menenangkan. Saya belajar banyak dari Dhani tentang keseimbangan hidup di dunia dan setelahnya bahwa keduanya harus bisa diraih. Selamat di dunia, dan bahagia di Akhirat.

Kini Dhani berdomisili di Semarang, bekerja di perusahan lain sebagai staf desainer perhiasan. Ia memilih bekerja di kota yang lebih dekat dengan istri dan putri kecilnya yang tinggal di Solo.
Semoga tahun depan saat saya kembali ke Indonesia bisa menyempatkan silaturahmi dengan Dhani dan keluarga kecilnya. Semoga.

Tahun kedua untuk Afrika.

Perjalanan panjang akan kembali diulang. Perjalanan merantau (lagi), perjuangan, cerita, kerinduan, dan berbagai carut marut hidup akan dihadapi untuk kedua kalinya. Kembali ke Afrika setelah sebulan bersenang-senang (yang terasa seperti seminggu) di tanah kelahiran telah usai.

Agustus tanggal satu, menuju bandara Juanda tepat pukul dua siang dari rumah. Keinginan saya untuk pergi sendiri akhirnya pupus. Tahun ini kembali diantar keluarga, bapak, ibu, kedua kakak, keponakan, dan sahabat sedari kecil, Sohib. Perjalanan satu setengah jam yang membuat saya kembali sedikit mengeluh. Kemacetan pasalnya.

Bukan, bukan kemacetan, hanya ego besar yang menuntut kenyamanan terganggu dengan koper besar yang juga duduk tepat disamping. Sesak. Sesampainya di Juanda ingatan saya seperti kembali setahun lalu. Kala itu saya juga diantar sebelum mengarungi perjalanan panjang ke Afrika. Bedanya saat itu selepas subuh. Hiruk pikuk bandara lebih parah dibanding tahun kedua. Bedanya lagi saya tak menggunakan jasa penerbangan low price yang kadang menyebalkan, kali ini bisa terbang dengan Garuda. Bukan jumawa, tapi kenyamanan sangat dibutuhkan dari awal perantauan. Afrika jauh. Capek yang akan dihadapi bukan main-main. Apalagi, saya kembali berangkat sendiri dengan satu koper besar seberat 34 kilo, dua tas jinjing berisi oleh-oleh pribadi yang beratnya juga lumayan, dan satu ransel berisi gadget-gadget juga tak ringan. Garuda pun langsung mendarat ke terminal dua Soekarno Hatta, artinya saya tak perlu ganti terminal seperti kedatangan tahun pertama sebulan yang lalu. Ganti terminal hanya menyisakan kekesalan. Saya tak memiliki tradisi pamitan yang dramatis. Semuanya teramat santai. Hanya mencium tangan kedua orang tua, menyalami kakak-kakak kemudian berpamitan.

Pamitan dramatisir hanya membuat hati dan pikiran lemah, karena bagaimanapun, sejauh apapun kita pergi, kerinduan akan keluarga itu jelas tak akan bisa ditepis. Setelah berpamitan saya langsung menuju gate. Tak cukup lama setelah menyempatkan sholat ashar saya masuk kedalam pesawat. Perjalanan sejam menuju ibukota saya lalui sendirian. Perasaan saya seperti biasa, santai. Namun itu hanya bertahan sekejap. Tiba-tiba perasaan menjadi aneh. Aneh dan cukup mengganggu.

Saya yang duduk disamping jendela kiri merasakan hati dan pikiran mendadak kacau. Tak tenang seperti biasanya. Pikiran saya terbang dan seakan ingin menukik kembali ke Surabaya. Tak seperti biasanya, kali ini saya nampak gelisah. Kedua orang tua ada di urutan pertama yang mengisi pikiran sore itu. Kemudian kakak. Setelah itu sahabat dan teman-teman.

Sebisa mungkin saya mencoba menghibur diri dengan cara-cara sederhana. Kadangkala mata menatap sekumpulan awan yang cantik sore itu. Mentari sedikit demi sedikit berpamitan dengan sopannya. Awan-awan sore itu nampak jauh lebih cantik saat mereka bermandikan cahaya mentari.

Kegelisahan saya sore itu berdampak pada konsentrasi hingga lupa buka puasa sebelum waktunya. Seperempat jam lebih awal dari waktu yang seharusnya, waktu Jakarta setengah jam lebih lama dari Surabaya.

Sesampainya di Soekarno Hatta, saya harus kembali konsentrasi. Tak boleh membiarkan perasaan gelisah menguras pikiran. Selesai dengan urusan bagasi saya kembali keluar bandara menyaksikan kesibukan manusia sore itu. Apa yang saya lihat saat itu kembali mengingatkan akan perjuangan hidup. Berbagai macam manusia sibuk dengan carut marut kehidupan mereka masing-masing.

***

Sembari menunggu kedatangan tiga teman saya, Mario, Maya dan Winda, saya putuskan menunggu sambil memperhatikan tingkah laku manusia di bandara. Hampir sejaman saya menunggu dan memutuskan memesan meja di Solaria. Tempat terdekat dari pintu kedatangan. Akhirnya Mario tiba juga disana. Kita memang punya janji bertemu sebelumnya. Mario punya beberapa titipan untuk mas Andhi –senior saya di Lagos– yang harus saya bawa. Tak lama setelah bertemu Mario, kedua teman yang tahun lalu ikut mengantarkan saya hingga terminal D, Winda dan Maya datang. Alhamdulillah paling tidak mereka tak membiarkan saya kesepian di bandara. Seperti biasa, Maya dan Winda kembali bergurau. Gurauan dan nada khas kita bertiga. Sayang tak ada Ruli, karena kita berempat sepertinya memiliki nada kebangsaan yang mempengaruhi cara kami berbicara. Hampir sejam setelah Mario merapikan barang-barang titipannya ia pun pamit pulang.

Akhirnya saya kembali bertiga seperti tahun lalu bersama Maya dan Winda. Setelah kami berbuka puasa di Solaria, kita langsung menuju ke atas. Menuju Terminal D. Tujuan kita ke Starbucks. Pesan kopi sembari mengobrol. Namu sayangnya malam itu Starbucks sudah tutup. Padahal masih pukul sembilan malam. Alternatif kita jatuh pada Coffee Bean. Bolehlah, saya juga belum pernah ngopi di Coffea Bean. Maya memesan sepotong Tiramisu dan segelas frozen black forest. Winda berbeda. Dia memilih cheese cake dan segelas caramel. Sedang saya cukup smoothie dari pisang dan mangga dan sebuah chocolate muffin.

Malam itu saya merasa bersyukur paling tidak ada teman yang sukarela menemani sebelum saya meninggalkan negaraku untuk kedua kalinya. Tak lama kita mengobrol ‘ngalor ngidul‘ hanya sekitar tiga puluh menitan. Karena Winda masih memiliki PR membuat slide presentasi untuk keesokan harinya. Tepat pukul sepuluh malam kami berpamitan. Maya dan Winda mengantarkan hingga didepan pintu masuk check in. Kami tak lupa mengambil gambar dari kamera dengan pose dan latar belakang yang sama. Seperti nostalgia.

Tak terasa malam itu kembali datang. Seperti pengulangan yang amat cepat. Tak terasa setahun yang lalu kami juga bertemu di tempat yang sama, di waktu yang sama. Soekarno Hatta, terminal D, pukul 10 malam. Sebelum berpisah, ritual mengambil gambar merupakan hal yang wajib. Tak ada yang bisa menggantikan gambar sebagai bagian terbaik dari momen perjalanan hidup.

Saya bersyukur bisa bertemu mereka lagi tahun ini. Kadangkala kekhawatiran saya masih sama, apakah bisa di waktu yang akan datang memiliki kesempatan bertemu dengan mereka dan teman-teman yang lain.

Hidup kadangkala sungguh tak bisa diduga.

Maya dan Winda di Coffee Bean. Mereka berhasil mengompas saya. Lagi. hihihi.
Saya dan Winda berfoto dengan pose yang sama tahun ini.
Saya dan Maya berpose dengan koper dan tas yang sama :)
Saya dan Winda setahun yang lalu.
Saya dan Maya setahun yang lalu.