The Endless Bali I

Phew! Finally I could find my leisure time to share this post to you, too late to be posted I know but better than never right?. Okay, I won’t talk about how’s popular Bali on this earth (universe knew already! :P) though sharing my four-days-quick-jaunt in Bali is my little pleasure for this blog. I think :). It’s been almost four months all pictures for this post stayed inside my hardisk, I was too busy to gather them and write about this (If I don’t want you to call me lazy!).

Bali as I knew is endless. Coastal, mountains, diverse tourist attractions, excellent food by international and local restaurants, sophisticated art forms, and the culture plus friendliness of the local people, everything is there. Renowned as the Best Island in the world by Travel+Leisure magazine in 2010 was a little acknowledgment for Bali, the goddess island.

My quick jaunt to Bali almost didn’t happen. I was thinking to skip it for another year cause I wanted to spend my last seven days in my house. As I knew, my 30 days in Indonesia was too short to be enjoyed, though. I was too busy among random things, from attending friend’s gathering, handling some administrative requirements for my parents (excited for that gift! :)), shopping (annual-shopping I think :P), and many more. Spending a week left in the house was my plan before, but Ruli, my best friend reminded me that I would be regret if I didn’t go anywhere while I was in Indonesia, he meant outside city. I said I did cause I had a plan before to have a little traveling at least I could feel a thing called vacation. Singapore and Hong Kong were on my list before cause I do not need visa to travel there but as I said, those random things really chopped my time.

Then I started back thinking about Bali. Four days, and I went with my sister. We took flight from Surabaya on 23rd August by 9am from Surabaya and landed by 11am in Bali. Let me say my jaunt was three days cause we spent our first day mostly inside our hotel (I was quite tired that day and decided to start walking around near our hotel). We stayed in a little yet nice and comfortable hotel in Kuta. We started walking around Kuta at 4 pm and visited Beachwalk to take a peek to that mall. We took coffee and pastries at Rollas Coffee&Tea and enjoyed our late- noon-convo there. I made a call to hire a car for the next day and finally found that we would go to Ubud!. We passed Kuta beach to see sunset that day, sadly the sunset wasn’t dramatic enough to be wowed and in the evening, we walked through the Kuta street and felt the evening vibe back to our hotel. iPhone pictures from our first day.

Latte

SunsetKuta

The next day Ubud was our destination outside Kuta. We left our hotel from 9am and went straight away to get our breakfast. We were so excited visiting Bebek Bengil ‘Tepi Sawah’ and had no regret to wait 40 minutes until the restaurant was ‘really’ open. My sister was waiting in the rustic gazebo while I was busy exploring around the rice field. The scenery of the rice field was stunningly green while the Balinese instrument was melodious in the air, pretty much made our morning. So calm, refreshing, and oh the food, we had no doubt to say that Bebek Bengil was on our must-eat food in Bali. The food was too heavy for breakfast :P (at least for me) nonetheless the crispy duck, various sambals and the Balinese satay were too-yummy indeed.

BebekBengil1

BebekBengil4

Ricefield

BebekBengil8

BebekBengil2

BebekBengil3

BebekBengilSambals

After breakfast we went to Monkey Forest (to see monkeys? :P) and spent like an hour before we continued our day in Ubud to Pura Tirta Empu. No picture to be attached from Monkey Forest even though I took some (no deliberate pics, sorry :P). Visiting Pura Tirta Empul, a Hindu temple in Tampak Siring was more interesting than Monkey Forest. Tirta Empul is well-known as a place where the Balinese have come to bathe in the sacred waters for healing and spiritual merit. Some pictures taken with iPhone and NEX from Tirta Empul visit. Oh I heart the detail of the building around the temple.

TirtaEmpul3

TirtaEmpul7

TirtaEmpul4

TirtaEmpu2

TirtaEmpul5

TirtaEmpu1

Our driver suggested to pass Kintamani for a second before we went back to hotel. Enjoying the blues there was appeased. The weather was so cold and windy, and oh now I feel regret I didn’t stop at Luwak coffee shop along there (pfft!). Just an iPhone picture for Kintamani.

Kintamani

More pictures for the next post! :)

Ranukumbolo Accomplished {Day 3, Finally}

Ranukumbolo Accomplished {Day 3, Finally}
Indonesia. I proud you!

Indonesia. I proud you!

Pagi itu kedua mata saya silau meski tenda menaungi sepanjang malam. Sinar matahari membangunkan kami berlima di suatu pagi terakhir di Ranukumbolo.

***

Kami bangun sekitar pukul sembilan. Pagi itu matahari amat cerah sedang hawa sekitar masih terlalu dingin. Bangun tidur dari tenda mendapati danau yang tenang dengan kabut diatasnya itu istimewa. Langit biru tak kalah cerah. Kabut yang menggumpal diatas danau membuat saya buru-buru mengarahkan kamera seakan tak ingin melewatkan kesempatan mengabadikan Ranukumbolo. Pagi itu benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dibanding dengan pagi yang selalu saya lewati di Lagos. Tenang dan segar tanpa beban-beban pekerjaan yang biasa menggumpal di pikiran.

Tak lama setelah bangun, saya sudah ditagih Ayos menu apa yang akan menjadi sarapan kami berlima. Itu bukan pertanyaan aritmatika yang susah dijawab :P, karena saya sudah memiliki kunci jawabannya. Saya mencari spaghetti sembari berusaha menemukan saus bolognese siap pakai bersama Winda. Maya dengan ikhlasnya menuju danau untuk mencuci peralatan sisa memasak semalam. Setelah mendapati peralatan masak yang sudah bersih, saya berlagak sebagai koki gadungan. Saya memulai dengan merebus air yang diambil Maya dari danau, sementara Winda menyiapkan saus bolognese siap pakai. Tak lama setelah selesai merebus spageti, Winda kembali menyibukkan diri memotong dadu keju cheddar sebagai pelengkap sarapan kami. Saya tak akan pernah lupa kehebohan yang kami ciptakan setelah sarapan kami matang. Maya dan saya menciptakan sedikit kecongkakan dengan membandingkan sarapan kami dengan ‘tetangga’ yang hanya memasak mie instan. Sepertinya kami memang kerasukan ‘kesogehan’ Ruli hingga tak malu menyombongkan sarapan spaghetti abal-abal. Ah tapi saya benar-benar menikmati gelar tawa pagi itu.

***

Pukul sebelas kami mulai membereskan barang yang kami bawa kedalam ransel masing-masing. Kami beranjak meninggalkan Ranukumbolo. Kali ini raga kami tak disiksa dengan beban ransel karena dua potter yang disewa Maya. Kami menuju arah pulang.

Selalu ada kesempatan untuk melakukan salah satu sesi menarik dari setiap perjalanan. Apalagi jika bukan berfoto ria di sepanjang jalan setapak yang kami lewati untuk turun kembali ke Ranupani. Beberapa kali kami berhenti untuk berfoto. Salah satu foto favorit saya adalah saat kami berempat mengambil gambar dengan latar belakang Semeru. Perjalanan pulang kami lewati dengan perasaan lega. Formasi kami masih sama, Ayos dan Winda memimpin di depan sedang Maya, Ruli, saya dibelakang. Menapaki jalan setapak dibumbui humor Ruli dan Maya benar-benar mewarnai perjalanan pulang. Banyak hal yang kami ceritakan meski napas sudah ngos-ngosan. Saat itu kami masih saja bertemu (lagi) dengan tetangga yang kebagian spageti tadi. Maya kemudian membuat saya tertawa dengan asumsinya bahwa mereka sengaja dekat dengan kita agar dapat jatah makan. Hehehe it was so funny May!. Perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada saat kami mendaki. Kami tiba kembali di Ranupani sekitar pukul tiga sore.

***

Setelah meregangkan otot-otot kaki dan memanjakan perut dengan makan siang di warung setempat, kami buru-buru kembali ke rumah Bapak Sinambela, tempat kami menginap sebelumnya. Kami membersihkan kaki dan mengecek kembali isi ransel sebelum sebuah hardtop merah mengangkut kami berlima untuk kembali ke kota. Dan (lagi-lagi) kami satu hardtop dengan tetangga (setia) kami. Oh tidak, bukan hanya satu hardtop, satu angkot pula menuju terminal hehehe.

Pukul empat sore lewat kami berlima sudah di dalam bis menuju Surabaya. Perjalanan kembali menuju stasiun sedikit mencemaskan. Sepertinya Maya dan Winda kurang beruntung tak bisa mengejar kereta yang akan membawa mereka kembali pulang. Sore itu perjalanan dari Malang ke Surabaya sedikit macet sehingga mengharuskan Maya dan Winda merelakan tiket kereta eksekutif hangus begitu saja. Sesampainya di terminal, Maya dan Winda dibantu Ayos sibuk mencari penerbangan terakhir yang bisa membawa mereka ke Jakarta malam itu juga. Setelah berkutat hampir satu jam di terminal Bungurasih yang sibuk dengan berbagai rupa manusia, akhirnya Maya dan Winda berhasil mendapat last flight ke ibukota. Tentu harga penerbangan sedikit membuat mereka berdua mengerutkan dahi.

Kami akhirnya berpisah di terminal Bungurasih. Maya dan Winda harus kembali ke Jakarta sementara Ayos, saya dan Ruli kembali menuju kos. Malam itu saya agak berat menjabat tangan Maya dan Winda dan berandai kebersamaan kami berlima bisa lebih lama hehehe. Malam itu saya sadar satu hal. Menikmati pagi dengan angin semilir, danau yang tenang, langit biru, teman-teman yang menyenangkan adalah quality time yang perlu dijaga. Thank you guys!

Simply breathtaking.

Simply breathtaking.

Lovely morning at Ranukumbolo.

Lovely morning at Ranukumbolo.

Beautiful.

Beautiful.

Sesaat sebelum packing!

Tenda kami.

Maya ada paparazi! hehehe.

Maya ada paparazi! Eh disini Maya seperti ibu kos ya hehehe.

Winda was cooking sauce for our spaghetti!

Winda was cooking sauce for our spaghetti!

Our breakfast that time.

Our breakfast that time.

Maya dan saya menggigil tapi tetap gaya, hehehe.

Maya dan saya menggigil tapi tetap gaya, hehehe.

Ruli - Winda - Maya.

Ruli – Winda – Maya.

Ayos dan Winda. So sweet.

Ayos dan Winda. Tsah.

Foto perjalanan pulang.

Foto perjalanan pulang.

Winda - Maya.

Winda – Maya.

Foto! Wajib nih yang beginian.

Foto! Wajib nih yang beginian.

Foto sama abang-abang potter-nya Maya.

Foto sama abang-abang potter-nya Maya.

Wow we could see clouds! Amazing!

Wow we could see clouds! Amazing!

Ayos - Winda - Ruli - Maya. Like this picture.

Ayos – Winda – Ruli – Maya. Like this picture.

Ayos - Winda - Ruli dan saya.

Ayos – Winda – Ruli dan saya.

Semeru.

Semeru.

Yah bertemu tetangga kita lagi May!

Yah bertemu tetangga kita lagi May!

Semakin dekat dengan Ranupani. Kami kembali.

Semakin dekat dengan Ranupani. Kami kembali.

Tiba waktu pulang. Kami menuju rumah Bapak Sinambela sebelum benar-benar meninggalkan desa Ranupani. That day was so bright, wasn't it?

Tiba waktu pulang. Kami menuju rumah Bapak Sinambela sebelum benar-benar meninggalkan desa Ranupani. That day was so bright, wasn’t it?

Sampai di Ranupani ketemu ini. Yummy! Santap!

Sampai di Ranupani ketemu ini. Yummy! Santap! For sure tanpa saus ‘tomat’ merah dibelakangnya hehehe.

Naik ini...hmmm... adventurous!

Naik ini…hmmm… adventurous!

Maya dan Winda. Lelah.

Maya dan Winda. Lelah.

Lihat ekspresi Maya. Apakah ia kesal masih satu angkutan dengan 'tetangga' kita? Saya mengambil ini saat kami dalam perjalanan pulang menuju terminal bis yang akan membawa kita kembali ke Surabaya.

Lihat ekspresi Maya. Apakah ia kesal masih satu angkutan dengan ‘tetangga’ kita? Saya mengambil ini saat kami dalam perjalanan pulang menuju terminal bis yang akan membawa kita kembali ke Surabaya.

Rasanya saya tak akan kapok mendaki sepuluh kilometer menuju dan sepuluh kilometer lagi meninggalkan Ranukumbolo. Semuanya worth it. Tahun depan? Rinjani buka pilihan buruk bukan? Pertanyaannya? Kuatkah kami? :P

Oleh-oleh (dari) Indonesia.

Oleh-oleh (dari) Indonesia.

Kemarin kamis flatmate saya, Andhi kembali dari short vacay setelah hampir tiga minggu di Indonesia. Tak ada kebahagiaan yang tergantikan saat melihat oleh-oleh khas Indonesia yang mustahil ditemukan di Lagos terlihat didepan mata.

Sore itu saya masih disibukkan dengan meeting dengan sebuah bank hingga sore. Terjebak macet sialan di Lagos bukan hal baru jika saya kembali dari Victoria Island ke Ikeja pukul empat sore. Mas Andhi, begitu saya memanggilnya telah tiba kembali disini. Ia langsung tancap dari bandara dan menyempatkan mampir ke kantor seperti biasanya. Ia mengabari saya bahwa ia sudah sampai sedang saya menyabarkan diri didalam mobil karena macet yang tak masuk akal.

Tiba di rumah sekitar pukul delapan malam dan mendapati mas Andhi tidur lelap di kamarnya. Saya mengintip sedikit koper yang ia buka sebelumnya hingga bisa melihat barang berharga tegeletak dilantai. Apa itu? Salah satu titipan saya penting yang wajib dibawa setiap kali teman saya mudik ke Indonesia. Barang berharga itu hanyalah kecap, saus sambal, kue kering, terasi, tempe kering, dan kadang bumbu pecel. Mungkin oleh-oleh ini terlihat biasa bagi anda namun bagi perantau sejauh saya, mereka berharga.

Inilah oleh-oleh dari Indonesia kali ini :

Bumbu Instan ini salah satu penyelamat disaat kami malas meracik bumbu masak. Terlebih jika kami rindu makanan Indonesia.

Saya dapat Tempe manis!

Mata saya berbinar-binar melihat botol-botol ini! Olala!

Bawang goreng! Yiha…masak soto daging jadi tambah nikmat ditaburi ini!

Mas Andhi membawa emping, mungkin ia kangen ngemil emping. Saya? Tak suka emping…hehehe….

Ya, anda tak salah melihat foto ini, Putri salju! Serasa lebaran…hehehe…

Luwak coffee. Kopi mahal ini ia bawa untuk rekan dikantor yang meminta membawakannya saat ia kembali ke Lagos.

Kerupuk Udang! Yiha!

Oleh-oleh dari Bali yang ia bawa untuk orang-orang di kantor.

Ini oleh-oleh untuk saya, sepatu warna biru tua dan sebuah sabuk coklat.

Bukan Andhi namanya jika pulang tak belanja! Sepatu baru…Olala!

 

Ranukumbolo Accomplished {Day 1}

Ranukumbolo Accomplished {Day 1}

Ranukumbulo sudah kami perbincangkan dua bulan sebelum saya pulang ke Indonesia. Saya, Maya, Winda dan Ruli memilih Ranukumbolo sebagai tujuan pendakian tahun ini. Apakah saya seorang pendaki? Tentu bukan, hanya saja tahun ini saya sangat ingin merasakan alam terbuka dari negeri yang memiliki berjuta pesona. Ternyata butuh kecerdasan lebih untuk membagi waktu cuti saya yang hanya sebulan di Indonesia. Setelah lebih dari sebulan kami berempat chatting bout’ Ranukumbolo, tanggal 13 Juli tahun ini kami pun berangkat.

***

Hari pertama.

Jumat malam saya masih sibuk mencari kebutuhan untuk bekal kami selama tiga hari di supermarket, memilih beberapa bahan makanan yang sekiranya akan nikmat disantap selama disana. Packing saya lakukan setelahnya. Sabtu selepas subuh saya dijemput Ruli. Kami langsung menuju kos Ayos ,traveler kawakan sekaligus penulis handal yang namanya sudah beredar luas di komunitas pejalan. Saya, Ruli, dan Ayos sudah siap berangkat setelah berhasil repacking menghemat barang bawaan kita. Berbeda dengan saya, mereka sudah beberapa kali naik gunung. Mereka berdua lebih paham bagaimana seharusnya traveler mengatur barang bawaan dan membaginya dalam ruang ransel yang amat terbatas. Winda dan Maya yang berdomisili di ibukota, berhasil menempuh perjalanan selama hampir empat belas jam menuju Surabaya. Mereka berdua diantar kereta eksekutif dari stasiun Pasar Senen ke stasiun Pasar Turi. Mereka tiba pukul 8 pagi. Setelah Ayos, Ruli dan saya selesai repacking dan mampir ke tempat persewaan tenda, kami langsung menuju titik pertemuan yang kami sepakati, terminal Bungurasih. Setibanya disana kami mempersiapkan diri dengan bekal dasar untuk ketahanan fisik, sarapan! Maya, Winda dan Ayos memilih soto ayam dan es teh. Saya dan Ruli tak terlalu tertarik sarapan. Kita hanya memilih segelas teh panas.

Setengah jam setelahnya kami berlima sudah duduk manis di bangku bis paling belakang menuju Malang. Sepanjang perjalanan Maya, Winda, saya dan Ruli sibuk mengoceh di twitter masing-masing. Sesampainya di terminal Malang setelah dua jam didalam bis, kami langsung menuju Tumpang dengan angkot. Saya masih ingat Maya tertawa mendengar saya menirukan salah satu hits Rita Sugiarto yang kami dengar dari radio angkot. Suasana itu tak membuat saya malu karena saking menikmati suasana terminal. Kami membutuhkan setengah jam untuk sampai di Tumpang. Sesampainya disana kami berhasil menyewa jeep yang akan membawa kami ke desa Ranupani. Kami tak sendiri, masih ada beberapa kelompok traveler lain yang juga akan menuju Ranupani. Kami membayar tiga pulu ribu rupiah per-orang. Saya, Ruli dan Ayos berdiri dibelakang, Maya dan Winda duduk didepan disamping sopir. Menumpang jeep dengan posisi berdiri selama dua jam lebih merupakan pengalaman pertama yang cukup berkesan. Ayos sempat menanyakan apakah saya menikmati perjalanan itu, jelas iya. Hampir setahun hidup di negara orang kemudian kembali dan menikmati keindahan alam negeri sendiri yang saya dapat sepanjang perjalanan menuju Ranu, apakah saya harus berpikir dua kali untuk berkata tidak? :)).

Jalanan naik turun membuat kami beberapa kali hilang kestabilan dari posisi berdiri. Bererapa kali perut kami dihantam iron bar jeep. Kadangkala dada juga sempat bersentuhan keras dengan pipa besi yang juga berfungsi sebagai handle untuk menjaga kestabilan posisi. Pemandangan yang memanjakan mata sepanjang jalan cukup menghibur, sayangnya saya tidak bisa mengambil gambar sepanjang perjalanan.

Saya sempat memotret Ayos bersama Winda, saya suka latar belakang foto ini :)

Maya dan Winda sebelum naik jeep.

Ransel-ransel kami, banyak ya!

Tiba pukul tiga sore di Ranupani kami langsung menuju pos, melaporkan diri pada pihak pengelola untuk mendapatkan ijin. Winda dan Maya bertugas menyelesaikan urusan administratif. Sekitar setengah jam urusan perijinan selesai, kami langsung membekalkan diri dengan makan siang disana. Semangkuk bakso seharga lima ribu rupiah per porsi menjadi pilihan saya. Hawa dingin menusuk tulang sudah mulai terasa. Sore itu kabut lebat mulai berdatangan membuat hari semakin gelap. Dingin dan rintik hujan pun mulai berjatuhan. Kami memulai perjalanan pukul empat sore dengan kesadaran bahwa kami akan menyusuri jalan yang tak mudah hingga sampai di Ranukumbolo. Jarak dari Ranupani hingga titik akhir Ranukumbolo kurang lebih 10 kilometer dengan waktu tempuh normal sekitar enam hingga tujuh jam. Masing-masing dari kami membawa ransel yang beratnya lumayan menguras tenaga. Saya kebagian sekitar lima belas kilo. Maya dan Winda tak kalah beratnya. Ayos membawa ransel paling besar dan tentunya paling berat. Begitu pula dengan Ruli. Perjalanan di hari pertama merupakan salah satu pengalaman yang akan selalu saya ingat. Pengalaman menyusuri jalan-jalan setapak di dalam hutan yang tak mudah untuk menuju apa itu Ranukumbolo.

Setelah dua jam diatas jeep, kami berhasil sampai di Ranupani.

Desa Ranupani, kecamatan Senduro.

Ini urusan Winda dan Maya, kami harus mendapat ijin terlebih dahulu sebelum memulai pendakian.

Berjalan bersama dengan sekelompok pejalan lain saat hari mulai gelap ternyata tak cukup membantu. Kami melewati jalan naik turun yang penuh dengan semak belukar. Semak belukar yang tumbuh liar diatas tanah menjadi semakin licin akibat gerimis. Kondisi medan yang kami tempuh hingga jarak kira-kira tiga setengah kilometer dari titik awal sungguh diluar dugaan. Ayos dan Winda berada didepan memimpin pencarian jalan-jalan berikutnya. Saya dibelakang Winda. Maya dan Ruli diurutan terakhir. Kami benar-benar berusaha keras melewati setiap cekungan, dataran, cekungan lagi dan tanjakan, yang semakin berat saat licin, gerimis dan gelap berpadu. Kami merayap, berjalan, menanjak, melompat untuk melewati setiap tantangan medan malam itu. Kami mencari bantuan ditengah kegelapan dengan meraba setiap ranting-ranting liar yang kami pikir kuat sebagai pegangan. Penerangan kami hanya bergantung pada lampu senter. Setelah berjuang hampir lima jam didalam kesulitan itu kami memutuskan kembali karena tak ada titik terang menemukan Ranukumbolo. Kami tersesat dan bertekad melanjutkan perjalanan esok pagi. Kembali lagi setelah mencapai jarak tiga setengah kilometer berarti kami harus berjuang melewati setiap tanjakan, cekungan dan jalan-jalan landai itu kembali.

Baru pukul empat sore, tapi kabut membuat hari lebih gelap.

Saya tertawa jika ingat saat saya mengambil gambar ini, Winda dan saya bercanda. Bertanya pada Maya “Mama Dedeh ada tahlilan dimana? Di gunung?” :D

Meskipun ransel yang dibawa paling berat, Ayos nampak fine.

Winda masih sempat bergaya meski sudah sakit punggung karena ranselnya :D

Saya dan Maya meski capek harus tetap eksis :D

Malam itu kami memutuskan menginap di rumah salah satu petugas asli Maluku yang sudah menetap di desa Ranupani, namanya Bapak Sinambela. Malam itu teramat dingin, bahkan telapak kaki saya tidak akur dengan lantai rumah. Ayos dan Ruli bercengkrama dengan bapak Sinambela dan teman baru kami. Saya membantu Winda dan Maya memasak menu seadanya malam itu. Memasak nasi, sup dari wortel, buncis, kentang plus sosis, dan telur orak-arik bercampur kornet ala Winda.

Sup sayur, menu makan malam kami saat itu.

Telur plus kornet ala Winda.

Pukul sepuluh setelah selesai makan malam kami memutuskan merebahkan tubuh diselimuti sleeping bag masing-masing. Saya tak habis pikir bagaimana bisa malam itu saya amat santai melewati setiap rintangan pencarian jalan di dalam hutan yang gelap, licin dan dataran yang tak tentu. Mungkin karena di malam itu kami berlima benar-benar bekerja keras membantu satu sama lain. Bantuan yang terbungkus dengan nilai persahabatan.

Esok pagi kami akan kembali mengumpulkan niat untuk menyambangi kembali Ranukumbolo.

Saya rindu warung, rindu makanannya!

Saya rindu warung, rindu makanannya!

Warung menurut saya memiliki kekhasannya sendiri. Dan makanannya bisa jadi salah satu makanan terenak di dunia.

Sejak tinggal di Lagos, beberapa kali saya tersiksa kerinduan itu. Pergi ke warung, memesan apa yang saya inginkan, merasakan atmosfer sekitar dan carut marut yang menyertainya. Sebuah epik kehidupan yang berbanding lurus dengan budaya, adat dan lingkungan. Saya merindukannya namun sial tak banyak menebus kerinduan itu dua bulan yang lalu saat pulang. Terlalu banyak menuruti ego dengan beberapa hal yang tentunya sekarang, saya sesali. Sungguh.
Saya tak menyediakan cukup waktu untuk sekedar hunting makanan-makanan warung yang sejatinya memiliki keunikannya sendiri. Di Lagos tak pernah sekalipun melihat apa yang saya anggap ‘warung’ meskipun beberapa tempat mungkin bisa dikatakan warung. Namun bagi saya warung di Indonesia tak ada tandingannya. Sebagai perantau munafik jika saya tak menyebutkan warung sebagai salah satu tempat khusus yang dirindukan. Terlebih makanannya. Di Indonesia, kita bisa leluasa menemukannya kemudian duduk. Memesan apa yang ingin kita pesan. Merasakan atmosfer yang selalu berbeda di setiap warung. Mengeluarkan lembaran rupiah untuk menu yang rata-rata masih murah.

Kerinduan-kerinduan itu kemudian mulai saya tepis. Berusaha keras membuat daftar makanan warung yang saya ingin saya makan, kemudian melampiaskannya dengan memasak. Jalan keluar apa lagi yang bisa saya patahkan jika bukan memasak sendiri makanan yang saya rindukan. Tidak seperti di Amsterdam restoran Indonesia menjamur, jangan berharap banyak menemukannya di Lagos. Lagos lebih banyak menyediakan restoran cina disamping kedai-kedia makanan yang menawarkan olahan lokal. Sesekali jika capai dan bosan dengan masakan sendiri saya menyempatkan ke restoran cina sekedar hanya memesan salah satu tom yam terenak yang mereka jual. Jelas tidak setiap hari karena jika iya, dompet saya akan sekarat karena harga yang mereka kenakan pada rata-rata porsi mereka tiga kali lebih mahal dari makanan restoran di Indonesia. Sejatinya memasak makanan di rumah jauh lebih hemat meskipun tingkat kecapaian dan kerepotan tidak mudah untuk beberapa makanan. Tapi kecapaian dan kerepotan itu akan pupus jika kerinduan akan makanan warung, seperti yang saya bilang, makanan terenak di dunia berhasil disantap. Meskipun minus atmosfer. Makanan yang seringkali saya rindukan, bukan saya saja, teman flat saya pun begitu seperti mereka ini.

Pecel.

Bisa makan pecel di Afrika? Wow!

Sebagai perantau dari jawa timur, saya tidak kangen pecel selama disini? Bullshit! Pecel salah satu makanan andalan yang ada dibarisan depan makanan favorit saya. Rasa bumbu yang unik dan paduan sayur mayur sebagai bahan dasar tidak akan pernah bisa saya hiraukan. Saya beruntung memiliki ibu yang jago masak dan berbaik hati membuatkan anak bungsunya bumbu pecel siap pakai meskipun sebelumnya saya malas menyesakkan bumbu ini dikoper. Bumbu pecel ini sungguh obat mujarab menepis kerinduan akan makanan warung dan ibu saya tentunya.

Daging sapi diselimuti bumbu balado. Nendang!

Suatu sore saya kerasukan rindu akan pecel. Saya dan flatmate kemudian setuju memasak menu pecel semirip mungkin dengan pecel yang ada di warung. Kami memasak daging bumbu balado sebagai temannya. Daging sapi berbalur bumbu merah keemasan yang pedas sangat cocok disandingkan dengan pecel. Kami menyertai sayuran untuk pecel kami minus daun kemangi yang memang susah didapat di Lagos. Timun juga. Kami lupa membelinya. Ini bentuk nasi pecel yang kami santap malam itu.
Menyantap menu Indonesia di negara orang itu salah satu bentuk syukur yang teramat besar. Jika tinggal di negara yang masih menyediakan restoran Indonesia lain cerita, tapi menikmati pecel di Afrika tentu luar biasa indahnya.

Sate.

Menemukan sate sebenarnya tak sulit di Lagos. Restoran cina dan beberapa restoran fushion milik lebanese umumnya selalu menyediakannya. Tentu dengan harga selangit. Di malam yang berbeda saya melontarkan ide sate sebagai menu makan malam bersama kedua flatmate saya. Sate ayam!

Sate ayam.

Memasak sate yang tidak terlalu sulit akhirnya kami lakukan. Memulai dengan menyiapkan daging ayam yang ditusuk rapi dibalur dengan sedikit garam, jeruk nipis untuk menetralisir bau amis, dan bahan andalan, kecap! Bahan makanan yang mustahil saya temukan di Lagos. Jangan berharap bisa menemukan kecap disini karena yang saya temukan hanya soy sauce buatan Hongkong ataupun Cina yang bentuknya cair dan lebih mirip kecap asin.

Olah sate ala-ala.

Bumbu pecel buatan ibu tercinta :) nyum! Mencampurnya dengan selai kacang untuk bumbu cocolan sate, rasanya? no doubt on it!

Lihat tampilan sate saya, seperti beli di warung khan? Hehehe.

I cant live without Bango! :p

Kecap kedelai macam kecap Bango? Forget it. Hanya satu tempat kecap kedelai tinggal, di kedutaan! Itupun harganya ampun. Orang-orang kedutaan menjualnya dengan harga tinggi. Itulah kenapa setiap saya pulang kecap selalu memiliki ruang dikoper saya. Saya tak akan bisa hidup di Afrika tanpa kecap. Sate ayam buatan kami dibakar diatas teflon karena kami tak memiliki panggangan. Membakar diatas teflon dengan kompor sedikit mengurangi nilai kenikmatannya dibanding dengan membakarnya di tungku arang seperti di warung. Bumbu sate didapat dari perpaduan selai kacang dan bumbu pecel saya. Rasanya! Wow! Pasta kacang mensubtitusi bumbu kacang yang biasa dibuat penjual sate dan rasanya tak buruk. Kreatif ditengah keterbatasan. Rasanya tetap enak! Mungkin karena bawaan mood dan rindu, semuanya jadi nyum! :)

Ayam goreng kering.

Nyum! Crunchy!

Damn this is hot!

Ayam goreng kampung yang biasa saya dapatkan di warung dekat rumah, ah yang ini murah dan memanjakan. Ayam yang dilumuri garam, lada, jeruk nipis dan cabe bubuk kemudian digoreng kering. Dimakan dengan nasi panas dan sambal! Wow! Serasa makan di warung sungguhan. Dan cara makan terenak, seperti ini! Pakai tangan :D

Ini cara makan ternikmat! Pakai tangan!

Tahu goreng plus sambal!

Ya tahu. Makan nasi panas dengan tahu dan sambal terasi nikmatnya mengalahkan menu restoran dengan aneka platting dan namanya yang aneh2. Makanan sederhana ini luar biasa dengan harga yang ‘mahal’.

Tahu, menu sederhana namun jadi ‘mahal’ jika anda hidup di Afrika!

Tahu di Lagos bisa saya beli seharga 140 naira alias 8400 rupiah sepotong ukuran 5 x 15 cm dengan tinggi hanya 4 cm. Mahal sekali dibandingkan tahu yang sering saya beli di pasar tradisional di Indonesia seharga 300 rupiah dan dua kali lebih tebal dibandingkan tahu disini. Ya, semakin jarang bahan makanan ditemukan harganya semakin tinggi. Sayangnya saya hanya menemukan tahu dan memupus harapan bisa menemukan temannya, karya kuliner terenak di dunia, apalagi jika bukan tempe.

A Shockin’ Evening

A Shockin’ Evening

The first Surabaya Fashion Parade award.

Saya akan mencoba mengumpulkan puzzle ingatan mengenai ini.

Saya menyebutnya iseng-iseng berhadiah. Empat tahun yang lalu tepatnya 2008 saya berani mengikuti salah satu kompetisi ilustrasi di Surabaya Fashion Parade. SFP adalah parade fesyen yang digelar oleh salah satu plaza terkenal di Surabaya, Tunjungan Plaza. Sekarang menjadi annual event setiap bulan Mei. Jika saya tak keliru, kompetisi itu pertama kali diadakan tahun 2008. Artinya saya mengikuti kompetisi SFP saat pertama kali digelar.

Kompetisi SFP tahun itu saya dengar dari sahabat kecil saya yang beberapa kali menjuarai kompetisi ilustrasi, panggil saja namanya Sohib, dia bisa anda temukan disini. Saya masih ingat saat mengunjungi rumahnya yang hanya terpaut beberapa rumah dari rumah saya. Sore itu, dia menyodorkan iklan SFP di salah satu surat kabar nasional. Surat kabarnya hanya saya bolak balik mencari artikel yang lebih menarik yang bisa saya baca. Saya jelas tak memiliki ketertarikan saat itu dengan SFP. Bahkan ia lah yang menyuruh saya menghubungi kontak yang ada di iklan, siapa tahu dengan mengikuti kompetisi itu saya bisa menang. Mungkin pikirnya begitu.

Saya membawa pulang surat kabar itu dan masih tak tertarik dengan kompetisinya. Setelah saya membaca surat kabar itu sekali lagi, saya menemukan alamat yang bisa didatangi untuk mendaftar. Ternyata tak jauh dari kampus saya. Sepulang dari kuliah perancangan III, sahabat saya di kampus, Ruli berhasil saya sikat untuk menemani saya mendaftar. Siang itu matahari cukup terik. Hanya beberapa menit dari kampus, saya dan Ruli sampai disana. Ternyata tempat pendaftaran yang terletak di perumahan itu salah satu basis ikatan desainer wilayah Jawa Timur. Hanya sepuluh menitan disana saya berhasil mendapatkan kartu peserta.

Beberapa hari setelahnya, saya pun berangkat kekampus dengan tas punggung yang lebih penuh dari biasanya. Alat-alat gambar sederhana saya sudah menempati kantong-kantongnya. Saat itu akhir musim kuliah, hanya menunggu dua hari sebelum minggu tenang yang biasa dilanjutkan dengan UAS. Saya masih ingat hari itu Jumat. Hari aktif terakhir ngampus sebelum libur seminggu. Kebetulan saya dan Ruli mengambil mata kuliah minor yang sama, digital modelling. Kuliah yang sebenarnya berakhir pukul lima sore, namun saya nyelonong pergi setelah menyelesaikan tugas studio pukul tiga. Kompetisinya sendiri dimulai pukul empat sore. Perjalanan dari kampus ke Plaza Tunjungan tak kurang setengah jam.

Saya menyempatkan mampir ke kos teman dekat kampus sebelum menuju kesana. Saya hanya ingin meminjam meja mini yang biasa dipakai untuk menaruh keyboard PCnya. Teman yang telah berbaik hati sore itu namanya Fajar, penggemar Vespa yang sekarang sukses berwirausaha. Setelah saya rasa bekal saya cukup, langsung tancap menuju venue. Mengendarai motor butut setia, akhirnya pukul empat sore lebih sepuluh menit saya tiba disana. Setelah menemukan kumpulan manusia dengan alat-alat gambarnya, saya daftar ulang dan langsung mendapatkan nomer resmi. Nomer 1, sesuai abjad nama saya. Hal ini mengingatkan saya dengan urutan yang selalu pertama saat jaman sekolah dulu. Selalu menempati urutan 1. Saya ingat perasaan saya saat itu. Tak tau arah, persis seperti orang kesasar di jalanan besar yang berisi orang-orang hedon.

Menunggu di deretan kursi peserta membuat nyali saya semakin ciut. Apalagi jika bukan karena pesaingnya yahud-yahud. Penampilan yahud ditunjang alat gambar berkualitas seakan menandakan kepercayaan diri yang tinggi. Lah saya? Baju kusut, muka berminyak tercampur debu dan asap jalanan. Benar-benar komplit. Setelah sejaman menunggu akhirnya kompetisi dimulai. Semuanya duduk sesuai nomer urut. Saya duduk sebelah kanan pojok. Tentunya didepan. Sesekali mata saya tak bisa fokus mengamati pesaing-pesaing di sebelah saya. Peralatan gambar mereka lebih tepatnya. Bagaimana nyali tidak ciut jika alat yang mereka bawa rata-rata bermerk. Pastilah kualitasnya yahud dan menunjang hasil karya nantinya. Saya? Hanya bermodal alat-alat murah, pensil warna yang umurnya mungkin sudah mencapai dua tahun dengan panjang yang berbeda di setiap warnanya. Pensil mekanik seharga tiga ribuan, penghapus pensil yang bentuknya pun sudah tak jelas karena seringkali diiris cutter, beberapa glitter pens, yang semuanya berada didalam kotak pensil biru. Plus meja belajar si Fajar menjadi alas gambar.

Oke, kertas gambar mulai dibagikan oleh panitia dengan tema jelas terpampang di pojok atas kertas A3, Ethnic Futuristic Ready To Wear. Saya mengamati keempat juri yang duduk dikursinya masing-masing, seorang jurnalis fesyen, fotografer majalah fesyen, ketua APPMI dan seorang fashion lecturer. Beberapa menit setelah saya mendapatkan kertas gambar sembari mendengarkan aturan kompetisi dari MC, saya mulai berpikir desain apa yang bisa mewakili konsep keseluruhan Ethnic Futuristic Ready To Wear. Sekilas saya berpikir memodifikasi batik sebagai material dasar dan membumbuinya dengan sedikit kreatifitas agar nampak lebih segar dan muda. Saya masih ingat tahun 2008 menandai kepopuleran batik dengan munculnya varian dan desain batik. Tanpa pikir panjang pikiran saya setuju untuk mengangkat batik. Saya mulai dengan membuat proporsi model dan berhasil menyelesaikannya dalam waktu semenit-Damn! Jika saya ingat apa yang saya gambar saat itu dan kembali melihatnya hari ini, proporsi yang saya buat sungguh berantakan. Kemudian mulai mendadani sketsa model saya dengan ilustrasi batik modern berupa asymmetric coat berwarna coklat tua dipadu dengan light dark green tee dan asymmetric skirt berbahan batik. Agar terkesan tak biasa, saya menambahkan ready to wear obi dengan detail yang rumit dipinggang –sayang saya tak bisa menampilkannya di blog ini, karena tak sempat mengekspornya ke format jpeg – coba saja dibayangkan dari penjelasan tadi :).

Jika kembali mengingat karya saya saat itu sungguh memalukan. Bagaimana tidak, proporsi yang berantakan, tidak setinggi proporsi model yang seharusnya, arsiran warna yang tak berarah, dan secara keseluruhan nampak tidak cukup istimewa. Tak lama menyelesaikan karya, kira-kira sejam dari empat jam yang diberikan panitia, saya memutuskan pulang. Saya sengaja melewati jalan dimana saya bisa melirik karya peserta lain dan damn! saya tercengang. Mereka rata-rata memiliki kemampuan yang wow!. Apa-apaan ini, jika begini saingannya mana bisa menang. Tak apalah, tak usah berpikir menang kalah yang penting sudah berani berkompetisi. Saya mencoba menenangkan diri. Melihat karya-karya gila yang ditunjang dengan alat-alat berkualitas tentunya akan membuat karya saya tenggelam dalam tumpukan gambar yang rata-rata dihasilkan dari pengenyam sekolah mode yang tahu persis bagaimana teknik ilustrasi. Ya sudahlah saya pulang saja.

***

Awarding Night

Tiga hari setelah lomba awarding night-nya digelar. Malam itu saya sangat malas datang karena migrain kiri saya kumat. Apalagi sepanjang sore itu saya sudah keliling mall untuk mendapatkan sebuah jaket. Menjelang pukul tujuh malam saya menelpon sahabat SMA, Fahmi namanya. Pikiranku berubah, tak apalah datang meski sebentar hanya ingin tahu saja siapa yang akan menang. Dengan begitu saya bisa tahu kualitas apa yang dipertimbangkan juri untuk pemenangnya. Akhirnya sahabat saya itu berbaik hati mengantarkan kesana. Karena invitation-nya admits two, kami pun bisa masuk ke zona makhluk-makhluk legal yang ternyata setelah saya sadar, kami duduk di barisan penonton, bukan barisan khusus peserta. Beberapa menit setelah kami sampai di venue, MC acara malam itu mulai masuk pada sesi awarding untuk illustration competition. Satu persatu dari total enam pemenang ditampilkan di giant screen di atas stage putih. Hitungan mundur dimulai dari pemenang favorit ketiga dan berlanjut hingga memasuki detik menegangkan untuk juara kedua. Kami mengamati ilustrasi yang ditampilkan di layar raksasa itu. Sambil berbisik saya katakan pada sahabat saya ilustrasi yang menang karya-karyanya ngeri. Saya mengajaknya pulang saja. Tapi dia mencegahku dengan alasan yang cukup logis. Sayang saja jika tidak mengikuti acaranya sampai selesai. Okay alasannya diterima meski kepalaku mulai terasa lebih berat dari sebelumnya.

Menjelang juara pertama diumumkan, MC nya pun mengeluarkan kata-kata yang mendebarkan bagi seluruh peserta kompetisi. “Siapakah pemenang pertama? langsung saja, pemenang pertama fashion ilustration Surabaya Fashion Parade 2008, pertama kali digelar, dimenangkan oleh peserta dengan nomer urut…….Wah ini spesial, pemenang pertama dimenangkan oleh nomer urut ; Satu!”. Hah? nomer satu kan milik saya. Bagaimana bisa? Saya hanya menatap heran ke layar raksasa malam itu. Bagaimana saya bisa percaya menumbangkan peserta-peserta dengan ide dan teknik yang rata-rata maknyus. Setengah tak percaya. Namun memang yang tertampang disana itu karya ecek-ecek kedangdut lengkap dengan nama saya. Sahabat saya pun menyuruh bergegas ke atas stage sesuai permintaan MC. Sambil bersorak, “traktiran!”. Saya pun langsung menuju stage yang sebelumnya harus menahan sorotan lampu-lampu yang bergemerlapan sepanjang runway berwarna putih. Langkah saya cukup mantap ingin segera mengakhiri di depan. Seorang model menyerahkan award lengkap dengan karya saya yang telah dibingkai. Ah, apa-apaan ini.

Tak percaya saja bagaimana bisa tiga hari sebelumnya saya datang dengan penampilan super kusut dan alat-alat murah meriah bisa menggondol piala dan beberapa hadiah yang cukup asik. Uang tunai, kursus gratis di Lasalle, akademi fesyen dan desain yang pusatnya di Kanada –sayang kursusnya tak pernah saya ambil karena saat itu saya hanya ingin menyelesaikan kuliah yang akan memasuki jenjang menuju Tugas Akhir– , beberapa parfum dan merchandise. Akhirnya pukul sepuluh malam kami pun meninggalkan venue. Kepala saya masih cekat-cekot namun terhibur dengan piala didalam tas dan uang tunainya :D. Ah leganya karena saya berhasil melewati hari yang melelahkan. Keputusan hadir di malam penghargaannya ternyata tak salah, meskipun saya sedikit menyesal tak sempat mengabadikan momen di stage padahal kamera saku sudah saya siapkan sehari sebelumnya.

Tak apalah, biar saya ingat saja setiap detailnya.

 

Sekelumit Ampel Kala Ramadhan.

Sekelumit Ampel Kala Ramadhan.

Ampel kala ramadhan.

Saya sempat merekam keceriaan ramadhan tahun ini meski hanya sepuluh hari. Ramadhan memang tak bisa dipisahkan dengan kawasan Ampel. Kawasan religi yang sudah dikenal hingga mancanegara ini selalu ramai dengan kekhasan kampung-kampung arab dan pernak-perniknya. Terlebih saat ramadhan tiba, suasana yang selalu saya rindukan saat tak memiliki cukup waktu menikmati ramadhan di tanah air.

Jalan masuk dari Ampel Suci.

Peziarah di sepanjang Ampel.

Toko sarung di Ampel banjir pembeli saat ramadhan.

Kurma jauh lebih subur saat ramadhan, berbagai jenis bisa didapatkan di Ampel.

Salah satu pilihan untuk oleh-oleh, klompen.

Tasbih beraneka rupa.

Ribuan aroma parfum tersedia di Ampel.

Pembeli berburu CD islami.

Aneka pacar yang populer sangat mudah ditemukan di Ampel.

Pernak-pernik yang seringkali diburu peziarah putri jika ke Ampel.

Pedagang menyediakan aneka jajanan pasar murah meriah.

Suasana salah satu masjid di Ampel selepas Isya.

Peziarah berbelanja salah satu buah tangan favorit, kurma.

Le coeur a son réseau

Ton meilleur pote à Bruxelles

Mr and Mrs Globe Trot

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

PARK & CUBE

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

La Buena Vida

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

i am a food blog

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

Finn Beales - Photographer

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

Sam Is Home

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

Penelope's Loom

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

cookinandshootin

"It's so beautifully arranged on the the plate - you know someone's fingers have been all over it." - Julia Child

Butter Me Up Brooklyn

baking makes friends.

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

seven spoons

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

What Katie Ate

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

Chasing Delicious

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

after the cups

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

Little Upside Down Cake

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

Green Kitchen Stories

The healthy vegetarian recipe blog

La Tartine Gourmande

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

Foi Fun!

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things

lingered upon

an insight into the life of a dreamer who loves croissant, Paris, Ed Sheeran and nice things