November Gifts

This November has become one of the hardest month of work to me.

Even it went so much slower than past years (“ber” months are our hi-season in event industry, fyi) but I had a very stressful project out of town in the first week and spent a week for an event, it was hard indeed. Breakfast at the hotel left a lot to be desired, lunch was rare (imagine if you have to work upside down under the sun and you’re not eating and drinking), and all this on little to no sleep. After that stressful project, I decided to give myself a reward by grabbing some gifts (please don’t judge me as a cool kid who loves spending money for some branded things). This is just the way I thank to myself after I worked so hard :) all via iPhone.

1/ I’m not a ‘perfume’ person but I couldn’t resist to take home this fragrance by Gucci (oh, this sounds ridiculous but I really take attention to the design of perfume bottle before I buy, and I’m looking forward for another fragrance). Well, let’s talk about food :).

.

NovemberGift1

~

2/ I couldn’t say no to a delish treat after I had to survive without proper lunch for days (eek!)Little guys for an evening snack, and….. Belgian chocolate ice cream added with more almonds and yes, more dark chocolate from Trader Joe’s.

.

NovemberGift2.1 NovemberGift2


Oops, another chocolates completed my home-made mousse pudding with a cup of sugar free tea this noon.


Processed with VSCOcam with c1 preset

~

3/ Maybe you guys already seen quite often for strawberry and friends on this blog, but again, I couldn’t resist to have them again and again with yogurt and raw honey for breakfast. For an afternoon snacks (with a lifestyle) was frosted kiwi and assorted berries, such another way to enjoy iced fruits in a hot weather :).

.

NovemberGift3 NovemberGift4

~

4/ I haven’t done with food. Who can resist fresh prawns? (who?). I cooked spicy chicken and prawns soup with Chinese egg noodles, broccoli, chicken samosa, fried tofu and sweet corn in dumplings like this.

.

NovemberGift6

~

5/ Tara Ramsay to be added to my cook book collection, and a note book I needed for work.

.

NovemberGift5

~

6/ Another fact of me, I’m a fan of Zara, it’s affordable yet quite classy. I got this white crisp shirt from Indonesia through my flatmate when he came back from his annual leave (I really wish there is Zara store here). If I have a wish, this and this and this, would be on my wardrobe someday (now, I give up if you call me ‘cool-kid wannabe’ :P).

>

NovemberGift7 NovemberGift8

~

When I was painting a pergola for that project with white cellulose, my dark jeans got stain (not only that, my Mickey Mouse tee had too). I knew I enjoyed the work even if I had to do it under the sun. I wish I took a pic from that day so you’ll know that my job isn’t that glamorous :P. I thought that cellulose would easily vanished from it yet I had to get another one. And stretch dark jeans is so so good. And the last one (I promise). I wanted to find backpack but this took my attention (mine is the navy blue one, oh do not know why the price here is higher?, let’s make another wish, this and this are on my waiting list :)).

Well, hello December, let’s work harder for another fancy gifts! :P.

A Thing Called Opportunity

LoveForMyParents

Saya sempat memiliki kekhawatiran kecil jika saja tulisan ini nampak seperti wujud kecil dari riya’. Tapi sungguh, saya telah meyakinkan hati untuk membagi ini agar kita percaya, bahwasanya ada banyak kesempatan dalam hidup untuk berbahagia pun membahagiakan.

***

Saya belajar selagi tumbuh. Bahwa ternyata dalam hidup, kita tidak bisa mendapatkan banyak hal besar secara bersamaan. Ada yang namanya prioritas. Ada pilihan-pilihan akan suatu hal besar yang patut untuk diwujudkan lebih dulu. Jika saja anda pernah membaca sepotong kisah akan keinginan saya memiliki kamera profesional, yang hingga saat ini belum bisa saya wujudkan, itu karena saya memilih untuk mewujudkan satu mimpi besar yang lebih bermakna.

Impian besar itu telah lama ada di antara impian-impian besar lainnya yang saya pupuk tiga tahun lalu sebelum hijrah ke Afrika. Memutuskan untuk memulai hidup di tanah asing berkilo-kilo meter jauhnya sungguh bukan keputusan kecil. Keputusan yang membutuhkan tekad besar untuk mau bekerja keras agar impian-impian yang tadi saya pupuk, tumbuh, dan terus tumbuh hingga akhirnya bisa saya banggakan saat mereka terpetik. Dan alhamdulillah, salah satu impian besar itu terpetik tahun ini.

Menghadiahkan Ibu dan Bapak untuk berdiri di depan Ka’bah kemudian berdoa di depannya adalah kebanggaan yang tidak bisa saya pungkiri. Bangga bukan hanya karena saya bisa memberangkatkan mereka berdua, tapi bangga karena impian tiga tahun lalu itu akhirnya terwujud. Bangga karena saya bisa menghadiahkannya selagi mereka ada. Meski hanya sekedar umroh, bukan naik haji, tapi bagi saya rasa bangganya sama besar. 

Saya memiliki logika sederhana, umroh pun haji adalah ibadah. Dan saya pikir dengan sistem haji di Indonesia yang cukup rumit dan lama, umroh bisa menjadi jalan yang lebih ringkas untuk beribadah ke sana. Toh, saya yakin dengan berdoa di depan Ka’bah saat umroh, berdoa agar bisa kembali ke sana dalam rangka haji, Allah pasti akan mengabulkan suatu hari nanti (amin). Sesederhana itu. Dan lagi, bagi saya, yang terpenting adalah bisa mewujudkannya selagi mereka ada.

Setiap kali melihat foto Ibu dan Bapak saat Di sana, saya selalu merasakan goosebump. Saya belum mampu membayangkan bagaimana magisnya suara adzan di Masjidil Haram dan bagaimana hati ini akan tersentuh pada megahnya Ka’bah. Pada gema super indah nan tentram akan puja-puji pada Sang Khalik saat semua muslim, dari suku, bangsa, dan latar belakang yang berbeda bersatu di sana, bersenandung menyebut nama-Nya. Setiap kali mendengarkan cerita Ibu pada indahnya Ka’bah, cerita yang sering beliau ulang, saya tak bisa menyembunyikan secuil senyum di wajah saya. Senyum yang ada karena pada akhirnya beliau berkesempatan merasakan mimpi di kehidupan nyata. Berdua, bersama Bapak.

Saya pun masih ingat betul pada suatu malam selepas maghrib, duduk bersila dengan perasaan yang luar biasa abstrak untuk memutuskan apakah saya harus pergi atau tidak. Perasaan abstrak itu campuran rasa bahagia akan kesempatan besar di depan mata dan rasa sedih meninggalkan orang-orang tercinta. Perasaan abstrak yang berakhir pada keputusan besar untuk pindah ke Afrika. Tak ada yang tahu betapa seringnya saya menangis tengah malam di hari-hari pertama saya di sini. Berusaha menangkis perasaan-perasaan bingung pada apa yang akan saya capai dan pada usaha untuk bertahan. Tapi sekarang, saya mulai tersenyum pada banyak kenyataan bahwa impian-impian tiga tahun lalu itu bisa terwujud satu-persatu. Dan tangisan-tangisan tengah malam itu mengajarkan saya untuk percaya satu hal, bahwa hal besar yang kerap kita impikan, bisa terwujud di waktu yang tepat hanya dengan kemauan dan kerja keras. Mungkin saya akan menulis mimpi besar lainnya, bisa beribadah ke sana bertiga bersama Ibu dan Bapak, selagi mereka ada (amin :)).

***

Saat anda lelah dengan problematika hidup yang kadang amat rumit dan tak adang ujungnya, coba sejenak hargai pencapaian-pencapaian kecil pun besar yang pernah anda capai. Mungkin saja, ada sekelumit syukur yang terlewatkan. Bersyukurlah karena kita masih bekerja, bersyukurlah karena masih memiliki kedua orang tua yang masih sehat hingga bisa mendengarkan gelar tawa mereka, bersyukurlah karena Tuhan Maha Baik. Ada banyak cara menunjukkan bakti pada kedua orang tua kita dari hal sesederhana doa, agar Tuhan senantiasa menjaga mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka. Sebagaimana Ibu dan Bapak kita yang senantiasa mendoakan kita diam-diam di setiap malam mereka terjaga :).

Reminiscing Culinary Delights

I still have some food pictures when I was in Indonesia for this blog. Looking at them reminds me how delicious they were and of course, I enjoyed them so much cause I was in vacation (there is nothing like that, when all you need is just follow your desire everyday on what you want to eat). I rarely snap street food for this blog but here, you’ll find some iPhone pictures with little stories on them :).

StreetFood-Batagor

1/ Batagor was among of ‘must-eat’ list and I had a chance to enjoy Batagor with Ruli and Ayos near their house. The best thing that day wasn’t only the Batagor itself but the fact that the place was near airport, where you’ll have a rice field in front of you and…airplanes flying very close. Sumedang fried tofu was another yummy snack that day when I and Ruli tried to catch sunset after we had Batagor.

FancyFoods

2/ There was an afternoon when I wanted a treat of Crème brûlée while my sister and my nephew just had snacks. Another day, dinner with Andhi and Fahmi (it was such a great time!) and what I had on my table was a bowl of spicy ramen.

StreetFood-Bakso&Fried Duck

3/ Another street food I ate was with Andhi when we had fried duck for our lunch, and it was so so good. Sometimes it’s okay to stop by at one street food corner and guessing how the food will taste. It was I and Sohib’s late noon snack that day when I wanted to eat Batagor and found Bakso in the end.

StreetFood-Inexpensive Food in Bali

4/ I throw back to Bali when I had to manage myself to enjoy some Javanese food for breakfast and lunch. It wasn’t bad at all to try some inexpensive food, well, especially when you have to manage your wallet but you’ll have brown rice on your plate :).

Breakfast

5/ I think granola with yogurt and passion fruit at Zucchini, Seminyak, was a perfect breakfast to start the day. Another breakfast scene I had while I was in Bali.

StreetFood-Surabi

6/ When I was in Bali, I took a day off to Ubud with Sohib and Andhi in the morning (I do not want to remember about how we drove our motorcycle that day! super terrible). By evening when I and Sohib went back to Seminyak, we stopped by at Denpasar for Surabi. Yes! Melted cheddar cheese with chocolate on top? I’m dreaming of it right now.

Anomali Coffee Seminyak

7/ Warm croissant and a cup of cappuccino was so so good to start the day. Morning scene at Anomali Coffee, Seminyak.

Warung Itali 2

Warung Itali 1

8/ Had seafood spaghetti at Warung Itali, Seminyak was awesome. Well, creamy ravioli was another mouth-watering treat. Enough said :)

Kudeta&Ubud

9/ One of well-known food in Ubud, Ayam Kedewatan for lunch. And I was enjoyed my short time at Ku De Ta with slices of warm pizza.

StreetFood-Bali&SurabayaJPG

10/ Well, I have to say that I’m a big fan of well-cooked tuna fish on street food.

SushiTe

SushiTe211/ Salmon in the afternoon? I could ask more (!!) at Sushi Te. And, matcha ice cream such a perfect ending.

Tiga Hari Itu (bagian I)

Tiga hari sebelum meninggalkan Indonesia, saya sempat menghabiskan satu malam bersama sahabat-sahabat yang sering saya sebut di blog ini, Ayos, Winda, dan Ruli. Saya memenuhi janji pada Winda dan Ayos untuk menyempatkan memasak kemudian makan malam bersama di rumah mereka.

Hari itu, sedari pagi, saya sibuk mengerjakan neglected things yang seharusnya saya tuntaskan dari jauh hari. Dari kunjungan ke dokter gigi hingga mencari buku desain untuk oleh-oleh (kebodohan itu mencari buku impor in last minute!). Setelah buku ada di tangan, saya kembali tergesa-gesa mengejar waktu sholat Jumat. Saya tak mungkin rela melewatkan kesempatan terakhir sholat Jumat di Indonesia. Untung saja ada surau kecil tak jauh dari mall tempat saya berburu buku. Surau yang tak jauh dari kantor tempat Sohib bekerja. Surau itu terletak di dalam kampung yang mengingatkan saya kembali pada masa sekolah menengah pertama. Saya ingat sekali, di dalam kampung itu ada rumah kecil tempat saya belajar bahasa Inggris bersama guru yang sama yang mengajar saya di sekolah. Saya masih ingat betul bagaimana saya menikmati setiap langkah setelah ‘jumatan’. Saya dan Sohib duduk bersama dengan beberapa jenis gorengan di tangan sebagai pengganjal makan siang. Angin sepoi-sepoi di Jumat siang, di scene perkampungan yang Indonesia sekali, selalu membuat saya rindu setiap kali mengingatnya dari sini. Secuil scene siang itu sempat saya abadikan dengan iPhone :)

3HariItu3

3HariItu4

Setelah jumatan, saya kembali ke rumah untuk istirahat satu jam saja. Tak terasa jarum jam sudah melewati angka tiga. Setengah jam sebelum pukul empat perasaan malas yang kuat sekali hinggap di diri saya. Bukan kenapa, raga terlalu capai hingga sempat terpikir untuk mengurungkan niatan ke rumah Ayos. Untungnya, hati saya berkata lain. Saya mengindahkan perasaan malas karena saya tahu, jika saja saya memilih untuk tidak pergi, saya melewatkan momen persahabatan kami disaat saya masih berkesempatan.

Setengah perjalanan dari Surabaya Utara ke rumah mereka di daerah Juanda, saya berhenti sejenak di pasar serba ada untuk berbelanja bahan masakan. Saya menikmati semua hal yang terjadi di sekeliling saya. Sore itu banyak keluarga sederhana yang sekedar menghibur diri dengan berbelanja bersama. Sembari iseng, saya berpikir keluarga-keluarga seperti mereka hidupnya nampak sungguh indah (meski mungkin hanya nampak dari luarnya saja, entah). Tiba-tiba saja saya memiliki penyesalan kecil kenapa tidak menghabiskan hal sesederhana itu saat hari-hari awal di Indonesia berdua bersama Ibu. Berbelanja sore, berjalan kaki, sambil menikmati es krim berdua.

Keluar dari pasar serba ada tadi, saya mendapati langit berwarna jingga. Setelah pukul empat adalah saat dimana saya selalu merasa waktu tercantik yang dimiliki sebuah hari. Saya pun kembali mengendarai motor menuju rumah Ayos dan Winda. Sepanjang jalan, saya kembali melihat banyak momen sederhana yang membuat saya rindu Indonesia. Beberapa pedagang kaki lima yang mengayuh sepeda, ibu-ibu pekerja yang menunggu angkutan kota, pria-pria yang menghabiskan waktunya di warung kopi dekat rel kereta, hingga wajah-wajah murung di dalam bis kota. Semua momen sore itu nampak seperti secuil perwujudan budaya yang Indonesia sekali.

Sesampainya di rumah Ayos dan Winda, saya mulai merasa sedih karena tersadar hanya memiliki beberapa jam dengan mereka, apalagi tanpa Maya. Sambil menunggu Ruli, Winda dan saya mulai memasak menu makan malam sementara Ayos masih berkutat dengan pekerjaannya. Di dapur mungil mereka, saya meledek diri sendiri pada Winda karena menu yang akan kita masak hanya tumis selada, wortel dan jamur. Plus ayam tanpa tulang yang hanya akan digoreng, tahu dan tempe yang akan kami nikmati dengan sambal ala Winda. Bukan karena saya tidak mau sedikit repot memasak makanan yang lebih rumit daripada itu, tapi hari itu saya benar-benar lelah. Saya dan Winda beberapa kali tertawa ringan karena pisau yang kami pakai sedikit tumpul membuat pekerjaan memotong ayam menjadi begitu merepotkan.

Malam itu nikmat sederhana kembali tercipta dengan duduk bersama menyantap masakan sederhana. Kami berempat sempat bercanda ria setelah makan malam sembari bercerita banyak hal (hanya Ruli yang masih sibuk mengunyah buah stroberi dengan es krim vanila yang seharusnya bisa kami olah menjadi milkshake, sigh)Saat itulah saya merasa kesedihan saya sedikit demi sedikit mulai mencair berganti rasa syukur pada momen persahabatan malam itu. Selepas pukul sepuluh, kedua mata saya tak kuat menahan beban kantuk yang hinggap sedari sore. Pun begitu dengan Winda, Ayos dan Ruli.

Saya terbangun dalam keadaan sadar bahwa hari itu hari terakhir saya di Surabaya. Sebenarnya saya memiliki rencana memasak sarapan untuk kami berempat namun sayang, alarm di iPhone tidak cukup membantu saya bangun seperti biasanya. Winda berbaik hati menyeduh wedang kayu manis campur madu hangat yang katanya baik untuk stamina. Tak lama setelahnya, Winda harus siap-siap berangkat kerja. Saya semakin dekat dengan perpisahan semantara dengan mereka, tapi pastinya kami tidak bisa mengabaikan foto sebagai cara mengabadikan kenangan. Entah, pagi itu saya lebih menikmati interaksi antara kami daripada sekedar sibuk mengabadikan momen. Untung saja kualitas foto dari iPhone milik Winda ini mampu membuat saya tersenyum :). Oh, kami sempat berfoto di depan rumah Ayos dan Winda dengan bantuan Ayah Winda yang kebetulan mampir setelah beliau olah raga pagi.

3HariItu1

3HariItu2

Setelah cukup berfoto ria, saya harus berpamitan pulang untuk kemudian menemui beberapa lovely humans lainnya sebelum terbang ke Jakarta esok hari. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Ayos dan Winda, saya kembali tersenyum lebar melihat morning scene ala Indonesia di hari Sabtu yang hangat (damn, tiba-tiba saya rindu Indonesia :().

-bersambung-

Lagos, 8 : 40 am.