Kado Untuk Rifda

Saya pernah berjanji pada Rifda, salah satu teman terdekat, bisa pula dikatakan sahabat, untuk menulis tulisan sederhana ini sebagai kado di hari pentingnya. Tepat tanggal enam bulan lalu ia menikah. Postingan ini amat terlambat, tapi bukankah lebih baik daripada tidak sama sekali?

Saya dan Rifda satu angkatan di kampus desain produk delapan tahun lalu. Entah bagaimana awalnya kami akrab. Di angkatan desain produk tahun itu yang hanya memiliki dua perempuan, Rifda termasuk paling mudah akrab dengan teman lelaki. Ia supel sekali.

Lucunya kami tak cukup dekat di semester awal, saya dan Rifda, oh tidak, kami bertiga, saya, ia dan Ruli, kami justru dekat saat semester-semester akhir. Rifda dan Ruli dulu sering memandang saya sebagai mahasiswa yang gemar memilih teman-teman pintar. Kumpulan mahasiswa yang selalu memiliki ritme asistensi tugas mulus. Sedang Ruli dan Rifda biasa mendapatkan wajah murung dosen dan waktu asistensi yang singkat. Hmm tapi itu dulu saat kami bertiga belum cukup dekat. Persahabatan saya dengan mereka berdua masih cukup erat hingga kini meski komunikasi kami sedikit renggang karena kesibukan masing-masing.

Bagi saya Rifda memiliki kelebihannya sendiri, wawasannya cukup luas, pecinta buku, buah apel dan novel bagus. Kerapkali bisa berubah menjadi seorang pemanja dan moody.

Ada beberapa momen dengannya yang masih bisa saya ingat dengan baik hingga kini. Pernah kami menghabiskan suatu malam di rumah Ruli. ‘Sok’ sibuk membantu Ruli yang sedang dikejar deadline tugas akhir. Saya dan Rifda yang berhasil diiming-imingi makan malam gratis oleh Ruli saat itu tancap gas dari Surabaya ke Gresik. Sebenarnya bukan karena iming-iming itu sih, kami berdua sadar hanya punya hari itu untuk membantu Ruli sebelum akhirnya ia ujian. Saya masih ingat sekali bagaimana cerewetnya saya malam itu yang susah menemukan makanan warung yang menawarkan makanan rendah minyak. Saya memang kurang ajar hingga Ruli sempat diam-diam komplain ke Rifda atas sikap mengesalkan saya pada makanan-makanan berminyak itu. Padahal sebenarnya makanan yang saya pilih saat itu hanyalah sepiring Cap Cay kuah. Namun karena Cap Cay-nya ada beberapa bintik hitam sisa penggorengan olahan sebelumnya, nafsu makan saya turun seketika. Oh tapi itu dulu gegara ajaran Edwin Lau, chef yang terkenal dengan kampanye makanan sehat. Sekarang tidak lagi kok, saya pemakan segala, glutton!. Malam itu kami bertiga lebih banyak ngobrol (baca ; nggosipin orang!) daripada benar-benar membantu portofolio si Ruli. Hmm saya baru sadar kami bertiga tidak pernah berfoto bersama, poor me.

Kenangan dengan Rifda saat sekantor dulu juga masih membekas. Awalnya benar-benar aneh saat kami berkenalan ‘lagi’ di hari pertamanya, it was ridiculous!. Seperti biasa, setiap ada karyawan baru sudah jadi ritual pengenalan ke beberapa partner kerja, tapi Rifda? Oh, kami akan bekerja dalam tim yang sama. Di kantor dulu, Rifda dan saya, plus kawan kami yang juga tak selalu serius kerja, Yuriko dan Edwin, lebih banyak bertukar gosip akan banyak hal, mulai dari benda plastik yang menaungi AC kepala HRD, tentang manajer kami, hingga pandai bersandiwara memasang tampang serius saat kami harus duduk di meeting mingguan yang menjemukan. Rifda tak cukup lama bekerja sama dengan saya di tim konseptor, singkat sekali, hanya tiga bulan. Itupun hanya satu bulan setengah yang bisa dihitung aktif karena ia sering sakit hingga akhirnya mengundurkan diri.

Saya dan Rifda pernah bermimpi suatu saat bisa hidup di daratan biru. Ia terkesima dengan kemajuan teknologi Jerman, sedang saya yang tak pernah berhenti membayangkan artistiknya Italia dan Perancis. Kami pernah bermimpi bisa belajar disana. Bermimpi menjadi mahasiswa pasca sarjana yang mampu menghadang tekanan tugas-tugas berbahasa asing yang menumpuk, merasakan perubahan musim yang tak bisa kami dapatkan di negeri sendiri, berkunjung ke museum saat musim perkuliahan cukup renggang, belajar aksen bahasa setempat, hingga bermimpi bisa menjadi borjuis dadakan. Borjuis? Ya, Rifda pernah bermimpi bisa melenggang bebas masuk mengunjungi (baca ; belanja) butik-butik ternama sedang saya lebih memilih berburu makanan enak di restoran-restoran mahal. Ah, semoga suatu hari nanti mimpi-mimpi itu bisa menemukan jalannya sendiri.

Saya bahagia akhirnya Rifda menikah. Dulu saat kami intens bercakap di bbm, menikah adalah salah satu yang ia impikan dalam waktu dekat, selain perihal beasiswa master ke Jerman yang selalu ia impikan. Kini ia tak perlu lagi gelisah akan jodohnya. Tuhan telah memberinya jawaban dari hal besar yang selalu ia resahkan dulu.

Sayangnya saya tahu ia akan menikah bukan dari ia sendiri. Ia tak mengabari saya langsung, entahlah, mungkin karena terlalu bahagia sehingga lupa. Undangan virtual pun tak pernah sampai. Mungkin Rifda sadar betul saya tidak akan datang karena berada di benua yang berbeda. Kecewa iya, tapi itu terhapus dengan perasaan bahagia, karena akhirnya, doa yang dulu pernah saya panjatkan untuknya telah dijawab Tuhan di waktu yang sempurna. Menyedihkan memang tidak bisa menghadiri hari penting teman baik, but I had to face up reality that day.

Bukan saya terlalu kritis atau sensitif, tapi mungkin kita berdua harus belajar lagi bahwa persahabatan tidak seharusnya seperti bayangan, yang hanya ada saat terang namun hilang saat gelap. Kalimat didepan seperti curhat colongan ya, maaf ;). Saya akan terus memanjatkan doa untuknya agar apapun yang ia jalani di masa mendatang selalu dirahmati Tuhan. Amin.

Oh ya, masih ingat lirik lagu ini Rifda? Lirik dari lagu yang sering kita putar bersama Yuriko dan Edwin saat jarum jam kantor mendekati pertengahan angka empat dan lima? “..Engkau sangat berarti, istimewa di hati, selamanya rasa ini…jika tua nanti kita t’lah hidup masing-masing…ingatlah hari ini…”

Semoga kamu tak lupa.

Rifda1

Rifda2

Ah buku ini! Ini buku bagus dari Rifda yang ia hadiahkan untuk saya karena membantu menyusun laporan tugas akhirnya, one of my fav book from Paul Arden! Oh tidak, itu tujuh tahun yang lalu? Time flies.

Rifda3

P.S. Finally I had time untuk menghubungi Rifda dari sini sekedar mengucapkan selamat atas pernikahannya dua hari yang lalu. Terlambat sekali tapi saya yakin ia bahagia bisa mendengar suara saya dan ngobrol beberapa menit lewat telepon, terbukti she was screaming di pembicaraan awal kami. I love to make people happy. Rifda, jangan pernah lupa lirik ini “..Engkau sangat berarti, istimewa di hati, selamanya rasa ini…jika tua nanti kita t’lah hidup masing-masing…ingatlah hari ini…”. Maaf, saking sukanya saya pada lirik jenius dari P Project saya mengulangnya tiga kali. Well, like what was Henry David Thoreau said ; The language of friendship isn’t words but meanings.

Lagos, 2;39 pm.

From Dutch

 

Oleh-oleh Belanda 1

Oleh-Oleh Belanda2

#SimplyJoy is getting small souvenirs from overseas travelling. First pic is a cute bracelet for my sister that I got from my flatmate last year when he stayed for couple days before heading to Spain, and aw that ceramic mini klompen is so Dutch(!!!).

I’ve been thinking about Amsterdam as my gateway to Europe someday, Oh, Europe, I heart you.

Next (Part 2, Done!)

Ah saya baru punya waktu melanjutkan curhatan saya kapan hari :)

Belajar dengan passion itu jelas berbeda hasilnya. Kemampuan saya melihat, menganalisa kemudian menciptakan suatu desain banyak ditempa di desain produk. Kuliah disana awalnya jelas tidak mudah bagi saya, pertama, karena kuliah desain tidak murah. Kedua, persaingannya jelas cukup ketat, teman-teman memiliki kelebihannya masing-masing. Ketiga, hmm (deep breath), lingkungan sosial mungkin ya, sedikit ‘hedon’ <— ini pendapat saya pribadi ya :). Yang terakhir seringkali membuat saya kikuk, mati gaya :P.

Sejak kuliah saya selalu menanamkan niat bahwa kuliah saya harus baik karena tanggung jawab yang saya emban (<– ini bahasa saya berat sekali ;P).  Artinya perjuangan saya di bangku kuliah harus sejalan dengan perjuangan orang tua, kasihan mereka kan jika saya tidak serius. ‘Baik’ bukan berarti nilai saya semuanya harus A atau harus cumlaude atau tak pernah sekalipun mengulang mata kuliah di semester selanjutnya. Baik itu harus bisa menguasai ilmu dan penerapannya. I’m thinking.

Empat tahun belajar disana mengisahkan banyak hal yang kadang membuat saya tersenyum sendiri saat ini. Mahasiswa yang tidak modis, apalagi gaul, tanpa gadget yang mendukung kuliah (I had no laptop that time, can you imagine? ;P), sedikit nerd yang menyukai perpustakaan bukan hanya karena koleksi bukunya tapi internet gratisnya (whatta pity me!), ah semuanya terdengar lucu sekarang. Bersyukurnya saya bisa menyelesaikan empat tahun disana meski di detik-detik terakhir kelulusan, saya nampak pontang-panting karena kecerobohan manajemen waktu saat tugas akhir (phew!). Tapi untungnya, semua terlewati dengan baik. Sekali lagi, saya melibatkan passion meski passion saya saat itu agak labil.

Dua bulan setelah resmi menjadi Sarjana Teknik (kenapa bukan Sarjana Desain? :P ah sudahlah), saya menerima pekerjaan pertama. Sebenarnya dua bulan sebelum saya resmi bekerja di suatu perusahaan, saya sibuk dengan proyek seorang dosen di kampus, jadi bisa dibilang saya belum pernah menganggur :P. Menerima pekerjaan pertama di salah satu perusahaan perhiasaan terbesar di Indonesia? Perhiasan? Mimpi apa coba, saya sama sekali buta seluk beluk perhiasan.

Apa saya ala kadarnya menerima pekerjaan itu setelah melewati dua kali tes psikologi dan dua kali pula wawancara? Ala kardanya? Tidak. Saya tidak akan mau mengatai diri saya seperti itu, kenapa? Karena begini ; sikap sok-sok pemilih untuk seorang sarjana baru TIDAK berlaku bagi saya. Keputusan mengambil pekerjaan pertama sebagai salah satu tim konseptor perhiasan paling tidak membuka pandangan saya untuk belajar ilmu baru. Selama disana saya belajar banyak, proses desain, flow penjualan, produksi, dan hal-hal semacamnya yang dulu tidak saya dapatkan di bangku kuliah. Tak hanya itu sih, saya belajar team work yang sesungguhnya, team work dalam tim desain saya sendiri dan dengan tim departemen lain. Di perusahaan itu pula saya menemukan beberapa teman-teman baru yang hingga saat ini masih saling bersua meski lewat internet.

Salah satu hal yang mengesankan disana adalah saat saya diberi kebebasan memimpin salah satu proyek pameran perusahaan. Lucu juga sih karena pengetahuan teknik produk perhiasan belum saya kuasai benar, cuman mungkin, mungkin lo ya :D, divisi marketing, manajer produksi dan owner perusahaan percaya saya cukup kompeten dalam mengolah konsep dan pengembangannya. Sepertinya saya ke-GR-an ya :P, maaf. Pencapaian kecil itu bisa dianggap salah satu pembuktian, pembuktian pada diri saya sendiri bahwa paling tidak saya bisa melakukan ‘sesuatu’ untuk perusahaan sebulan sebelum resmi mengundurkan diri.

Nanti kalau saya punya waktu luang, saya tulis terpisah kenangan di perusahaan itu :).

Setelah resmi mengundurkan diri, sebulan setelahnya saya langsung tancap gas ke Afrika. Disini malah lebih gila. Gilanya dalam arti positif dan negatif. Begini, saya berangkat kesini sekali lagi, nothing to loose. Saya tak tahu seluk beluk event industry. Dan….ini pekerjaan terberat yang pernah saya kerjakan! Beratnya dimana? Lain kali saya share seluk beluk pekerjaan ini :). Jika ditanya apakah passion saya kemudian berlabuh disini? Jujur, saya masih memupuknya. Saya masih belajar dan hingga detik ini ilmu dan pengalamannya luar biasa.

***

Oya, sejak pertama bekerja di suatu perusahaan, saya selalu punya time frame. Maksudnya begini, setahun bekerja biasanya saya coba flash back dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ; “sudah dapat apa saja?, gaji naik berapa (??? :P), apresiasi perusahaan pada saya ada tidak (???), sudah belajar apa saja?, pengalaman bertambah ga’?” dan pertanyaan-pertanyaan sejenisnya. Nah biasanya jika saya tidak cukup puas dengan pekerjaan, tempat kerja plus sistem-sistem perusahaan, gaji juga (!!!), saya akan memberi waktu pada diri sendiri untuk bekerja di tempat itu MAKSIMAL dua tahun. Ya, dua tahun. Saya meninggalkan pekerjaan pertama setelah satu tahun tujuh bulan disana. Tidak puaskah saya? Monggo disimpulkan sendiri :P

NEXT? Pertanyaan selanjutnya ; “habis gini mau kemana? kerja apa? punya apa? sama siapa? …apa…dimana…bagaimana…?” dengan TANDA-TANYA yang cukup BESAR yang selalu menari-nari di pikiran saya. Bahkan saat ini pikiran-pikiran itu kerap menari sendiri.

Next2

Kembali ke awal tulisan bagian pertama saat terkesima dengan blog makanan seorang fotografer profesional itu, apakah dunia seperti miliknya akan menjadi pelabuhan saya setelah ini? Apakah saya akan siap meninggalkan semua fasilitas plus gaji dalam bentuk dolar? Ini pertanyaan bagus. Saya pribadi tidak pernah takut kehilangan pekerjaan dan fasilitasnya. Bagi saya kesempatan berkembang dan tahu banyak hal baru itu jauh lebih penting dari sekedar duduk manis di zona aman dan mengerjakan hal yang itu-itu saja. Bisa jadi nanti, saat saya siap, saya akan meninggalkan ini untuk melabuhkan passion saya di dunia kreatif yang lain.

Hanya saja saat ini saya belum merasakan zona aman di industri ini, saya belum settle dari segi ilmu, pengalaman dan juga pendapatan, but sooner or later I’ll fly higher than today! I BELIEVE.

Apericena

Firstly forgive me cause this post has too many pictures, I couldn’t control myself to attach them on. All of them have been chosen from three hundred and sixty something that I took one day for official opening of the company where I’m working with present. Choosing them wasn’t easy :D.

I’m so excited for this because I just realized that I could capture better and better. I do believe that good isn’t enough when better is possible and that’s why I will always learn harder sharpen my eyes to capture beauties around. O yes, I’m such a hunger for photography recently esp for space (!!!).

Alright last week on Friday, my company finally launched officially the new branch on Victoria Island with Traditional Italian Apericena concept. Do you know what is Apericena? Basicly Apericena is comes from two words ; Aperitivo and Cenna. Aperitivo or Aperitiv in Italy is just like open meals when people gather around just standing up with wines, champagne or other alcoholic/non alcoholic drinks and small foods. Aperitivo itself being served in many cafe in the early evening all around Italy. And Cenna means ‘dinner’ where people eat heavier meals. So Apericena is just like gathering two Italian meal structures start from Aperitivo with small foods and drinks, then eat heavier after for dinner but the food as I knew is lighter foods.

The Italian concept wasn’t only the flows of the event, the foods, but also on the decor. We decided to build pergola in white with a rustic touch and delphiniums hanging from top as an entrance, everyone loved that!. Because our office isn’t big and has two spaces one for floral and the other for decor so, we did two different concepts. For the backside we hanged white paper lanterns in different sizes which was very dramatic. Anyway I’ll show from the decor, here we go!

Apericena-Decor2

Apericena-Decor3Apericena-Decor5

Apericena-Decor 4

Apericena-Decor1

Apericena-Decor6

Now I’ll show you the flowers that made all guests amazed, flowers are always breathtaking, eye-catching and enchanting! My fav one apart of Peonies (!) is the reflection of the window display, pic number three!. See that giant cactus is bigger than my head! I couldn’t imagine if somebody smacks that to my head ha!

Apericena-Flowers9

Apericena-Flowers1

Apericena-Flowers4

Apericena-Flower2

Apericena-Flower3

Apericena-Flowers2

Apericena-Flowers7

Apericena-Flowers8

Apericena Night

Apericena-Flowers6

After worked overnight for three days there, slept inside car, on top of reception table once, junk foods for dinner (yikes! <– I had no choice :3), so apart of my job, there was time to enjoy the foods! Not only enjoyed the western foods and Italian foods, I was too busy running up and down to capture them :P even when I was enjoying the foods! I was busy to find black background and kept my plate on straight line with left hand and the right hold Nex7! Haha ridiculous!

The Apericena foods were slow roasted fresh bacon with spicy tomatoes (<– for sure I couldn’t eat that :D), baguettes, cheeses ; mozzarella and scarmosa (love them!), pasta!!!, big prawns with olive sauce, carrot cakes with cheese on top, I couldn’t remember one by one but I still remember after I ate five prawns, my fingers were freezed for a second :D Oh I hope I have no cholesterol ;P I just love that prawns! Yum!.

Beside the Italian, fusion foods were served as well like beef in heavy sauce, couscous with pome, salad, lamb, anymore. I enjoyed the fusion before italian (<— this sentence makes me hungry right now!). O yeah the chef that cooked the Apericena came straight from Florence so the taste was genuine Italian, his name is Nicollo. Hey wait should I move to be a coast to coast chef and travel more outside country just only for cooking? Haha, no, I prefer to be a food photographer with the same chance :P, I talk to much right? Sorry, foods? this!

Apericena-Foods6

Apericena-Foods1

Apericena-Foods5

Apericena-Foods4

Apericena-Foods2

Let me attach behind the scene :)

Apericena-BehindTheScene1

Apericena-Foods3

Apericena-BehindTheScene3

Apericena-BehindTheScene4

Apericena-BehingTheScene5

Apericena-BehindTheScene7

1) Nicollo, the chef . 2) Cheeeese! . 3) All guest got the souvenirs, a cute kalanchoe and one bottle of red wine! . 4) Madam Uche and Gozie after TV Interviews, I love what was Madam Uche wore that day, stylish orange! . 5) That isn’t my hand :P I can’t arrange flowers! My flatmates did great job a night before the event :D . 6) Ups those cutlery is very nice, we ordered them from ASA Germany, do you know it’s a bit sad that we couldn’t use them all cause preparation time was too short :( my imagination of those foods pretty arranged on them were disappeared, I wish I could bring those white plates and play at house on Sunday :P

Last, don’t mind me, just wanna pop in small thing! :D O I bought that black shirt as dress code few hours before the event cause I had no one (<– pity you!), o damn, finally found small size and very nice black cotton after went in and out some stores but the price guys? I don’t want to mention it cause rrrgh my saving money…o…I’m going home soon…I need moneyyy!!! :( nope I can’t be like that, lemme change –> :)

See this pic below, grey shirt and black? I love that colors! hehehe I’m so monochrome for shirt :) forgive me Dad for that champagne :P. Am I right that this post is so loooong? haha hope you enjoy this :)

Azis

Apericena-BehindTheScene2

Yummy&Colorful

So After I cooked Semur that day then I decided to cook this pudding, combining creamy milk pudding under and juicy jelly on top and colorful fruits for topping. This kind of dessert is really easy to make and enjoying this after meal is yummy indeed! :D the simplest dessert that I really enjoy to cook and eat!. Those fruits made me giddy to capture more and more. The colors hah? Oh.

Yummy&Colorful1

Yummy&Colorful2

Yummy&Colorful3

Yummy&Colorful4

Colorful Hah!

Colorful Huh?

#SimplyJoy is having a ful big bowl of fresh colorful fruits and jellies! Hey I decide to post the dessert I’ve told on my previous post tomorrow! I’m going to lay myself on bed and watch movie, so tired today! Picture above is so neon, captured with Nex7 + Neon effect but the fruits itself was co colorful, love those kiwi, peach and cherries!

Savoury Semur

I knew what I wanted to eat today since early last week, its Semur :). Yes, Semur was on my head since, I wanted to cook and enjoy that Indonesian food this Sunday and I just did it.

Actually this Semur has been tweaked from the original recipe. I tried to cook simpler than it should be, I mean I use spices that I had and tried to present it as close as the original one. I used basic spices, gloves, keycap, and for this Semur I used beef meat and liver. I’m so happy because I still have Kecap, and it made my Semur today was so perfect, oh nope, it wasn’t only Kecap actually, I putted gloves on it and the flavor was different! I ate this Semur with rice vermicelli instead of rice and served with boiled eggs and I had simply fried fries also, sprinkled with black pepper and salt. For drink, simply iced lemon tea, fellas it was savory for my late lunch.

I posted Semur before (!!! It was last year what??) and you can see that the pics here are so much better taken. I will learn more for food photography and for sure, cooking better. Anyway I will post my dessert after I cooked Semur later, I’m going to boil rice vermicelli for Semur, It’s dinner time now, nom-nom ;)!

Its Savoury 1

Its Savoury 2

Its Savoury 3

Its Savoury 4

Its Savoury 5

Cups of Beauties

Im so giddy for these three pics I chose for this short post, giddy for the color (!), the freshness (sure!), and their beauty. I captured them three days ago on breakfast time (yup! they were my breakfast) on top of my flatmate’s bed :P. Bed? Yup I wanted the dramatic color for the background and I think that black bed cover was perfect. Anyway those cherries were yummy and so fresh! My curiosity for cherry was over, (curiosity?) Yup! It was my first time I tasted fresh cherry, hahaha, poor me :P

DSC02150

DSC02173

DSC02151

Next (Part 1)

Next

Pukul setengah tujuh petang, atau setengah jam setelah jam kantor berakhir, saya masih mendinginkan kepala di depan layar laptop. Jari-jemari saya masih lihai melaju santai di atas trackpad, sesekali mengetik keyboard, memasukkan kata-kata kunci yang mengarahkan atensi saya pada beberapa halaman web. Halaman-halaman itu random sekali, mulai dari mesin jus yang ingin saya beli nanti saat di Surabaya, beberapa merk dslr plus lensa-lensanya yang memanjakan mata (sesekali membuat saya lemas karena harganya ;3), hingga halaman blogger makanan dari beberapa negara.

Yang terakhir itu paling berhasil membuat otak saya sedikit lebih dingin dari traffic jam tasking-tasking pekerjaaan yang belum selesai hari ini. Blog makanan yang kualitasnya yahud seringkali membuat saya menjadi nakal. Membuat saya sejenak lari melupakan target-target pekerjaan. Hari ini saya terpukau dengan blog milik seorang fotografer profesional asal Irlandia yang sekarang berdomisili di Australia.

Beberapa kali saya mengumpat hasil karyanya.

Kemudian saya berpikir, “sepertinya aku harus meninggalkan pekerjaan ini untuk mengejar passion di dunia kuliner, itu duniaku! Ah, makanan-makanan itu, propsnya, pencahayaan dan anglenya, oh warna strawberi, tone jeruk dan salmonnya? coklat, buku? Dia menulis buku makanan? Hmm… ” dengan terus mengumpat hasil jepretan fotografer tadi saking indahnya.

Pernah terlantas di benak anda seperti apa yang saya rasa tadi? Saat anda melihat sepertinya dunia yang anda cintai jelas di depan mata namun anda belum berada di dalamnya?

Dari kalimat di atas, apakah anda berpikir saat ini saya bekerja secara terpaksa? Terpaksa bekerja di dunia yang bukan passion saya? Well, jika anda berpikir seperti itu, coba saya jelaskan. Tidak, bukan penjelasan yang akan saya tulis setelah ini, sekedar curhatan atau apa ya, mungkin sharing, kata yang jauh lebih tepat.

Dulu, saat saya menempuh tahun pertama di sekolah menengah umum, saya sudah tahu apa yang akan saya ambil jika saya kesampaian kuliah dua tahun setelahnya. Saya yakin jurusan Hubungan Internasional itu tempat saya. Kenapa HI? Saya pikir jurusan itu keren. Saya tak mahir ilmu politik, pengetahuan politik saya amat dangkal, komunikasi saya buruk. Tapi yang jelas, saya selalu terpukau dengan seseorang yang mahir berbahasa asing. Mungkin itu sebabnya di pikiran saya HI itu keren, karena kita diwajibkan bisa berbahasa asing. HI juga seperti sebuah tantangan bagi saya yang sejak SD menyukai Bahasa Inggris daripada mata pelajaran lain. Tantangannya ada pada kesempatan melatih Bahasa Inggris itu tadi secara otodidak. Saya tak cukup beruntung karena harus memendam impian bisa merasakan kursus bahasa seperti teman-teman saya yang lain. Tapi toh saya percaya dengan belajar sendiri juga akan bisa dengan kamus Inggris-Inggris Oxford bekas yang dibelikan Ayah di pasar loak. HI masih ada di benak saya hingga saya akan menempuh ujian nasional.

Apakah HI pilihan saya di ujian masuk untuk menjadi seorang mahasiswa? Sebentar, ini intermezzo. Suatu siang saat saya duduk di bangku, mengikuti materi bimbingan belajar gratisan di kelas, seorang mentor pelajaran Bahasa Indonesia mendekati saya. Perempuan setengah baya itu sedikit menegur saya karena tidak konsen mendengarkan materinya. Tengurannya halus sekali, bahkan saya pikir itu bukan teguran. Ia bertanya “Azis, jurusan apa yang akan kamu pilih saat kuliah nanti?” Saya jawab dengan jawaban yang sama yang selalu saya berikan pada siapapun yang bertanya hal serupa, “HI, Hubungan Internasional!”. Tentu dengan nada yang selalu mantap saat saya mengucapkan dua huruf keren itu.

Ia kemudian bertanya kembali, “Kenapa HI? Kenapa kamu tidak mencoba peruntungan di desain produk?”, Saya yang siang itu masih bloon apa itu desain produk, hanya berbalik bertanya “Jurusan apa itu?”. Mentor saya kemudian berkata “Saya kira kamu punya tempat disana, sketsa tanganmu bagus sekali, kenapa kamu tak mencobanya? Coba besok, saat jam istirahat, usahakan ke ruang BK, cari informasinya. Saya melihat brosur desain produk”. Kemudian ia menuju tempat duduknya di depan kelas sambil tersenyum simpul.

Sejak itu saya tahu, bahwa diluar sana ada jurusan desain yang baru saya sadari, jurusan itu MUNGKIN bisa menjadi tempat setelah saya kuliah. ‘Tempat’ yang saya maksud lebih tepatnya ; Tempat dimana saya bisa kuliah jika saya tak diterima di HI, jurusan dimana hanya menampung tiga puluh mahasiswa baru dari tiga ribuan peminat setiap tahun sesuai kuota jalur reguler.

Waktu berselang, saat semua proses untuk menjadi seorang mahasiswa baru terlampaui dan mendapatkan kabar gembira bahwa saya, lulusan SMA jurusan IPA yang sok-sok’an mencoba peruntungan lewat jalur campuran (IPA+IPS) di UMPTN dengan hanya belajar tiga malam dari buku latihan UMPTN dadakan, yang lupa sama sekali apa itu rumus-rumus ekonomi, sejarah peradaban Cina, apalagi sosiologi, akhirnya ada di daftar tiga puluh orang di jurusan HI. Senang? Bangga iya. Apa HI kemudian tempat saya berlabuh? Ternyata tidak. Saya juga diterima di desain produk.

Keputusan yang sedikit memusingkan antara HI dan desain yang harus saya ambil di waktu yang bersamaan akhirnya dimenangkan desain produk. Apa yang melatarbelakangi keputusan saya saat itu? Jawabannya mudah sekali ; Passion. Kembali lagi, sederhana, saya mengikuti passion. Saya menyukai keindahan visual, tangan saya selalu menciptakan coretan-coretan sejak kecil, saya menyukai alat-alat tulis, cat warna, kanvas, foto-foto indah di kalender duduk yang sering saya jiplak di karya lukisan saat SMP, dan hal-hal kreatif lainnya. Saya kira alasan saya masuk akal, mengasah apa yang saya punya jauh lebih cepat dan berhasil daripada memulai sesuatu yang belum saya ketahui sama sekali. Bertemu dengan pribadi-pribadi kreatif membuat saya mensyukuri keputusan itu. Serasa menemukan tempat yang tepat, saya menikmati belajar ilmu desain yang dinamis dengan karakter-karakter teman yang unik, pun kemampuan desain yang beragam. Jadi, menyelesaikan studi desain selama tepat empat tahun adalah salah satu tahapan yang saya pikir berhasil saya tempuh dengan passion itu tadi.

Tadinya saya janji akan tidur lebih awal pukul sepuluh, otak saya sudah berimajinasi mau diapakan ceri-ceri cantik yang kedinginan di lemari es besok pagi, ya sudah, besok saya lanjutkan tulisan ini.

Lagos, 11.01 pm