The New Wave of Friendship.

A goofydreamer.

Saya ingat betul posisi duduk saya waktu menginjak kelas satu sekolah menengah pertama. Di pojok barisan paling depan, persis dekat pintu masuk. Saat jam pelajaran mulai masuk pukul 3 sore karena saat itu saya masuk sekolah siang hari, angin mulai menyapu wajah dan sejenak bisa mengubah hingar bingar kelas menjadi sunyi. Sunyi bagi saya setidaknya.

Ah itu dulu, jangan disamakan dengan sekarang. Dulu saat pertama kali masuk SMP saya jelas teramat pendiam hingga hanya memiliki beberapa teman yang bisa dihitung jari. Saya bukan termasuk daftar anak gaul yang populer. Mungkin dulu saya memang lambat beradaptasi ke dalam lingkungan sekolah yang rata-rata muridnya memiliki nilai akademis diatas rata-rata. Tapi itu hanya bertahan saat kelas satu dan berubah saat kelas dua dan tiga. Teman-teman saya mulai banyak.

Beralih ke SMA saya rasa saya cukup berhasil melalui masa transisi dari seorang murid yang pendiam dengan teman-teman yang terbatas menjadi murid yang banyak teman. Tentu saja saya cukup bersyukur karena mengawali SMA di kelas yang berisi teman-teman super humble. Kelas satu SMA merupakan kelas terbaik yang pernah saya lalui.

Sekarang? Semuanya berbeda. Mencari teman bukan perkara rocket science. Apalagi jaman sudah berubah sejak bermunculan jejaring sosial. Dimulai dari Friendster yang booming sekitar tujuh tahunan yang lalu, kemudian Facebook, Twitter dan yang terakhir Path dan Line. Jejaring sosial macam mereka memang banyak membantu memperluas pertemanan, paling tidak itu yang saya rasakan saat ini.

Sebagai contoh, saya mengenal Winda Savitri berawal saat saya mengurus visa di Jakarta. Saya dan Ruli yang kenal dengan Winda lebih dulu dari Ayos bertemu di Grand Indonesia Jakarta. Siang itu merupakan pertemuan pertama saya dengan Winda. Kami berbincang ringan di salah satu restoran Jepang sembari menikmati menu yang kami pesan. Saat pikir pertemuan itu salah satu awal dari pertemanan yang lebih luas hingga kemudian saya bertemu Maya Wuysang. Pertemuan saya dengan Maya terjadi saat saya, Ruli dan Winda sepakat berlibur singkat ke Bandung bulan Juni tahun lalu. Pertama kali bertemu Maya dengan kepribadian yang easy going saya pikir kami berempat benar-benar klik, bisa gila berempat dengan topik ‘kesogehan’ yang diagung-agungkan Ruli. Kami berteman baik hingga saat ini.

Selepas kenal dengan Maya, saya mulai kenal dengan Nuran Wibisono. Penulis ciamik lulusan Sastra Inggris Universitas Jember yang sekarang menimba ilmu di Magister UGM. Saya mengenalnya saat tak sengaja masuk ke blog miliknya, Foi Fun. Saat itu saya membuka blog Nuran dari link travel blog super kece Hifatlobrain milik The One and Only, Ayos Purwoadji. Blog dengan bahasan ringan namun berbobot itu cukup sering saya sambangi apalagi saat ia memposting tentang kesempatan mengunjungi beberapa negara Eropa hingga ke makam Jim Morisson. Dan memang harus diakui, Hifatlobrain dan Foi Fun adalah dua blog yang membuat saya mulai memberanikan diri membuat blog. Lebih tepatnya rajin memperbarui blog dengan konten yang berbobot. Dan saya rasa menulis di blog jauh lebih menyenangkan daripada nongkrong didepan Facebook dan melihat beberapa orang sibuk berkomentar di status orang lain. Coba buka blognya deh, saya jamin kontennya menarik. Saya dan Bang Nuran (begitu saya memanggilnya, karena dulu saya kira ia berusia 27-an, eh ternyata…beda setahun lebih tua dari saya, ealah!) lebih sering berkicau di twitter tentang makanan, resep, hingga battle masak yang belum kesampaian sampat saat ini. Oh ya, Bang Nuran ternyata juga memiliki  hobi masak. Mungkin suatu saat nanti kita bedua akan battle membuat sushi, hehehe.

Kenal dengan Nuran berlanjut dengan Slamet Utomo Rukmono atau biasa dipanggil Panjul. Teman bang Nuran ini seorang penggila sepak bola yang tak henti-hentinya berkicau tentang bola di akun twitternya. Saya juga sempat membaca beberapa tulisan bagusnya di blog miliknya. Mungkin suatu saat nanti saya bisa membuat si Panjul super iri jika bisa bertemu dengan suku magis Dogon di Mali. Kalau saya sampai bisa bertemu mereka saya janji akan memamerkan kisah perjalanan saya padanya. Masih satu line dengan Nuran, saya juga kenal dengan bang Sukmadedetraveler yang tak lelah mempromosikan Indonesia di setiap perjalanannya, simak cerita-cerita bapak satu anak ini disini. Sepertinya sekarang bang Sukma sedang gencar mempromosikan kids travelling, agar anak Indonesia mengenal negerinya sedini mungkin. Keren ya!

Pertemanan saya semakin melebar dan mulai kenal dengan traveler sekaligus writer cewek yang juga tak kalah kece, Dwi Putri Ratnasari atau mudahnya panggil saja Putri. Lulusan Airlangga ini sudah menyelusuri beberapa spot menarik di Indonesia, salah satu yang membuat saya iri ketika ia berkesempatan mengeksplor Sumba. Putri ini sepertinya juga seorang easy going dan kerennya lagi cewek ini pernah jadi salah satu traveler pilihan ACI bersama Ayos. Ia berkesempatan mengeksplor Kalimantan. Kunjungi blognya disini.

Baru-baru ini teman saya bertambah, namanya Fahri Zakaria. Ia punya blog yang memuat postingan spesifik tentang musik yang, yah ia bisa disebut music blogger. Baru-baru ini blognya sempat masuk nominasi blog musik terbaik yang dihelat salah satu provider telekomunikasi. Sepertinya Masjaki ini paham betul dan mengikuti perkembangan musik Indonesia dari era ke era. Ia juga pernah berkesempatan mengunjungi Iran officially (Keren!). Satu lagi, si mbak lucu Ririn Datoek. Ah belum bertemu saja kami sudah klik. Mbak satu ini saya kenal juga lewat blognya WOWnderfulife saat kesasar membaca postingannya tentang ibadah umrah yang pernah ia jalani. Kami sempat chatting di ym beberapa waktu lalu hingga larut malam. Mbak Ririn ini sepertinya orang super sibuk. Hari-harinya dipenuhi meeting dengan klien2nya di perusahaan advertising tempat ia hidup sekarang, Jakarta. Yang terakhir mas Immanuel Sembiring. Bapak ini gila! Sudah hampir keliling dunia sepertinya, dan salah satu yang membuat saya iri, ia pernah ke Macchu Picchu di Peru dan tempat-tempat eksotis lainnya, coba cek disini. Keren euy!

Mungkin akan lebih menyenangkan jika saya bisa bertemu langsung dengan bang Nuran, Panjul, bang Sukma, Fahri, Putri, mbak Ririn, Maya, Winda, Ayos, Ruli, bang Immanuel dan teman-teman kami lainnya di kesempatan yang sama suatu saat nanti. Semeja, menikmati keakraban, makanan yang enak, bertukar cerita, kemudian berfoto bersama! Sepertinya bakal menyenangkan. Semoga saja tahun depan kami tak hanya saling berkicauan di twitter, tapi bisa benar-benar bertemu. Semoga.

Ah, kali ini mungkin saya bisa mengejek balik bapak saya yang dulu sering sekali meremehkan pertemanan saya. Kata beliau saya tidak cukup pandai bergaul karena terlewat pendiam, sekarang ‘Hey dear Dad, I changed!’.

Bertemu Aunty Linie!

Me and Aunty Linie.

Saya selalu suka bertemu dengan orang baru yang humble, kemudian berbincang, dan mulai bertukar wawasan. Saya pikir itu asik!

Sudah hampir dua minggu ini Aunty Linie, salah satu sahabat Madam Uche sering ke kantor mengerjakan sebuah riset untuk program yang ia kerjakan. Pertama bertemu dengannya, telinga saya mendeteksi aksen dan pronunciation-nya. Sepertinya wanita ini tinggal di luar dan ternyata dugaan saya tepat, ia tinggal di Amerika Serikat.

Saya sempat berbincang singkat dengan wanita asli Kenema dan tumbuh besar di Freetown, ibukota negara kecil di Afrika Barat, Sierra Leone. Aunty Lini pindah ke Amerika sejak tahun 1996 hingga sekarang menetap di negara bagian Maryland bersama suami dan kedua anaknya.

Perbincangan singkat saya awalnya dimulai dengan menanyakan hal-hal ringan seperti apa yang sedang ia kerjakan, tujuan risetnya, bla bla bla. Kemudian semakin lama kami mulai bercerita tentang hal yang kita tahu, mulai dari bagaimana dulu ia pertama mengunjungi Nigeria, kepindahannya ke Amerika hingga mencapai bahasan yang saya suka. Apa itu? Promosi tentang Indonesia.

Mulanya Aunty Linie bertanya tentang bahasa, budaya dan makanan Indonesia. Bagi saya ini kesempatan bagus untuk cas cis cus mengibarkan pesona Indonesia. Saya mulai menceritakan tentang apa itu Batik, Jawa, Papua, Raja Ampat, Reog Ponorogo dan bahasan budaya lainnya. Ia amat tertarik dan menyimak dengan seksama apa yang saya ceritakan. Apalagi saat saya menyebutkan jumlah pulau yang dimiliki Indonesia, 17 ribu lebih pulau yang membentuk kesatuan Republik Indonesia. Jumlah pulau yang berlimpah selalu membuat siapa saja yang bertanya tentang Indonesia disini mesmerised. Bagaimana bisa negara mempunyai pulau segitu banyaknya?

Aunty Linie bukan wanita lima puluh tahunan yang tidak suka sejarah dan budaya. Dari perbincangan sore itu saya bisa dengan mudah menyimpulkan ia suka membaca. Ia tahu apa itu Batik meski belum tahu makna dari motif-motif didalamnya. Saya begitu excited menceritakan bahwa di Jawa saja, rupa-rupa batik berwarna-warni dengan ciri khas daerah penghasilnya. Kemudian beralih ke kekayaan bawah laut terlengkap di dunia yang dimiliki Papua, kekayaan hutan di Kalimantan, hingga eksotisme Bali. Aunty Linie sendiri sudah mengunjungi beberapa negara di dunia kecuali ke Asia, dan ia menyebut Thailand sebagai negara yang ia ingin kunjungi jika memiliki kesempatan ke Asia. Kenapa Thailand? Ia bilang ingin belajar teknik memasak masakan Thailand. Kemudian apa yang saya ceritakan setelah ia menyebut makanan Thailand? Tentu saja promosi kuliner Indonesia! Saya menceritakan keanekaragaman kreatifitas kuliner yang dihasilkan setiap suku di Indonesia dan tentu saja dengan yakin memproklamirkan bahwa kekayaan kuliner Indonesia tentu lebih lengkap dari Thailand. Pertanyaan yang membuat saya semakin excited yang ia utarakan saat itu adalah “Apa yang membuat Malaysia lebih bagus dari Indonesia, dan kenapa banyak orang yang belum tahu apa itu Indonesia?” Whats???? Ia membandingkan negara saya dengan tetangga sebelah?

Saya menjawab dengan netral sesuai pandangan saya pribadi, bahwa yang saya tahu promosi keindahan Indonesia memang masih kalah dengan negara-negara tetangga yang semakin gencar mempromosikan negaranya sendiri. Ini cukup menyedihkan karena setiap kali saya melihat CNN di kantor, negara sekecil Georgia dan Azerbaijan saja bisa mondar-mandir beberapa kali setiap hari. Bagaimana dengan Indonesia? Promosi wisata yang efisien dan tepat sasaran mungkin bisa menjadi salah satu upaya untuk bisa tampil lebih cemerlang di kancah dunia. Apalagi jika industri pariwisata yang dikelola dengan cerdas bisa menjadi salah satu aset yang menjanjikan. Sangat disayangkan memang jika bangsa lain lebih mengenal Thailand atau Malaysia dibanding negera besar yang memiliki sejuta pesona seperti Indonesia.

Ada dua hal yang membuat saya selalu excited bertemu dengan orang baru yang lama tinggal di negara lain. Pertama, saya bisa cas cis cus dengan tata bahasa yang benar. Bahasa Inggris memang menjadi bahasa saya sehari-hari disini namun selalu ada yang berbeda jika saya berbincang dengan lawan bicara yang smart. Otak saya secara otomatis bekerja menyusun bahasa inggris dengan tenses di setiap kalimat yang saya hasilkan. Itu tidak mudah jika kita tidak melatih dan mempraktekannya setiap hari. Dulu pertama kali tinggal disini, saya masih membutuhkan tiga bulan untuk sesi listening dan memahami tone british english, pronunciation, dan pembendaharaan kata-kata baru. Bukannya saya tidak berbekal bahasa inggris, namun bahasa asing tetaplah bahasa asing, dan menurut saya kita baru bisa disebut menguasai bahasa asing saat kita mampu berbicara spontan dan lancar tanpa harus berpikir menyusun kalimat yang ingin diucapkan. Apalagi saat ingin marah dan mengumpat seseorang, ah itu bukan perkara mudah!

Kedua, bisa bertukar cerita tentang keunikan bangsa kita masing-masing terlebih dengan orang yang belum tahu dimana dan seperti apa Indonesia. Ah ini bagian menarik. Bukankah mempromosikan keindahan dan kekuatan bangsa itu salah satu bentuk sederhana membela negara? *kenapa menjurus ke PPKN < Hehehe. Saya pernah menulis tentang salah satu olahan jollof rice kan? Aunty Linie yang tahu seluk beluk budaya Afrika dengan baik menjelaskan pada saya bagaimana teknik memasak jollof rice yang otentik, termasuk bahan-bahannya sesuai dengan awal mulanya suku Wollof meracik menu ini. Ternyata dahulu suku Wollof memasak menggunakan kaldu ikan untuk bumbu nasi yang mereka ciptakan, memakannya pun dengan ikan bukan dengan daging sapi seperti yang saya tulis sebelumnya. Daging sapi dijadikan teman Jollof rice karena pengaruh Eropa, begitu ujarnya. Saya sempat menanyakan tentang suku Dogon di Mali, ia menyatakan bahwa salah satu suku otentik Afrika yang terkenal luas dengan kemampuannya dalam bidang astonomi itu memang magis. Sayangnya sepertinya keinginan saya mengunjungi Mali harus ditunda dulu saat ini karena kondisi negaranya yang masih dilanda konflik berkepanjangan. Tapi saya masih benar-benar ingin mengunjungi suku unik itu dan tentunya Timbuktu suatu saat nanti.

Aunty Linie sudah kembali ke Amerika dua hari yang lalu, ia meminta saya memotretnya bersama dengan Madam Uche dan Oga Majek di kantor sebagai kenang-kenangan. Lantas saya memberi copy foto mereka ke dalam laptop mungilnya. Sebelum ia meninggalkan kantor ia berpamitan pada saya sembari berpelukan, dan mengatakan terima kasih pada semua orang dikantor. Kini Aunty Linie mungkin sudah sampai di Maryland melanjutkan kehidupannya di negeri adidaya itu. Oya Aunty Lini sempat memberi alamat emailnya, dan menulis seperti ini “Hi Azis, So happy to know you, thank you for the wonderful pictures, you are very talented and I wish you much the best, Aunty Linie”. Ya saya senang mendapat kenalan baru, siapa tahu suatu saat nanti saya bisa sekedar mampir ke rumah Aunty Lini jika saya berkesempatan ke Amerika. Saya percaya, suatu hari nanti. Amin.

Makaroni Saus Tomat

Apa yang akan saya lakukan pertama kali jika lapar dan tak punya uang? Berpikir.

Ya, berpikir mengolah bahan apa yang saya punya saat itu. Mencari persediaan bahan makanan yang masih ada kemudian mengolah sedikitnya menjadi makanan yang layak makan. Seperti beberapa saat lalu saat uang menipis dan perut minta diisi, ini yang saya masak, makaroni saus tomat.

Resep super mudah ini hanya membutuhkan makaroni sebagai bahan dasar dan tomat untuk sausnya. Rebus makaroni sesuai porsi yang ingin anda buat ke dalam air mendidih, tambahkan garam dan minyak sayur. Masak seperti biasa dan jaga agar makaroni jangan sampai terlalu lembek. Angkat dan tiriskan. Buat telur dadar sebagai pelengkapnya. Disini saya menggunakan dua telur dengan bawang putih, bawang merah, garam dan lada. Goreng di atas teflon hingga agak kering, angkat dan tata di meja saji.

Tinggal membuat sausnya, seperti biasa bumbu dasar diperlukan, potong bawang merah dan bawang putih secukupnya saja. Saya selalu mengira-ngira tanpa menakar bahan makanan yang akan dimasak, terlebih bawang merah dan bawang putih. Tumis keduanya hingga harum kemudian tambahkan sedikit garam dan lada sebelum menambahkan saus tomat. Hati-hati, jangan sampai membiarkan campuran bumbu dan saus tomat di atas api besar karena saus tomat akan cepat terbakar. Tambahkan air sedikit jika diperlukan agar bisa menghasilkan kekentalan saus yang diinginkan. Setelah saus matang masukkan potongan tomat segar yang dicincang sebelumnya.

Tata makaroni di atas telur dadar dan siram dengan saus tomat. Taburi daun thyme dan tambahkan minyak zaitun jika anda suka. Ini namanya resep kereatif ya? Hahaha, selamat mencoba :)

Kudu tetap makan meski bokek! Monggo :D
Sajikan panas-panas, oya! Jeruk lemon bisa ditambahkan ke dalam saus tomat jika ingin cita rasa yang lebih segar!

Bermain Hitam Putih.

Hari minggu kemarin, saat saya mulai membuka laptop mencoba untuk mengerjakan target yang sudah nongkrong di sketchbook, beberapa menit setelahnya tangan saya gatal ingin bermain dengan kamera. Biasanya saya mengambil beberapa makanan kemudian menata dan memotretnya. Minggu lalu? Saya sedang miskin, tak ada makanan. Kemudian saya berpikir bahwa cahaya sore yang masuk melalui jendela ruang makan sayang untuk dilewatkan dan hasilnya? Begini…..Hitam putih :)

Meja saya berantakan :D
Lihat mouse saya, keren bukan :D
Reminder di sketchbook. Ini masih sehari. Besok? Semakin bertambah X_X
Wallpaper saya, Unyu sekali! :D Saya jarang mengganti wallpaper di BB.
KTP Internasional :)
My lovely grey Fossil :D
Mari nyeket! :D
Sambil ngemil Loacker, Dark choco wafer!
Spanish dancer dan teman2nya mejeng di kulkas :D
Sandal-sandal seribuan…harga pas… :D
Parpumnya neng…Gucci ada…Hermes ada…silakan pili neng :D
Aer nya bang…aer…seribuan….haus bang? :D
Halo! Apa liat-liat? :D
Mumpung flatmate saya liburan ke Indonesia, gimana kalo sepatu-sepatunya diobral? :D
Sudah! Mainannya selesai…kembali bekerja…kembali ke laptop! :D

Minggu depan? Saya akan…..akan….? Memilih keluar rumah..menikmati hari minggu saya…karena? Sehari sebelumnya saya memiliki tiga venue berlainan yang harus diselesaikan! Oh…saya sudah terbayang capeknya…Fiuh!

Anyway, tetap semangat fellas!

Cheers,

Azis.

Less celebration of Adha.

Lagos, 25 Oktober 2012, 9:15 pm.

Seharusnya hari ini saya pulang lebih awal untuk menyambut Idul Adha. Tapi sayang, saya masih diganggu oleh pekerjaan di bulan-bulan sibuk ini. Apalagi tadi sore sebelum pulang, ada jadwal meeting dadakan yang harus dihadiri besok. Ah, bagaimana bisa meeting di hari libur saya! Membuat rasa malas saya menumpuk merayakan Idul Adha kali ini.

***

Sampai di flat pukul 6.35pm tidak serta merta membuat saya santai. Saya bergegas menaruh tas kulit kerbau super berat di meja makan kemudian menuju kamar mandi mengambil air wudhu. Maghrib sudah lewat sepuluh menit.

Selepas sholat saya berpikir mau masak apa malam ini. Pikiran saya bercabang harus mendahulukan yang mana, antara mensortir target harian yang tercapai hari ini dan target esok yang saya tulis di sketchbook atau memasak menu untuk besok. Ya, besok sudah hari raya Idul Adha. Flatmate saya, mas Andhi baru tiba di Jakarta. Ia beruntung tahun ini bisa liburan pas dengan momen Idul Adha dan ini artinya saya disini harus merayakannya sendiri. Meskipun ada flatmate saya, mas Manito namun ia tinggal di flat bawah dan memilih menghabiskan waktunya sendiri. Masih sama dengan lagu yang selalu saya dengarkan di momen lebaran, ‘Selamat lebaran’ yang berisi takbir, malam ini paling tidak saya masih merasa terhibur dengan takbir yang rancak meskipun dari komputer tablet. Sungguh, sebenarnya anda beruntung jika masih bisa mendengarkan magisnya gema takbir langsung dari masjid.

Saya bergegas ke dapur dengan pikiran yang masih setengah bingung. Mau diapakan dua potong paha ayam yang terbeli seharga N780. Saya memutuskan untuk memasak paha ayam dengan bumbu instan yang saya bawa dari Indonesia. Entah bagaimana malam ini gairah yang saya bangun untuk memasak menu lebaran kemudian hangus. Bahkan untuk sekedar mengupas garlic, onion, pepper dan teman-temannya. Seharusnya saya mengolah puding coklat dan sate kambing seperti rencana semula karena paling tidak masih ada yang bisa dinikmati.

Sketchbook dengan catatan harian kembali saya buka sambil mengingat apa saja yang harus disiapkan untuk meeting sialan besok sore. Perut saya lapar. Ayam yang masih mandi didalam air mendidih dengan bumbunya masih belum bisa disantap karena saya masih harus memanggangnya sebelum siap dihidangkan. Saya pikir akan menyantapnya besok saja untuk menu Idul Adha.

Sepiring Indomie dengan nasi dan daging berbumbu sisa kemarin menjadi menu makan malam saya, ah kali ini saya terjebak oleh Indomie karena rasa malas.

Melewati malam takbiran dengan setumpuk target!
Sketsa…sketsa…
Makan malam seadanya, maklum tanggal tua :D

***

Lagos, 26 Oktober 2012. 5:45 pm.

Subuh sudah lewat dua puluh menitan.Tak lama setelah sholat subuh saya menuju meja makan. Masih melihat laptop, sketchbook dan kertas-kertas sketsa di atas meja membuat saya memalingkan pandangan sembari berpikir, “sebentar, apa yang salah dengan pagi ini?” Bukankah ini hari raya, biarkan saya menikmati momen ini dulu. Kenapa mesti berpikir pekerjaan terus”. Saya bergegas kembali ke dapur untuk memanggang ayam kemarin. Oven dengan api bawah sudah saya nyalakan dan membiarkan mereka kepanasan didalam sana.

Sebenarnya tak afdol jika belum makan daging kambing di Idul Adha kali ini, namun hmmm kenapa momen ini terjadi di minggu akhir bulan disaat duit saya menipis. Di Lagos harga daging kambing yang memang tinggi membuat saya memilih ayam sebagai pengganti hidangan Idul Adha kali ini. Beruntungnya saya masih bisa membeli sepotong cheese cake dan choco peanut cake untuk cemilan. Tak ada nastar, tak ada putri salju. Cukup wafer Loacker dan es krim Haagen-Dazs. Tak terlalu buruk bukan?

Tapi tidak, pagi ini belum juga bersahabat karena hujan. Ya, hujan membuat saya mengurungkan niat keluar rumah untuk sholat Ied. Pukul sembilan hujan agak mereda meski gerimis belum berhenti jatuh. Niat sholat Ied saya urungkan karena setau saya muslim di Lagos menyelanggaran sholat di lapangan dan tak pernah di masjid. Yah, saya harus ikhlas Idul Adha terasa seperti hari biasa yang lewat begitu saja. Sial! Kenapa pula hujan datang pagi ini.

Ayam panggang bumbu rujak.
Mari makan, sayang bukan sate atau gule kambing ya?! Bersyukur sajalah, Alhamdulillah.
Choco peanut cake saat masih utuh.
Monggo icip-icip.
Es krim Häagen-Dazs Belgian Chocolatenya…..Heavenly! Trust me fellas.
Pengganti putri salju dan nastar, Best ever wafer, Loacker!

Saya berharap bisa menikmati lebaran-lebaran lainnya tahun depan dengan lebih berkesan!

Tea Time.

Ini aktifitas iseng-iseng di minggu sore, salah satu waktu favorit saya.

Saat niat memasak datang setelah nonton atau belanja kebutuhan di luaran sana, saya selalu memilih waktu yang tepat. Sore pukul empat adalah waktu terbaik. Selepas ashar saat matahari mulai teduh adalah saat dimana saya biasanya mulai memasak menu makan malam. Saya memiliki waktu sekitar dua setengah jam sebelum maghrib tiba. Sebulan terakhir ini maghrib dimulai lebih awal setengah jam dari waktu sebelumnya 19.10 waktu Afrika tengah. Tapi itu tergantung, jika saya sedang malas memasak saya lebih tertarik untuk memotret makanan. Selain memanfaatkan cahaya alami dari mentari sore, memotret makanan saat sore membuat saya bebas mengeksplor ide saya melalui teknik fotografi yang masih awam.

Lagipula sore hari membuat saya lebih bebas menyiapkan setting di atas meja makan daripada saya harus terburu-buru memotret di hari-hari aktif. Kadangkala jika saya sedang ingin mengambil gambar senin pagi dari makanan yang saya buat semalam, hasilnya tak akan serapi minggu sore.

Dua minggu yang lalu saya iseng-iseng memotret cemilan teman minum teh. Yah gaya ya ada acara minum teh sore-sore kaya orang Inggris saja :D ‘drink some english tea‘ !. Tidak foto-foto disini hanya objek latihan belajar memotret makanan dari kamera saya yang masih belum punya lensa makro terpisah. Tapi hasilnya lumayan kan? Beberapa cake cantik, cookies renyah, dan agar-agar pelangi yang tidak selesai <— ini karena saya malas! :D, terlihat begitu menggoda untuk disantap!

Apa yang harus dilakukan setelah berhasil mengambil makanan/ penganan yang akan saya tampilkan disini? Jawabannya jelas, mari makan!!!! :D

Bagaimana tergoda tidak menyantap coklat dingin yang kenyal ini? Saya menyantapnya dengan saus coklat dan alpukat! Yummy!
Ini cemilan favorit saya dari dulu, jelly coklat! :D Mudah dibuat, mudah dieksplor dan tentunya berserat! Anda bebas mengeksplor penganan ini asal saran saya, jangan terlalu manis jika anda mau menambahkan fla atau saus :)
Bagaimana dengan cake coklat ini? Bisa bayangin rasanya? :)
Bagaimana dengan Strawberry tartle ini? Ah fla didalamnya yang tak terlalu manis sangat ‘kawin’ dengan segarnya strawberry diatasnya.
Mencoba menangkap angle dari atas :D
Pineapple cake ini rasanya light!
Cookies ini dilapisi rasberry jam ditengah dan coklat diatas. Rasanya? Super duper manis! Too much, saya hanya iseng2 membelinya karena tertarik dengan kemasannya, sekarang? Cookiesnya masih kedinginan didalam kulkas, tak ada yang mau memakannya :p Tapi fotonya tak buruk kan? Paling tidak komposisinya.
Mini pancake ini hasil iseng-iseng :) Saya iris segitiga dan menumpuk irisannya dengan wafer dan pasta coklat. Hiasan diatasnya? Whipped cream! :D
Ini agar-agar pelangi yang seharusnya berlapis tujuh. Berhubung malas saya membuat lapisannya berwarna random! Lain kali saya akan membuatnya lapis tujuh! :)
Warnanya cukup vibrant ya meski tak separah rainbow-rainbow cake yang sempat booming! Karena saya memasaknya sendiri jadi saya jamin ini menggunakan pewarna makanan yang aman :)
Cookies coklat plus raisin. Ini saya beli bersamaan dengan cookies coklat tadi dan rasanya jelas lebih baik. Minum teh hangat dengan ini bukan pilihan buruk menghabiskan sore, asal, saya lebih suka menyeduh teh tawar atau teh lemon jika temannya cookies yang sudah manis.

Ranukumbolo Accomplished {Day 2}

Pagi sudah datang. Hari kedua untuk Ranukumbolo.

Saya terbangun dengan dada sesak. Tulang-tulang saya sepertinya marah karena beban lima belas kilo kemarin. Saya tak pernah merasakan sakit di dada yang cukup menyiksa seperti pagi itu. Hawa dingin yang masih saja tak mau pergi menambah remuk tulang dan persendian. Saya berusaha bangun meski tulang belakang saya sepertinya juga marah besar.
Saya melihat Ayos dan Ruli masih terlelap disamping saya, Maya dan Winda pun begitu di kamar mereka. Pukul tujuh pagi kami semua benar-benar bangun kemudian sibuk mengatur kembali ransel-ransel kami. Beberapa potong roti, Energen dan kopi tak lupa kami santap agar memiliki cukup tenaga untuk kembali menyusuri sepuluh kilometer. Kali ini kami tak ingin menghabiskan energi berlebih seperti hari pertama dengan ransel-ransel super berat. Maya bergegas mencari potter yang akan membantu membawakan ransel terberat sampai di Ranukumbolo. Hawa dingin sudah mulai mereda saat sinar mentari meninggi. Pagi itu langit semakin cerah.

Pukul delapan kami kembali semangat. Hari kedua kami lewati dengan awal yang mudah. Jalan setapak yang memiliki arah yang jelas menuntun kami menuju setiap pos di depan. Ternyata kemarin kami memang melewati jalur yang salah. Pantas saja tak ada satupun jalan setapak yang menandakan kami berada di jalur yang benar. Pagi itu formasi kami masih sama, Ayos dan Winda memimpin di depan, saya di barisan ketiga sedang Maya dan Ruli di barisan selanjutnya. Perjalanan menuju pos pertama memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam dengan jarak sekitar empat kilo. Saya, Maya dan Ruli cukup kewalahan menyusuri tanjakan dan landaian naik turun yang menguras energi. Ayos dan Winda sudah berada di depan. Saya berusaha mengejar dengan mengatur kecepatan langkah kaki dan nafas hingga sampai di pos pertama. Disana kami bertemu beberapa pejalan lain yang menikmati makan siang mereka masing-masing, beberapa diantaranya memasak mie instan dalam satu wadah. Kami menghabiskan sekitar setengah jam hanya untuk meluruskan kaki sembari mengeluarkan beberapa snack dan air mineral dari ransel. Kami butuh energi untuk bisa sampai di pos kedua yang jaraknya pun lumayan.

Setelah istirahat sejenak, kami memulai perjalanan kembali menuju pos kedua dengan formasi yang sama, saya di belakang Ayos dan Winda. Ruli dan Maya bersama saya. Jalan yang kami tempuh memang lebih pendek dibanding dari pos satu ke pos dua namun medannya mulai memiliki tanjakan yang lumayan menguras tenaga. Pukul sebelas, kami tiba di pos kedua. Kami masih perlu meregangkan kaki sebentar. Sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan pejalan-pejalan lain dengan alur berlawanan, tanda mereka telah berhasil menikmati Ranukumbolo. Perjalanan dari pos dua ke pos tiga memaksa saya seringkali berhenti dari langkah-langkah pendek. Maya dan Ruli pun begitu. Kami kelelahan.

***

Kali ini kami bertiga benar-benar tertinggal dari Ayos dan Winda yang sudah lebih dulu mengawali start dari pos kedua. Jarak dari pos dua ke pos tiga sebenarnya tidak terlalu jauh, namun tanjakan yang mulai meninggi kemudian melandai kembali benar-benar tidak mudah. Namun itu belum seberapa hingga saya menemui tanjakan yang lebih menantang menuju pos keempat. Di pos ketiga, saya benar-benar lapar hingga tak kuasa merampas meises coklat dan selai kacang si Maya untuk dioleskan diatas roti tawar yang kami bawa. Sembari menikmati makanan, tentu kami mulai mengabadikan perjalanan ini dengan kenarsisan masing-masing. Di pos tiga saya ingat satu hal, si Ruli dengan entengnya melempar kamera saya (kurang ajar!!!). Awalnya kami bertiga bergurau dengan teknik menyombongkan diri ala si Ruli (sigh!). Maya dan saya mulai menyombongkan  diri dengan membandingkan komputer tablet milik kita berdua dengan milik Ruli. Saya tak tahu kenapa saat itu Ruli kemudian berubah perasa dan melempar kamera saya. Mungkin, karena milik si Ruli bukan si buah itu! :D. Maya pun tertawa namun mulai khawatir saya dan Ruli akan bertengkar. Tapi Ruli benar-benar barbar! :D

***

Kabut mulai menebal siang itu dan kami masih harus berjuang menaklukan medan yang lebih terjal di depan. Perjalanan dari pos tiga ke pos empat benar-benar bagian tersulit. Medannya menanjak tinggi kemudian melandai cukup curam persis seperti yang sering dilontarkan pejalan lain yang berpapasan dengan kami. Perjalanan menuju pos empat yang terjal membuat saya agak khawatir dengan stamina Maya. Tapi saya akui ia begitu menikmati perjalanan ini. Semangat kami kembali membara saat mulai melihat danau dan tenda-tenda perkemahan dari ketinggian pertanda kami hampir sampai di Ranukumbolo. Kami bertiga menghabiskan waktu istirahat singkat di pos keempat sembari menikmati kabut yang masih cukup tebal. Meninggalkan pos keempat kemudian turun melalui jalan setapak yang cukup landai adalah salah satu hal terbaik yang kami lalui dari perjalanan ini. Kami sampai di tenda perkemahan yang telah didirikan oleh Ayos dan Winda setelah menghabiskan sekitar dua puluh lima menit perjalanan dari pos empat.

Ayos dan Winda sudah merebahkan badan masing-masing di dalam tenda begitu pula dengan kami bertiga. Kaki-kaki kami tak sabar untuk bernafas dan meminta untuk diluruskan. Kami tiba sore itu dengan perasaaan lega dan mempersiapkan diri melawan dinginnya malam di Ranukumbolo.

***

Hari mulai gelap dan kami mulai mencari cara menikmati malam. Kami memasak meski tak sekeren rencana saya. Sebelumnya saya berpikir akan memasak makanan yang begitu nikmat disantap malam itu. Namun suhu sekitar -5 derajat celsius melumpuhkan niat saya. Malam itu benar-benar dingin hingga saya harus menebalkan kaki dengan dua tumpuk kamos kaki seperti yang dilakukan Maya, Winda dan Ruli. Sepertinya Ayos lah yang paling tahan dingin. Malam itu kami memasak krim sup instan. Itu ide si Winda yang sepertinya malam itu mulai tak tahan lapar. Krim sup dengan tambahan potongan sosis dan keju cheddar rupanya cukup berhasil mengenyangkan kami berempat. Ruli sudah terlalu capai hingga tak bernafsu menyantap sup gurih itu.

Sebelumnya, kami berlima mulai narsis didalam tenda. Kami mengabadikan kebersamaan kami dengan gaya tren tahun ini, ‘unyu-unyu’ :P. Di dalam tenda, kami benar-benar menikmati senda gurau yang berhasil membuat kami benar-benar ngakak. Topik yang diangkat tentang si Zaenal, teman Ayos dan Ruli yang menjadi trending topic selama perjalanan.

Saya benar-benar menikmati malam itu terlebih saat saya bergabung dengan Ayos yang sibuk menangkap momen dengan kameranya. Malam itu benar-benar indah dengan beribu bintang memenuhi langit yang amat tenang. Cahaya api unggun yang diciptakan beberapa pejalan lain menambah keindahannya. Saya tak mau ketinggalan untuk mengabadikan langit. Dengan bantuan Ayos saya berhasil menangkap bintang-bintang itu. Merebahkan diri sebentar untuk menikmati langit yang sungguh luar biasa indah tak mungkin saya lewatkan meski badan tak kuasa menahan dingin.

Kami mengakhiri malam yang tenang dengan tidur lelap di tenda dan bersiap menyambut matahari esok pagi.

Maya kecapaian :D
Yey meises yang dibawa oleh Maya! Yummy!
Ini pos ketiga, tempat Ruli melempar kamera saya! Dasar barbar :(
Ayo foto-foto dulu dong, biar di gunung harus tetap eksis :D
Kita sudah bisa melihat Ranukumbolo dari ketinggian meski kabut masih tebal siang itu.
Tenda-tenda sudah banyak yang berdiri, lihat yang berwarna biru, itu tenda kami :)
Maya bersemangat karena kami semakin dekat :D
Maya masih sempat-sempatnya berpose :D
Ruli pun tak mau ketinggalan berpose :p
Sepertinya berfoto dengan signage sudah seperti keharusan ya? Saya dan Maya pun sempat berfoto di entrance :D
Wah Winda mencuri start istirahat :D Tapi tak apalah ia dan Ayos mendirikan tenda buat kami :)
Yey akhirnya kami bisa sampai dan menikmati Ranukumbolo siang itu.
View yang menenangkan!
Mereka senjata rahasia untuk tetap bersih di lingkungan yang dingin seperti Ranukumbolo.
Ini foto pesanan Maya, kakinya sudah ingin cepat-cepat bernafas! :D
Allahuakbar, bintang-bintangnya sempurna!
Foto-foto didalam tenda sebelum hoaaammm :D
Berunyu-unyu ria, ini ide si Maya! :D

 

Masih ada esok hari, hari ketiga di Ranukumbolo sebelum kami pulang ke rumah :).

Next.

Sepiring waffle dari The Orchid Bistro.

Saya kira seseorang harus memiliki ego menyenangkan diri dengan cara-caranya sendiri dan makan enak, mungkin salah satunya. Setidaknya bagi saya :)

The Orchid Bistro boleh saya sebut sebagai salah satu cafe kecil yang recommended di Lagos. Pertama kali kesini setahun yang lalu saya bisa memasukkannya pada daftar my fav cozy place in Lagos. Orchid Bistro terletak di Isaac John street distrik GRA Ikeja, hanya lima menit dari kantor. Jarak yang mudah dijangkau membuat saya kerap kesini jika punya waktu luang while I crave their dessert! :D Ya, jika kesini saya hampir selalu memesan dessert. Cafe ini menawarkan menu standar, breakfast yang umumnya jenis-jenis sandwich, dessert, main course, cocktails dan coffee.

Terakhir kali saya ke cafe ini memesan seporsi waffle. Sore itu saya benar-benar sedang crave waffle sesaat setelah jam kantor berakhir. Kebetulan saya tak memiliki event yang mengharuskan ke venue dan tanpa pikir panjang langsung tancap ke cafe ini bersama kedua flatmate saya. Setelah memesan dan menunggu sekitar lima belas menit waffle pesanan saya sudah siap disantap. Waffle yang disajikan hangat ini rasanya lembut, ditambah es krim vanila diatasnya dan lumuran madu melengkapi hidangan seharga seribu lima ratus naira atau sekitar sembilan puluh ribu rupiah. Teman yang saya pilih secangkir panas Americano dengan milk cream dan brown sugar yang disajikan terpisah. Saya menikmati setiap potong waffle yang saya pesan meski harus sedikit cepat menyantapnya karena es krim diatasnya. Harga dessert di cafe ini rata-rata agak mahal dibanding dengan cafe sejenisnya di Lagos. Namun cita rasa yang ditawarkan sesuai dengan harganya. Untuk secangkir Americano saya harus merogoh enam ratus naira atau sekitar tiga puluh enam ribu. Harga yang ditawarkan cafe ini untuk dessert berkisar mulai dari delapan ratus naira untuk sepotong cheese cake, blackforest, dan yang lainnya. Waffle memang menu termahal untuk dessert. Harga untuk main course jelas diatasnya mulai dari dua ribuan naira atau sekitar seratus dua puluh ribu rupiah hingga tiga ribu naira. Sedang minuman dan koktail harganya bervariasi mulai dari yang paling murah empat ratus naira.

Di Lagos, beberapa cafe atau restoran memang menerapkan service charge yang lumayan tinggi terpisah dari bill pesanan anda. Service charge yang diterapkan tergantung dari dimana restoran itu berada, kebetulan cafe ini berada di distrik yang cukup ramai dengan service charge yang tergolong tinggi seharga tiga ratus naira.

Jangan anda bayangkan saya selalu keluyuran memburu makanan ataupun sekedar cemilan seperti ini di Lagos karena tak bisa dipungkiri harga makanan di Lagos tergolong tinggi. Untuk sekedar menikmati cemilan dan kopi di cafe ini saya harus rela merogoh hampir seratus tiga puluh dua ribu rupiah atau dua ribu dua ratus naira, dengan perbandingan satu naira seharga enam puluh rupiah. Sekali jajan istilahnya hampir seratus lima puluh ribu? Bayangkan saja berapa yang saya habiskan untuk biaya hidup sebulan.

Namun bagi saya tak ada salahnya memanjakan diri dengan hal yang bisa menunjang semangat kita dalam hidup, salah satunya mungkin dengan hunting kuliner, karena bagaimanapun menikmati hidup itu penting.

Tiny path dari gate menuju cafe.
Ini spot favorit menikmati sore, apalagi jika hujan rintik-rintik. Menikmati secangkir Americano plus Cheese cake! Ouw perfect!
Cake display. Penganannya sudah ludes :D
Lihat interiornya, kecil ya? Tapi jelas cozy dengan lantai kayu dan table cloth putih, so classy!
Ini ruang paling pojok, hanya empat set kursi dan meja dengan tatanan yang sama.
Anthurium merah dan anggrek, fresh flower always on top of each table.
Es krim vanilanya keburu lumer diatas waffle saya yang disajikan hangat. Saya menambahkan madu! Yummy!
Hot Americano ini teman terbaik untuk waffle saya yang cukup manis, menikmati secangkir ini saat sore hujan, ouw, perfect!
Frozen strawberry cake ini another choice jika sedang ingin cemilan yang tak terlalu manis, rasanya light dan tentu saja, dingin!
Setelah icip-icip yang manis-manis, saya biasa minta penawarnya, pure water dengan lemon didalamnya.

An Amazing Woman, Madam Uche (The Lesson) Part 1.

The lesson from Madam Uche.

Niat saya memposting tulisan ini sederhana ; Your vision about African will change!

Perkenalkan, wanita disebelah saya adalah Madam Uche, Executive Director sekaligus perintis perusahaan tempat saya bekerja sekarang, Newton & David (N&D) Events. Nama lengkapnya Maureen Weruche Okaru, sekarang Uche Majekodunmi, Majekodunmi itu nama keluarga suaminya, Adekunle Majekodunmi yang juga Director di perusahaan events yang berusia hampir 22 tahun. Saya menyebut Mr.Majekodunmi dengan sebutan Oga, bahasa asli disini yang artinya Sir atau Bapak/tuan.

Kesan pertama saat saya bertemu beliau mungkin persis seperti saat anda pertama kali melihat gambar diatas, kaget. Kenapa? Saya akui melihat perawakan besar, berkulit gelap dan tanpa rambut membuat saya mesmerised meski itu hanya bertahan beberapa menit. Anda tahu bahwa sebagian besar rambut orang Afrika adalah wig? Ya, wig. Dan Madam Uche bukan bagian daripada itu, ia teramat bangga dengan rambut tipisnya. Saya tak pernah melihat ia menggunakan wig dalam foto-foto semasa mudanya. Sangat natural sebagai seorang genuine African woman.

Pertemuan perdana dengan beliau terjadi setahun yang lalu, 26 Juni 2011 saat saya baru tiba di Lagos. Saat itu kakak kelas yang merekomendasikan saya ke N&D mengajak saya langsung ke rumah beliau sesaat setelah saya mendarat dari Dubai. Siang itu adalah hari pertama di mana saya menjejakkan kaki di negara orang. Di benua yang sama sekali tidak ada di pikiran saya sebelumnya, Afrika. Saya ingat betul saat saya tiba di rumah wanita kelahiran tahun 1960 ini. Ia menyambut saya dengan sangat hangat. Siang itu terik dan saya jelas lelah setelah terbang hampir 22 jam dari Jakarta. Sesampai di rumah beliau yang teduh, saya mengenalkan diri. Beliau menjawab ” Welcome to Nigeria” sambil tersenyum. Ia menyisipkan pesan pada pertemuan pertama bahwa saya harus memliki strong character untuk bisa menghadapi Nigeria yang sesungguhnya, saya ingat betul kata-kata itu. Dan saya tidak mengada-ngada, senyuman beliau saat itu benar-benar tulus hingga saya rasa tidak perlu lagi mesmerised seperti pertama kali melihat beliau. Ia benar-benar welcome.

***

Hari-hari pertama saat Madam Uche kembali beraktifitas di kantor, saya merasa bahwa saya masih amat kaku. Saya rasa wajar karena bekerja di lahan yang benar-benar baru butuh kerja keras untuk bisa menyatu melalui adaptasi. Hal pertama yang saya pelajari adalah mengucapkan salam “Good Morning Ma” diucapkan oleh staf di kantor. Saya? Saya mengikuti. Kakak kelas saya membimbing saya dalam hal etika di kantor. Mengucap selamat pagi di sini seperti tradisi.

Beberapa hari kerja saya mulai bisa beradaptasi dengan gaya kepemimpinan Madam. Ia tipikal wanita yang sangat disiplin dan pekerja keras. Saya bisa mengatakan seperti itu karena analisa visual hingga hari ini, satu tahun dua bulan saya bekerja di N&D. Beliau memiliki gaya yang tegas dalam memimpin dan tak perlu diragukan lagi ia disegani. Watak Madam memang keras dan maaf, jika beliau marah besar, O saya pun shaking :D. Menurut saya bukan karena ia pemarah, tapi lingkungan lah yang mempengaruhi ia kadang memiliki short tempered. Lingkungan? Ya, begini, pada dasarnya siapa yang suka marah jika tidak ada sesuatu yang salah?  Sesimpel itu kan? Sumber daya manusia Afrika memang harus diakui masih dibawah standar dan ini salah satu alasan kenapa ia harus bertindak tegas bahkan kadang harus shouting untuk membuat karyawannya mengerti apa yang ia maksud. Bukan hanya Madam, saya pun seperti berubah menjadi lebih keras dan tegas menghadapi orang Afrika :D Ini pernyataan serius, karena jika tidak, saya tidak akan cukup kuat survive di sini.

Standarisasi orang Afrika yang saya maksud di bawah standar tidak serta merta berlaku untuk orang yang beruntung bisa menganyam pendidikan atau pernah menetap di luar negeri. Itu yang saya perhatikan selama ini, Madam contohnya. Sebagai seorang yang memiliki dua kewarganegaraan, british dan nigerian ia berbeda. Beliau lahir di Manchester, Inggris dan pernah lama tinggal disana. Ayah Ibunya pun british meski asli nigerian dan sudah memiliki beberapa rumah di sana dengan pembantu seorang Inggris, bisa anda bayangkan?

Madam memang lahir dari keluarga yang berada dengan orang tua yang educated. Saya baru tahu jika Ibunya yang seorang guru pernah mengeyam pendidikan MA degree dari University of London. Beliau sempat mendapatkan penghargaan prestisius Helen Straw International Service Award di Swiss yang disponsori oleh The College of Human Ecology, The Ohio University of America. Saya tahu itu saat membantu beliau mendesain sampul buku yang ditulisnya sendiri. Bukunya tentang pendidikan yang bisa diterapkan di Nigeria adaptasi dari riset yang beliau lakukan selama di Jerman, Jepang, Inggris dan Wales. Ayahnya seorang pengusaha yang memiliki spot minyak mentah, dan bagi yang belum tahu, negara ini punya spot minyak mentah yang melimpah yang menjadi kekuatan utama ekonominya. Kedua orang tuanya juga sangat welcome. Saya kira Madam Uche mewarisi kesahajaan dari ibunya serta mewarisi disiplin tingkat tinggi ayahnya.

Madam Uche adalah lulusan teater dan drama, dan mengenyam pendidikan spesialis bunga dari florist kenamaan dunia asal Inggris, Paula Pryke. Madam merintis perusahaan ini berawal dari toko bunga kecil yang ia buka di rumahnya. Pekerjaan dekorasi pertamanya adalah mendekor sebuah gereja di Lagos. Dengan jerih payahnya ia berhasil mengembangkan usahanya hingga menjadi yang terbesar di Nigeria. Saya salut dengan kegigihannya mempertahankan N&D, perusahaan dekorasi pertama yang berdiri di Nigeria dengan standarisasi internasional. Sekedar catatan, membuka usaha di negeri ini sangat tidak gampang dilihat dari banyak hal. Dan kunci kesuksesannya ada pada keseriusannya memperhatikan keinginan klien entah itu klien dengan nilai proyek kecil apalagi besar. Mengembangkan usaha yang berawal dari rumah hingga bisa sukses menangani dekorasi di luar Nigeria baru-baru ini, di Gambia, London dan Marbella (Spanyol) bukanlah pekerjaan yang mudah jika tidak dikerjakan dengan passion.

Selanjutnya saya akan menuliskan hal-hal unik tentang Madam dan beberapa yang belum sempat saya sebutkan disini.

Part 2, NEXT.

Masak Sedap Murah (Semur).

Semur daging mengingatkan pada Bapak, ini menu kesukaannya!.

Kemarin sepulang dari kantor pukul tujuh malam saya langsung bergegas ke dapur mengupas kentang. Saya tak sudi bermain komputer tablet dulu karena biasanya malas akan melanda kemudian tak ada makan malam.
Saya berpikir akan mengolah sekilo kentang yang saya beli minggu lalu seharga dua ratus naira menjadi bagian dari sup sayur. Tiba-tiba flatmate saya menyeletuk “bikin semur aja!”. Saya pun mengangguk. Bolehlah, sup sayur sudah sering kita masak dan semur bukan pilihan yang buruk. Apalagi didalamnya akan ada kentang goreng setengah matang dan telur rebus menyelam dengan daging sapi. Saya sudah terbayang rasanya.

Memasak semur tak sulit. Cukup bermain dengan bumbu dasar, bawang merah, bawang putih, cabe rawit, kaldu, merica dan yang terpenting, kecap!. Ini bumbu dasar yang kita racik kemarin. Simpel karena memanfaatkan bumbu yang kami punya. Sebenarnya resep semur masih membutuhkan jahe, pala, cengkeh, dan tomat. Jelas rasa semur buatan Ibu lebih maknyus karena bumbunya lengkap. Rasa yang kami hasilkan kemarin? Jangan salah! Enak! Simpel, mudah dan cepat memasaknya. Resep kemarin malam ini menandakan saya harus merelakan kecap saya berakhir :( Persediaan kecap saya berakhir! Saya tidak lagi punya kecap!!! *lebai ah*

Baiklah, tahapan memasak semur kurang lebihnya seperti ini ;

Irisan bawang putih dan merah ditumis terlebih dahulu dengan cabe rawit sampai harum. Kemudian masukkan daging sapi hingga setengah masak. Tahap selanjutnya tuangkan kecap manis dan terus diaduk diatas api sedang. Jika tidak diaduk, apalagi anda memasaknya dengan api yang besar, kecap akan menimbulkan aroma gosong, karena bagaimanapun kecap memiliki bahan dasar gula. Setelah daging masuk dan tercampur dengan bumbu-bumbu tadi, tinggal masukkan kentang yang sudah digoreng setengah matang sebelumnya, dan jangan lupa telur rebus. Tambahkan merica bubuk agar sedikit spicy. Setelahnya? Tinggal tambahkan air secukupnya agar semuanya tercampur rata dan daging masak sempurna. Tunggu hingga air tadi mendidih sempurna tanda semur siap dihidangkan dengan nasi panas. Wow! Makan malam murah meriah yang rasanya saya jamin enak!. Oh iya, semur memiliki dua tipe, basah dan setengah basah. Semur yang kami masak tipe setengah basah, artinya tidak memiliki kuah yang melimpah seperti yang biasa dimasak Ibu saya. Semur resep Ibu saya memiliki kuah yang setara dengan soto namun isiannya yang banyak mampu menyeimbangkan porsinya.

Semur mengingatkan saya pada Bapak. Ia menyukainya dan selalu lahap jika Ibu memasak menu kesukaannya dengan kentang, tahu, telur rebus dan soun. Teman terbaik dari semur daging yang biasa diracik Ibu saya tentu sambal tomat segar. Ah bagi saya, apapun yang masakan rumah yang diracik sendiri oleh seorang Ibu, rasanya selalu luar biasa. Apalagi jika bukan karena ada bumbu cinta didalamnya, tapi benar, tak ada masakan seenak racikan Ibu sendiri! Dan saya bersyukur memiliki Ibu yang jago masak! She is amazing! Jadi rindu masakannya :)

Menikmatinya dengan nasi basmati panas! O Yum! Semur ; Sedap dan Murah!
Lihat dagingnya! Yummy! Pastikan jika anda memasak daging, tingkat kematangannya harus sesuai dengan menu yang anda masak, dan tentu pilihan keempukan daging harus tepat!
Lumuran kuah semur diatas kentang goreng setengah matang! Nikmat!

Fellas, memasak sendiri itu nikmat, percaya saja!

Cheers.