Pasokan makanan yang baik di pagi hari sangat mempengaruhi kinerja otak sepanjang hari. Sarapan yang baik adalah makanan olahan sendiri yang terjamin bahan dan kebersihannya, dan saya, jika memiliki waktu yang cukup untuk memasak di pagi hari hasilnya seperti ini ;
Simply oats with Choco sauce! Yummy!So simple and yum! Wheat bread with Nutella and Skippy!Wheat burger bread, biasanya saya panggang, ini bisa jadi teman makan sup merah, pengganti nasi!Beef tomato soup, sup merah yang kaya akan tomat! Dimakan saat hangat dengan wheat burger bread, tapi percayalah, sebagai orang Indonesia, saya jauh lebih puas memakannya dengan nasi :DBentuk lain olahan oats, saya masak dengan susu dan sedikit gula, kemudian disajikan dengan potongan pisang dan coklat. Taburi kacang panggang agar ada permainan tekstur saat menyantapnya.Saya sebut simply garlic soup with beef! Ini sup yang muda terbuat hanya dari campuran kaldu sapi, bawang putih, garam, gula dan lada. Kemudian sajikan sup dengan spagethi dan potongan kentang yang direbus bersamaan dengan daging sapi!Ini camilan murah meriah jika malas sarapan porsi berat. Hanya roti panggang dengan garlic sauce paduan bawang putih, mayonaise, sedikit garam dan mentega.Apel! Crunchy and fresh! Gigit apel saja jika malas sarapan, paling tidak pasokan serat terpenuhi :)Jika tak ada duit, saya merebus plantain! Haha, seperti dikampung ya? Murah meriah sebagai pengganjal perut yang tentunya plantain ini jauh lebih baik daripada digoreng!Jika bosan dengan ritual milo panas , saya memilih kopi susu agar mata bisa melek saat dikantor, terlebih hari senin jika mata sering manja ngantuk saat meeting mingguan! :DJika lidah saya merengek minta disuguhi spicy recipe, ini bisa jadi andalan meski porsinya agak berat. Spicy noodle with shrimps soup! Campuran sup dari kaldu udang yang pedas, oh saya tak kuasa menolaknya! :DKarena di Lagos tak ada penjual nasi goreng jawa, alhasil, menikmati menu ini setelah berkutat di dapur sungguh terasa nikmat! Javanese fried rice dengan telur ceplok diatasnya! Sarapan mewah mah ini :DCepat dan murah ya sandwich! Daripada beli dengan harga berkali-kali lipat, saya jauh lebih suka membuatnya sendiri, cukup dengan mentimun, tomat, selada, mayonaise, keju dan sedikit garam+lada!
Tertarik memasak? Ayo! Belajar sekarang! Olah resepmu sendiri!
Saya teringat Dhani, seorang teman asal Aceh yang saya kenal dua tahun lalu saat masih bekerja di perusahaan perhiasan di Surabaya. Dhani seorang yang amat lurus, mungkin salah satu teman yang paling taat beragama yang pernah saya punya.
Dhani seorang perantau yang pernah hidup dan belajar di Yogyakarta selama tiga tahun sebelum mengadu nasib di Surabaya. Ia menyelesaikan pendidikan politeknik jurusan jewelry berbekal beasiswa. Satu hal yang saya ingat dari seorang Dhani adalah kecintaannya pada buah nanas. Dulu saat sekantor dengannya hampir setiap kali membawa cemilan yang saya masak sendiri, nanas segar selalu ada buatnya. Dhani memang fanatik dengan nanas hingga bisa mendeteksi keberadaan nanas yang saya simpan di laci penyimpanan dari jarak kurang lebih satu hingga dua meter. Bukan tanpa alasan saya menyisipkan buah nanas di setiap cemilan yang saya buat. Karena saya ingat betul ekspresi Dhani saat menceritakan kerindukan akan kampung halamannya Aceh dimana ia tinggal bersama ibu dan adik-adiknya. Tentu bukan hanya kampung halaman yang ia rindukan, lebih dari itu. Ia merindukan ibunya. Ia sempat menceritakan bagaimana ia rindu es buah racikan sang ibu. Es buah sederhana campuran sirup lokal dengan potongan melon dan tentu saja, nanas.
Setiap kali ia menyebut ibunya, saya terenyuh dan sadar bahwa cintanya pada ibunya sangat besar. Sepeninggal almarhum ayahnya, Dhani hanya memiliki seorang ibu dan adik-adiknya. Dan merantau di tanah jawa tidak serta membebaskannya mudah mengunjungi Aceh. Mengunjungi keluarganya.
Sejak saat itu nanas selalu saya siapkan untuk Dhani meski hanya potongan nanas segar dengan garam dan cabe rawit sebagai temannya. Kadangkala campuran sirup, nanas, strawberry, kiwi dan jelly yang terendam seharian didalam lemari es kantor menjadi menu segar untuk buka puasa. Dhani amat menjaga puasa sunnah senin kamis, dan tak hanya itu, sholat Dhuha di kantor pun ia jalani. Saya salut dengan keteguhannya memegang ajaran Islam.
Saya ingat pesan Dhani di hari terakhir saya bekerja dengannya. Dhani mengetahui rencana kepindahan saya ke Afrika sore itu sesaat setelah saya selesai berpamitan pada semua rekan kerja disana. Ia kaget saat saya mengutarakan akan pergi melanglang hingga ke benua lain. Dhani berpesan agar saya harus bisa menjaga sholat lima waktu di luar sana, ini persis dengan pesan yang disampaikan ayah saya sebelum berangkat kesini. Dhani juga berpesan jika saya harus bisa kuat menghadapi rintangan di negeri orang dengan tekad dan ikhtiar. Satu lagi pesannya, jika saya merindukan keluarga saya, cukup ambil air wudhu, sholat kemudian baca ayat Al-Quran. Pesannya mujarab, membaca Al-Quran saat hati dan pikiran bermasalah memang menenangkan. Saya belajar banyak dari Dhani tentang keseimbangan hidup di dunia dan setelahnya bahwa keduanya harus bisa diraih. Selamat di dunia, dan bahagia di Akhirat.
Kini Dhani berdomisili di Semarang, bekerja di perusahan lain sebagai staf desainer perhiasan. Ia memilih bekerja di kota yang lebih dekat dengan istri dan putri kecilnya yang tinggal di Solo.
Semoga tahun depan saat saya kembali ke Indonesia bisa menyempatkan silaturahmi dengan Dhani dan keluarga kecilnya. Semoga.
Saya masih ingat sensasi pertama menyantap olahan nasi ini ; aneh!. Rasanya tasty paduan antara asam dan sedikit manis.
Jollof rice merupakan salah satu resep andalan bangsa Nigeria yang mirip sekali dengan nasi goreng. Resep ini mulanya berasal dari Gambia, kemudian menyebar ke beberapa negara di Afrika Tengah seperti Liberia, Nigeria, dan Ghana. Etnis Wollof yang ditemukan di Gambia, Mauritania dan Senegal juga mengakui resep ini sebagai bagian dari menu asli mereka. Etnis Wollof menyebut Jollof Rice ‘Benachin’ yang artinya ‘satu pot’ sesuai dengan cara menyajikannya nasi ini didalam baskom besar.
Seperti yang saya sebut tadi rasa nasi ini agak masam, manis dan asin yang dihasilkan dari paduan tomat, peppeh (pepper ; cabe, orang Nigeria menyebutnya peppeh) dan bumbu-bumbuan. Bumbu yang digunakan untuk olahan nasi berwarna jingga kemerahan ini terdiri dari saus tomat, bawang putih, bawang merah, bumbu kari, nutmeg, garam, dan daun thyme. Cara memasaknya hampir sama dengan cara kita memasak nasi goreng. Bumbu yang dihaluskan ditumis dulu ke dalam minyak panas hingga harum kemudian nasi yang telah masak diuleni hingga bumbu merata.
Setahu saya mereka mengolah jollof rice dari beras lokal dan basmati. Mungkin jika saya merasakan olahan yang menggunakan beras basmati lidah saya bisa lebih bersahabat dibanding beras lokal. Beras lokal disini bijinya besar dan rasanya agak ampyang. Karena saya agak rewel untuk urusan makanan sehingga lidah saya semakin manja menolak rasa beras lokal. Bukannya jumawa, tapi beras basmati yang berasal dari India lebih enak karena teksturnya renyah dan bentuknya yang panjang dan ramping. Untuk makanan sehari-hari saya menggunakan beras basmati yang sangat mudah ditemukan disini semudah menemukan orang India yang bekerja di Nigeria. Harga beras basmati disini jauh lebih terjangkau dibanding di Indonesia. Untuk satu pak seberat lima kilo dihargai N1800 atau setara dengan Rp.108.000 (N1 = Rp.60). Di Indonesia anda bisa menemukan di supermarket yang menyediakan bahan makanan impor semacam Ranch Market seharga seratus ribu rupiah untuk satu kilo. Mahal ya? :)
Jollof rice biasa dihidangkan dengan beef ataupun ayam dengan stew yang rasanya hampir mirip rasa campuran krengsengan dan bumbu bali. Hanya porsi tomat yang melebur dengan bahan lainnya agak banyak sehingga rasanya cenderung lebih kecut. Stew olahan masyarakat disini murah akan minyak yang lagi-lagi membuat saya agak susah menyantap jollow rice. Adapula yang menyajikan nasi ini dengan pisang, ya, pisang segar. Rasanya? Bayangkan sendiri saja :)
Ini porsi saya, sedikit sekali ya?Cara makan yang unik, nasi dimakan dengan pisang! Saya lebih memilih pisang saja lah :)
Bagi saya sore punya maknanya sendiri. Dia memiliki keindahan luar biasa. Bagai pergantian waktu yang menenangkan saat matahari berpamitan menyudahi tugas hariannya.
Pekerjaan di industri event memperkosa waktu saya. Baru bisa disebut bayi di industri ini, namun satu tahun bagi saya cukup untuk bisa menyimpulkan bahwa pekerjaan yang saya pilih ini luar biasa menguras tenaga. Tidak, bukan tenaga saja, pikiran pula. Saya melewati tahun pertama dengan kesibukan luar biasa di Afrika. Mungkin jika boleh melebih-lebihkan kesibukan saya saat ini lima kali lipat dibanding saat saya bekerja di Surabaya. Ya, saya cukup sibuk. Bahkan bisa dibilang terlalu sibuk.
Saya butuh waktu tenang saat pikiran mulai penat. Dan jawabannya selalu sama, sore hari. Saya tidak peduli dengan cara apa saya menikmati sore. Tidak perlu waktu lama. Tidak perlu duduk di sebuah restoran, memesan makanan penutup dan secangkir kopi. Tidak pula duduk diatas pasir pantai meluruskan kaki telanjang dan menghadap ke arah barat. Bahkan sekedar melihat dari jendela kamar saat matahari mulai turun itu saja sudah cukup. Menghela nafas sambil bersyukur bahwa hari masih cerah untuk mengejar apa yang saya sebut sebagai cita-cita.
Dari dulu saya mengagumi saat dimana matahari mulai tenggelam dan berubah jingga. Bulatan besar yang memiliki pandaran warna yang selalu cantik menyatu dengan langit. Tuhan sungguh Maha Besar.
Ranukumbulo sudah kami perbincangkan dua bulan sebelum saya pulang ke Indonesia. Saya, Maya, Winda dan Ruli memilih Ranukumbolo sebagai tujuan pendakian tahun ini. Apakah saya seorang pendaki? Tentu bukan, hanya saja tahun ini saya sangat ingin merasakan alam terbuka dari negeri yang memiliki berjuta pesona. Ternyata butuh kecerdasan lebih untuk membagi waktu cuti saya yang hanya sebulan di Indonesia. Setelah lebih dari sebulan kami berempat chatting bout’ Ranukumbolo, tanggal 13 Juli tahun ini kami pun berangkat.
***
Hari pertama.
Jumat malam saya masih sibuk mencari kebutuhan untuk bekal kami selama tiga hari di supermarket, memilih beberapa bahan makanan yang sekiranya akan nikmat disantap selama disana. Packing saya lakukan setelahnya. Sabtu selepas subuh saya dijemput Ruli. Kami langsung menuju kos Ayos ,traveler kawakan sekaligus penulis handal yang namanya sudah beredar luas di komunitas pejalan. Saya, Ruli, dan Ayos sudah siap berangkat setelah berhasil repacking menghemat barang bawaan kita. Berbeda dengan saya, mereka sudah beberapa kali naik gunung. Mereka berdua lebih paham bagaimana seharusnya traveler mengatur barang bawaan dan membaginya dalam ruang ransel yang amat terbatas. Winda dan Maya yang berdomisili di ibukota, berhasil menempuh perjalanan selama hampir empat belas jam menuju Surabaya. Mereka berdua diantar kereta eksekutif dari stasiun Pasar Senen ke stasiun Pasar Turi. Mereka tiba pukul 8 pagi. Setelah Ayos, Ruli dan saya selesai repacking dan mampir ke tempat persewaan tenda, kami langsung menuju titik pertemuan yang kami sepakati, terminal Bungurasih. Setibanya disana kami mempersiapkan diri dengan bekal dasar untuk ketahanan fisik, sarapan! Maya, Winda dan Ayos memilih soto ayam dan es teh. Saya dan Ruli tak terlalu tertarik sarapan. Kita hanya memilih segelas teh panas.
Setengah jam setelahnya kami berlima sudah duduk manis di bangku bis paling belakang menuju Malang. Sepanjang perjalanan Maya, Winda, saya dan Ruli sibuk mengoceh di twitter masing-masing. Sesampainya di terminal Malang setelah dua jam didalam bis, kami langsung menuju Tumpang dengan angkot. Saya masih ingat Maya tertawa mendengar saya menirukan salah satu hits Rita Sugiarto yang kami dengar dari radio angkot. Suasana itu tak membuat saya malu karena saking menikmati suasana terminal. Kami membutuhkan setengah jam untuk sampai di Tumpang. Sesampainya disana kami berhasil menyewa jeep yang akan membawa kami ke desa Ranupani. Kami tak sendiri, masih ada beberapa kelompok traveler lain yang juga akan menuju Ranupani. Kami membayar tiga pulu ribu rupiah per-orang. Saya, Ruli dan Ayos berdiri dibelakang, Maya dan Winda duduk didepan disamping sopir. Menumpang jeep dengan posisi berdiri selama dua jam lebih merupakan pengalaman pertama yang cukup berkesan. Ayos sempat menanyakan apakah saya menikmati perjalanan itu, jelas iya. Hampir setahun hidup di negara orang kemudian kembali dan menikmati keindahan alam negeri sendiri yang saya dapat sepanjang perjalanan menuju Ranu, apakah saya harus berpikir dua kali untuk berkata tidak? :)).
Jalanan naik turun membuat kami beberapa kali hilang kestabilan dari posisi berdiri. Bererapa kali perut kami dihantam iron bar jeep. Kadangkala dada juga sempat bersentuhan keras dengan pipa besi yang juga berfungsi sebagai handle untuk menjaga kestabilan posisi. Pemandangan yang memanjakan mata sepanjang jalan cukup menghibur, sayangnya saya tidak bisa mengambil gambar sepanjang perjalanan.
Saya sempat memotret Ayos bersama Winda, saya suka latar belakang foto ini :)Maya dan Winda sebelum naik jeep.Ransel-ransel kami, banyak ya!
Tiba pukul tiga sore di Ranupani kami langsung menuju pos, melaporkan diri pada pihak pengelola untuk mendapatkan ijin. Winda dan Maya bertugas menyelesaikan urusan administratif. Sekitar setengah jam urusan perijinan selesai, kami langsung membekalkan diri dengan makan siang disana. Semangkuk bakso seharga lima ribu rupiah per porsi menjadi pilihan saya. Hawa dingin menusuk tulang sudah mulai terasa. Sore itu kabut lebat mulai berdatangan membuat hari semakin gelap. Dingin dan rintik hujan pun mulai berjatuhan. Kami memulai perjalanan pukul empat sore dengan kesadaran bahwa kami akan menyusuri jalan yang tak mudah hingga sampai di Ranukumbolo. Jarak dari Ranupani hingga titik akhir Ranukumbolo kurang lebih 10 kilometer dengan waktu tempuh normal sekitar enam hingga tujuh jam. Masing-masing dari kami membawa ransel yang beratnya lumayan menguras tenaga. Saya kebagian sekitar lima belas kilo. Maya dan Winda tak kalah beratnya. Ayos membawa ransel paling besar dan tentunya paling berat. Begitu pula dengan Ruli. Perjalanan di hari pertama merupakan salah satu pengalaman yang akan selalu saya ingat. Pengalaman menyusuri jalan-jalan setapak di dalam hutan yang tak mudah untuk menuju apa itu Ranukumbolo.
Setelah dua jam diatas jeep, kami berhasil sampai di Ranupani.Desa Ranupani, kecamatan Senduro.Ini urusan Winda dan Maya, kami harus mendapat ijin terlebih dahulu sebelum memulai pendakian.
Berjalan bersama dengan sekelompok pejalan lain saat hari mulai gelap ternyata tak cukup membantu. Kami melewati jalan naik turun yang penuh dengan semak belukar. Semak belukar yang tumbuh liar diatas tanah menjadi semakin licin akibat gerimis. Kondisi medan yang kami tempuh hingga jarak kira-kira tiga setengah kilometer dari titik awal sungguh diluar dugaan. Ayos dan Winda berada didepan memimpin pencarian jalan-jalan berikutnya. Saya dibelakang Winda. Maya dan Ruli diurutan terakhir. Kami benar-benar berusaha keras melewati setiap cekungan, dataran, cekungan lagi dan tanjakan, yang semakin berat saat licin, gerimis dan gelap berpadu. Kami merayap, berjalan, menanjak, melompat untuk melewati setiap tantangan medan malam itu. Kami mencari bantuan ditengah kegelapan dengan meraba setiap ranting-ranting liar yang kami pikir kuat sebagai pegangan. Penerangan kami hanya bergantung pada lampu senter. Setelah berjuang hampir lima jam didalam kesulitan itu kami memutuskan kembali karena tak ada titik terang menemukan Ranukumbolo. Kami tersesat dan bertekad melanjutkan perjalanan esok pagi. Kembali lagi setelah mencapai jarak tiga setengah kilometer berarti kami harus berjuang melewati setiap tanjakan, cekungan dan jalan-jalan landai itu kembali.
Baru pukul empat sore, tapi kabut membuat hari lebih gelap.Saya tertawa jika ingat saat saya mengambil gambar ini, Winda dan saya bercanda. Bertanya pada Maya “Mama Dedeh ada tahlilan dimana? Di gunung?” :DMeskipun ransel yang dibawa paling berat, Ayos nampak fine.Winda masih sempat bergaya meski sudah sakit punggung karena ranselnya :DSaya dan Maya meski capek harus tetap eksis :D
Malam itu kami memutuskan menginap di rumah salah satu petugas asli Maluku yang sudah menetap di desa Ranupani, namanya Bapak Sinambela. Malam itu teramat dingin, bahkan telapak kaki saya tidak akur dengan lantai rumah. Ayos dan Ruli bercengkrama dengan bapak Sinambela dan teman baru kami. Saya membantu Winda dan Maya memasak menu seadanya malam itu. Memasak nasi, sup dari wortel, buncis, kentang plus sosis, dan telur orak-arik bercampur kornet ala Winda.
Sup sayur, menu makan malam kami saat itu.Telur plus kornet ala Winda.
Pukul sepuluh setelah selesai makan malam kami memutuskan merebahkan tubuh diselimuti sleeping bag masing-masing. Saya tak habis pikir bagaimana bisa malam itu saya amat santai melewati setiap rintangan pencarian jalan di dalam hutan yang gelap, licin dan dataran yang tak tentu. Mungkin karena di malam itu kami berlima benar-benar bekerja keras membantu satu sama lain. Bantuan yang terbungkus dengan nilai persahabatan.
Esok pagi kami akan kembali mengumpulkan niat untuk menyambangi kembali Ranukumbolo.
Warung menurut saya memiliki kekhasannya sendiri. Dan makanannya bisa jadi salah satu makanan terenak di dunia.
Sejak tinggal di Lagos, beberapa kali saya tersiksa kerinduan itu. Pergi ke warung, memesan apa yang saya inginkan, merasakan atmosfer sekitar dan carut marut yang menyertainya. Sebuah epik kehidupan yang berbanding lurus dengan budaya, adat dan lingkungan. Saya merindukannya namun sial tak banyak menebus kerinduan itu dua bulan yang lalu saat pulang. Terlalu banyak menuruti ego dengan beberapa hal yang tentunya sekarang, saya sesali. Sungguh.
Saya tak menyediakan cukup waktu untuk sekedar hunting makanan-makanan warung yang sejatinya memiliki keunikannya sendiri. Di Lagos tak pernah sekalipun melihat apa yang saya anggap ‘warung’ meskipun beberapa tempat mungkin bisa dikatakan warung. Namun bagi saya warung di Indonesia tak ada tandingannya. Sebagai perantau munafik jika saya tak menyebutkan warung sebagai salah satu tempat khusus yang dirindukan. Terlebih makanannya. Di Indonesia, kita bisa leluasa menemukannya kemudian duduk. Memesan apa yang ingin kita pesan. Merasakan atmosfer yang selalu berbeda di setiap warung. Mengeluarkan lembaran rupiah untuk menu yang rata-rata masih murah.
Kerinduan-kerinduan itu kemudian mulai saya tepis. Berusaha keras membuat daftar makanan warung yang saya ingin saya makan, kemudian melampiaskannya dengan memasak. Jalan keluar apa lagi yang bisa saya patahkan jika bukan memasak sendiri makanan yang saya rindukan. Tidak seperti di Amsterdam restoran Indonesia menjamur, jangan berharap banyak menemukannya di Lagos. Lagos lebih banyak menyediakan restoran cina disamping kedai-kedia makanan yang menawarkan olahan lokal. Sesekali jika capai dan bosan dengan masakan sendiri saya menyempatkan ke restoran cina sekedar hanya memesan salah satu tom yam terenak yang mereka jual. Jelas tidak setiap hari karena jika iya, dompet saya akan sekarat karena harga yang mereka kenakan pada rata-rata porsi mereka tiga kali lebih mahal dari makanan restoran di Indonesia. Sejatinya memasak makanan di rumah jauh lebih hemat meskipun tingkat kecapaian dan kerepotan tidak mudah untuk beberapa makanan. Tapi kecapaian dan kerepotan itu akan pupus jika kerinduan akan makanan warung, seperti yang saya bilang, makanan terenak di dunia berhasil disantap. Meskipun minus atmosfer. Makanan yang seringkali saya rindukan, bukan saya saja, teman flat saya pun begitu seperti mereka ini.
Pecel.
Bisa makan pecel di Afrika? Wow!
Sebagai perantau dari jawa timur, saya tidak kangen pecel selama disini? Bullshit! Pecel salah satu makanan andalan yang ada dibarisan depan makanan favorit saya. Rasa bumbu yang unik dan paduan sayur mayur sebagai bahan dasar tidak akan pernah bisa saya hiraukan. Saya beruntung memiliki ibu yang jago masak dan berbaik hati membuatkan anak bungsunya bumbu pecel siap pakai meskipun sebelumnya saya malas menyesakkan bumbu ini dikoper. Bumbu pecel ini sungguh obat mujarab menepis kerinduan akan makanan warung dan ibu saya tentunya.
Daging sapi diselimuti bumbu balado. Nendang!
Suatu sore saya kerasukan rindu akan pecel. Saya dan flatmate kemudian setuju memasak menu pecel semirip mungkin dengan pecel yang ada di warung. Kami memasak daging bumbu balado sebagai temannya. Daging sapi berbalur bumbu merah keemasan yang pedas sangat cocok disandingkan dengan pecel. Kami menyertai sayuran untuk pecel kami minus daun kemangi yang memang susah didapat di Lagos. Timun juga. Kami lupa membelinya. Ini bentuk nasi pecel yang kami santap malam itu.
Menyantap menu Indonesia di negara orang itu salah satu bentuk syukur yang teramat besar. Jika tinggal di negara yang masih menyediakan restoran Indonesia lain cerita, tapi menikmati pecel di Afrika tentu luar biasa indahnya.
Sate.
Menemukan sate sebenarnya tak sulit di Lagos. Restoran cina dan beberapa restoran fushion milik lebanese umumnya selalu menyediakannya. Tentu dengan harga selangit. Di malam yang berbeda saya melontarkan ide sate sebagai menu makan malam bersama kedua flatmate saya. Sate ayam!
Sate ayam.
Memasak sate yang tidak terlalu sulit akhirnya kami lakukan. Memulai dengan menyiapkan daging ayam yang ditusuk rapi dibalur dengan sedikit garam, jeruk nipis untuk menetralisir bau amis, dan bahan andalan, kecap! Bahan makanan yang mustahil saya temukan di Lagos. Jangan berharap bisa menemukan kecap disini karena yang saya temukan hanya soy sauce buatan Hongkong ataupun Cina yang bentuknya cair dan lebih mirip kecap asin.
Olah sate ala-ala.Bumbu pecel buatan ibu tercinta :) nyum! Mencampurnya dengan selai kacang untuk bumbu cocolan sate, rasanya? no doubt on it!Lihat tampilan sate saya, seperti beli di warung khan? Hehehe.I cant live without Bango! :p
Kecap kedelai macam kecap Bango? Forget it. Hanya satu tempat kecap kedelai tinggal, di kedutaan! Itupun harganya ampun. Orang-orang kedutaan menjualnya dengan harga tinggi. Itulah kenapa setiap saya pulang kecap selalu memiliki ruang dikoper saya. Saya tak akan bisa hidup di Afrika tanpa kecap. Sate ayam buatan kami dibakar diatas teflon karena kami tak memiliki panggangan. Membakar diatas teflon dengan kompor sedikit mengurangi nilai kenikmatannya dibanding dengan membakarnya di tungku arang seperti di warung. Bumbu sate didapat dari perpaduan selai kacang dan bumbu pecel saya. Rasanya! Wow! Pasta kacang mensubtitusi bumbu kacang yang biasa dibuat penjual sate dan rasanya tak buruk. Kreatif ditengah keterbatasan. Rasanya tetap enak! Mungkin karena bawaan mood dan rindu, semuanya jadi nyum! :)
Ayam goreng kering.
Nyum! Crunchy!Damn this is hot!
Ayam goreng kampung yang biasa saya dapatkan di warung dekat rumah, ah yang ini murah dan memanjakan. Ayam yang dilumuri garam, lada, jeruk nipis dan cabe bubuk kemudian digoreng kering. Dimakan dengan nasi panas dan sambal! Wow! Serasa makan di warung sungguhan. Dan cara makan terenak, seperti ini! Pakai tangan :D
Ini cara makan ternikmat! Pakai tangan!
Tahu goreng plus sambal!
Ya tahu. Makan nasi panas dengan tahu dan sambal terasi nikmatnya mengalahkan menu restoran dengan aneka platting dan namanya yang aneh2. Makanan sederhana ini luar biasa dengan harga yang ‘mahal’.
Tahu, menu sederhana namun jadi ‘mahal’ jika anda hidup di Afrika!
Tahu di Lagos bisa saya beli seharga 140 naira alias 8400 rupiah sepotong ukuran 5 x 15 cm dengan tinggi hanya 4 cm. Mahal sekali dibandingkan tahu yang sering saya beli di pasar tradisional di Indonesia seharga 300 rupiah dan dua kali lebih tebal dibandingkan tahu disini. Ya, semakin jarang bahan makanan ditemukan harganya semakin tinggi. Sayangnya saya hanya menemukan tahu dan memupus harapan bisa menemukan temannya, karya kuliner terenak di dunia, apalagi jika bukan tempe.
Semalam menu Simple Spaghetti Bolognese berhasil memanjakan perut. Kali ini saya akan membagi resep mudah dan murah meriah.
Yuk, baca ini bagi yang ingin memasak spaghetti, kemudian coba dirumah.
Jika bosan dengan nasi, spaghetti bisa menjadi menu andalan untuk makan malam. Spaghetti merupakan salah satu jenis pasta yang populer dengan berbagai macam olahan yang kabar baiknya mereka terbuat dari gandum. Memasaknya tidak membutuhkan waktu yang lama dan jika anda berhasil mengolah spaghetti dengan teknik yang benar, mungkin anda akan beralih dari spaghetti langganan dan memasaknya sendiri.
Bahan yang anda butuhkan untuk membuat spaghetti bolognese :
Spaghetti | Minyak sayur | Daging cincang | Tomat segar | Saus tomat | Merica bubuk | Garam | Bawang merah | Bawang putih | Susu full cream | Keju cheddar | Krim keju | Butter | Minyak zaitun
Spaghetti dari durum.Bawang merah dan putih, bumbu dasar setiap masakan.Tomat segar yang dicincang.Daging sapi segar yang telah diblender.Saus tomat penambah rasa dan aroma bolognese. Jika suka, bisa dicampur dengan saus sambal.Keju cheddar. Pakai keju parmesan saja jika punya :)Susu full cream bahan tambahan membuat bolognese lebih maknyus.Bumbu dasar, merica.
Mari masuk ke tahap memasak pasta:
Siapkan pasta sesuai porsi yang ingin dihasilkan, kemudian didihkan air. Ingat, air harus mendidih benar sebelum anda memasukkan pasta. Jika air sudah mendidih tinggal masukkan pasta dan tambahkan dua sendok teh minyak sayur dan garam. Takaran minyak sayur dan garam sesuaikan dengan jumlah spaghetti yang dimasak. Minyak berguna agar pasta tidak lengket satu sama lain dan garam memberikan rasa agar tidak plain. Hanya butuh sekitar 10 hingga 12 menit untuk merebusnya hingga matang. Angkat dan tiriskan.
Rebus pasta kedalam air mendidih.
Tips : Jangan pernah membiarkan pasta yang telah masak dibiarkan tenggelam di air rebusan meskipun air masih hangat. Kenapa? Karena pengaruh panas dari sisa air rebusan akan merusak tekstur dan bisa membuat pasta terlalu lembek. Pasta yang benar adalah pasta yang tidak keras dan juga tidak lembek.
Sekarang lanjut memasak bolognese nya :
*Siapkan daging sapi yang sudah diblender, kemudian panaskan teflon tanpa minyak kemudian masukkan daging. Tujuannya agar daging setengah gosong dan ini salah satu kunci bolognese yang benar. Jaga api agar daging tidak terlalu gosong.
*Kemudian tambahkan minyak sayur, bawang merah dan bawang putih yang telah dicincang.
*Setelah daging dan bawang-bawangan dimasak sekitar lima sampai sepuluh menit hingga aromanya harum, kemudian masukkan tomat cincang dan tambahkan bumbu dasar. Merica, garam dan saus tomat.
*Tambahkan satu sendok butter dan biarkan leleh. Butter akan menambah aroma bolognese menjadi lebih harum.
*Tambahkan susu full cream dan biarkan hingga matang.
Masak daging dengan bawang hingga harumDaging dan bumbu disatukan.Bolognese hampir jadi :D
Tips : Saran saya jangan beli daging cincang siap pakai di supermarket. Jauh lebih baik memblender daging segar sendiri, lebih aman dan bersih.
Okay sekarang platting, sangat mudah, ambil spaghetti taruh daging cincang diatas dan taburi dengan keju. Agar tambah maknyus siram minyak zaitun diatas spagethi dan Tarra! Selamat makan :)
Spaghetti siap makan :)Sajikan saat panas, dan rasakan nikmat keju yang lumer diatas pasta, nyum!Bolognese…nyum! :D
Saya akan mencoba mengumpulkan puzzle ingatan mengenai ini.
Saya menyebutnya iseng-iseng berhadiah. Empat tahun yang lalu tepatnya 2008 saya berani mengikuti salah satu kompetisi ilustrasi di Surabaya Fashion Parade. SFP adalah parade fesyen yang digelar oleh salah satu plaza terkenal di Surabaya, Tunjungan Plaza. Sekarang menjadi annual event setiap bulan Mei. Jika saya tak keliru, kompetisi itu pertama kali diadakan tahun 2008. Artinya saya mengikuti kompetisi SFP saat pertama kali digelar.
Kompetisi SFP tahun itu saya dengar dari sahabat kecil saya yang beberapa kali menjuarai kompetisi ilustrasi, panggil saja namanya Sohib, dia bisa anda temukan disini. Saya masih ingat saat mengunjungi rumahnya yang hanya terpaut beberapa rumah dari rumah saya. Sore itu, dia menyodorkan iklan SFP di salah satu surat kabar nasional. Surat kabarnya hanya saya bolak balik mencari artikel yang lebih menarik yang bisa saya baca. Saya jelas tak memiliki ketertarikan saat itu dengan SFP. Bahkan ia lah yang menyuruh saya menghubungi kontak yang ada di iklan, siapa tahu dengan mengikuti kompetisi itu saya bisa menang. Mungkin pikirnya begitu.
Saya membawa pulang surat kabar itu dan masih tak tertarik dengan kompetisinya. Setelah saya membaca surat kabar itu sekali lagi, saya menemukan alamat yang bisa didatangi untuk mendaftar. Ternyata tak jauh dari kampus saya. Sepulang dari kuliah perancangan III, sahabat saya di kampus, Ruli berhasil saya sikat untuk menemani saya mendaftar. Siang itu matahari cukup terik. Hanya beberapa menit dari kampus, saya dan Ruli sampai disana. Ternyata tempat pendaftaran yang terletak di perumahan itu salah satu basis ikatan desainer wilayah Jawa Timur. Hanya sepuluh menitan disana saya berhasil mendapatkan kartu peserta.
Beberapa hari setelahnya, saya pun berangkat kekampus dengan tas punggung yang lebih penuh dari biasanya. Alat-alat gambar sederhana saya sudah menempati kantong-kantongnya. Saat itu akhir musim kuliah, hanya menunggu dua hari sebelum minggu tenang yang biasa dilanjutkan dengan UAS. Saya masih ingat hari itu Jumat. Hari aktif terakhir ngampus sebelum libur seminggu. Kebetulan saya dan Ruli mengambil mata kuliah minor yang sama, digital modelling. Kuliah yang sebenarnya berakhir pukul lima sore, namun saya nyelonong pergi setelah menyelesaikan tugas studio pukul tiga. Kompetisinya sendiri dimulai pukul empat sore. Perjalanan dari kampus ke Plaza Tunjungan tak kurang setengah jam.
Saya menyempatkan mampir ke kos teman dekat kampus sebelum menuju kesana. Saya hanya ingin meminjam meja mini yang biasa dipakai untuk menaruh keyboard PCnya. Teman yang telah berbaik hati sore itu namanya Fajar, penggemar Vespa yang sekarang sukses berwirausaha. Setelah saya rasa bekal saya cukup, langsung tancap menuju venue. Mengendarai motor butut setia, akhirnya pukul empat sore lebih sepuluh menit saya tiba disana. Setelah menemukan kumpulan manusia dengan alat-alat gambarnya, saya daftar ulang dan langsung mendapatkan nomer resmi. Nomer 1, sesuai abjad nama saya. Hal ini mengingatkan saya dengan urutan yang selalu pertama saat jaman sekolah dulu. Selalu menempati urutan 1. Saya ingat perasaan saya saat itu. Tak tau arah, persis seperti orang kesasar di jalanan besar yang berisi orang-orang hedon.
Menunggu di deretan kursi peserta membuat nyali saya semakin ciut. Apalagi jika bukan karena pesaingnya yahud-yahud. Penampilan yahud ditunjang alat gambar berkualitas seakan menandakan kepercayaan diri yang tinggi. Lah saya? Baju kusut, muka berminyak tercampur debu dan asap jalanan. Benar-benar komplit. Setelah sejaman menunggu akhirnya kompetisi dimulai. Semuanya duduk sesuai nomer urut. Saya duduk sebelah kanan pojok. Tentunya didepan. Sesekali mata saya tak bisa fokus mengamati pesaing-pesaing di sebelah saya. Peralatan gambar mereka lebih tepatnya. Bagaimana nyali tidak ciut jika alat yang mereka bawa rata-rata bermerk. Pastilah kualitasnya yahud dan menunjang hasil karya nantinya. Saya? Hanya bermodal alat-alat murah, pensil warna yang umurnya mungkin sudah mencapai dua tahun dengan panjang yang berbeda di setiap warnanya. Pensil mekanik seharga tiga ribuan, penghapus pensil yang bentuknya pun sudah tak jelas karena seringkali diiris cutter, beberapa glitter pens, yang semuanya berada didalam kotak pensil biru. Plus meja belajar si Fajar menjadi alas gambar.
Oke, kertas gambar mulai dibagikan oleh panitia dengan tema jelas terpampang di pojok atas kertas A3, Ethnic Futuristic Ready To Wear. Saya mengamati keempat juri yang duduk dikursinya masing-masing, seorang jurnalis fesyen, fotografer majalah fesyen, ketua APPMI dan seorang fashion lecturer. Beberapa menit setelah saya mendapatkan kertas gambar sembari mendengarkan aturan kompetisi dari MC, saya mulai berpikir desain apa yang bisa mewakili konsep keseluruhan Ethnic Futuristic Ready To Wear. Sekilas saya berpikir memodifikasi batik sebagai material dasar dan membumbuinya dengan sedikit kreatifitas agar nampak lebih segar dan muda. Saya masih ingat tahun 2008 menandai kepopuleran batik dengan munculnya varian dan desain batik. Tanpa pikir panjang pikiran saya setuju untuk mengangkat batik. Saya mulai dengan membuat proporsi model dan berhasil menyelesaikannya dalam waktu semenit-Damn! Jika saya ingat apa yang saya gambar saat itu dan kembali melihatnya hari ini, proporsi yang saya buat sungguh berantakan. Kemudian mulai mendadani sketsa model saya dengan ilustrasi batik modern berupa asymmetric coat berwarna coklat tua dipadu dengan light dark green tee dan asymmetric skirt berbahan batik. Agar terkesan tak biasa, saya menambahkan ready to wear obi dengan detail yang rumit dipinggang –sayang saya tak bisa menampilkannya di blog ini, karena tak sempat mengekspornya ke format jpeg – coba saja dibayangkan dari penjelasan tadi :).
Jika kembali mengingat karya saya saat itu sungguh memalukan. Bagaimana tidak, proporsi yang berantakan, tidak setinggi proporsi model yang seharusnya, arsiran warna yang tak berarah, dan secara keseluruhan nampak tidak cukup istimewa. Tak lama menyelesaikan karya, kira-kira sejam dari empat jam yang diberikan panitia, saya memutuskan pulang. Saya sengaja melewati jalan dimana saya bisa melirik karya peserta lain dan damn! saya tercengang. Mereka rata-rata memiliki kemampuan yang wow!. Apa-apaan ini, jika begini saingannya mana bisa menang. Tak apalah, tak usah berpikir menang kalah yang penting sudah berani berkompetisi. Saya mencoba menenangkan diri. Melihat karya-karya gila yang ditunjang dengan alat-alat berkualitas tentunya akan membuat karya saya tenggelam dalam tumpukan gambar yang rata-rata dihasilkan dari pengenyam sekolah mode yang tahu persis bagaimana teknik ilustrasi. Ya sudahlah saya pulang saja.
***
Awarding Night
Tiga hari setelah lomba awarding night-nya digelar. Malam itu saya sangat malas datang karena migrain kiri saya kumat. Apalagi sepanjang sore itu saya sudah keliling mall untuk mendapatkan sebuah jaket. Menjelang pukul tujuh malam saya menelpon sahabat SMA, Fahmi namanya. Pikiranku berubah, tak apalah datang meski sebentar hanya ingin tahu saja siapa yang akan menang. Dengan begitu saya bisa tahu kualitas apa yang dipertimbangkan juri untuk pemenangnya. Akhirnya sahabat saya itu berbaik hati mengantarkan kesana. Karena invitation-nya admits two, kami pun bisa masuk ke zona makhluk-makhluk legal yang ternyata setelah saya sadar, kami duduk di barisan penonton, bukan barisan khusus peserta. Beberapa menit setelah kami sampai di venue, MC acara malam itu mulai masuk pada sesi awarding untuk illustration competition. Satu persatu dari total enam pemenang ditampilkan di giant screen di atas stage putih. Hitungan mundur dimulai dari pemenang favorit ketiga dan berlanjut hingga memasuki detik menegangkan untuk juara kedua. Kami mengamati ilustrasi yang ditampilkan di layar raksasa itu. Sambil berbisik saya katakan pada sahabat saya ilustrasi yang menang karya-karyanya ngeri. Saya mengajaknya pulang saja. Tapi dia mencegahku dengan alasan yang cukup logis. Sayang saja jika tidak mengikuti acaranya sampai selesai. Okay alasannya diterima meski kepalaku mulai terasa lebih berat dari sebelumnya.
Menjelang juara pertama diumumkan, MC nya pun mengeluarkan kata-kata yang mendebarkan bagi seluruh peserta kompetisi. “Siapakah pemenang pertama? langsung saja, pemenang pertama fashion ilustration Surabaya Fashion Parade 2008, pertama kali digelar, dimenangkan oleh peserta dengan nomer urut…….Wah ini spesial, pemenang pertama dimenangkan oleh nomer urut ; Satu!”. Hah? nomer satu kan milik saya. Bagaimana bisa? Saya hanya menatap heran ke layar raksasa malam itu. Bagaimana saya bisa percaya menumbangkan peserta-peserta dengan ide dan teknik yang rata-rata maknyus. Setengah tak percaya. Namun memang yang tertampang disana itu karya ecek-ecek kedangdut lengkap dengan nama saya. Sahabat saya pun menyuruh bergegas ke atas stage sesuai permintaan MC. Sambil bersorak, “traktiran!”. Saya pun langsung menuju stage yang sebelumnya harus menahan sorotan lampu-lampu yang bergemerlapan sepanjang runway berwarna putih. Langkah saya cukup mantap ingin segera mengakhiri di depan. Seorang model menyerahkan award lengkap dengan karya saya yang telah dibingkai. Ah, apa-apaan ini.
Tak percaya saja bagaimana bisa tiga hari sebelumnya saya datang dengan penampilan super kusut dan alat-alat murah meriah bisa menggondol piala dan beberapa hadiah yang cukup asik. Uang tunai, kursus gratis di Lasalle, akademi fesyen dan desain yang pusatnya di Kanada –sayang kursusnya tak pernah saya ambil karena saat itu saya hanya ingin menyelesaikan kuliah yang akan memasuki jenjang menuju Tugas Akhir– , beberapa parfum dan merchandise. Akhirnya pukul sepuluh malam kami pun meninggalkan venue. Kepala saya masih cekat-cekot namun terhibur dengan piala didalam tas dan uang tunainya :D. Ah leganya karena saya berhasil melewati hari yang melelahkan. Keputusan hadir di malam penghargaannya ternyata tak salah, meskipun saya sedikit menyesal tak sempat mengabadikan momen di stage padahal kamera saku sudah saya siapkan sehari sebelumnya.
Tak apalah, biar saya ingat saja setiap detailnya.
Saya sempat merekam keceriaan ramadhan tahun ini meski hanya sepuluh hari. Ramadhan memang tak bisa dipisahkan dengan kawasan Ampel. Kawasan religi yang sudah dikenal hingga mancanegara ini selalu ramai dengan kekhasan kampung-kampung arab dan pernak-perniknya. Terlebih saat ramadhan tiba, suasana yang selalu saya rindukan saat tak memiliki cukup waktu menikmati ramadhan di tanah air.
Jalan masuk dari Ampel Suci.Peziarah di sepanjang Ampel.Toko sarung di Ampel banjir pembeli saat ramadhan.Kurma jauh lebih subur saat ramadhan, berbagai jenis bisa didapatkan di Ampel.Salah satu pilihan untuk oleh-oleh, klompen.Tasbih beraneka rupa.Ribuan aroma parfum tersedia di Ampel.Pembeli berburu CD islami.Aneka pacar yang populer sangat mudah ditemukan di Ampel.Pernak-pernik yang seringkali diburu peziarah putri jika ke Ampel.Pedagang menyediakan aneka jajanan pasar murah meriah.Suasana salah satu masjid di Ampel selepas Isya.Peziarah berbelanja salah satu buah tangan favorit, kurma.
Pagi ini hari kelima bulan kesembilan Bimbi tiada. Kucing malang yang tiada karena sakit. Tiga hari yang lalu dia masih mau makan whiskas rasa lamb, rasa kesukaannya. Dia istrihat untuk selamanya di usia yang tak muda, kira-kira usianya sudah menginjak sembilan tahunan. Kalau saya tak salah satu tahun umur kucing setara lima belas tahun umur manusia, mungkin sudah ajal si Bimbi hari ini. Dia sudah tinggal dengan flatmate-ku yang juga juragannya, mas Andhi selama lima tahun di flat. Bukan waktu yang singkat untuk seekor kucing yang disini, di Afrika, dimana anda tak akan mudah menemukan kucing dipelihara. Apalagi ia keluyuran hidup dan berjalan dengan santainya diluar seperti di Indonesia. Disini, kucing merupakan salah satu binatang yang dipercaya memiliki kekuatan magis. Tak jarang banyak orang Afrika takut kucing.
Bimbi semasih sehat :( | Bimbi while he was fine :(
Saya sendiri mengenal Bimbi masih setahunan, ia persia jantan yang cukup nakal, sering merusak sofa. Mencakar-cakarnya dengan kuku-kukunya yang tak lagi rapih. Beberapa kali memecahkan gelas saat ia menjelajah meja makan. Saya masih ingat saat saya menghabiskan sebulan penuh sendirian di flat. April tahun ini saat semua flatmate saya cuti tahunan. Bimbi menemani saya saat tergeletak lemas di kasur karena malaria. Biasanya saya tak mengijinkan Bimbi masuk ke kamar karena saya malas membersihkan bulu-bulunya yang sering tertinggal. Ia menemani sepanjang malam dengan tidur didepan AC, tempat favoritnya.
Meninggalnya Bimbi mengingatkan saya pada kucing kesayangan Ibu dirumah yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Saya ingat Ibu menangis saat kucingnya menggerakkan tangan kanan seakan memberi tanda pamit. Kasihan. Saya percaya melepaskan binatang peliharaan tidak mudah untuk beberapa orang. Sama seperti halnya kehilangan seseorang yang kita cintai. Meskipun mungkin tak akan menghabiskan waktu yang lama untuk mengenangnya.
Paling tidak, Bimbi sudah dipelihara dengan baik selama lima tahun dan pagi ini dia sudah dikubur. Come back to his Creator.