Breakfast Today ; Spinach Pasta with Sautéed Simple Chicken.

Breakfast A1

Honestly I was so lazy preparing my breakfast this morning until I left my room to cook 10 minutes breakfast. It wasn’t my plan to capture this breakfast really but damn, I got stuck and took my camera!. Then I entered my flatmate’s room to try his new digicam, Samsung Galaxy Camera, a stylish digital camera that has many features and do you know? You can capture, play with instant photo editing effects then post it through instagram, path or other social media directly from the wide touch screen huh! I tried it to capture some of shoots from my breakfast but hehehe I haven’t download them from my email that he sent before. Next time I’ll show you the result from Galaxy camera which is pretty indeed.

So what did I cook for my breakfast this morning? Super simple. I cooked spinach pasta spiced with fresh garlic, chili sauce, soya sauce, small fresh pepper, pinch of salt and olived oil, just like the way you cook instant noodle. I always think that cooking this kind of pasta with simple spice is much better than cooking instant noodle instead. What do you think?.

I served my spinach pasta with sautéed simple chicken, some slices of fresh mandarin orange and marble cake as dessert, a cup of bitter lemon tea, and hmm I forgot to include spring water here.

Breakfast A2

Breakfast A5

Breakfast A3

Breakfast A6

Rindu Makan (ini).

Sekeren apapun karya koki di atas piring saji, seenak apapun makanan Italia yang pernah saya nikmati, tak ada satupun yang bisa menggantikan masakan negeri sendiri.

Saya tak bisa memungkiri bahwa salah satu tantangan hidup di negeri asing adalah harus bisa beradaptasi menahan rindu makanan negeri sendiri. Ini bukan Belanda, dimana saya mungkin bisa dengan mudah menemui kedai ataupun restoran Indonesia. Ini Nigeria di Afrika, tempat dimana saya hanya bisa menghitung dengan jari berapa banyak restoran Asia, adapun hanya restoran Cina, Thailand dan beberapa yang menawarkan masakan Jepang. Dan sungguh, hanya bisa dihitung jari. Selebihnya restoran kebarat-baratan ala Inggris, pengaruh Afrika Selatan, dan gempuran imigran-imigran Lebanon seperti jamur yang tumbuh diantara restoran Nigeria sendiri. Lidah saya sudah cukup mahir beradaptasi menyantap makanan lokal, mencoba English Breakfast, hingga jajajan kebarat-baratan tadi. Tapi apa saya menyukai itu semua? Bisa jadi. Tapi makanan-makanan itu tetap ada di nomer sekian dibanding makanan Indonesia.

Saya tak bisa memungkiri pula, bahwa tahun pertama saya kembali ke Indonesia tidak memanfaatkan waktu dengan baik untuk mengeksplor lagi cita rasa makanan Indonesia. Itu kesalahan dasar, seakan saya lupa saya akan kembali menembuh sebelas bulan hidup tanpa makanan-makanan enak yang mustahil saya temui disini. Saya berjanji, tahun ini, saya akan lebih banyak ‘blusukan‘ ke pasar tradisional, mengunjungi beberapa kedai-kedai masakan Indonesia yang namanya sudah terkenal ‘maknyus‘, mengeksplor beberapa tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, makan, makan dan hanya makan.

Akhir-akhir ini saya hanya bisa menahan rindu dengan melihat beberapa makanan Indonesia ini *glek.

Rindu ini 3

Sate Karak.

Saya sempat mencoba salah satu jenis sate yang saya dapat di sekitaran Ampel ini secara spontan, tak ada rencana hunting kuliner sebelumnya. Sate Karak yang disajikan dengan nasi hitam ini rasanya berbeda. Gurih dan menarik. Sebenarnya saya ini cerewet jika mendengar ‘jeroan’. Saya tidak menyukainya sama sekali. Tapi toh saya mengesampingkan ketidaksukaan itu hanya untuk melampiaskan kerinduan akan sate ini. Meskipun saya hanya menyantap dua tusuk sate saja karena masih terpikir itu jeroan. Sate yang berasal dari usus sapi ini dibumbui dahulu dengan bumbu khusus kemudian dibakar. Nikmatnya seporsi sate karak ini muncul saat poya manis dan parutan kelapa segar menyatu dengan rasa nasi hitamnya yang agak hambar.

Rindu ini 2

Molen dan Onde-onde mini.

Melihat gambar ini saja saya langsung ingat rumah, hehehe. Ya, setiap kali mengitari kawasan Ampel yang tidak jauh dari rumah selepas maghrib, Bapak ataupun Ibu saya biasa minta dibelikan jajanan ini. Onde-onde mini yang rasanya manis dan renyah ini memang paling enak dimakan saat santai hanya ditemani teh tawar hangat. Molen? sama saja, adonan tepung renyah yang membalut potongan pisang rasanya juga *glek. Kecerewetan saya yang lain tentang penganan yang diolah dengan teknik deep-fried tentu saja saya tepis kemarin. Bagaimana saya bisa memenangkan ego untuk menghindari penganan deep-fried seenak onde-onde mini dan molen? Tanya saja bang Nuran enaknya Molen seperti apa.

Rindu ini 1

Terang Bulan atau Martabak Manis?

Ah sama saja. Ada yang menyebutnya Martabak manis ada pula yang menyebutnya Terang bulan. Jajanan ini sempat saya beli kemarin. Saya memilih isian yang full cheese *glek lagi. Yang saya suka dari penganan ini adalah tekstur kulit tepungnya yang lembut, bagian garing yang biasa saya dapat di pinggirannya, serta isiannya yang bisa disesuaikan. Saya selalu memilih bagian paling fat saat terang bulan selesai dipotong setelah dilipat. Kala memesan terang bulan saya selalu meminta penjualnya untuk tidak melumurkan mentega di atas kulitnya. Ya, saya kurang suka jika kulitnya berminyak.

Rindu ini 4

Rujak Cingur.

Aduh, ini kenapa semakin ke bawah foto yang saya ambil tahun lalu semakin membuat saya *glek. Rujak Cingur? Ya, Rujak Cingur. Ada yang tidak suka makanan khas Jawa Timur ini? Kesalahan besar. Paduan bumbu kacang yang diulek dengan petis, pisang mentah, garam, dan cabai ini rasanya ya Tuhan, kenapa bisa enak seperti itu? Apalagi disajikan dengan lontong, sayuran, tahu, tempe, dan cingur. Cingur adalah satu-satunya bagian luar sapi yang lolos dari daftar ‘kecerewetan’ saya. Saya benar-benar bisa lahap menyantap rujak ini.

Sebenarnya saat kembali kesini saya sudah menyiapkan petis untuk membuat rujak versi saya sendiri. Malangnya saya lupa menaruhnya di dalam koper. Petugas di bandara pun menyita petis saya itu, padahal hanya sekotak kecil. Benar-benar sial. Damn! I’m craving you Rujak!

Rindu ini 6

Sop, Perkedel, Empal dan Tempe!

Yang terakhir, masakan Ibu saya. Sop itu satu makanan favorit saya. Berbagai sayuran yang dimasak dengan kuah berbumbu disantap dengan perkedel kentang, empal daging dan tempe. Plus sambal koreknya. Adakah yang lebih enak daripada ini?

Ah andai saja tiket Lagos-Jakarta seharga Jakarta-Singapura, langsung tancap gas deh, pulang! Kemudian hunting makanan-makanan ini hingga kerinduan saya lenyap. *sigh.

A Simply Blissful Monday Night.

Hey ya, hujan baru saja reda. Senin malam yang lumayan menenangkan. Inside my chamber, had time to update this blog, and o yeah, felt blessed masih memiliki makan malam. Makan saya lahap malam ini, sembari berbincang kecil dengan flatmate saya, sedikit sibuk mencari angle foto untuk postingan ini hingga kembali ke dalam kamar dengan segelas Dilmah Vanilla panas dan Dark Chocolate Loacker Wafer.

Hujan, semilir angin dari luar, sepiring nasi panas dan lauknya. Ah, kadangkala hal sederhana seperti malam ini membuat saya merasa kaya. Enjoy the pics! 

Blissful Monday Night

Blissful Monday Night 2

Blissful Monday Night 3

Sour & Sweet Es Campur.

Es Campur 1

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berkicau tentang ‘perandaian’ bisa menikmati semangkuk kesegaran es campur di twitter. Baru sempat saya lumpuhkan perandaian itu kemarin meski es campur saya kali ini sedikit berbeda. 

Nasib sebagai perantau di negeri asing seperti Afrika ini membuat saya harus dan wajib bisa mandiri. Tak hanya dalam urusan sehari-hari seperti pekerjaan, target harian, urusan rumah dan pengeluaran bulanan, craving my Indonesian foods kerap kali membentuk kangennya sendiri. Kalau di Indonesia saya bisa dengan mudah mendapatkan jajanan yang sedang saya inginkan, hidup disini lain cerita. Es campur, adalah salah satu hidangan penutup yang sedang saya rindukan. Apalagi akhir-akhir ini panasnya Afrika luar biasa.

Kemarin, saya sengaja membuat es campur sedikit berbeda, bahasa kerennya ‘tweaked‘ (hiks). Umumnya isian es campur itu tidak ada aturan khusus, namun biasanya berisi kelapa muda, nangka, pacar cina, kolang-kaling, cendol, alpukat, cincau, tape dihidangkan dengan kuah manis yang berasal dari susu kental manis dan sirup. Nikmatnya es campur menjadi semakin sempurna dengan kehadiran es serut di atas tumpukan isian tadi. Nah, kali isian es campur tadi sengaja saya ganti dengan rasa yang lebih segar. Memadukan rasa manis dan asam bersamaan.

Rasa asam segarnya saya pilih dari jeruk mandarin, delima dan lemon. Sedang rasa manisnya dari semangka dan susu kental manis. Saya tak akan mengesampingkan alpukat untuk es campur. Bagi saya teksturnya yang lembut dan rasanya yang yahud (lemak maksudnya, hiks) harus ada dalam semangkuk es campur.

Coba saya deskripsikan rasa es campur yang saya racik kemarin siang. Paduan manisnya semangka berbanding nikmat dengan teksturnya yang crunchy dan watery. Delima, selain warnanya yang membuat saya amazed saking cantiknya, teksturnya yang renyah pun membuatnya nampak sempurna diantara tumpukan buah lainnnya. Alpukat? jangan ditanya. Asal ia memiliki tingkat kematangan sempurna, buah kaya lemak baik itu tak akan pernah mengecewakan untuk isian es campur. Jeruk mandarin yang saya dapat kemarin rasa manis dan asamnya sempurna. Bagaimana dengan buah lemon? Eits, saya tak memasukkan lemon begitu saja. Saya hanya membutuhkan sedikit perasan lemon untuk menciptakan rasa asam segarnya. Jangan terlalu banyak agar rasa manis dari susu kental manis tidak rusak.

Apa yang saya buat untuk menggantikan cincau di dalam es campur kemarin? Tak lain tak bukan adalah jelly. Saya membuatnya terlebih dahulu dari jelly yang sengaja saya bawa dari Indonesia (Yup, I couldn’t find perfect jelly here even imported ones). Jelly rasa jeruk itu lantas saya dinginkan terlebih dahulu di dalam freezer untuk menciptakan sedikit tekstur layaknya es serut. Ini salah satu trik untuk menciptakan sensasi es serut dari jelly bagi yang tidak punya mesin es serut seperti saya. Dengan catatan jangan sampai lalai menaruh jelly di dalam freezer hingga ia beku karena o yes! tekstur kenyalnya akan rusak dan menjadi ‘kekenyalan’. Memang ada yang kurang dari semangkuk es campur tanpa cincau, namun seperti yang saya sebutkan di awal, I need to think differently dan mandiriAh, andai saya bisa menemukan cincau di Lagos, bisa jadi itu salah satu ‘perandaian’ saya berikutnya.

Alright, enjoy pics that I took yesterday! 

Es Campur 2

Es Campur 3

Es Campur 4

Es Campur 5

Es Campur 6

Es Campur 7

Es Campur 8

A Slice of Tiramisu, Snack this noon.

Tadi siang saya kembali ke Rhapsody untuk membalas ‘icip-icip’ dessert yang tempo hari gagal. Masih ingat Mango Meringue yang rasanya berantakan? Kali ini saya cukup puas menyantap dessert asal Italia, Tiramisu.

Sejatinya Tiramisu itu well known akan lapisan teksturnya yang lembut yang berasal dari campuran egg yolks dan keju mascarpone serta aroma dan rasa kopinya. Tiramisu ala Rhapsody ini teksturnya lembut, kopinya terasa meskipun tak terlalu kuat, dan penyajiannya saat dingin adalah wajib untuk sebuah Tiramisu. Saya suka presentasi piringnya yang selalu putih (yeah! White is always awesome) dan taburan bubuk kopi yang membuatnya tampak menggiurkan, tapi agak kurang suka dengan cara mereka mengguyur Tiramisu ini dengan saus karamel. Bukan rasa sausnya yang tingkat kemanisannya tepat, namun pattern-nya yang menyilang membuatnya agak sedikit berantakan. Sayangnya lagi saya tak mendapati lady fingers atau Savoiardi di samping seiris Tiramisu ini.

Dari segi rasa, dessert seharga N1200 atau sekitar 72 ribu ini cukup worth it. O ya, jangan salahkan saya ya, setelah anda melihat gambar yang saya ambil, you will crave Tiramisu immediately, hihihi.

Enjoy!

Tiramisu2

Tiramisu3

Tiramisu4

Tiramisu5

Tiramisu7

Spinaci Bolognese with Milky Mushroom Sauce, Roasted Chicken and Broccoli.

Spinaci Pasta
Spinaci Bolognese with Milky Mushroom Sauce. Served with Broccoli and Chicken.

Minggu lalu saya menemukan salah satu produk Barilla yang cukup unik. Dari kemasannya terpampang jelas warna pastanya hijau yang didapat dari salah satu bahannya : “Spinaci” atau Bayam dalam bahasa Indonesia. Yap, Pasta Bayam. Karena kemarin minggu saya membawa pulang tiga porselain culteries ,sekalian saja mengolah Spinaci Bolognese. Mari!

Pasta yang berbahan dasar gandum berpadu dengan bayam, kebayang bakal seperti apa rasanya?.

Sebenarnya saya hanya iseng mencomot Barilla Spinaci hanya karena penasaran dengan bentuk dan warnanya yang unik. Saya sendiri tidak mahir memasak masakan Italia. Bukan belum mahir sih, belum bisa lebih tepatnya. Jadi saya putuskan memasak bolognese ini dengan teknik fusion. Meski hanya coba-coba rasanya boleh dicoba, hihihi. Ini serius.

Saya bermain dengan jamur, ayam dan brokoli. Jamur sebagai salah satu bahan sausnya, ayam dan brokoli sebagai side dish-nya. Sebelum mengolah saus jamur dan side dish-nya, mari siapkan dulu bahan-bahannya :

Spinaci 1
Yeah! saya suka potret model beginian, just need a perfect late noon sun shine and captured then.
  • 5 buah pasta – Nah yang ini tergantung, jika bentuk pasta anda berbeda dari Barilla Spinaci saya, atur saja lah, create from your own. Yang penting ini takaran untuk satu porsi.
  • 5 bongkah kepala brokoli – Kok bahasanya tak enak didengar ya, hihihi. Saya yakin anda paham maksudnya.
  • Segenggam jamur tiram – anda bisa menggunakan jamur kancing jika suka.
  • 200 gr chicken fillet. 
  • 50 cc full cream milk.
  • 1 biji jeruk nipis untuk perasan ayam.
  • Bumbu : 4 siung bawang merah | 2 siung bawang putih | 2 biji cabe rawit | 1/2 sdt merica bubuk | sejumput garam dan gula| 1 sdt saus sambal, 5 sdm minyak zaitun untuk menumis, 1 sdm butter, 1 sdm mushroom sauce.Pelengkap : Daun bawang –anda bisa menambahkan Oregano atau Thyme.Green Pasta 8Spinaci 2

Mari memasak!

  • Kita awali dengan merebus pastanya. Seperti biasa, didihkan dulu air kemudian masukkan pasta, tambahkan sedikit garam dan minyak zaitun. Rebus hingga pasta matang, sisihkan.
  • Siapkan air panas di mangkuk yang berbeda untuk mematangkan brokoli. Saya sengaja mematangkannya secara terpisah, tak bersamaan dengan sausnya. Saya hanya merendam potongan brokoli didalam mangkuk berisi air panas sekitar 3 menit hingga brokoli cukup matang. Teknik mudah untuk mematangkannya tanpa merusak tekstur crunchy brokoli.Green Pasta 7
  • Alright, sekarang waktunya bikin saus. Siapkan pan yang sudah anda panasi, masukkan 1sdm butter biarkan meleleh. Kemudian masukkan bawang merah, bawang putih dan cabe rawit yang sudah dicincang kasar. Tambahkan 5 sdm minyak zaitun. Tumis hingga harum.
  • Tambahkan merica, garam dan gula. Masukkan susu, aduk hingga tercampur dengan bumbu tumisan tadi. Tambahkan saus cabe dan saus jamur. Terakhir masukkan jamur. Aduk hingga matang. Selesai!
  • Tinggal ayam yang belum diolah. Potong ayam memanjang, jangan terlalu tipis, kemudian taburi garam, merica bubuk, dan perasan jeruk nipis. Panaskan pan yang sudah dilumuri minyak zaitun, kemudian letakkan ayam. Karena saya menginginkan ayam garing di luar namun lembut di dalam, maka saya menggorengnya dengan teknik sauteing yang hanya membutuhkan minyak zaitun secukupnya. Oke semuanya matang, tinggal menyantapnya.
  • Saya menata pasta, saus, ayam dan brokoli diatas porcelain culteries yang baru saya beli kemarin, hihihi. It was so beautiful dish on the beautiful white porcelain i thought!. Nah cara makannya seperti biasa, hanya butuh mencampur pasta dengan sausnya. Kemudian makan dengan brokoli dan ayam. Jika suka, taburi pasta bayamnya dengan potongan daun bawang dan tomat ceri. Nyum nyum!Selamat mencoba!

Green Pasta 1

Green Pasta 5

Green Pasta 4

Green Pasta 9

Green Pasta 3

Green Pasta 2

Green Pasta 6

No more Meringue!

Ya, saya tak suka Meringue. Cukup.

***

Bagaimana rasanya mencicipi salah satu dessert di restoran baru, niat anda santai sambil mencoba dessert disana, kemudian rasanya berantakan? Saya mengalaminya. Dahi saya mengerut seketika.

Ada salah satu restoran Afrika Selatan yang bisa saya centang menjadi salah satu tempat makan enak di Lagos. Rhapsody, nama restoran yang berada di salah satu mall yang cukup baru, Ikeja Mall. Pertama kali kesana, saya terpikat dengan beberapa main dish yang mereka tawarkan. Selain rasa, presentasi menu-menu mereka bisa saya masukkan A-list dish untuk ukuran restoran di Lagos.

Namun tidak semuanya menu dengan nama-nama asing yang ada di daftar menu mereka memuaskan indera pengecap saya. Kesan gagal saya rasakan dari Mango Meringue with Strawberry Sauce. Siang itu niat saya memang ingin mencoba dessert mereka, namun pilihan pertama saya rasanya sungguh berantakan. Mango Meringue with Strawberry Sauce manisnya tak karuan. Paduan mangga kalengan yang sudah manis, ditambah dengan potongan meringue yang amat sangat manis, plus satu scoop es krim vanila dengan saus stroberi membuat saya langsung berkata “This dessert is banned, no more meringue!”.

Meringue sejatinya adalah salah satu olahan dessert manis yang biasanya ada di menu Perancis dan Swiss. Terbuat dari putih telur dan gula dengan proses kocok berkecepatan tinggi kemudian dipanggang di oven hingga mengeras. Rasanya yang manis dan ringan barangkali menjadi daya tarik meringue, namun sebagai penggemar dessert, meringue tidak termasuk dalam daftar saya.

Untuk satu porsi dessert ini saya harus merogoh N1400 atau sekitar 90 ribu rupiah. Harga yang cukup mahal untuk ukuran dessert dengan rasa berantakan. Tampilannya sih bagus, rasanya yikes!.

Untuk menghibur hati, nikmati sajalah foto yang saya ambil, Mango Meringue with Strawberry Sauce. Banned!

DSC03813 copy

DSC03813 copy1

Suya, Sate À la Afrika

Suya

Jika di Indonesia saya terbiasa dengan sate, di Afrika, saya bertemu Suya.

Jika anda penggemar sate yang variannya bejibun di Indonesia, saya tantang anda menikmati Suya, penganan khas Afrika Barat yang mirip dengan sate.

Suya sendiri sejenis barbecued meat yang awalnya diracik oleh suku Hausa di Nigeria dan Niger. Oya, Nigeria dan Niger itu negara yang berbeda ya, banyak yang masih berpikir Niger itu Nigeria. Suku Hausa yang sebagian besar adalah muslim, meracik penganan yang rasanya gurih ini dengan salah satu bumbu rahasia, namanya Tankora. Tankora adalah sejenis bumbu campuran dari cabe cayenne, paprika, kacang tanah, jahe dan bawang.

Cara masaknya mudah, siapkan saja Tankora dan lumurkan ke daging yang sudah diiris tipis hingga terbalut sempurna. Setelahnya tinggal dipanggang diatas bara api persis seperti penjual-penjual sate di Indonesia. Kadangkala penjual Suya menambahkan minyak kelapa diatas Suya yang sedang dipanggang untuk memperkuat aroma Tankora. Penyajian Suya tentunya irisan bawang merah segar. Bisa anda bayangkan rasanya si Suya?

Daging yang digunakan untuk membuat Suya umumnya daging sapi, ikan, dan ayam. Namun sekarang penjual-penjual Suya yang mudah ditemukan di jalanan mengolah ‘jeroan’ sapi menjadi variannya. Untuk satu tusuk Suya umumnya dijual seharga N200 atau sekitar 12 ribu rupiah. Saya sendiri hanya tiga kali mencoba Suya, menu darurat jika sedang malas masak plus kantong mengempis hehehe.

Suya sebelum dipanggang.
Suya sebelum dipanggang.
5-7 menit cukup untuk mematangkan Suya.
5-7 menit cukup untuk mematangkan Suya.
Makannya bisa dengan nasi putih panas. Bisa jadi pilihan cepat jika kantong sedang kempis hehehe.
Makannya bisa dengan nasi putih panas. Bisa jadi pilihan cepat jika kantong sedang kempis hehehe.

Pineppy up!

Let these peppy up you!
Let these peppy up you!

Pineapple. Mint and Lemon, what else could peppy up your day?

I found an idea to make a simple drink after I read Caribbean and South America recipe book published by Hermes House. An easy drink and fresh as well from exotic pineapple, lemon and mint. I just put small sugar in. Would you try it in your kitchen?

All you need to do is blend 250 gr fresh pineapple, lemon – cut into two you just need half of it – and some of fresh mint leaves together and tarra! See this :

Easy and fresh.
Easy and fresh.
Depends in you if you prefer using juicer, but I loved to get pineapple pulp.
Depends in you if you prefer using juicer, but I loved to get pineapple pulp.
Slurrrrp.
Slurrrrp.
See the pulp, nyum!
See the pulp, nyum!

 

Pineapple lets peppy up!

Cheers,

Azis.

Plantains with Some Funk!

Funky!
Funky!

Yesterday late noon my flatmate brought this cute dish when I was editing pictures for my last post, Tea, my tea. He transformed it onto ‘Plantains with some funk’. Just need a small creativity to tweak plantains to be a nicer dish. Lets start!

He used ingredients that we had in our kitchen such :

*Plantains, pick a good one, do not use too-ripe one, it doesn’t work. Depending on how many do you need, he made for two.

*Cheddar cheese, 2 slices for each plantains.

*Butter.

*Garnish including Nutella, Condensed Milk, Mayo, and Cherry.

Hey Cheery was just a fruit garnish that we had in fridge! hahaha, you’ve seen it how many time right? No probs, you can use strawberry if you like. Just play as fun as you can. Alright, all you need to do just :

Prepare your pan, heat it and make sure you have enough heat and start to put one tea spoon of butter, slice plantains into two before and grill on your pan. You just need to flip one time if you sure that your one side plantains become brownie. Do it until finish. Then, pour condensed milk on your plate, create interesting line of milk, put your grilled plantains, spread nutella, mayo, and cheese. He cutted cheddar and rolled. Then put cherry to give more colors and tarra! Dessert time or tea time? Whatever, create your own fellas!

Cute? Nice? O sure!
Cute? Nice? O sure!
Wanna see closer? This is it! Plantains with some funk. Try your own!
Wanna see them closer? This is it! Plantains with some funk. Try your own!

Happy cooking.

O yeah you can find him here.