Bahagianya Pulang! (Bagian 1)

Tadi pagi hampir siang, sekitar pukul 11, saya baru mendapat kabar salah satu teman saya disini akhirnya sampai juga di Jakarta. Penerbangannya hampir sama dengan apa yang saya punya tahun lalu, pukul 5 sore berhasil mendarat di Jakarta. Darinya kemudian membuat saya tergerak untuk menulis secuil perjalanan pulang saya tahun lalu. Kepulangan pertama.

Yang namanya pulang kampung untuk seorang perantau bisa jadi salah satu momen istimewa. Bagi anda yang merantau di kota lain untuk bekerja, momen pulang kampung itu indah. Terlebih saat hari raya, saya amini momen itu sebagai momen penting. Penting dan indah bukan?. Jika kota tempat anda bekerja masih dalam satu negara yang sama, pulang kampung bisa sepenting itu, maka perantau macam saya yang tinggal dan bekerja di negara orang, momen itu berkali-kali lipat pentingnya. Saking pentingnya, momen itu berhasil membuat saya gelisah tahun lalu. Gelisah yang membahagiakan.

Tiga hari sebelum kepulangan, bayangan-bayangan kebahagiaan sudah terekam jelas di ingatan. Kadang agar tidak lupa, sesekali saya bubuhkan tinta di atas buku catatan. Sebenarnya, bukan dari tiga hari sebelum kepulangan bayangan-bayangan itu datang. Sebulan sebelum hari H sepertinya waktu yang tepat untuk menandai excitements on exciting mind. Saking bahagianya, bayangan-bayangan itu mengganggu daya konsentrasi padahal saya ingat, saat itu target pekerjaan sebelum saya cuti cukup banyak. I had a lot on my plate.

Bayangan itu bermacam-macam, dari hal besar yang ingin saya kerjakan hingga hal-hal kecil yang juga tak kalah manisnya. Dari daftar makanan Indonesia yang wajib saya makan, tempat-tempat yang belum pernah disinggahi, orang-orang yang wajib ditemui, hingga belanja pakaian-pakaian baru yang dibutuhkan (baca : diinginkan). Segitu banyaknya.

Waktu yang paling krusial merasakan bahagianya pulang adalah malam sebelum saya benar-benar ‘pulang’. Sebentar, coba saya ingat. Malam itu sekitar pukul delapan saya berada di kamar flatmate saya. Kebetulan hari itu kami pulang tepat waktu karena tidak ada pekerjaan yang mengharuskan kami bekerja overnight. Di dalam kamarnya kami berbincang ringan tentang apa saja yang ingin saya lakukan beberapa jam kedepan. Apa yang akan saya cari di Dubai, saat tiba di Jakarta, hingga dua puluh sembilan hari kedepan. Ya, saya hanya punya waktu sebulan di Surabaya. Malam itu flatmate saya mendapat telepon dari Madam Uche, Bos kami. Sebelumnya mereka berdua berbincang perihal pekerjaan hingga akhirnya saya memiliki kesempatan berpamitan kepadanya. Madam, seperti biasa, berpesan semoga perjalanan saya selamat sampai di rumah, salam untuk keluarga dan hal-hal semacam itu. Kebetulan saya hanya bisa berpamitan melalui telepon karena beliau sedang di Florence, Itali.

Beberapa jam setelahnya, saya kembali ke kamar memandangi koper yang masih terbuka. Beberapa baju dan oleh-oleh sudah hampir tertata rapi hingga akhirnya flatmate saya masuk dan membongkarnya kembali. Ia memberi saya pelajaran packing dadakan. Menata kembali baju-baju, buku, hingga beberapa benda yang harus diselundupkan. Ah, kalimat sebelum ini sepertinya berlebihan. Maksud saya merapikan benda-benda yang kami anggap akan menimbulkan sedikit kendala saat koper saya harus diperiksa petugas bandara. Benda-benda itu pastinya bukan narkotika *rolling-eyes* hanya beberapa craft asli Afrika yang sengaja saya beli sebagai buah tangan. Kenapa barang-barang itu harus ‘diselundupkan’? Nanti saya bahas.

Akhirnya sekitar sejam, koper saya sudah jauh lebih rapi dari sebelumnya. Craft-craft tadi sudah berada di lapisan kedua setelah baju dan tertutup oleh beberapa gulungan kemeja, kaos serta kotak MacBook yang ternyata sangat berhasil menutup benda selundupan tadi. Tatanan koper saya sungguh rapi. Sekali lagi, kata flatmate saya yang sudah empat kali pulang kampung, kerapian itu akan mengalihkan petugas bandara. Ah sebenernya saya malas menyebut mereka troublesome meskipun kenyataannya demikian. Saya ingat betul beberapa menit lepas pukul 12 malam akhirnya packing selesai dan, dan….saya berusaha untuk tidur. Sedikit gagal karena gelisahnya tak karuan.

***

Hari H

Paginya saya bangun dengan mata yang masih terkantuk. Pukul tujuh saya sudah berada di kamar mandi, berdiri di bawah pancuran air dingin agar saraf dan semangat saya terbangun. Tanpa air dingin semangat itu sebenarnya sudah bangun dari sebulan yang lalu, hanya saraf yang harus dilecut agar kantuk saya hilang.

Pukul delapan saya sudah siap dengan koper yang beratnya melebihi tiga puluh kilo. Saya turun ke bawah karena memang flat saya di lantai dua. Pagi itu gerimis. Saya dibantu sopir menaikkan koper hitam itu ke dalam bagasi. Berat.

Saya dan flatmate saya mampir ke kantor. Ia harus kembali bekerja sementara saya menunggu sekitar sejaman lagi sebelum saya meninggalkan kota ini. Tepat pukul sepuluh pagi saya meninggalkan kantor. Setelah sebelumnya berpamitan kecil dengan orang-orang disana, akhirnya saya menuju bandara ditemani Sammie, seorang asli Ghana yang bekerja sebagai head manager of operation (sayangnya sekarang ia sudah resign). Saya diantar Sammie hingga memasuki antrian kemudian….pemeriksaan koper!. Tak seperti di Indonesia dimana koper cukup melewati scanner. Disini, sebelum melewati scanner, koper harus dibuka untuk pemeriksaan. Nah ini yang tadi saya bilang proses yang sedikit membuat saya dag-dig-dug. Kenapa?

Petugas bandara disini benar-benar rgghh troublesome. Mereka sedemikian hingga akan mencari celah untuk menemukan masalah dan memojokkan kita. Seperti yang saya alami hari itu. Beberapa buah tangan sudah rapi tertata di koper sudah lolos pemeriksaan karena sewaktu mereka melihat tatanan rapi, mereka akan berpaling dan menutup koper seketika. Terus? Ah! Saya lupa memasukkan salah satu patung kayu yang terbungkus koran di tas jinjing. Selain koper dan ransel berukuran sedang di punggung, saya membawa tas jinjing. Nah, petugas itu bertanya apa yang saya bawa. Ia meminta saya menunjukkan tas dan yah! ia tahu saya membawa craft. Sialnya, ia menahan tas itu, alasannya? Saya harus menunjukkan sertifikat atau berkas-berkas apa saja yang menunjukkan kalau craft itu bukan warisan budaya. Damn it was so stupid and fucking ridiculous *cursed.

Saya agak was-was jika sampai ia menahan tas dan tak mengembalikannya. Saya tak mungkin merelakan benda-benda keren itu disita. Tas jinjing saya itu isinya bukan hanya patung kayu, ada telur burung unta berlapis peta Afrika pula yang harganya juga tak murah. Dibalik sialnya saya pagi itu, masih ada Sammie di samping. Berkat bantuannya menjelaskan apa yang saya bawa dengan campuran bahasa Inggris dan bahasa lokal, lengkap dengan tetek bengeknya akhirnya tas saya kembali. Tapi…ada salam tempelnya. Untungnya hanya seribu Naira. Fiuh!

Setelah melewati pemeriksaan tadi saya kembali harus melewati pemeriksaan lainnya sendiri. Tanpa Sammie. Setelah berpelukan, saya berpamitan padanya. Ia sempat bilang “Enjoy your leave, enjoy Soto Ayam”. Hehe, ia tau apa itu Soto Ayam. Setelahnya saya duduk di depan terminal tempat saya menunggu boarding time. Saat itulah saya menelpon flatmate saya terakhir kalinya untuk mengabari bahwa saya sudah di dalam, tinggal menunggu pesawat saja. Saya mengabari kakak, yang menjadi satu-satunya orang rumah yang tahu saya pulang hari itu. Dua jam di bandara, jam tangan saya mulai menunjukkan pukul dua belas. Beberapa menit lagi petugas maskapai penerbangan asal Uni Emirat Arab yang akan membawa saya pulang, mengumumkan terminal sudah dibuka.

Didalam terminal saya duduk, sembari setengah tidak percaya memandang ada pesawat besar yang akan membawa saya pulang. Sembari menunggu sebentar, saya sempat berbincang dengan gadis asal Iran. Saya lupa namanya. Ia akan naik pesawat yang sama dengan tujuan Malaysia. Ia sebulan di Lagos untuk mencari kemungkinan berbisnis di sini. Hari itu sesuai dengan visa yang didapat, ia akan kembali ke negara dimana ia tinggal selama lima tahun. Saya sempat bertanya tentang negara asalnya, Iran. Apa yang menarik disana, makanannya, pariwisatanya. Saya juga menceritakan bagaimana Indonesia. Ia belum pernah mengunjungi nusantara meski jaraknya sangat dekat dengan negara dimana ia tinggal dengan ibu dan adik-adiknya sedang ayahnya memilih tetap bekerja di Iran. Dengan perasaan bersemangat saya memberitahunya kepulangan pertama saya ini begitu spesial karena tidak ada yang tahu saya pulang selain kakak saya. “It’s gonna be surprising moment for all” ujar saya padanya.

Ah, menutup hari dimana saya akan pulang pada banyak orang itu rencana brilian!

Oke, petugas maskapainya sudah mempersilahkan saya masuk. Delapan jam kedepan saya sudah akan berada di Dubai.

-bersambung-

Lagos, 9:52 PM. 

Self Portrait.

Sambil menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan bahan tulisan yang sudah mendekam di draft selama seminggu ini, iseng-iseng memposting foto diri sendiri *glek. Just took small fun!

Potret Diri 1

Potret Diri 3

Potret Diri 2

PS : Saya ini termasuk orang yang pemalu saat di potret orang lain, ya kadang begini ini untuk bisa menyimpan potret diri sendiri, ketemu kaca, ambil kamera dan mulai!

Paris Itu.

Entah mengapa saya ingin menulis secuil mimpi tentang Paris, kota indah milik Perancis itu.

Terlalu banyak hal indah yang sering ditulis dan diceritakan oleh jutaan manusia tentangnya. Terlalu banyak potret kota yang termahsyur dengan modenya itu menghiasi halaman depan mesin pencari. Terlalu banyak tulisan perjalanan para blogger yang pernah menginjakkan kaki disana, dan terlalu banyak pula cerita-cerita spontan yang pernah diutarakan beberapa teman saya tentang Paris.

Paris adalah Paris. Indah dan akan selalu indah disetiap sisinya. Musim dingin saja wajahnya masih sangat indah, apalagi musim semi. Musim panas mungkin waktu paling sempurna untuk menikmatinya meski musim gugur tak kalah menyuguhkan pengalaman berbeda di setiap sudut kota.

Kedai-kedai kopi kecil yang menyajikan cappucino dan croissant, macarons dari Ladurée atau Pierre Hermé , bangunan-bangunan dengan detail sempurna di setiap sisinya, buah-buahan segar yang terhampar indah di pasar tradisionalnya, champange mungkin, dan menara menjulang itu pastinya, semuanya tersusun rapi dalam things-have-to-do saya.

Suatu saat saya akan membaca kembali postingan ini di Paris. Saya selalu percaya setiap hal besar harus diawali dengan langkah kecil. Barangkali seperti postingan ini. Bagaimana bisa saya memalingkan Paris seperti ini. Ah, Anda bersedia mengamini? Saya menyukai anda seketika.

Paris Itu 1

Paris Itu 2

Paris Itu 3

Paris Itu 4

PS : Foto pertama itu salah satu scene Begin Again, sebuah klip seorang penyanyi country ternama yang mengambil setting di Paris. Saya terkesima dengan peta, espresso serta cangkir kecilnya. Sedang Sweater yang saya sisipkan di postingan ini adalah sweater yang belum pernah sekalipun saya pakai. Saya hanya menyimpannya hingga kini. Belum tahu akan dipakai kapan. Saat melihatnya saya menyematkan niatan kecil akan memakainya suatu waktu saat musim panas tiba. Musim panas yang teramat berbeda dari apa yang selama ini saya rasakan. Musim panas yang bahkan anginnya masih bisa membuat badan menggigil kecil. Musim panas itu di Paris. 

Kotak Kecil Untuk Bapak

Kotak Kecil untuk Bapak

Siang tadi saya menemukan tulisan ini. Tak sengaja hingga saya menikmati setiap kalimatnya.

Sambil menikmati sepotong Tart aux Broccoli and Chicken di salah satu kedai, mata saya membaca postingan tadi secara perlahan. Menikmati setiap kalimatnya. Tulisan sederhana namun teramat menyentuh yang ditulis Bang Nuran (begitu biasa saya memanggilnya) saat ia bertemu (Alm) ayahnya di dalam mimpi.

Tiba-tiba saya teringat Bapak.

Kotak kecil di atas itu untuknya. Siang tadi akhirnya saya membawa pulang setelah hampir tiga kali melihatnya dari etalase. Saya memilihnya karena teringat benda pertama kali yang ia pegang saat saya pulang tahun lalu. Jam tangan. Ya, jam tangan abu-abu saya melingkar di pergelangan kanannya. Mungkin ia sudah teramat bosan dengan jam tangan Seiko sederhananya. Hehehe.

Tenang Pak, nanti jika saya sampai rumah (kembali), tak perlu menggelangkan jam tangan saya.

Lagos, 9 : 39 pm.

The New Wave of Friendship.

A goofydreamer.

Saya ingat betul posisi duduk saya waktu menginjak kelas satu sekolah menengah pertama. Di pojok barisan paling depan, persis dekat pintu masuk. Saat jam pelajaran mulai masuk pukul 3 sore karena saat itu saya masuk sekolah siang hari, angin mulai menyapu wajah dan sejenak bisa mengubah hingar bingar kelas menjadi sunyi. Sunyi bagi saya setidaknya.

Ah itu dulu, jangan disamakan dengan sekarang. Dulu saat pertama kali masuk SMP saya jelas teramat pendiam hingga hanya memiliki beberapa teman yang bisa dihitung jari. Saya bukan termasuk daftar anak gaul yang populer. Mungkin dulu saya memang lambat beradaptasi ke dalam lingkungan sekolah yang rata-rata muridnya memiliki nilai akademis diatas rata-rata. Tapi itu hanya bertahan saat kelas satu dan berubah saat kelas dua dan tiga. Teman-teman saya mulai banyak.

Beralih ke SMA saya rasa saya cukup berhasil melalui masa transisi dari seorang murid yang pendiam dengan teman-teman yang terbatas menjadi murid yang banyak teman. Tentu saja saya cukup bersyukur karena mengawali SMA di kelas yang berisi teman-teman super humble. Kelas satu SMA merupakan kelas terbaik yang pernah saya lalui.

Sekarang? Semuanya berbeda. Mencari teman bukan perkara rocket science. Apalagi jaman sudah berubah sejak bermunculan jejaring sosial. Dimulai dari Friendster yang booming sekitar tujuh tahunan yang lalu, kemudian Facebook, Twitter dan yang terakhir Path dan Line. Jejaring sosial macam mereka memang banyak membantu memperluas pertemanan, paling tidak itu yang saya rasakan saat ini.

Sebagai contoh, saya mengenal Winda Savitri berawal saat saya mengurus visa di Jakarta. Saya dan Ruli yang kenal dengan Winda lebih dulu dari Ayos bertemu di Grand Indonesia Jakarta. Siang itu merupakan pertemuan pertama saya dengan Winda. Kami berbincang ringan di salah satu restoran Jepang sembari menikmati menu yang kami pesan. Saat pikir pertemuan itu salah satu awal dari pertemanan yang lebih luas hingga kemudian saya bertemu Maya Wuysang. Pertemuan saya dengan Maya terjadi saat saya, Ruli dan Winda sepakat berlibur singkat ke Bandung bulan Juni tahun lalu. Pertama kali bertemu Maya dengan kepribadian yang easy going saya pikir kami berempat benar-benar klik, bisa gila berempat dengan topik ‘kesogehan’ yang diagung-agungkan Ruli. Kami berteman baik hingga saat ini.

Selepas kenal dengan Maya, saya mulai kenal dengan Nuran Wibisono. Penulis ciamik lulusan Sastra Inggris Universitas Jember yang sekarang menimba ilmu di Magister UGM. Saya mengenalnya saat tak sengaja masuk ke blog miliknya, Foi Fun. Saat itu saya membuka blog Nuran dari link travel blog super kece Hifatlobrain milik The One and Only, Ayos Purwoadji. Blog dengan bahasan ringan namun berbobot itu cukup sering saya sambangi apalagi saat ia memposting tentang kesempatan mengunjungi beberapa negara Eropa hingga ke makam Jim Morisson. Dan memang harus diakui, Hifatlobrain dan Foi Fun adalah dua blog yang membuat saya mulai memberanikan diri membuat blog. Lebih tepatnya rajin memperbarui blog dengan konten yang berbobot. Dan saya rasa menulis di blog jauh lebih menyenangkan daripada nongkrong didepan Facebook dan melihat beberapa orang sibuk berkomentar di status orang lain. Coba buka blognya deh, saya jamin kontennya menarik. Saya dan Bang Nuran (begitu saya memanggilnya, karena dulu saya kira ia berusia 27-an, eh ternyata…beda setahun lebih tua dari saya, ealah!) lebih sering berkicau di twitter tentang makanan, resep, hingga battle masak yang belum kesampaian sampat saat ini. Oh ya, Bang Nuran ternyata juga memiliki  hobi masak. Mungkin suatu saat nanti kita bedua akan battle membuat sushi, hehehe.

Kenal dengan Nuran berlanjut dengan Slamet Utomo Rukmono atau biasa dipanggil Panjul. Teman bang Nuran ini seorang penggila sepak bola yang tak henti-hentinya berkicau tentang bola di akun twitternya. Saya juga sempat membaca beberapa tulisan bagusnya di blog miliknya. Mungkin suatu saat nanti saya bisa membuat si Panjul super iri jika bisa bertemu dengan suku magis Dogon di Mali. Kalau saya sampai bisa bertemu mereka saya janji akan memamerkan kisah perjalanan saya padanya. Masih satu line dengan Nuran, saya juga kenal dengan bang Sukmadedetraveler yang tak lelah mempromosikan Indonesia di setiap perjalanannya, simak cerita-cerita bapak satu anak ini disini. Sepertinya sekarang bang Sukma sedang gencar mempromosikan kids travelling, agar anak Indonesia mengenal negerinya sedini mungkin. Keren ya!

Pertemanan saya semakin melebar dan mulai kenal dengan traveler sekaligus writer cewek yang juga tak kalah kece, Dwi Putri Ratnasari atau mudahnya panggil saja Putri. Lulusan Airlangga ini sudah menyelusuri beberapa spot menarik di Indonesia, salah satu yang membuat saya iri ketika ia berkesempatan mengeksplor Sumba. Putri ini sepertinya juga seorang easy going dan kerennya lagi cewek ini pernah jadi salah satu traveler pilihan ACI bersama Ayos. Ia berkesempatan mengeksplor Kalimantan. Kunjungi blognya disini.

Baru-baru ini teman saya bertambah, namanya Fahri Zakaria. Ia punya blog yang memuat postingan spesifik tentang musik yang, yah ia bisa disebut music blogger. Baru-baru ini blognya sempat masuk nominasi blog musik terbaik yang dihelat salah satu provider telekomunikasi. Sepertinya Masjaki ini paham betul dan mengikuti perkembangan musik Indonesia dari era ke era. Ia juga pernah berkesempatan mengunjungi Iran officially (Keren!). Satu lagi, si mbak lucu Ririn Datoek. Ah belum bertemu saja kami sudah klik. Mbak satu ini saya kenal juga lewat blognya WOWnderfulife saat kesasar membaca postingannya tentang ibadah umrah yang pernah ia jalani. Kami sempat chatting di ym beberapa waktu lalu hingga larut malam. Mbak Ririn ini sepertinya orang super sibuk. Hari-harinya dipenuhi meeting dengan klien2nya di perusahaan advertising tempat ia hidup sekarang, Jakarta. Yang terakhir mas Immanuel Sembiring. Bapak ini gila! Sudah hampir keliling dunia sepertinya, dan salah satu yang membuat saya iri, ia pernah ke Macchu Picchu di Peru dan tempat-tempat eksotis lainnya, coba cek disini. Keren euy!

Mungkin akan lebih menyenangkan jika saya bisa bertemu langsung dengan bang Nuran, Panjul, bang Sukma, Fahri, Putri, mbak Ririn, Maya, Winda, Ayos, Ruli, bang Immanuel dan teman-teman kami lainnya di kesempatan yang sama suatu saat nanti. Semeja, menikmati keakraban, makanan yang enak, bertukar cerita, kemudian berfoto bersama! Sepertinya bakal menyenangkan. Semoga saja tahun depan kami tak hanya saling berkicauan di twitter, tapi bisa benar-benar bertemu. Semoga.

Ah, kali ini mungkin saya bisa mengejek balik bapak saya yang dulu sering sekali meremehkan pertemanan saya. Kata beliau saya tidak cukup pandai bergaul karena terlewat pendiam, sekarang ‘Hey dear Dad, I changed!’.

A Shockin’ Evening

The first Surabaya Fashion Parade award.

Saya akan mencoba mengumpulkan puzzle ingatan mengenai ini.

Saya menyebutnya iseng-iseng berhadiah. Empat tahun yang lalu tepatnya 2008 saya berani mengikuti salah satu kompetisi ilustrasi di Surabaya Fashion Parade. SFP adalah parade fesyen yang digelar oleh salah satu plaza terkenal di Surabaya, Tunjungan Plaza. Sekarang menjadi annual event setiap bulan Mei. Jika saya tak keliru, kompetisi itu pertama kali diadakan tahun 2008. Artinya saya mengikuti kompetisi SFP saat pertama kali digelar.

Kompetisi SFP tahun itu saya dengar dari sahabat kecil saya yang beberapa kali menjuarai kompetisi ilustrasi, panggil saja namanya Sohib, dia bisa anda temukan disini. Saya masih ingat saat mengunjungi rumahnya yang hanya terpaut beberapa rumah dari rumah saya. Sore itu, dia menyodorkan iklan SFP di salah satu surat kabar nasional. Surat kabarnya hanya saya bolak balik mencari artikel yang lebih menarik yang bisa saya baca. Saya jelas tak memiliki ketertarikan saat itu dengan SFP. Bahkan ia lah yang menyuruh saya menghubungi kontak yang ada di iklan, siapa tahu dengan mengikuti kompetisi itu saya bisa menang. Mungkin pikirnya begitu.

Saya membawa pulang surat kabar itu dan masih tak tertarik dengan kompetisinya. Setelah saya membaca surat kabar itu sekali lagi, saya menemukan alamat yang bisa didatangi untuk mendaftar. Ternyata tak jauh dari kampus saya. Sepulang dari kuliah perancangan III, sahabat saya di kampus, Ruli berhasil saya sikat untuk menemani saya mendaftar. Siang itu matahari cukup terik. Hanya beberapa menit dari kampus, saya dan Ruli sampai disana. Ternyata tempat pendaftaran yang terletak di perumahan itu salah satu basis ikatan desainer wilayah Jawa Timur. Hanya sepuluh menitan disana saya berhasil mendapatkan kartu peserta.

Beberapa hari setelahnya, saya pun berangkat kekampus dengan tas punggung yang lebih penuh dari biasanya. Alat-alat gambar sederhana saya sudah menempati kantong-kantongnya. Saat itu akhir musim kuliah, hanya menunggu dua hari sebelum minggu tenang yang biasa dilanjutkan dengan UAS. Saya masih ingat hari itu Jumat. Hari aktif terakhir ngampus sebelum libur seminggu. Kebetulan saya dan Ruli mengambil mata kuliah minor yang sama, digital modelling. Kuliah yang sebenarnya berakhir pukul lima sore, namun saya nyelonong pergi setelah menyelesaikan tugas studio pukul tiga. Kompetisinya sendiri dimulai pukul empat sore. Perjalanan dari kampus ke Plaza Tunjungan tak kurang setengah jam.

Saya menyempatkan mampir ke kos teman dekat kampus sebelum menuju kesana. Saya hanya ingin meminjam meja mini yang biasa dipakai untuk menaruh keyboard PCnya. Teman yang telah berbaik hati sore itu namanya Fajar, penggemar Vespa yang sekarang sukses berwirausaha. Setelah saya rasa bekal saya cukup, langsung tancap menuju venue. Mengendarai motor butut setia, akhirnya pukul empat sore lebih sepuluh menit saya tiba disana. Setelah menemukan kumpulan manusia dengan alat-alat gambarnya, saya daftar ulang dan langsung mendapatkan nomer resmi. Nomer 1, sesuai abjad nama saya. Hal ini mengingatkan saya dengan urutan yang selalu pertama saat jaman sekolah dulu. Selalu menempati urutan 1. Saya ingat perasaan saya saat itu. Tak tau arah, persis seperti orang kesasar di jalanan besar yang berisi orang-orang hedon.

Menunggu di deretan kursi peserta membuat nyali saya semakin ciut. Apalagi jika bukan karena pesaingnya yahud-yahud. Penampilan yahud ditunjang alat gambar berkualitas seakan menandakan kepercayaan diri yang tinggi. Lah saya? Baju kusut, muka berminyak tercampur debu dan asap jalanan. Benar-benar komplit. Setelah sejaman menunggu akhirnya kompetisi dimulai. Semuanya duduk sesuai nomer urut. Saya duduk sebelah kanan pojok. Tentunya didepan. Sesekali mata saya tak bisa fokus mengamati pesaing-pesaing di sebelah saya. Peralatan gambar mereka lebih tepatnya. Bagaimana nyali tidak ciut jika alat yang mereka bawa rata-rata bermerk. Pastilah kualitasnya yahud dan menunjang hasil karya nantinya. Saya? Hanya bermodal alat-alat murah, pensil warna yang umurnya mungkin sudah mencapai dua tahun dengan panjang yang berbeda di setiap warnanya. Pensil mekanik seharga tiga ribuan, penghapus pensil yang bentuknya pun sudah tak jelas karena seringkali diiris cutter, beberapa glitter pens, yang semuanya berada didalam kotak pensil biru. Plus meja belajar si Fajar menjadi alas gambar.

Oke, kertas gambar mulai dibagikan oleh panitia dengan tema jelas terpampang di pojok atas kertas A3, Ethnic Futuristic Ready To Wear. Saya mengamati keempat juri yang duduk dikursinya masing-masing, seorang jurnalis fesyen, fotografer majalah fesyen, ketua APPMI dan seorang fashion lecturer. Beberapa menit setelah saya mendapatkan kertas gambar sembari mendengarkan aturan kompetisi dari MC, saya mulai berpikir desain apa yang bisa mewakili konsep keseluruhan Ethnic Futuristic Ready To Wear. Sekilas saya berpikir memodifikasi batik sebagai material dasar dan membumbuinya dengan sedikit kreatifitas agar nampak lebih segar dan muda. Saya masih ingat tahun 2008 menandai kepopuleran batik dengan munculnya varian dan desain batik. Tanpa pikir panjang pikiran saya setuju untuk mengangkat batik. Saya mulai dengan membuat proporsi model dan berhasil menyelesaikannya dalam waktu semenit-Damn! Jika saya ingat apa yang saya gambar saat itu dan kembali melihatnya hari ini, proporsi yang saya buat sungguh berantakan. Kemudian mulai mendadani sketsa model saya dengan ilustrasi batik modern berupa asymmetric coat berwarna coklat tua dipadu dengan light dark green tee dan asymmetric skirt berbahan batik. Agar terkesan tak biasa, saya menambahkan ready to wear obi dengan detail yang rumit dipinggang –sayang saya tak bisa menampilkannya di blog ini, karena tak sempat mengekspornya ke format jpeg – coba saja dibayangkan dari penjelasan tadi :).

Jika kembali mengingat karya saya saat itu sungguh memalukan. Bagaimana tidak, proporsi yang berantakan, tidak setinggi proporsi model yang seharusnya, arsiran warna yang tak berarah, dan secara keseluruhan nampak tidak cukup istimewa. Tak lama menyelesaikan karya, kira-kira sejam dari empat jam yang diberikan panitia, saya memutuskan pulang. Saya sengaja melewati jalan dimana saya bisa melirik karya peserta lain dan damn! saya tercengang. Mereka rata-rata memiliki kemampuan yang wow!. Apa-apaan ini, jika begini saingannya mana bisa menang. Tak apalah, tak usah berpikir menang kalah yang penting sudah berani berkompetisi. Saya mencoba menenangkan diri. Melihat karya-karya gila yang ditunjang dengan alat-alat berkualitas tentunya akan membuat karya saya tenggelam dalam tumpukan gambar yang rata-rata dihasilkan dari pengenyam sekolah mode yang tahu persis bagaimana teknik ilustrasi. Ya sudahlah saya pulang saja.

***

Awarding Night

Tiga hari setelah lomba awarding night-nya digelar. Malam itu saya sangat malas datang karena migrain kiri saya kumat. Apalagi sepanjang sore itu saya sudah keliling mall untuk mendapatkan sebuah jaket. Menjelang pukul tujuh malam saya menelpon sahabat SMA, Fahmi namanya. Pikiranku berubah, tak apalah datang meski sebentar hanya ingin tahu saja siapa yang akan menang. Dengan begitu saya bisa tahu kualitas apa yang dipertimbangkan juri untuk pemenangnya. Akhirnya sahabat saya itu berbaik hati mengantarkan kesana. Karena invitation-nya admits two, kami pun bisa masuk ke zona makhluk-makhluk legal yang ternyata setelah saya sadar, kami duduk di barisan penonton, bukan barisan khusus peserta. Beberapa menit setelah kami sampai di venue, MC acara malam itu mulai masuk pada sesi awarding untuk illustration competition. Satu persatu dari total enam pemenang ditampilkan di giant screen di atas stage putih. Hitungan mundur dimulai dari pemenang favorit ketiga dan berlanjut hingga memasuki detik menegangkan untuk juara kedua. Kami mengamati ilustrasi yang ditampilkan di layar raksasa itu. Sambil berbisik saya katakan pada sahabat saya ilustrasi yang menang karya-karyanya ngeri. Saya mengajaknya pulang saja. Tapi dia mencegahku dengan alasan yang cukup logis. Sayang saja jika tidak mengikuti acaranya sampai selesai. Okay alasannya diterima meski kepalaku mulai terasa lebih berat dari sebelumnya.

Menjelang juara pertama diumumkan, MC nya pun mengeluarkan kata-kata yang mendebarkan bagi seluruh peserta kompetisi. “Siapakah pemenang pertama? langsung saja, pemenang pertama fashion ilustration Surabaya Fashion Parade 2008, pertama kali digelar, dimenangkan oleh peserta dengan nomer urut…….Wah ini spesial, pemenang pertama dimenangkan oleh nomer urut ; Satu!”. Hah? nomer satu kan milik saya. Bagaimana bisa? Saya hanya menatap heran ke layar raksasa malam itu. Bagaimana saya bisa percaya menumbangkan peserta-peserta dengan ide dan teknik yang rata-rata maknyus. Setengah tak percaya. Namun memang yang tertampang disana itu karya ecek-ecek kedangdut lengkap dengan nama saya. Sahabat saya pun menyuruh bergegas ke atas stage sesuai permintaan MC. Sambil bersorak, “traktiran!”. Saya pun langsung menuju stage yang sebelumnya harus menahan sorotan lampu-lampu yang bergemerlapan sepanjang runway berwarna putih. Langkah saya cukup mantap ingin segera mengakhiri di depan. Seorang model menyerahkan award lengkap dengan karya saya yang telah dibingkai. Ah, apa-apaan ini.

Tak percaya saja bagaimana bisa tiga hari sebelumnya saya datang dengan penampilan super kusut dan alat-alat murah meriah bisa menggondol piala dan beberapa hadiah yang cukup asik. Uang tunai, kursus gratis di Lasalle, akademi fesyen dan desain yang pusatnya di Kanada –sayang kursusnya tak pernah saya ambil karena saat itu saya hanya ingin menyelesaikan kuliah yang akan memasuki jenjang menuju Tugas Akhir– , beberapa parfum dan merchandise. Akhirnya pukul sepuluh malam kami pun meninggalkan venue. Kepala saya masih cekat-cekot namun terhibur dengan piala didalam tas dan uang tunainya :D. Ah leganya karena saya berhasil melewati hari yang melelahkan. Keputusan hadir di malam penghargaannya ternyata tak salah, meskipun saya sedikit menyesal tak sempat mengabadikan momen di stage padahal kamera saku sudah saya siapkan sehari sebelumnya.

Tak apalah, biar saya ingat saja setiap detailnya.

 

Goodbye Bimbi

RIP Bimbi. Goodbye!

Pagi ini hari kelima bulan kesembilan Bimbi tiada. Kucing malang yang tiada karena sakit. Tiga hari yang lalu dia masih mau makan whiskas rasa lamb, rasa kesukaannya. Dia istrihat untuk selamanya di usia yang tak muda, kira-kira usianya sudah menginjak sembilan tahunan. Kalau saya tak salah satu tahun umur kucing setara lima belas tahun umur manusia, mungkin sudah ajal si Bimbi hari ini. Dia sudah tinggal dengan flatmate-ku yang juga juragannya, mas Andhi selama lima tahun di flat. Bukan waktu yang singkat untuk seekor kucing yang disini, di Afrika, dimana anda tak akan mudah menemukan kucing dipelihara. Apalagi ia keluyuran hidup dan berjalan dengan santainya diluar seperti di Indonesia. Disini, kucing merupakan salah satu binatang yang dipercaya memiliki kekuatan magis. Tak jarang banyak orang Afrika takut kucing.

Bimbi semasih sehat :( | Bimbi while he was fine :(

Saya sendiri mengenal Bimbi masih setahunan, ia persia jantan yang cukup nakal, sering merusak sofa. Mencakar-cakarnya dengan kuku-kukunya yang tak lagi rapih. Beberapa kali memecahkan gelas saat ia menjelajah meja makan. Saya masih ingat saat saya menghabiskan sebulan penuh sendirian di flat. April tahun ini saat semua flatmate saya cuti tahunan. Bimbi menemani saya saat tergeletak lemas di kasur karena malaria. Biasanya saya tak mengijinkan Bimbi masuk ke kamar karena saya malas membersihkan bulu-bulunya yang sering tertinggal. Ia menemani sepanjang malam dengan tidur didepan AC, tempat favoritnya.

Meninggalnya Bimbi mengingatkan saya pada kucing kesayangan Ibu dirumah yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Saya ingat Ibu menangis saat kucingnya menggerakkan tangan kanan seakan memberi tanda pamit. Kasihan. Saya percaya melepaskan binatang peliharaan tidak mudah untuk beberapa orang. Sama seperti halnya kehilangan seseorang yang kita cintai. Meskipun mungkin tak akan menghabiskan waktu yang lama untuk mengenangnya.

Paling tidak, Bimbi sudah dipelihara dengan baik selama lima tahun dan pagi ini dia sudah dikubur. Come back to his Creator.

Goodbye Bimbi.

Lebaran di Negeri Orang (lagi)

Selamat Lebaran!

Dulu, selepas subuh bapak selalu sibuk menyiapkan pakaian yang akan dipakai untuk ke masjid. Ibu sibuk menyeduh opor ayam, dan kakak memotong puding sama rata untuk kemudian dihantar ke tetangga. Rumah yang kecil selalu riuh. Suara takbir dari radio tua semakin menyemarakkan suasana pagi seperti tahun-tahun biasanya. Suasana itu kembali tidak saya rasakan dua kali. Tahun lalu saya melewati Idul Fitri di Abuja, ibukota Nigeria. Kota yang jauh lebih tenang dari Lagos.

***

Pagi ini saya bangun lebih awal. Selepas subuh mulai menyiapkan baju yang akan dikenakan untuk sholat Ied. Berusaha melakukan hal yang sama seperti apa yang Bapak saya lakukan. Keceriaan lebaran memang pantas dibangun pagi hari sesaat sebelum ke masjid. Sialnya tahun ini saya tidak menemukan baju koko. Sepertinya baju itu tertinggal di Indonesia. Entah saya ingin mengenakan baju baru pagi ini. Kemeja coklat susu lengan panjang dan celana panjang warna camel untuk bawahan. Saya tak memilih sarung seperti yang saya kenakan saat Idul Adha tahun lalu. Sekedar mengingat apa yang saya kenakan saat itu, baju koko putih tulang dipadu dengan sarung merah hati. Tak dinyana apa yang saya kenakan menjadi perhatian banyak orang. Saya baru tahu ternyata disini mereka tidak mengerti sarung, dan jika adapun sarung dipakai oleh wanita. Bukan pria. Pantaslah, saat itu hampir semua mata tertuju pada sarung saya. Tak hanya muslim Afrika, muslim dari negara Arab semacam Iran pun melihat pakaian yang saya kenakan.

Pukul delapan kami bertiga berangkat menuju lapangan tempat kami sholat Ied saat Idul Adha. Sebuah police camp yang memiliki beberapa lapangan yang amat luas. Kali ini kami tak ingin mengambil resiko terlewat momen sholat Ied. Tahun lalu saya kurang beruntung, terlambat datang ke masjid akbar Abuja. Tahun pertama saya tidak merayakan lebaran di Lagos, melainkan di ibukota Abuja. Saat itu saya dan mas Andhi tak menyangka sholat Ied dimulai lebih awal dari biasanya. Kita tersadar saat melihat lautan manusia semburat ke arah berlawanan. Ah! Sedih rasanya. Melewati lebaran pertama di negeri orang dan tidak bisa sholat Ied. Pagi itu hujan rintik-rintik menambah kesedihan saya merayakan lebaran tanpa keluarga.

Namun, alhamdulillah kesedihan tahun lalu terbayarkan tahun ini. Sholat Ied disini dimulai amat siang, tidak seperti di Indonesia yang biasanya dimulai pukul enam – setengah tujuh pagi, disini, sholat Ied dimulai pukul sepuluh pagi. Untung cuaca bersahabat. Tak terik seperti biasa. Mendung dan teduh. Takbiran dikumandangkan sebelum sholat dimulai meski nadanya berbeda. Nada takbir surau-surau di Indonesia jauh lebih indah. Tahun ini sholat Ied nya amat meriah. Jauh lebih ramai dari sholat Ied saat Idul Adha. Saya cukup tersentuh dengan apa yang saya lihat disini, berbagai macam rupa, warna kulit, strata, semuanya menyatu di satu tempat untuk merayakan hari yang kita sebut puncak kemenangan. Sebuah selebrasi tahunan yang menyentuh. Saya mengamati beberapa anak kecil semangat datang bersama orang tua mereka masing-masing. Sungguh berwarna.

Suasana sholat Ied di Police Camp.
Anak afrika mengenakan peci saat sholat Ied.
Orang Afrika menyukai pakaian vibrant! :)
Mas Andhi dan mas Manito berfoto dengan Muhammad, security perusahaan, selepas sholat Ied.

Setelah sholat Ied selesai kami langsung menuju rumah. Pikiran kami hanya makan! Ya, makan. Opor ayam yang sudah kami masak sejak tadi malam siap disantap. Apalagi dua keik yang kita beli kemarin. Buah untuk dessert pun ada. Ah! Makan makan dan makan! Tradisi ini hampir sama seperti apa yang biasa saya lalui setiap lebaran dirumah. Mulai memakan opor setelah selesain sholat, bedanya tahun ini saya tak menyertakan puasa sunnah sebelum sholat Ied.
Opor ayam kali ini lebih terasa nikmat dibanding tadi malam, mungkin karena bumbunya sudah kawin dengan ayam dan santannya. Menikmatinya dengan sambal terasi dan serundeng benar-benar mengingatkan akan masakan Ibu yang super maknyus. Sungguh paduan yang sempurna meskipun basicly saya tak terlalu suka makan makanan bersantan. Setelah opor selesai saatnya menyerbu dua jenis cakes, cheese cake dan triple chocolate cakes. Dua keik itu benar-benar memanjakan lidah bagi penggemar dessert seperti saya. Cheese cake medium yang kami beli seharga N3300 atau sekitar 198 ribu rupiah (1 naira = 60 rupiah) rasanya tak terlalu eneg. Tak seperti cheese cake biasa yang kadang terlalu creamy. Untuk keik coklat lapis tiga sama, rasanya seimbang. Tak terlalu memuakkan seperti keik coklat biasa. Yang ini kami beli seharga N2200 atau sekitar 132 ribu rupiah untuk ukuran 30 x 20 cm. Mereka tidak cukup murah tapi worth untuk disantap di hari raya. Lagipula mereka berdua sesuai selera saya, keik yang tak terlalu manis untuk ukuran dessert. Perfect!.
Apakah kami berhenti sampai di keik? No! Kami melanjutkannya dengan mint ice cream limited edition dari Walls produksi Perancis. Es krim yang kami beli seharga N2000 cukup mahal untuk ukuran satu setengah liter. Namun kembali lagi, ini lebaran! ;) no worries for three of us. Coklat menjadi pelengkap lebaran sebagai camilan yang mantap. Sepanjang hari ini kami bertiga hanya ingin menikmati rumah dan terus makan! :) Benar-benar menikmati hari libur yang terbatas dengan makan.

Opor ayam untuk lebaran tahun ini! Yaiy! Yummy!
Triple choco cake!
Tiga lapis coklat yang yummy!
Cheese cake :)
Cheese cake, anyone :) ?
Mint ice cream dari Walls.
Limited edition! Heavenly!
Dessert, jelly dan buah! Segar!
Coklat! Camilan andalan :)
Sup sayur, empal dan telur asin untuk makan malam :)

Karena kami tak memasak opor dalam porsi besar, sore ini saya memasak menu paling mudah untuk makan malam dari bahan makanan yang masih ada di lemari es. Dan saya memilih sup sayur disantap dengan empal sapi yang saya masak basah, tanpa digoreng, dan…..telur asin! Ya, telur asin yang saya bawa hanya sepuluh biji. Makan malam yang lengkap! :) Sungguh bersyukur bisa menikmati makanan yang kami olah dari kekayaan kuliner Indonesia untuk lebaran tahun ini! Alhamdulillah.
Tahun lalu tidak ada perayaan karena saya dan mas Andhi berada di Abuja untuk menyelesaikan pekerjaan interior rumah pribadi menteri penerbangan Nigeria. Tahun ini saya, mas Andhi dan mas Manito sepakat merayakan lebaran lebih meriah meskipun tak ada tradisi ‘unjung-unjung’ ke tetangga. Bagaimana ‘unjung-unjung’ jika tetangga satu flat kami tidak ada yang muslim. Tapi tak apalah, menikmati lebaran di rumah juga tidak kalah asik. Terlebih saat kami meminta maaf pada keluarga melalui telepon kami masing-masing. Itu momen sederhana yang cukup menyentuh. Meminta maaf pada orang tua meskipun tanpa tradisi sungkeman. Dan saya belajar banyak saat harus hidup jauh dari keluarga. Salah satunya bisa lebih terbuka mengungkapkan rasa sayang terhadap keluarga yang dulu acap kali hanya disimpan sendiri.
Saya bersyukur dan menganggap itu sebuah hikmah pendewasaan diri.

Lebaran oh lebaran. Momen indah yang dirayakan setiap tahun oleh umat muslim diseluruh dunia. Kita bersama merayakan dengan cara dan keunikan masing-masing. Mungkin ada beberapa orang yang tak seberapa antusias menyambut lebaran, apapun alasan yang melatar belakanginya, namun, lebaran tetaplah lebaran. Momen dimana kita sebagai manusia sudah seharusnya mensyukuri seluruh nikmat alam yang kita dapatkan sepanjang tahun. Tuhan benar-benar Maha Baik.

Happy Eid Mubarrak for all over moslems around the world! 
Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar, Laila Haillallahuallahuakbar, Allahuakbar Walillailham! :)

Ramadhan Kembali Berakhir di Lagos.

Sepuluh hari di Indonesia dan sisanya terlewati di sini, Lagos. Tahun ini saya kembali mengakhiri bulan ramadhan di luar. Tak terasa bulan puasa indah ini berpamitan pelan-pelan.

Buka puasa untuk terakhir kalinya sudah dilewati setengah jam tadi. Delapan belas Agustus. Besok lebaran. Ya! Lebaran.

Pagi tadi selepas subuh saya masih bertugas merampungkan pekerjaan hingga pukul dua siang. Set desain untuk sebuah peragaan fesyen anak-anak. Di Lagos libur lebaran sangat terbatas. Dua tahun lalu saya sempat merasakan libur seminggu saat masih di Surabaya, sekarang? Saya hanya dapat sehari setelah hari raya.

Hari ini saya pulang lebih awal seperti hari Sabtu biasanya. Itu berarti memiliki kesempatan untuk berbelanja bahan makanan untuk menu lebaran. Bersama flatmates saya menuju Goodies, supermarket dekat kantor. Ayam, salad dressing, beberapa snack, beberapa minuman, dan sayuran. Sepulang dari venue tadi siang kami menyempatkan mampir membeli dua buah cakes di tempat favorit kami, The Chocolate Royale di Victoria Island. Satu buah Vanilla Cheese Cake dan Triple Chocolate Cake untuk memeriahkan perayaan lebaran yang hanya akan dihabiskan dirumah.

Setibanya di rumah kami langsung memasak untuk buka puasa terakhir. Kami menginginkan menu yang lumayan lengkap dari biasanya. Hitung-hitung pesta kecil sebelum esok. Kami pun membagi tugas malam ini. Flatmate-ku, mas Andhi, memulai dengan opor. Ya, kami sepakat membuat opor ayam untuk disantap esok pagi setelah sholat Ied. Temannya? Tentu kami tak akan melewatkan teman terbaik dari opor, sambal dan kali ini sambal terasi. Sebagai orang Indonesia yang jauh dari rumah, sambal merupakan salah satu obat mujarab melumpuhkan kerinduan akan masakan rumah. Dan membawa terasi sama pentingnya membawa paspor, menurut saya. Rasa sambal kali ini nendang, komposisi terasi, garam, gula, bawang merah, bawang putih, tomat dan cabe rawit Afrika yang terkenal membakar lidah amat pas.

Ayam rempela pedas.
Salad.
Dressing.

Saya ingat satu hal! Kerupuk udang yang saya bawa setahun lalu masih tersisa beberapa. Goreng! Ini tugas mas Manito. Dan ah indahnya, tahun ini saya memiliki serundeng kelapa buatan ibu tercinta. Semakin semangat menyambut lebaran. Satu setengah jam masakan untuk malam ini selesai. Kami menunggu buka puasa. Saya sibuk mengambil gambar untuk blog ini, passion saya selain mendesain.

Akhirnya adzan berkumandang dari salah satu aplikasi islam yang terinstal di iPad. Mendengarkan adzan dari perangkat pintar itu tentu berbeda dengan mendengar kumandang live seperti yang selalu saya dapatkan selama di Indonesia. Saya harus kreatif mencari cara agar tak kalah dengan keterbatasan. Kebetulan flat saya tak dekat dengan masjid, dan juga di Lagos saya lebih mudah menemukan gereja daripada masjid. Adzan telah berkumandang artinya puasa berakhir. Puasa terakhir telah berakhir malam ini. Kami bertiga menyantap lahap satu persatu menu yang tertata rapi di meja. Baguette, salad, ayam dan rempela hati pedas sisa kemarin, sambal terasi yang menggoda, kerupuk udang dan teh manis hangat. Oh Tuhan, apa ada nikmat berbuka puasa di luar negeri yang lebih indah daripada ini? Kami benar-benar harus bersyukur. Harus.

Kami memulai buka puasa dengan appetizer, Baguette yang terpotong rapi beserta cocolan yang creamy. Mas Andhi membuatnya dari campuran mentega, bawang putih, garam dan mayonaise. Akhir-akhir ini kami kegandrungan Baguette terlebih mas Andhi. Sejak kepulangannya dari Spanyol dan Belanda kemarin, dia keranjingan menu Eropa. Opor yang semula direncanakan akan dimakan esok ternyata tak bertahan lama. Kami tak kuasa mencicipinya. Apalagi rasanya kawin dengan pedasnya sambal terasi. Kerupuk dan serundengnya menjadi pelengkap yang sempurna. Kurma yang seharusnya menjadi takjil, malah saya makan sebagai pencuci mulut. Bagaimana nasib  salad? Kami tak kuasa menyantapnya malam ini dan terpaksa harus disimpan di lemari es untuk besok.

Baguette.
Garlic creamy dressing.
Serundeng buatan Ibu tercinta.
Mas Andhi beraksi dengan sambal terasi.
Terasi, sama pentingnya seperti paspor :)
Resep sambal terenak di dunia, Terasi! :)
Kerupuk udang, pelengkap opor yang maksimal :)
Teh manis hangat, pasangan makan ternikmat.
Bukan sebagai takjil, malah menjadi pencuci mulut :)

Dan Alhamdulillah. Tuhan Maha Besar. 
Kami sadar ini malam istimewa. Malam takbiran. 

Tak ada suara takbiran. Menyedihkan. Tapi saya tak akan membiarkan larut dengan keterbatasan. Mungkin ini kedengaran norak, tapi memainkan lagu Selamat Lebaran dari Ungu bukan pilihan buruk. Kami mendengar beduk di aransemen mereka, beserta intro yang kami rindukan ‘…Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar, Laila Haillallahuallahuakbar, Allahuakbar Walillailham…..’. Saya merinding. Kesedihan dalam hati tak bisa saya acuhkan. Saat di Indonesia surau-surau berlomba mengumandangkan takbir. Gema takbir yang selalu magis menandakan kita harus ikhlas melepas ramadhan. Saya ingat Bapak saya selalu mengumandangkannya di musholla dekat rumah. Ah, saya benar-benar rindu suasana itu. Tapi tak apa, takbir dari iPad cukup menghibur.

Selamat Lebaran dari Ungu.
Aplikasi andalan untuk mendengarkan adzan.

Setelah menyantap menu buka puasa kami pun mulai santai sambil mengobrol renyah. Tak jarang kadang membahas keunikan perayaan lebaran di Indonesia yang tiada duanya.
Esok saya akan merayakan lebaran di Lagos untuk kedua kalinya. Lebaran yang tentunya atmosfernya berbeda dari kampung halaman. Jauh dari hingar bingar tradisi. Tradisi dan budaya Indonesia yang melebur didalam momen semagis lebaran memang tak akan pernah bisa ditemukan ditempat manapun di belahan dunia ini. Tradisi dan budaya itu murni lahir dari sejarah. Dan takkan pernah bisa terbeli. Ada kesedihan karena tahun ini tidak bisa merasakan atmosfer malam takbiran, tetapi saya tetap harus tegar karena perjuangan dalam hidup selalu memiliki harga yang harus dibayar.

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar…..Lailahaillallah Huallahuakbar, Allahuakbar Walillailham…

Selamat lebaran!
Selamat bagi seluruh umat Islam di belahan dunia manapun.