See You Very Soon

Gloomy days recently such a bad thing for me. When I feel getting out of my bed every morning such a big deal (you can judge me I’m lackadaisical if this sounds so :|). Not because during fasting month my system has changed a bit, and realised that sleeping after suhoor it’s not good indeed (but who can deny it’s the best thing to do when morning rain falls and makes it worse).

Anyway, I couldn’t be more happier to travel back to Indonesia very soon next month. Even it’s getting closer but I feel two things here. First, excited cause I will travel to some new places and can’t wait to pamper myself with Indonesian food (of course batagor, pecel, terang bulan, see you guys very soon!), seeing my family and best friends, and shopping some furnitures for my own house maybe? (oh I’m talking crap buying furnitures but hopefully I can start something :/). In the same time, I still trying to push myself and believe that I shouldn’t worry and scared too much of what is coming next. This feeling is normal yet I still think it’s such a very scary thing, sometimes. I should calm myself for now, right? :/.

Oh, did I mention that one thing I love the most when I come back to Indonesia is the fact that I have more time to take pictures around? If you follow my IG you’ll know that almost a month I never post pictures anymore (could I say that I’m fasting taking picture as well?), so here some remain pictures I want to share on this post, from a quick jaunt four days in Singapore (some you’ve seen on my IG a year ago but couldn’t resist to attach them here).

 

CUSoon1

CUSoon2

CUSoon3

CUSoon4

CUSoon5

CUSoon6

CUSoon7

CUSoon8

CUSoon9

CUSoon10

 

 

Then, I think I should start counting days to come back where my heart is…

 

 

P.S. If you are a new reader or just visited this blog, you can see some photographs I took when I was in that super expensive city, here.

Enjoy While You Can

 

Enjoy1

 

Belakangan ini saya sering bercanda via Line dengan sahabat saya, Sohib, dengan membandingkan kehidupan satu sama lain. Saya bergurau seperti ini padanya ; “eh, kamu enak ya Hib, kemarin libur panjang di Indo, bisa keluyuran kemana-mana lho Hib” juga “eh enaknya hari Sabtu bisa ke Balai Pemuda Hib, pulang-pulang bisa mampir Starbucks Hib”. Atau bahkan yang paling sering membuat dia kesal seperti “Hib, ayo Hib, aku sudah booking hotel lho di Bali buat liburan, yuk ikut packing yuk”.

Sedang ia sering bercanda begini pada saya, “Jis, enaknya kamu Jis, makan-makan enak terus Jis. Duh, itu snack-nya kayaknya enak dan mahal Jis”, atau “Duh, enaknya Jis jadi kamu Jis, bisa bikin orang tua bahagia Jis”, “Jis, enak Jis jadi kamu Jis, habis maghrib pesan kue-kue buat dikirim ke rumah orang tuamu Jis”.

Pengulangan Hib dan Jis-nya banyak ya? :| 

Gurauan-gurauan di atas memiliki satu kesamaan yakni sesuatu yang menyenangkan. Keluyuran, mampir ke Starbucks, liburan, bayar hotel, makan enak, pesan kue, semuanya menyenangkan bukan? Iya, semuanya menyenangkan dan membutuhkan uang, hehe. Nah, saya ingin berbagi sedikit tentang pandangan saya terhadap dua hal di postingan ini. Pandangan tentang materi dan tentang kenapa kita harus fokus pada hidup kita sendiri.

 


 

Saya sama seperti Anda, bahagia bila dompet sedang tebal dan gelisah saat dompet mulai mengempis. Saya pun seperti manusia pada umumnya yang masih memiliki banyak hal yang ingin digapai selagi hidup. Saya masih ingin melanjutkan pendidikan, masih ingin mewujudkan mimpi saya ke Eropa, menikah, masih ingin mengisi rumah dengan furniture pilihan, masih ingin menyenangkan orang tua dengan liburan, dan masih banyak lagi. Tidak bisa dipungkiri hampir semuanya masih berkaitan dengan materi, semuanya membutuhkan uang.

Saya percaya akan tiga hal jika bicara mengenai uang. Pertama, money is good. Even money is not everything paling tidak, we can do something with money. Bisa menyenangkan diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi, yes? Kedua, you’ll never have enough sampai kita benar-benar bersyukur pada apa yang dipunya. Ketiga, enjoy while you can.

Ada salah satu ucapan sahabat saya, mas Andhi, yang menancap di kepala hingga hari ini. When you have money you should enjoy and spend it, when you don’t have you better fast. Saat punya uang, sudah seharusnya kita nikmati. Saat tidak punya, puasa saja. It sounds so easy ya, tapi kenyataannya tidak :P. Tapi ucapannya ada benarnya. Saat kita memiliki uang yang cukup, ada baiknya kita menikmati apa saja yang membuat kita bahagia dan bermanfaat. Dikala sedang harus puasa pada apa saja yang menyenangkan, dikala itu pula kita harus menikmati apa yang ada, sering-sering bersyukur dan bersabar.

Jika Anda pembaca blog ini, mungkin Anda sudah hapal berapa kali saya memposting makanan-makanan yang cukup menguras kantong (even mostly I did it for photography purpose :)). Pampering myself dengan makanan-makanan lezat adalah salah satu contoh bagaimana saya menikmati hidup saat dompet sedang tebal, and I can’t argue for that. Oh sekedar catatan, saat ini saya yang sedang hidup di negara terpadat di Afrika juga terkena dampak resesi global. Melemahnya Naira terhadap Dolar Amerika membuat harga semua kebutuhan naik drastis. Tak terkecuali harga bahan makanan. FYI, hampir delapan puluh persen makanan yang saya konsumsi di sini adalah makanan impor. So, food is one of the most expensive expenses saya di sini. Memanjakan diri biasanya saya lakukan setelah menghadapi pekerjaan yang benar-benar menguras energi yang tak sedikit. Beberapa kali saya harus menghabiskan dua hari di luar rumah, bekerja siang dan malam untuk satu project, dengan makanan-makanan fast food yang tak jelas gizinya. Jadi saat kemudian pulang ke rumah dan memiliki waktu untuk recharge, saya memilih memanjakan diri dengan makanan-makanan lezat yang harus diabadikan dulu di blog ini sebagai reward. Tentu saja, jika harus menghitung berapa Naira yang saya habiskan sekali belanja, sambil mengerutkan dahi, I say to myself that Gosh, that is expensive!.

Trust me, tidak setiap hari saya memanjakan diri dengan makanan-makanan yang menguras kantong. Karena jika iya, tentu saya akan kelabakan saat sadar dompet yang harus saya bawa saat nanti mudik ke Indonesia hanya berisi beberapa lembar dolar. And trust me too, when I don’t have money I better fast either. Di lain sisi saya harus hidup layak karena jauh dari siapa-siapa dan ini Afrika lho :(, di lain sisi pula saya harus sadar jalan ke depan masih panjang. I better save money cause I won’t live here forever. Jadi saat dompet mulai menipis, mau tak mau saya harus berpuasa pada makanan-makanan pricey tadi. Kadang saya harus makan nasi dengan Indomie dan telur ceplok, atau makan makanan yang sama dua hingga tiga hari berturut-turut :). Dengan begitu, hidup bisa seimbang. Bersyukur saat menikmati apa yang dipunya, dan bersyukur pula saat harus berpuasa.

 


 

Focus on your life. 

Manusia seperti saya dan Anda seringkali membandingkan hidup kita dengan orang lain. Tidak jarang kita melihat hidup si A atau si B lebih bling-bling dari hidup kita sendiri.

Sebagai contoh, saat saya sedang bosan di sini dan mendapati seorang teman sedang menikmati liburan di suatu pulau/negara, saya bergumam “kok enak ya dia, bisa liburan ke sana sedang saya masih harus bekerja di sini”. It’s human I know but I don’t even have a clue bagaimana ia mengencangkan ikat pinggang agar bisa liburan. I don’t even know how he spends his money. I don’t have a clue either his problems in life. I don’t even know what he’ll do afterwards. Saat kita melihat seseorang sedang menikmati hidupnya dan kita tidak sedang memiliki apa yang mereka miliki, we feel sorry for ourselvesIt happens sometimes, kita terlalu fokus pada hidup orang lain sedang kita lupa how we should enjoy our own lifeThey have their own life, we have ours, guys :).

Bagi saya, yang harus kita lakukan dengan hidup ini adalah live our life and do something while we are alive. Kita semua diberkahi hidup masing-masing. Dan selagi hidup, we have to achieve something. Jika belum bisa achieve something untuk orang lain, paling tidak we have to achieve something untuk diri sendiri.

Tidak ada salahnya sekali-kali membandingkan hidup kita dengan orang lain. It may help jika itu bisa membuat kita semangat memperbaiki kualitas hidup but it may be dangerous jika kita hanya membandingkannya begitu saja. Biasanya, saat pikiran membanding-bandingkan melanda, saya segera menyadarkan diri dengan bersyukur karena masih diberkahi pekerjaan yang menghasilkan kemudian kembali fokus pada apa yang ingin dicapai.

Remember to enjoy what we have, be grateful and keep working to achive something in this life :).

 

 

MoneyTalk2

 

Ah, sudah ah, kok tulisan saya lama-lama agak-agak ke-“Mario Teguh”-an, hehe. Sudah pukul empat pagi di sini, waktunya sahur agar memiliki energi lagi untuk bekeja keras demi mimpi-mimpi yang tinggi.

 

Salam,

Azis.

 

 

Lagos, 4.09 a.m.

Fine Breakfast

There is something that made me soooo lazy to cook lately. I don’t know what, but I guess I feel a bit homesick. I miss a moment when I go home and find delicious foods on the table cooked by my Mom (now, this sounds I’m homesick indeed). To be honest, I feel it’s not an easy thing living outside country when I have to prepare everything every day. But I just have to do it and stop grumbling, yes? :)

Instead, I want to share some shots I did this morning. A fine breakfast with chocolate croissant a.k.a pain au chocolat and hello for berries! Nice to see you again :)

FineBreakfast1

FineBreakfast2

FineBreakfast3

Was my tummy full by having breakfast above? Nope! lol. But I love those berries, even they’re become more expensive nowadays but it’s always nice to pamper yourself with fruitful food right? :)

I’ll make one confession here, I was a bit late leaving my apartment this morning because of those photographs cause I had to wait for minutes to get enough light (cloudy morning go away!). Then, what happened with the foods? I enjoyed the croissant on my way to the office while I packed the fruits in a jar :P.

Currently, I’ve been trying to wake up earlier so I have time to sit down and enjoy my breakfast without busy taking picture. To be honest, it’s really good sitting and enjoying the meal, forget about food photography (I’m kidding :), how can I resist beautiful breakfast and good lighting?). But sure, enjoying breakfast in a proper way is very important to start your day guys. This reminds me how I enjoyed a fine Swedish breakfast on Friday morning at Fika last year in Singapore. I loved their homemade sausages (even I’m not a sausage fan!), fresh bacon (calm down, it was turkey bacon :)), and oh the blueberry jelly juice was so good too.

FineBreakfast4

FineBreakfast5

 

 

Birthday Gifts

I was so sad when I realised I lost my stainless watch two weeks ago.

I had no idea where I left it either somewhere at my office or fell on taxi seat on my way home. Even it was one of my oldest wrist watch but it had a journey with me. You may think this sounds exaggerated but I always appreciate memories behind a thing. But then, I can’t cry a night long for my watch cause I believe so that something may come and go.

Hope you will not judge this is an excuse to get something new. Oops.

Gifts1After I finished tighten my belt for my own house early this year, I should enjoy a bit by grabbing some new favourite things. And yep, it’s been a while I didn’t pamper myself with a wrist watch from my favourite brand, Fossil. So, I decided to pick one design that just fit on my wrist, a simple silver watch with black leather bans. Since my wrist is so thin, I feel this just a perfect one.

Gifts2

Gifts3

Gifts4

Gifts5

 

Oh yes, I opened Zara apps on my iPhone just to eye some pieces that took my attention. Such a ritual every time I realise I’ll travel soon to Indonesia. Oh, May, please rush :)

 

And I had no clue why on a lazy afternoon I thought about a pair of Adidas Superstar.

Gifts6

Gifts7

 

Ah, Ini Tak Adil

Ya, ini tak adil. Saat saya baru saja menghabiskan beberapa sendok nasi merah dengan sisa paha ayam goreng yang dingin karena disimpan di kulkas karena tak tahan menahan lapar, eh malah menemukan beberapa foto makanan seperti ini :(

 

CravingThese1

CravingThese2

CravingThese3

CravingThese4

 

Duh Mei, bergulirlah lebih cepat agar saya bisa segera terbang kembali ke rumah. Mendapati Ibu yang tersenyum lembut setelah selesai memasak ikan tongkol bumbu kecap dan urap-urap pedas. Lengkap dengan tempe renyah berwarna coklat keemasan. Dan mungkin esoknya, saya bisa duduk santai di warung dekat rumah dengan semangkuk bakso panas dan segelas es teh manis. Atau, mampir sejenak ke rumah makan di siang hari, menyantap sepiring kepiting pedas dengan nasi putih yang masih panas, dan membawa beberapa bungkus ke rumah.

 

Khayalan-khayalan ingin makan makanan Indonesia sudah terbang di angan-angan.

 

Ah, ini tak adil. Perut saya masih belum kenyang. Beberapa sendok nasi merah tadi belum memuaskan nafsu makan. Bahkan, secangkir coklat panas yang saya seduh dengan susu putih cair sebelum makan juga tak cukup membantu. Mana saya tak punya apa-apa di kulkas, duh, besok sarapan apa coba.

 

Sebelas Mei

Saya termasuk seorang yang menikmati hampir segala jenis musik. Dari soft rockballad, pop, country, reggae, klasik, etnik, bahkan dangdut. Iya, dangdut (bukan dangdut jaman sekarang ya, dangdut tahun 80-90an :)). Asal mendapati lagu yang enak didengar, pasti saya nikmati. Mungkin hanya jenis musik metal yang ga nyambung buat saya, pernah sekali mencoba menikmati setiap dentumannya, tapi well, I couldn’t lie I didn’t enjoy it. Hiks.

Dari sekian jenis musik, bagi saya ballad adalah yang paling enak didengar, lebih-lebih jika lagunya macam ballad acoustic. Mungkin karena personality yang cenderung quite dan tak suka hingar-bingar, lagu-lagu ballad selalu memiliki tempat di iPhone. Ada satu lagu dari album 25 milik Adele yang langsung mengena saat pertama kali mendengarnya, A Million Years Ago. Lagu itu konon ditulis Adele untuk mengungkapkan bagaimana hal-hal sederhana bisa pudar karena hingar bingar kesuksesan. Orang-orang terdekat yang perlahan menjauh, sikap dan pandangan sekitar yang berubah, hingga rasa rindu pada seorang Ibu, sahabat dan udara bebas. Salah satu lirik yang paling mengena dari lagu itu adalah ini ;

SebelasMei1

Lirik di atas seakan menegaskan apapun yang kita pilih di dunia ini semua ada resiko dan harga yang harus dibayar.

Saya kerap merasakan hal yang sama. Memilih bekerja dan hidup di negeri orang, jauh dari semuanya. Mau tak mau saya harus menikmati tantangan dan pekerjaan di sini, merasakan pahit manisnya hidup sebagai perantau meski sering merasa sepi. Yang kerap berbangga hati tiap berhasil menyenangkan orang-orang tersayang dari jerih payah sendiri. To earn my stripe I’d have to pay and bear my soul.

 


 

Pagi ini saya bangun bersama kenyataan yang seringkali makes me restless. Umur bertambah dan kali ini menginjak angka yang semakin mendekati tiga puluh. Saya akui saya sering merasa restless dan insecure tiap kali bertambah umur. Seringkali merasa masih lari di tempat, belum berada di titik yang seharusnya, belum menginjak Eropa, menikah, dan bayang-bayang kelabu lainnya. Tapi sekarang, saya mencoba berdamai dengan diri untuk lebih dewasa baik dari sikap dan pemikiran. Tidak merasa resah berlebihan akan jalan masa depan dan berusaha hidup dengan rasa syukur dan keyakinan.

Bukankah bertambahnya umur adalah hadiah dari-Nya agar saya bisa merayakan hidup lebih panjang lagi? Bersama orang-orang penting yang telah Tuhan kirimkan untuk mewarnai hidup bak pelangi? :)

SebelasMei2

Meski sebelas Mei kali ini berjalan tanpa perayaan warna-warni, tapi saya amat bersyukur karena banyak hal manis yang saya terima sedari pagi. Ucapan-ucapan selamat dari sahabat-sahabat dekat, keluarga, rekan-rekan kerja, pun beberapa teman-teman di luar sana yang bahkan belum pernah bertatap muka. Dari ucapan jenaka kemarin hari (Yuriko!), wishes via WhatsApp (thank you mas Andhi, oh I heart your wishes Tre!), Line (oh Geng Sugeh :*), Twitter (mbak Ririn :*), Facebook yang jelas-jelas notif tanggal lahir sudah saya matikan dari bulan lalu tapi kok ya masih kebaca :|, serta wishes via telepon yang baru saja saya terima dari seorang yang pernah menjadi teman kerja di sini (thank you Aunty Funmi!).

Oh, and this beautiful piece for sure :)

SebelasMei3

It really, really means a lot for me. I wish them the same, a beautiful and blessed life ahead.

And I should say a ton of thanks to my parents yang telah melahirkan saya ke dunia. Merawat, membimbing, dan mendoakan setiap malam hingga tumbuh seperti ini. Semoga, anak ragilmu ini semakin cemerlang ya, agar bisa membahagiakan lebih sering lagi :) (oh Gosh, I know this last sentence is so tacky :P).

 

Salam,

Azis.

 

Lagos, 9 : 20 pm.

Cereal Guide Book

I’m writing this post with zombie eyes and exhausted system on my body. Went for a challengingandcrazy set-up for an International event from Saturday night and came home 1 am on Monday morning. Four hours sleep doesn’t sound right cause I had to go for another project then. Fiuh.

Let me rush so I can have a sleep tonight. Lately, I’ve been enjoying doing an online shopping and couldn’t resist for some catchy songs from iTunes and these two handsome guys.

Cereal1

It was on a lazy afternoon in the office I opened Cereal site without no reason. Just wanted to see some gorgeous photographs from those amazing photographers and ended by added stylish guys in my cart (I know I should add London as well :/). After two weeks (Easter holiday in UK made my order came a bit late) I finally had them in my hand. I was so excited but worry in the same time. Really, really beautiful guide book, clean and trendy lay-outs, beautiful photos of course, but the cover is so fragile. My hand must be clean before I surf the content :). Ah, I adore what Rich Stapleton and Rosalia Park do for Cereal, their attention to detail is on point (not to mention that both of them know Alice Gao in person :|).

Overall, I’m so happy could pamper myself by buying something that can train my eyes for beauties. I’m currently looking forward for another online shopping for some design and cook books, let me tell you, NOMA book is calling me.

Oh, you can check other city guides here.

Cereal2

Cereal3

Cereal4

Cereal5

How dreamy those cities are.

Learn

 

Processed with VSCOcam with x1 preset

Layaknya manusia biasa, kadang saya melewati suatu hari dengan biasa. Meaningless. Bangun pagi, berangkat kerja, menghabiskan delapan jam dengan target-target pekerjaan di kantor, pulang, menikmati waktu sejenak sebelum akhirnya tidur. Tapi untungnya, pekerjaan saya cukup mobile. Tidak mengharuskan saya stuck di kantor dan mengulangi ritme harian tadi terus menerus. Kadang secara tak terduga, saya harus menghadiri meeting dadakan di suatu tempat dengan orang-orang yang I had no clue who. Pertemuan yang menghabiskan beberapa jam yang kadang menjemukan, kadang menyebalkan, kadang pula menyenangkan. Dengan ritme pekerjaan yang mobile tadi, secara tidak sadar mengajarkan saya untuk lebih memaknai suatu hari dengan memetik lebih sering pada hal-hal yang menginspirasi.

Minggu lalu, saat saya dan seorang teman sekantor mampir ke rumah klien selepas jam kerja, saya menggerutu dalam hati. Pasalnya, setelah kami menunggu dalam kebosanan, pertemuan singkat yang seharusnya selesai sore itu diundur keesokan harinya. Keadaan seperti itu jelas tidak mengenakkan. Saya mencoba mendamaikan diri dengan pikiran-pikiran jelek yang bisa merubah mood. Manusiawi memang jika saya berpikir apakah kami berdua diperlakukan adil. Saat kami harus menunggu klien untuk mendapatkan kontrak sebuah event, sedang rekan-rekan kerja yang lain sudah dalam perjalanan pulang atau mungkin ada yang sudah sampai di rumah. Alih-alih membiarkan pikiran-pikiran jelek tadi meninggi, saya lebih memilih berpikir positif. Mungkin tanggung jawab kami semakin besar hingga harus merelakan satu setengah jam di hari itu melayang begitu saja.

Akhirnya kami kembali ke kantor dan menunggu di luar karena pintu kantor sudah tutup. Hanya ada seorang sekuriti yang mendapat giliran jaga malam. Suasana amat lengang dan temaram. Maklum, Afrika masih saja Afrika. Masih banyak tempat yang belum terang benderang. Tak lama kami di sana, teman saya memilih untuk meninggalkan kantor lebih dulu. Biasanya, orang lokal seperti teman saya ini, meskipun ia seorang perempuan, tak akan meninggalkan orang kulit putih seperti saya sendirian. Bagaimanapun, ini Afrika. Kadang lebih aman jika kita ditemani penduduk asli daripada sendiri. Sama halnya dengan saya sore itu, ia pasti lelah hingga suasana rumah seperti melambaikan kenyamanannya untuk disinggahi secepatnya.

Sembari menunggu sopir yang terjebak macet dan hampir sampai, saya duduk di kursi plastik di samping sekuriti tadi. Untuk memecah kebosanan, saya iseng membuka percakapan dengannya setelah ia menawari saya duduk. Kira-kira begini ;

S : “Mr Azis, please seat here”

A : “Aw, thank you. So you’re working tonight?”

S : “Yes Sir”

A : “How can you keep your eyes open a whole night? Keeping our compound safe”

S : “Sometimes I’ll go around, sometimes my friend come to see me so we can have chat and I’m not sleepy”

A : “May I ask, how long you’ve been working as a security?”

S : “This is my fourth month. I started on December last year”

A : “Oh, so you’re still new. What was your job before?”

S : “I worked at KFC”

A : “Aw that’s fine. Working there was good, right?”

S : “Yeah, I worked for one and half year”

A : “Hmm, so why you left?”

S : “No, I just wanted to have a weekend for myself”

A : “Oh, you worked from Monday to Sunday? But it must be in shift, right?”

S : “Yes Sir, I wanted my Saturday and Sunday for myself. It’s impossible to have a weekend from my previous job. I worked as a cleaner before I worked at KFC”

A : “I agree, it has to be balance”

S : “I need my weekend because I have to go to school”

A : “Wow, so you’re studying right now?”

S : “Yes Sir, I’m studying at Polytechnic every Saturday and Sunday”

A : “Oh I see, so when you are not working tomorrow, you can rest and sleep in the afternoon and your second will resume. Then on Saturday and Sunday you’ll off”

S : “Yes Sir”

A : “That’s great. I always inspired by someone like you who is working for a better future. Good luck!”

S : “Thank you Sir”

A : “Okay then, good night!”


Saya mengakhiri perbincangan singkat sore itu saat sopir sudah di depan pagar kantor. Jarum jam menunjukkan pukul delapan lewat. Saya tak sabar ingin tiba di rumah secepat mungkin. Mengakhiri hari dengan istirahat di kamar atau memutar ulang film-film yang saya punya. Sopir saya memberitahu waktu tempuh ke rumah bakal sedikit lebih lama karena kondisi jalanan yang cukup macet. Akhir-akhir ini jalanan memang sering macet karena fuel-strike. Saya kira bukan karena fuel-nya yang langka, hanya sistem yang amburadul yang membuat keterlangkaan dan melahirkan deretan mobil-mobil yang mengular di sepanjang jalan. Satu setengah jam melayang karena meeting tadi plus kondisi jalanan yang macet. Lengkap sudah.

Di dalam mobil, saya kembali meredam pikiran-pikiran negatif yang ujung-ujungnya menghasilkan umpatan-umpatan sampah. Justru saya menikmati kemacetan sambil memetik pelajaran dari percakapan dengan sekuriti tadi. Pertama, saya belajar bahwa baik buruknya hari yang kita punya benar-benar tergantung bagaimana kita bersikap dan mamaknainya. Kedua, pelajaran hidup bisa ditemukan di mana saja. Mungkin jika meeting berjalan lancar dan saya tidak harus kembali ke kantor dan berbincang dengan sekuriti itu, saya tidak memetik pelajaran darinya. Jujur, saya terkesima dengan tekadnya melanjutkan pendidikan. Saya tak tahu bagaimana kualitas pendidikan yang ia jalani, saya pun tak tahu bagaimana ia menjalani hari-harinya di tempat ia belajar. Tapi yang saya tahu, tekadnya kembali ke sekolah, lebih-lebih ia membiayainya sendiri dari hasil tabungannya benar-benar menginspirasi. Seorang sekuriti yang berani melepas pekerjaan sebelumnya hanya karena ia ingin bebas memiliki hari Sabtu dan Minggu. Dua hari yang ia jalani untuk menuntut ilmu yang semoga suatu saat nanti mengantarkannya pada kehidupan yang lebih baik.

Learn2

Hello Sunshine!

Been stuck for this blog and that’s not good enough! Currently, I’m looking for inspirations and trying to finish what I’ve been writing for two days and I ended sharing some iPhone pictures here (cause sun shine has come back! go cloudy season, I need light to take more and more picture!)

HelloSunshine1

HelloSunshine2

HelloSunshine3