The Amazing Giri

Giri1It’s been long I know since I started KitKat, a place where I love to share bunch of cool people outside there yang menginspirasi, yang datang dari berbagai profesi. As long as they’re inspiring and has creative background, sebisa dan sesering mungkin saya akan mengorek siapa mereka di blog ini. Dan kali ini, saya berkesempatan memaksa seorang kreatif muda yang karya-karyanya berkali-kali membuat saya geleng-geleng kepala. Semoga Anda terinspirasi setelah membaca hasil cuap-cuap saya dengannya.

Here we go!

***


For all those who never know Giri, it would be a nice to ask straight. Who is Giri? where do you live, and what do you do?

First thing first, you guys really don’t need to know about me, just be inspired by my pieces, I will be happy as human and video/film maker. TAPI KARENA DIPAKSA senior favorit satu ini, baiklah :D.

Nama saya Giri Prasetyo, I claimed my hometown in Surabaya (actually I live nomadic), sekarang tinggal di Jakarta Selatan sejak 4 tahun lalu. Mengawali rantau di Jakarta dengan bekerja di beberapa production house. Alhamdulillah sekarang sudah 2,5 tahun bekerja di production house milik sendiri. Posisi tepatnya selain owner, juga sutradara, cinematographer, dan editor”

How many years been professionally worked for what you are doing now?

“Sejak 2009, berarti 7 tahun ya. Wow I never realised it’s been 7 years!”

I’ve seen you have grown Gir, it amazes me how Giri Prasetyo produces many beautiful travel videos. If I may ask, how do you see yourself into your job?

Matur suwun mas, tenan iki, suwun. Jyan sampeyan iki kok, duh…

I didn’t call it a job, I think more like a passion. Saya nggak punya latar belakang akademis di bidang ini, apalagi sertifikasi khusus. Jadi ya apalagi yang bisa nge-drive saya buat terus konsisten kalau bukan passion, modal peralatan juga mati-matian dicari, koneksi dan ilmu juga blusuk sana blusuk sini digali, dan lagi-lagi alhamdulillah, karena passion ya happy-happy aja ngelakuinnya. Audio visual tampaknya sudah menyerap sejak saya masih SMA, ketika pertama membuat film pendek sekitar 11 tahun lalu (wtf I’m old!). Soal travel video, traveling adalah cara saya untuk mendapat ide-ide baru, mengalami hal-hal baru yang kemudian bertransformasi menjadi konsep baru”

What have been some of the most rewarding aspects of your job?

“Yang paling saya suka dari passion saya ini adalah, oke pertama saya bukan tipe talker, kecuali kalo lagi nge-direct ya. Bukannya apa-apa, because I prefer to show something in my mind rather than telling it. ‘Show’ ini berarti bisa mengutarakan, mengekspresikan, bahkan mengimpresikan siapa saya, apa yang saya pikirkan dan apa yang mau saya sampaikan. Dan audio visual adalah medium saya untuk mencapai itu. Bukan script writing, atau bukan public speaking (bahkan sering saya minta Atre buat nulis caption di instagram, karena males mikir kata-katanya, I mean, just read my pictures not my letter!). Otherwise, bukankah video adalah medium yang paling persuasif yang ada sekarang. Saya bisa ikut membawa penonton ke emosi yang saya rasakan, bisa membawa mereka ke hal-hal baru yang baru saya alami, dan sebagainya. Lalu melihat mereka tertawa, sedih, merinding, terinspirasi, itu sudah bisa bikin saya orgasme batiniah”

Sometimes, everybody that sees your work in social media would think it’s kind a dream job you’re having. I know every job has its own positive and negative sides, so what have been some of the most difficult aspects of your job Gir?

“Sebentar, dream job yang dimaksud ini job yang mana? yang traveling ya? semoga bener. Yang paling sulit adalah meninggalkan pacar sementara saya jalan-jalan! hahahaha. I never find it difficult, because it’s my passion. Fun! tapi mengikuti keinginan klien juga bikin senewen”

You have traveled to four continents already for some projects, which one was the most challenging? And which country that left mark in your heart?

As a project, di Jepang. waktu itu mengerjakan film panjang komersil pertama, dan langsung jadi DP (director of photography), dengan peralatan baru dan seadanya. Di sana juga saya mecahin satu filter ND yang mahal karena buru-buru set kamera. Dan juga berhadapan dengan aktris Jepang yang sudah terkenal di seluruh Asia. Edan, I didn’t see it coming, bro! The country that left mark sejauh ini sih Swiss. Karena sempat hampir (well, mereka udah jalan sih sebenernya) ditinggal kru lain ke Perancis karena sibuk cari spot yang bahkan orang lokal pun jarang yang tahu untuk materi video”

Who is your inspiration in videography? And why?

“Banyak sih, sampai lupa namanya (ga pernah inget nama orang), tapi yang saya inget berarti benar-benar jadi role model saya berkarya adalah Renan Ozturk. Kalau sebelumnya pekerjaan saya disebut dream job, maka saya menganggap orang ini punya heaven job. Dari project-projectnya, dari treatment visual, dari sketsa-sketsanya, inspiring. Ada lagi Garin Nugroho. Kalo doi ga perlu dijelaskan lah ya. Banyak lagi yang lain, tapi lupa, sumpah lupa”

What are some of your other hobbies and passions?

“Hobi yang lain adalah motoran, suka banget sama vespa dan custom motorcycles, dari culture, lifestyle, sampai desain-desainnya. Apa lagi ya, main gitar juga, sering main gitar kalau lagi buntu cari ide”

How do you see yourself in the next five years?

will be the man who still walk on my passion. Saya nggak mengharap ada reward dan kekayaan materi, tapi selama saya masih diberi kesempatan untuk berkarya, itu sangat mewah bagi saya”

Any dream place or call it home in your dream that you are really, really want to live there someday? Where and why?

“Serius pingin punya rumah terakhir di Banda Neira. Mimpi saya yang masih belum tahu bagaimana mendapatkannya. Kenapa? di pulau mini itu banyak sekali sejarahnya. Pernah suatu sore yang biasa, saya lagi duduk-duduk sambil menghisap rokok dan minum kopi di salah satu warung di dekat pasar ikan. Waktu itu hujan gerimis agak deras dikit, atmosfernya enak banget lah pokoknya buat mikirin hidup. Saya ngelamun aja liat lalu-lalang nelayan mengangkat kotak-kotak berisi ikan segar, ada ibu-ibu yang bawa dagangan dari pulau Banda besar, ada anak-anak yang masih saja sepedahan di tengah guyuran hujan. Dan itu semua dikelilingi oleh rumah tua pengasingan Syahrir dan Hatta, benteng Belanda, gereja tua yang ada tulisan-tulisan VOC, lalu saya melihat Mohammad Hatta jalan di tepian yang tidak terkena hujan. Matanya menatap lurus ke aspal, sambil tangannya mendekap satu sama lain. Itu aneh dan absurd, tapi pulau itu bisa memproyeksikan imajinasi saya secara fisik”

Any advices for beginner that has passion in videography?

“Klise, tapi ikutin terus passion-mu. Karena ya emang itu pegangan saya. Dari passion timbul idealisme. Dari idealisme timbul target achievement. Dari situ kamu bakal tahu apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai apa yang kamu inginkan. Networking is the key. Bagi saya yang tidak dimanjakan pengetahuan dasar dari akademik, tidak disodori buku-buku film dan referensi-referensi, networking adalah cara saya mendapatkan knowledge khusus di bidang ini. Dan harus fokus tentunya”

Three things you can’t live without?

“Passion, passion, and passion. And that is a lot of things”

Finally, please share surprising side of Giri Prasetyo?

“I can be fully surprising when you underestimated me”


***

Bukan Azis namanya jika mengakhiri obrolan dengan inspiring human tanpa menodong karya visual mereka di blog ini. You guys know how I love beautiful pictures, dan Giri? let’s these pictures here speak by themselves. What he took from his recent trip to Iceland was beyond amazing. Now, you know why this post titled The Amazing Giri. 

For more of Giri’s beautiful work, visit and follow his instagram! I guarantee his travel videos on his vimeo will pamper your eyes, too :)

Giri2

Giri3

Giri4

Giri5

Giri6

Giri7

Giri8

Giri9


***

Ijinkan saya flashback sedikit sebelum mengakhiri postingan ini, ya :)

Saya ingat betul sosok Giri beberapa tahun yang lalu (wtf, I’m old! benar kata Giri :() saat saya iseng menjadi asisten dosen mata kuliah furniture design di Desain Produk ITS. Di mata saya saat itu, Giri adalah seorang mahasiswa yang biasa, jauh dari kesan mahasiswa desain yang ekspresif dari luar. Namun saya berkeyakinan mahasiswa biasa itu memiliki sesuatu yang tak biasa. Setelah beberapa bulan mengakhiri tugas di ITS dan bergelut dengan rutinitas di perusahaan di Surabaya, hingga tahun pertama di Afrika, saya tak terhubung dengan Giri. Saya lupa-lupa ingat bagaimana kami terhubung kembali, jika saya tak salah saat nama dan karyanya beberapa kali disebut di blog milik Ayos Purwoadji yang sering saya kunjungi dulu, Hifatlobrain.

Setelah itu, dengan munculnya twitter dan instagram yang mempermudah kita mengetahui bagaimana dan sedang apa mereka-mereka di luar sana, saya bertemu kembali dengan Giri. Keyakinan saya pada ‘sesuatu’ yang tak biasa dari adik kelas saya ini terbukti. Giri is amazing, and I knew it since. Postingan karya-karyanya di instagram hanyalah secuil bukti dari kekaguman saya pada sosok Giri yang berkembang pesat sebagai seorang profesional, yang sudah terbang ke Jepang, Maldives, Perancis, Australia hingga New York.

Setelah tujuh tahun lamanya tak bertatap muka dengan Giri, tahun lalu saya beruntung memiliki waktu bertemu dengannya bersama pacarnya, Atre, dua kali di Surabaya. Pertemuan yang menginspirasi dari dua pribadi yang inspiratif. And how lucky I am mendapat pernak-pernik dari Maldives, Jepang dan Perancis dari Giri. Oh, he has another thing from Iceland for me, yess!!! :) 

Last one I promise :)

“Gir, I proud of you. Keep up your excellent work! There is nothing happier than live with your passion. Till next time, Gir!”

Giri10

March’s Inspirations

March'sInspiration

I’m trying to clear my mind from I repeat these words I know ‘ups and downs’ feeling and looking for some inspirations to enrich my creative soul. I shouldn’t be so lazy updating this blog when I had a lot of free time last month that I spent more in front of my iPhone instagram of course. Instead, I should wake up and believe that everything will happen if it has to happen. I’m not gonna talk too much on this post guys, just wanted to share to you some of the inspirations that inspired me. From music, design and photography. Here we go!


 

Music 

MARCH1

First time I found her song on YouTube, I mean, whattt? she’s so catchy and original! She is Yuna.

Sounds cheesy I know, but who doesn’t like 25? Most of her song I like, but what she did at Brit Award was awesome. Plus, no words could describe how the stage design mesmerised me. Watch here and you’ll understand what I mean.

I adore someone who can write something beautifully. Whosoever, whatsoever. From poem, novel, till song. And Ryan Tedder? A songwriter who made me dream to wake up in a hotel near Piccadilly.

I always see how serious a singer through their video clips apart their beautiful songs. And what Tulus did in his latest single is beyond beautiful. The scene, Prague of course. Shit!


Design

MARCH2

For you guys who think that I’m a graphic designer, I’m not! :). Though I had my bachelor degree from Industrial Product Design, yes I love to know different spectrums of design. Stationary from Venamour is ‘must see’ if you are interested in graphic and paper. Their products are awesome!

Fucking cool kinds of stuff from Fendi makes me want everything about those cute monsters! From bag, jacket, wrist watch till wallet! F*ck!

Opening this site reminds me that I used to work as a jewellery conceptor a few years ago. But what Giampiero does is beyond beautiful, his sketches are oh my God and so does this site! Loook how beautiful the front page is! I die!


Photography

MARCH3

The last inspirations come from pictures, pictures and pictures!

I fall in love with how the brilliant Hideaki Hamada captures something. If you love photography I swear you’ll love this.

Come on, it’s been a while for food photography! Gosh, beautiful food photography and clean blog? you’ll be pampered with these ones, this | this | and this.


 

“Creativity is the process of having original ideas that have value. It is a process; it’s not random”

-Ken Robitson-

 

I’ll try to keep this blog moving but let me say hello to March, thanks for bringing me closer to July :)

Sweet Surrender

 

dreambig

 

Jika bicara tentang mimpi, jelas saya masih punya satu kotak besar yang masih penuh. Puji syukur, beberapa mimpi besar sudah terbang dua tahun lalu. Salah satu yang terpenting sudah saya share di tulisan ini. Sebelum saya mulai bermimpi akan mimpi-mimpi besar lainnya, ijinkan saya flashback tentang mimpi sederhana yang saya punya sedari kecil. Mimpi pada sebuah kamar.

 


 

Dulu sekali, saat menginjak SMP saya mulai mendambakan sebuah kamar pribadi. Kamar yang tak perlu luas betul, tak perlu pendingin ruangan, cukup kasur sederhana dan meja belajar. Saya ingin sekali memiliki meja kayu berwarna gelap yang di atasnya bisa saya tata beberapa buku pelajaran, sebuah lampu belajar mungil berwarna putih, dan sebuah pigura. Mejanya menghadap jendela yang setiap kali hujan turun, rintikannya membuat suasana kamar semakin nyaman. Tepat di sebelah kiri jendela, ada beberapa poster yang tertata rapi. Poster klub Manchester United, foto kota Paris, hingga poster David Beckham, figur yang pengaruhnya besar sekali bagi saya dalam menggapai mimpi. Bila menjelang sore, ada radio kecil yang bisa menemani saya mengerjakan PR.

Saat SMP pula saya memiliki mindset apa itu ‘a dream life’ tiap melihat beberapa teman yang datang dari keluarga mampu dan memiliki prestasi bagus. Entah, saya terkesima dengan ritme harian kumpulan teman yang sepertinya selalu siap menghadapi hari-hari di sekolah. Yang setiap sore tiba, mereka mendapat tambahan ilmu dari lembaga bimbingan belajar. Dan saat pulang ke rumah setelah kursus, bisa menghabiskan sisa harinya dengan PR-PR untuk esok di kamarnya sendiri-sendiri. Saya membawa mindset sederhana pada kamar pribadi yang nyaman sebagai salah satu kriteria ‘a dream life’ hingga masa SMA. Beberapa kali saat ada tugas kelompok di rumah teman, saya hanya mampu membiarkan angan-angan terbang begitu saja kala melihat kamar-kamar mereka. Poster idola pun klub bola kesayangan yang tertempel rapi di dinding kamar, kasur yang begitu empuk, meja belajar yang nampak penuh dengan buku pelajaran dan komik, plus radio stereo yang bisa memutar lagu-lagu remaja. Belum lagi beberapa teman yang saat itu sudah memiliki seperangkat komputer. never had that piece of ‘a dream life’ thenA piece berupa kamar pribadi.

Tidak, anda tidak salah baca. Saya tidak memiliki kamar pribadi sejak kecil hingga lulus SMA.

“Trus, dimana kamu tidur Jis? Dimana kamu belajar Jis?”

Di sofa. Di ruang tamu sembari menikmati acara televisi hingga tertidur. Belajar? biasanya di lantai di ruang tengah. Tak jarang pula di atas kasur di dalam kamar orang tua.

 


 

Jika saya tak salah ingat, a piece of ‘a dream life’ dari masa SMP itu sempat terwujud di tahun ketiga masa kuliah. Saat itu saya mulai berpikir, “I can’t stay like this, I need my own bedroom”. Adakadabra singkat cerita, saya berhasil memiliki kamar sendiri. Letaknya di lantai satu, bekas kamar kakak kedua yang sudah pergi untuk memulai keluarganya sendiri. I felt like I had a dream life then karena akhirnya saya memiliki ‘ruang’ pribadi. Meski kamar saya kecil, paling tidak saya memiliki kasur sendiri berupa matras yang cukup empuk meski berbahan kapuk. Bukan jenis spring bed. Dinding kamar dari plywood bercat putih menjadi tempat saya memajang poster Manchester United dan tentu saja, David Beckham. Ada pula televisi berukuran 14” yang menemani saya tiap kali selesai mengerjakan tugas kuliah hingga larut malam.

Flashback macam begini, membuat saya teringat kembali untuk menghargai arti sebuah mimpi dan semoga, Anda tidak menganggap apa yang akan saya tulis setelah kalimat ini sebagai bentuk dari riya’. Bismillah.

“Saya memang pernah punya mimpi memiliki sebuah kamar sejak enam belas tahun yang lalu. Dan detik ini pun, saya seperti masih hidup dalam mimpi bahwa seorang Azis saat ini resmi memiliki sebuah rumah. Bukan hanya sebuah kamar pribadi”

SweetSurrender1

***

Dua tahun yang lalu sesaat setelah berhasil menghadiahi kedua orang tua berdiri di depan Ka’bah, impian yang ingin saya gapai bukan berbentuk rumah. Impian saya saat itu masih seputar Perancis, seputar Paris. Saya ingat betul bagaimana dua puluh empat bulan yang lalu saya amat menggebu ingin menghabiskan apa yang dipunya untuk pergi ke Perancis. Untuk menyusuri Paris. Bukan hanya berbentuk liburan, melainkan menimba ilmu melalui kursus musim panas di bidang desain. Saya terus mencoba menguatkan diri pada fatwa “that I deserved” pun “you’re still young, go travel and enjoy your life”. Dengan pergi ke Perancis, saya menganggap impian itu macam investasi berbentuk traveling. Dan kursus desain di sana macam investasi berbentuk pendidikan. Setelah mempertimbangkan apa yang harus saya gapai lebih dulu, akhirnya saya memalingkan diri pada Paris dan memilih membeli rumah. Truly, it wasn’t an easy decision to say ‘hold’ to Paris.

 


 

Proses mencari hingga memiliki rumah meninggalkan pengalaman-pengalaman tersendiri bagi saya. Tentu saja saya tidak akan melupakan salah satu orang penting yang menyemangati untuk membeli rumah. Mas Andhi, yang seringkali saya sebut di blog ini, adalah orang yang menjadi cerminan pada apa yang harus diwujudkan di tahun ketiga di Afrika. Selain didukung mas Andhi, saya seakan mendapat dukungan virtual dari mas Fakhri dan bang Nuran. Cuitan mereka berdua di twitter dua tahun lalu tentang suramnya menyicil rumah via KPR karena rentan waktu yang cukup lama, menyadarkan saya untuk segera membeli selagi punya. Mas Fakhri dan bang Nuran mungkin kaget membaca ini, tapi benar adanya bahwa cuitan mereka tentang KPR mendorong saya untuk memalingkan diri lebih jauh pada indahnya Paris untuk sementara.

Saya dan mas Andhi memiliki pattern yang hampir sama. Kami membeli rumah pribadi setelah tiga tahun bekerja di sini. Bedanya ia mampu menyelesaikan rumah hanya dalam waktu sepuluh bulan. Sedang saya sepuluh kali dua. Dan Alhamdulillah, kami sama-sama membeli dengan bulk door payment dan menyicil sisanya. I couldn’t imagine jika saya harus mengambil rumah lewat KPR. Bukan bermaksud jumawa, tapi dua puluh bulan mengikat pinggang demi menyelesaikan rumah membuat saya beberapa kali harus berpuasa pada gaya hidup. Boro-boro mau beli jam tangan baru meski dua kali kebobolan ;P, memutuskan untuk membawa pulang seperempat kilo kale, sekotak blueberry, rasberry, dan blackberry, plus cake-cake dari restoran Lebanon di hari Minggu harus berpikir dua tiga kali :P. Eh tapi iya lo, merasakan dua puluh bulan dengan tagihan bulanan yang tidak sedikit mampu mengubah gaya hidup, hehe.

Proses mencari rumah yang cocok dengan selera dan kantong pun ternyata bukan perkara mudah. Dan untuk hal ini, saya harus berterima kasih pada sahabat saya, Ruli, yang bersedia menemani saya berburu rumah selama lima hari. Setiap siang kami keluar masuk kantor developer, membawa pulang brosur-brosur, hingga akhirnya mendapati tipe dan harga yang sesuai kemampuan. Saya sempat khawatir jika saja saat itu kami tidak menemukan rumah yang cocok karena saya hanya memiliki satu bulan di Indonesia. Tapi toh saya selalu percaya pada “a big thing will happen at the right time”. And luckily, rumah yang saya beli letaknya tak jauh dari rumah Ruli dan rumah Ayos & Winda, sahabat-sahabat dekat saya. Lengkap sudah :). Oh tentu saja, support dari orang-orang terdekat yang membantu saya selama proses cicilan tidak akan saya lupakan. Sohib, thank you sudah repot-repot setiap bulan keeping the record of my payment, dan kakak saya yang mau direpotkan setiap bulan dengan urusan administrasi :P, dan tak lupa doa kedua orang tua. Eh, sebentar, ini kok rasanya saya seperti habis dianugerahi award apa gitu, hahah kok tulisannya malah macam winning speech :P.

***

Rumah lunas, sekarang masuk tahapan selanjutnya yang harus dihadapi. Mengisi rumah sesuai dengan kepribadian dan tentu saja budget. Yang kedua, saya akui belum ada, haha. Tapi jika Anda menebak seperti apa impian saya akan interiornya, oh lupakan saja dulu kalau rumah saya ini tidak terlalu besar sepertinya inspirasi-inspirasi dari Pinterest ini jawabannya. Saya akan menulis lebih jauh tentang impian interior yang saya idam-idamkan di postingan terpisah. Tapi yang jelas, tidak jauh-jauh dari konsep monochrome, simple, clean and stylish.

Ah, Azis mulai bermimpi lagi :P

 

SweetSurrender2

SweetSurrender4

 

Oh, saya tahu saya terlalu banyak cuap-cuap di postingan ini but I hope you guys don’t mind for this beautiful quote :). Oh wait, now, it’s time to concentrate more to see Paris, right? Please don’t judge me wrong but I really had no interest to be backpacker there :P, I wanna go in a proper waaaaaay! hehe!

SweetSurrender5

Let’s dream again!

 

 

Cheers,

Azis.

Lately

Apart of “I have tried eight, nope, ten times to sing ‘All I Ask’ properly today” on this app and failed (oh, if you like to sing like… *coughing*), there was another annoying moment when I cooked pancake yesterday. Since I had an idea to enjoy pancakes for breakfast yet failed because I NEED A NEW STAINLESS STEEL PAN please!! :( even after I putted a tiny slice of butter before I dropped the dough, it didn’t work. Sigh, an old pan had scattered the pancake :( I know it’s time to pick a new pan if I have money :P, sure will doooo!

Rather than wondering scattered pancake, let me share images of pancake from my brekkie months ago. I found them when I searched for something ‘blog-worthy’ for upcoming post. All was taken with an iPhone.

AhPancake1

AhPancake2

Is it only me that think ‘All I Ask’ is the best song from Adele’s 25? If you never listen that song, check this cover. Ssst, ‘All I Ask’ has played 20 times from my iTunes :D

Breakfast à la Azis

Fourteen of January and wow guys, its twenty and sixteen!! Who feels that January becomes a month when “What’s Next, What’s Next?” is flying on mind? Is it only me? Or you too?

Before I share photographs of my breakfast yesterday morning, I wanna make some confessions. First thing first, “What’s Next, What Next?” feeling is really bothering me lately when I keep thinking what my next journey is. It’s quite different from last year when I was very relaxed with what would I face a year ahead. This year, I really, really have to think what is my next step in life.

Second confession ; today is the end of my day off! I should have 10 days off but unfortunately, I just had two days. The rest was ‘half-day’ and still working from some upcoming projects. How do you feel when most of your colleague is resting and you’re still working? :(. Third, I feel like I’m not having a good start managing my allowance (hellooo! this is new year!). Trying to be discipline on spending my money but couldn’t help myself to not to pick a new bowl and two white saucers. Because sometimes, buying things like that for ‘food-scene’ purpose makes me happy (in fact, when you should be resting but still working, gah!).

Fourth, I cooked chinese noodles (been craving it for a while), fried chicken in thick honey and sweet soya sauce, and chocoffee (chocolate and coffee :|) pudding in one hour the day before yesterday just right after I came back home by 4.30 pm. I always love to cook something simple yet tasty. Quite brainless but versatile enough.

Okay, time to share a short story behind this breakfast scene. When I woke up yesterday morning, I had an idea to play around with my new bowl which I’m sure the color will be beautiful in picture. But then I found that hammatan season is still here and morning sun wasn’t smile and said no hello. I thought I would enjoy my breakfast normally without busy taking picture and I should forget photographing my breakfast-scene. I went straight to brew a cup of coffee and accidentally found a soft natural light from the window in my living room. I dropped my cup on a purple ‘flatlay’ and surprised that the color of the background was interesting enough. So, I boiled chinese noodles for a sec and mixed with the remaining sauce I cooked the day before yesterday (for sure, I kept it inside fridge!). Then, time to play on a new bowl! I added chicken on top and sprinkled with fried onion I brought from Indonesia. I was surprised that the light was fantastic, it wasn’t harsh yet gave a perfect lighting on the food. And believe it or not, I didn’t need complicated editing for this shot cause all the pictures are clear. A little touch-up in Lightroom and Photoshop for text (some of these are straight from camera)! Hm, I still dreaming someday I’ll have a mini studio complete with light box, so that every time I have an idea for food photography, I just take my camera, set the lighting and shoot!

Hello, it’s been a while for a food lodge on this blog (click on the image to zoom)!

BreakfastAlaAzis1

BreakfastAlaAzis2

BreakfastAlaAzis3

BreakfastAlaAzis4

BreakfastAlaAzis5

BreakfastAlaAzis6

Oh wait, I have one more confession ; I still want Sony A7r for my next cameraaa! :(

Happy Friday guys! Hope you have a groovy weekend just like how Justin grooves on this clip! :))

 

6 Januari

Ada dua hal yang saya percaya tiap kali bertemu dengan seseorang dalam hidup. Pertama, Tuhan pasti menyelipkan a purpose for whosoever yang kita temui. Kedua, saya selalu bertekad belajar dari siapapun yang saya temui entah itu teman kerja, teman dekat, hingga teman serumah. Menyaring apapun yang positif sambil memupuk hubungan baik yang entah suatu saat bisa jadi investasi jangka panjang berbentuk persahabatan.

Tadi malam ada yang berbeda dengan suasana apartemen tempat saya tinggal. Mas Danang, yang menjadi flatmate selama satu setengah tahun, mengakhiri perjuangannya kemarin. Saat ini, detik saya menulis kalimat ini, mungkin ia sudah terbang menuju Indonesia setelah transit di Dubai. Tentu dengan senyum lebar dan hati yang damai. Saya tak akan membagi alasan resign-nya di tulisan ini, hanya ingin mengenang beberapa hal yang mungkin akan saya rindukan darinya beberapa hari ke depan. Ijinkan saya flashback sebentar.

April dua tahun yang lalu adalah bulan yang tak akan pernah saya lupa selama berjuang di sini. Bulan itu, mas Andhi, senior yang membawa saya ke Afrika memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Tentu saja, keputusannya membuat saya bingung bukan main. Saya harus menerima kenyataan tidak akan bekerja sama lagi dengan seseorang yang berjasa banyak mengajarkan saya seluk beluk industri event. Seseorang yang dengan sabar membimbing saya dari awal, yang menjadi saksi bagaimana seorang anak rumahan bernama Azis bertransformasi menjadi seorang pemberani di Afrika. Saya sempat menulis kegalauan saya di sini.

Dua bulan setelah ia pergi, datanglah mas Danang. Mas Danang didatangkan untuk menemani dan men-support saya dari sisi pekerjaan pun sisi sosial. Mas Andhi adalah orang yang membukakan jalan baginya untuk bekerja di sini. Selama dua bulan kepergian mas Andhi, saya dan mas Danang mulai kontak via WhatsApp. Beberapa kali kami mengobrol hanya sekedar berbagi info seputar bagaimana hidup di sini, makanan, masyarakatnya, pun pekerjaan yang akan ia handle. Dari percakapan itu, saya merasakan ada chemistry layaknya kakak dan adik, chemistry yang merupakan pertanda baik yang nantinya akan memudahkan kami berdua bekerja sama. Dan chemistry itu benar adanya saat mas Danang memulai perjuangannya di sini.

Sebagai desainer grafis yang sudah lama berkecimpung di bidang printing, ilustrasi, hingga movie production, mas Danang tentu paham betul hal-hal yang berkaitan dengan teknis grafis. Meski dulu selama kuliah ia dan mas Andhi sering mengerjakan display pameran, toh bukan hal mudah untuk bisa melebur dengan industri event di sini. It was a totally different field and different obstacles but he had an eager to know, and he had tried so.

Seperti halnya dengan mas Andhi, usia saya dengannya terpaut delapan tahun. Meski begitu, mas Danang selalu mendengarkan saran-saran apa saja yang saya utarakan dalam pekerjaan, do and don’t-nya, bagaimana bersikap dan menghadapi orang-orang lokal, hingga petuah-petuah ala-ala Mario Teguh saat ia mendapati kegagalan. Pun begitu sebaliknya, beberapa kali saya mendapat petuah tentang hidup darinya.

6Januari1

Selama satu tahun setengah kami hidup serumah, ada beberapa hal yang akan saya ingat tentangnya. Saya mungkin akan merindukan seorang yang sering mengganggu kudapan-kudapan ringan saya, sisa asap rokok yang saya benci hampir selalu ada setiap pagi di kamar mandi, percikan-percikan kecil saat kami berbeda pendapat plus saat ia membiarkan cucian piring menumpuk begitu saja di dapur , bagaimana cerewet dan kesalnya saya karena ia lebih sibuk dengan pesanan kulit binatang yang akan ia buat untuk tas daripada kesehatannya di rumah sakit saat ia kena food-poisioning, pun candaan-candaan ringan macam ‘bagaimana mengucapkan kata Moët & Chandon dalam bahasa Perancis’ yang selalu membuat ia tertawa lebar.

Oh iya, masih ingat kita tak bertegur sapa dua hari di rumah gegara juicer baru mas? Saat kamu menikmati jus apel dan tiba-tiba saya “heh, itu juicer baru jar-nya kudu dicuci dulu, jangan langsung minum jus dari plastik baru, chemical!”, haha!

***

6Januari2

It was so sad I couldn’t escort him to the airport cause I had a lot of deadlines in the office tapi kemarin malam saat ia menunggu boarding pesawat di gate, saya menyempatkan menghubunginya via telepon. Tadinya saya hanya berniat menelpon untuk meminta maaf pada kesalahan apa saja yang pernah saya lakukan. Tapi nyatanya, niatan itu berakhir dengan tiga puluh menit lebih obrolan ngalor-ngidul mulai dari curhat colongan pada apa yang saya rasakan dua hari belakangan, salam pada keluarga, hingga mengingatkan ia untuk berdoa sebelum take-off. FYI, sebulan sebelum ia resign dari sini, ia mulai mencari peluang-peluang lain di luar sana. Dan tak perlu satu bulan, mas Danang diterima di salah satu perusahaan agensi di Jakarta. Hal ini mengingatkan kita berdua bagaimana amazing-nya Allah menyebarkan keajaiban-keajaiban dan rejeki dalam hidup. Sesaat sebelum kami mengakhiri percakapan, mas Danang mengungkapkan satu hal lagi yang lagi-lagi membuat kami berdua amazed bahwa jalan yang ia dapat ke depan adalah hasil dari doa Ibunya yang menginginkan ia untuk kembali bekerja di Indonesia. Doa yang beliau sematkan dua kali saat ia pulang tahun lalu dan saat beliau berdiri di depan Ka’bah. How amazing doa seorang Ibu ya :).

I know I’ll miss him here but I’m happy he’ll continue his journey somewhere he’ll be happy at (hey, thanks for this). And sure, there’s nothing I’ll pray for all good people around me but a happy life. Wherever they are. 








Terus, giliranmu packing kapan Jis? eh :|.

Lagos ; 8:01 AM.

2015

2015

Siang tadi saya baru tersadar hari ini adalah hari ke-365. Maklum, padatnya Desember membuat saya kadang lupa hari ini hari apa. Sebelum memejamkan mata dan istirahat sejenak karena besok saya langsung dihadapkan dengan tantangan besar lagi, iya di hari pertama tahun baru, ijinkan saya mengungkapkan secara singkat apa yang saya pikir dan rasakan saat ini.

Saya hanya ingin bersyukur akan kesempatan-kesempatan sepanjang tahun ini, pun pada berbagai rintangan dan tantangan yang lagi-lagi mengajarkan saya untuk survive dan berdiri lebih tegak di Afrika. Saya tahu, rintangan dan tantangan di tanah Afrika tidak akan pernah mudah. Hanya ada satu hal yang mampu membuat saya kuat dan tegar hingga detik ini. Yakni, niat belajar pada kehidupan. Selama di sini, saya menganggap diri saya sebagai seorang perantau yang sedang bekerja untuk mimpi-mimpi yang tinggi, dan untuk belajar pada hidup.

Sekali lagi, saya bersyukur masih dikaruniai hidup dan kesempatan menjalani kehidupan.

Dan saya berharap, semoga Tuhan memberkahi pintu-pintu rejeki yang lebih lapang, kesempatan hidup yang lebih baik, kesehatan yang tiada putus, dan cinta kasih tahun depan. Semoga pula, banyak kejutan-kejutan hidup yang akan mengantarkan pada kehidupan yang lebih gemilang. Bagi saya, dan bagi Anda.

Selamat tahun baru!

 

Salam,

Azis.

 

Lagos ; 11:43 PM.

Bawang Tersayang

Ada tiga hal yang pasti akan saya ingat jika bicara tentang mie instan.

Pertama, sebelum pindah dan bekerja di Afrika, saya pernah stop makan mie instan selama tiga hingga empat tahunan. Saat itu, saya sedang giat-giatnya belajar tentang kandungan warna pada buah-buahan, nutrisi apa saja yang terkandung dalam sekantong snack (saya bisa menghabiskan sepuluh menit sendiri membaca bahan-bahan yang terkandung dalam sekantung snack sebelum membelinya), dan hal-hal random yang berkaitan dengan makanan dan kesehatan. Selama empat tahun itu, saya disiplin mengkonsumsi makanan yang dikukus, direbus, menghindari minyak sebisanya, memilih buah berwarna gelap, tanpa tergoda untuk menyentuh apa itu mie instan.

Kedua, sebelum stop makan mie instan selama empat tahun itu, saya memiliki mie instan favorit yang sering saya nikmati dengan ibu, Indomie rasa Coto Makasar. Saya masih ingat betul nikmatnya semangkuk panas mie instan berkuah dengan irisan cabe dan bawang goreng. Menikmatinya dengan ibu, terlebih saat hujan turun selepas maghrib adalah salah satu quality time paling sederhana yang sering saya lakukan dulu. Tentu tidak setiap minggu, hanya jika sedang ingin.

Ketiga, iya, sejak ke Afrika dan sadar akan bekerja di industri seperti ini, mie instan kerap menjadi salah satu alternatif paling praktis untuk mengisi perut. Tentu perlu proses yang tidak mudah untuk kembali berkenalan dengan mie instan setelah empat tahun lamanya. Saya pun tidak akan pernah lupa hari pertama bekerja di sini, flatmate saya menghidangkan mie instan berkuah sesaat sebelum kami ke kantor. Can’t you believe it? Seorang Azis yang dulu picky sekali harus makan mie instan di pagi hari? Sarapan mie instan lo ini :|

Semua orang tahu mie instan bukan makanan sehat, minim nutrisi dan bisa berdampak buruk jika dikonsumsi berlebihan. Maka dari itu, saya tidak akan ngoceh tentang kandungan mie instan di postingan ini ;P. Instead, saya hanya ingin berbagi sedikit cerita tentang bawang goreng.

***

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kembali dari Indonesia berarti harus ada tempat untuk kecap, bumbu pecel, saus sambal, terasi, agar-agar, jeli, dan beberapa bumbu instan yang saya memang belum bisa masak macam rawon, soto, dan yang susah-susah itu di koper. Yang terakhir paling sedikit saya bawa kemarin. Bumbu pecel racikan ibu saya selalu memiliki ruangnya sendiri sejak lima tahun lalu, tapi bawang goreng? baru tahun ini saya merasa penting alias wajib bawa. Saya rekues khusus pada ibu untuk membekali saya dengan bawang merah dan putih yang digoreng. Alasannya, saya sering rindu makan telur dadar dengan lumuran kecap yang dicampur irisan cabe, perasan jeruk nipis dan bawang goreng. Sederhana dan nikmatnya luar biasa. Sesekali, menikmati jasmine rice bersama telur dadar dengan racikan kecap plus perasan jeruk nipis, cabe, dan bawang goreng menjadi salah satu andalan jika saya malas masak. Tentu lebih nikmat dan mungkin lebih sehat dibanding mie instan :P.

BawangTersayang1

BawangTersayang2

Foto di atas diambil di suatu siang di hari Minggu. Saya sengaja meracik Indomie yang terkenal sekali di sini dengan saus sambal, minyak zaitun (jika tak punya, saya ganti dengan minyak sayur) plus tentu saja, kecap. Menambahkan saus sambal plus kecap membuat Indomienya lebih Indonesia :P, apalagi jika ditabur bawang goreng. Karena Indomie di sini lebih salty dibanding yang ada di Indonesia, saya selalu memakai separuh bumbu bubuknya plis itu MSG Jis, iya MSG yang dulu kau benci ;|. Oh satu lagi, FYI saya masih membatasi waktu mengkonsumsi mie instan. Satu bungkus tidak lebih dari satu hingga dua minggu. Setelah minim satu atau dua minggu barulah saya boleh menikmatinya lagi. And I always rinse mie instannya dengan air panas terpisah hingga genangan air rebusannya jernih lagi. Untuk hal-hal begitu, saya akui saya ribet sekali.

***

Seperti tulisan tentang pecel, saya merasakan ada cinta ibu yang turut terkandung dalam bawang goreng yang beliau buat. Cinta yang membuat nikmatnya berkali-kali lipat. Oh ya, kenapa saya memberi judul tulisan ini ‘Bawang Tersayang’, karena believe it or not, saya menyimpannya di lemari es hingga hampir dua bulan setengah setelah saya kembali ke sini. Dan menambahkannya pada masakan yang saya masak pun sedikit demi sedikit. Eman yo. Bahkan, sampai hari ini, bawang gorengnya masih sisa sedikit dan tersimpan rapat di dalam tupperware di lemari es . Tidak seperti bumbu pecel yang sudah lama habis karena saya nikmati sebagai pecel atau batagor ala-ala. Mungkin saya sayang jika bawang gorengnya habis. Mungkin pula, saya ingin cinta dan rindu ibu saya selalu hadir di mana saja :).

Memang tidak semua makanan cocok ditaburi bawang goreng. Tapi makanan sesederhana ini, ini, apalagi ini, membayangkannya saja perut saya langsung keroncongan. Terutama ikan bandeng goreng kering dicocol kecap pedas dengan remasan bawang goreng yang melimpah. Duh, pengen pulaaaang!.