Kotak Kecil Untuk Bapak

Kotak Kecil untuk Bapak

Siang tadi saya menemukan tulisan ini. Tak sengaja hingga saya menikmati setiap kalimatnya.

Sambil menikmati sepotong Tart aux Broccoli and Chicken di salah satu kedai, mata saya membaca postingan tadi secara perlahan. Menikmati setiap kalimatnya. Tulisan sederhana namun teramat menyentuh yang ditulis Bang Nuran (begitu biasa saya memanggilnya) saat ia bertemu (Alm) ayahnya di dalam mimpi.

Tiba-tiba saya teringat Bapak.

Kotak kecil di atas itu untuknya. Siang tadi akhirnya saya membawa pulang setelah hampir tiga kali melihatnya dari etalase. Saya memilihnya karena teringat benda pertama kali yang ia pegang saat saya pulang tahun lalu. Jam tangan. Ya, jam tangan abu-abu saya melingkar di pergelangan kanannya. Mungkin ia sudah teramat bosan dengan jam tangan Seiko sederhananya. Hehehe.

Tenang Pak, nanti jika saya sampai rumah (kembali), tak perlu menggelangkan jam tangan saya.

Lagos, 9 : 39 pm.

Jammie & Juizzy.

Jammie&Juizzy1

Hola penggemar Apel! Mari merapat, lemme introduce Jammie & Juizzy.

Bukan, mereka bukan teman saya. Jammie dan Juizzy itu nama yang baru saja saya dapat saat mengedit foto-foto olahan mudah dari tiga buah apel. Ya, kali ini saya bermain dengan buah apel. Buah yang kaya serat, renyah dan aha! salah satu buah favorit saya selain Apple yang lain.

Kemarin minggu saya menengok isi lemari es dan menemukan tiga buah apel yang sepertinya kedinginan. Cahaya sore di hari minggu selalu berhasil memikat saya untuk sekedar mengolah sesuatu yang sederhana hanya untuk melatih kemampuan menangkap gambar makanan. Sayang jika cahaya sore seperti yang anda lihat di feature image diatas terlewat begitu saja. Saya sungguh mencintai cahaya sore yang lembut masuk melalui jendela ruang makan. Ya sudah, saya mengambil talenan, ketiga apel tadi, setengah iris buah lemon, gula dan pisau, menatanya seperti diatas kemudian mulai memotret sebentar sebelum membuat si Jammie dan Juizzy.

Pada dasarnya saya penyuka buah-buahan segar. Makanan dan minuman yang mengandung buah didalamnya saya pun menyukainya. Namun kadang ada dilema tersendiri jika saya memilih bahan makanan ataupun minuman dari olahan buah seperti jus kemasan dan selai buah siap pakai. Kenapa? karena biasanya kandungan buahnya kalah oleh kandungan gula. Ya, selai dan jus buah pasti memiliki kandungan gula yang tak sedikit bukan, nah jika anda memiliki waktu luang mengolah buah-buahan segar, itu bisa menjadi bijak mengurangi kandungan-kandungan bahan tak jelas yang menetek-bengekkan gizi dikemasannya. Agree?

Nah, dari tiga buah apel yang saya ambil dari lemari es, saya mengolahnya menjadi si Jammie dan Juizzy. Jammie itu selai, sedang Juizzy itu jus. Saya mengolahnya dengan cara yang sangat ‘rumahan’. Membuat jus bukan dari juicer, saya belum punya juicer di flat jadi terpaksa menggunakan blender. Mari siapkan bahan-bahannya.

Bahan :

* 3 buah apel segar.

* 1 sdt gula pasir untuk si Juizzy, dan 4 blok fine sugar untuk si Jammie. Jika anda tak memiliki gula blok, gunakan saja gula pasir biasa. 1 sdt cukup, tergantung tingkat kemanisan yang anda suka.

* 1/2 buah lemon segar. Bagi lagi menjadi dua, separuhnya untuk si Juizzy. Separunya lagi untuk si Jammie

* Kayu manis bubuk dan sejumput garam untuk aroma dan penyeimbang rasa. Yang ini dikira-kira saja ya agar nantinya si Jammie lebih beraroma.

* +/- 400 hingga 500 ml air mineral untuk si Juizzy.

Mari memulainya dengan memblender ketiga apel yang sudah dipotong dadu. Ingat, saya menggunakan blender, bukan juicer yang jauh lebih praktis untuk membuat jus. Campur saja potongan apel, perasan lemon, 1 sdt gula pasir, dan 4oo ml air mineral. Blender hingga semuanya tercampur kemudian tuang ke dalam gelas. Sari apel segar sudah berhasil anda dapat.

Setelah mendapatkan sari apel dari jus yang anda blender tadi, tuang jus ke dalam gelas berbeda untuk kemudian memisahkannya dari ampas. Nah ampas inilah yang akan anda buat menjadi si Jammie dengan proses karamelisasi. Ini tahapan yang amat mudah, tinggal pindahkan ampas ke wajan anti lenget, masukkan 1 sdm gula atau kira2 4 blok fine sugar kedalamnya. Tak lupa sejumput saja garam untuk menyeimbangkan rasa. Anda bisa menambahkan kayu manis bubuk untuk menambah aroma si Jammie. Nah setelahnya, karamelisasi.

Letakkan saja wajan anti lengket anda diatas kompor dengan api kecil. Jaga hingga campuran ampas dan gula tadi lama kelamaan mengering. Ingat gunakan api kecil agar proses karamelisasi sempurna. Jangan sampai si Jammie terbakar karena anda lalai menjaganya saat ia dipanaskan. Anda hanya membutuhkan sekitar tiga menit untuk mendapatkan tekstur dan warna selai apel yang sempurna. Tapi ingat, saya membuatnya hanya dari ampas tiga buah apel, semakin anda membuatnya dalam jumlah yang lebih banyak proses karamelisasi yang dibutuhkan juga sedikit lebih lama. Yang terpenting selalu jaga api anda. Aduk campuran ampas apel hingga mendapatkan warna dan tekstur selai yang anda inginkan. Kira-kira prosesnya seperti ini :

Masukkan saja apel ke dalam jar kemudian blender seperti biasa.
Masukkan saja apel ke dalam jar kemudian blender seperti biasa.
Lihat ampasnya! Nah itu yang akan saya gunakan untuk membuat si Jammie.
Lihat ampasnya! Nah itu yang akan saya gunakan untuk membuat si Jammie.
Setelah anda memisahkan ampas, mari peras lemon, tambahkan gula, sedikit garam dan cinnamon bubuk. Kemudian? Tinggal proses karamelisasi.
Setelah anda memisahkan ampas, mari peras lemon, tambahkan gula, sedikit garam dan kayu manis bubuk. Kemudian? Tinggal proses karamelisasi.
Sebelum dan sesudah mengolah ampas apel menjadi si Jammie. Prosesnya mudah sekali, tinggal dikaramelisasi.
Sebelum dan sesudah mengolah ampas apel menjadi si Jammie. Prosesnya mudah sekali, tinggal dikaramelisasi.
Saya suka memainkan sedikit tekstur saat membuat selai, tak cukup lembut hingga bisa tetap merasakan sedikit kerenyahan apel saat menyantapnya.
Saya suka memainkan sedikit tekstur saat membuat selai, tak cukup lembut hingga bisa tetap merasakan sedikit kerenyahan apel saat menyantapnya.

Si Jammie dan Juizzy sudah berhasil saya buat, sekarang? Waktunya menyantap!

Saya menikmati selai apel rumahan ini dengan sepotong Mosbolletjies. Jika tak ada Mosbolletjies, anda bisa menyantapnya dengan roti bakar atau roti gandum biasa? Santap saja sesuai dengan keinginan anda.

Nah ini hasilnya, segar dan tentunya, kadar gulanya bisa anda sesuaikan. Yang terpenting, tanpa pengawet.
Nah ini hasilnya, segar dan tentunya, kadar gulanya bisa anda sesuaikan. Yang terpenting, tanpa pengawet.
Si Jammie siap dimakan dengan roti atau apapun yang anda suka. Saya menyandingnya dengan sepotong
Si Jammie siap dimakan dengan roti atau apapun yang anda suka. Saya menyandingnya dengan sepotong Mosbolletjies.
Aha jus apelnya jadi dua gelas saja. Segarnya memang berbeda dibanding dengan jus kemasan. Pure healthier!
Aha lihat si Juizzy, dua gelas saja dari tiga apel. Segarnya jelas berbeda dibanding dengan jus kemasan. Pure healthier!

Nah, bagaimana? Berkenan menyisakan sedikit waktu merepotkan diri untuk meningkatkan kesadaran akan konsumsi produk kemasan?. Hanya butuh sedikit waktu dan kemauan, hanya dari buah yang sama anda bisa menghasilkan si Jammie dan si Juizzy (wink!).

Selamat mencoba!

Cheers,

Azis.

Suya, Sate À la Afrika

Suya

Jika di Indonesia saya terbiasa dengan sate, di Afrika, saya bertemu Suya.

Jika anda penggemar sate yang variannya bejibun di Indonesia, saya tantang anda menikmati Suya, penganan khas Afrika Barat yang mirip dengan sate.

Suya sendiri sejenis barbecued meat yang awalnya diracik oleh suku Hausa di Nigeria dan Niger. Oya, Nigeria dan Niger itu negara yang berbeda ya, banyak yang masih berpikir Niger itu Nigeria. Suku Hausa yang sebagian besar adalah muslim, meracik penganan yang rasanya gurih ini dengan salah satu bumbu rahasia, namanya Tankora. Tankora adalah sejenis bumbu campuran dari cabe cayenne, paprika, kacang tanah, jahe dan bawang.

Cara masaknya mudah, siapkan saja Tankora dan lumurkan ke daging yang sudah diiris tipis hingga terbalut sempurna. Setelahnya tinggal dipanggang diatas bara api persis seperti penjual-penjual sate di Indonesia. Kadangkala penjual Suya menambahkan minyak kelapa diatas Suya yang sedang dipanggang untuk memperkuat aroma Tankora. Penyajian Suya tentunya irisan bawang merah segar. Bisa anda bayangkan rasanya si Suya?

Daging yang digunakan untuk membuat Suya umumnya daging sapi, ikan, dan ayam. Namun sekarang penjual-penjual Suya yang mudah ditemukan di jalanan mengolah ‘jeroan’ sapi menjadi variannya. Untuk satu tusuk Suya umumnya dijual seharga N200 atau sekitar 12 ribu rupiah. Saya sendiri hanya tiga kali mencoba Suya, menu darurat jika sedang malas masak plus kantong mengempis hehehe.

Suya sebelum dipanggang.
Suya sebelum dipanggang.
5-7 menit cukup untuk mematangkan Suya.
5-7 menit cukup untuk mematangkan Suya.
Makannya bisa dengan nasi putih panas. Bisa jadi pilihan cepat jika kantong sedang kempis hehehe.
Makannya bisa dengan nasi putih panas. Bisa jadi pilihan cepat jika kantong sedang kempis hehehe.

Pineppy up!

Let these peppy up you!
Let these peppy up you!

Pineapple. Mint and Lemon, what else could peppy up your day?

I found an idea to make a simple drink after I read Caribbean and South America recipe book published by Hermes House. An easy drink and fresh as well from exotic pineapple, lemon and mint. I just put small sugar in. Would you try it in your kitchen?

All you need to do is blend 250 gr fresh pineapple, lemon – cut into two you just need half of it – and some of fresh mint leaves together and tarra! See this :

Easy and fresh.
Easy and fresh.
Depends in you if you prefer using juicer, but I loved to get pineapple pulp.
Depends in you if you prefer using juicer, but I loved to get pineapple pulp.
Slurrrrp.
Slurrrrp.
See the pulp, nyum!
See the pulp, nyum!

 

Pineapple lets peppy up!

Cheers,

Azis.

Plantains with Some Funk!

Funky!
Funky!

Yesterday late noon my flatmate brought this cute dish when I was editing pictures for my last post, Tea, my tea. He transformed it onto ‘Plantains with some funk’. Just need a small creativity to tweak plantains to be a nicer dish. Lets start!

He used ingredients that we had in our kitchen such :

*Plantains, pick a good one, do not use too-ripe one, it doesn’t work. Depending on how many do you need, he made for two.

*Cheddar cheese, 2 slices for each plantains.

*Butter.

*Garnish including Nutella, Condensed Milk, Mayo, and Cherry.

Hey Cheery was just a fruit garnish that we had in fridge! hahaha, you’ve seen it how many time right? No probs, you can use strawberry if you like. Just play as fun as you can. Alright, all you need to do just :

Prepare your pan, heat it and make sure you have enough heat and start to put one tea spoon of butter, slice plantains into two before and grill on your pan. You just need to flip one time if you sure that your one side plantains become brownie. Do it until finish. Then, pour condensed milk on your plate, create interesting line of milk, put your grilled plantains, spread nutella, mayo, and cheese. He cutted cheddar and rolled. Then put cherry to give more colors and tarra! Dessert time or tea time? Whatever, create your own fellas!

Cute? Nice? O sure!
Cute? Nice? O sure!
Wanna see closer? This is it! Plantains with some funk. Try your own!
Wanna see them closer? This is it! Plantains with some funk. Try your own!

Happy cooking.

O yeah you can find him here.

My Tea.

Tea is tea, a beautiful natural resources that always works to make my mood vibrant.

I captured my tea for couple days, and let this photos tell you something about tea. Enjoy!

Tea1
Scatter but lovely indeed.
Goldish.
Goldish.
Lemon as perfect mate.
Lemon as perfect mate.
This morning. Earl Grey. No sugar, bitter and it was good.
This morning. Earl Grey. No sugar, bitter and it was good.
Capturing tea while it was hot. Milk was inside.
Capturing tea while it was hot. Milk was inside.
Just a cup of tea. Let the late afternoon shine tell you how was great this tea.
Just a cup of tea. Let the late afternoon shine tell you how great this tea was.
Tea everytime. Tea in my bottle.
Tea everytime. Tea in my jar.

Let me share you poems and quotes of tea that I love ;

“If you are cold, tea will warm you;
If you are too heated, it will cool you;
If you are depressed, it will cheer you;
If you are exhausted, it will calm you.”
– William Gladstone –

“Come and share a pot of tea, My home is warm and my friendship’s free.”
– Emilie Barnes –

“My experience…convinced me that tea was better than brandy, and during the last six months in Africa I took no brandy, even when sick, taking tea when sick.”

– Theodore Roosevelt (1858-1919) Letter 1912 –

“Meanwhile, let us have a sip of tea. The afternoon glow is brightening the bamboos, the fountains are bubbling with delight, the soughing of the pines is heard in our kettle. Let us dream of evanescence, and linger in the beautiful foolishness of things.”

– Okakura Kakuzo –

Brew your own tea and let it refresh your soul!

Cheers,

Azis.

Playing with Pancake.

Pancke1

Mari memasak penganan super duper mudah, Pancake.

Pancake atau yang biasa disebut Panekuk dalam bahasa Indonesia adalah salah satu penganan super mudah yang bisa anda coba sebagai alternatif sarapan atau teman minum teh.

Pada dasarnya penganan ini hanya terbuat dari campuran tepung, gula, susu dan telur dan bahan pengembang seperti baking powder. Dalam sejarah perkembangannya ada beberapa rupa pancake di seluruh dunia, Crepes itu termasuk pancake dengan fisik yang lebih tipis, Serabi? Itu juga pancake ala Indonesia, Poffertjes? Itu juga salah satu varian pancake ala Belanda, dan ternyata beberapa negara memiliki varian dan cara menikmati pancake-nya sendiri-sendiri. Karena banyak baca banyak tahu, mari menambah pengetahuan tentang pancake disini.

Okay, kali ini saya akan bermain dengan topping pancake yang bisa anda coba sesekali dengan rasa yang tak kalah dengan pancake ala restoran. Selain mudah dibuat, bermain dengan hal-hal sederhana didapur akan melatih daya kreatifitas anda mengolah makanan, mari :

Ini bahan yang anda butuhkan untuk adonan dasar pancake :

* 100 gr tepung terigu protein sedang,

* 250 ml susu cair,

* 1 butir telur, ambil kuningnya saja,

* 1 sdm baking powder,

* 20 gr gula pasir,

* Saya selalu suka menambahkan sejumput garam sebagai penyeimbang rasa.

Cara memasaknya jelas mudah, mulai dari mencampur tepung, gula pasir, garam, baking powder hingga rata kemudian tuangkan susu cair dan kuning telur hingga menjadi adonan. Setelahnya? panaskan wajan anti lengket yang sudah diolesi margarin atau minyak sayur sedikit saja. Kemudian tinggal tuang adonan diatas pan dan lanjutkan hingga adonan habis. Setelahnya? Mari berkreasi dengan toping, kali ini saya hanya menggunakan coklat, es krim dan selai. Selebihnya kreasikan sendiri! hehehe. Selamat mencoba.

Pamer foto dulu ya, saya suka angle dan komposisinya, mari melihat lebih dekat dari gambar setelahnya hehehe.
Pamer foto dulu ya, saya suka angle dan komposisinya, mari melihat lebih dekat dari gambar setelahnya.
Bermain dengan Nutella dan Belgian Chocolate Haagen Dazs.
Bermain dengan Nutella dan Belgian Chocolate Haagen Dazs.
Mari dilihat lebih dekat, bagaimana? Bisa membayangkan rasanya? Creamy and Heavenly!
Mari dilihat lebih dekat, bagaimana? Bisa membayangkan rasanya? Creamy and Heavenly!
Pancake kedua, Chessy. Saya bermain dengan keju cheddar, meletakkannya diatas pancake yang masih panas hingga keju setengah meleleh. Ini cocok bagi anda kurang suka dengan yang manis-manis.
Pancake kedua, Chessy. Saya bermain dengan keju cheddar, meletakkannya diatas pancake yang masih panas hingga keju setengah meleleh. Ini cocok bagi anda kurang suka dengan yang manis-manis.
Pancake ketiga, bermain dengan strawberry. Manis dan segar, kecut lebih tepatnya.
Pancake ketiga, bermain dengan strawberry. Manis dan segar, kecut lebih tepatnya.
Taruh cherry dan whipped cream sebagai garnish untuk mempercantik pancake anda.
Taruh buah ceri dan whipped cream sebagai garnish untuk mempercantik pancake anda.
Saya nikmati pancake saya dulu, silahkan mencoba sendiri hehehe.
Saya nikmati pancake saya dulu, silahkan mencoba sendiri hehehe.
Saya jamin es krim ini bisa membuat anda orgasme seketika kala menyantapnya dengan pancake anda. Trust me.
Saya jamin es krim ini bisa membuat anda orgasme seketika kala menyantapnya dengan pancake anda. Trust me.
Nutella memang tidak murah tapi rasanya, saya jamin, membuat pancake nada tidak kalah dengan pancake buatan restoran. Worth it!
Nutella memang tidak murah tapi rasanya, saya jamin, membuat pancake anda tidak kalah dengan pancake buatan restoran. Worth it!
Sejujurnya saya jauh lebih suka mengolah buah strawberry segar menjadi selai daripada membeli jadi, tapi Smuckers ini bukan pilihan buruk.
Sejujurnya saya jauh lebih suka mengolah buah strawberry segar menjadi selai daripada membeli jadi, tapi Smuckers ini bukan pilihan buruk.

Oya, Terang Bulan itu pancake kan? Saya rasa itu pancake favorit saya! Kenapa tiba-tiba saya rindu Terang Bulan ya? Ah sialan. 

生日快乐 Sinyo!

Kemarin malam selepas pukul delapan saya tersadar di Indonesia sudah berganti hari, 4 Januari. Itu berarti hari lahir sahabat baik saya, Yuriko Liao atau biasa saya panggil Sinyo. Saya mengirim pesan pendek via bbm dan ia membalasnya seketika.

Tiba-tiba saya tergerak untuk mengingat persahabatan kami melalui postingan ini. 

Saya mengenal Sinyo yang fasih berbahasa Mandarin dan Inggris ini saat kami sekantor dulu. Pertama mengenalnya saya kira ia seorang yang serius namun ternyata saya salah besar. Ia kocak, jahil dan tentu saja menyenangkan. Ada banyak hal yang mengingatkan saya pada pertemanan kami, salah satunya kejahilan-kejahilan yang tak pernah habis ia ciptakan. Mulai dari membuat beberapa karikatur wajah saya yang sama sekali tidak menarik, menciptakan mimik wajah aneh yang mengganggu saat meeting tim, membuat nickname yang kadang tak jelas, hingga menciptakan sebutan-sebutan untuk HRD kami yang bisa membuat perut melilit sakit saking lucunya. He is hilarious one.

Sinyo sangat memperhatikan pola makan dan penampilan. Dulu ia sering membawa makanan-makanan impor yang nampak asing seperti weetabix yang mirip serbuk kayu, ginger cookies yang kerasnya bisa mematahkan gigi, hingga produk dairy low fat. Entah bagian dari niat memamerkan makanan-makanan tak murah itu, atau memang kebutuhan asupan untuk seorang fitness addict hehehe. Ia pecinta jelly, sayuran dan buah, serta makanan-makanan baik lainnya. Gorengan dan oily foods haram baginya. Satu lagi, he is a branded man.

Saya tak cukup lama bekerja dengannya, hanya satu setengah tahunan. Namun kenangan bersahabat dengannya cukup banyak. Salah satu yang paling berkesan adalah membuat kejutan di hari terakhirnya bekerja. Bersama dengan teman baik saya lainnya, Diko, kita berdua menyusun farewell party untuk merelakan Sinyo pergi dari Bikini Bottom. Anda berpikir kan kenapa Bikini Bottom? Karena kami bertiga sering menyebut diri kami 3 sahabat seperti Spongebob, Patrick dan Squidward. Kekanak-kanakan but it was fun honestly. Saya dan Diko merencanakan pesta perpisahan untuk Sinyo mulai dari memilih hadiah hingga mengatur waktu perayaannya. Saya pikir kejutan yang kami buat saat itu pekerjaan yang lebih keren dibanding mengejar target desain hehehe.

Tak terasa waktu bergerak begitu cepat sejak kami meninggalkan kantor yang lebih dipenuhi dengan senda gurau dibanding kerja serius. Diko kembali ke kota asalnya, Yogyakarta sedang Sinyo bekerja dan hidup di Balikpapan bersama istrinya yang ternyata juga kocak, Deysi. Saya sempat bertemu mereka berdua bulan juli tahun lalu when I was on leave. Kami nonton, makan hingga akhirnya kembali berpisah lagi.

Well, meskipun hanya memiliki beberapa jam kebersamaan that day, bagi saya itu lebih dari cukup untuk menjaga persahabatan kami.

Anyway, Best friends never need to be told that they are best friends. So, I don’t need to tell you right? Have a fantastic birthday, buddy!

Saya suka ekspresi Spongebobnya hehehe.
Saya suka ekspresi Spongebobnya hehehe. Ini salah satu hadiah buat Yuriko dari saya dan Diko.
Ini salah satu momen dimana Sinyo membuka hadiah maratonnya. Lucky you!
Ini salah satu momen dimana Sinyo membuka hadiah maratonnya. Lucky you!
Jelly coklat sederhana untuk hari terakhirnya di kantor dulu.
Jelly coklat sederhana untuk hari terakhirnya di kantor dulu.
Eh kira-kira Sinyo ingat kue ini?
Eh kira-kira Sinyo ingat kue ini? Ini simple birthday cake-nya dua tahun yang lalu saat masih sekantor dulu.
Sinyo dan istrinya, Deysi. Lovely couple.
Sinyo dan istrinya, Deysi. Mereka menikah bulan Desember tahun lalu, pengantin baru nih! Lovely couple. Eh ada patung kayu yang saya bawa dari Nigeria nongol di foto ini hehehe.

Juicy Broccoli and Chicken.

Juicy. Tasty. Easy.
Juicy. Tasty. Easy.

Perkawinan brokoli dan ayam, spontan.

Saya tak sengaja mencomot brokoli yang kedinginan di rak suatu supermarket di Victoria Island, Lagos. Melihat sekumpulan kepala brokoli yang hijau itu membuat saya memalingkan pandangan pada harga yang tertera di plastik yang membungkusnya. Ya, harga brokoli di Lagos selangit. Bukan hanya brokoli sih, harga sayuran-sayuran tertentu kadang tak masuk akal jika dirupiahkan. Contohnya kembang kol beberapa kali lipat dibanding brokoli, jika dirupiahkan sekilo bisa mencapai dua ribu naira alias 120 ribu rupiah! Gila ya! Di Indonesia saya bisa mendapat segepok dengan harga hanya lima ribu. Lah daripada saya memilih kembang kol, mending brokoli lah. Apalagi gizinya jelas-jelas menang brokoli. <— kok jadi ribut soal harga dan gizi, hehehe.

Okay, mari kembali ke inti postingan.

Sepanjang perjalanan pulang saya berpikir mau diapakan brokoli yang saya comot tadi. Dikukus? saya tak punya keju yang bisa layu diatas dan berubah creamy. Disup? Tak cukup waktu dan kesabaran, karena sudah terlalu sore. Sesampainya dirumah, saya putuskan memasak brokolinya begini, sebentar …siapkan dulu bahan-bahannya :

* 2 potong dada ayam – belah masing-masing menjadi dua.

* 250 gram brokoli – potong dan cuci bersih.

* 1 buah lemon ukuran sedang.

* 6 siung bawang merah.

* 4 siung bawang putih.

* 6 biji cabe rawit.

* 2 sdm saus tomat.

* Kecap asin secukupnya.

* 2 sdt saus sambal.

* 6 buah tomat ceri.

* 1 buah jeruk nipis.

* 3 sdm minyak zaitun untuk menumis.

* Garam, merica bubuk, gula dan nutmeg – yang ini kira-kira saja hehehe.

Okay, tahapan masaknya begini :

* Belah dada ayam menjadi dua bagian dan melumurinya dengan campuran garam, merica, perasan jeruk lemon dan jeruk nipis, dan sedikit nutmeg.

* Panaskan teflon, tuang minyak zaitun dan biarkan ayam tadi setengah matang, kira-kira butuh lima hingga tujuh menit. Bolak-balik seperlunya saja. Saya mengingikan tekstur ayam yang sedikit renyah di luar dan lembut di dalam. Memasaknya dengan sedikit minyak adalah salah satu cara saya mengurangi olahan ayam deep-fried.

* Setelah ayam matang, sisihkan. Mari ke tahapan berikutnya, membuat saus.

* Mulai dengan menumis bawang merah dan bawang putih hingga harum. Masukkan ayam kemudian tambahkan merica, sejumput gula dan garam. Pastikan ayam dan bumbu dasar ini rata dulu. Setelahnya, tambahkan air secukupnya.

* Masukkan dua sendok makan saus tomat, dua sendok saus sambal dan kecap asin secukupnya. Jaga agar air yang anda tambahkan sebelumnya tak asat. Kemudian masukkan potongan cabe rawit, tomat ceri, brokoli dan terakhir perasan lemon. Aduk rata dan tunggu kira-kira 2 menit kemudain angkat.

Tarra! Brokolinya siap disantap! Ah, saya mendadak lapar.

 

Satu hal yang saya suka adalah tekstur brokoli yang masih renyah! nyum!
Satu hal yang saya suka adalah tekstur brokoli yang masih renyah! nyum!
Mendadak lapar, hehehe.
Mendadak lapar, hehehe.

Ranukumbolo Accomplished {Day 3, Finally}

Indonesia. I proud you!
Indonesia. I proud you!

Pagi itu kedua mata saya silau meski tenda menaungi sepanjang malam. Sinar matahari membangunkan kami berlima di suatu pagi terakhir di Ranukumbolo.

***

Kami bangun sekitar pukul sembilan. Pagi itu matahari amat cerah sedang hawa sekitar masih terlalu dingin. Bangun tidur dari tenda mendapati danau yang tenang dengan kabut diatasnya itu istimewa. Langit biru tak kalah cerah. Kabut yang menggumpal diatas danau membuat saya buru-buru mengarahkan kamera seakan tak ingin melewatkan kesempatan mengabadikan Ranukumbolo. Pagi itu benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dibanding dengan pagi yang selalu saya lewati di Lagos. Tenang dan segar tanpa beban-beban pekerjaan yang biasa menggumpal di pikiran.

Tak lama setelah bangun, saya sudah ditagih Ayos menu apa yang akan menjadi sarapan kami berlima. Itu bukan pertanyaan aritmatika yang susah dijawab :P, karena saya sudah memiliki kunci jawabannya. Saya mencari spaghetti sembari berusaha menemukan saus bolognese siap pakai bersama Winda. Maya dengan ikhlasnya menuju danau untuk mencuci peralatan sisa memasak semalam. Setelah mendapati peralatan masak yang sudah bersih, saya berlagak sebagai koki gadungan. Saya memulai dengan merebus air yang diambil Maya dari danau, sementara Winda menyiapkan saus bolognese siap pakai. Tak lama setelah selesai merebus spageti, Winda kembali menyibukkan diri memotong dadu keju cheddar sebagai pelengkap sarapan kami. Saya tak akan pernah lupa kehebohan yang kami ciptakan setelah sarapan kami matang. Maya dan saya menciptakan sedikit kecongkakan dengan membandingkan sarapan kami dengan ‘tetangga’ yang hanya memasak mie instan. Sepertinya kami memang kerasukan ‘kesogehan’ Ruli hingga tak malu menyombongkan sarapan spaghetti abal-abal. Ah tapi saya benar-benar menikmati gelar tawa pagi itu.

***

Pukul sebelas kami mulai membereskan barang yang kami bawa kedalam ransel masing-masing. Kami beranjak meninggalkan Ranukumbolo. Kali ini raga kami tak disiksa dengan beban ransel karena dua potter yang disewa Maya. Kami menuju arah pulang.

Selalu ada kesempatan untuk melakukan salah satu sesi menarik dari setiap perjalanan. Apalagi jika bukan berfoto ria di sepanjang jalan setapak yang kami lewati untuk turun kembali ke Ranupani. Beberapa kali kami berhenti untuk berfoto. Salah satu foto favorit saya adalah saat kami berempat mengambil gambar dengan latar belakang Semeru. Perjalanan pulang kami lewati dengan perasaan lega. Formasi kami masih sama, Ayos dan Winda memimpin di depan sedang Maya, Ruli, saya dibelakang. Menapaki jalan setapak dibumbui humor Ruli dan Maya benar-benar mewarnai perjalanan pulang. Banyak hal yang kami ceritakan meski napas sudah ngos-ngosan. Saat itu kami masih saja bertemu (lagi) dengan tetangga yang kebagian spageti tadi. Maya kemudian membuat saya tertawa dengan asumsinya bahwa mereka sengaja dekat dengan kita agar dapat jatah makan. Hehehe it was so funny May!. Perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada saat kami mendaki. Kami tiba kembali di Ranupani sekitar pukul tiga sore.

***

Setelah meregangkan otot-otot kaki dan memanjakan perut dengan makan siang di warung setempat, kami buru-buru kembali ke rumah Bapak Sinambela, tempat kami menginap sebelumnya. Kami membersihkan kaki dan mengecek kembali isi ransel sebelum sebuah hardtop merah mengangkut kami berlima untuk kembali ke kota. Dan (lagi-lagi) kami satu hardtop dengan tetangga (setia) kami. Oh tidak, bukan hanya satu hardtop, satu angkot pula menuju terminal hehehe.

Pukul empat sore lewat kami berlima sudah di dalam bis menuju Surabaya. Perjalanan kembali menuju stasiun sedikit mencemaskan. Sepertinya Maya dan Winda kurang beruntung tak bisa mengejar kereta yang akan membawa mereka kembali pulang. Sore itu perjalanan dari Malang ke Surabaya sedikit macet sehingga mengharuskan Maya dan Winda merelakan tiket kereta eksekutif hangus begitu saja. Sesampainya di terminal, Maya dan Winda dibantu Ayos sibuk mencari penerbangan terakhir yang bisa membawa mereka ke Jakarta malam itu juga. Setelah berkutat hampir satu jam di terminal Bungurasih yang sibuk dengan berbagai rupa manusia, akhirnya Maya dan Winda berhasil mendapat last flight ke ibukota. Tentu harga penerbangan sedikit membuat mereka berdua mengerutkan dahi.

Kami akhirnya berpisah di terminal Bungurasih. Maya dan Winda harus kembali ke Jakarta sementara Ayos, saya dan Ruli kembali menuju kos. Malam itu saya agak berat menjabat tangan Maya dan Winda dan berandai kebersamaan kami berlima bisa lebih lama hehehe. Malam itu saya sadar satu hal. Menikmati pagi dengan angin semilir, danau yang tenang, langit biru, teman-teman yang menyenangkan adalah quality time yang perlu dijaga. Thank you guys!

Simply breathtaking.
Simply breathtaking.
Lovely morning at Ranukumbolo.
Lovely morning at Ranukumbolo.
Beautiful.
Beautiful.
Sesaat sebelum packing!
Tenda kami.
Maya ada paparazi! hehehe.
Maya ada paparazi! Eh disini Maya seperti ibu kos ya hehehe.
Winda was cooking sauce for our spaghetti!
Winda was cooking sauce for our spaghetti!
Our breakfast that time.
Our breakfast that time.
Maya dan saya menggigil tapi tetap gaya, hehehe.
Maya dan saya menggigil tapi tetap gaya, hehehe.
Ruli - Winda - Maya.
Ruli – Winda – Maya.
Ayos dan Winda. So sweet.
Ayos dan Winda. Tsah.
Foto perjalanan pulang.
Foto perjalanan pulang.
Winda - Maya.
Winda – Maya.
Foto! Wajib nih yang beginian.
Foto! Wajib nih yang beginian.
Foto sama abang-abang potter-nya Maya.
Foto sama abang-abang potter-nya Maya.
Wow we could see clouds! Amazing!
Wow we could see clouds! Amazing!
Ayos - Winda - Ruli - Maya. Like this picture.
Ayos – Winda – Ruli – Maya. Like this picture.
Ayos - Winda - Ruli dan saya.
Ayos – Winda – Ruli dan saya.
Semeru.
Semeru.
Yah bertemu tetangga kita lagi May!
Yah bertemu tetangga kita lagi May!
Semakin dekat dengan Ranupani. Kami kembali.
Semakin dekat dengan Ranupani. Kami kembali.
Tiba waktu pulang. Kami menuju rumah Bapak Sinambela sebelum benar-benar meninggalkan desa Ranupani. That day was so bright, wasn't it?
Tiba waktu pulang. Kami menuju rumah Bapak Sinambela sebelum benar-benar meninggalkan desa Ranupani. That day was so bright, wasn’t it?
Sampai di Ranupani ketemu ini. Yummy! Santap!
Sampai di Ranupani ketemu ini. Yummy! Santap! For sure tanpa saus ‘tomat’ merah dibelakangnya hehehe.
Naik ini...hmmm... adventurous!
Naik ini…hmmm… adventurous!
Maya dan Winda. Lelah.
Maya dan Winda. Lelah.
Lihat ekspresi Maya. Apakah ia kesal masih satu angkutan dengan 'tetangga' kita? Saya mengambil ini saat kami dalam perjalanan pulang menuju terminal bis yang akan membawa kita kembali ke Surabaya.
Lihat ekspresi Maya. Apakah ia kesal masih satu angkutan dengan ‘tetangga’ kita? Saya mengambil ini saat kami dalam perjalanan pulang menuju terminal bis yang akan membawa kita kembali ke Surabaya.

Rasanya saya tak akan kapok mendaki sepuluh kilometer menuju dan sepuluh kilometer lagi meninggalkan Ranukumbolo. Semuanya worth it. Tahun depan? Rinjani buka pilihan buruk bukan? Pertanyaannya? Kuatkah kami? :P