Last night I felt so failed. There was something wrong with my spirit of work till I couldn’t work properly for two concepts I made for Christmas. I concluded that the first concept was failed, second was the same. Sometimes I feel like giving up, then I remember that there is a lesson from a mistake.
I just felt something different today, among up and down deadlines on my desk, 3d rendering from new brief is needed for tomorrow meeting (just came this eve, gah!), and so many messy things, instead of throwing ‘shits’ or negative energy kind of, I chose to be calm and kept doing my things. It was so peaceful on my mind and soul by being grateful. Whatever it is, good or bad, just be grateful and keep positive for next day, for future either. And probably, starting a morning with positivity and a little little thing that makes me happy is a key to pass a day.
Oh, little thing I did was started this breakfast in my room. Taken with iPhone.
P.S. Hm, this week is gonna be so hectic, starting by tomorrow, after all I should have time to cook and playing with my camera for food lodge.
“…ada ritual yang selalu kami lakukan setelah berdoa, saya lupa kami menyebutnya apa. Semacam sharing kecil-kecilan tentang apa yang kami rasa dan kami alami setiap pagi sebelum bekerja. Setelahnya, kami mulai membahas pekerjaan, target harian, target hari kemarin yang selalu meleset, proyek-proyek baru, dan hal-hal semacam itu…” – King Halim bagian 1 –
Setelah satu bulan saya mulai bekerja di meja kerja sendiri. Meja kerja kami berbentuk huruf L, saya duduk di paling pojok. Di atas meja ada seperangkat komputer, alat tulis, kalender duduk, beberapa buku pribadi yang biasa saya baca saat jam istirahat, serta rak plastik kecil tempat menyimpan barang-barang pribadi. Dinding depan dan samping kiri adalah tempat dimana saya selalu menempel beberapa print-out designs, figur-figur inspiratif, beberapa reminder di atas post-it(dan tiba-tiba saya rindu akan meja saya). Dibanding meja Jalal yang lebih minimalis tanpa print-out desain menempel di dinding, atau meja Edwin yang agak istimewa dengan seperangkat speaker untuk musik dan radio (sampai saat ini saya masih penasaran box yang ada didekat meja Edwin, persis di titik ‘L’ dari meja kami :P), atau meja Yuriko yang dipenuhi sekantong makanan-makanan pembentuk otot, apalagi meja Tomo yang seringkali tak berpenghuni, meja saya bisa dibilang paling hits. Meja berlapis vinyl itu tidak hanya tempat menghabiskan waktu dengan ide-ide mengambang, tapi sering pula saya sulap menjadi studio terselubung tiap jam istirahat. Studio untuk memotret bekal yang hampir setiap hari ada, bekal?
Ada semir sepatu pula? :PAw, ini rupa meja terakhir sebelum saya pergi :)
***
From Foods, There is Memory. Memories.
Jika saya ingat lagi, saya bukan karyawan baik-baik soal poin ‘tidak-diperbolehkan-membawa-makanan-dari-luar’ yang jelas-jelas ada di peraturan perusahaan. Jelas insting ‘food-photographer-wannabe‘ saya yang bahkan saat itu belum segila sekarang, ternyata mampu mendorong saya melanggar aturan, hehe. Mungkin peraturan tadi tidak berlaku untuk makanan dalam bentuk cemilan asal kuantitasnya masih masuk akal, tapi saya? Jangan ditanya. Bekal saya tidak sembarangan.
Bayangkan saja, sebagai bagian dari tim kreatif di perusahaan, saya satu-satunya yang lebih mirip staf dapur dibanding keempat teman-teman di tim. Saya yang selalu repot dengan makanan-apa-yang-akan-dinikmati bersama hari ini, ide bekal apa untuk besok, buah apa yang harus dibeli setelah jam pulang kantor, hal-hal semacam itu saat ini mengingatkan saya akan satu hal. Ternyata makanan bisa menciptakan kenangan bersama orang-orang tertentu di waktu yang lalu.
Dulu setiap pagi, sebagai salah satu karyawan yang paling pagi sampai di kantor, setelah melewati screener sidik jari untuk absen harian, saya sering mampir ke dapur. Saya punya ‘tim’ sendiri yang baik hati mempersilahkan saya mengakses lemari es. Tujuan saya tentu untuk menyimpan bekal-bekal berbahan dasar buah-buahan, es krim, atau semacam puding-pudingan yang memerlukan temperatur dingin, yang akan sangat nikmat sebagai makanan penutup setelah makan siang. Biasanya jika jarum jam menunjukkan angka tiga setelah pukul dua belas, saya menyelinap ke HRD. Memohon ijin mengambil barang di loker, atau ada keperluan untuk menelpon seseorang dari handphone yang juga ada di loker adalah beberapa alasan untuk kembali ke dapur untuk mengambil ‘barang-simpanan’ tadi (oh perusahaan perhiasan tidak akan membiarkan karyawannya membawa handphone kecuali tim marketing dan sales, hihi, kasian ya :P).
Sesekali saya takut jika kepala HRD memergoki saya membawa satu kantong besar makanan dari dapur hingga kemudian ide lain muncul di benak saya. Bekerja sama dengan mbak-mbak yang selalu menyiapkan makan siang staf di pantry tentu solusi terbaik. Mereka selalu leluasa melewati gerbang pemisah lorong dengan entrance pabrik saat jam makan siang. Saat itulah saya bisa mendapatkan bekal-bekal yang tadi disimpan di lemari es. Sebentar, bukan hanya mereka yang bekerja sama dengan saya, tiba-tiba saya ingat teman saya di customer service dulu, Nanik, dan salah satu staf marketing, Ratna. Mereka berdua seringkali membantu menyimpan bekal-bekal saya di lemari es di ruang marketing. Mereka berdua juga sering saya undang ke ruang konseptor saat waktu menikmati bekal-bekal itu tiba. Nanik, Ratna, apa kabarmu sekarang? :) (saya yakin mereka ingat betul bekal-bekal saya, hehe).
Lemari es memang saya perlukan untuk bekal-bekal tadi, tapi tempat penyimpanan teraman adalah di ruangan sendiri. Tepat di depan meja meeting, ada meja panjang yang memiliki sekat-sekat didalamnya. Disanalah tempat saya menyimpan bekal-bekal ‘kering’. Roti, sereal coklat (Edwin pasti ingat, ia sering mencuri sereal coklat saya. Gah!), Energen, garnish-garnish kering semacam choco chips dan kismis, oh tidak hanya bekal, ada beberapa peralatan dapur. Mulai dari cangkir beragam bentuk, parutan keju, piring saji, nampan, sendok, garpu, pisau, hingga saringan teh yang biasa saya gunakan untuk menabur gula bubuk pun ada. Gila, parah ya? Haha, saya sadar dulu seharusnya saya melamar posisi staf dapur, bukan di tim kreatif.
Lewat makanan pula saya memiliki beberapa kenangan pribadi. Salah satu bekal yang paling sering saya bawa adalah jeli dan puding. Selain paling mudah dan cepat dimasak sepulang kerja, jeli paling bisa dimainkan dengan bahan makanan lain. Ditambah aneka buah dan yogurt, jeli bisa berubah menjadi salad buah. Direndam di dalam larutan Nutrisari dengan tomat segar selama dua jam sama nikmatnya. Disantap biasa juga tak kalah nikmat. Jika saya tidak sedang malas, puding jadi pilihan lain. Dua makanan itu tentu mengingatkan kenangan saya pada Yuriko. Ia pecinta jeli pun puding. Tak jarang jatahnya selalu lebih banyak dari yang lain.
Yuriko dan saya sama-sama menyukai olahan berbahan dasar buah, pernah suatu siang saya ‘nyeletuk’ blueberry. Buah yang masih terbilang mahal di Indonesia itu mencuri perhatian saya saat berkunjung ke Ranch Market. Saya hanya membolak-balik kemasannya sekedar ingin tahu apa saja nutrisi di balik blueberry dan dari mana asalnya, saya beli? Tidak!. Haha, mahal (!!!). Dengan gaji seadanya di King Halim dulu, kemungkinan kecil saya rela membuang lima puluh ribu lebih hanya untuk segenggam blueberry. Stroberi lokal yang biasa didapat di Hero atau Giant masih affordable untuk kantong saya. Setelah ‘nyeletuk’ blueberry tadi, esoknya di ruang tempat loker karyawan berada, Yuriko memberi saya sekotak buah yang sebenarnya berwarna ungu itu (bukan biru!). Saya pulang, di benak saya sudah ada ide mau diapakan blueberry tadi. Pisang Cavendish(itu pisang saya pikir stylish sekali, entah kenapa bisa semulus itu ya :P *ngelindur), sekotak stroberi dan yogurt saya pikir teman terbaik blueberry. Esok paginya, smoothies segar sudah menjadi bekal saya hari itu. Tidak seperti biasanya bekal saya bagi, kali ini smoothies mahal itu cuman kami nikmati berdua. Ya iyalah, masak smoothies seharga seratus ribu lebih yang hanya cukup untuk dua orang dibagi-bagi? Haha, sounds stingy huh? :P
Oh iya, dulu saat saya masih jadi pengikut Edwin Lau kemudian bertemu Yuriko di kantor, sifat-sifat memilih makanan sempat hinggap. Everything fried? najis, boiled jauh lebih baik. Susu rendah lemak tentu pilihan bijaksana. MSG snacks? stay away from me :P.
Jika Yuriko yang hampir setiap hari membawa roti gandum, dada ayam yang direbus sebagai pengganti nasi, pisang, atau snack-snack impornya, itu karena saat itu ia sedang menjalani program pembentukan otot, saya? Haha, saya hanya murid baru chef yang gencar mempromosikan gaya hidup sehat itu. Program televisinya di MetroTV dulu selalu saya tonton, saya hanya terkesima ajarannya ; kok makan saja teliti benar. Kalori, nutrisi, hal-hal semacam itu hampir setiap hari merasuk di pikiran saya untuk kemudian saya bagi di kantor. Jika dibandingkan dulu dengan sekarang, setelah saya pikir-pikir, dulu saya cukup ‘kemalan’. Sebelum jadi ‘a-little-glutton’ dan ‘food-photographer-wannabe’, saya jauh cermat memilih makanan. Tomo pasti ingat apa tagline saya saat itu “hargai tubuhmu dengan makanan bergizi” haha.
Lain Yuriko lain Edwin. Sahabat Yuriko ini jauh lebih fleksibel untuk urusan makanan. Ia masih bisa menerima lemak-lemak jahat dari sebatang coklat, atau pisang goreng dengan taburan gula bubuk diatasnya, atau donat kentang yang saya tweaked sedikit dengan isian pisang dan coklat. Beda jauh dengan Yuriko, Edwin, saya pikir lebih bisa menghargai pemberian makanan berlemak yang jelas-jelas, saya dan Yuriko pasti menolaknya secara halus :P. Seingat saya Edwin suka sekali coklat hingga sering sekali mencuri sereal coklat saya :P (ingat Win?), ia lebih suka puding dibanding jeli, pecinta ceker ayam sama seperti Jalal. Oh, jika saya membawa salad buah, mulai anggur, kiwi, stroberi, apel, jeruk mandarin yang tentu menggoda tidak hanya dari paduan warnanya di mangkuk besar, Edwin pasti memilih buah dengan nutrisi tertinggi (cih! -____-).
Pernah suatu pagi ada perbincangan lucu antara saya, Yuriko dan Edwin. Sembari menikmati jus jambu segar yang lagi-lagi bekal saya pagi itu, Edwin ‘nyeletuk’, ini jus masih ada bijinya. Saya dengan PD-nya menanggapi celetukannya dengan “Eh, bijinya itu juga bagus”. Yuriko menampani, “Iya, pahit-pahit gimana gitu rasa bijinya”. Saya semakin menjadi, “Eh bener, setahu saya ‘gapapa’ kok diminum sama bijinya, disamping vitamin C-nya yang sangat tinggi dari dagingnya, bijinya juga bagus. Tahu tidak, vitamin C-nya jauh lebih tinggi dari jeruk”. Kemudian saya serasa ditampar Edwin “ngawur, itu biji ga bisa dicerna dan bisa bikin usus buntu”. Haha, saya mau ketawa saat itu tapi saya tahan, murid baru Edwin Lau yang sok tahu :P.
Menulis postingan ini seperti berusaha merangkai pecahan puzzle. Menulisnya membuat saya sering tersenyum kecil. Kenangan-kenangan didalamnya lah penyebabnya.
***
Hari pertama.
Saya mengenakan kemeja berwarna coklat yang sama sekali tidak menarik di hari pertama. Setengah jam lebih di sebuah ruangan kecil tempat sekuriti-sekuriti menghabiskan hari-harinya membuat saya berandai-andai. Apa yang akan saya lewati di hari pertama di sebuah perusahaan perhiasan. Tak lama setelah mencoba mengobservasi ruangan yang dipenuhi beberapa CCTV, ada dering telepon dari salah satu staf HRD yang mempersilahkan masuk. Tak lama, pria itu menjemput saya, maklum, tempat saya akan bekerja tidak memiliki akses untuk sembarang orang. Saya mengikutinya melewati dua kali gerbang dengan sistem kunci otomatis hingga akhirnya duduk berhadapan dengannya.
Di sebuah ruangan yang hanya cukup untuk empat orang staf, surat perjanjian kerja sudah ia sodorkan untuk kemudian saya baca. Membacanya membuat saya harus ekstra hati-hati, persis seperti saat saya harus memenuhi jawaban lembar ujian bahasa Inggris. Disela-sela membaca lembar demi lembar, pria tadi, oh namanya mas Zaini, ia menjelaskan beberapa peraturan perusahaan. Sekitar tiga perempat jam disana, akhirnya ada seorang pria muda yang menjemput saya, namanya Astomo Ahmad, seorang asli Palu yang menjabat sebagai kepala tim konseptor.
Sambutan Tomo hangat sekali. Mungkin sambutan seperti itu salah satu jurus membuat seseorang yang akan bergabung ke dalam timnya merasa welcome. Tomo mengantar saya ke ruangan bercat putih gading yang sedikit lebih besar dari ruang HRD tadi. Ia mulai memperkenalkan saya pada beberapa orang di sana, seingat saya kala itu jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Ada empat orang yang saya salami satu-satu. Setelah dengan mereka, saya diajak berkenalan dengan staf-staf departemen lain yang seperti hari pertama pada umumnya, saya tak bisa mengingat satu-persatu nama mereka.
Edwin-Yuriko-Jalal-Tomo-Saya (Saya? Omai!)
Di tim konseptor, saya bertemu dengan Jalal, seorang konseptor senior yang lebih banyak menjejali materi desain dibanding Tomo yang jauh lebih sibuk di ruang produksi. Ada pula seorang yang lebih banyak menghabiskan harinya di ruang konseptor, namanya Jonathan Edwin. Jebolan desain grafis Petra yang cukup dingin bagi siapa saja yang baru mengenalnya. Meski saya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruang konseptor dengan Edwin, kami berdua tak cukup intens berkomunikasi. Selain ia memang agak dingin, saya lebih suka mengobservasi teman-teman baru dibanding sok-kenal-sok-dekat attitude. Tomo, Jalal, dan Edwin serta satu lagi teman saya di konseptor. Namanya Yuriko, Yuriko Liao.
Ia satu-satunya anggota tim yang tidak saya temui di hari pertama kerja. Baru selang empat hari kami bertemu setelah ia kembali dari tugasnya. Pagi itu ia datang sekitar pukul setengah sebelas, berkaos polo merah yang amat kontras dengan kulit putihnya. Ia bercelana abu-abu muda, stylish sekali. Mulanya saya kira ia kepala tim desain karena selain perawakannya yang tinggi besar, penampilan stylish dan kelewat-santai hari itu nampak sangat berbeda dari kami semua. Kesan pertama berkenalan dengan seorang Yuriko (yang juga lulusan desain grafis Petra, ia satu angkatan dengan Edwin), ia friendly sekali. Bukan karena ia memberi dua buah coklat berisi kurma oleh-olehnya dari Dubai, tapi ia memang cukup ramah untuk ukuran seorang teman baru.
Oh iya, perkenalan dengan Yuriko sempat membuat saya berandai-andai akan kesempatan yang sama. Bisa menghabiskan tiga hari di Timur Tengah di tengah tugasnya ; survey produk dan mendistribusikan produk perusahaan di Dubai. Saat itu kedengaran keren sekali, hingga saya optimis bisa merasakan kesempatan yang sama. Eh tapi sayang, pengandaian itu semu hingga saya resign. Sebentar, ini kok malah ada curhat colongan :P, Maaf. Mari fokus lagi.
Sebulan pertama bekerja di sana ada dua hal yang sangat saya ingat. Tiap kali jarum jam berhenti di angka sebelas, mata saya terasa berat. Kedua, tiap kali membuka lembar demi lembar majalah terbitan Korea yang menumpuk di rak bertingkat empat, saya seperti melihat semua desain perhiasannya sama. Mungkin saking bosannya.
Saya lebih banyak menghabiskan waktu di meja meeting kami. Selain karena belum boleh menyentuh ‘computerised work’, saya lebih aman berpura-pura melatih sense of design dari majalah-majalah Korea. Alih-alih mengamati desain-desain yang semuanya nampak sama (saya mengulangi kata ini kah? :P), membaca artikel figur-figur inspiratif yang ada di beberapa majalah gaya hidup Indonesia lebih menarik. Selain itu, menghabiskan empat jam pertama sebelum jam istirahat dengan sketsa-sketsa random di atas meja setidaknya membuat saya nampak sibuk.
***
Pernak-pernik kami.
Kami berlimalah yang menahkodai konsep produk. Semua konsep lahir dari meja meeting yang tepat berada di tengah ruangan. Disamping kami berlima, ada beberapa supervisor desain yang menjembatani kami dengan desainer-desainer di sana. Desainer yang saya maksud disini adalah anak-anak yang bertugas menerjemahkan ide-ide konseptor ke desain tiga dimensi. Hampir semua desainernya adalah lulusan SMK yang direkrut dari Yogyakarta. Kebanyakan dari mereka berlatar belakang desain grafis dan ada beberapa yang berasal dari jurusan Akutansi.
Oh ada yang menarik dengan meja meeting kami. Jika saya harus mengingat meja itu, ada banyak kenangan diatasnya. Setiap pagi, sesaat setelah bel masuk berbunyi, kami selalu berkumpul di sana. Ada ritual yang selalu kami lakukan setelah berdoa, saya lupa kami menyebutnya apa. Semacam sharing kecil-kecilan tentang apa yang kami rasa dan kami alami setiap pagi sebelum bekerja. Setelahnya, kami mulai membahas pekerjaan, target harian, target hari kemarin yang selalu meleset, proyek-proyek baru, dan hal-hal semacam itu.
Two years ago, I was restless. My mind told me to move. My heart said so.
My passion on my first job was down, different things filled me. Underappreciated, no movement, and slow-professional growth on my horizon. I’ve been worked on my new field seventeen months and felt stuck. I lost my two closest friends in my former team, it made me felt deeply sluggish. I tried to do best until I started my haunt. When I had time, I googled. Random application letters I’ve sent to random companies. I tried to spent minutes to check my mail, just few feedback from those companies. I didn’t step at all, I had no clue to move.
I always believe time never goes wrong.
I remember, I checked my phone when I was in a parking land, I got a message from young lecturer-friend-partner in some school projects, and I read it. She texted me there was a chance to work outside country. I read the message slowly and found that the chance was in Africa. Her best friend needed somebody who can help him to work with in design department. I had no clue again, either I should try or leave it. I was working like a normal until I typed some sentences on my word sheet when I got back home that night. I wrote application letter, I had no long-term-thinking about ‘what-Im doing’.
I just found something needed to change. I needed a change. Myself needed something called an adventure.
It was so fast, after I officially had a touch with the new company in Africa, I started with my first passport, my visa, my first big luggage, and something called brave. Brave to move forward, to leave my people, and brave to see the world. I flew. I moved from Indonesia.
More than two years away and I have to say so many things changed me. Improvements. I never want to mention about richness if I talk about my journey as an expatriate in this young age. Some people always see me in different ways for a same reason. Sometimes I think they are narrow-minded, if I shouldn’t say they’re stupid. Richness or money is very personal for me, being such impolite to talk about. I’m doing my job like a headless chicken which they don’t know about it, they just look at outside-of-me. Without knowing everything I passed through each day. My job isn’t easy at all from the first day I worked until today. Nevertheless, I do proud to myself I could pass waves of obstacles.
Now I find myself asking the big “WHAT NEXT?” question, with a very big question mark. To be honest I feel like I’m standing in a right track but I find two different tiny paths in the front. If I keep walking to the right, it means I still work on this point, overloaded works, facing same stress, working on endless day and night, earn money every month, so many pricey plans scream to be real, etcetera. If I choose to walk to the left, it means that I have no clue about it. Where will I stay, what will I do, how can I keep my account stable, will I take my French class, how about big dreams on my ‘dream-box’ – they keep screaming to myself to be real, and so on.
But again, I am just a normal guy trying to figure out what’s next in life like anyone else does. Myself never have a doubt. I teach myself that there’s so many chances to grow in this life. So many doors open, me, as a person just need to find out, I don’t have to find the right door, I just need to try as strong as I possible can do. Being distinct, flexible, and ready to work hard such a formula to keep my wings fly high. I never afraid if my heart says I have to walk to ‘the left’ even I don’t know when my heart will tell me.
I never afraid to struggle back again to the lowest point of my career because for me, being adventurous is a key to stay hungry. Hungry in positive ways. And the most important thing for my next step are : I do know what I love, what my passions is, and where my passion as a creative person will find a higher next step.
I’m gonna attach lovely lyrics based on my point for this post, Im sure you know who sing the song :)
“I’ll spread my wings and I’ll learn how to fly, I’ll do what it takes til’ I touch the sky And I’ll make a wish, take a chance, make a change And breakaway Out of the darkness and into the sun, but I won’t forget all the ones that I love I’ll take a risk, take a chance, make a change And breakaway…..”
P.S. Do not think this post is like a statement of mine that I will leave Africa soon even I do realize you will make a conclusion of this just a-resignation-letter-look-alike. :) As I said, I don’t know when I will drop everything, I just want to teach myself that : Don’t be a person who easily satisfied with what I’m having and stay at one point ever in a career, as long as I’m young enough to challenge myself I have to do it before OLD comes, that’s it. Ouch I think this is my first time I wrote in English for my personal post instead of Bahasa Indonesia.
Kadangkala lucu juga bisa merasakan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang mampu membuat saya tersenyum sendiri. Tak perlu mendapatkan sesuatu yang menyilaukan mata, cukup makanan enak yang saya pun tak bisa menjelaskan seenak apa. Saking enaknya.
Saya akan mencoba mengingat bagaimana hati dan pikiran tak selaras saat pada salah satu bumbu favorit saya, Pecel.
Tujuh belas hari yang lalu rasa malas memasukkan bungkusan bumbu ini ke dalam koper yang-sudah-teramat-sesak menghinggap di otak saya. Tak ada lagi ruang di antara tumpukan yang rata-rata baju, sepatu dan buku, pikir saya. Rasa malas seperti itu apalagi jika bukan akibat packing dadakan yang seharusnya tidak saya ulangi tahun ini. Pagi itu, pukul enam pagi, saya masih berseliweran di ruang tengah yang bertambah sesak karena volume koper yang semakin gemuk. Bumbu-bumbu instan yang selalu punya ruang tentu saja sudah duduk manis di dalam sana. Tapi Pecel? Saya masih bimbang. Pikiran saya sedikit menolak. Alasannya karena selain akan merepotkan saat harus mengangkat koper melewati screening di bandara domestik, biaya kelebihan per-kilo pastinya akan membuat dompet saya sedikit demi sedikit mengempis.
Untung hati berkata lain. Kira-kira begini katanya “bawa saja, karena kamu tak akan tahu kapan rasa rindu itu muncul”.
Ibu saya dengan pelan memasukkan bumbu yang ia olah ke dalam plastik gula. Beliau setengah memaksa saya untuk tetap membawanya. Sesekali saya merapikan kembali posisi baju dan sepatu agar saya yakin ada ruang disana. Saya melirik bagaimana tangan Ibu saya luwes sekali memasukkan bumbu ke dalam plastik gula yang semakin penuh. Dari rekaan saya, kira-kira, satu kilo lebih sudah berhasil masuk. Tapi tunggu, dengan koper yang masih terbuka dan nampak semua tertumpuk lebih rapi, akhirnya saya meminta beliau untuk menguranginya. “Berat Bu, lagian kadang ia hanya akan mendekam di dalam kulkas beberapa minggu” saya berujar lagi. Ibu menguranginya kembali hingga kira-kira tersisa setengah kilo, cukup lah. Ya, karena setahun lalu, saya membawa bumbu yang sama. Bisa dihitung jari saya berhasil menikmatinya. Sisanya, bumbu yang sudah encer dengan seduhan air panas mengeras di dalam kulkas. Mengeras diantara perasaan sayang untuk dihabiskan dan malas mengencerkannya lagi.
Suara hati dua minggu lalu itu ternyata lebih tepat dari alasan yang berasal dari pikiran saya.
Bumbu semacam Pecel selalu berhasil menjadi obat mujarab ketika saya, yang masih memiliki sepuluh bulan kedepan, tiba-tiba rindu beliau. Dua hari yang lalu, sedari siang, saya sudah membayangkan mengolah bumbu Pecel dengan beberapa potongan empal daging dan sayuran yang saya punya di kulkas. Saya hanya punya kangkung, sawi dan wortel. Oh ya, ada sisa brokoli dan jamur dari eksperimen-ala-ala-Italia-super-cepat yang saya lakukan hari Minggu kemarin (akan saya posting nanti! :)). Selepas pukul enam sore, saya bergegas pulang. Untung minggu ini pekerjaan saya belum cukup padat, jadi saya masih punya waktu memasak. Sampai di rumah secepat kilat saya mengganti baju dan langsung ke dapur.
Saya memulai dari empal. Daging sapi yang dibeli sopir saya mudah sekali diiris tebal (saya ‘nitip’ sopir untuk mampir ke supermarket dekat kantor pukul lima agar menghemat waktu, jadi saat jam kantor berakhir, saya tinggal ‘cus’ langsung ke rumah :P). Setelah diiris saya mencucinya lagi sebelum mereka masuk ke penggorengan yang sudah ada tumisan bumbu instan. Bumbu yang saya pakai bumbu ayam goreng, tinggal ditambah ketumbar (saya menambah banyak sekali ketumbar tumbuk) membuat rasa empalnya pun tak kalah nikmat. Memasak dengan bumbu instan sebenarnya jalan keluar yang tidak cukup baik, bukannya saya malas, tapi karena ada beberapa bahan makanan yang tidak bisa didapat disini yang membuat saya layu ; bertekuk lutut pada bumbu jadi. Bagi saya yang penting jangan sering-sering (!!!), makanan yang bisa saya masak dengan bumbu alami tetap menjadi primadona.
Setelah empal saya masak, saya menyiapkan sayuran-sayuran tadi untuk direndam sebentar di dalam air panas. Oh ya, ada pula jagung manis kalengan. Sayurannya tidak matching? Kedengaran aneh untuk sebuah Pecel kan? Saya tak peduli. Toh rasa bumbu Pecel Ibu saya ini kuat sekali, campuran sayuran apapun tak akan bisa mematahkan rasanya. Racikan kacang tanah yang disangrai kemudian ditumbuk dengan rempah-rempahnya seperti punya rahasia.
Sayuran selesai, seduhan air panas di mangkok persegi bercampur sempurna dengan bumbu Pecel. Tiga kali saya menambahkan sedikit air mineral kedalamnya agar keencerannya sempurna. Semuanya sudah siap!. Selepas Isya’ sembari menunggu flatmate saya pulang meeting, saya menikmati Pecel itu sendiri sebelum akhirnya porsi saya sisa separuh, ia datang dan reflek “Aw, It’s heaven!”. Makan malam kami dua hari yang lalu sungguh spesial.
Oh Tuhan, beberapa kali saya bersyukur saat rasa bumbunya bercampur dengan sayuran pun empalnya. Nikmat sekali di lidah. Sungguh (!). Apalagi bumbu Pecel-nya mendapat dukungan dari salah satu sayuran inti yang harus ada di Pecel : Kangkung (!!!). Kangkung disini cukup langka, hanya bisa saya dapat di Lekki, satu-satunya pasar tradisional seantero Lagos yang menjual sawi dan kangkung. Sesekali saya teringat wajah Ibu saya saat mengoles bumbu di atas empal yang sebelumnya digoreng dengan minyak secukupnya. Hingga akhirnya sisa-sisa bumbunya saya tuntaskan dengan beberapa jilatan di jari-jari saya. Ya! Saya menikmatinya dengan tangan, bukan sendok dan garpu.
Memang tak ada yang menandingi nikmatnya makanan Indonesia yang-memang-sudah-nikmat di negeri orang. Luar biasa bahagianya bisa menikmati hasil racikan Ibu sendiri yang super-duper-yummy. Saya menyimpan sisa bumbu Pecel-nya di dalam kulkas, sedikit sayang untuk sekedar menjadikannya cemilan :). Ah, sungguh, saya ingin memeluk beliau saat ini karena saya semakin sadar Ibu saya briliant. Karena tak mungkin memeluknya dari sini, mungkin foto yang saya ambil dengan iPhone ini mewakili perasaan saya padanya :).
P.S. Foto-foto ini hasil jepretan kemarin pagi, saat saya dengan semangat ingin mengulangi kenikmatan bumbu Pecel untuk sarapan, tanpa nasi. Hanya sayuran-sayuran yang sama. Memasak sayuran-sayuran itu membuat saya harus bangun sedikit lebih awal. Tak enak kan jika sayurannya tak segar? :). Oh, foto terakhir, saya ambil tadi pagi, karena kemarin saya lupa dan baru sadar tak akan lengkap jika tidak menyertakan bentuk fisik bumbu Pecel-nya sendiri sebelum diseduh. Saya terpaksa menggunakan kemeja hitam yang belum disetrika sebagai background, hehe, saya kehabisan props, toh hasilnya tidak buruk bukan?. Bagaimana, apa saya berhasil membuat anda menelan ludah kali ini dengan Pecel racikan Ibu saya? :). -Azis-
Saya kira saya tidak akan seperti ini. Saya kira saya sudah berbeda. Bisa kuat saat berhadapan dengan namanya perpisahan sementara.
Kemarin saat saya masih menyiapkan diri untuk kembali meninggalkan rumah, perasaan kecil yang pernah saya rasa setahun yang lalu muncul kembali. Setengah malas, setengah tak rela, dan berat. Setengah tak sadar kok saya sudah harus pergi lagi. Perasaan tadi diperparah Ibu saya. Ibu menangis saat saya menjabat tangan kemudian menciumnya. Beliau menangis sambil memeluk anak bungsunya ini. Dilain sisi saya terenyuh. Di lain sisi saya ingin menghentikan momen seperti itu karena saya benar-benar tidak menyukainya.
Tahun ini Ibu saya berbeda. Dua tahun yang lalu saat saya pergi meninggalkan rumah pertama kalinya untuk memulai hidup baru di Afrika, beliau tak menangis sedikit pun. Tahun kedua sama. Tak ada momen seperti kemarin. Parahnya tangisan beliau menular ke kakak-kakak perempuan saya. Sungguh, saya benci momen seperti itu. Hampir saja mata saya melelehkan air mata, hampir. Air mata saya sudah di ujung, sudah hampir tumpah. Ibu berujar masih merindukan saya. Beliau bermimpi saya bisa memiliki waktu yang lebih panjang di rumah. Beliau masih ingin saya di rumah. Hati saya sebenarnya berkata sama. Saya masih rindu rumah, rindu kota dimana saya dilahirkan dan dibesarkan, rindu akan negara indah ini.
Tadi saat masih di dalam kamar hotel tempat saya menginap semalam disini, di Jakarta, saya kembali ingat wajah Ibu. Saya akui masih belum banyak menghabiskan waktu berdua dengan beliau, namun tahun ini jauh lebih baik. Saya lebih sering di rumah dibanding tahun pertama saya pulang. Tahun ini saya mensyukuri banyak hal. Mensyukuri waktu, kesehatan dan kesempatan kembali pulang. Mensyukuri bisa menikmati masakan Ibu, merasakan kembali indahnya berbuka puasa di rumah, mendengarkan gema indah di malam takbiran, melihat seluruh keluarga dalam keadaan sehat, dan banyak berkah-berkah lain yang tak terlihat yang harus saya syukuri.
Saya berusaha menguatkan diri untuk selalu berpikir ke depan, berpikir bahwa yang namanya perubahan hidup selalu ada harganya. Saya memilih Afrika sebagai tempat mengais rejeki dengan harga yang tak murah. Harus meninggalkan kedua orang tua, saudara, sahabat ah, sungguh itu semua tidak murah. Dibalik itu, saya akui hikmah terbesar dari terpisahnya jarak antara saya dengan deretan orang-orang tadi membuat saya semakin mencintai mereka.
Menangkis perasaan-perasaan seperti hari kemarin, perasaan berat meninggalkan rumah untuk kembali ke Afrika, tak akan pernah mudah bagi saya. Saya sudah melewatinya dua kali dan ternyata sama beratnya.
Nanti malam saya akan kembali mengarungi waktu kembali ke Afrika. Selain selamat sampai disana, saya hanya punya harapan kecil ; semoga hati saya masih tegar melawan perasaan-perasaan rindu yang masih tersisa disini. Di Indonesia.
Oh I had no clue why I was too lazy like a cat and just posted this post today, my sixth day here, at my hometown, Surabaya. Yeah I’m home! :D
Anyway before I REALLY wake up from my laziness and back to this blog for some posts (or STORIES? anyway) while I’m in Indonesia, I’d like to share what I did when I came back home. Just a little creative way to remind me how I felt that day when I had to fly almost 23 hours from Lagos until I stepped at Surabaya. Phew it was an exhausting journey.
Honestly the idea to write my journey on post-it came when I sat down on my seat at office just an hour before I went to the airport. I saw my post-it on my table and found my marker then I wrote something on it. Then I thought “Alright, It’s not a bad idea for my blog, first post when I arrive in Indonesia”. So, I brought that post-it and tried as much as I can to write anything along my journey, an indescribable journey (second times like I felt for my first journey last year, damn, It was so beautiful for me).
So, here, my first post from my home, my journey on post-it;
LOS-DBX
DBX-CGK
CGK-SUB
Lagos-Dubai-Jakarta-Surabaya was an exhausting journey really. But I had to thank to God cause this year I could back home in August so that yeah!!! I could spend Ied Mubarak (TODAY!!!!) here, in my home with family :)) Damn I’m so lucky!. Let me say “Happy Ied Mubarak for those who celebrate today! Enjoy our quality time with all our beloved ones :), Forgive all mistakes I’ve done!”.
Oh yeah, while I was waiting my last flight at Soetta Airport I read one of my friend’s contribution on Garuda magazine, she’s talented one, meet Putri here.
P.S I’ll try to do so many things while I’m here and try to share on this blog, please bear with my laziness :P.
Belakangan ini saya kembali labil dari kelabilan kecil yang sudah berhasil saya redam sedikit demi sedikit. Kelabilan akan keinginan memiliki sebuah benda idaman, benda yang bisa membekukan waktu beberapa detik, mengubahnya menjadi sebuah momen, kemudian berakhir menjadi sebuah kenangan. Benda idaman itu sebuah kamera profesional.
Well, kenapa saya labil pada sebuah kamera? Bagi saya, kamera itu salah satu alat cerdas yang bisa diandalkan untuk menghasilkan banyak kenangan yang kadang memori kita seringkali lupa. Lupa karena tertumpuk kenangan-kenangan baru. Benda yang mungkin wajib dimiliki siapa saja selagi hidup.
Ijinkan saya mengingat sedikit tentang kamera pertama pemberian kakak saya. Sebuah kamera Sony mungil yang ia beli untuk membantu meringankan tugas kuliah adik bungsunya ini. Enam tahun yang lalu, kamera itu membuat saya takjub karena mampu menghasilkan foto-foto yang jauh lebih jernih dari Nokia 7610 yang saya punya. Saat kuliah pun, saya memiliki kamera SLR manual yang entah bagaimana keadaannya sekarang. Kamera yang berhasil saya punya dari hasil mengemis pada orang tua. Kamera yang membutuhkan setidaknya tiga rol film untuk menghasilkan jepretan tugas fotografi yang naasnya, jepretan saya banyak yang meleset alias terbakar. Entah kenapa dulu saya benar-benar bodoh di kelas fotografi.
Dari Sony mungil itu kemudian saya beralih ke Sony mirrorless yang ringan namun mampu menghasilkan gambar setara DSLR. Kamera hitam perak inilah yang bertugas merekam beberapa kenangan di blog ini. Setahun yang lalu, ada rasa bangga tersemat saat pertama kali memegangnya. Ia kamera kelas menengah yang saya beli dari hasil keringat sendiri. Sejauh ini saya puas dengan kemampuannya. Namun seiring waktu, semakin kesini, saya menyadari bahwa saya seperti tipikal manusia pada umumnya, tak akan pernah puas dan selalu ada hasrat ingin naik kelas.
Sahabat saya selalu memberikan jawaban yang sama kala saya mengutarakan kamera impian. Katanya saya bukan ‘butuh’ kamera impian melainkan ‘nafsu’. Well, mungkin ada benarnya meski saya kira ia salah. Benar karena harga kamera yang saya impikan itu selangit. Salah karena saya benar-benar menginginkan kamera itu untuk mengasah lagi kemampuan fotografi yang masih sangat awam. Sekarang benar-benar terdengar nafsu ya?. Bukan begitu juga sih, seperti yang saya tulis di paragraf sebelum ini, saya juga manusia biasa yang ingin naik kelas. Hasrat kenaikan kelas ini sering menggebu sendiri apalagi saat saya mengunjungi blog-blog dengan konten fotografi yang ciamik. Sungguh kenaikan kelas ini (baca : kemampuan fotografi) yang ingin saya tempuh dengan mimpi memiliki alat yang lebih profesional.
Sejak dulu saya mengagumi bagaimana kamera bekerja. Bagaimana ajaibnya ia menghasllkan gambar yang bisa dihargai sebagai sebuah kenangan. Seperti yang anda lihat, banyak makanan-makanan atau momen atau apalah yang berhasil saya abadikan yang kadang membuat saya tersenyum sendiri saat menelusuri kembali kontennya. Saya kemudian merasakan sedikit demi sedikit blog ini is moving. Ada proses yang memacu saya untuk membuat konten yang semakin deliberate, entah itu konten makanan, perjalanan, fotografi atau konten personal seperti ini. Sesekali ada perasaan kurang jika saya memposting konten tanpa mencantumkan sebuah foto yang mewakili core value-nya. Sadar tidak, konten di blog ini sedikit sekali yang tidak mencantumkan sebuah foto?. Nah itu dia, saya merasa foto jauh lebih mudah menyampaikan isi sebuah tulisan, kalau kata orang a picture speaks louder than words, saya amini.
Rasa-rasanya saya masih saja bermimpi memiliki kamera impian dalam waktu dekat. Namun saya lebih memilih untuk meredamnya kembali demi sebuah niatan akan hal besar yang lebih baik. Apa itu? Biar saya simpan sendiri :).
Baiklah, rupanya saya masih harus bekerja lebih keras lagi. Lebih disiplin mengatur pengeluaran, straight forward demi kamera impian. Mungkin saya harus mengenal lebih seluk beluk mirrorless dan kamera super easy dari iPhone kala menunggu kamera impian ada di tangan. Saya bersyukur memiliki keduanya, namun kamera profesional masih memiliki tempat di daftar things-MUST-have saya.
Don’t mind me for this post, just for fun with what I’m wearing today. I’m a Mickey’s fan yet do not have many Mickeys for collection. I just love this TOPMAN jumper because so comfy and see the writeup ; NEW YORK (!!!) someday :P.
I got this jumper from my flatmate as a gift last year when he travelled to Indonesia and I’ve been wearing the Mickey three times only until today, ridiculous. That’s me, just need Lee Cooper and Converse to fit in, my flatmate said that I’m too boring on style but hmm, I think fashion or style is what you are comfort and confidence with, agree? :P
I’m not branded person but truly branded items are different and so comfy, I think :))