Puff Pastry, Yesterday.

Sometimes for some reasons I can be a lazybones for breakfast. Its bad I know because no reason ignoring breakfast due to how important breakfast is. When I’m really damn tired of my endless work and cant cook, I try to solve my bad habit for it. Buying some pastry could be an instant problem solver. And yesterday, when I had two puff pastries, I didn’t have a plan before to capture them as usual if I have enough time on saturday. I still work on weekend even I resume later in the morning. And I dunno why it was so enjoyable when I decided to take my camera and yiha!. I played with some effects from my NEX, no edit as usual except the layout. Okay, lemme finish this short post because…yeah because I have to go for other work, on Sunday? *sigh-deep-breath.

Two Pastries 1

Two Pastries 2

Two Pastries 3

Two Pastries 4

Two Pastries 5

Two Pastries 6

Two Pastries 7

Two Pastries 8

Lazy Morning.

Hey watsap fellas? Hope your sunday went well. I’d like to share you what my breakfast was. Sunday, and I was so lazy to cook my breakfast this morning but it wasn’t because I was ‘lazy-lazy‘ actually. I chose to wake up late because I worked overnight the day before and sure I slept more than my normal time. My breakfast were chocolate croissant (officially croissant lover! I do), cereals, slices of fresh orange and soya milk. It was so simple and yummy in the same time.

Can you see my last bite of choco croissant on this post and imagine the taste? You should because it was very very nice, hehehe. Enjoy the pics! Nom-nom.

Lazy Breakfast 1

Lazy Breakfast 2

Lazy Breakfast 3

Lazy Breakfast 4

Lazy Breakfast 5

Small Sweetness This Sunday.

Hola fellas! How was your Monday? Did you pass it with some enjoyment!? 

There’s two things that make me glad today. First, I got a warm hug from my sweet boss Madam Uche this morning (She’s back yeah!). She comes back to work after spent 3 weeks in London – Italy – Dubai (envy! hiks) for short vacay. Second, I have time to write this post (*jump around). I’m glad I could come home on time today and yes you’re right, I will spend time for this one. I’ll spread sweet enjoyment foya all!

Like what I mentioned from previous post that I’ve been enjoying my Sunday as long as I could, so these are the sweetness I’m talking about. I tried my first sweet, Dark Chocolate ice cream from Cold Stone Creamy. An American based brand that just opened here makes me curious not only the look of their various ice cream. My curiosity is on the taste and the way they present their ice cream as well.

As a chocolate lover I chose one scoop of dark chocolate served with coated crispy waffle, sprinkled with almond and choco chips (that was extra choice, extra price also *glek). They have different ingredients that stick on coated chocolate. Don’t know why I chose roasted coconut rather than mashed cashews (that coconut was too sweet for me, yikes). I enjoyed the almonds and choco chips for sure (was it just my reason that almond is healthier than other choices huh?). Overall my first sweet was nice with some notes, I should take tooth brush to clean up my teeth after enjoyed that frozen chips (they were sticked well ouch), and took a cup of spring water to refresh from the sweetness.

My second sweet was a funky coffee with raspberry syrup from Chocolate Royal, the cake and coffee shop that I always buy my fav pastry ever, croissant. I love the way they created syrup, milk, coffee and marshmallow foam cream into some layers beautifully. The best thing from the fusion of that coffee and syrup wasn’t too sweet (the sweetness from ice cream before was enough for me hehehe). I didn’t order snack or something while I was busy capturing that coffee (heh, that’s me, I would ignore my foods until I got perfect pics, that’s bad rite? hehe). Nope, me and my flatmates were spent just 45 minutes there that’s why we didn’t eat much.

And the last was Macarons! Mini ones, bite size. I got it from Chocolate Royal also and they were nice, not too sweet. I brought them home and enjoyed this morning. You can see from the lighting on my pics easily. If I remember Macaron I always think about Pierre Hermé Paris when Macaron was created for the first time. O damn! I will taste them when I reach Paris someday (*wink).

Hohoho, That’s it. As I said I will step back a bit from blogging until I’m finish with big project that will be done by first week of April. And probably I will post that project here. Hehe, I will. Alright, time to enjoy these sweetness!

DSC05538 copy

DSC05554 copy

DSC05553 copy

DSC05559 copy

DSC05563 copy

DSC05576 copy

DSC05573 copy

DSC05583 copy

DSC05593 copy

Pandjalu

PANDJALU_DJALUJANG_110622_Biodata_01_WEB

Mari menambah ilmu. Buka wawasan dengan orang-orang baru agar kita semakin tahu.

 

Saya perkenalkan Anda dengan blog yang membuat saya kagum dengan konten dan kualitasnya belakangan ini, Pandjalu. Daripada berlama-lama, mari simak perbincangan saya dengan pemiliknya. Take a cup of tea, stay cool and enjoy! 

Siapa sebenarnya seorang dibalik blog Pandjalu, profil singkat lebih tepatnya?

“Ok, Pandjalu adalah sebuah catatan dari seorang pria yang sangat tertarik dengan dunia makanan. Pria itu adalah saya, bernama Lukman Gunawan a.k.a. Elgunawan. Bisa dipanggil El atau dipanggil Gunawan, ataupun Lukman, bebas. Catatan seputar kegiatan memasak itu saya torehkan dalam sebuah blog yang saya susun sebelum saya menikah dan menantikan kelahiran seorang anak seperti sekarang ini. 

Saya adalah orang yang sangat menyukai keindahan visual, maka tak salah kalau saja saya memang menyeburkan diri dalam dunia grafis dan fotografi. Namun dua dunia itu sudah saya tinggalkan semenjak tiga tahunan yang lalu setelah saya memutuskan untuk tinggal di sebuah desa jauh di pingir selatan kota Bandung. Sekarang saya sedang belajar bertani, bercocok tanam, dan budidaya perikanan tawar”

Apakah kesibukan mas Lukman selama ini berhubungan dengan dunia memasak?

Kesibukan saya sebenarnya tidak bersinggungan langsung dengan dunia memasak. Ya tapi hasil bumi dan perikanan kan pasti ujung-ujungnya untuk persoalan perut, nyambung ke masak. Namun juga, cerita kehiduapan mengalir dan mengarahkan saya untuk bersinggungan dengan dunia memasak. Keberadaan blog Pandjalu.com ternyata tanpa diduga menjebloskan saya benar-benar ke dunia memasak. Tadinya memasak yang merupakan sebuah hobi untuk mengisi waktu luang ketika dulu masih bujangan ternyata lambat-laun menjadi sebuah pekerjaan juga. Saya acapkali diundang untuk demo masak dan memasak utuk orang lain. Kini saya akhirnya membuat sebuah jasa memasak bersama teman baik saya, bernama Open Table

Sejak kapan mas, berpikir bahwa memasak terus membuat blog itu dirasa menyenangkan?

“Kalau ditanya sejak kapan saya menikmati memasak terus membuat blog itu menyenangkan, ya pastinya sejak blog tersebut muncul dan saya ciptakan. Kalau saja saya menyadari ini dari sejak SMA, misalnya, ya mungkin akan saya lakukan sejak dulu.

Semua ini awalnya berangkat dari keisengan saya saja, yang semenjak pindah ke sebuah desa saya tanpa sengaja sering berkegiatan di dapur untuk sekedar memenuhi kebutuhan sendiri dalam hal makanan setiap harinya. Lalu karena, ya, itu tadi saya ini orangnya “visual” sekali, tanpa sengaja saya membuat dokumentasi dari setiap hasil saya memasak. Pemikiran lainnya yaitu saya ini orangnya pelupa, jadi saya butuh catatan sendiri untuk segala hal yang telah saya lakukan. Supaya ketika saya lupa saya bisa kembali membuka catatan pribadi saya. Pribadi? Ya, kalau diteliti, sebenarnya di blog itu saya tidak pernah sekalipun mencoba berinteraksi dengan orang lain / pembaca. Jadi ini tujuannya benar-benar catatan untuk pribadi saya sendiri. Makanya saya pun tidak menyediakan layanan komentar di blog tersebut”

Dari beberapa postingan makanan yang mas Lukman buat, adakah waktu dan budget khusus untuk memasak, kemudian dibuat postingan hingga akhirnya dipublish di blog?

“Saya sama sekali tidak membuat aturan atau jadwal apapun dalam blog saya itu. Jadi sama sekali tidak ada budgeting atau perhitungan apapun dalam setiap materi yang akan saya posting. Singkatnya, ketika saya sedang memasak ternyata hasilnya bisa saya dokumentasikan, ya akan saya foto. Kalau ternyata saya tidak sempat foto, ya, saya tidak akan foto, yang pada akhirnya tidak akan saya posting juga ceritanya. Bahkan banyak sekali kejadian-kejadian memasak saya yang tidak saya dokumentasikan di blog. Ya begitulah, ini menjelaskan bahwa saya tidak effort dalam membuat blog tersebut karena memang saya tidak mau direpotkan dengan urusan nge-blog, hahaha. Hampir setiap hari saya memasak, tapi coba perhatikan tanggal dan waktu setiap postingan blog saya itu, belang-belang sekali, waktunya saling berjauhan, hahaha. Jadi intinya, ada kejadian yang terdokumentasikan, maka akan saya simpan di blog, namun ketika saya malas atau terlewat untuk membuat dokumentasi, ya saya sih cuek saja, hehehe”

Melalui blog Pandjalu ini, saya dengan mudah bisa menilai mas Lukman ini punya sense of art yang bagus, dari pemilihan gambar, layout, dan desain grafis yang disisipkan di resep, sebelumnya pernah mengenyam pendidikan desain atau sejenisnya mas?

“Wah, thanks for your compliment. Iya, latar belakang sekolah saya adalah desain grafis”

Di beberapa postingan saya bisa melihat pengetahuan mas tentang bahan makanan dan jenis makanan cukup luas, dari mana saja mas Lukman belajar mengetahui hal-hal seputar makanan?

“Dunia memasak ini saya mempelajarinya dari buku, buku, dan buku, sekaligus praktek memasak langsung. Banyak melakukan kegiatan yang terus-menerus sama pasti pada akhirnya akan membuat diri kita sendiri mengetahui lebih banyak akan kegiatan tersebut. Dan karena blog itu juga, akhirnya menggiring saya ke orang-orang yang bersinggungan langsung dengan dunia makanan, maka saya banyak belajar dari orang-orang tersebut. Belajar dari the real chef, pelaku bisnis restoran, pedagang sayuran di pasar, petani, dari pembantu di rumah, dan lainnya. Namun perlu dicatat, saya merasa pengetahuan saya belum luas, loh”

Siapa yang banyak menginsipirasi mencintai dunia memasak? Idolanya deh dalam memasak?

“Karena saya senang dengan visual maka seringkali saya membeli buku dengan alasan tampilan visualnya bagus. Jauh sebelum saya bersinggungan dengan dunia memasak ini, dulu saya tidak sengaja membeli buku Jamie at Home-nya Jamie Oliver. Lalu semenjak saya pindah ke desa, buku tersebut ternyata sangat memberikan inspirasi dalam hal memasak. Visual yang muncul dalam buku tersebut menstimulasi otak saya kebahagiaan-kebahagiaan dalam memasak. Saya sangat menikmatinya. Namun jika ditanya mengenai idola dalam memasak, saya tidak punya idola. Lebih tepatnya belum punya”

Menurut mas Lukman sendiri, bagaimana seharusnya blog makanan itu dipersembahkan oleh si blogger?

“Blog makanan harusnya seperti apa?! Hahaha. Tidak ada aturan apapun sih menurut saya. Namanya juga blog, sifatnya pribadi, jadi ya seenak-dewek-nya saja. Saya tidak terpikirkan harus seperti apa “baiknya” sebuah blog makanan karena berangkat dari pengalaman saya, ya, saya tidak untuk tujuan apapun dalam membuat blog masakan ini terkecuali untuk catatan pribadi saya sendiri”

Punya panutan seorang food blogger ga mas yang mempengaruhi gaya tulisan ataupun gaya fotografi makanan?

“Panutan food blogger?! Tidak ada, hahaha. Saya ini adalah tipe orang yang kurang mempunyai panutan, hahaha. Palingan idola saya itu Blur, Radiohead, dan Scott Schuman, hahaha”

Foto-foto yang diambil mas ini keren-keren, selama ini menggunakan spesifikasi kamera apa? Apakah dulu pernah belajar memotret makanan?

“Saya mengunakan kamera apapun yang ada di sekitar ketika memasak. Jadi tidak ada spesifikasi kamera khusus. Beberapa makanan terdokumentasikan dari kamera genggam bahkan dari fasilitas kamera di ponsel. Sebagian lagi ada yang pakai SLR. Bebas. Dan saya sama sekali tidak belajar memotret makanan. Sebisanya saya saja sih itu, hehehe”

***

Saya memberanikan diri mengirim salam, memperkenalkan diri, kemudian mengajukan beberapa pertanyaan ringan kepada mas Lukman sesaat setelah saya menelusuri halaman demi halaman blognya. Saya mengetahui link blognya dari mas Fahri atau yang biasa disebut Masjaki saat ia mengirim sahutan di twitter. Beberapa menit saya mundur sejenak dari pekerjaan saya hari itu dan langsung berselancar di blognya. Saya terkesima dengan paduan foto yang ia posting dan gaya tulisannya yang sungguh berbeda. Sungguh menarik.

Kadangkala satu hal yang membuat saya amazed dengan teknologi saat ini adalah begitu mudahnya menjalin pertemanan. Berinteraksi kemudian belajar. Saya menyadari blog ini masih sangat muda hingga saya merasa perlu belajar banyak kepada pribadi-pribadi baru. Belajar cara menulis yang menarik, memotret makanan yang indah dan belajar banyak hal baru. Dari perbincangan saya dengan mas Lukman via surel ini membuat saya menyadari satu hal, If you love something, do it often then you will learn much until you find your passion. 

Mari nikmati beberapa foto bidikan mas Lukman yang sengaja saya pilih karena keindahannya. Foto-foto ini sudah mendapat ijin untuk di re-post disini ya, hehehe. Selebihnya silahkan mengunjungi Pandjalu, pretty sure you will love them. Enjoy!

 

PANDJALU_120306_Verjus_Poulet_Ro_ties_06_WEB

PANDJALU-DJALUJANG-120217-Signature-Sauce-01-WEB

Pandjalu-120723-Karma-05-WEB

PANDJALU-DJALUJANG-120119-Menyesali-Untung-02-WEB

Pandjalu Bubur Oatmeal 130113 06 WEB

PS : Big thanks for sharing mas Lukman. I’m so pleased.

An Awesome ; Alice Gao.

Alice Gao copy
Images captured beautifully by Alice Gao

Berawal dari instagram yang populer itu, saya bertemu dengan salah satu fotografer keren. Proudly introduce to you, Alice Gao.

Pertama kali melihat salah satu gambar yang ia posting, saya langsung kesemsem dengan cara ia membidik gambar. Cerdas dan Indah. Instagramnya adalah must-follow-account. Bagi saya kecerdasannya sempurna. Subyek yang ia tangkap, ide, teknik, pencahayaan, komposisi dan warna, semuanya memiliki wow-factor. Semuanya mengagumkan.

Dari instagram saya berkunjung ke Lingered Upon yang sekali lagi, bellissima!. Kenapa saya menyebut blognya indah? Pertama, konten. ia sering memposting Food and Still Life Photography dimana keduanya adalah jenis fotografi yang saya suka. Kedua, foto-foto yang ia posting semuanya memanjakan mata. Obyeknya indah dan dimensinya besar. Saya termasuk baby blogger yang tidak suka dengan blog makanan/fotografi yang memposting gambar berukuran kecil atau bahkan nanggung. Karena menurut saya kekuatan foto ataupun gambar itu salah satu kekuatan nyata sebuah blog makanan/ fotografi yang harus disajikan dengan kualitas baik. Picture speaks louder than words rite? Dan Gao tau benar bagaimana menampilkan bidikannya di blog. Ketiga, blognya bersih, desainnya bersih, font-nya, layout, semuanya indah. Cerdasnya Gao menamai blognya Lingered Upon, dalam bahasa inggris Lingered memiliki arti ‘berlama-lama’ dan yap! Saya jamin anda betah berlama-lama berkunjung ke blognya.

***

Paduan memotret makanan di tempat keren adalah salah satu hal yang membuat saya terkesima dengan hasil bidikan cewek berusia 24 tahun ini. Ia banyak memotret makanan keren di berbagai tempat keren seperti di NYC, kota yang ia tinggali saat ini (deep breath) dan beberapa tempat luar biasa lainnya (baca : Paris).

Selain objek-objek bidikan yang selalu indah dan menarik, Gao teramat pandai memainkan cahaya hingga hampir semua hasil bidikannya cemerlang dan (tentu) memiliki ciri khas. Angle-angle yang tak biasa kerap membuat saya geleng-geleng saking bagusnya. Memotret dari atas adalah salah satu ide keren yang sedang saya pelajari.

Menurut saya pribadi, memotret itu membutuhkan ketajaman indera penglihatan yang tanggap saat melihat objek. Semacam bakat juga mungkin. Coba perhatikan karya-karya Gao, sepertinya mudah membidik objek-objek menarik, namun bagi saya, jika pembidiknya tak memiliki ketajaman indera terhadap hal-hal bagus (dan tak terbiasa melihat hal-hal bagus) hasilnya mungkin akan biasa. Selain itu ya tentu saja sebuah foto kualitas prima juga dihasilkan dari kamera profesional yang yahud. Milik Gao sepertinya harganya (deep breath – again) hingga hasilnya flawless.

Dari Gao saya belajar banyak bagaimana menangkap objek-objek bagus, permainan cahaya, komposisi, dan karakter foto. Saya belajar menampilkan hasil bidikan yang bagus meski yah, jangan membandingkan hasil bidikan saya dengannya, masih jauh (smiling). Maklum selain kamera saya masih kamera standar, dulu juga nilai mata kuliah fotografi saya hanya B (damn I was so bad that time), saya masih dalam tahap belajar. Jika anda perhatian dengan foto yang saya posting di blog akhir-akhir ini, saya berusaha menampilkan foto dengan dimensi besar, kenapa? Selain untuk memuaskan penglihatan anda, itu semua terinspirasi Lingered Upon.

Anyway, saya memilih beberapa hasil bidikan dari teman setia saya yang sederhana, Sony NEX-5 untuk postingan ini. Kualitasnya pasti jauh lah dari Gao, tapi untuk pemula bidikan seperti ini tidak buruk bukan, toh practice makes prefect, isn’t it? hihihi.

Enjoy!

Inspiring Alice 7

Inspiring Alcie 5

Inspiring Alice 13

Inspiring Alice 10

Inspiring Alice 15

Inspiring Alice 14

Inspiring Alice 17

Inspiring Alice 16

Inspiring Alice 18

Inspiring Alice 8

Inspiring Alice 9

Inspiring Alice 11

Inspiring Alice

Inspiring Alice 2

Inspiring Alice 3

Hey ya! saya sempat memposting foto mawar yang saya potret saat lewat di floristy ke akun instagram, dan see! Gao commented on that pic, hihihi :

Inspiring Alice 12

Tea Time.

Ini aktifitas iseng-iseng di minggu sore, salah satu waktu favorit saya.

Saat niat memasak datang setelah nonton atau belanja kebutuhan di luaran sana, saya selalu memilih waktu yang tepat. Sore pukul empat adalah waktu terbaik. Selepas ashar saat matahari mulai teduh adalah saat dimana saya biasanya mulai memasak menu makan malam. Saya memiliki waktu sekitar dua setengah jam sebelum maghrib tiba. Sebulan terakhir ini maghrib dimulai lebih awal setengah jam dari waktu sebelumnya 19.10 waktu Afrika tengah. Tapi itu tergantung, jika saya sedang malas memasak saya lebih tertarik untuk memotret makanan. Selain memanfaatkan cahaya alami dari mentari sore, memotret makanan saat sore membuat saya bebas mengeksplor ide saya melalui teknik fotografi yang masih awam.

Lagipula sore hari membuat saya lebih bebas menyiapkan setting di atas meja makan daripada saya harus terburu-buru memotret di hari-hari aktif. Kadangkala jika saya sedang ingin mengambil gambar senin pagi dari makanan yang saya buat semalam, hasilnya tak akan serapi minggu sore.

Dua minggu yang lalu saya iseng-iseng memotret cemilan teman minum teh. Yah gaya ya ada acara minum teh sore-sore kaya orang Inggris saja :D ‘drink some english tea‘ !. Tidak foto-foto disini hanya objek latihan belajar memotret makanan dari kamera saya yang masih belum punya lensa makro terpisah. Tapi hasilnya lumayan kan? Beberapa cake cantik, cookies renyah, dan agar-agar pelangi yang tidak selesai <— ini karena saya malas! :D, terlihat begitu menggoda untuk disantap!

Apa yang harus dilakukan setelah berhasil mengambil makanan/ penganan yang akan saya tampilkan disini? Jawabannya jelas, mari makan!!!! :D

Bagaimana tergoda tidak menyantap coklat dingin yang kenyal ini? Saya menyantapnya dengan saus coklat dan alpukat! Yummy!
Ini cemilan favorit saya dari dulu, jelly coklat! :D Mudah dibuat, mudah dieksplor dan tentunya berserat! Anda bebas mengeksplor penganan ini asal saran saya, jangan terlalu manis jika anda mau menambahkan fla atau saus :)
Bagaimana dengan cake coklat ini? Bisa bayangin rasanya? :)
Bagaimana dengan Strawberry tartle ini? Ah fla didalamnya yang tak terlalu manis sangat ‘kawin’ dengan segarnya strawberry diatasnya.
Mencoba menangkap angle dari atas :D
Pineapple cake ini rasanya light!
Cookies ini dilapisi rasberry jam ditengah dan coklat diatas. Rasanya? Super duper manis! Too much, saya hanya iseng2 membelinya karena tertarik dengan kemasannya, sekarang? Cookiesnya masih kedinginan didalam kulkas, tak ada yang mau memakannya :p Tapi fotonya tak buruk kan? Paling tidak komposisinya.
Mini pancake ini hasil iseng-iseng :) Saya iris segitiga dan menumpuk irisannya dengan wafer dan pasta coklat. Hiasan diatasnya? Whipped cream! :D
Ini agar-agar pelangi yang seharusnya berlapis tujuh. Berhubung malas saya membuat lapisannya berwarna random! Lain kali saya akan membuatnya lapis tujuh! :)
Warnanya cukup vibrant ya meski tak separah rainbow-rainbow cake yang sempat booming! Karena saya memasaknya sendiri jadi saya jamin ini menggunakan pewarna makanan yang aman :)
Cookies coklat plus raisin. Ini saya beli bersamaan dengan cookies coklat tadi dan rasanya jelas lebih baik. Minum teh hangat dengan ini bukan pilihan buruk menghabiskan sore, asal, saya lebih suka menyeduh teh tawar atau teh lemon jika temannya cookies yang sudah manis.