Enjoy While You Can

 

Enjoy1

 

Belakangan ini saya sering bercanda via Line dengan sahabat saya, Sohib, dengan membandingkan kehidupan satu sama lain. Saya bergurau seperti ini padanya ; “eh, kamu enak ya Hib, kemarin libur panjang di Indo, bisa keluyuran kemana-mana lho Hib” juga “eh enaknya hari Sabtu bisa ke Balai Pemuda Hib, pulang-pulang bisa mampir Starbucks Hib”. Atau bahkan yang paling sering membuat dia kesal seperti “Hib, ayo Hib, aku sudah booking hotel lho di Bali buat liburan, yuk ikut packing yuk”.

Sedang ia sering bercanda begini pada saya, “Jis, enaknya kamu Jis, makan-makan enak terus Jis. Duh, itu snack-nya kayaknya enak dan mahal Jis”, atau “Duh, enaknya Jis jadi kamu Jis, bisa bikin orang tua bahagia Jis”, “Jis, enak Jis jadi kamu Jis, habis maghrib pesan kue-kue buat dikirim ke rumah orang tuamu Jis”.

Pengulangan Hib dan Jis-nya banyak ya? :| 

Gurauan-gurauan di atas memiliki satu kesamaan yakni sesuatu yang menyenangkan. Keluyuran, mampir ke Starbucks, liburan, bayar hotel, makan enak, pesan kue, semuanya menyenangkan bukan? Iya, semuanya menyenangkan dan membutuhkan uang, hehe. Nah, saya ingin berbagi sedikit tentang pandangan saya terhadap dua hal di postingan ini. Pandangan tentang materi dan tentang kenapa kita harus fokus pada hidup kita sendiri.

 


 

Saya sama seperti Anda, bahagia bila dompet sedang tebal dan gelisah saat dompet mulai mengempis. Saya pun seperti manusia pada umumnya yang masih memiliki banyak hal yang ingin digapai selagi hidup. Saya masih ingin melanjutkan pendidikan, masih ingin mewujudkan mimpi saya ke Eropa, menikah, masih ingin mengisi rumah dengan furniture pilihan, masih ingin menyenangkan orang tua dengan liburan, dan masih banyak lagi. Tidak bisa dipungkiri hampir semuanya masih berkaitan dengan materi, semuanya membutuhkan uang.

Saya percaya akan tiga hal jika bicara mengenai uang. Pertama, money is good. Even money is not everything paling tidak, we can do something with money. Bisa menyenangkan diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi, yes? Kedua, you’ll never have enough sampai kita benar-benar bersyukur pada apa yang dipunya. Ketiga, enjoy while you can.

Ada salah satu ucapan sahabat saya, mas Andhi, yang menancap di kepala hingga hari ini. When you have money you should enjoy and spend it, when you don’t have you better fast. Saat punya uang, sudah seharusnya kita nikmati. Saat tidak punya, puasa saja. It sounds so easy ya, tapi kenyataannya tidak :P. Tapi ucapannya ada benarnya. Saat kita memiliki uang yang cukup, ada baiknya kita menikmati apa saja yang membuat kita bahagia dan bermanfaat. Dikala sedang harus puasa pada apa saja yang menyenangkan, dikala itu pula kita harus menikmati apa yang ada, sering-sering bersyukur dan bersabar.

Jika Anda pembaca blog ini, mungkin Anda sudah hapal berapa kali saya memposting makanan-makanan yang cukup menguras kantong (even mostly I did it for photography purpose :)). Pampering myself dengan makanan-makanan lezat adalah salah satu contoh bagaimana saya menikmati hidup saat dompet sedang tebal, and I can’t argue for that. Oh sekedar catatan, saat ini saya yang sedang hidup di negara terpadat di Afrika juga terkena dampak resesi global. Melemahnya Naira terhadap Dolar Amerika membuat harga semua kebutuhan naik drastis. Tak terkecuali harga bahan makanan. FYI, hampir delapan puluh persen makanan yang saya konsumsi di sini adalah makanan impor. So, food is one of the most expensive expenses saya di sini. Memanjakan diri biasanya saya lakukan setelah menghadapi pekerjaan yang benar-benar menguras energi yang tak sedikit. Beberapa kali saya harus menghabiskan dua hari di luar rumah, bekerja siang dan malam untuk satu project, dengan makanan-makanan fast food yang tak jelas gizinya. Jadi saat kemudian pulang ke rumah dan memiliki waktu untuk recharge, saya memilih memanjakan diri dengan makanan-makanan lezat yang harus diabadikan dulu di blog ini sebagai reward. Tentu saja, jika harus menghitung berapa Naira yang saya habiskan sekali belanja, sambil mengerutkan dahi, I say to myself that Gosh, that is expensive!.

Trust me, tidak setiap hari saya memanjakan diri dengan makanan-makanan yang menguras kantong. Karena jika iya, tentu saya akan kelabakan saat sadar dompet yang harus saya bawa saat nanti mudik ke Indonesia hanya berisi beberapa lembar dolar. And trust me too, when I don’t have money I better fast either. Di lain sisi saya harus hidup layak karena jauh dari siapa-siapa dan ini Afrika lho :(, di lain sisi pula saya harus sadar jalan ke depan masih panjang. I better save money cause I won’t live here forever. Jadi saat dompet mulai menipis, mau tak mau saya harus berpuasa pada makanan-makanan pricey tadi. Kadang saya harus makan nasi dengan Indomie dan telur ceplok, atau makan makanan yang sama dua hingga tiga hari berturut-turut :). Dengan begitu, hidup bisa seimbang. Bersyukur saat menikmati apa yang dipunya, dan bersyukur pula saat harus berpuasa.

 


 

Focus on your life. 

Manusia seperti saya dan Anda seringkali membandingkan hidup kita dengan orang lain. Tidak jarang kita melihat hidup si A atau si B lebih bling-bling dari hidup kita sendiri.

Sebagai contoh, saat saya sedang bosan di sini dan mendapati seorang teman sedang menikmati liburan di suatu pulau/negara, saya bergumam “kok enak ya dia, bisa liburan ke sana sedang saya masih harus bekerja di sini”. It’s human I know but I don’t even have a clue bagaimana ia mengencangkan ikat pinggang agar bisa liburan. I don’t even know how he spends his money. I don’t have a clue either his problems in life. I don’t even know what he’ll do afterwards. Saat kita melihat seseorang sedang menikmati hidupnya dan kita tidak sedang memiliki apa yang mereka miliki, we feel sorry for ourselvesIt happens sometimes, kita terlalu fokus pada hidup orang lain sedang kita lupa how we should enjoy our own lifeThey have their own life, we have ours, guys :).

Bagi saya, yang harus kita lakukan dengan hidup ini adalah live our life and do something while we are alive. Kita semua diberkahi hidup masing-masing. Dan selagi hidup, we have to achieve something. Jika belum bisa achieve something untuk orang lain, paling tidak we have to achieve something untuk diri sendiri.

Tidak ada salahnya sekali-kali membandingkan hidup kita dengan orang lain. It may help jika itu bisa membuat kita semangat memperbaiki kualitas hidup but it may be dangerous jika kita hanya membandingkannya begitu saja. Biasanya, saat pikiran membanding-bandingkan melanda, saya segera menyadarkan diri dengan bersyukur karena masih diberkahi pekerjaan yang menghasilkan kemudian kembali fokus pada apa yang ingin dicapai.

Remember to enjoy what we have, be grateful and keep working to achive something in this life :).

 

 

MoneyTalk2

 

Ah, sudah ah, kok tulisan saya lama-lama agak-agak ke-“Mario Teguh”-an, hehe. Sudah pukul empat pagi di sini, waktunya sahur agar memiliki energi lagi untuk bekeja keras demi mimpi-mimpi yang tinggi.

 

Salam,

Azis.

 

 

Lagos, 4.09 a.m.

Sweet Surrender

 

dreambig

 

Jika bicara tentang mimpi, jelas saya masih punya satu kotak besar yang masih penuh. Puji syukur, beberapa mimpi besar sudah terbang dua tahun lalu. Salah satu yang terpenting sudah saya share di tulisan ini. Sebelum saya mulai bermimpi akan mimpi-mimpi besar lainnya, ijinkan saya flashback tentang mimpi sederhana yang saya punya sedari kecil. Mimpi pada sebuah kamar.

 


 

Dulu sekali, saat menginjak SMP saya mulai mendambakan sebuah kamar pribadi. Kamar yang tak perlu luas betul, tak perlu pendingin ruangan, cukup kasur sederhana dan meja belajar. Saya ingin sekali memiliki meja kayu berwarna gelap yang di atasnya bisa saya tata beberapa buku pelajaran, sebuah lampu belajar mungil berwarna putih, dan sebuah pigura. Mejanya menghadap jendela yang setiap kali hujan turun, rintikannya membuat suasana kamar semakin nyaman. Tepat di sebelah kiri jendela, ada beberapa poster yang tertata rapi. Poster klub Manchester United, foto kota Paris, hingga poster David Beckham, figur yang pengaruhnya besar sekali bagi saya dalam menggapai mimpi. Bila menjelang sore, ada radio kecil yang bisa menemani saya mengerjakan PR.

Saat SMP pula saya memiliki mindset apa itu ‘a dream life’ tiap melihat beberapa teman yang datang dari keluarga mampu dan memiliki prestasi bagus. Entah, saya terkesima dengan ritme harian kumpulan teman yang sepertinya selalu siap menghadapi hari-hari di sekolah. Yang setiap sore tiba, mereka mendapat tambahan ilmu dari lembaga bimbingan belajar. Dan saat pulang ke rumah setelah kursus, bisa menghabiskan sisa harinya dengan PR-PR untuk esok di kamarnya sendiri-sendiri. Saya membawa mindset sederhana pada kamar pribadi yang nyaman sebagai salah satu kriteria ‘a dream life’ hingga masa SMA. Beberapa kali saat ada tugas kelompok di rumah teman, saya hanya mampu membiarkan angan-angan terbang begitu saja kala melihat kamar-kamar mereka. Poster idola pun klub bola kesayangan yang tertempel rapi di dinding kamar, kasur yang begitu empuk, meja belajar yang nampak penuh dengan buku pelajaran dan komik, plus radio stereo yang bisa memutar lagu-lagu remaja. Belum lagi beberapa teman yang saat itu sudah memiliki seperangkat komputer. never had that piece of ‘a dream life’ thenA piece berupa kamar pribadi.

Tidak, anda tidak salah baca. Saya tidak memiliki kamar pribadi sejak kecil hingga lulus SMA.

“Trus, dimana kamu tidur Jis? Dimana kamu belajar Jis?”

Di sofa. Di ruang tamu sembari menikmati acara televisi hingga tertidur. Belajar? biasanya di lantai di ruang tengah. Tak jarang pula di atas kasur di dalam kamar orang tua.

 


 

Jika saya tak salah ingat, a piece of ‘a dream life’ dari masa SMP itu sempat terwujud di tahun ketiga masa kuliah. Saat itu saya mulai berpikir, “I can’t stay like this, I need my own bedroom”. Adakadabra singkat cerita, saya berhasil memiliki kamar sendiri. Letaknya di lantai satu, bekas kamar kakak kedua yang sudah pergi untuk memulai keluarganya sendiri. I felt like I had a dream life then karena akhirnya saya memiliki ‘ruang’ pribadi. Meski kamar saya kecil, paling tidak saya memiliki kasur sendiri berupa matras yang cukup empuk meski berbahan kapuk. Bukan jenis spring bed. Dinding kamar dari plywood bercat putih menjadi tempat saya memajang poster Manchester United dan tentu saja, David Beckham. Ada pula televisi berukuran 14” yang menemani saya tiap kali selesai mengerjakan tugas kuliah hingga larut malam.

Flashback macam begini, membuat saya teringat kembali untuk menghargai arti sebuah mimpi dan semoga, Anda tidak menganggap apa yang akan saya tulis setelah kalimat ini sebagai bentuk dari riya’. Bismillah.

“Saya memang pernah punya mimpi memiliki sebuah kamar sejak enam belas tahun yang lalu. Dan detik ini pun, saya seperti masih hidup dalam mimpi bahwa seorang Azis saat ini resmi memiliki sebuah rumah. Bukan hanya sebuah kamar pribadi”

SweetSurrender1

***

Dua tahun yang lalu sesaat setelah berhasil menghadiahi kedua orang tua berdiri di depan Ka’bah, impian yang ingin saya gapai bukan berbentuk rumah. Impian saya saat itu masih seputar Perancis, seputar Paris. Saya ingat betul bagaimana dua puluh empat bulan yang lalu saya amat menggebu ingin menghabiskan apa yang dipunya untuk pergi ke Perancis. Untuk menyusuri Paris. Bukan hanya berbentuk liburan, melainkan menimba ilmu melalui kursus musim panas di bidang desain. Saya terus mencoba menguatkan diri pada fatwa “that I deserved” pun “you’re still young, go travel and enjoy your life”. Dengan pergi ke Perancis, saya menganggap impian itu macam investasi berbentuk traveling. Dan kursus desain di sana macam investasi berbentuk pendidikan. Setelah mempertimbangkan apa yang harus saya gapai lebih dulu, akhirnya saya memalingkan diri pada Paris dan memilih membeli rumah. Truly, it wasn’t an easy decision to say ‘hold’ to Paris.

 


 

Proses mencari hingga memiliki rumah meninggalkan pengalaman-pengalaman tersendiri bagi saya. Tentu saja saya tidak akan melupakan salah satu orang penting yang menyemangati untuk membeli rumah. Mas Andhi, yang seringkali saya sebut di blog ini, adalah orang yang menjadi cerminan pada apa yang harus diwujudkan di tahun ketiga di Afrika. Selain didukung mas Andhi, saya seakan mendapat dukungan virtual dari mas Fakhri dan bang Nuran. Cuitan mereka berdua di twitter dua tahun lalu tentang suramnya menyicil rumah via KPR karena rentan waktu yang cukup lama, menyadarkan saya untuk segera membeli selagi punya. Mas Fakhri dan bang Nuran mungkin kaget membaca ini, tapi benar adanya bahwa cuitan mereka tentang KPR mendorong saya untuk memalingkan diri lebih jauh pada indahnya Paris untuk sementara.

Saya dan mas Andhi memiliki pattern yang hampir sama. Kami membeli rumah pribadi setelah tiga tahun bekerja di sini. Bedanya ia mampu menyelesaikan rumah hanya dalam waktu sepuluh bulan. Sedang saya sepuluh kali dua. Dan Alhamdulillah, kami sama-sama membeli dengan bulk door payment dan menyicil sisanya. I couldn’t imagine jika saya harus mengambil rumah lewat KPR. Bukan bermaksud jumawa, tapi dua puluh bulan mengikat pinggang demi menyelesaikan rumah membuat saya beberapa kali harus berpuasa pada gaya hidup. Boro-boro mau beli jam tangan baru meski dua kali kebobolan ;P, memutuskan untuk membawa pulang seperempat kilo kale, sekotak blueberry, rasberry, dan blackberry, plus cake-cake dari restoran Lebanon di hari Minggu harus berpikir dua tiga kali :P. Eh tapi iya lo, merasakan dua puluh bulan dengan tagihan bulanan yang tidak sedikit mampu mengubah gaya hidup, hehe.

Proses mencari rumah yang cocok dengan selera dan kantong pun ternyata bukan perkara mudah. Dan untuk hal ini, saya harus berterima kasih pada sahabat saya, Ruli, yang bersedia menemani saya berburu rumah selama lima hari. Setiap siang kami keluar masuk kantor developer, membawa pulang brosur-brosur, hingga akhirnya mendapati tipe dan harga yang sesuai kemampuan. Saya sempat khawatir jika saja saat itu kami tidak menemukan rumah yang cocok karena saya hanya memiliki satu bulan di Indonesia. Tapi toh saya selalu percaya pada “a big thing will happen at the right time”. And luckily, rumah yang saya beli letaknya tak jauh dari rumah Ruli dan rumah Ayos & Winda, sahabat-sahabat dekat saya. Lengkap sudah :). Oh tentu saja, support dari orang-orang terdekat yang membantu saya selama proses cicilan tidak akan saya lupakan. Sohib, thank you sudah repot-repot setiap bulan keeping the record of my payment, dan kakak saya yang mau direpotkan setiap bulan dengan urusan administrasi :P, dan tak lupa doa kedua orang tua. Eh, sebentar, ini kok rasanya saya seperti habis dianugerahi award apa gitu, hahah kok tulisannya malah macam winning speech :P.

***

Rumah lunas, sekarang masuk tahapan selanjutnya yang harus dihadapi. Mengisi rumah sesuai dengan kepribadian dan tentu saja budget. Yang kedua, saya akui belum ada, haha. Tapi jika Anda menebak seperti apa impian saya akan interiornya, oh lupakan saja dulu kalau rumah saya ini tidak terlalu besar sepertinya inspirasi-inspirasi dari Pinterest ini jawabannya. Saya akan menulis lebih jauh tentang impian interior yang saya idam-idamkan di postingan terpisah. Tapi yang jelas, tidak jauh-jauh dari konsep monochrome, simple, clean and stylish.

Ah, Azis mulai bermimpi lagi :P

 

SweetSurrender2

SweetSurrender4

 

Oh, saya tahu saya terlalu banyak cuap-cuap di postingan ini but I hope you guys don’t mind for this beautiful quote :). Oh wait, now, it’s time to concentrate more to see Paris, right? Please don’t judge me wrong but I really had no interest to be backpacker there :P, I wanna go in a proper waaaaaay! hehe!

SweetSurrender5

Let’s dream again!

 

 

Cheers,

Azis.

2015

2015

Siang tadi saya baru tersadar hari ini adalah hari ke-365. Maklum, padatnya Desember membuat saya kadang lupa hari ini hari apa. Sebelum memejamkan mata dan istirahat sejenak karena besok saya langsung dihadapkan dengan tantangan besar lagi, iya di hari pertama tahun baru, ijinkan saya mengungkapkan secara singkat apa yang saya pikir dan rasakan saat ini.

Saya hanya ingin bersyukur akan kesempatan-kesempatan sepanjang tahun ini, pun pada berbagai rintangan dan tantangan yang lagi-lagi mengajarkan saya untuk survive dan berdiri lebih tegak di Afrika. Saya tahu, rintangan dan tantangan di tanah Afrika tidak akan pernah mudah. Hanya ada satu hal yang mampu membuat saya kuat dan tegar hingga detik ini. Yakni, niat belajar pada kehidupan. Selama di sini, saya menganggap diri saya sebagai seorang perantau yang sedang bekerja untuk mimpi-mimpi yang tinggi, dan untuk belajar pada hidup.

Sekali lagi, saya bersyukur masih dikaruniai hidup dan kesempatan menjalani kehidupan.

Dan saya berharap, semoga Tuhan memberkahi pintu-pintu rejeki yang lebih lapang, kesempatan hidup yang lebih baik, kesehatan yang tiada putus, dan cinta kasih tahun depan. Semoga pula, banyak kejutan-kejutan hidup yang akan mengantarkan pada kehidupan yang lebih gemilang. Bagi saya, dan bagi Anda.

Selamat tahun baru!

 

Salam,

Azis.

 

Lagos ; 11:43 PM.

Bawang Tersayang

Ada tiga hal yang pasti akan saya ingat jika bicara tentang mie instan.

Pertama, sebelum pindah dan bekerja di Afrika, saya pernah stop makan mie instan selama tiga hingga empat tahunan. Saat itu, saya sedang giat-giatnya belajar tentang kandungan warna pada buah-buahan, nutrisi apa saja yang terkandung dalam sekantong snack (saya bisa menghabiskan sepuluh menit sendiri membaca bahan-bahan yang terkandung dalam sekantung snack sebelum membelinya), dan hal-hal random yang berkaitan dengan makanan dan kesehatan. Selama empat tahun itu, saya disiplin mengkonsumsi makanan yang dikukus, direbus, menghindari minyak sebisanya, memilih buah berwarna gelap, tanpa tergoda untuk menyentuh apa itu mie instan.

Kedua, sebelum stop makan mie instan selama empat tahun itu, saya memiliki mie instan favorit yang sering saya nikmati dengan ibu, Indomie rasa Coto Makasar. Saya masih ingat betul nikmatnya semangkuk panas mie instan berkuah dengan irisan cabe dan bawang goreng. Menikmatinya dengan ibu, terlebih saat hujan turun selepas maghrib adalah salah satu quality time paling sederhana yang sering saya lakukan dulu. Tentu tidak setiap minggu, hanya jika sedang ingin.

Ketiga, iya, sejak ke Afrika dan sadar akan bekerja di industri seperti ini, mie instan kerap menjadi salah satu alternatif paling praktis untuk mengisi perut. Tentu perlu proses yang tidak mudah untuk kembali berkenalan dengan mie instan setelah empat tahun lamanya. Saya pun tidak akan pernah lupa hari pertama bekerja di sini, flatmate saya menghidangkan mie instan berkuah sesaat sebelum kami ke kantor. Can’t you believe it? Seorang Azis yang dulu picky sekali harus makan mie instan di pagi hari? Sarapan mie instan lo ini :|

Semua orang tahu mie instan bukan makanan sehat, minim nutrisi dan bisa berdampak buruk jika dikonsumsi berlebihan. Maka dari itu, saya tidak akan ngoceh tentang kandungan mie instan di postingan ini ;P. Instead, saya hanya ingin berbagi sedikit cerita tentang bawang goreng.

***

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kembali dari Indonesia berarti harus ada tempat untuk kecap, bumbu pecel, saus sambal, terasi, agar-agar, jeli, dan beberapa bumbu instan yang saya memang belum bisa masak macam rawon, soto, dan yang susah-susah itu di koper. Yang terakhir paling sedikit saya bawa kemarin. Bumbu pecel racikan ibu saya selalu memiliki ruangnya sendiri sejak lima tahun lalu, tapi bawang goreng? baru tahun ini saya merasa penting alias wajib bawa. Saya rekues khusus pada ibu untuk membekali saya dengan bawang merah dan putih yang digoreng. Alasannya, saya sering rindu makan telur dadar dengan lumuran kecap yang dicampur irisan cabe, perasan jeruk nipis dan bawang goreng. Sederhana dan nikmatnya luar biasa. Sesekali, menikmati jasmine rice bersama telur dadar dengan racikan kecap plus perasan jeruk nipis, cabe, dan bawang goreng menjadi salah satu andalan jika saya malas masak. Tentu lebih nikmat dan mungkin lebih sehat dibanding mie instan :P.

BawangTersayang1

BawangTersayang2

Foto di atas diambil di suatu siang di hari Minggu. Saya sengaja meracik Indomie yang terkenal sekali di sini dengan saus sambal, minyak zaitun (jika tak punya, saya ganti dengan minyak sayur) plus tentu saja, kecap. Menambahkan saus sambal plus kecap membuat Indomienya lebih Indonesia :P, apalagi jika ditabur bawang goreng. Karena Indomie di sini lebih salty dibanding yang ada di Indonesia, saya selalu memakai separuh bumbu bubuknya plis itu MSG Jis, iya MSG yang dulu kau benci ;|. Oh satu lagi, FYI saya masih membatasi waktu mengkonsumsi mie instan. Satu bungkus tidak lebih dari satu hingga dua minggu. Setelah minim satu atau dua minggu barulah saya boleh menikmatinya lagi. And I always rinse mie instannya dengan air panas terpisah hingga genangan air rebusannya jernih lagi. Untuk hal-hal begitu, saya akui saya ribet sekali.

***

Seperti tulisan tentang pecel, saya merasakan ada cinta ibu yang turut terkandung dalam bawang goreng yang beliau buat. Cinta yang membuat nikmatnya berkali-kali lipat. Oh ya, kenapa saya memberi judul tulisan ini ‘Bawang Tersayang’, karena believe it or not, saya menyimpannya di lemari es hingga hampir dua bulan setengah setelah saya kembali ke sini. Dan menambahkannya pada masakan yang saya masak pun sedikit demi sedikit. Eman yo. Bahkan, sampai hari ini, bawang gorengnya masih sisa sedikit dan tersimpan rapat di dalam tupperware di lemari es . Tidak seperti bumbu pecel yang sudah lama habis karena saya nikmati sebagai pecel atau batagor ala-ala. Mungkin saya sayang jika bawang gorengnya habis. Mungkin pula, saya ingin cinta dan rindu ibu saya selalu hadir di mana saja :).

Memang tidak semua makanan cocok ditaburi bawang goreng. Tapi makanan sesederhana ini, ini, apalagi ini, membayangkannya saja perut saya langsung keroncongan. Terutama ikan bandeng goreng kering dicocol kecap pedas dengan remasan bawang goreng yang melimpah. Duh, pengen pulaaaang!.

Can’t Wait

JustBelieve1

AZ : “I inspired by the latest winter collection of Dolce Gabbana. See this pattern, it’s beautiful. See those roses. The first time I saw this pattern, I said it must be somewhere in my design”

MU : “It’s beautiful. Uh, it’s Italian, right?, Ah Azis if you go to Italy, you’ll be craze. You must go”

AZ : “I know, next year Ma”

MU : “Why next year? Why you’re not going this year? Azis, why you’re wasting time”

***

Siang itu, di sela kesibukan kantor yang random sekali, saya menunjukkan konsep sebuah acara yang akan dihelat oleh salah satu bank besar pada Madam Uche, Executive Director tempat saya bekerja saat ini. Acaranya sendiri semacam launching program khusus wanita berupa dinner plus award ceremony untuk business women, artis yang berprestasi, dan wanita-wanita berpengaruh di bidangnya masing-masing. Saat menjelaskan elemen-elemen desain yang ada di dalam desain interior serta inspirasi yang saya dapat dari pattern mawar koleksi musim dingin 2016 Dolce Gabbana, tiba-tiba percakapan di atas terjadi.

Yang menarik adalah penggalan kalimat terakhir. Why next year? Why you’re not going this year Azis? Europe? tahun ini?(??) yaelah, mau sih mau banget bisa pergi ke Eropa secepatnya, hehe.

Sesaat setelah beliau meng-encourage saya untuk segera pergi, diiringi senyum dalam hati, semangat saya pada Eropa kembali meletup. Sebagai seorang yang bekerja di bidang kreatif dan bertanggung jawab penuh untuk menghasilkan konsep-konsep yang unusual, distinct dan selalu baru, sudah seharusnya bepergian ke tempat-tempat indah macam Eropa diagendakan agar saya semakin kaya akan inspirasi. Sebenarnya it’s not a big deal really untuk packing dan pergi ke sana, world is a global village. Apalagi (bismillah) dengan dukungan beliau (baca : mengharap banget tiket ditanggung perusahaan :P), seems like Europe is closer to my eyes. Ini hanya perkara waktu yang tepat.

Saat ini saya hanya ingin fokus pada satu hal besar yang belum tuntas. Setelah itu, it’s time to see Europe. Standing in front of beautiful buildings when I just arrived in Paris, feel the magical ambiance surrounding, take train to Rome, Copenhagen is on my list I think, oh Prague, many places to see. Bicara tentang impian menyusuri Eropa, ada satu hal yang ingin sekali saya wujudkan jika berhasil ke sana. Being backpacker isn’t my dream, saat setiap kali ingin makan enak di Eropa harus mikir dua kali atau pusing dengan budget ketat. Being a lavish traveler juga bukan even if I wish :P. Style perjalanan yang saya ingini ada di tengah-tengah, menikmati Eropa secara ideal tanpa harus boros-boros amat. Memiliki uang yang cukup untuk merasakan proper dinner di salah satu restoran di Paris, membawa pulang oleh-oleh yang banyak di Itali, mengunjungi galeri-galeri inspiratif di Denmark how I fall in love with Dannish design, banyak lah yang ingin saya wujudkan, hehe.

Saat ini all I need to do is keep dreaming, keep believing and keep working. Dan postingan ini nampak seperti penyemangat lagi dari postingan galau two in a row sebelumnya. And I’ll try to keep this blog update while I’m having an earlier December in this industry!

JustBelieve2

JustBelieve3

Every time my spirit at work goes down, I always see those Paris photographs by Alice Gao and feel better. Ah, I just can’t wait.

Some, Randoms

I’ve been wanting to update this blog since. Seems like my December has come earlier, it took me to the middle of October to post a short one like this.

LiveYourDreams

Can’t even lie that I mentally tired of my work since two weeks ago, been thinking so many random things about life among my random deadlines. Been thinking what is next, where is next. It’s human, I know. Sometimes I’ll wake up in the morning with clear mind and ready to face my day, sometimes I’m worry and scare and bored of my work.

Every time I feel that way, I’ll remember one thing that I have so many dreams. Let me not continue writing random thoughts here, let me keep working for those dreams.

 

Cheers!

I’m Feeling It

  
Today is like those days when I used to feel confuse and worry about life, worry about future. This is what I feel right now, when I keep thinking to look forward, to keep myself believe that every single things I’m doing in the present, is a life lesson. I should enjoy what I’m having, what I’m facing right now on my job even though I can’t lie that a lot of stresses could drive me crazy, until I’ve thought to give up. 
I’m worry a lot sometimes yet I realized that life is just a journey. 

When you have no one to share your worries about this life with, talk to God. God listens.

Khayalan Kali Ini

Fokus

Berkhayal memang pekerjaan yang menyenangkan. 

“Rul, Turki Rul. Sama Yunani. Magical banget kan, Yunani”, itu sepenggal percakapan saya dengan Ruli minggu lalu. Mulanya, saya hanya surfing iseng saat pekerjaan rumah minggu lalu on point. Hari Sabtu, tak memiliki event di luar, konsep-konsep terselesaikan sesuai deadline dan hari masih siang. Kesenggangan itu mengantarkan saya pada cheating kecil-kecilan di halaman blog beberapa travellerCheating? itu sebutan untuk menyegarkan pikiran sebentar, membaca blog di sela-sela pekerjaan di kantor ;P. Lari sebentar dari Pinterest dan Ymail sama Goofydreamer juga sih, dua halaman yang selalu saya buka setiap hari.

Siang itu khayalan saya terbang ke Turki. Terdampar di beberapa blog traveller yang pernah liburan ke sana meninggikan khayalan-khayalan akan sunrise di atas balon udara di Cappadocia, menyusuri selat Bosphorus, hingga jalan-jalan sore di area Blue Mosque. Mengingat akomodasi yang tak murah untuk terbang ke sana, khayalan saya sekalian mampir ke Yunani. Turki dan Yunani, begitulah kiranya. Setelah surfing, tiba-tiba saya menghubungi Ruli via bbm. Biasanya Ruli akan merespon lebih cepat dibanding via Line.

Tanpa basa-basi saya bertanya pada Ruli jika ia berminat liburan ke Turki tahun depan. Selain negaranya bagus, biaya hidup sehari-harinya juga tak mahal-mahal amat. Biaya terbang kesananya memang lumayan sih, apalagi jika rupiah melemah seperti saat ini. Jawaban Ruli di luar dugaan, ternyata ia tak terlalu terpesona dengan Turki. Bagaimana dengan Yunani? “Negara lagi krisis kok mau disambangi”, ujarnya. Bukannya jika sedang krisis justru di sana apa-apa murah? Iya kan? Reruntuhan jaman Romawi yang magical, atau Santorini yang banyak dibicarakan orang itu?

Ruli berpendapat keamanan negara yang sedang krisis biasanya meragukan (benar juga sih, tapi ya belum tentu juga kan?). Kemudian ia menyebut Jepang dan Selandia Baru, dua negara yang ia idam-idamkan dari dulu. Jepang? Pesona kekunoan dan kekiniannya yang harmonis menjadi daya tarik tersendiri. Selandia Baru? siapa tak terpesona dengan landscape-nya yang persis bagai lukisan itu? Dengan domba-domba yang damai menikmati rerumputan hijau? Dari Turki, khayalan saya melayang ke Selandia Baru.

Iseng-iseng mengetik “biaya liburan ke Selandia Baru” di Google, saya terdampar di blog seorang perempuan muda yang pernah traveling berdua dengan temannya ke sana. Setelah selesai membaca petualangannya di sana membuat saya kembali berujar dalam hati, “Semua memang berawal dari khayalan, fokus, kemudian bekerja mewujudkannya”. Dari Selandia Baru, khayalan saya terhenti. Saya teringat kembali, bukannya selama ini saya berkhayal menikmati musim panas di Paris? Sudah berapa kali saya menyebut Paris di blog ini? Bukankah khayalan pada Paris sudah saya tanam dari dulu?

Turki, Yunani, Selandia Baru kemudian teringat Paris. Khayalan saya kemana-mana ya? ;|

Sepertinya saya harus belajar lagi tentang apa itu fokus. Mengerucutkan khayalan-khayalan yang bertebaran pada satu atau dua saja yang saya impikan sejak dulu. Yang saya butuhkan saat ini mungkin hanya fokus pada Eropa. Fokus pada Paris. Menikmati beberapa hari di Paris, kemudian mampir ke Milan. Atau kemana saja di sekitar Perancis. Yang penting khayalan saya pada Paris sudah pernah terwujud. Unfortunately, fokus saya pada Paris tiba-tiba agak belok ke Amerika. Alih-alih hanya liburan, saya berkhayal kenapa tidak sekalian saja belajar apa gitu, semacam kursus musim panas. Jalan-jalannya dapet, ilmu-ilmu baru juga dapet.

Terbanglah khayalan saya ke New York. Bukan karena ingin bertemu dengan Alice Gao ;), hanya saja belakangan ini perhatian saya tertuju pada Parsons School. Sekolah desain ternama yang membuat saya berkhayal ingin mengambil kursus musim panas tahun depan. Kursus singkat desain interior atau fotografi. Anda pernah tahu YouTuber kembar ternama asal Inggris, Finn dan Jack Harries? Jika belum, coba mampir ke sini. Nah, salah seorang dari mereka, si Finn lagi mengenyam pendidikan arsitektur di Parsons. Awalnya tahu tentang Parsons saat ia memposting hari pertamanya di sana. Saya bukan penggemar mereka berdua, hanya saja pertama kali tahu Jack dan Finn, saya terpukau pada passion mereka. Masih muda, berkelana ke banyak negara melalukan apa yang mereka cintai ; videografi. Saya berkhayal masuk kelas di hari pertama di Parsons, bertemu wajah-wajah baru, mereka-reka materi pelajarannya, membiasakan diri mengerjakan tugas-tugas berbahasa Inggris, dan sebagainya. Eh, sebelum masuk kelas pagi, saya berjalan menyusuri jalanan New York dengan Starbucks di tangan kanan, plus headphones di telinga. Membayangkannya kok keren amat ya? ;)

Lagi-lagi saya harus belajar fokus. Dan Paris bisa jadi khayalan yang harus diwujudkan lebih dulu.

Kemarin malam saya mulai iseng-iseng mencari harga penerbangan dari Jakarta ke Paris kemudian pulang lewat Milan. Ternyata harganya juga tak mahal-mahal amat. Dibanding penerbangan ekonomi ke Afrika yang sudah pasti lebih dari 20-an, mendapati harga penerbangan di bawah 15 juta membuat saya bersemangat kembali untuk tidak sekedar berkhayal.

Hanya butuh niat yang matang, fokus pada tujuan, bekerja, dan biarkan khayalan-khayalan tadi mencari jalannya sendiri. Jis, wujudkan!

***

Just when you think the road is going nowhere
Just when you almost gave up on your dreams
They take you by the hand and show you that you can

You can go higher, you can go deeper
There are no boundaries above and beneath you
Break every rule ’cause there’s nothing between you and your dreams

Kris Allen – No Boundaries

P.S. Barangkali dari Anda ada yang berkhayal mau berkelana kemana gitu, negara mana yang ingin sekali dikunjungi, bisa meninggalkan khayalan Anda di kolom komentar. Siapa tahu, tahun depan kita bisa bertemu di Paris? ;) Oh iya, beberapa hari yang lalu Atre, teman baik yang tulisannya selalu berhasil membuat saya terpesona, menulis artikel ini. Mampir ya guys! ;))

A Simply Way To Be Grateful

“Azis, your work is slow, very slow. It’s not like you before, I’m not happy.”.

Kemudian, sontak saya merasa ada yang tak mengenakkan.

***

ASimplyWayToBeGrateful

Kalimat pertama di atas itu terucap dua kali, Senin kemarin dan hari ini. Bos saya nampak tak puas dengan apa yang saya kerjakan akhir-akhir ini. Beliau bilang speed saya teramat lambat. Bahkan sangat lambat. Tak seperti Azis yang beliau kenal, yang cekatan dan tak pernah terlambat menyelesaikan tugas. Saya tak menyangka beliau mengatakan “your work is very slow” untuk kedua kalinya. Saya pribadi tak setuju jika apa yang saya kerjakan lambat adanya. Hanya saja, harus saya akui I jumped from one to another, dan membuat apa yang saya kerjakan nampak lambat. Satu tak selesai, kemudian lompat ke yang lain. In the end, semua tak selesai tepat waktu.

Bohong jika tak mengakui apa yang terjadi tadi sore adalah sesuatu yang cukup memalukan (I shouldn’t say that it happened in front of few people, gah). Ada rasa yang tak mengenakkan yang bahkan detik ini, detik saya menulis postingan ini, masih terasa. Saya bukan orang yang super super sensitif, hanya sedikit melankolis. Rasa tak enak ini hanya saya anggap bagian dari “well, I’m a human anyway. Bukan patung atau boneka”. Kadang yang membuat rasa tak enak itu merambat menjadi kesedihan saat sadar saya sedang berjuang jauh dari negeri sendiri. Meskipun begitu, ada satu hal yang terus menerus saya pupuk jika saya mendapati kejadian seperti hari ini ; learn and never stop learning. I really took it as a lesson and stay positive.

Tadi, sepanjang perjalanan kembali dari sholat tarawih, mata saya menerawang ke arah langit. Kebetulan langit cukup cerah hingga saya mendapati bulan berpendar. Sambil terus berjalan, saya bergumam dalam hati, “bukankah orang-orang hebat itu tak lahir secara tiba-tiba. Ada yang namanya tempaan, yang membuat mereka tumbuh kuat dan berbeda”. Kemudian saya berkaca pada apa yang saya alami, bahwa tempaan-tempaan yang tak kentara macam rasa kesal Bos saya tadi yang akan membuat mental saya kuat. Tempaan-tempaan itu justru saya perlukan untuk melatih diri agar lebih giat bekerja. Tempaan-tempaan itu yang akan membuat saya memaknai lebih pada apa yang disebut kerja keras. Sebentar, bukannya kerja keras adalah salah satu kunci untuk membangunkan mimpi-mimpi saya selanjutnya? :). Masih ingin ke Paris kan?, masih suka makan enak kan?, Sony a7r?, the lastest MacBook yang space grey itu lho biar matching sama iPhone 6-nya?, nanti pulang mampir Abu Dhabi ingin belanja pernak-pernik dan coklat buat oleh-oleh kan? iya semua, hahaha. So, mari terus kerja keras dan jangan mudah putus asa ;).

***

Tadi saat melihat langit, saya sembari bernapas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan-pelan. Rasanya damai sekali. Menenangkan. Apalagi, angin semilir menyederhanakan makna syukur yang ingin saya pelajari hari ini. Rasa syukur pada kesempatan untuk belajar lagi. So Zis, wake up and keep learning, tomorrow you must do it better. I’m thankful for today, and I hope tomorrow there is another chance to stay alive and keep learning for many things. Jika saja anda mendapati kejadian yang sama seperti saya hari ini, barangkali It’s a Beautiful World ini bisa sedikit melepas penat (use your headphones!) :).

Good night!

Cheers,

-A-

P.S. iPhone picture above was taken when I stood in front of a huge tree on one day last year. I saw someting beautiful about those leaves, I could even feel how serene it was when the wind blew. Such a simply way to feel happy and grateful.