An Afternoon At Haji Lane

Sunday, drizzling outside and starving, three things I’m having right now. Instead of grumbling cause I don’t have food even snacks but instant noodles, let me share some afternoon scenes while I was in Singapore. It was on Friday, I took MRT from Harbour Front to Bugis, walked for 10 minutes and found some inspirations along Haji Lane and Arab Street. Just before and after Jummah prayer. iPhone and mirrorless versions here (could you guess which and which? ;)).

HajiLane1

HajiLane2

HajiLane3

HajiLane4

HajiLane5

HajiLane6

HajiLane7

HajiLane8

HajiLane9

HajiLane10

I don’t miss the humid-and-hot weather, just miss simply things there. Grabbing a cup of cold frozen yogurt and taking picture ;).

Khayalan Kali Ini

Fokus

Berkhayal memang pekerjaan yang menyenangkan. 

“Rul, Turki Rul. Sama Yunani. Magical banget kan, Yunani”, itu sepenggal percakapan saya dengan Ruli minggu lalu. Mulanya, saya hanya surfing iseng saat pekerjaan rumah minggu lalu on point. Hari Sabtu, tak memiliki event di luar, konsep-konsep terselesaikan sesuai deadline dan hari masih siang. Kesenggangan itu mengantarkan saya pada cheating kecil-kecilan di halaman blog beberapa travellerCheating? itu sebutan untuk menyegarkan pikiran sebentar, membaca blog di sela-sela pekerjaan di kantor ;P. Lari sebentar dari Pinterest dan Ymail sama Goofydreamer juga sih, dua halaman yang selalu saya buka setiap hari.

Siang itu khayalan saya terbang ke Turki. Terdampar di beberapa blog traveller yang pernah liburan ke sana meninggikan khayalan-khayalan akan sunrise di atas balon udara di Cappadocia, menyusuri selat Bosphorus, hingga jalan-jalan sore di area Blue Mosque. Mengingat akomodasi yang tak murah untuk terbang ke sana, khayalan saya sekalian mampir ke Yunani. Turki dan Yunani, begitulah kiranya. Setelah surfing, tiba-tiba saya menghubungi Ruli via bbm. Biasanya Ruli akan merespon lebih cepat dibanding via Line.

Tanpa basa-basi saya bertanya pada Ruli jika ia berminat liburan ke Turki tahun depan. Selain negaranya bagus, biaya hidup sehari-harinya juga tak mahal-mahal amat. Biaya terbang kesananya memang lumayan sih, apalagi jika rupiah melemah seperti saat ini. Jawaban Ruli di luar dugaan, ternyata ia tak terlalu terpesona dengan Turki. Bagaimana dengan Yunani? “Negara lagi krisis kok mau disambangi”, ujarnya. Bukannya jika sedang krisis justru di sana apa-apa murah? Iya kan? Reruntuhan jaman Romawi yang magical, atau Santorini yang banyak dibicarakan orang itu?

Ruli berpendapat keamanan negara yang sedang krisis biasanya meragukan (benar juga sih, tapi ya belum tentu juga kan?). Kemudian ia menyebut Jepang dan Selandia Baru, dua negara yang ia idam-idamkan dari dulu. Jepang? Pesona kekunoan dan kekiniannya yang harmonis menjadi daya tarik tersendiri. Selandia Baru? siapa tak terpesona dengan landscape-nya yang persis bagai lukisan itu? Dengan domba-domba yang damai menikmati rerumputan hijau? Dari Turki, khayalan saya melayang ke Selandia Baru.

Iseng-iseng mengetik “biaya liburan ke Selandia Baru” di Google, saya terdampar di blog seorang perempuan muda yang pernah traveling berdua dengan temannya ke sana. Setelah selesai membaca petualangannya di sana membuat saya kembali berujar dalam hati, “Semua memang berawal dari khayalan, fokus, kemudian bekerja mewujudkannya”. Dari Selandia Baru, khayalan saya terhenti. Saya teringat kembali, bukannya selama ini saya berkhayal menikmati musim panas di Paris? Sudah berapa kali saya menyebut Paris di blog ini? Bukankah khayalan pada Paris sudah saya tanam dari dulu?

Turki, Yunani, Selandia Baru kemudian teringat Paris. Khayalan saya kemana-mana ya? ;|

Sepertinya saya harus belajar lagi tentang apa itu fokus. Mengerucutkan khayalan-khayalan yang bertebaran pada satu atau dua saja yang saya impikan sejak dulu. Yang saya butuhkan saat ini mungkin hanya fokus pada Eropa. Fokus pada Paris. Menikmati beberapa hari di Paris, kemudian mampir ke Milan. Atau kemana saja di sekitar Perancis. Yang penting khayalan saya pada Paris sudah pernah terwujud. Unfortunately, fokus saya pada Paris tiba-tiba agak belok ke Amerika. Alih-alih hanya liburan, saya berkhayal kenapa tidak sekalian saja belajar apa gitu, semacam kursus musim panas. Jalan-jalannya dapet, ilmu-ilmu baru juga dapet.

Terbanglah khayalan saya ke New York. Bukan karena ingin bertemu dengan Alice Gao ;), hanya saja belakangan ini perhatian saya tertuju pada Parsons School. Sekolah desain ternama yang membuat saya berkhayal ingin mengambil kursus musim panas tahun depan. Kursus singkat desain interior atau fotografi. Anda pernah tahu YouTuber kembar ternama asal Inggris, Finn dan Jack Harries? Jika belum, coba mampir ke sini. Nah, salah seorang dari mereka, si Finn lagi mengenyam pendidikan arsitektur di Parsons. Awalnya tahu tentang Parsons saat ia memposting hari pertamanya di sana. Saya bukan penggemar mereka berdua, hanya saja pertama kali tahu Jack dan Finn, saya terpukau pada passion mereka. Masih muda, berkelana ke banyak negara melalukan apa yang mereka cintai ; videografi. Saya berkhayal masuk kelas di hari pertama di Parsons, bertemu wajah-wajah baru, mereka-reka materi pelajarannya, membiasakan diri mengerjakan tugas-tugas berbahasa Inggris, dan sebagainya. Eh, sebelum masuk kelas pagi, saya berjalan menyusuri jalanan New York dengan Starbucks di tangan kanan, plus headphones di telinga. Membayangkannya kok keren amat ya? ;)

Lagi-lagi saya harus belajar fokus. Dan Paris bisa jadi khayalan yang harus diwujudkan lebih dulu.

Kemarin malam saya mulai iseng-iseng mencari harga penerbangan dari Jakarta ke Paris kemudian pulang lewat Milan. Ternyata harganya juga tak mahal-mahal amat. Dibanding penerbangan ekonomi ke Afrika yang sudah pasti lebih dari 20-an, mendapati harga penerbangan di bawah 15 juta membuat saya bersemangat kembali untuk tidak sekedar berkhayal.

Hanya butuh niat yang matang, fokus pada tujuan, bekerja, dan biarkan khayalan-khayalan tadi mencari jalannya sendiri. Jis, wujudkan!

***

Just when you think the road is going nowhere
Just when you almost gave up on your dreams
They take you by the hand and show you that you can

You can go higher, you can go deeper
There are no boundaries above and beneath you
Break every rule ’cause there’s nothing between you and your dreams

Kris Allen – No Boundaries

P.S. Barangkali dari Anda ada yang berkhayal mau berkelana kemana gitu, negara mana yang ingin sekali dikunjungi, bisa meninggalkan khayalan Anda di kolom komentar. Siapa tahu, tahun depan kita bisa bertemu di Paris? ;) Oh iya, beberapa hari yang lalu Atre, teman baik yang tulisannya selalu berhasil membuat saya terpesona, menulis artikel ini. Mampir ya guys! ;))

See You Again

SeeYouAgain1a

Lima minggu lalu di hari dan waktu yang sama, saya masih berada di dalam pesawat menuju benua yang masih saja keras bernama Afrika. Meninggalkan rumah untuk hidup dan bekerja di negara yang sudah seperti rumah kedua. Tentu saja, merelakan sisa-sisa rindu pada orang tua dan keluarga, sahabat, dan rindu pada Indonesia tidak akan pernah mudah meski saya sudah melewatinya lima kali. Sebulan di Indonesia masih saja terasa seperti seminggu saking cepatnya.

Kali ini saya tak akan menuliskan cerita-cerita cengeng tanda kangen pada Indonesia, melainkan rasa syukur pada kesempatan bertemu dan merayakan persahabatan dengan sahabat-sahabat baik tahun ini. It took me so long compiling the contents of this post, fiuh!

***

SeeYouAgain1

Pertemuan pertama dengan sahabat-sahabat baik beberapa hari setelah saya tiba di Indonesia, terjadi bersama Anjar dan Widya. Saat mereka berdua bersama Fahmi tahu tahun ini saya pulang beberapa hari sebelum hari raya, kami merencanakan untuk berbuka bersama. Seingat saya, dua kali sudah saya pulang sesaat sebelum lebaran tapi kami tak pernah sekalipun berbuka di luar. Memang buka bersama kami tidak semeriah seperti yang seharusnya karena hanya dihadiri saya, Anjar beserta suami dan kedua anaknya, dan Widya yang datang hanya berdua dengan putrinya, minus Fahmi. Beberapa sahabat-sahabat lain yang saat itu memberi sinyal akan datang tak kunjung memberi kabar. Tapi saya tak kecewa sedikit pun karena justru melepas rindu dengan beberapa orang yang sadar akan pentingnya pertemuan jauh lebih penting daripada sekedar memikirkan kenapa mereka tak jadi datang ;). 

SeeYouAgain1b

Sore itu saya bahagia bukan hanya karena bisa berbagi canda tawa dengan Anjar, Widya dan keluarga kecil mereka. Hari itu Fahmi akhirnya resmi menjadi seorang Ayah. Tak ada kabar yang lebih membahagiakan selain mendapati sahabat sebaik Fahmi dikaruniai seorang bayi perempuan yang menggenapkan hidupnya. 

***

SeeYouAgain2

Saat pulang kemarin, menghabiskan malam di rumah Ayos dan Winda adalah salah satu momen terbaik. Berawal dari rencana makan malam di luar kemudian muncul ide cemerlang dari Winda untuk berkumpul disana sekalian berbuka bersama. Ide sederhananya adalah membawa masakan dari rumah dan menikmatinya bersama. Saya pun mengajak Rifda untuk bergabung dengan Grup Sogeh, menggantikan posisi Maya sementara ;P.

Winda dan Ayos yang baru pulang kerja, Ruli yang sore itu masih berada di luar kota, dan saya yang datang dari Surabaya Utara sepakat bertemu pukul tujuh. Saya sampai tepat pukul tujuh, tak lama Rifda yang tinggal di Sidoarjo akhirnya tiba juga. Saya disambut Ayos dengan tamu misterius yang Winda sebut di percakapan kami sebelumnya. Ealah, tamu misteriusnya adalah Khumaidi ;P, teman kuliah kami di Despro dulu.

SeeYouAgain2b

Saya datang membawa dua masakan ibu dan kakak berupa tumpukan martabak, urap-urap, dan satu mangkok besar cumi hitam. Martabak racikan kakak saya ada dua jenis, satu berisi bihun berbumbu dan martabak daging sejenis alimun, keduanya rekues dari Ruli yang saya imingi-imingi sejak setahun yang lalu. Sedang Rifda datang membawa rendang hasil olahannya sendiri. Fat everywhere ya. Oh ya, saya membawa sayur mentah untuk mengimbangi menu kami. Tadinya hanya ingin saya tumis sederhana tapi akhirnya Winda dan saya malas meracik bumbu ;|. Setelah semua siap, kami semua duduk manis dan langsung menyerbu makanan lezat itu. Menunggu Ruli yang masih di jalan membuat kami memutuskan berbuka lebih dulu. Toh, martabaknya masih setumpuk. Tak lama akhirnya Ruli datang dan langsung menyerbu martabak sembari nimbrung bersama kami yang sibuk bertukar cerita. Entah kenapa, setiap bertemu cerita-cerita jaman dulu saat masih kuliah selalu membubui pertemuan kami.

Tak terasa saja jarum jam melewati angka sebelas, Rifda dan suaminya pamit sedang Khumaidi sepertinya masih betah nimbrung dengan Ayos bahkan saat saya dan Ruli pamit. Suasana bahagia malam itu berarti banyak buat saya. Menyadari kesempatan setiap tahun dengan sahabat-sahabat seperti mereka seakan menandakan kami akan bersahabat dalam jangka waktu yang lama, amin :).

***

SeeYouAgain3

Bertemu dengan sahabat yang super cheeky ini selalu menyenangkan. Apalagi, tahun ini saya berkesempatan bertemu dengan si mungil Brian yang lucu dan menggemaskan (you can even see overloaded cuteness on his face below ;)). Spending quality time for almost two and half hours dengan Yuriko, Deysi dan Brian was unreal. Ada dual hal yang saya hargai dari pertemuan hari itu. Pertama, I did realise one thing, Yuriko is a kind one. Saya menghargai bagaimana ia meluangkan waktu untuk bertemu saya yang hanya memiliki puluhan hari di Indonesia setiap tahun. Meski kami sering menghabiskan beberapa menit dengan obrolan super bodoh di WhatsApp hampir setiap hari, bagi saya bertemu langsung adalah perayaan persahabatan yang sesungguhnya. Dan saya pun bersyukur memiliki Yuriko sebagai sahabat yang mampu menjaga persahabatan hingga hari ini.

Kedua, birthday gift darinya seolah menegaskan hal yang sama, Yuriko is a kind humanI never look at the gift itself, the meaning behind it is more precious for me as always :). Saya berharap pertemuan siang itu jauh lebih lama, tapi saya bersyukur bukan main karena paling tidak saya mendapati Sinyo (begitu saya biasa memanggil Yuriko) dan keluarga kecilnya dalam keadaan sehat dan tak kurang suatu apapun. It was a beautiful aftenoon, indeed.

SeeYouAgain3b

Saya tak biasa membagi cheesy-photograph di blog ini apalagi sebuah selfie. Tapi kali ini, I just couldn’t resist for this photograph of us. Bagaimana bisa melewatkan ekspresi Brian selucu ini? :). Saya kira, kenangan dalam foto ini akan terus ada sampai kapanpun.

SeeYouAgain4

***

I always prefer to meet with bunch of good friends in one place, anytime. Alasannya tentu karena jauh lebih seru dan efisien di waktu. Adalah Putri, yang mengajak saya di instagram milik Atre saat tahu setelah lebaran ia akan mengunjungi Surabaya bersama Giri. Dan kebetulan disaat yang sama, Putri dan keluarga kecilnya sedang di Surabaya. Accidentally perfect timing kan? Sambil menyelam minum air, pikir saya.

Sebelumnya, saya dan Putri saling ngobrol lewat Whatsapp memilih tempat dimana kami akan bertemu. Setelah memiliki beberapa pilihan pada coffee shops yang sedang in di Surabaya (tentu untuk photography-purpose! ;)), Putri menghubungi beberapa diantaranya untuk memastikan buka atau tidak. Maklum, hari itu masih dalam suasana libur setelah lebaran. Sayang sekali beberapa coffee shops yang kami incar masih tutup, padahal jika dilihat dari postingan instagram tempatnya lucu-lucu. Pada akhirnya kami sepakat bertemu di The Champion atas rekomendasi Atre yang nampak lebih update dari saya dan Putri, haha. Venue bukan hal terpenting kan? yang penting kami bisa bertemu dalam formasi lengkap. Dimana saja ayo, asal ada natural light, iya kan Put? Tre? ;).

Saya masih ingat nikmatnya mengendari motor di jalanan Surabaya yang lengang sore-sore selepas Ashar. Saat sinar mentari masih terang nan hangat. Setengah jam dari rumah, akhirnya saya melihat Atre dan Giri tiba beberapa detik sebelum saya. Saya menyapa Atre yang datang dengan outfit-nya yang Atre sekali, dan Giri yang nampak lebih casual-preppy dibanding dulu. Tak lama setelah kami bertiga, Putri tiba bersama mas Dian dan Arsya.

SeeYouAgain5a

Mengobrol santai dengan Putri dan mas Dian tentang Arsya, serta berbagi cerita dan pengalaman dari Atre dan Giri adalah kesempatan yang luar biasa. Meski hanya ditemani beberapa cangkir taro latte dan minuman lain yang rasanya mengecewakan, bahkan tak ada satu pun dessert yang tertampang di cooler, namun natural light yang saya rekues kepada Putri dari awal membuat foto-foto yang kami tangkap dari kamera masing-masing mampu mengabadikan dengan jelas betapa silaturahmi dengan teman-teman baik yang menginspirasi, sudah seharusnya dijadikan momen tahunan. Saya akan bercerita tentang Giri lebih jauh di blog ini sometimes kenapa ia menjadi salah satu sahabat baik yang menginspirasi. Oh, saya pun baru sadar kalau Giri ini pemalu jika difoto ;P.

SeeYouAgain5

SeeYouAgain6

Jujur saja, saya tak memiliki banyak harapan bertemu Putri kembali tahun ini. Karena biasanya akan sedikit sulit bertemu dengan seorang ibu muda yang sedang menikmati masa tumbuh kembang putra pertamanya. Apalagi suaminya, mas Dian, bekerja dan tinggal di Sumba. But then, I was beyond happy karena akhirnya bisa bertemu Putri lagi setelah dua tahun yang lalu. Apalagi kali ini bersama Arsya, putranya yang mewarisi pipi cempluk-nya Putri, ia lucu sekali :). How I loved to see apa yang dipakai Arsya nampak serasi dengan ayahnya hari itu :).

***

SeeYouAgain7

Siang saat saya bertemu dengan Atre dan Giri untuk kedua kalinya sehari setelah bertemu dengan Putri, Rifda mengabari sedang berada di mall yang sama bersama suaminya. Selepas dhuhur, Atre dan Giri pamit untuk urusan lain then I met with Rifda. Senang rasanya karena bisa berkumpul dengan Sohib bersama Rifda dan suaminya. Apalagi, mas Andhi bergabung tak lama setelah kami berempat bertemu. Like what I said on this post, I always feel happy everytime I link my best friend to another best friend. Dan nampaknya Rifda menikmati sekali pertemuan keduanya dengan mas Andhi setelah tahun lalu kami bertemu di mall yang sama dengan Ruli (masih ingatkah Rifda? ;)).

SeeYouAgain7b

Berbincang santai dengan suami Rifda yang pernah tinggal dan menempuh pendidikan di Hawaii (iya Hawaii!!) selama lima belas tahun, mas Andhi yang berbagi cerita akan pengalaman-pengalamannya menangani beberapa event internasional, hingga hal-hal yang ingin kami capai beberapa tahun ke depan mengisi pertemuan siang itu. Time flew too fast that day as I wished we had a longer time but then, there was nothing I asked for more selain kesempatan sederhana bersama sahabat-sahabat seperti mereka. Berbagi cerita hidup serta merajut mimpi-mimpi baru ke depan, dan mengamini bersama. Rifda, jaga kesehatan baik-baik ya, hingga beberapa bulan lagi malaikat kecilmu lahir ke dunia ;).

***

SeeYouAgain8

Jujur saja, penyesalan kecil sempat singgah saat saya sadar tidak memiliki cukup waktu bersama Fahmi tahun ini. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, saat kami memiliki banyak waktu merayakan persahabatan dengan sederhana. Dari sekedar mencari angin, menikmati kopi Minggu pagi, nonton film terbaru, sampai berbagi cerita hingga larut malam. How I missed those moments, Mi. Tapi dilain sisi, saya bahagia melihat Fahmi dengan kesibukan barunya sebagai seorang ayah. Sore sesaat sebelum saya berbuka bersama Anjar dan Widya, Fahmi memberi kabar bahwa istrinya melahirkan seorang bayi perempuan. Saya pun tak bisa menyembunyikan perasaan bahagia saat Fahmi, sahabat yang saya kenal tiga belas tahun yang lalu, akhirnya melengkapi perannya sebagai seorang imam, seorang lelaki. Melalui telepon, saya hanya bisa menyematkan pesan sederhana agar senantiasa menjaga kesempatan yang Allah berikan padanya dengan menjadi suami yang baik, dan seorang ayah yang bertanggung jawab.

Tepat sehari sebelum lebaran, saya bertemu Fahmi di rumahnya. Sore itu ia sedang sibuk memilah baju istrinya untuk kemudian dibawa ke rumah mertua. Kami hanya sempat berbagi cerita sebentar lalu pergi bersama. Setiba di rumah mertuanya, saya mendapati seorang bayi perempuan berusia tiga hari yang tidur dengan pulas. Cantik sekali. Saya belum bisa mereka mirip ibu atau ayahnya tapi saya sempat tersenyum sembari bergumam dalam hati ; kini, Fahmi benar-benar menjadi seorang ayah.

Sore mengantarkan saya berbuka bersama Fahmi, istri dan mertuanya. Dengan teh manis hangat, brownies kukus, serta beberapa potong tahu goreng lengkap dengan petis. Sederhana namun indah luar biasa. Saya menikmati setiap detik momen itu karena saya tahu, hari-hari berikutnya tak akan mudah mengajak Fahmi pergi bahkan hanya sekedar makan di luar.

Selepas membatalkan puasa, kami pergi ke masjid terdekat di perumahan sebelah. Suasana hari terakhir Ramadhan sore itu kembali mengingatkan saya untuk bersyukur pada satu hal. Mendapati sahabat baik dalam keadaan sehat dan bahagia, dan memiliki kesempatan bertemu dengannya meski hanya beberapa jam saja, itu rejeki indah yang tak kasat mata. 

***

SeeYouAgain9

Seperti mimpi bisa bertemu dengan mas Andhi untuk kedua kalinya di Indonesia. Tahun lalu, kami menghabiskan lima hari di Bali bersama Sohib, mengitari Seminyak, Ubud, Denpasar hingga hampir tertinggal pesawat di bandara. Tahun ini, saya bersyukur bisa bertemu dengan salah seorang yang berjasa banyak mengajari saya tentang kehidupan. Yang saya anggap bukan lagi sahabat baik tapi sudah seperti kakak saya sendiri. Di tengah kesibukannya dengan proyek-proyek interiornya, kami masih sempat berburu kuliner Surabaya beberapa kali. Best friend-talk, coffee time tentu, nongkrong, yang semuanya saya rindukan sekarang.

Selain berkunjung ke rumahnya yang artistik dan mendapati dua kucing lucu, tahun ini saya sempat mampir ke rumah orang tuanya lagi. Sesaat sebelum pertemuan dengannya dan mbak Susan, diam-diam saya berkunjung kesana. Mendapati orang tua dalam keadaan sehat wal afiat itu luar biasa ya. Pun seperti biasa, mendengar nasihat-nasihat yang diberikan beliau setiap kali saya kesana seperti mendengar nasihat orang tua saya sendiri :). Benar-benar syukur tiada tara.

SeeYouAgain9b

Saya pikir saya harus menulis tentang mas Andhi di blog ini, di lain kesempatan ;).

***

SeeYouAgain10

Tahun ini kali kedua saya bertemu dengan Mbak Ririn, perempuan luar biasa yang sudah seperti kakak bagi saya, Ruli, Maya, Ayos, Winda, Atre, Giri dan bahkan (mungkin) bagi semua yang mengenalnya. Saat tahu saya harus menginap semalam di Jakarta sembari menunggu proses perpanjangan visa kerja selesai, saya menghubungi mbak Ririn lewat Path. Saya tak mengharapkan apa-apa selain sebuah kesempatan bertemu dengannya lagi. Tak lama setelah postingan saya di Path, mbak Ririn membalas mau dijemput dimana. Sebentar, siang itu saya tak menyangka mbak Ririn memiliki waktu luang di tengah kesibukan yang tak biasa dari profesinya sebagai seorang copy-writer di salah satu agensi di ibukota. I was lucky enough, tho.

Sore itu, setelah kembali dari kedutaan di daerah Kuningan, melewati jalanan ibukota dengan bajaj dan ojek (I enjoyed those vehicles!) akhirnya saya tiba di hotel untuk istirahat sejenak. Tak lama, akhirnya saya bertemu kembali dengan Maya di Jakarta. Saat Maya pulang dari kantornya yang tak jauh dari hotel (saat itu pukul setengah sepuluh malam), kita langsung melaju ke Koi Kemang untuk bertemu dengan mbak Ririn yang tiba lebih dulu disana. Seperti biasa, mbak Ririn selalu welcome sama seperti pertama kali kita bertemu setahun lalu.

SeeYouAgain10b

Di Koi Kemang, kami makan malam diselingi cerita masing-masing yang sesekali membuat Maya tertawa terbahak-bahak. Mbak Ririn yang tahu sekali bagaimana saya bisa sangat norak jika melihat platting makanan yang bagus, pencahayaan dan interior sekitar yang mendukung, mempersilahkan saya memindah makanan kami ke meja sebelah. It was embarrasing but I didn’t even care, haha!. I really wished we had a longer time for stories and laughters karena malam itu waktu benar-benar terasa cepat. Tiba-tiba saja jarum jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam dan kami mulai meninggalkan tempat. Tentunya sesi foto tak mungkin terlewatkan. Kebaikan mbak Ririn malam itu diperlengkap dengan tumpangan Uber gratis untuk Maya dan saya (saya pun baru tahu apa itu Uber malam itu, norak ya ;)).

Sekali lagi, saya tidak biasa membagi cheesy-photograph semacam selfie, tapi ini sebuah pengecualian untuk sebuah momen dengan orang-orang baik dan tulus yang (pastinya) harus diabadikan lewat sebuah foto :).

SeeYouAgain11

***

SeeYouAgain12

Tak dinyana tahun ini saya berkesempatan bertemu kembali dengan Valentino (tepat di sebelah saya), Septian (dia duduk di samping Heyni), Doni (sebelah Septian), dan Heyni (tentu yang berkerudung ;P, yang datang bersama suami dan putranya). Kami berteman baik saat sama-sama menempuh pendidikan di SMP 4 Surabaya. Adalah Septian yang mengabari untuk menyempatkan bertemu mumpung saya di Indonesia dan Valentino tidak sedang di Belanda. Septian mengabari saya yang berada di dalam bis Damri menuju bandara Soekarno-Hatta setelah selesai memperpanjang visa. Ajakan yang cukup mendadak namun saya iyakan saja. Saat itu saya masih sibuk mondar-mandir kesana-kemari, tapi I said yes karena tidak bertemu selama tiga belas tahun? I thought it would be an interesting evening.

Pertemuan kami cukup singkat tapi menyenangkan bisa mendengarkan cerita hidup masing-masing. Time flies too fast, indeed. Mendapati seorang Valentino yang sehari-harinya menjadi dosen di salah satu PTS di Surabaya, Septian yang sibuk sebagai staf admin pajak, Doni yang sedang menikmati detik-detik menjadi seorang ayah, hingga Heyni yang nampak seperti ibu-ibu muda kebanyakan yang tidak memiliki banyak waktu berkumpul di luar, it was incredible. I did wish we had longer time to share about our lifes, tapi setidaknya tali silaturhmi terjalin kembali malam itu. Dalam perjalanan pulang, sembari menikmati suasana malam kota Surabaya, saya seperti dicubit lagi untuk memikirkan pendidikan. Iya, pendidikan. Setelah tahu Valentino sebentar lagi akan merampungkan S3-nya, saya seperti disadarkan kembali untuk berpikir kapan kiranya saya siap meng-upgrade diri dengan pendidikan yang lebih tinggi. Well, as always I believe a big thing will happen at the right time. Suatu hari saat saya siap kembali untuk menempuh pendidikan, saya akan melalui kesempatan itu perfectly. Saat ini, biarlah saya fokus menempuh pelajaran pada kehidupan ;).

***

SeeYouAgain13

Malam sebelum liburan pendek ke Singapura saya bertemu Ayos dan Winda untuk kedua kalinya di sebuah restoran sushi. Malam itu Ruli tak bisa hadir karena masih di luar kota. Meski tanpa Ruli we really had fun. Cerita macam-macam hingga tak terasa mall tempat restoran itu berada lengang sekali.

Menjelang keberangkatan saya, kami menyempatkan bertemu untuk makan malam bersama lagi. Saat itu kami bersama Ruli ingin menikmati steaks. Meski Grup Sogeh ada yang kurang, yakni kehadiran Maya, tapi sekali lagi we really had a fun dinner. Tadinya saya berharap tahun ini Maya bisa mengunjungi Surabaya seperti tahun lalu. Tapi apa daya, menikmati yang ada jauh lebih penting dari sekedar berandai yang tak nyata, bukan?. Meski tanpa Maya, tapi Maya serasa hadir di meja kami lewat cerita-cerita yang saya bawa saat kami berdua berlibur bersama di Singapura. Hal pertama yang Winda tanyakan sesaat setelah saya tiba adalah keseruan perjalanan kami. Ayos yang tak kalah curious pun bertanya hal serupa. Ruli yang datang setelahnya tak kalah semangat dalam percakapan kami tentang Maya. Cerita tentang keseruan perjalanan kami berdua di negeri singa itu menjadi perbincangan malam yang tak habis-habis.

SeeYouAgain14

Saat sadar kami berempat menjadi pengujung terakhir sebelum restoran tutup, saya menyempatkan meminta bantuan salah satu pramusaji untuk mengabadikan kami berempat dalam bingkai kehangatan sebuah persahabatan ;).

SeeYouAgain14b

***

SeeYouAgain15

Jika ada seseorang yang galau luar biasa saat tahu waktu saya di Indonesia tinggal hitungan hari, orang itu adalah mbak Ika. Ia sempat tak henti mengutarakan kekecewaannya saat suaminya, mas Dwi, sudah jarang mau diajak pergi ke Surabaya. Sudah setahun lebih mereka pindah dari Surabaya ke kota kecil yang lebih dekat dengan tempat suaminya bekerja, yang tentu lebih nyaman dan tentram untuk keluarga kecilnya.

Saya masih ingat, siang itu saya masih sibuk mengurusi beberapa hal yang memaksa saya harus bolak-balik Surabaya-Sidoarjo. Layar iPhone saya dipenuhi dengan rentetan percakapan dati mbak Ika yang intinya menanyakan kapan saya akan meninggalkan Indonesia lagi. Saya membalas dengan pesan pendek sekaligus menanyakan alamat rumahnya. Saya pikir, oleh-oleh yang saya bawa lebih baik saya kirim via pos karena sepertinya tahun ini kami tak bisa bertemu seperti tahun-tahun sebelumnya. Pertemuan yang selalu terjadi setiap saya pulang ke Indonesia, yang tak sekalipun terlewatkan setiap tahun sejak saya pergi lima tahun lalu. Membaca pesan saya membuat mbak Ika sedih luar biasa. Ia tak percaya tahun ini kita harus rela melepas rindu hanya lewat telepon. Namun tak lama setelah itu, ia menelepon via Line.

To the point saya menanyakan kembali kemana coklat dan magnet-magnet hasil tangkapan di bandara Abu Dhabi itu harus saya kirim. Saya selalu mengajarkan satu hal pada diri sendiri setiap kali pulang kampung ; tak masalah jika tak bisa bertemu semua orang-orang baik yang saya sayangi karena waktu yang selalu saja terasa singkat selama di Indonesia. Apapun bentuk silaturahmi itu cukup menandakan persahabatan saya dengan sahabat-sahabat baik itu benar adanya. Itu saja. Percakapan kami siang itu berujung dengan keputusan mbak Ika yang cukup berani. Ia akan pergi ke Surabaya sendiri esok hari tanpa sepengetahuan suami. Ternyata kegalauan mbak Ika sudah mencapai titik jenuhnya, haha. Akhirnya kami sepakat untuk bertemu keesokan harinya.

Pagi sekitar pukul sepuluh, saya menjemput mbak Ika di depan KBS (yaelah, ketemuan di depan kebun binatang ;P). Tanpa basa-basi kami langsung menuju salah satu coffee shop baru yang letaknya tak jauh dari kantor kami dulu. Saya tak ingin membuang waktu karena mbak Ika hanya memiliki waktu sampai pukul dua siang, tepat setelah anak-anaknya pulang sekolah. Duduk di coffee shop yang masih lengang pengunjung, dengan dua cangkir latte dan dua potong kue, kami melepas rindu. Bercerita banyak hal selama sebelas bulan tak bertemu. Tiba-tiba saya merindukan momen sesederhana itu. Pagi-pagi di akhir pekan, duduk ditemani kopi sembari bercerita banyak hal dengan sahabat.

Di coffee shop itu, saya menunjukkan pada mbak Ika bagaimana tingkah laku anak-anak muda jaman sekarang, yang sibuk dengan secangkir kopi saja dan tak pernah lelah pindah posisi untuk mendapatkan banyak gambar lewat ponselnya. Benar saja, seorang anak muda yang datang dengan (mungkin) ayahnya pagi itu sampai rela membawa tripod untuk iPhone. Memindah latte yang sudah hancur latte-art di cangkirnya, memindahkannya ke meja yang kejatuhan cahaya mentari, duduk berpose dengan buku di tangannya seakan-akan ia sedang mambaca, dan menyalakan timer hingga beberapa kali. Mbak Ika tertawa sembunyi-sembunyi, setelah ia pikir hanya saya yang sibuk mengambil gambar taro dan green tea latte yang kami pesan sebelum akhirnya diminum.

SeeYouAgain15b

Lepas pukul dua belas siang, kami pindah ke kedai mei ayam yang letaknya hanya beberapa meter dari coffee shop tadi. Kami memesan dua porsi mie ayam untuk memuaskan perut yang mulai keroncongan sembari melanjutkan cerita-cerita yang belum kelar.

SeeYouAgain15

Selepas makan siang saya mengajak mbak Ika untuk mampir bertemu dengan Sohib. Sekalian kan, mumpung di Surabaya hehe. Mbak Ika sempat tertenggun melihat beberapa bangunan baru yang mulai menjulang di langit Surabaya. Sepertinya ia lupa-lupa ingat melihat kemajuan Surabaya (belum juga tinggal di luar lo mbak, haha ;P). Sohib nampak senang bisa bertemu kembali dengan mbak Ika, saya pun juga. Menghargai bagaimana nekatnya ia keluar rumah bahkan tanpa pamit hanya sekedar melepas rindu dan menjaga tali persahabatan agar tetap kuat dan kencang. Lain kali, ijin suami dulu ya mbak! biar afdol ketemuannya ;).

Siang yang singkat itu kami akhiri dengan, tarraaaa, lagi-lagi iPhone-selfie muncul di postingan ini ;P.

***

SeeYouAgain16

Saya selalu menghindari sebisa mungkin dengan apa yang disebut pertemuan last minute. Selalu saya coba setiap tahun namun terus saja gagal. Ada saja sahabat yang hanya bisa saya temui di akhir menjelang keberangkatan kembali ke Afrika. Begitu pun saat saya memutuskan untuk menemui Edwin di suatu siang yang terik.

Sejak Edwin merintis usahanya di bidang kuliner, ia nampak lebih sulit pergi keluar. Maka, menyempatkan waktu bertemu dengannya ada di daftar saya tahun ini. Jika tahun lalu saya bertemu dengan Edwin dan Yuriko di waktu dan tempat yang sama, tahun ini berbeda. Siang itu, kami berdua menghabiskan tiga jam di suatu kedai kopi dengan cerita-cerita garing yang selalu jadi bahan lelucon di Line kami plus khotbah-khotbah Edwin yang mau tak mau harus saya dengarkan ;P. Seperti pertemuan saya dengan sahabat-sahabat lain, I wish I had more chances menghabiskan waktu dengan Edwin seperti tahun pertama saat saya dan Rifda berkunjung ke rumah kakaknya. Menghabiskan enam jam yang bermakna untuk merekatkan persahabatan kami. But then, there is nothing I could ask for more karena sependek apapun pertemuan yang saya miliki tahun ini, semunya layak untuk disyukuri.

SeeYouAgain17b

If ya’all are reader of this blog, you’ll know how I love taking picture dan saya tak mungkin mengakhiri sebuah pertemuan tanpa foto. Merayu Edwin untuk berpose demi kebutuhan instagram siang itu gampang-gampang susah, mungkin karena ia merasa kelewat tampan ;P. Tapi eh tapi, setelah satu dua kali take, koko satu ini malah ribet setengah mati memastikan hasil fotonya sempurna ;|. Tadinya tak mau difoto eh ujung-ujungnya malah ada delapan belas frames sendiri di iPhone saya, hahaha. Win, Win ;P.

***

SeeYouAgain18

Sehari setelah menghabiskan suatu siang dengan mbak Susan dan mas Andhi, Ayah saya sempat bertanya seperti ini ; “Kamu sudah bertemu dengan orang yang berjasa memberimu jalan ke Afrika?, Orang-orang seperti itu jangan sampai dilupakan”. Saya tak menjawab apa-apa pada beliau, tapi saya tersenyum dalam hati because I did it. Semalam sebelumnya, saya menanyakan dimana kami akan bertemu pada mbak Susan. Ia menjawab pertanyaan saya dengan jawaban yang agak janggal. Akhir-akhir ini ia selalu pusing tiap kali masuk mall. Ternyata sebabnya karena kabar gembira, she’s pregnant, that was beautiful news :). Saya segera mengabari mas Andhi, yang tak lain sahabat dekatnya selama kuliah dulu. He was so happy just like me.

SeeYouAgain18b

Seperti mimpi rasanya bisa bertemu dengan mbak Susan dan mas Andhi di gedung Desain Produk ITS, almamater kami bertiga. Makan siang bersama, menikmati percakapan di bawah rerimbunan pohon, angin semilir, semua hal sederhana itu bermakna dalam sekali. Meski pertemuan kami terjadi dua hari sebelum saya kembali terbang ke Afrika, it was last-minute, tapi saya bahagia mendapati mbak Susan sehat-sehat saja. I know it shouldn’t be like that karena sudah seharusnya saya mendahulukan orang-orang yang berjasa dalam hidup saya setiap kali pulang. Tapi tak ada satu hal pun yang patut disesali karena sejatinya, pertemuan di Jumat siang yang damai itu mengajarkan saya satu pelajaran hidup lagi ; bersyukurlah karena kita dikelilingi orang-orang baik yang tulus, yang tidak mengharapkan apa-apa saat kita berhasil. Yang justru bahagia melihat kita mampu hidup lebih baik. And for me, two of them are precious, they are more than best friends.

***

SeeYouAgain17

When somebody decided to come to accompany you in the middle of the night at the international airport, shared laughters and stories even just for two and half hours before you left your country again, for me it touched. Ketulusan sekecil apapun sudah seharusnya dihargai, diingat, dan disimpan. Apa yang Maya lakukan malam itu meninggalkan kesan persahabatan yang lebih dalam.

Tahun ini agak berbeda, saya tak menginap semalam di Jakarta sebelum terbang lagi ke Afrika seperti tahun-tahun sebelumnya. Waktu dan uang saku adalah alasannya disamping jadwal pesawat yang berbeda dari biasanya. Penerbangan Minggu pagi pukul setengah delapan membuat saya memutuskan untuk tinggal di bandara beberapa jam setelah terbang dari Surabaya. Saya sampai pukul 00.15 dini hari dan melenggang santai di Soetta. Setelah mendapati semua koper lengkap di troli, saya mencari tempat paling nyaman di dekat pintu masuk agar lebih memudahkan saat check-in nanti. Toh konter Emirates dibuka pukul lima pagi. Saya duduk dan sesekali mengangguk-angguk karena ngantuk. Saya terbangun setelah menerima telepon dari Maya yang menanyakan saya sedang dimana. Sebentar, Maya benar-benar ke bandara ;P (mungkin ia lelah disindir Ruli dan saya di grup kami sebagai ratu PHP, mungkin ;P). Tawa khas Maya yang terdengar dari kejauhan menghapus rasa ngantuk pagi itu.

Hari itu Ruli juga tiba di Jakarta dari Surabaya. Last flight namun beda maskapai membuat kami tak bisa bertemu. Seharusnya pagi itu kesempatan yang baik untuk sekedar meluangkan waktu, berbagi cerita dan tawa bertiga bersama Maya. Sayang Ruli yang sudah terlalu capek dengan rentetan acara luar kotanya saat itu memilih untuk langsung istirahat di rumah dinas orang tuanya. Tapi itu tak mengurangi keseruan saya bersama Maya.

Maya masih seperti dulu, seperti saat ia dan Winda menemui saya di bandara tahun pertama saya pergi ke Afrika. Masih tak peduli dengan sekitar jika mendapati cerita-cerita lucu yang membuatnya tertawa terbahak-bahak. Begitu pulu kemarin. Saya dan Maya seakan tak peduli dengan bule-bule di sekitar kami, atau siapapun yang ada disana dan terus berbagi lelucon pun cerita-cerita yang tak pernah habis. Kami memutuskan mencari kedai apa saja yang masih buka sambil menunggu waktu check-in. Hanya ada satu kedai yang masih buka. Kami langsung mencari tempat duduk setelah memesan kopi, teh panas dan toast bread. Disana kami kembali berbagi cerita tentang beberapa hal yang mengganjal di pekerjaan kami masing-masing. Rasa roti bakar yang standar sekali tak membuat pertemuan kami terasa hambar karena bagi saya berbagi tawa dengan Maya selalu menyenangkan.

SeeYouAgain19b

Semula kami ingin meminta bantuan orang lain untuk mengambil foto kami berdua, tapi ternyata kenorakan selfie lewat iPhone kadang menyenangkan juga. Coba perhatikan foto diatas, Maya malah sibuk selfie-sukaesih sendiri saat saya ajak selfie bersama, sigh! ;|.

SeeYouAgain18

Ini benar sudah lima minggu saya pergi dari Indonesia? Gila ya, waktu bener-benar berjalan teramat cepat. Till’ we meet again guys ;).

Cherries Play II

It took me so long to write something about best friends in Bahasa. Once I had a will to write, I stopped. No words fitted on the sentences, too bad. Instead, I want to share some accidental shots last Sunday when I came back from grocery shopping in the afternoon and brought some cakes home. When I found cherry in the store even the price was higher because US Dollars is strong right now, I took it home as a gift for myself.

I didn’t even have an idea to snap them before I enjoyed later, then this happened. Sony NEX-5 versus iPhone 6. The iPhone 6 are those last three pictures below. I did a photograph of cherries before, in case you’re interested to compare it with this post ;).

CherryPlayII-1

CherryPlayII-2

CherryPlayII-3

CherryPlayII-4

CherryPlayII-5

CherryPlayII-6

I didn’t count how many times I played this catchy song on iTunes (even I love more by watching the video, looooovely visuals on the clip!). I enjoy different music genres, from this old Dangdut song, one from Robbie Williams, until this version from Nathan Hartono. Cinematography from this v clip is beautiful, love those wild animals on the scenes!

Well, good night peeps!

Flower Dome

Phew, I know I jumped anyhow to this post yet can’t resist to share beauties and colors here to pop-in a bit!

I have mentioned before to you guys to not to be boring with late post here cause I have a quite many photographs from my quick jaunt to Singapore. And right here, flowers and flowers from Flower Dome, Gardens by Bay will brighten up this blog.

On my last day, I tried to enjoy a sunny Sunday morning in Singapore. I really really enjoyed a moment I walked from my hotel, entered the MRT to Bayfront station and finally walked towards the park even though the weather was so hot and humid. After walked around the park where the Supertree Grove located, I bought double tickets to Flower Dome and Cloud Forest (I’ll post some photographs I took at Cloud Forest, it could be too long if I post it together :)). By the time I entered Flower Dome, I was quite pleased by seeing different flowers and plants from the Mediterranean and semi-arid subtropical regions. I first enjoyed the flowers and captured with my iPhone only but then, when I realised that natural light everywhere, some beautiful shadows and close-up view of beautiful flowers, I brought out my mirror-less and captured them.

From all of these pictures here, my favourite one is those flowers that look like Delphinium! How I love the back light gives soft yet dramatic ambiance on the photograph :).

FlowerDome1

FlowerDome2

FlowerDome3

FlowerDome4

FlowerDome5

FlowerDome6

FlowerDome6b

FlowerDome7

There is one thing I realized about photographs on this post that, no matter what your gear is, I mean your camera, it is you that control everything. Your creativity. I remember what Alice Gao (again, haha) ever said that “It doesn’t matter what other people around you are shooting; shoot for yourself and don’t worry so much about having the fanciest gear. Someone once said the best camera is the one that’s with you” (read more her interview here). I agree! haha, all photographs here was taken with my Sony NEX-5, only the last one below was taken with an iPhone 6.

I would say that I’m still dreaming for a professional camera with those first quality lenses to support my indulgence in photography in the future ;).

FlowerDome8

FlowerDome9

FlowerDome10

FlowerDome11

FlowerDome12

FlowerDome13

FlowerDome14

Capturing flowers reminds me of this post when I was mesmerised with peonies from the first time, two years ago!

Good Times

We all have our definition of a good time. Having a best friends-talk with coffee is my version of what is a good time or, an opportunity enjoying delicious food with my family. On this post, I’d compiled some good times I had when I was really, really enjoyed quality times with my best friends. Reminiscing those moments makes me realize that life is how we should enjoy every precious time with everyone we loved, and let it be a good time.

Many coffee-scenes on our table via iPhone 6 on this post! Let’s start! :)

A | First one was a coffee-scene when I landed in Abu Dhabi airport. A good time I had was simply amazing there, just after I flew 8 hours from here. Ah, annual leave is always a very very good time. I remember I traveled on fasting month when I left by 9 am from this country and landed just after iftar time in Abu Dhabi. It’s mean I was still fasting on the plane so I didn’t take my meal :). I always enjoy my flight-meal every time I travel back home yet that time I still had good time while I had nothing in my tummy. Yep, my excitement for another 8 hours to Indonesia was the reason. When I landed in Abu Dhabi airport which is smaller than Dubai and less confusing, I took a simply light food for my iftar. Just a cup of hot cappuccino and panna cota while I was waiting for my next flight (I kept it light cause I always worry if I have to use airplane restroom for a long in international flight).

GoodTimes1

GoodTimes2

B | Second, a good time with my childhood best friend, Sohib. We had a good time that day watching Ant-Man together in the cinema. Anything better than enjoying an afternoon with your best friend and movie?. Fifteen minutes before the movie played, we shared some sweets on our table even I have to admit that the taste of that rolled-crepes with ice cream on top wasn’t delish as how it looks here. But wait, how could I resist taking picture of them on that super cute table? :)

GoodTimes3

GoodTimes4

C | Third, a very very good time again with Sohib. I asked Sohib to join me for cafe hopping and finally tried delicious mille-crêpes in La Réia, a little cute cafe inside Ciputra World, Surabaya. Best friend-talk, yummy dessert plus coffee in one fine afternoon?, how I missed that moment. Another part of good time that day was when I could meet with Atre and Giri again with Sohib. I always feel good when I have a chance to link my friends like what I did to Sohib. I knew he was quite nervous when he met with Atre and Giri for the first time yet I’m sure his mind would open wider on how to have new friends. Inspiring new friends like Atre and Giri? He must be happy for that moment :).

GoodTimes5

GoodTimes6

D | Fourth, let’s throw back to Singapore. I had a good time on my second day there when I finally met Maya! and Ranu ;). How I missed Maya and her cheesiness right now. A good time indeed when I just came back from Jummah prayer, met Maya and ready to explore the day (hope you guys aren’t boring with my late post from Singapore cause I still have a lot of photos from that trip ;)). First stop when we met was for pies and cold lattes at Le Kue. We spent two hours (if i’m not wrong ;P) for best friend talk and free wi-fi for our next destination. Oh, say hi to Ranu! :) He’s as cheesy as his mom, huh?

GoodTimes7

GoodTimes8

E | Fifth, on my last day in Singapore with Maya and Ranu we stopped by at I-am after we went separately in the morning. I went to Gardens by Bay while Maya took Ranu to Bugis mall looking for Minions kids bag (and ended with toys, sigh). It was drizzling a bit that noon and made the day was cool enough (humid Singapore was something). Had to admit that a good time with Maya and Ranu on our last day was quite missed. Sharing rainbow cakes and mille-crepês with both of them was good (though the taste of those eye-candy desserts wasn’t delicious as they look!). I always enjoy my time when Maya starts laughing loudly with ‘who-cares’ feeling for everyone around us ;).

GoodTimes9

GoodTimes10

F | Sixth, how lucky I was when I had a short time in Jakarta extending my visa and finally met Mbak Ririn this year. She is a kind-hearted woman I always excited to meet with. When I knew I had to stay one night in Jakarta after I was done in Embassy I, asked Mbak Ririn if we could meet and it would be exciting if Maya could join us. I though I could meet again with Giri and Atre when they were in Jakarta that time (sadly they had their own event). So, it happened when Maya closed by 21.30 pm and we met near my hotel and went straight to Koi Kemang. It was a good time meeting with Mbak Ririn again! We shared stories and oh, she knew me well and didn’t feel interrupted when I had to move our food to another table near us for pictures ;P. Just because there was a brighter lighting and, how could I resist to keep that moment into photographs?

GoodTimes11

GoodTimes12

G | Seventh, it was such a dream sharing a beautiful Saturday morning with my best friends, Andhi and Sohib (again? ;P). I was beyond happy we had best-friend-talk with desserts and coffees at this cute coffee shop that day (one of my fave green tea latte in Surabaya). We didn’t stop at this cafe only and spent an afternoon with another best friend-talks and Indonesian food for lunch then ended by homemade martabak in my parent’s house. It was a real good time indeed.

GoodTimes13

GoodTimes14

H | The last one was a good time with another best friend of mine that ran away from her house just to see me ;) (I’ll write another story about her that day, later). Cafe hopping in one of the newest coffee shop in town, Caturra Espresso (hope I’m not wrong ;P) plus best friend-talk along with taro and green tea latte was a beautiful day. Sadly the cake wasn’t that delicious but the interior, and the light, and those wide clear glasses is on point. As I wish I had longer time with Mbak Ika that day :).

GoodTimes15

GoodTimes16

Well, looking for continuous posts after this hopefully, and hello September! 

Kolombiana

Updating this blog, somehow, it’s not a small matter, sigh. I’m having an issue posting this through MacBook when the page always change into another rubbish page until I had to post it through my iPad (it’s been a while, iPad!). Thanks to Ayos who suggested to do so. Well, just wanted to share a quick post from my trip to Singapore last month (as I wish I was still on vacation!).

As a creative person who work in creative industry, it’s a pleasure to see interesting spaces, interior, and stuffs that inspire me. It helps a lot if you work in creative field where you have to play with ideas and concepts. And producing ideas everyday it’s not easy, sometimes. So it was a pleasure for me lingering Haji Lane in the afternoon while I was in Singapore (I photographed quite a lot of pictures, more to come!).

My kind mate, Atre (I’m a fan of her distinct writing style) mentioned Kolombiana as one of ‘must-visit’ store at Haji Lane since she knew I was in Singapore. She told me Kolombiana has a lot of unique and beautiful stuffs and I would get a lot of beautiful pictures there, so after Jummah prayer that day I stopped by at Kolombiana. Atre was true, it’s a beautiful store indeed. I didn’t spend time there since I had to see Maya just after she dropped her things in the hotel and took lunch in Bugis mall. After I met Maya that noon, I asked her to follow me back to Haji Lane and visited Kolombiana again. I couldn’t resist to take my mirrorless out and took some pictures (for sure I asked for permission). Their stuffs is beyond beautiful, and the fact that it’s easy to guess South American style from vibrant color-play in the design. Look at those bags, amazing color play, huh? You can’t even argue if the price isn’t cheap cause it’s worth it. Maya took some bracelets for herself while I took bracelets and the bag (it wasn’t the expensive one as I wished!) for my best friends.

KolombianaSingapore1

KolombianaSingapore2

KolombianaSingapore3

KolombianaSingapore4

KolombianaSingapore5

KolombianaSingapore6

KolombianaSingapore7

KolombianaSingapore8

KolombianaSingapore9

Make sure you bring enough Singapore dollars if you’re keen with unique stuffs and Kolombiana, as far as I concern in their design, it’s a dangerous place :) (like you won’t mind to bring all them home! ;)).

64 Haji lane,

Singapore.

Ladurée Singapore

While I’m still thinking and trying to write about how grateful I was, when I had chances to see my best friends this year in Indonesia, let me jump quickly for some iPhone pictures of Ladurée Singapore.

Visiting Ladurée store was on my list when I spent 4 days in Singapore for my quick jaunt this year. I had two main reasons why. First, I’ve eaten macarons several time but wondering their luxury double-decker macarons taste was on my mind since I dreamt about Paris. Second, I wanted to learn how Ladurée as one of the most well-known luxury bakery and sweets maker house in the world package their products. So in one fine afternoon on my third day in Singapore, I went to Takashimaya in Orchard road with Maya.

Entering hi-class mall with hi-class stuffs everywhere made me dizzy a bit (cause I couldn’t bring them home :P). Just five minutes after we entered the mall we found Ladurée’s counter. But I said to Maya that I wanted to buy the macarons in their store because I was so sure we could see more eye-candy macarons and other products, plus their beautiful interior. Because it was lunch time, both of us and Ranu (Maya’s cute son) decided to find something heavier for lunch. Then, after we went around to Harrods and other stores buying some goodies for both of us, we finally found Ladurée store and our eyes were sparkling. The interior is beautiful, details everywhere, and I fell in love with how Ladurée takes graphic design on their packaging seriously. I was so confused when I had to choose my own box of 6 and 8 macarons :P. The macarons? well, you’ll know the difference why their macarons is quite expensive if you grab some :). The texture and the taste of their fresh macarons is different. Crunchy outside, fluffy inside.

Do you think spending S$70 for 14 macarons is worth-it since the macarons have to fly over from Paris?

LaduréeSingapore1

LaduréeSingapore2

LaduréeSingapore3

LadureeSingapore4

LaduréeSingapore5

LaduréeSingapore6

LaduréeSingapore7

LaduréeSingapore8

Oh, visiting Ladurée in Paris is still in my dream, tho :). Just like how Alice Gao was excited about Ladurée when she hadn’t never been to Paris that time (I think she made a wish to see Paris on that post and she flew to Paris many times years after!, should I put this post as a simply wish to see Paris soon? :)).

It’s Been A While

It's Been A While

Fiuh, let me take a deep breath…

It’s been a while I know I’ve ignored this blog since I travelled back to Indonesia. I landed back here on 9th of August and right now (breathing), I have a loooot on my plate. I’m having 5 different concepts of wedding in the same time, in a short time. All is need to be done while I’m still having A, B, C, D, E around me. Back to real life, indeed. Well, what I’d love to do is being grateful cause my brain is working and practicing new challenges.

Above is a coffee-scene this morning when I had to keep my eyes opened from 4,5 hours-sleep, cooked for breakfast, and back to office for some deadlines.

Will come back for some new posts soon, I promise.

Back to work. Again, let me take a deep breath.

Few From Abu Dhabi

Oh gosh time flies so fast, indeed. I’ve been here for wait, ten days? And it’s just like three days (in my dream).

In this short post, I just wanted to share some cuties I brought from my five-hours-transit in Abu Dhabi. As usual, every time I’m going home, I can’t keep my wallet close for some souvenirs. Since I didn’t bring many from Africa this year, I took some for my best friends, my family and for myself while I was in Abu Dhabi airport.

On this iPhone shot below, I brought as always fridge magnets, camel with snow-globe (I brought two, here is mine), camel with candle (two as well), a book of 100 interesting places in Abu Dhabi, chocolates (and chocolates, and Arabian key-chains, not captured here :)). Some of those cuties had been shared to few best friends of mine. Not only them, I couldn’t resist to grab the latest Kinfolk magazine when I landed in Jakarta.

AbuDhabi1

I thanked God for another opportunities to see some of my best friends until today (more to see, hopefully!). It’s always exciting to see them after a year. Yesterday when I met my best friend, Yuriko and his little family, I had a spring of joy. It wasn’t because I finally met with his too-cute baby boy as well, Brian, Yuriko gave me D&G-ish tee by Zara for my birthday present even it was two months ago. Another best friend, Rifda, brought me some cuties from Hawaii when I met her and her husband two days ago. I always take a serious appreciation for a simply gift that has a very, very deep meaning. The meaning of friendship.

AbuDhabi2

If you are a reader of this blog, it’s not a secret if I love collecting fridge magnet from all over the world. It’s a simply happiness if I can add more and more magnets from different countries. Most of these magnets here is a gift from my best friend. My fav magnet so far is those two from Egypt and New York of course :). Guys, I’m waiting the one from my dream city, Paris ;).

AbuDhabi3

AbuDhabi4

AbuDhabi5

AbuDhabi6