Simply Little Things

This year my kind mates here, Gozie and Rufina brought me some cuties from where they were travelled to. When Gozie had to travel to NYC for her side-duty helping her sister’s wedding preparation (it had been done! :)) congrats to her sister, Ngozi!), my spirit said that “Goz, magneetts!”. Yikes, sounds cheesy yet I know how generous Gozie is to me :). I was so pleasant when she went to our office and gave me three cuties (and all of them are grey! My fav color!) plus a NYC iconic tee. I’ve posted them in my Instagram before.

The other one was from Rufina. What she brought for me was a little special, I got David Beckham’s book!. We chatted through Whatsap a day before she left London and asked me what did I want? I thought an Union Jack cap was cute enough for me until I remembered that I wanted to add Beckham’s biography on my book collections (I’m gonna post about that book separately, there is so many iconic pics of Beckham worth to share. Definitely). So I asked her if she didn’t mind to get it for me and I would pay later. After she returned and Whatsap me again that she would send my souvenirs (and for my flatmates as well, plus chocolates for entire managers in office) she said “no, never mind to pay back”. Oh she’s definitely too-kind :).

Pardon for the last ‘trying-to-look-cute-yet-I-looked-ridiculous’ selfie of me :P.

SimplyThings1

SimplyThings2

SimplyThings3

There is a little ‘thing’ I love from souvenirs. When I get something from my kind mates, or when I bring something for my mates like this, souvenirs could be ‘simply little things’ that remind you and me to those people. Cause someday when you aren’t around them anymore, at least, there is sweet memory of kindness you used to share with. I always believe that.

King Halim (bagian 3)

“…Sembari menikmati jus jambu segar yang lagi-lagi bekal saya pagi itu, Edwin ‘nyeletuk’, ini jus masih ada bijinya. Saya dengan PD-nya menanggapi celetukannya dengan “Eh, bijinya itu juga bagus”. Yuriko menampani, “Iya, pahit-pahit gimana gitu rasa bijinya”. Saya semakin menjadi, “Eh bener, setahu saya ‘gapapa’ kok diminum sama bijinya, disamping vitamin C-nya yang sangat tinggi dari dagingnya, bijinya juga bagus. Tahu tidak, vitamin C-nya jauh lebih tinggi dari jeruk”. Kemudian saya serasa ditampar Edwin “ngawur, itu biji ga bisa dicerna dan bisa bikin usus buntu”. Haha, saya mau ketawa saat itu tapi saya tahan, murid baru Edwin Lau yang sok tahu :P…” – King Halim bagian 2 –

Dua hari sebelum pergantian tahun akhirnya saya memiliki waktu untuk sekedar menghubungi teman baik saya selama di King Halim. Mbak Ika, begitu saya menyebutnya, akhirnya menjadi sahabat yang terakhir memutuskan untuk move on dari King Halim setelah tiga belas tahun. Tiga belas tahun? (!), saya harap ia keliru menghitung masa kerjanya. Dari obrolan kami siang itu, saya beranjak menulis kembali kenangan di sana. Baiklah, semoga anda berkenan jika saya menuntaskan salah satu bagian yang paling membekas, masih tentang bekal-bekal saya.

Delapan jam kami bekerja, jam makan siang adalah saat yang paling ditunggu. Pukul setengah dua belas adalah saat dimana semangat kerja mulai menurun. Saya menyebutnya jam bodoh. Konsentrasi pekerjaan lambat laun mulai mengempis karena urusan perut. Dulu sebelum kepala HRD kami menerapkan jadwal makan siang, para staf berlomba-lomba untuk bisa makan siang di seperempat jam pertama. Alasannya apalagi jika bukan makanan yang masih panas, lauk yang masih lengkap, atau sisa waktu istirahat yang bisa lebih panjang untuk mengutak-atik jejaring sosial. Sesekali saya berada di gerombolan staf-staf kelaparan tadi, selebihnya tidak cukup sering. Saya lebih memilih menelusuri halaman demi halaman web pilihan di komputer, atau merebahkan kepala di atas meja kerja selama seperempat jam. Jika memiliki buku yang masih belum selesai dibaca, saya memilih untuk membaca beberapa halaman. Setelahnya sholat Dhuhur barulah makan siang.

Pantry berbentuk persegi panjang dengan meja kaca hitam memanjang di tengah ruangan menjadi tempat relaksasi sejenak. Di ruangan yang tidak begitu luas itulah kami bisa bertemu dengan rekan-rekan dari departemen lain. Obrolan-obrolan ringan kerap kali diperbincangkan selain obrolan seputar pekerjaan yang kadang masih saja dibahas oleh manajer kami. Biasanya ada sekitar empat hingga lima menu berbeda disajikan di atas meja makan. Ada soto ayam lengkap dengan kering kentang dan telur rebusnya, sate ayam, urap-urap, sup merah, gorengan termasuk tempe dan tahu yang setiap hari ada, plus kerupuk putih. Kira-kira seperti itulah makan siang kami. Lain hari lain pula menunya. Saya akui makan siang di sana istimewa. Di meja makan itu bisa dilihat siapa yang makan dengan benar, siapa yang kelaparan setiap hari, yang peduli gizi hingga yang tak kenal malu untuk menyantap menu yang sama beberapa kali.

Kami sendiri memiliki menu favorit. Yuriko dan saya lebih memilih sayuran dalam porsi yang banyak. Urap-urap, tumis kangkung, tumis sawi, adalah beberapa sayuran yang paling sering disajikan. Yuriko seringkali menyantap sayuran tadi hanya dengan dada ayam rebus yang ia bawa sendiri sedang saya masih bergantung pada nasi. Jika saya tidak sedang malas, nasi dari beras merah kadang ada di kotak makan untuk kemudian disantap dengan menu-menu tadi. Saat itu saya masih mengikuti fatwa makanan yang digoreng itu amat jahat. Dulu saya sangat anti sekali dengan makanan yang digoreng dengan teknik deep fried ataupun frying. Hanya kerupuk putih dan tempe yang digoreng kering yang lolos fatwa tadi. Selebihnya saya harus berpikir dua kali. Oh, jika saya semeja dengan Yuriko, fatwa tadi menjadi lebih rumit. Setengah menjaga image sehat ala Edwin Lau, semeja dengan Yuriko membuat saya gugup jika tempe-tempe kering nan gurih menggoda iman. Eh tapi pernah suatu hari saat saya menahan godaan menikmati tempe kering tadi, malah Yuriko dengan santainya menambahkan sepotong tempe di atas piringnya sendiri. Setengah kaget setengah tak percaya. Kemudian? Saya mengambil dua biji (hiks!). Lain Yuriko, lain pula Edwin. Meski saat itu ia sama dengan Yuriko yang sedang rajin membentuk tubuh, namun ia tipe penikmat makanan. Apalagi jika bertemu dengan ayam betutu dan ceker ayam.

Nafsu makan Edwin bisa memuncak jika ia mendapati ayam betutu di menu hari itu, sama memuncaknya dengan nafsu makan HRD kami (eh :P). Ia bisa sedikit lebih kalap dengan ceker ayam yang direbus dengan santan, sama halnya dengan Jalal. Tomo lain lagi, ia yang paling down-to-earth alias apa adanya, ada sayur bening monggo, ada soto ayam monggo, it was so typical of him. Oh ada seorang yang menarik perhatian jika kami semeja saat makan siang, namanya Dimas. Dimas termasuk yang paling betah duduk di pantry. Entah karena ia terhibur dengan kepala HRD karena seringnya mereka bertemu, atau karena ia memiliki nafsu makan yang tinggi (saya yakin alasan pertama lebih tepat :P). Ia staf R&D yang sering saya sebut sebagai tamu tak diundang yang rajin sekali bertamu ke ruang konseptor, yang ujung-ujungnya kebagian bekal saya. Salah satu yang saya ingat, jika saya semeja dengan Dimas dan Yuriko, kemudian ada kepala HRD kami, saya harus berusaha menahan tawa. Dimas iseng sekali dengan kepala HRD kami yang terkenal galak yang sering memergokinya sebagai seorang yang betah makan siang. Begitu pula jika saya semeja dengan Edwin dan Dimas, sedang kepala HRD berada di ujung, kami memberi kode-kode yang mengarah kepada gaya makannya. Tak ada yang salah bagaimana kepala HRD kami menikmati makan siangnya, hanya saja, karena perawakannya yang agak sedikit gemuk, ditambah dengan sikapnya yang terkenal galak membuat Dimas memiliki kepuasan sendiri saat mencelanya. Saya pikir Dimas diam-diam mengaguminya :P.

Samping kiri itu tamu tak diundang saya :P
Samping kiri itu tamu tak diundang saya :P

Ada bekal yang masih saya ingat betul betapa seru menikmatinya. Jangan kaget jika saya sempat-sempatnya menggelar acara ‘rujakan’ di dalam ruangan kami. Saya sadar itu tidak benar, tapi saya jauh lebih sadar bahwa menikmati momen rujakan saat itu bersama mereka, dengan sedikit gelar tawa, jauh lebih berarti daripada menaati peraturan perusahaan. Mungkin dari kalimat sebelum ini anda berpikir saya bandel sekali, tipikal karyawan malas yang hanya semangat perihal makan. Tidak, itu tidak benar. Seperti yang pernah saya sebut, dari dulu saya berpikir bahwa kenangan-kenangan kecil bisa tercipta dari serunya acara makan-makan atau dari sebuah makanan.

Tak ada yang seberani saya, membawa aneka buah-buahan segar yang nikmatnya luar biasa dipadu bumbu dari gula aren dan asam. Menambahkan irisan tempe pun tahu goreng yang sering saya gondol dari ruang pantry adalah ide brilian. Apalagi jika bumbu rujaknya disantap dengan kerupuk putih. Selain menikmatinya dengan teman satu tim, Dimas si tamu tak diundang, mbak Ika, plus teman-teman desainer, ‘hantaran-rujakan’ kadangkala tiba di meja manajer kami. Trik agar tidak ditegur membawa banyak makanan ke kantor? Tidak, bukan itu. Saya pikir tak ada yang salah menghantarkan rujak tadi padanya, toh itupun saat jam istirahat. Lagipula manajer kami dulu seorang yang juga punya hobi masak. Di luar urusan kantor, beberapa kali saya dan beliau membahas beberapa teknik masak pun bahan-bahan yang menyertai sebuah resep.

Beliau sempat pula memergoki saya yang sibuk sendiri di ruang konseptor. Pagi itu saya datang setengah jam lebih awal dari biasanya. Tujuannya untuk menyelundupkan tiga kotak keik coklat dan vanila ke kantor. Saya masih ingat betul betapa tergopoh-gopohnya saya kala itu. Hari itu sebelas Mei, ide membagi keik-keik kecil buatan sendiri bagi saya cukup menarik. Keik-keik tadi masih tanpa hiasan. Maklum, saya berangkat dengan sepeda motor. Jadi tak mungkin bagi saya menghias keik-keik tadi dengan berbagai krim dan hiasannya dari rumah. Sesampainya di ruang konseptor saya mulai beraksi. Keik-keik tadi mulai berhias diri. Krim putih, ceri, irisan stoberi segar dan kiwi, keju dan coklat parut, pun tak lupa bendera-bendera kecil yang saya cetak sendiri lengkap dengan nama penerimanya mampu merubah keik-keik lezat tadi jauh lebih menarik. Kesibukan saya menghias keik menarik perhatian staf-staf lain yang bisa melihat saya dari luar ruangan. Beberapa staf marketing masuk ke ruang konseptor, staf purchasing pun tak kalah curious. Begitupun akhirnya beliau ikut nimbrung. Ditengah acara hias menghias yang tadinya saya kerjakan sendiri, kemudian staf-staf lain ikut membantu, beliau hanya tersenyum dan meninggalkan komentar ; katanya saya kreatif (oh yang ini tak perlu diragukan Ko :P). Sayang saya tak punya foto keik-keik itu.

Begitulah makanan yang dulu saya masak, saya bawa ke kantor, saya nikmati dengan teman-teman di sana mampu meninggalkan kenangan. Makanan plus kebersamaan sama dengan kenangan. Sederhana sekali :)

-bersambung-

Lagos,  9 ; 57 pm.

 

The Inspiring Atre

Atre2

I’ve written how’s easy to make friend nowadays on this post, and I should thank to social media for that, though. From Twitter I knew Atre, an inspiring writer based in Jakarta. Lucky me I could meet her this year.

Atre is a fantastic freelance writer, loves sunset, food and traveling. I felt in love with her talent since I found her blog which admires me how she has a creative way to putting emotion and feeling into words. Then, I knew that I had to find time to meet Atre in person. After we tweeted for a while and putted her on my list, we met in my last day in Jakarta finally.

Early afternoon we met in The Baked Goods after I walked around Sabang street and enjoyed the vibes. When I met Atre my first impression was, Oh, we would talk so much things. I was totally right. We talked so much about our career, from how I moved from country, giddy part of me capturing food (she knew that day, just a cake, pudding, tea and coffee and all that made me thought for my Instagram feed, gah), my next dreams, Alice Gao was on our conversation (surely!), about her short trip to Switzerland this year for a work (it made me envy, though), her journey and decision behind when she chose to be a freelancer in the city, obstacles being a freelancer and so much more. I was enjoyed that noon seriously.

After we chatted for two and half hours in The Baked Goods, we moved to Plaza Indonesia. We were walking through my-always-fav-hour-in-a-day (read : four pm-ish) and shared our own journeys for past two years. I felt a bit guilty that Atre had a little injury on her legs for walking with me. But she was enjoyed the conversation as much as I did until we didn’t realize that our way to Plaza Indonesia was a bit far. In a small cute cafe called Dill Gourmet we sat down and kept sharing. A slice of green tea pie and red velvet, and two cups of apple and lemon tea were on our table. In that cafe she became another witness how I took my iPhone and snapped them at least 15 times then I chose just only one for Instagram. It was crazy I know to keep a person waiting to enjoy the food, though (everyone who share table with me knows exactly my relation between food and camera :P). We shared a bit about the food in between of our conversation.

After a while, after I looked at my time we finally had to say bye. Atre escorted me until I got a taxi in front of plaza then I headed to airport with a-little-sad-feeling-to-leave-Indonesia even it was my third time. I wish I had longer time to spend time with Atre and learn from her but I should say I got so much lessons from our meeting. How Atre has a brave to be a freelance writer, choosing her what-her-heart-said for a passion and live from it, freelancer-way-to-work and perhaps she would be a second person who inspired me (after Alice) if someday I choose to be a freelancer. Tre, someday we will explore Namibia and her sunsets, like what you have said to me ‘every dreams has their own possibilities to be real’. Holy shit, I love that words :)

Atre1

And another thing, such an honor for me that Atre wrote about me on her blog, the simplicity from her write-up yet truly beautiful makes me say, go and read about it! :)

P.S. Tagline of this blog has changed officially after me and Atre were brainstormed for a while. Thank you Tre!

King Halim (bagian 2)

“…ada ritual yang selalu kami lakukan setelah berdoa, saya lupa kami menyebutnya apa. Semacam sharing kecil-kecilan tentang apa yang kami rasa dan kami alami setiap pagi sebelum bekerja. Setelahnya, kami mulai membahas pekerjaan, target harian, target hari kemarin yang selalu meleset, proyek-proyek baru, dan hal-hal semacam itu…” – King Halim bagian 1 –

Setelah satu bulan saya mulai bekerja di meja kerja sendiri. Meja kerja kami berbentuk huruf L, saya duduk di paling pojok. Di atas meja ada seperangkat komputer, alat tulis, kalender duduk, beberapa buku pribadi yang biasa saya baca saat jam istirahat, serta rak plastik kecil tempat menyimpan barang-barang pribadi. Dinding depan dan samping kiri adalah tempat dimana saya selalu menempel beberapa print-out designs, figur-figur inspiratif, beberapa reminder di atas post-it (dan tiba-tiba saya rindu akan meja saya). Dibanding meja Jalal yang lebih minimalis tanpa print-out desain menempel di dinding, atau meja Edwin yang agak istimewa dengan seperangkat speaker untuk musik dan radio (sampai saat ini saya masih penasaran box yang ada didekat meja Edwin, persis di titik ‘L’ dari meja kami :P), atau meja Yuriko yang dipenuhi sekantong makanan-makanan pembentuk otot, apalagi meja Tomo yang seringkali tak berpenghuni, meja saya bisa dibilang paling hits. Meja berlapis vinyl itu tidak hanya tempat menghabiskan waktu dengan ide-ide mengambang, tapi sering pula saya sulap menjadi studio terselubung tiap jam istirahat. Studio untuk memotret bekal yang hampir setiap hari ada, bekal?

Ada semir sepatu pula? :P
Ada semir sepatu pula? :P
Aw, ini rupa meja terakhir sebelum saya pergi :)
Aw, ini rupa meja terakhir sebelum saya pergi :)

***

From Foods, There is Memory. Memories.

Jika saya ingat lagi, saya bukan karyawan baik-baik soal poin ‘tidak-diperbolehkan-membawa-makanan-dari-luar’ yang jelas-jelas ada di peraturan perusahaan. Jelas insting ‘food-photographer-wannabe‘ saya yang bahkan saat itu belum segila sekarang, ternyata mampu mendorong saya melanggar aturan, hehe. Mungkin peraturan tadi tidak berlaku untuk makanan dalam bentuk cemilan asal kuantitasnya masih masuk akal, tapi saya? Jangan ditanya. Bekal saya tidak sembarangan.

Bayangkan saja, sebagai bagian dari tim kreatif di perusahaan, saya satu-satunya yang lebih mirip staf dapur dibanding keempat teman-teman di tim. Saya yang selalu repot dengan makanan-apa-yang-akan-dinikmati bersama hari ini, ide bekal apa untuk besok, buah apa yang harus dibeli setelah jam pulang kantor, hal-hal semacam itu saat ini mengingatkan saya akan satu hal. Ternyata makanan bisa menciptakan kenangan bersama orang-orang tertentu di waktu yang lalu.

Dulu setiap pagi, sebagai salah satu karyawan yang paling pagi sampai di kantor, setelah melewati screener sidik jari untuk absen harian, saya sering mampir ke dapur. Saya punya ‘tim’ sendiri yang baik hati mempersilahkan saya mengakses lemari es. Tujuan saya tentu untuk menyimpan bekal-bekal berbahan dasar buah-buahan, es krim, atau semacam puding-pudingan yang memerlukan temperatur dingin, yang akan sangat nikmat sebagai makanan penutup setelah makan siang. Biasanya jika jarum jam menunjukkan angka tiga setelah pukul dua belas, saya menyelinap ke HRD. Memohon ijin mengambil barang di loker, atau ada keperluan untuk menelpon seseorang dari handphone yang juga ada di loker adalah beberapa alasan untuk kembali ke dapur untuk mengambil ‘barang-simpanan’ tadi (oh perusahaan perhiasan tidak akan membiarkan karyawannya membawa handphone kecuali tim marketing dan sales, hihi, kasian ya :P).

Sesekali saya takut jika kepala HRD memergoki saya membawa satu kantong besar makanan dari dapur hingga kemudian ide lain muncul di benak saya. Bekerja sama dengan mbak-mbak yang selalu menyiapkan makan siang staf di pantry tentu solusi terbaik. Mereka selalu leluasa melewati gerbang pemisah lorong dengan entrance pabrik saat jam makan siang. Saat itulah saya bisa mendapatkan bekal-bekal yang tadi disimpan di lemari es. Sebentar, bukan hanya mereka yang bekerja sama dengan saya, tiba-tiba saya ingat teman saya di customer service dulu, Nanik, dan salah satu staf marketing, Ratna. Mereka berdua seringkali membantu menyimpan bekal-bekal saya di lemari es di ruang marketing. Mereka berdua juga sering saya undang ke ruang konseptor saat waktu menikmati bekal-bekal itu tiba. Nanik, Ratna, apa kabarmu sekarang? :) (saya yakin mereka ingat betul bekal-bekal saya, hehe).

Lemari es memang saya perlukan untuk bekal-bekal tadi, tapi tempat penyimpanan teraman adalah di ruangan sendiri. Tepat di depan meja meeting, ada meja panjang yang memiliki sekat-sekat didalamnya. Disanalah tempat saya menyimpan bekal-bekal ‘kering’. Roti, sereal coklat (Edwin pasti ingat, ia sering mencuri sereal coklat saya. Gah!), Energen, garnish-garnish kering semacam choco chips dan kismis, oh tidak hanya bekal, ada beberapa peralatan dapur. Mulai dari cangkir beragam bentuk, parutan keju, piring saji, nampan, sendok, garpu, pisau, hingga saringan teh yang biasa saya gunakan untuk menabur gula bubuk pun ada. Gila, parah ya? Haha, saya sadar dulu seharusnya saya melamar posisi staf dapur, bukan di tim kreatif.

KingHalimFood

Lewat makanan pula saya memiliki beberapa kenangan pribadi. Salah satu bekal yang paling sering saya bawa adalah jeli dan puding. Selain paling mudah dan cepat dimasak sepulang kerja, jeli paling bisa dimainkan dengan bahan makanan lain. Ditambah aneka buah dan yogurt, jeli bisa berubah menjadi salad buah. Direndam di dalam larutan Nutrisari dengan tomat segar selama dua jam sama nikmatnya. Disantap biasa juga tak kalah nikmat. Jika saya tidak sedang malas, puding jadi pilihan lain. Dua makanan itu tentu mengingatkan kenangan saya pada Yuriko. Ia pecinta jeli pun puding. Tak jarang jatahnya selalu lebih banyak dari yang lain.

Yuriko dan saya sama-sama menyukai olahan berbahan dasar buah, pernah suatu siang saya ‘nyeletuk’ blueberry. Buah yang masih terbilang mahal di Indonesia itu mencuri perhatian saya saat berkunjung ke Ranch Market. Saya hanya membolak-balik kemasannya sekedar ingin tahu apa saja nutrisi di balik blueberry dan dari mana asalnya, saya beli? Tidak!. Haha, mahal (!!!). Dengan gaji seadanya di King Halim dulu, kemungkinan kecil saya rela membuang lima puluh ribu lebih hanya untuk segenggam blueberry. Stroberi lokal yang biasa didapat di Hero atau Giant masih affordable untuk kantong saya. Setelah ‘nyeletuk’ blueberry tadi, esoknya di ruang tempat loker karyawan berada, Yuriko memberi saya sekotak buah yang sebenarnya berwarna ungu itu (bukan biru!). Saya pulang, di benak saya sudah ada ide mau diapakan blueberry tadi. Pisang Cavendish (itu pisang saya pikir stylish sekali, entah kenapa bisa semulus itu ya :P *ngelindur), sekotak stroberi dan yogurt saya pikir teman terbaik blueberry. Esok paginya, smoothies segar sudah menjadi bekal saya hari itu. Tidak seperti biasanya bekal saya bagi, kali ini smoothies mahal itu cuman kami nikmati berdua. Ya iyalah, masak smoothies seharga seratus ribu lebih yang hanya cukup untuk dua orang dibagi-bagi? Haha, sounds stingy huh? :P

Oh iya, dulu saat saya masih jadi pengikut Edwin Lau kemudian bertemu Yuriko di kantor, sifat-sifat memilih makanan sempat hinggap. Everything fried? najis, boiled jauh lebih baik. Susu rendah lemak tentu pilihan bijaksana. MSG snacks? stay away from me :P.

Jika Yuriko yang hampir setiap hari membawa roti gandum, dada ayam yang direbus sebagai pengganti nasi, pisang, atau snack-snack impornya, itu karena saat itu ia sedang menjalani program pembentukan otot, saya? Haha, saya hanya murid baru chef yang gencar mempromosikan gaya hidup sehat itu. Program televisinya di MetroTV dulu selalu saya tonton, saya hanya terkesima ajarannya ; kok makan saja teliti benar. Kalori, nutrisi, hal-hal semacam itu hampir setiap hari merasuk di pikiran saya untuk kemudian saya bagi di kantor. Jika dibandingkan dulu dengan sekarang, setelah saya pikir-pikir, dulu saya cukup ‘kemalan’. Sebelum jadi ‘a-little-glutton’ dan ‘food-photographer-wannabe’, saya jauh cermat memilih makanan. Tomo pasti ingat apa tagline saya saat itu “hargai tubuhmu dengan makanan bergizi” haha.

Lain Yuriko lain Edwin. Sahabat Yuriko ini jauh lebih fleksibel untuk urusan makanan. Ia masih bisa menerima lemak-lemak jahat dari sebatang coklat, atau pisang goreng dengan taburan gula bubuk diatasnya, atau donat kentang yang saya tweaked sedikit dengan isian pisang dan coklat. Beda jauh dengan Yuriko, Edwin, saya pikir lebih bisa menghargai pemberian makanan berlemak yang jelas-jelas, saya dan Yuriko pasti menolaknya secara halus :P. Seingat saya Edwin suka sekali coklat hingga sering sekali mencuri sereal coklat saya :P (ingat Win?), ia lebih suka puding dibanding jeli, pecinta ceker ayam sama seperti Jalal. Oh, jika saya membawa salad buah, mulai anggur, kiwi, stroberi, apel, jeruk mandarin yang tentu menggoda tidak hanya dari paduan warnanya di mangkuk besar, Edwin pasti memilih buah dengan nutrisi tertinggi (cih! -____-).

Pernah suatu pagi ada perbincangan lucu antara saya, Yuriko dan Edwin. Sembari menikmati jus jambu segar yang lagi-lagi bekal saya pagi itu, Edwin ‘nyeletuk’, ini jus masih ada bijinya. Saya dengan PD-nya menanggapi celetukannya dengan “Eh, bijinya itu juga bagus”. Yuriko menampani, “Iya, pahit-pahit gimana gitu rasa bijinya”. Saya semakin menjadi, “Eh bener, setahu saya ‘gapapa’ kok diminum sama bijinya, disamping vitamin C-nya yang sangat tinggi dari dagingnya, bijinya juga bagus. Tahu tidak, vitamin C-nya jauh lebih tinggi dari jeruk”. Kemudian saya serasa ditampar Edwin “ngawur, itu biji ga bisa dicerna dan bisa bikin usus buntu”. Haha, saya mau ketawa saat itu tapi saya tahan, murid baru Edwin Lau yang sok tahu :P.

-bersambung-

Lagos,  9 ; 52 pm.

King Halim (bagian 1)

Menulis postingan ini seperti berusaha merangkai pecahan puzzle. Menulisnya membuat saya sering tersenyum kecil. Kenangan-kenangan didalamnya lah penyebabnya.

***

Hari pertama.

Saya mengenakan kemeja berwarna coklat yang sama sekali tidak menarik di hari pertama. Setengah jam lebih di sebuah ruangan kecil tempat sekuriti-sekuriti menghabiskan hari-harinya membuat saya berandai-andai. Apa yang akan saya lewati di hari pertama di sebuah perusahaan perhiasan. Tak lama setelah mencoba mengobservasi ruangan yang dipenuhi beberapa CCTV, ada dering telepon dari salah satu staf HRD yang mempersilahkan masuk. Tak lama, pria itu menjemput saya, maklum, tempat saya akan bekerja tidak memiliki akses untuk sembarang orang. Saya mengikutinya melewati dua kali gerbang dengan sistem kunci otomatis hingga akhirnya duduk berhadapan dengannya.

Di sebuah ruangan yang hanya cukup untuk empat orang staf, surat perjanjian kerja sudah ia sodorkan untuk kemudian saya baca. Membacanya membuat saya harus ekstra hati-hati, persis seperti saat saya harus memenuhi jawaban lembar ujian bahasa Inggris. Disela-sela membaca lembar demi lembar, pria tadi, oh namanya mas Zaini, ia menjelaskan beberapa peraturan perusahaan. Sekitar tiga perempat jam disana, akhirnya ada seorang pria muda yang menjemput saya, namanya Astomo Ahmad, seorang asli Palu yang menjabat sebagai kepala tim konseptor.

Sambutan Tomo hangat sekali. Mungkin sambutan seperti itu salah satu jurus membuat seseorang yang akan bergabung ke dalam timnya merasa welcome. Tomo mengantar saya ke ruangan bercat putih gading yang sedikit lebih besar dari ruang HRD tadi. Ia mulai memperkenalkan saya pada beberapa orang di sana, seingat saya kala itu jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Ada empat orang yang saya salami satu-satu. Setelah dengan mereka, saya diajak berkenalan dengan staf-staf departemen lain yang seperti hari pertama pada umumnya, saya tak bisa mengingat satu-persatu nama mereka.

Konseptor
Edwin-Yuriko-Jalal-Tomo-Saya (Saya? Omai!)

Di tim konseptor, saya bertemu dengan Jalal, seorang konseptor senior yang lebih banyak menjejali materi desain dibanding Tomo yang jauh lebih sibuk di ruang produksi. Ada pula seorang yang lebih banyak menghabiskan harinya di ruang konseptor, namanya Jonathan Edwin. Jebolan desain grafis Petra yang cukup dingin bagi siapa saja yang baru mengenalnya. Meski saya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruang konseptor dengan Edwin, kami berdua tak cukup intens berkomunikasi. Selain ia memang agak dingin, saya lebih suka mengobservasi teman-teman baru dibanding sok-kenal-sok-dekat attitude. Tomo, Jalal, dan Edwin serta satu lagi teman saya di konseptor. Namanya Yuriko, Yuriko Liao.

Ia satu-satunya anggota tim yang tidak saya temui di hari pertama kerja. Baru selang empat hari kami bertemu setelah ia kembali dari tugasnya. Pagi itu ia datang sekitar pukul setengah sebelas, berkaos polo merah yang amat kontras dengan kulit putihnya. Ia bercelana abu-abu muda, stylish sekali. Mulanya saya kira ia kepala tim desain karena selain perawakannya yang tinggi besar, penampilan stylish dan kelewat-santai hari itu nampak sangat berbeda dari kami semua. Kesan pertama berkenalan dengan seorang Yuriko (yang juga lulusan desain grafis Petra, ia satu angkatan dengan Edwin), ia friendly sekali. Bukan karena ia memberi dua buah coklat berisi kurma oleh-olehnya dari Dubai, tapi ia memang cukup ramah untuk ukuran seorang teman baru.

Oh iya, perkenalan dengan Yuriko sempat membuat saya berandai-andai akan kesempatan yang sama. Bisa menghabiskan tiga hari di Timur Tengah di tengah tugasnya ;  survey produk dan mendistribusikan produk perusahaan di Dubai. Saat itu kedengaran keren sekali, hingga saya optimis bisa merasakan kesempatan yang sama. Eh tapi sayang, pengandaian itu semu hingga saya resign. Sebentar, ini kok malah ada curhat colongan :P, Maaf. Mari fokus lagi.

Sebulan pertama bekerja di sana ada dua hal yang sangat saya ingat. Tiap kali jarum jam berhenti di angka sebelas, mata saya terasa berat. Kedua, tiap kali membuka lembar demi lembar majalah terbitan Korea yang menumpuk di rak bertingkat empat, saya seperti melihat semua desain perhiasannya sama. Mungkin saking bosannya.

Saya lebih banyak menghabiskan waktu di meja meeting kami. Selain karena belum boleh menyentuh ‘computerised work’, saya lebih aman berpura-pura melatih sense of design dari majalah-majalah Korea. Alih-alih mengamati desain-desain yang semuanya nampak sama (saya mengulangi kata ini kah? :P), membaca artikel figur-figur inspiratif yang ada di beberapa majalah gaya hidup Indonesia lebih menarik. Selain itu, menghabiskan empat jam pertama sebelum jam istirahat dengan sketsa-sketsa random di atas meja setidaknya membuat saya nampak sibuk.

***

Pernak-pernik kami.

Kami berlimalah yang menahkodai konsep produk. Semua konsep lahir dari meja meeting yang tepat berada di tengah ruangan. Disamping kami berlima, ada beberapa supervisor desain yang menjembatani kami dengan desainer-desainer di sana. Desainer yang saya maksud disini adalah anak-anak yang bertugas menerjemahkan ide-ide konseptor ke desain tiga dimensi. Hampir semua desainernya adalah lulusan SMK yang direkrut dari Yogyakarta. Kebanyakan dari mereka berlatar belakang desain grafis dan ada beberapa yang berasal dari jurusan Akutansi.

Oh ada yang menarik dengan meja meeting kami. Jika saya harus mengingat meja itu, ada banyak kenangan diatasnya. Setiap pagi, sesaat setelah bel masuk berbunyi, kami selalu berkumpul di sana. Ada ritual yang selalu kami lakukan setelah berdoa, saya lupa kami menyebutnya apa. Semacam sharing kecil-kecilan tentang apa yang kami rasa dan kami alami setiap pagi sebelum bekerja. Setelahnya, kami mulai membahas pekerjaan, target harian, target hari kemarin yang selalu meleset, proyek-proyek baru, dan hal-hal semacam itu.

-bersambung-

Lagos, 8 ; 42 pm.

The Distinct Ayos

Ayos1

I always want to put a perfect word for friend of mine, Ayos Purwoadji and ‘distinct’ is all about him. Ayos is a writer, traveller, and founder of Hifatlobrain, a travel institute that will make you inflame to travel, to explore places, culture, meet new people, photograph and write about Indonesia, and share it to the world. His work as a travel writer has been published by many national magazine publisher.

Ayos and I were studied in Product Design (he was quite popular in school, oh until now!). I pretty remember Ayos impressed me as a distinct person when we went to library and spent a-late-noon conversation (do you still remember when I shared about what Butterscotch was, Yos? :D).

For me personally Ayos is one of a kind. Ayos is open-minded, supple, critical thinker, loves reading and books, and (too) smart. I’ve been written on my post before that Ayos always make me feel smarter. I mean, he inspires me to know anything. He inspires me to find my passion, to meet new people and learn from them, and ‘out-from-home’ to see the world. The last one was great one for a home-boy like me. By then, Ayos inspired me to expand my friendship to anybody as well, changed me from introvert became more open. There is no doubt for ‘The Distinct Ayos’ by seeing his photographs, even on these pictures he looks so smart. Agree?.

Ayos2

Ayos3

Ayos4

Oh I should thank to Ayos, this blog was born after I’ve been lurking Hifatlobrain for a long. Merci bin Ayos!

Simply Love

OLEH2-1 copy

I’m a kind of person who love spending money for souvenir, yes I do. A month before I left Africa for my annual leave, I went to Lekki market three times. First visit was a time to find souvenirs for some best friends + my family and capturing Lekki itself, poor me it was drizzling. Second time I went again and got some additional souvenirs for my close friends and capturing Lekki was successful. And the third one I went there AGAIN, to find more souvenirs AGAIN. The last visit was for my new friends.

I had no issue for that because I knew myself would lie to what I’ve been promised before I left that I would bring SOME souvenirs only. Yes, because I already brought for some of them first year I came back home. In fact, I still took my pocket to Lekki. But hey by seeing pictures for this post when I gathered/edited them before is another simply joy for me.

I don’t know, I do love buying souvenirs. For me, a little thing you bring from where you travel/live outside could be a simply love worth to share to your beloved ones. I’m thank God this year, on my second time I went home, I could spread that simply love. Here they are my simply love for them :

AYOS

I always happy if I meet Ayos, one of inspiring friend I had. Even we just had only, hmm, just three hours this year I appreciated a lot. He’s awesome friend of mine who loves culture, so I brought this wood carving, the figures are Igbo women wearing Gele, a part of Nigerian woman’s traditional costume. O lemme tell you, I know it sounds garish, whenever after I meet Ayos I feel smarter, Hah.

AYOS1 copy

AYOS2 copy

WINDA

Yeah Winda got an African cloth called Kinte. It was so funny when I saw that cloth in Lekki my mind said that it would be fit and lovely for Winda. Gosh I love when Winda said so.

WINDA1 copy

WINDA2 copy

ATRE

Hah. Atre was the one who made me back to Lekki for third times! Yeah, when she tweeted me, I decided to go back AGAIN. I was so happy could see her in person, she’s my new fantastic friend. Atre got a tribal handmade African necklace.

ATRE1 copy

ATRE2 copy

MAYA

One bag made from wood bark, a cute key ring from Dubai and M&M’s chocolate in cute figure were for Maya. I remembered when Maya and I talked on our Line, she told me to bring THIS, THAT, and THIS, hahaha. Oh yeah the chocolate was for her cute toddler, Ranu :*

MAYA1 copy

MAYA2 copy

RULI

I met Ruli two times this year, I wish we had more. I brought a unique craft, Africa map shape, it’s a small jewelry box actually. What I love from that craft is the key to open the box is Nigeria map. Apart of the craft, I gave him Swiss chocolate inside gold box I found in DBX. Shit my spirit said “BUY!” immediately to give Ruli those GOLD, big GOLD  when I chose some chocolates for myself :P

RULI1 copy

RULI2 copy

SHOHIB

Shohib requested a stone bowl with African painting on it, see zebras, very Africa right?. He got something like this before in a smaller size. He loves history and culture as well, probably I will bring another thing next year. O yeah, Shohib wasn’t confident enough to pose in front of my camera. Dah.

SOHIB1 copy

PUTRI

Another new fantastic friend this year I could meet with. For Putri I got a tribal necklace in red as a gift. O yeah I love giving a gift for somebody and an elephant made from stone was a cuteness :). Hope she love it.

PUTRI1 copy

PUTRI2 copy

NURAN

I wasn’t sure this year I would have a chance to see Nuran a.k.a Bang Nuran in a person. So, when he passed Surabaya from where he traveled before, I agreed to meet even my time was so strict. Thank God I could manage my short time to meet him and shared breakfast. Oops shit I forgot to ask him to pose with his souvenirs, poor me. You have to know that he’s a brilliant writer, I officially say that he is one of my fav writer. One more thing, he’s good in cooking!

NURAN copy

JONATHAN

This guy is so funny, he asked me to bring wood statues that I gave to my other friends when we met last year. And can you imagine, Jonathan even forgot that he said so, Dah!. But I know myself I would bring something he asked for, I’m too kind right? :) I brought this craft for him for his birthday gift last month yeah, as souvenirs as birthday gift so :P. His photograph here wasn’t clear enough, sorry for that, I thought my hand was shaking and out-of-focus on his face when I snapped with iPhone. Sigh.

JONATHAN copy

FAHMI

Fahmi is my best friend since we were in high school until today. This year he got Akosombo, Toblerone and one key ring from Dubai. Key ring wasn’t on my list actually but I remember he gave me a very cute Mickey key ring one day. So, 1-1 right? :)

FAHMI1 copy

FAHMI2 copy

MBAK IKA

I respect Ika a.k.a Mbak Ika, a mom of two who always has time to see me when I come back home. She always try to find quality time to spend even when she is busy doing her thing. She just like my own sister who care about me since I live outside country. So, when she asked me to bring fridge magnets I grabbed some when I was in DBX, not only that because I thought Akosombo for woman would be lovely for her. O yes, I should thanks to LINE by keeping me close with Mbak Ika since I use my BB for phone only :) You will see her hilarious-posed here :P

MBAKIKA1 copy

MBAKIKA2 copy

LUKKI

She was my junior in school but wait, she grows so fast!. She is one of young talented award-winning movie director, was it cool? Yeah!. When I and Putri agreed to meet this year, we invited Lukki as well so I thought small souvenirs for her was a good idea. O yes, hope she has a chance to South Korea for her scholarship in movie next year!

LUKKI1 copy

LUKKI2 copy

Happy I could share simply love when I came back home last month. I’m gonna say thanks for all friends above due to they could take time to see me. I would love to see another new friends this year but sadly as I said time was my challenge. I had some of friends that got souvenirs as well I couldn’t attached here cause I couldn’t meet them :( but hopefully they were happy with the souvenirs. I felt that those souvenirs are so much better than what I brought last year, don’t you think so? You can compare with this.

Alright, I think I talk to much on this post but I’m gonna keep this post as one of my fav post on this blog. Hmm how about next year? I can’t promise myself to bring those souvenirs again EXCEPT my spirit says contrarily. Lets see.

The Crazy Maya

Maya1

I felt blessed this year I still had time to see some of my old friends and best friends in Indonesia. Short time was my challenge to meet yet I tried hard to take my time for them. Happy could see Maya, one of the craziest best friend I had.

I met Maya two years ago when I, Winda and Ruli decided to take short vacay to Bandung. That was the first time I knew her from Winda. Then four of us spent crazy time there. I had no clue why I had a ‘click’ chemistry with someone crazy like Maya. She is super stupid, crazy, hilarious and so goofy, maybe that’s the reason. Maya is one of a kind.

Oh a week ago, yes it was Sunday last week when I was stayed in Jakarta for a day before I left to Africa, I met Maya and Winda. We tried to spend time even it was too short. I arrived in Jakarta in the afternoon, Winda came around 5pm and gosh I remember the thing that made my tummy cramped. Maya, she took Bajaj to the hotel and what happened was she didn’t have small money to pay Bajaj. So she called Winda from the lobby and shit, It was too funny! I wish I could describe how the way Maya acted that day, we laughed in the lobby, so loud!

Before we went, Maya and Winda took time to capture themselves in the hotel, we tried to enjoy the golden hour on 6th floor. By 6 pm we went to one of a huge plaza, Plaza Indonesia quite near my hotel to spend japanese food. We talked so many things randomly, it was a short quality time for us. For me the best part of our meeting that day was the time we walked from plaza to my hotel after our dinner. I could enjoy the evening in Jakarta with laugh and joy because of Maya, and wait, Maya took me to her Bajaj again :P It was my first time in Bajaj.

Sadly Maya couldn’t spend long time for us yet I had to thank to her as well for her time. Ah, I feel time flies too fast, a week ago at this time (8.06 am here), in Indonesia, I prepared my time to say bye bye to my family, oh no! Sorry, out of focus. Here, I attached some of Maya’s pics that I took that day, she looks do hilarious and crazy right!?

Maya6

Maya2

Maya4

Maya3

Maya8

Maya5

Tea at Majapahit

I spent an afternoon tea (a simply tea time!!! It wasn’t a proper one :P) at Majapahit Hotel, one of historic luxury hotel in town last week with my best friend, Sohib. We went there at 17th of August which was our Independent Day :)). Majapahit has its own story. The hotel was the site of the famous “Hotel Yamato incident” in which young Indonesian revolutionaries tore the blue part of the Dutch flag flown in the hotel to change it to the red and white Indonesian flag on 19 September 1945 . Did I come at the right time? Spending my afternoon at historic Majapahit on Independent Day? :)).

We enjoyed our tea with some snacks and seriously the music that time, some of national heroic songs in instrument which was so cozy and comfy. I was so lucky could feel the ambiance of Independence Day here in Indonesia this year :)).

Majapahit3

Majapahit4

Majapahit2

Majapahit5

After spent 2 hours for tea we went around the hotel to enjoy the building. Here some snaps from the hotel itself. For some reason I really wish I had pro camera :( to capture beautiful building like Majapahit (See the tiles! Yup, I fall in love with the tiles!!!! dutch pattern tiles, very pretty!!!)

Majapahit18

Majapahit15

Majapahit17

Majapahit7

Majapahit14

Majapahit11

Majapahit12

Majapahit16

Meet Putri

MeetPutri9

After a year me and Putri talked, shared, tweeted via air, a week ago we met in person. We agreed to meet at Carpentier Kitchen after Putri posted that place on her instagram. It was a blissful noon we could share our stories there, a simply peaceful small place in town (sadly the food should be yummier please! don’t mind me :P).

Putri as I knew is a fantastic freelance travel writer. I amazed that she chose her passion to be a writer than follow her background from where she was graduated from Airlangga Univ majoring Pharmacy. I amazed by what she does on her dream job as a writer. Putri loves traveling, writing, gardening, and cooking (she loves capturing food as well :P). That noon we shared so many random stories and seriously I was so happy could see Putri.

Oh Putri wasn’t came alone, her hubby was on her side and whoop whoop Lukki, my junior at school came on our meeting as well, she is talented young movie director (!!!). We took pictures as usual :P before we went and ouch I couldn’t attach myself on this post, I was too weird (nope, basically I’m not photogenic at all and pfft I’m quite quarrelsome for picture :P).

MeetPutri4

MeetPutri3

MeetPutri2

MeetPutri6

MeetPutri5

MeetPutri7

MeetPutri8

MeetPutri1

O yeah, you can read one of my fav write-up about Putri on one of my fav writer here. Oops he wrote in Bahasa, should we beg him to re-write in English? :) Hey see Putri below, she was busy capturing our foods before we ate them, just like me even I’m worst, sigh.

MeetPutri10