Sushi with Winda & Ruli

It was three days ago when I went out with Winda and Ruli and I just posted this (sigh). These are few pictures when we decided to eat Sushi before we watched movie. We didn’t eat much yet I think it was a pretty awesome moment when we could sit together, enjoyed our meal, and shared stories. Winda and Ruli who knew more for those Sushies than me took control to order our meal. I’ve been eaten at well-known sushi restaurant in town (well-known+affordable :P) for times but ssst let me tell you my small embarrassing secret when I have to eat japanese/chinese food, I COULD NOT eat with chopsticks properly. Please, don’t judge me for this. Shameful.

Anyway let this post be a short post to reminiscence my quality time with Winda and Ruli. So sorry I couldn’t remind each name of those Sushies, should I go there again to eat more and capture better than this?

SushiTe1 copy

SushiTe1

SushiTe3

SushiTe4

SushiTe6

SushiTe7

SushiTe5

Sadly we took picture when we were tired and well, I don’t want to grumble for this last pic. I should appreciate more of the QUALITY time we spent, and make note to capture better picture if we spend time together again. Whoof whoof I always love nice picture.

Sushi-Te-Togehter

The Gorgeous Winda

Yesterday was a small reunion for me with Ruli and Winda after a year. It was such a perfect accidental time for three of us to share our time together. We agreed to eat out and watched movie Monday next week but our plan had changed immediately yesterday. I’ll upload our eat-out pictures on different post later, this post will tell you more about Winda.

Winda lives in Jakarta where she works for multi-national company. Winda is a smart young lady who loves food, traveling, manga and sketching as well. She was graduated from the same school with me and Ruli, Sepuluh November Institute of Technology but she took Chemical Engineering, we were started at the same year. I met Winda two years ago at Grand Indonesia in Jakarta when Ruli asked me to eat out there. It was our first time went out together and Winda was so humble at the first impression. After then we went together for a quick trip to Bandung, hiking to Ranukumbolo last year with Maya and Ayos, and yeah Maya and Winda came to meet me twice to the airport at my last night in Jakarta before I went to Africa. The first time they came that night was raining (at 10 pm!!!) and it was so touchy :P. I will always remember that moment.

Lets get back to Winda yesterday. She looked so gorgeous on her genuine style (Ayos, you are so lucky for having her! :P). She wore a simply vintagish knitwear on top, English flowery skirt, and her coffee brown flat shoes were so perfect on her. I requested personally to Winda to look a bit different like what was we discussed before, and tarra! Look at her, I was so lucky could find a match set for Winda inside the mall where we spent almost five ‘quality’ hours. Thank you Winda for being indulgent to me!

Now, Keep your eyes on Winda (!!!) :)

Winda1

Winda5

Winda4

Winda7

Winda2

Winda6

I had no idea I could get this rustic set before :P Here I attached some details of the set last night

Set-Winda0

Set-Winda2

Set-Winda3

Set-Winda4

Set-Winda5

Set-Winda6

Set-Winda1

I will be so HAPPY if we have time to hang out together again, seriously lets orchestrated! :))

SeeyaWinda

Kado Untuk Rifda

Saya pernah berjanji pada Rifda, salah satu teman terdekat, bisa pula dikatakan sahabat, untuk menulis tulisan sederhana ini sebagai kado di hari pentingnya. Tepat tanggal enam bulan lalu ia menikah. Postingan ini amat terlambat, tapi bukankah lebih baik daripada tidak sama sekali?

Saya dan Rifda satu angkatan di kampus desain produk delapan tahun lalu. Entah bagaimana awalnya kami akrab. Di angkatan desain produk tahun itu yang hanya memiliki dua perempuan, Rifda termasuk paling mudah akrab dengan teman lelaki. Ia supel sekali.

Lucunya kami tak cukup dekat di semester awal, saya dan Rifda, oh tidak, kami bertiga, saya, ia dan Ruli, kami justru dekat saat semester-semester akhir. Rifda dan Ruli dulu sering memandang saya sebagai mahasiswa yang gemar memilih teman-teman pintar. Kumpulan mahasiswa yang selalu memiliki ritme asistensi tugas mulus. Sedang Ruli dan Rifda biasa mendapatkan wajah murung dosen dan waktu asistensi yang singkat. Hmm tapi itu dulu saat kami bertiga belum cukup dekat. Persahabatan saya dengan mereka berdua masih cukup erat hingga kini meski komunikasi kami sedikit renggang karena kesibukan masing-masing.

Bagi saya Rifda memiliki kelebihannya sendiri, wawasannya cukup luas, pecinta buku, buah apel dan novel bagus. Kerapkali bisa berubah menjadi seorang pemanja dan moody.

Ada beberapa momen dengannya yang masih bisa saya ingat dengan baik hingga kini. Pernah kami menghabiskan suatu malam di rumah Ruli. ‘Sok’ sibuk membantu Ruli yang sedang dikejar deadline tugas akhir. Saya dan Rifda yang berhasil diiming-imingi makan malam gratis oleh Ruli saat itu tancap gas dari Surabaya ke Gresik. Sebenarnya bukan karena iming-iming itu sih, kami berdua sadar hanya punya hari itu untuk membantu Ruli sebelum akhirnya ia ujian. Saya masih ingat sekali bagaimana cerewetnya saya malam itu yang susah menemukan makanan warung yang menawarkan makanan rendah minyak. Saya memang kurang ajar hingga Ruli sempat diam-diam komplain ke Rifda atas sikap mengesalkan saya pada makanan-makanan berminyak itu. Padahal sebenarnya makanan yang saya pilih saat itu hanyalah sepiring Cap Cay kuah. Namun karena Cap Cay-nya ada beberapa bintik hitam sisa penggorengan olahan sebelumnya, nafsu makan saya turun seketika. Oh tapi itu dulu gegara ajaran Edwin Lau, chef yang terkenal dengan kampanye makanan sehat. Sekarang tidak lagi kok, saya pemakan segala, glutton!. Malam itu kami bertiga lebih banyak ngobrol (baca ; nggosipin orang!) daripada benar-benar membantu portofolio si Ruli. Hmm saya baru sadar kami bertiga tidak pernah berfoto bersama, poor me.

Kenangan dengan Rifda saat sekantor dulu juga masih membekas. Awalnya benar-benar aneh saat kami berkenalan ‘lagi’ di hari pertamanya, it was ridiculous!. Seperti biasa, setiap ada karyawan baru sudah jadi ritual pengenalan ke beberapa partner kerja, tapi Rifda? Oh, kami akan bekerja dalam tim yang sama. Di kantor dulu, Rifda dan saya, plus kawan kami yang juga tak selalu serius kerja, Yuriko dan Edwin, lebih banyak bertukar gosip akan banyak hal, mulai dari benda plastik yang menaungi AC kepala HRD, tentang manajer kami, hingga pandai bersandiwara memasang tampang serius saat kami harus duduk di meeting mingguan yang menjemukan. Rifda tak cukup lama bekerja sama dengan saya di tim konseptor, singkat sekali, hanya tiga bulan. Itupun hanya satu bulan setengah yang bisa dihitung aktif karena ia sering sakit hingga akhirnya mengundurkan diri.

Saya dan Rifda pernah bermimpi suatu saat bisa hidup di daratan biru. Ia terkesima dengan kemajuan teknologi Jerman, sedang saya yang tak pernah berhenti membayangkan artistiknya Italia dan Perancis. Kami pernah bermimpi bisa belajar disana. Bermimpi menjadi mahasiswa pasca sarjana yang mampu menghadang tekanan tugas-tugas berbahasa asing yang menumpuk, merasakan perubahan musim yang tak bisa kami dapatkan di negeri sendiri, berkunjung ke museum saat musim perkuliahan cukup renggang, belajar aksen bahasa setempat, hingga bermimpi bisa menjadi borjuis dadakan. Borjuis? Ya, Rifda pernah bermimpi bisa melenggang bebas masuk mengunjungi (baca ; belanja) butik-butik ternama sedang saya lebih memilih berburu makanan enak di restoran-restoran mahal. Ah, semoga suatu hari nanti mimpi-mimpi itu bisa menemukan jalannya sendiri.

Saya bahagia akhirnya Rifda menikah. Dulu saat kami intens bercakap di bbm, menikah adalah salah satu yang ia impikan dalam waktu dekat, selain perihal beasiswa master ke Jerman yang selalu ia impikan. Kini ia tak perlu lagi gelisah akan jodohnya. Tuhan telah memberinya jawaban dari hal besar yang selalu ia resahkan dulu.

Sayangnya saya tahu ia akan menikah bukan dari ia sendiri. Ia tak mengabari saya langsung, entahlah, mungkin karena terlalu bahagia sehingga lupa. Undangan virtual pun tak pernah sampai. Mungkin Rifda sadar betul saya tidak akan datang karena berada di benua yang berbeda. Kecewa iya, tapi itu terhapus dengan perasaan bahagia, karena akhirnya, doa yang dulu pernah saya panjatkan untuknya telah dijawab Tuhan di waktu yang sempurna. Menyedihkan memang tidak bisa menghadiri hari penting teman baik, but I had to face up reality that day.

Bukan saya terlalu kritis atau sensitif, tapi mungkin kita berdua harus belajar lagi bahwa persahabatan tidak seharusnya seperti bayangan, yang hanya ada saat terang namun hilang saat gelap. Kalimat didepan seperti curhat colongan ya, maaf ;). Saya akan terus memanjatkan doa untuknya agar apapun yang ia jalani di masa mendatang selalu dirahmati Tuhan. Amin.

Oh ya, masih ingat lirik lagu ini Rifda? Lirik dari lagu yang sering kita putar bersama Yuriko dan Edwin saat jarum jam kantor mendekati pertengahan angka empat dan lima? “..Engkau sangat berarti, istimewa di hati, selamanya rasa ini…jika tua nanti kita t’lah hidup masing-masing…ingatlah hari ini…”

Semoga kamu tak lupa.

Rifda1

Rifda2

Ah buku ini! Ini buku bagus dari Rifda yang ia hadiahkan untuk saya karena membantu menyusun laporan tugas akhirnya, one of my fav book from Paul Arden! Oh tidak, itu tujuh tahun yang lalu? Time flies.

Rifda3

P.S. Finally I had time untuk menghubungi Rifda dari sini sekedar mengucapkan selamat atas pernikahannya dua hari yang lalu. Terlambat sekali tapi saya yakin ia bahagia bisa mendengar suara saya dan ngobrol beberapa menit lewat telepon, terbukti she was screaming di pembicaraan awal kami. I love to make people happy. Rifda, jangan pernah lupa lirik ini “..Engkau sangat berarti, istimewa di hati, selamanya rasa ini…jika tua nanti kita t’lah hidup masing-masing…ingatlah hari ini…”. Maaf, saking sukanya saya pada lirik jenius dari P Project saya mengulangnya tiga kali. Well, like what was Henry David Thoreau said ; The language of friendship isn’t words but meanings.

Lagos, 2;39 pm.

Meester Carlo.

Mr Carlo

Hey, just wanted to pop in this blog and share my small meeting with Mr Carlo, flower supplier for our company. Today was my first time I met Mr Carlo and he’s friendly man indeed. We shared our business relationship for hours and uh he showed me his cute baby boy in his iPhone that really well photographed! His son is so fine and I do love his expression in those pictures, so innocent in very very cute poses!

He visits some countries in Africa for days concerning his business on fresh flower and will be back to Netherland tomorrow. And before he gone I said “Mr Carlo, I’d like to snap you, If you don’t mind” haha, “Oh sure!” and as you see above, he looks friendly rite?

P.S. To be honest I always love to meet vary friendly people, make friend and expand my network in the future and oh yea I’d love to take picture with him like what I did with Aunty Linie. Unfortunately, today I was in mess for appearance, hahaha yeah I’m quite difficult to put picture of mine, I mean, I have to make sure my picture is deliberate before I post it here. Seeya in Amsterdam Meester! ;P 

BebenyaBubu

ultah

.

Setelah perbincangan saya dengan mas Lukman yang memiliki blog ciamik dengan kekhasannya yang unik, kini saya ajak anda berkenalan dengan blogger keren lainnya. Kali ini saya berkesempatan mengobrol dengan Bebe, seorang perempuan Indonesia yang sekarang ini tinggal di Helsingborg, Swedia bersama suaminya, Bubu. Sekarang anda mengerti kan kenapa judul postingan ini BebenyaBubu?

Nah, jika saya mengulas obrolan ringan bersama mas Lukman dengan bahasa yang sedikit lebih formal, ngobrol dengan Bebe kebalikannya. Jauh lebih santai. Anda bisa dengan mudah menilai seorang Bebe adalah pribadi yang easy going, gaul dan periang dari bahasa yang ia gunakan. Daripada berlama-lama, mari, sediakan secangkir teh atau kopi hangat, rileks dan nikmati obrolan kami. Enjoy!

***

Sejak kapan keranjingan ngeblog Be? Lebih tepatnya kapan mulai ngeblog?

“Mulai ngeblog itu sekitar tahun 2007-2008. Awalnya ngeblog di FS trus karena di FS standar banget settingnya akhirnya pindah ke Multiply dan bertahan sekitar 1 tahunan disitu. Masalahnya kan di multiply yang bisa komen cuma orang2 yang terdaftar di multiply aja (sementara aku pinginnya eksis abis gitu kaaaan) akhirnya ya nyoba ganti platform lagi deh.. hahahaha. Setelah labil ke sana kemari, akhirnya hatiku berlabuh di wordpress sampai sekarang”

Pertama berkunjung ke blogmu sih langsung silau dengan kualitas fotonya pun bahasanya yang ringan sekali Be. Apa ini salah satu kekuatan blogmu agar menarik dibaca?

“Hmm.. bisa dibilang kekuatan ga ya? secara emang cuma bisa itu doang.. ahahahaha…But on the serious side.. aku nulis dengan bahasa yang ringan supaya ga terlalu pusing sama tata bahasanya. Sadar diri aja sih kalau emang ga berbakat nulis yang serius nan dalam gitu. Dan dengan nulis santai gini rasanya lebih enak dibaca juga sama temen-temen yang lain ga sih? hihihi.

Untuk soal foto, pada dasarnya aku ga terlalu suka kalau liat foto kecil-kecil gitu. Gemeeesss, makanya pas pasang foto di blog sendiri sekalian ajalah yang gede. Pan sekalian promosi juga.. hahahaha”

Yang aku suka dari blogmu itu tidak melulu postingan serius, atau postingan makanan terus, paket lengkap lah, ada cerita sehari-hari, travelling, dll. Khusus untuk postingan makanan, bagaimana awal mulanya suka mengabadikan makanan yang dimasak?

“Aku mulai suka food photography itu sejak pindah ke apartemen sendiri. Niat awalnya sih mau mengabadikan hasil-hasil makanan yang berhasil dibuat sendiri untuk pertama kalinya. Ya maklum, akhirnyaaaa gitu loooh, bisa bebas ngacak-ngacak dapur sendiri. Hahahahaha. Eh pas lagi browsing-browsing resep kok kebanyakan hasil fotonya kece2 semua yaaa.

Trus nama pun orang ga mau ngalahan, akhirnya aku ikutan nyoba2 deh. Eh ternyata keterusan”

Sepengetahuanku, fotografi makanan itu kan bermacam-macam gayanya Be, kalau yang aku lihat dari foto-foto yang diposting di blogmu itu editingnya kerasa sekali, sampai ke detail contonnya grafis untuk judul makanannya. Bisakah itu dibilang identitas fotografimu Be?

Hmmm.. kalau sampe dibilang identitas sih kayaknya belum ya.. Tapi emang sentuhan editingnya kerasa karena aku belum jago dalam hal ngatur lighting dll. Dan masih keterbatasan prop & setting lah. Makanya satu-satunya supaya fotonya jadi sesuai sama bayanganku itu ya dengan cara diedit. Cuma kalau pada akhirnya bisa jadi semacam “trademark” atau ciri khas kayaknya lucu juga.. ^_^”

Nah ini yang sering aku tanya pada para food blogger, ada budget khusus untuk memasak hanya untuk diposting di blog?

Nope! Masakan yang aku bikin seringnya emang makanan yang akan dimakan saat itu juga. Jadi jarang banget khusus bikin sesuatu cuma buat foto-foto aja. Kasian Bubunya, nanti cepet bulet dia.. :D”

Aku pernah membaca postinganmu tentang tips fotografi makanan, nah ada yang aku amini, tentang pentingnya props. Sering bokek ga Be karena keseringan beli props untuk memenuhi hasrat bisa menghasilkan foto bagus?

“Hahahahaha.. belum sih. Menteri keuangannya galak nek! :))

Tapi biasanya kalau lagi jalan-jalan dan ketemu prop apa gitu yang kayaknya lucu biasanya sih langsung ambil aja. Asal harganya masih masuk akal, ya sekali-kali gak apa-apa. Tapi emang prop ini kadang suka bikin bete sih kalo lagi mau foto.

Kebanyakan punya prop, pusing naronya dimana. Kalo sedikit, pusing juga itu-itu lagi dipakenya.. sigh.. *banting piring*”

Kalau aku sih Be, seringkali kebayang mau masak apa besok pagi, motretnya bagaimana, warnanya harus apa, bayangan2-bayangan buat postingan blog itu kadang muncul saat kerja pula hehehe, apa seorang Bebe pernah mengalami begitu?

“Kadang-kadang. Kalau misalnya udah napsu pingin nyoba satu resep, mulai kepikiran bentuknya nanti gimana, plating-nya kayak apa, dll dari sebelum bikin makannya. Apalagi kalau ada contoh hasil foto masakannya. Jadi curi-curi ide gitu deeeh. Tapi lebih seringnya sih (80% of the time) on-the-spot gitu lah. Baru mulai rempong naro2 props pas lagi masak dan pas masakannya kelar. Makanya kadang butuh poles sana sini pakai photoshop”

Dulu mengenyam pendidikan desain grafis kan Be? Tepatnya dimana? Apa yang mendasari kemudian seorang Bebe nyemplung di desain grafis?

“Iya. Aku dulu kuliah desain grafis di salah satu kampus di Karawaci.. :P

Awalnya pingin jadi desainer grafis itu karena bercita-cita mau jadi animatornya PIXAR.. hahahaha.. Tinggi kan cita-citanyaaa.. *angkat dagu*. Tapi ditengah jalan sadar diri kalau ga ada bakat animasi dan akhirnya fokus aja sama desain layout dan photo editing. Eh ternyata jalan barunya malah bantu banget buat ngejar cita2 baru pingin jadi fotografer.. Alhamdulillah.. ^_^”

Sekarang pakai Canon 5D, cerita dong perjalanan kamera yang dipakai waktu mulai menyadari seorang Bebe suka fotografi?

“Kamera DLSR pertamaku itu Canon 550D yang dibeliin suami setelah beberapa bulan melancarkan rayuan maut *eciyeeeh*. Dari dulu emang udah suka banget megang kamera-kamera gede karena papaku punya kamera manual yang udah sering aku utak atik sampe akhirnya rusak *maapin Bebe ya pa* -__-“. Selama foto-foto pakai kamera 550D sebenernya sih ga ada masalah juga. Sempet foto pre-wed pakai kamera itu dan hasilnya ternyata cukup lumayan. Tapi kata suami kalau mau serius mending sekalian aja pakai yang full frame sekalian, akhirnya ya udah di-upgrade jadi 5D deh..”

Punya panutan blogger atau fotografer Be? Inspiratornya gitu lah?

“Nope! Maksudnya sampai sekarang aku belum nemu yang bener-bener ngasih inspirasi khusus gitu deh. Kebanyakan serabutan banget liat sana sini. Makanya hasilnya juga kadang suka agak labil.. hahaha..”

Sibuk apa saja sekarang di Swedia Be?

“Sekarang baru mau siap-siap lanjut sekolah bahasa lagi. Sebenernya sih awalnya udah nyerah ngelanjutin belajar bahasa, tapi rasanya kok kurang ya kalau untuk cari kerja. Jadi mending lanjut saja lah. Takutnya kalau kebanyakan bengong malah sibuk nontonin drama Korea mulu lagi.. ahahahaha..”

“Tinggal di Swedia itu bisa di pastikan mahal, secara negara maju dan masuk Skandinavia lagi, kiat-kiatnya bisa enjoy hidup disana?”

Kiat biar bisa enjoy tinggal di Swedia? Hmmm..

  1. Jangan terlalu sering bandingin harga di Swedia sama di Indo. Mungkin untuk barang2 tertentu boleh lah.. Tapi kalau keseringan malah bisa stress berat. Ciyuuss, ga bohong deh.
  2. Pasrah aja kalau pendapatan dipotong 30-50%. Sakit hati siiiih, tapi yang penting kan duitnya jelas kemana perginya.. hihihi…
  3. Rajin masak di rumah supaya duitnya ga abis buat makanan aja. Kali2 malah bisa jualan makanan :P
  4. Rajin ngecek harga dulu sebelum beli apa2. Soalnya kadang walaupun tulisannya lagi SALE, suka tetep lebih mahal dari harga di toko lain yang ga diskon. Intinya WASPADALAH!!!
  5. Tinggal dimana selalu ada plus minusnya. Tinggal kita mau liat minusnya doang atau mau menikmati plusnya… ya ga? hahahahaha bijak banget saya *tepuk2pundaksendiri* “

Kalau orang awam yang belum pernah ke Eropa apalagi tinggal, yang dilihat kan seringkali ‘enak-enaknya’, kayak kotanya bagus, orang-orangnya keren, bla bla bla lah. Cerita sedikit dong hal-hal yang kadang menantang, nyebelin, suka dukanya tinggal di negara orang Be?

“Hmm.. apa yaaaaah..

Pertama pasti faktor jauh dari keluarga bikin suka kangen rumah. Tapi hari gini kan ada Skype, facetime, dll yang bisa ngerasa deket terus.

Oh, kalau di Jakarta kan kalau butuh naik kendaraan umum ada banyak pilihan yang bersliweran di jalan. Bisa naik ojek, becak, bajaj, angkot dll. Nah kalo di Swedia (atau negara Eropa sih), misalnya kita butuh naik kendaraan umum itu cuma ada bus. Itu pun udah berjadwal khusus tiap rutenya dan jaraaaaang banget telat. Jadi kalau misalnya kita mau kemana2 harus tau banget bus ini sampainya jam berapa, trus bus berikutnya jam berapa, dll. Misalnya males ribet pilihan lainnya ya jalan kaki deh.. :(

Trus ga enaknya lagi itu adalah kalo males masak, pilihan makanan yang bisa dibeli ga terlalu banyak. Soalnya resto yang murah2 juga ga banyak. Paling antara makan kebab, pizza kebab, atau makan makanan thailand. Huhuhuhu.. kan saya kangen makan bebek goreeeeng :((

Terakhir, suka ngiriiiii kalo ngeliat yang di Jakarta nyoba makan ini itu.. saya mau jugaaaaaaaa T_T”

Budaya Swedia yang sampai detik ini bikin seorang Bebe amaze?

“Tepat waktunya edaaaaan!!

Kadang aku dan Bubu kan suka ngundang temen-temennya untuk dateng ke rumah. Misalnya janjian jam 8, ya jam 8 persis (atau kadang kurang dikit) pasti udah ada yang ngetok pintu. Jadi kalau misalnya masak apa gitu, enak banget udah ngerti harus mulai jam berapa supaya jadinya jam berapa. Harus ngasih snack dulu atau ga, dll..

Tapi ya efeknya aku dan Bubu pun harus sama kayak gitu juga. Alhamdulillah sih selama di Indo pun jarang banget jam karet, jadi waktu pindah ke sini udah terbiasa ga keburu-buru kalau mau pergi. Udah diplanning dari sebelumnya mau berangkat jam berapa, butuh naik apa aja, dll.. ^_^”

Terakhir, persembahkan deh tiga kata buat Swedia dan Indonesia?

“I love you..

Huahahahahahahahahahhahaha… *hush*”

***

Seingat saya, kunjungan pertama ke blognya Bebe itu dari postingannya di forum food blogger Indonesia di Facebook. Semenjak itu saya mulai mencari beberapa cela menarik dari seorang penggemar berat serial Korea ini untuk kemudian saya tampilkan di blog ini. Blog si Bebe ini menurut saya paket lengkap, ada cerita sehari-hari yang kerap kali membuat saya tersenyum sendiri saat membacanya, foto-foto perjalanan Eropanya yang terekam dengan sangat indah, dan tentu saja, food photography-nya.

Sebenarnya saat menulis daftar pertanyaan diatas via surel saya sedikit khawatir pertanyaan yang saya utarakan kebanyakan, hehehe, tapi saat mau diperpendek kok ya sayang, dan setengah percaya juga si Bebe ini doyan cuap-cuap ya sudahlah. Eh, tak dinyana malah ia menjawabnya lebih panjang dari pertanyaan saya, hehehe.

Daripada berlama-lama, kunjungi blog Bebe di sini, dimana Bebe sangat-sangat update mengenai banyak hal yang saya yakin, anda akan menikmati setiap tulisannya. Be, kita ketemu di Malmö tahun depan *salim hehehe.

Terakhir, mari nikmati beberapa foto hasil jepretan Bebe yang sengaja saya pilih karena keindahannya. Semua foto telah mendapat ijin untuk di re-post disini.

PARIS-31

love21

PARIS-1

narsis1a

appletiramisu11

chicken-tikka-masala2

Okay fellas, see ya with another cool blogger next time! 

Pandjalu

PANDJALU_DJALUJANG_110622_Biodata_01_WEB

Mari menambah ilmu. Buka wawasan dengan orang-orang baru agar kita semakin tahu.

 

Saya perkenalkan Anda dengan blog yang membuat saya kagum dengan konten dan kualitasnya belakangan ini, Pandjalu. Daripada berlama-lama, mari simak perbincangan saya dengan pemiliknya. Take a cup of tea, stay cool and enjoy! 

Siapa sebenarnya seorang dibalik blog Pandjalu, profil singkat lebih tepatnya?

“Ok, Pandjalu adalah sebuah catatan dari seorang pria yang sangat tertarik dengan dunia makanan. Pria itu adalah saya, bernama Lukman Gunawan a.k.a. Elgunawan. Bisa dipanggil El atau dipanggil Gunawan, ataupun Lukman, bebas. Catatan seputar kegiatan memasak itu saya torehkan dalam sebuah blog yang saya susun sebelum saya menikah dan menantikan kelahiran seorang anak seperti sekarang ini. 

Saya adalah orang yang sangat menyukai keindahan visual, maka tak salah kalau saja saya memang menyeburkan diri dalam dunia grafis dan fotografi. Namun dua dunia itu sudah saya tinggalkan semenjak tiga tahunan yang lalu setelah saya memutuskan untuk tinggal di sebuah desa jauh di pingir selatan kota Bandung. Sekarang saya sedang belajar bertani, bercocok tanam, dan budidaya perikanan tawar”

Apakah kesibukan mas Lukman selama ini berhubungan dengan dunia memasak?

Kesibukan saya sebenarnya tidak bersinggungan langsung dengan dunia memasak. Ya tapi hasil bumi dan perikanan kan pasti ujung-ujungnya untuk persoalan perut, nyambung ke masak. Namun juga, cerita kehiduapan mengalir dan mengarahkan saya untuk bersinggungan dengan dunia memasak. Keberadaan blog Pandjalu.com ternyata tanpa diduga menjebloskan saya benar-benar ke dunia memasak. Tadinya memasak yang merupakan sebuah hobi untuk mengisi waktu luang ketika dulu masih bujangan ternyata lambat-laun menjadi sebuah pekerjaan juga. Saya acapkali diundang untuk demo masak dan memasak utuk orang lain. Kini saya akhirnya membuat sebuah jasa memasak bersama teman baik saya, bernama Open Table

Sejak kapan mas, berpikir bahwa memasak terus membuat blog itu dirasa menyenangkan?

“Kalau ditanya sejak kapan saya menikmati memasak terus membuat blog itu menyenangkan, ya pastinya sejak blog tersebut muncul dan saya ciptakan. Kalau saja saya menyadari ini dari sejak SMA, misalnya, ya mungkin akan saya lakukan sejak dulu.

Semua ini awalnya berangkat dari keisengan saya saja, yang semenjak pindah ke sebuah desa saya tanpa sengaja sering berkegiatan di dapur untuk sekedar memenuhi kebutuhan sendiri dalam hal makanan setiap harinya. Lalu karena, ya, itu tadi saya ini orangnya “visual” sekali, tanpa sengaja saya membuat dokumentasi dari setiap hasil saya memasak. Pemikiran lainnya yaitu saya ini orangnya pelupa, jadi saya butuh catatan sendiri untuk segala hal yang telah saya lakukan. Supaya ketika saya lupa saya bisa kembali membuka catatan pribadi saya. Pribadi? Ya, kalau diteliti, sebenarnya di blog itu saya tidak pernah sekalipun mencoba berinteraksi dengan orang lain / pembaca. Jadi ini tujuannya benar-benar catatan untuk pribadi saya sendiri. Makanya saya pun tidak menyediakan layanan komentar di blog tersebut”

Dari beberapa postingan makanan yang mas Lukman buat, adakah waktu dan budget khusus untuk memasak, kemudian dibuat postingan hingga akhirnya dipublish di blog?

“Saya sama sekali tidak membuat aturan atau jadwal apapun dalam blog saya itu. Jadi sama sekali tidak ada budgeting atau perhitungan apapun dalam setiap materi yang akan saya posting. Singkatnya, ketika saya sedang memasak ternyata hasilnya bisa saya dokumentasikan, ya akan saya foto. Kalau ternyata saya tidak sempat foto, ya, saya tidak akan foto, yang pada akhirnya tidak akan saya posting juga ceritanya. Bahkan banyak sekali kejadian-kejadian memasak saya yang tidak saya dokumentasikan di blog. Ya begitulah, ini menjelaskan bahwa saya tidak effort dalam membuat blog tersebut karena memang saya tidak mau direpotkan dengan urusan nge-blog, hahaha. Hampir setiap hari saya memasak, tapi coba perhatikan tanggal dan waktu setiap postingan blog saya itu, belang-belang sekali, waktunya saling berjauhan, hahaha. Jadi intinya, ada kejadian yang terdokumentasikan, maka akan saya simpan di blog, namun ketika saya malas atau terlewat untuk membuat dokumentasi, ya saya sih cuek saja, hehehe”

Melalui blog Pandjalu ini, saya dengan mudah bisa menilai mas Lukman ini punya sense of art yang bagus, dari pemilihan gambar, layout, dan desain grafis yang disisipkan di resep, sebelumnya pernah mengenyam pendidikan desain atau sejenisnya mas?

“Wah, thanks for your compliment. Iya, latar belakang sekolah saya adalah desain grafis”

Di beberapa postingan saya bisa melihat pengetahuan mas tentang bahan makanan dan jenis makanan cukup luas, dari mana saja mas Lukman belajar mengetahui hal-hal seputar makanan?

“Dunia memasak ini saya mempelajarinya dari buku, buku, dan buku, sekaligus praktek memasak langsung. Banyak melakukan kegiatan yang terus-menerus sama pasti pada akhirnya akan membuat diri kita sendiri mengetahui lebih banyak akan kegiatan tersebut. Dan karena blog itu juga, akhirnya menggiring saya ke orang-orang yang bersinggungan langsung dengan dunia makanan, maka saya banyak belajar dari orang-orang tersebut. Belajar dari the real chef, pelaku bisnis restoran, pedagang sayuran di pasar, petani, dari pembantu di rumah, dan lainnya. Namun perlu dicatat, saya merasa pengetahuan saya belum luas, loh”

Siapa yang banyak menginsipirasi mencintai dunia memasak? Idolanya deh dalam memasak?

“Karena saya senang dengan visual maka seringkali saya membeli buku dengan alasan tampilan visualnya bagus. Jauh sebelum saya bersinggungan dengan dunia memasak ini, dulu saya tidak sengaja membeli buku Jamie at Home-nya Jamie Oliver. Lalu semenjak saya pindah ke desa, buku tersebut ternyata sangat memberikan inspirasi dalam hal memasak. Visual yang muncul dalam buku tersebut menstimulasi otak saya kebahagiaan-kebahagiaan dalam memasak. Saya sangat menikmatinya. Namun jika ditanya mengenai idola dalam memasak, saya tidak punya idola. Lebih tepatnya belum punya”

Menurut mas Lukman sendiri, bagaimana seharusnya blog makanan itu dipersembahkan oleh si blogger?

“Blog makanan harusnya seperti apa?! Hahaha. Tidak ada aturan apapun sih menurut saya. Namanya juga blog, sifatnya pribadi, jadi ya seenak-dewek-nya saja. Saya tidak terpikirkan harus seperti apa “baiknya” sebuah blog makanan karena berangkat dari pengalaman saya, ya, saya tidak untuk tujuan apapun dalam membuat blog masakan ini terkecuali untuk catatan pribadi saya sendiri”

Punya panutan seorang food blogger ga mas yang mempengaruhi gaya tulisan ataupun gaya fotografi makanan?

“Panutan food blogger?! Tidak ada, hahaha. Saya ini adalah tipe orang yang kurang mempunyai panutan, hahaha. Palingan idola saya itu Blur, Radiohead, dan Scott Schuman, hahaha”

Foto-foto yang diambil mas ini keren-keren, selama ini menggunakan spesifikasi kamera apa? Apakah dulu pernah belajar memotret makanan?

“Saya mengunakan kamera apapun yang ada di sekitar ketika memasak. Jadi tidak ada spesifikasi kamera khusus. Beberapa makanan terdokumentasikan dari kamera genggam bahkan dari fasilitas kamera di ponsel. Sebagian lagi ada yang pakai SLR. Bebas. Dan saya sama sekali tidak belajar memotret makanan. Sebisanya saya saja sih itu, hehehe”

***

Saya memberanikan diri mengirim salam, memperkenalkan diri, kemudian mengajukan beberapa pertanyaan ringan kepada mas Lukman sesaat setelah saya menelusuri halaman demi halaman blognya. Saya mengetahui link blognya dari mas Fahri atau yang biasa disebut Masjaki saat ia mengirim sahutan di twitter. Beberapa menit saya mundur sejenak dari pekerjaan saya hari itu dan langsung berselancar di blognya. Saya terkesima dengan paduan foto yang ia posting dan gaya tulisannya yang sungguh berbeda. Sungguh menarik.

Kadangkala satu hal yang membuat saya amazed dengan teknologi saat ini adalah begitu mudahnya menjalin pertemanan. Berinteraksi kemudian belajar. Saya menyadari blog ini masih sangat muda hingga saya merasa perlu belajar banyak kepada pribadi-pribadi baru. Belajar cara menulis yang menarik, memotret makanan yang indah dan belajar banyak hal baru. Dari perbincangan saya dengan mas Lukman via surel ini membuat saya menyadari satu hal, If you love something, do it often then you will learn much until you find your passion. 

Mari nikmati beberapa foto bidikan mas Lukman yang sengaja saya pilih karena keindahannya. Foto-foto ini sudah mendapat ijin untuk di re-post disini ya, hehehe. Selebihnya silahkan mengunjungi Pandjalu, pretty sure you will love them. Enjoy!

 

PANDJALU_120306_Verjus_Poulet_Ro_ties_06_WEB

PANDJALU-DJALUJANG-120217-Signature-Sauce-01-WEB

Pandjalu-120723-Karma-05-WEB

PANDJALU-DJALUJANG-120119-Menyesali-Untung-02-WEB

Pandjalu Bubur Oatmeal 130113 06 WEB

PS : Big thanks for sharing mas Lukman. I’m so pleased.

Ketemu si Wana.

“I love making new friends and I respect for a lot of different reasons” – Taylor Swift-

Ada yang setuju dengan quote diatas selain saya? Saya yakin anda juga.

Mencari teman-teman baru itu cara ampuh untuk membuka jaringan baru, pengetahuan baru, dan pandangan baru. Saya kenalkan anda pada Wana Darma lewat blog ringan hasil kolaborasi dengan temannya.

Saya kenal Wana lewat bang Nuran di twitter, kemudian berkunjung ke blog yang saya pun clueless kenapa diberi nama Jicho Barabara. Tak usah dipikir dari mana ia mendapatkan nama untuk blognya karena bagi saya kontennya menarik untuk dibaca. Ia menulis dengan tutur yang cukup berbeda, ringan dan kadang menyisipkan sentilan-sentilan humoris yang membuat anda tidak akan merasa bosan untuk menelusuri setiap postingannya.

Saya pernah ditantang untuk berbagi resep masakan Nigeria di rubrik uniknya #MalesMakan yang bisa anda baca disini. Saya memasak Asun, sejenis barbecued goat meat ala Nigeria yang pedasnya minta ampun. Kenapa saya memilih Asun daripada resep-resep lainnya di negara tempat saya tinggal sekarang ini? Karena Asun itu mudah dibuat. Sesuai dengan konten #MalesMakan yang memang diperuntukkan untuk mendorong orang yang berpikir memasak itu harus sulit hingga akhirnya malas makan, maka Asun salah satu resep yang sesuai untuk mengisi edisi Piring Tetangga milik si Wana. Saya pikir anda tidak harus mahir memasak untuk bisa membuat makanan yang mudah namun rasanya tetap bisa menggoyang lidah.

Asun

 

Coba buka sekarang blog milik Wana, enjoy!

生日快乐 Sinyo!

Kemarin malam selepas pukul delapan saya tersadar di Indonesia sudah berganti hari, 4 Januari. Itu berarti hari lahir sahabat baik saya, Yuriko Liao atau biasa saya panggil Sinyo. Saya mengirim pesan pendek via bbm dan ia membalasnya seketika.

Tiba-tiba saya tergerak untuk mengingat persahabatan kami melalui postingan ini. 

Saya mengenal Sinyo yang fasih berbahasa Mandarin dan Inggris ini saat kami sekantor dulu. Pertama mengenalnya saya kira ia seorang yang serius namun ternyata saya salah besar. Ia kocak, jahil dan tentu saja menyenangkan. Ada banyak hal yang mengingatkan saya pada pertemanan kami, salah satunya kejahilan-kejahilan yang tak pernah habis ia ciptakan. Mulai dari membuat beberapa karikatur wajah saya yang sama sekali tidak menarik, menciptakan mimik wajah aneh yang mengganggu saat meeting tim, membuat nickname yang kadang tak jelas, hingga menciptakan sebutan-sebutan untuk HRD kami yang bisa membuat perut melilit sakit saking lucunya. He is hilarious one.

Sinyo sangat memperhatikan pola makan dan penampilan. Dulu ia sering membawa makanan-makanan impor yang nampak asing seperti weetabix yang mirip serbuk kayu, ginger cookies yang kerasnya bisa mematahkan gigi, hingga produk dairy low fat. Entah bagian dari niat memamerkan makanan-makanan tak murah itu, atau memang kebutuhan asupan untuk seorang fitness addict hehehe. Ia pecinta jelly, sayuran dan buah, serta makanan-makanan baik lainnya. Gorengan dan oily foods haram baginya. Satu lagi, he is a branded man.

Saya tak cukup lama bekerja dengannya, hanya satu setengah tahunan. Namun kenangan bersahabat dengannya cukup banyak. Salah satu yang paling berkesan adalah membuat kejutan di hari terakhirnya bekerja. Bersama dengan teman baik saya lainnya, Diko, kita berdua menyusun farewell party untuk merelakan Sinyo pergi dari Bikini Bottom. Anda berpikir kan kenapa Bikini Bottom? Karena kami bertiga sering menyebut diri kami 3 sahabat seperti Spongebob, Patrick dan Squidward. Kekanak-kanakan but it was fun honestly. Saya dan Diko merencanakan pesta perpisahan untuk Sinyo mulai dari memilih hadiah hingga mengatur waktu perayaannya. Saya pikir kejutan yang kami buat saat itu pekerjaan yang lebih keren dibanding mengejar target desain hehehe.

Tak terasa waktu bergerak begitu cepat sejak kami meninggalkan kantor yang lebih dipenuhi dengan senda gurau dibanding kerja serius. Diko kembali ke kota asalnya, Yogyakarta sedang Sinyo bekerja dan hidup di Balikpapan bersama istrinya yang ternyata juga kocak, Deysi. Saya sempat bertemu mereka berdua bulan juli tahun lalu when I was on leave. Kami nonton, makan hingga akhirnya kembali berpisah lagi.

Well, meskipun hanya memiliki beberapa jam kebersamaan that day, bagi saya itu lebih dari cukup untuk menjaga persahabatan kami.

Anyway, Best friends never need to be told that they are best friends. So, I don’t need to tell you right? Have a fantastic birthday, buddy!

Saya suka ekspresi Spongebobnya hehehe.
Saya suka ekspresi Spongebobnya hehehe. Ini salah satu hadiah buat Yuriko dari saya dan Diko.
Ini salah satu momen dimana Sinyo membuka hadiah maratonnya. Lucky you!
Ini salah satu momen dimana Sinyo membuka hadiah maratonnya. Lucky you!
Jelly coklat sederhana untuk hari terakhirnya di kantor dulu.
Jelly coklat sederhana untuk hari terakhirnya di kantor dulu.
Eh kira-kira Sinyo ingat kue ini?
Eh kira-kira Sinyo ingat kue ini? Ini simple birthday cake-nya dua tahun yang lalu saat masih sekantor dulu.
Sinyo dan istrinya, Deysi. Lovely couple.
Sinyo dan istrinya, Deysi. Mereka menikah bulan Desember tahun lalu, pengantin baru nih! Lovely couple. Eh ada patung kayu yang saya bawa dari Nigeria nongol di foto ini hehehe.

Ranukumbolo Accomplished {Day 3, Finally}

Indonesia. I proud you!
Indonesia. I proud you!

Pagi itu kedua mata saya silau meski tenda menaungi sepanjang malam. Sinar matahari membangunkan kami berlima di suatu pagi terakhir di Ranukumbolo.

***

Kami bangun sekitar pukul sembilan. Pagi itu matahari amat cerah sedang hawa sekitar masih terlalu dingin. Bangun tidur dari tenda mendapati danau yang tenang dengan kabut diatasnya itu istimewa. Langit biru tak kalah cerah. Kabut yang menggumpal diatas danau membuat saya buru-buru mengarahkan kamera seakan tak ingin melewatkan kesempatan mengabadikan Ranukumbolo. Pagi itu benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dibanding dengan pagi yang selalu saya lewati di Lagos. Tenang dan segar tanpa beban-beban pekerjaan yang biasa menggumpal di pikiran.

Tak lama setelah bangun, saya sudah ditagih Ayos menu apa yang akan menjadi sarapan kami berlima. Itu bukan pertanyaan aritmatika yang susah dijawab :P, karena saya sudah memiliki kunci jawabannya. Saya mencari spaghetti sembari berusaha menemukan saus bolognese siap pakai bersama Winda. Maya dengan ikhlasnya menuju danau untuk mencuci peralatan sisa memasak semalam. Setelah mendapati peralatan masak yang sudah bersih, saya berlagak sebagai koki gadungan. Saya memulai dengan merebus air yang diambil Maya dari danau, sementara Winda menyiapkan saus bolognese siap pakai. Tak lama setelah selesai merebus spageti, Winda kembali menyibukkan diri memotong dadu keju cheddar sebagai pelengkap sarapan kami. Saya tak akan pernah lupa kehebohan yang kami ciptakan setelah sarapan kami matang. Maya dan saya menciptakan sedikit kecongkakan dengan membandingkan sarapan kami dengan ‘tetangga’ yang hanya memasak mie instan. Sepertinya kami memang kerasukan ‘kesogehan’ Ruli hingga tak malu menyombongkan sarapan spaghetti abal-abal. Ah tapi saya benar-benar menikmati gelar tawa pagi itu.

***

Pukul sebelas kami mulai membereskan barang yang kami bawa kedalam ransel masing-masing. Kami beranjak meninggalkan Ranukumbolo. Kali ini raga kami tak disiksa dengan beban ransel karena dua potter yang disewa Maya. Kami menuju arah pulang.

Selalu ada kesempatan untuk melakukan salah satu sesi menarik dari setiap perjalanan. Apalagi jika bukan berfoto ria di sepanjang jalan setapak yang kami lewati untuk turun kembali ke Ranupani. Beberapa kali kami berhenti untuk berfoto. Salah satu foto favorit saya adalah saat kami berempat mengambil gambar dengan latar belakang Semeru. Perjalanan pulang kami lewati dengan perasaan lega. Formasi kami masih sama, Ayos dan Winda memimpin di depan sedang Maya, Ruli, saya dibelakang. Menapaki jalan setapak dibumbui humor Ruli dan Maya benar-benar mewarnai perjalanan pulang. Banyak hal yang kami ceritakan meski napas sudah ngos-ngosan. Saat itu kami masih saja bertemu (lagi) dengan tetangga yang kebagian spageti tadi. Maya kemudian membuat saya tertawa dengan asumsinya bahwa mereka sengaja dekat dengan kita agar dapat jatah makan. Hehehe it was so funny May!. Perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada saat kami mendaki. Kami tiba kembali di Ranupani sekitar pukul tiga sore.

***

Setelah meregangkan otot-otot kaki dan memanjakan perut dengan makan siang di warung setempat, kami buru-buru kembali ke rumah Bapak Sinambela, tempat kami menginap sebelumnya. Kami membersihkan kaki dan mengecek kembali isi ransel sebelum sebuah hardtop merah mengangkut kami berlima untuk kembali ke kota. Dan (lagi-lagi) kami satu hardtop dengan tetangga (setia) kami. Oh tidak, bukan hanya satu hardtop, satu angkot pula menuju terminal hehehe.

Pukul empat sore lewat kami berlima sudah di dalam bis menuju Surabaya. Perjalanan kembali menuju stasiun sedikit mencemaskan. Sepertinya Maya dan Winda kurang beruntung tak bisa mengejar kereta yang akan membawa mereka kembali pulang. Sore itu perjalanan dari Malang ke Surabaya sedikit macet sehingga mengharuskan Maya dan Winda merelakan tiket kereta eksekutif hangus begitu saja. Sesampainya di terminal, Maya dan Winda dibantu Ayos sibuk mencari penerbangan terakhir yang bisa membawa mereka ke Jakarta malam itu juga. Setelah berkutat hampir satu jam di terminal Bungurasih yang sibuk dengan berbagai rupa manusia, akhirnya Maya dan Winda berhasil mendapat last flight ke ibukota. Tentu harga penerbangan sedikit membuat mereka berdua mengerutkan dahi.

Kami akhirnya berpisah di terminal Bungurasih. Maya dan Winda harus kembali ke Jakarta sementara Ayos, saya dan Ruli kembali menuju kos. Malam itu saya agak berat menjabat tangan Maya dan Winda dan berandai kebersamaan kami berlima bisa lebih lama hehehe. Malam itu saya sadar satu hal. Menikmati pagi dengan angin semilir, danau yang tenang, langit biru, teman-teman yang menyenangkan adalah quality time yang perlu dijaga. Thank you guys!

Simply breathtaking.
Simply breathtaking.
Lovely morning at Ranukumbolo.
Lovely morning at Ranukumbolo.
Beautiful.
Beautiful.
Sesaat sebelum packing!
Tenda kami.
Maya ada paparazi! hehehe.
Maya ada paparazi! Eh disini Maya seperti ibu kos ya hehehe.
Winda was cooking sauce for our spaghetti!
Winda was cooking sauce for our spaghetti!
Our breakfast that time.
Our breakfast that time.
Maya dan saya menggigil tapi tetap gaya, hehehe.
Maya dan saya menggigil tapi tetap gaya, hehehe.
Ruli - Winda - Maya.
Ruli – Winda – Maya.
Ayos dan Winda. So sweet.
Ayos dan Winda. Tsah.
Foto perjalanan pulang.
Foto perjalanan pulang.
Winda - Maya.
Winda – Maya.
Foto! Wajib nih yang beginian.
Foto! Wajib nih yang beginian.
Foto sama abang-abang potter-nya Maya.
Foto sama abang-abang potter-nya Maya.
Wow we could see clouds! Amazing!
Wow we could see clouds! Amazing!
Ayos - Winda - Ruli - Maya. Like this picture.
Ayos – Winda – Ruli – Maya. Like this picture.
Ayos - Winda - Ruli dan saya.
Ayos – Winda – Ruli dan saya.
Semeru.
Semeru.
Yah bertemu tetangga kita lagi May!
Yah bertemu tetangga kita lagi May!
Semakin dekat dengan Ranupani. Kami kembali.
Semakin dekat dengan Ranupani. Kami kembali.
Tiba waktu pulang. Kami menuju rumah Bapak Sinambela sebelum benar-benar meninggalkan desa Ranupani. That day was so bright, wasn't it?
Tiba waktu pulang. Kami menuju rumah Bapak Sinambela sebelum benar-benar meninggalkan desa Ranupani. That day was so bright, wasn’t it?
Sampai di Ranupani ketemu ini. Yummy! Santap!
Sampai di Ranupani ketemu ini. Yummy! Santap! For sure tanpa saus ‘tomat’ merah dibelakangnya hehehe.
Naik ini...hmmm... adventurous!
Naik ini…hmmm… adventurous!
Maya dan Winda. Lelah.
Maya dan Winda. Lelah.
Lihat ekspresi Maya. Apakah ia kesal masih satu angkutan dengan 'tetangga' kita? Saya mengambil ini saat kami dalam perjalanan pulang menuju terminal bis yang akan membawa kita kembali ke Surabaya.
Lihat ekspresi Maya. Apakah ia kesal masih satu angkutan dengan ‘tetangga’ kita? Saya mengambil ini saat kami dalam perjalanan pulang menuju terminal bis yang akan membawa kita kembali ke Surabaya.

Rasanya saya tak akan kapok mendaki sepuluh kilometer menuju dan sepuluh kilometer lagi meninggalkan Ranukumbolo. Semuanya worth it. Tahun depan? Rinjani buka pilihan buruk bukan? Pertanyaannya? Kuatkah kami? :P

Oleh-oleh (dari) Indonesia.

Kemarin kamis flatmate saya, Andhi kembali dari short vacay setelah hampir tiga minggu di Indonesia. Tak ada kebahagiaan yang tergantikan saat melihat oleh-oleh khas Indonesia yang mustahil ditemukan di Lagos terlihat didepan mata.

Sore itu saya masih disibukkan dengan meeting dengan sebuah bank hingga sore. Terjebak macet sialan di Lagos bukan hal baru jika saya kembali dari Victoria Island ke Ikeja pukul empat sore. Mas Andhi, begitu saya memanggilnya telah tiba kembali disini. Ia langsung tancap dari bandara dan menyempatkan mampir ke kantor seperti biasanya. Ia mengabari saya bahwa ia sudah sampai sedang saya menyabarkan diri didalam mobil karena macet yang tak masuk akal.

Tiba di rumah sekitar pukul delapan malam dan mendapati mas Andhi tidur lelap di kamarnya. Saya mengintip sedikit koper yang ia buka sebelumnya hingga bisa melihat barang berharga tegeletak dilantai. Apa itu? Salah satu titipan saya penting yang wajib dibawa setiap kali teman saya mudik ke Indonesia. Barang berharga itu hanyalah kecap, saus sambal, kue kering, terasi, tempe kering, dan kadang bumbu pecel. Mungkin oleh-oleh ini terlihat biasa bagi anda namun bagi perantau sejauh saya, mereka berharga.

Inilah oleh-oleh dari Indonesia kali ini :

Bumbu Instan ini salah satu penyelamat disaat kami malas meracik bumbu masak. Terlebih jika kami rindu makanan Indonesia.
Saya dapat Tempe manis!
Mata saya berbinar-binar melihat botol-botol ini! Olala!
Bawang goreng! Yiha…masak soto daging jadi tambah nikmat ditaburi ini!
Mas Andhi membawa emping, mungkin ia kangen ngemil emping. Saya? Tak suka emping…hehehe….
Ya, anda tak salah melihat foto ini, Putri salju! Serasa lebaran…hehehe…
Luwak coffee. Kopi mahal ini ia bawa untuk rekan dikantor yang meminta membawakannya saat ia kembali ke Lagos.
Kerupuk Udang! Yiha!
Oleh-oleh dari Bali yang ia bawa untuk orang-orang di kantor.
Ini oleh-oleh untuk saya, sepatu warna biru tua dan sebuah sabuk coklat.
Bukan Andhi namanya jika pulang tak belanja! Sepatu baru…Olala!