One of That Precious Noon

This is crazy. I can’t even understand to myself that I’ve ignored this blog for almost two weeks. That was so terrible.

Among all things I have to do while I’m in Indonesia, there is one thing I always love to make every year when I’m home ; sharing an afternoon with stories, food, and coffee with lovely peeps. I felt blessed when I had a chance to sit down with Winda and Ayos, both are my best friend since we were in college. It was our second meeting after I came to their new house (yes, Winda is moving to our town, Surabaya! :)) just few hours after I landed in Indonesia, but it was the first time (I mean in proper way and time) I and this new-married-couple were really sat down and shared stories. Sharing stories with Ayos is always amazing. If you have read this post you’ll know why I adore him. So does Winda.

We spent time for almost four hours that day and I do really want to make it one more time. On Sunday noon, at one of the ‘happening’ new coffee spot in town. Oh, I presented an ordinary yet meaningful (hopefully! :D) wedding gift for them before we left. Some iPhone and some Mirrorless here :)

Ayos&Winda1

Ayos&Winda2

Ayos&Winda3

Ayos&Winda4

Ayos&Winda5

Hope you guys do not mind to say hi to one of long time best friend of mine, Fahmi. He’ll marry his girl next month which is it will hard for me cause I won’t be around for his big day :(. But I always pray for him, Ayos, Winda and my other best friends for our friendship. Hope we can keep it long last.

Ayos&Winda6

I’ll off to Bali tomorrow, hope I can post more posts for this blog when I’m coming back!

Reminiscence of Food

Mungkin anda bisa dengan mudah menebak mengapa saya menyukai postingan makanan. Hampir separuh dari konten blog ini berisi ketertarikan saya pada makanan. Nilai dan kebersamaan yang diciptakan dari makanan, lebih tepatnya.

Tadi selepas Maghrib, bersama Ibu, Bapak dan kakak-kakak saya, kami mencari makan malam. Duduk bersama mereka di kedai sederhana lengkap dengan ambiance jalanan dekat rumah yang ‘Indonesia’ sekali, membuat saya tersenyum dalam hati. Tersenyum karena nilai kebersamaan dari makan malam tadi sungguh tak ternilai. Terlebih karena kami jarang sekali keluar bersama sekedar berburu cita rasa lain diluar masakan rumahan. Saya sengaja tak membawa iPhone dan kamera. Saya benar-benar ingin menikmati kebersamaan kami lebih dalam. Menikmati makanannya, suasananya, tanpa sibuk dengan keduanya. Tanpa mengindahkan karsinogen yang menempel di daging tusuk yang dibakar, meja makan yang tidak fancy, minyak yang mengambang bebas diatas daging kambing berkuah santan, dan atap kedai seadanya. Ah, saya benar-benar menikmati nilai dari makan malam tadi meski saya tak mengabadikan momen dan makanannya. Sedikit sayang, tapi tak apa.

Semoga anda berkenan dengan beberapa kudapan yang sengaja saya buru tadi pagi menjelang siang. Saya akan mencoba mencari kesempatan mengabadikan street food untuk blog ini selama saya di Indonesia. Tidak hanya makanan-makanan cantik milik Bakerzin ini :)

Bakerzin1

Bakerzin2

Bakerzin3

Bakerzin4

Besok, semoga saja, akan tercipta nilai dan kenangan lain dari acara makan-makan dengan sahabat-sahabat dekat. Saya tak sabar bertemu dengan mereka, berbagi cerita bersama makanan-makanan yang tidak hanya instagram-able tapi rasanya juga mampu meninggalkan kesan. Saya tak sabar menciptakan kenangan lain dari serunya makan-makan :)).

Bersyukur

Besyukur

Tak terasa sudah seminggu saya disini, di Indonesia. Mencoba menikmati dan mengisi setiap hari yang saya punya. Mencoba bersyukur akan hal-hal kecil yang kadang terabaikan.

Biasanya, saat saya liburan selama sebulan disini, saya menjadi jauh lebih egois. Saya berubah menjadi manusia yang lebih mengedepankan kepentingan pribadi. Maklum, mungkin itu akibat dari sebelas bulan sibuk yang saya lalui tiap tahun di Afrika. Sebelas bulan yang sepertinya lebih tepat dikali dua. Saya tahu, kesibukan membuat saya selalu berangan-angan akan melakukan ini, membeli itu, membayar ini, menghadiahkan itu. Angan-angan itu selalu terjadi setiap kali saya akan pulang. Pulang kampung tidak serta merta membuat saya hanya sibuk mewujudkan ini itu yang (memang) ujung-ujungnya mungkin, perwujudan dari egois itu tadi. Pulang kampung (secara tak sadar) membuat saya lebih memaknai arti bersyukur. Salah satunya dengan cara mengamati beberapa orang yang saya temui beberapa hari belakangan.

Kemarin siang, saat duduk menunggu kudapan dan minuman yang saya pesan di suatu kedai, saya mencoba mengamati seorang pelayan. Saya membayangkan bagaimana ia bekerja, bagaimana ia menikmati setiap harinya hingga kemudian menerima gaji di akhir bulan. Kadangkala, saya membayangkan bagaimana ia, sebagai seorang pelayan di suatu kedai, yang entah ia menikmatinya atau sebaliknya, menjalani hari demi hari dengan pekerjaan yang (mungkin) monoton. Dulu, saat saya tertekan oleh pekerjaan di Afrika, saya berangan ingin menjalani pekerjaan yang ia kerjakan. Bekerja cukup santai, datang di jam yang sama setiap hari, pulang sore hari, tanpa pusing dengan target-target pekerjaan. Saya berpikir dua kali saat melihat pelayan kemarin menghampiri, menawarkan menu, hingga menghidangkannya di atas meja. Saya berpikir sambil menerka dibalik pekerjaannya yang santai itu, apakah ia bahagia?.

Beberapa kali pula saya mengamati petugas kebersihan di toilet-toilet pusat perbelanjaan. Melihat mereka membuat saya kembali berpikir, apakah mereka bahagia dengan pekerjaan mereka?. Bagaimana mereka menghidupi diri dan keluarga dengan gaji yang (mungkin) kurang dari cukup?. Apakah mereka terpaksa bekerja karena tak memiliki kesempatan lainnya?. Mungkin pertanyaan-pertanyaan tadi bodoh benar, tapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu (secara tak sadar) mengajarkan saya untuk kembali bersyukur.

Saat saya berangkat menuju masjid untuk sholat Ied, saya menemui penjual Semanggi menjajakan dagangannya. Saat itu saya berpikir, apakah Ibu itu tidak merayakan lebaran?, apakah ia tak memasak opor dan ketupat seperti ibu rumah tangga lainnya?, apakah ia tidak bersilaturahmi ke kerabat-kerabatnya lengkap dengan hantaran khas Hari Raya?. Apakah Ibu itu sengaja berjualan Semanggi karena tak ada kerabat disini, atau semua itu ia lakukan sekedar untuk mencukupi kebutuhan dapurnya hari itu? Entahlah.

Saya sadar, bahwa hidup bagi sebagian orang memang tidak mudah. Apalagi jika menyangkut kemampuan ekonomi, kebutuhan hidup yang mendesak, sedang pendapatan hanya apa adanya. Mengamati mereka tadi membuat setengah diri saya iba, setengah lagi sadar bahwa semua itu pilihan masing-masing. Bagi saya, manusia memiliki hak bulat untuk memilih apa yang ingin mereka kerjakan dan menjadi bahagia. Selama mereka mau bekerja keras, menjalani pekerjaan sepenuh hati, dan terus bekerja keras, pintu-pintu kesempatan pun pasti akan terbuka. Entah kapan dan dimana.

Delapan hari yang lalu, saya duduk di window seat menikmati pergantian siang ke sore, sore ke malam. Menikmati senja sebisanya selama perjalanan menuju Qatar. Saya tak menyangka perjalanan delapan belas jam itu mengantarkan saya kembali menikmati lebaran disini bersama keluarga. Salah satu nikmat kecil yang harus saya syukuri lagi :)

P.S. Saya sempat menangkap gemerlapnya Doha dari atas dengan iPhone, saya ingat sekali, malam itu saya mengucap syukur bahwa tahun ini saya berkesempatan pulang saat lebaran. Sama seperti tahun lalu. Semoga saja tahun depan saya bisa kembali mendengar kumandang takbir disini, di Indonesia. Amin.

See Ya!

Last night I went out from my living room to the balcony, just ten minutes before I laid on my bed. I looked at how the beautiful of silence met with the romance of after-the-rain. It was 1.45 am and it was so silent, everybody had slept and I stared to the shady early morning sky plus the moon. I enjoyed every second of the vibe and I whispered to God, “I couldn’t even imagine myself could stand tall in this country for three years now”.

I took a deep breath for seconds and smiled to the sky. I thanked to God for every single thing I have passed for past three years and hope He’ll guide me more for years ahead. Then, I went back inside with a sincere hearted that tomorrow, God will bless me for everything better.

I'll-See-You

I’m leaving for Indonesia this noon, I couldn’t imagine how will my Mom scream when she finds her last child is home :) (above is an impromptu iPhone shot fifteen minutes ago :)).

11 : 45 am – Murtala Muhammed International Airport to Hamad International Airport. 

Bogobiri

There is one spot in this city I fell in love on my first visit. I pretty remember when me and my former flatmate went there after we had late noon meeting with our client. We met our good friend and spent an evening at Bogobiri, a small boutique hotel that offers authentic-onomatopoeic African ambiance. When we reached there, I said to myself, “this space is so ‘me’, calm, cozy, so African, and very loungy (I’m not a night club guy :P)“. After then, Bogobiri has become a perfect space to escape from my hectic world. I could spend Sunday morning there just to get some cups of coffee.

Apart of the boutique itself, Bogobiri offers the Bamboo Bar & Restaurant. The average price for the food is a bit pricey but their goat pepper soup is dangerously-must-try dish. Here, some mirrorless snaps of Bogobiri from last year (whatt? :|,’Ekabo’ on the first picture means ‘welcome’ :)).

Bogobiri1

Bogobiri2

Bogobiri3

Bogobiri4

Bogobiri5

Bogobiri6

Bogobiri7

Bogobiri8

Bogobiri9

Bogobiri10

Bogobiri11

Bogobiri12

Bogobiri13

Bogobiri14

Bogobiri15

Bogobiri16

Then, I Lied

There was an afternoon in the office, when my colleague was looking for wrist watch for herself. She asked me how the one she picked was on one online store. Then I opened Fossil site to look some affordable designs that would be fit in her. I didn’t realise that I made a mistake by opening that dangerous site when I found a beautiful one on men collection. Sigh my heart was stolen by this blue.

I realised that I had the same design before (this!). But then, it was the only wrist watch in Fossil site that has blue and rose gold color for men (I just opened their website and found this automatic one, damn! gorgeous and it is blue!). I fell in love with the color, I know myself is a grey and black person, so finding blue and rose gold was totally out of my comfort zone.

Here a short story about this wrist watch. One Sunday, I went to get fresh air by watching a movie in cinema. I passed one store inside the mall that sells watches and I found the blue I saw in the website. I looked at it and I thought it was quite rare color for a Fossil watch. I couldn’t lie that the color combination looked rich yet still simple (now, you guys know me more that I always love simplicity in appearance, either in outfits or accessories). I didn’t take home cause I kept thinking that I shouldn’t buy the same design, then I lied to myself. When I knew that my friend was wanted to go to the mall to get tools he needed for work, I decided to get that blue home for me (even I had to close my eyes for $80 pricier than the price on Fossil website. The price here is crazy sometimes, gah).

Blue-Fossil1

Blue-Fossil2

Blue-Fossil4

Now I’m thinking to get the automatic one if I find it in black to be added in my Fossil collection, later when I’m home :P. Omaigah, opening Fossil site is always dangerous, indeed.

I’ll Bring Some For This Year

I’ve promised myself that I would bring some souvenirs only this year. I found a wide gap if I compare with what I did last year :P but the fact is, I still the same every time my annual leave is on my face, I’m excited (!!!!!!). I spent two hours at an obligatory place I always visit before I’m going home (on 5th of July), just 30 minutes after I voted the next President of Indonesia here, at the Embassy.

Below are souvenirs I took home this year, yes, for my closest friends only. Picture number one, I have no idea for who and who, I think I’ll keep for myself :P (iPhone snaps here).

ThisYear1

ThisYear2

Oh, I found an old book that is a terrific read for anyone interested in food and cooking last week. I haven’t read everything but like always, food photographs stole my attention. A lot of articles from member of the Guild of Food Writers I should read later, ssst it’s a discounted one :P

AndThisDiscountedBook!

Sang Pemimpi

SangPemimpi

Saya bukan pecandu film. Nonton hanya jika saya ingin, atau sekedar sedang butuh hiburan. Baru saja, saya menuntaskan sebuah film yang tayang empat tahun lalu. Itupun secara tak sengaja saya copy dari hardisk teman. Semalam. Saya tahu, tulisan setelah ini mungkin akan terdengar klise, apalagi jika anda pecandu film. Anda akan menganggap saya garing, bukan?

Selepas sahur, dengan mata yang kembang kempis saya terus merekam beberapa nilai dari Sang Pemimpi. Tentang indahnya persahabatan sedari kecil, pekatnya tantangan dan rintangan hidup, tentang semangat dan kobaran akan mimpi-mimpi besar. Mimpi-mimpi yang kadangkala juga bisa kembang kempis. Mimpi-mimpi yang pantang untuk tidak diwujudkan. Mimpi tentang dua orang yang menggebu untuk bisa meraih Paris, sebagai tempat melanjutkan pendidikan pasca sarjana yang kiranya mustahil untuk keduanya. Mustahil untuk dua orang yang sejak kecil tumbuh dari kekurangan. Tapi toh, saya tersenyum sepanjang film.

Ada dua hal yang kemudian memaksa saya untuk kembali bangun. Mimpi dan Paris. Anda tak perlu menebak lagi kenapa blog ini mengandung kata Pemimpi, dan Paris, sejak dulu ada di benak saya. Eropa lebih tepatnya. Mimpi dan Eropa bagai dua kata yang amat indah, yang tak bisa saya pisahkan satu-satu. Saya tahu, saat ini saya tidak sedang hidup di Indonesia, di tanah kelahiran saya. Saya tahu, saya belum menginjak Paris. Tapi saya tahu, bahwasanya saya sedang bekerja untuk kesana. Ada satu kata lagi yang membangunkan saya, Bekerja. Hampir sepanjang film saya menangkap nilai bahwa mereka bekerja. Keras sekali. Tak kenal lelah, panas, peluh, putus asa, hingga mereka bisa menggenggam apa yang mereka impikan sedari kecil. Saya pun sadar, saya masih berusaha untuk bisa meraih Paris, bukan sekedar melihat indahnya menara menjulang yang terlalu cantik saat malam, atau menikmati secangkir cappucino dan croissant hangat di kafe-kafe kecil nan cantik yang bertebaran dimana-mana. Tapi benar adanya, melanjutkan pendidikan di ranah Eropa masih ada di benak saya. Di hati saya.

Saya tidak sedang bersantai ria. Saya bekerja, bekerja untuk bisa merubah nasib dengan cara saya sendiri. Dengan kemandirian, dengan semangat untuk mematahkan setiap rintangan yang getir. Yang acap kali saya temui disini. Mimpi-mimpi besar tak akan pernah mudah. Mereka butuh untuk diperjuangkan dan saya masih berjalan setapak demi setapak. Ada saatnya saya akan lelah kemudian istirahat sejenak. Tapi saya tidak akan membiarkan mimpi saya tentang Eropa mati begitu saja. Tahun ini saya melepas kesempatan lagi untuk kesana, bukan karena saya tak mampu. Tapi ada hal besar lain yang penting untuk diwujudkan lebih dulu. Saya berada di deretan manusia yang percaya bahwa setiap hal besar akan terjadi selaras dengan waktu yang tepat. Saya tak akan pernah ragu bahwa Eropa masih memiliki pintu untuk saya datangi.

Saya tersadar, kemarin malam saya menemui seseorang yang sejak dulu saya kagumi. Kagum akan kerja kerasnya pada mimpi-mimpi besar yang ia idamkan sedari kecil. Di dalam mimpi, yang random sekali, saya berhadapan dengannya, duduk dan mendengarkan petuah-petuahnya akan mimpi-mimpi yang ia raih. Andai saja mimpi tadi malam bukan hanya sekadar kembang tidur. Siapa tahu, pemimpi besar itu bisa saya temui suatu hari nanti.

Saya selalu jatuh hati pada orang yang bekerja keras untuk mimpi-mimpinya. Saya selalu jatuh hati pada orang yang memiliki keteguhan hati, yang memiliki ketangguhan dan kesabaran menghadapi setiap tantangan hidup. Orang yang mampu melihat dunia, yang percaya bahwa hanya keyakinan dan kekuatan dirinya lah yang mampu mewujudkan mimpi-mimpi. Orang yang berjuang, yang tidak hanya duduk manis memandangi langit dan berharap mimpi-mimpi bisa menemukan jalannya sendiri.

Semoga video pendek ini bisa menyemangati anda yang memiliki mimpi sama akan Paris :).

Lagos, 5 : 24 AM.

Nutella Mousse Pudding

Sparkles always come to my eyes every time I see beautiful cakes, pastries and chocolates. Half of me always feel the rejoice, the other half worry about the ingredients. Worry about how they cook them, about how much fat inside all those mouth-watering guilty pleasure. But I believe one thing about food, enjoy good food when you alive, wisely. There is time I will eat fresh salad with lemon and O oil only and there is a time I will enjoy a handful of fatty ice cream. I’m still learning how I enjoy my food wisely, as long as I know how to manage myself among fatty-sweet-crispy-food, healthy-fresh-food, I’m fine with it.

A DIY food I want to share here is one of my fav homemade snack ; Nutella Mousse Pudding. You can even guess easily what are ingredients to make it by seeing the first picture below. This snack contains the incredible dangerously chocolate paste but it doesn’t worry me to enjoy it. Why? Because it homemade, simple :). I’ll be the one who control how much sugar and fat in it right? :). Oh, there are two things I love from this snack ; very easy to make and tasteful. For this post I just what to share some pictures that I kept inside my hard drive for almost four months. I’ll share how to cook it as soon as my-sluggish-part-of-me is gone, thou (and I’m having cold :(…..).

NutellaMoussePudding1

NutellaMoussePudding2

NutellaMoussePudding3

NutellaMoussePudding4

NutellaMoussePudding5

NutellaMoussePudding6

NutellaMoussePudding7

 

July’s Reflection

It’s not a good sign that I’m having cold, weary and headache for almost two days. After accomplished an event that took my mind and physical stress last week, I finally could take a breath. Sadly, I still feel those stresses stay right inside my body. I should more take care of myself and keep it easy.

Fellas, it is July already, a month that stand in the middle of the year. Have you thought about what you have gotten, you have done, achieved, or something like that? I personally never think about that. I mean, I have no worries about what I have achieved and what I have not. But truly, I always worry about how I become older every year. Worrying on how can I achieve my dreams before 30, two numbers that eery me. Big two six ain’t young anymore, it reflects how life become more complicated for a young man like me. Meantime, I shouldn’t take two six such a big deal but a reflection to run faster to achieve dreams.

Just an iPhone snap of kaput peonies to pop-in this post. An impromptu snap this morning is inspired by Alice Gao.

Reflection