See You Again

SeeYouAgain1a

Lima minggu lalu di hari dan waktu yang sama, saya masih berada di dalam pesawat menuju benua yang masih saja keras bernama Afrika. Meninggalkan rumah untuk hidup dan bekerja di negara yang sudah seperti rumah kedua. Tentu saja, merelakan sisa-sisa rindu pada orang tua dan keluarga, sahabat, dan rindu pada Indonesia tidak akan pernah mudah meski saya sudah melewatinya lima kali. Sebulan di Indonesia masih saja terasa seperti seminggu saking cepatnya.

Kali ini saya tak akan menuliskan cerita-cerita cengeng tanda kangen pada Indonesia, melainkan rasa syukur pada kesempatan bertemu dan merayakan persahabatan dengan sahabat-sahabat baik tahun ini. It took me so long compiling the contents of this post, fiuh!

***

SeeYouAgain1

Pertemuan pertama dengan sahabat-sahabat baik beberapa hari setelah saya tiba di Indonesia, terjadi bersama Anjar dan Widya. Saat mereka berdua bersama Fahmi tahu tahun ini saya pulang beberapa hari sebelum hari raya, kami merencanakan untuk berbuka bersama. Seingat saya, dua kali sudah saya pulang sesaat sebelum lebaran tapi kami tak pernah sekalipun berbuka di luar. Memang buka bersama kami tidak semeriah seperti yang seharusnya karena hanya dihadiri saya, Anjar beserta suami dan kedua anaknya, dan Widya yang datang hanya berdua dengan putrinya, minus Fahmi. Beberapa sahabat-sahabat lain yang saat itu memberi sinyal akan datang tak kunjung memberi kabar. Tapi saya tak kecewa sedikit pun karena justru melepas rindu dengan beberapa orang yang sadar akan pentingnya pertemuan jauh lebih penting daripada sekedar memikirkan kenapa mereka tak jadi datang ;). 

SeeYouAgain1b

Sore itu saya bahagia bukan hanya karena bisa berbagi canda tawa dengan Anjar, Widya dan keluarga kecil mereka. Hari itu Fahmi akhirnya resmi menjadi seorang Ayah. Tak ada kabar yang lebih membahagiakan selain mendapati sahabat sebaik Fahmi dikaruniai seorang bayi perempuan yang menggenapkan hidupnya. 

***

SeeYouAgain2

Saat pulang kemarin, menghabiskan malam di rumah Ayos dan Winda adalah salah satu momen terbaik. Berawal dari rencana makan malam di luar kemudian muncul ide cemerlang dari Winda untuk berkumpul disana sekalian berbuka bersama. Ide sederhananya adalah membawa masakan dari rumah dan menikmatinya bersama. Saya pun mengajak Rifda untuk bergabung dengan Grup Sogeh, menggantikan posisi Maya sementara ;P.

Winda dan Ayos yang baru pulang kerja, Ruli yang sore itu masih berada di luar kota, dan saya yang datang dari Surabaya Utara sepakat bertemu pukul tujuh. Saya sampai tepat pukul tujuh, tak lama Rifda yang tinggal di Sidoarjo akhirnya tiba juga. Saya disambut Ayos dengan tamu misterius yang Winda sebut di percakapan kami sebelumnya. Ealah, tamu misteriusnya adalah Khumaidi ;P, teman kuliah kami di Despro dulu.

SeeYouAgain2b

Saya datang membawa dua masakan ibu dan kakak berupa tumpukan martabak, urap-urap, dan satu mangkok besar cumi hitam. Martabak racikan kakak saya ada dua jenis, satu berisi bihun berbumbu dan martabak daging sejenis alimun, keduanya rekues dari Ruli yang saya imingi-imingi sejak setahun yang lalu. Sedang Rifda datang membawa rendang hasil olahannya sendiri. Fat everywhere ya. Oh ya, saya membawa sayur mentah untuk mengimbangi menu kami. Tadinya hanya ingin saya tumis sederhana tapi akhirnya Winda dan saya malas meracik bumbu ;|. Setelah semua siap, kami semua duduk manis dan langsung menyerbu makanan lezat itu. Menunggu Ruli yang masih di jalan membuat kami memutuskan berbuka lebih dulu. Toh, martabaknya masih setumpuk. Tak lama akhirnya Ruli datang dan langsung menyerbu martabak sembari nimbrung bersama kami yang sibuk bertukar cerita. Entah kenapa, setiap bertemu cerita-cerita jaman dulu saat masih kuliah selalu membubui pertemuan kami.

Tak terasa saja jarum jam melewati angka sebelas, Rifda dan suaminya pamit sedang Khumaidi sepertinya masih betah nimbrung dengan Ayos bahkan saat saya dan Ruli pamit. Suasana bahagia malam itu berarti banyak buat saya. Menyadari kesempatan setiap tahun dengan sahabat-sahabat seperti mereka seakan menandakan kami akan bersahabat dalam jangka waktu yang lama, amin :).

***

SeeYouAgain3

Bertemu dengan sahabat yang super cheeky ini selalu menyenangkan. Apalagi, tahun ini saya berkesempatan bertemu dengan si mungil Brian yang lucu dan menggemaskan (you can even see overloaded cuteness on his face below ;)). Spending quality time for almost two and half hours dengan Yuriko, Deysi dan Brian was unreal. Ada dual hal yang saya hargai dari pertemuan hari itu. Pertama, I did realise one thing, Yuriko is a kind one. Saya menghargai bagaimana ia meluangkan waktu untuk bertemu saya yang hanya memiliki puluhan hari di Indonesia setiap tahun. Meski kami sering menghabiskan beberapa menit dengan obrolan super bodoh di WhatsApp hampir setiap hari, bagi saya bertemu langsung adalah perayaan persahabatan yang sesungguhnya. Dan saya pun bersyukur memiliki Yuriko sebagai sahabat yang mampu menjaga persahabatan hingga hari ini.

Kedua, birthday gift darinya seolah menegaskan hal yang sama, Yuriko is a kind humanI never look at the gift itself, the meaning behind it is more precious for me as always :). Saya berharap pertemuan siang itu jauh lebih lama, tapi saya bersyukur bukan main karena paling tidak saya mendapati Sinyo (begitu saya biasa memanggil Yuriko) dan keluarga kecilnya dalam keadaan sehat dan tak kurang suatu apapun. It was a beautiful aftenoon, indeed.

SeeYouAgain3b

Saya tak biasa membagi cheesy-photograph di blog ini apalagi sebuah selfie. Tapi kali ini, I just couldn’t resist for this photograph of us. Bagaimana bisa melewatkan ekspresi Brian selucu ini? :). Saya kira, kenangan dalam foto ini akan terus ada sampai kapanpun.

SeeYouAgain4

***

I always prefer to meet with bunch of good friends in one place, anytime. Alasannya tentu karena jauh lebih seru dan efisien di waktu. Adalah Putri, yang mengajak saya di instagram milik Atre saat tahu setelah lebaran ia akan mengunjungi Surabaya bersama Giri. Dan kebetulan disaat yang sama, Putri dan keluarga kecilnya sedang di Surabaya. Accidentally perfect timing kan? Sambil menyelam minum air, pikir saya.

Sebelumnya, saya dan Putri saling ngobrol lewat Whatsapp memilih tempat dimana kami akan bertemu. Setelah memiliki beberapa pilihan pada coffee shops yang sedang in di Surabaya (tentu untuk photography-purpose! ;)), Putri menghubungi beberapa diantaranya untuk memastikan buka atau tidak. Maklum, hari itu masih dalam suasana libur setelah lebaran. Sayang sekali beberapa coffee shops yang kami incar masih tutup, padahal jika dilihat dari postingan instagram tempatnya lucu-lucu. Pada akhirnya kami sepakat bertemu di The Champion atas rekomendasi Atre yang nampak lebih update dari saya dan Putri, haha. Venue bukan hal terpenting kan? yang penting kami bisa bertemu dalam formasi lengkap. Dimana saja ayo, asal ada natural light, iya kan Put? Tre? ;).

Saya masih ingat nikmatnya mengendari motor di jalanan Surabaya yang lengang sore-sore selepas Ashar. Saat sinar mentari masih terang nan hangat. Setengah jam dari rumah, akhirnya saya melihat Atre dan Giri tiba beberapa detik sebelum saya. Saya menyapa Atre yang datang dengan outfit-nya yang Atre sekali, dan Giri yang nampak lebih casual-preppy dibanding dulu. Tak lama setelah kami bertiga, Putri tiba bersama mas Dian dan Arsya.

SeeYouAgain5a

Mengobrol santai dengan Putri dan mas Dian tentang Arsya, serta berbagi cerita dan pengalaman dari Atre dan Giri adalah kesempatan yang luar biasa. Meski hanya ditemani beberapa cangkir taro latte dan minuman lain yang rasanya mengecewakan, bahkan tak ada satu pun dessert yang tertampang di cooler, namun natural light yang saya rekues kepada Putri dari awal membuat foto-foto yang kami tangkap dari kamera masing-masing mampu mengabadikan dengan jelas betapa silaturahmi dengan teman-teman baik yang menginspirasi, sudah seharusnya dijadikan momen tahunan. Saya akan bercerita tentang Giri lebih jauh di blog ini sometimes kenapa ia menjadi salah satu sahabat baik yang menginspirasi. Oh, saya pun baru sadar kalau Giri ini pemalu jika difoto ;P.

SeeYouAgain5

SeeYouAgain6

Jujur saja, saya tak memiliki banyak harapan bertemu Putri kembali tahun ini. Karena biasanya akan sedikit sulit bertemu dengan seorang ibu muda yang sedang menikmati masa tumbuh kembang putra pertamanya. Apalagi suaminya, mas Dian, bekerja dan tinggal di Sumba. But then, I was beyond happy karena akhirnya bisa bertemu Putri lagi setelah dua tahun yang lalu. Apalagi kali ini bersama Arsya, putranya yang mewarisi pipi cempluk-nya Putri, ia lucu sekali :). How I loved to see apa yang dipakai Arsya nampak serasi dengan ayahnya hari itu :).

***

SeeYouAgain7

Siang saat saya bertemu dengan Atre dan Giri untuk kedua kalinya sehari setelah bertemu dengan Putri, Rifda mengabari sedang berada di mall yang sama bersama suaminya. Selepas dhuhur, Atre dan Giri pamit untuk urusan lain then I met with Rifda. Senang rasanya karena bisa berkumpul dengan Sohib bersama Rifda dan suaminya. Apalagi, mas Andhi bergabung tak lama setelah kami berempat bertemu. Like what I said on this post, I always feel happy everytime I link my best friend to another best friend. Dan nampaknya Rifda menikmati sekali pertemuan keduanya dengan mas Andhi setelah tahun lalu kami bertemu di mall yang sama dengan Ruli (masih ingatkah Rifda? ;)).

SeeYouAgain7b

Berbincang santai dengan suami Rifda yang pernah tinggal dan menempuh pendidikan di Hawaii (iya Hawaii!!) selama lima belas tahun, mas Andhi yang berbagi cerita akan pengalaman-pengalamannya menangani beberapa event internasional, hingga hal-hal yang ingin kami capai beberapa tahun ke depan mengisi pertemuan siang itu. Time flew too fast that day as I wished we had a longer time but then, there was nothing I asked for more selain kesempatan sederhana bersama sahabat-sahabat seperti mereka. Berbagi cerita hidup serta merajut mimpi-mimpi baru ke depan, dan mengamini bersama. Rifda, jaga kesehatan baik-baik ya, hingga beberapa bulan lagi malaikat kecilmu lahir ke dunia ;).

***

SeeYouAgain8

Jujur saja, penyesalan kecil sempat singgah saat saya sadar tidak memiliki cukup waktu bersama Fahmi tahun ini. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, saat kami memiliki banyak waktu merayakan persahabatan dengan sederhana. Dari sekedar mencari angin, menikmati kopi Minggu pagi, nonton film terbaru, sampai berbagi cerita hingga larut malam. How I missed those moments, Mi. Tapi dilain sisi, saya bahagia melihat Fahmi dengan kesibukan barunya sebagai seorang ayah. Sore sesaat sebelum saya berbuka bersama Anjar dan Widya, Fahmi memberi kabar bahwa istrinya melahirkan seorang bayi perempuan. Saya pun tak bisa menyembunyikan perasaan bahagia saat Fahmi, sahabat yang saya kenal tiga belas tahun yang lalu, akhirnya melengkapi perannya sebagai seorang imam, seorang lelaki. Melalui telepon, saya hanya bisa menyematkan pesan sederhana agar senantiasa menjaga kesempatan yang Allah berikan padanya dengan menjadi suami yang baik, dan seorang ayah yang bertanggung jawab.

Tepat sehari sebelum lebaran, saya bertemu Fahmi di rumahnya. Sore itu ia sedang sibuk memilah baju istrinya untuk kemudian dibawa ke rumah mertua. Kami hanya sempat berbagi cerita sebentar lalu pergi bersama. Setiba di rumah mertuanya, saya mendapati seorang bayi perempuan berusia tiga hari yang tidur dengan pulas. Cantik sekali. Saya belum bisa mereka mirip ibu atau ayahnya tapi saya sempat tersenyum sembari bergumam dalam hati ; kini, Fahmi benar-benar menjadi seorang ayah.

Sore mengantarkan saya berbuka bersama Fahmi, istri dan mertuanya. Dengan teh manis hangat, brownies kukus, serta beberapa potong tahu goreng lengkap dengan petis. Sederhana namun indah luar biasa. Saya menikmati setiap detik momen itu karena saya tahu, hari-hari berikutnya tak akan mudah mengajak Fahmi pergi bahkan hanya sekedar makan di luar.

Selepas membatalkan puasa, kami pergi ke masjid terdekat di perumahan sebelah. Suasana hari terakhir Ramadhan sore itu kembali mengingatkan saya untuk bersyukur pada satu hal. Mendapati sahabat baik dalam keadaan sehat dan bahagia, dan memiliki kesempatan bertemu dengannya meski hanya beberapa jam saja, itu rejeki indah yang tak kasat mata. 

***

SeeYouAgain9

Seperti mimpi bisa bertemu dengan mas Andhi untuk kedua kalinya di Indonesia. Tahun lalu, kami menghabiskan lima hari di Bali bersama Sohib, mengitari Seminyak, Ubud, Denpasar hingga hampir tertinggal pesawat di bandara. Tahun ini, saya bersyukur bisa bertemu dengan salah seorang yang berjasa banyak mengajari saya tentang kehidupan. Yang saya anggap bukan lagi sahabat baik tapi sudah seperti kakak saya sendiri. Di tengah kesibukannya dengan proyek-proyek interiornya, kami masih sempat berburu kuliner Surabaya beberapa kali. Best friend-talk, coffee time tentu, nongkrong, yang semuanya saya rindukan sekarang.

Selain berkunjung ke rumahnya yang artistik dan mendapati dua kucing lucu, tahun ini saya sempat mampir ke rumah orang tuanya lagi. Sesaat sebelum pertemuan dengannya dan mbak Susan, diam-diam saya berkunjung kesana. Mendapati orang tua dalam keadaan sehat wal afiat itu luar biasa ya. Pun seperti biasa, mendengar nasihat-nasihat yang diberikan beliau setiap kali saya kesana seperti mendengar nasihat orang tua saya sendiri :). Benar-benar syukur tiada tara.

SeeYouAgain9b

Saya pikir saya harus menulis tentang mas Andhi di blog ini, di lain kesempatan ;).

***

SeeYouAgain10

Tahun ini kali kedua saya bertemu dengan Mbak Ririn, perempuan luar biasa yang sudah seperti kakak bagi saya, Ruli, Maya, Ayos, Winda, Atre, Giri dan bahkan (mungkin) bagi semua yang mengenalnya. Saat tahu saya harus menginap semalam di Jakarta sembari menunggu proses perpanjangan visa kerja selesai, saya menghubungi mbak Ririn lewat Path. Saya tak mengharapkan apa-apa selain sebuah kesempatan bertemu dengannya lagi. Tak lama setelah postingan saya di Path, mbak Ririn membalas mau dijemput dimana. Sebentar, siang itu saya tak menyangka mbak Ririn memiliki waktu luang di tengah kesibukan yang tak biasa dari profesinya sebagai seorang copy-writer di salah satu agensi di ibukota. I was lucky enough, tho.

Sore itu, setelah kembali dari kedutaan di daerah Kuningan, melewati jalanan ibukota dengan bajaj dan ojek (I enjoyed those vehicles!) akhirnya saya tiba di hotel untuk istirahat sejenak. Tak lama, akhirnya saya bertemu kembali dengan Maya di Jakarta. Saat Maya pulang dari kantornya yang tak jauh dari hotel (saat itu pukul setengah sepuluh malam), kita langsung melaju ke Koi Kemang untuk bertemu dengan mbak Ririn yang tiba lebih dulu disana. Seperti biasa, mbak Ririn selalu welcome sama seperti pertama kali kita bertemu setahun lalu.

SeeYouAgain10b

Di Koi Kemang, kami makan malam diselingi cerita masing-masing yang sesekali membuat Maya tertawa terbahak-bahak. Mbak Ririn yang tahu sekali bagaimana saya bisa sangat norak jika melihat platting makanan yang bagus, pencahayaan dan interior sekitar yang mendukung, mempersilahkan saya memindah makanan kami ke meja sebelah. It was embarrasing but I didn’t even care, haha!. I really wished we had a longer time for stories and laughters karena malam itu waktu benar-benar terasa cepat. Tiba-tiba saja jarum jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam dan kami mulai meninggalkan tempat. Tentunya sesi foto tak mungkin terlewatkan. Kebaikan mbak Ririn malam itu diperlengkap dengan tumpangan Uber gratis untuk Maya dan saya (saya pun baru tahu apa itu Uber malam itu, norak ya ;)).

Sekali lagi, saya tidak biasa membagi cheesy-photograph semacam selfie, tapi ini sebuah pengecualian untuk sebuah momen dengan orang-orang baik dan tulus yang (pastinya) harus diabadikan lewat sebuah foto :).

SeeYouAgain11

***

SeeYouAgain12

Tak dinyana tahun ini saya berkesempatan bertemu kembali dengan Valentino (tepat di sebelah saya), Septian (dia duduk di samping Heyni), Doni (sebelah Septian), dan Heyni (tentu yang berkerudung ;P, yang datang bersama suami dan putranya). Kami berteman baik saat sama-sama menempuh pendidikan di SMP 4 Surabaya. Adalah Septian yang mengabari untuk menyempatkan bertemu mumpung saya di Indonesia dan Valentino tidak sedang di Belanda. Septian mengabari saya yang berada di dalam bis Damri menuju bandara Soekarno-Hatta setelah selesai memperpanjang visa. Ajakan yang cukup mendadak namun saya iyakan saja. Saat itu saya masih sibuk mondar-mandir kesana-kemari, tapi I said yes karena tidak bertemu selama tiga belas tahun? I thought it would be an interesting evening.

Pertemuan kami cukup singkat tapi menyenangkan bisa mendengarkan cerita hidup masing-masing. Time flies too fast, indeed. Mendapati seorang Valentino yang sehari-harinya menjadi dosen di salah satu PTS di Surabaya, Septian yang sibuk sebagai staf admin pajak, Doni yang sedang menikmati detik-detik menjadi seorang ayah, hingga Heyni yang nampak seperti ibu-ibu muda kebanyakan yang tidak memiliki banyak waktu berkumpul di luar, it was incredible. I did wish we had longer time to share about our lifes, tapi setidaknya tali silaturhmi terjalin kembali malam itu. Dalam perjalanan pulang, sembari menikmati suasana malam kota Surabaya, saya seperti dicubit lagi untuk memikirkan pendidikan. Iya, pendidikan. Setelah tahu Valentino sebentar lagi akan merampungkan S3-nya, saya seperti disadarkan kembali untuk berpikir kapan kiranya saya siap meng-upgrade diri dengan pendidikan yang lebih tinggi. Well, as always I believe a big thing will happen at the right time. Suatu hari saat saya siap kembali untuk menempuh pendidikan, saya akan melalui kesempatan itu perfectly. Saat ini, biarlah saya fokus menempuh pelajaran pada kehidupan ;).

***

SeeYouAgain13

Malam sebelum liburan pendek ke Singapura saya bertemu Ayos dan Winda untuk kedua kalinya di sebuah restoran sushi. Malam itu Ruli tak bisa hadir karena masih di luar kota. Meski tanpa Ruli we really had fun. Cerita macam-macam hingga tak terasa mall tempat restoran itu berada lengang sekali.

Menjelang keberangkatan saya, kami menyempatkan bertemu untuk makan malam bersama lagi. Saat itu kami bersama Ruli ingin menikmati steaks. Meski Grup Sogeh ada yang kurang, yakni kehadiran Maya, tapi sekali lagi we really had a fun dinner. Tadinya saya berharap tahun ini Maya bisa mengunjungi Surabaya seperti tahun lalu. Tapi apa daya, menikmati yang ada jauh lebih penting dari sekedar berandai yang tak nyata, bukan?. Meski tanpa Maya, tapi Maya serasa hadir di meja kami lewat cerita-cerita yang saya bawa saat kami berdua berlibur bersama di Singapura. Hal pertama yang Winda tanyakan sesaat setelah saya tiba adalah keseruan perjalanan kami. Ayos yang tak kalah curious pun bertanya hal serupa. Ruli yang datang setelahnya tak kalah semangat dalam percakapan kami tentang Maya. Cerita tentang keseruan perjalanan kami berdua di negeri singa itu menjadi perbincangan malam yang tak habis-habis.

SeeYouAgain14

Saat sadar kami berempat menjadi pengujung terakhir sebelum restoran tutup, saya menyempatkan meminta bantuan salah satu pramusaji untuk mengabadikan kami berempat dalam bingkai kehangatan sebuah persahabatan ;).

SeeYouAgain14b

***

SeeYouAgain15

Jika ada seseorang yang galau luar biasa saat tahu waktu saya di Indonesia tinggal hitungan hari, orang itu adalah mbak Ika. Ia sempat tak henti mengutarakan kekecewaannya saat suaminya, mas Dwi, sudah jarang mau diajak pergi ke Surabaya. Sudah setahun lebih mereka pindah dari Surabaya ke kota kecil yang lebih dekat dengan tempat suaminya bekerja, yang tentu lebih nyaman dan tentram untuk keluarga kecilnya.

Saya masih ingat, siang itu saya masih sibuk mengurusi beberapa hal yang memaksa saya harus bolak-balik Surabaya-Sidoarjo. Layar iPhone saya dipenuhi dengan rentetan percakapan dati mbak Ika yang intinya menanyakan kapan saya akan meninggalkan Indonesia lagi. Saya membalas dengan pesan pendek sekaligus menanyakan alamat rumahnya. Saya pikir, oleh-oleh yang saya bawa lebih baik saya kirim via pos karena sepertinya tahun ini kami tak bisa bertemu seperti tahun-tahun sebelumnya. Pertemuan yang selalu terjadi setiap saya pulang ke Indonesia, yang tak sekalipun terlewatkan setiap tahun sejak saya pergi lima tahun lalu. Membaca pesan saya membuat mbak Ika sedih luar biasa. Ia tak percaya tahun ini kita harus rela melepas rindu hanya lewat telepon. Namun tak lama setelah itu, ia menelepon via Line.

To the point saya menanyakan kembali kemana coklat dan magnet-magnet hasil tangkapan di bandara Abu Dhabi itu harus saya kirim. Saya selalu mengajarkan satu hal pada diri sendiri setiap kali pulang kampung ; tak masalah jika tak bisa bertemu semua orang-orang baik yang saya sayangi karena waktu yang selalu saja terasa singkat selama di Indonesia. Apapun bentuk silaturahmi itu cukup menandakan persahabatan saya dengan sahabat-sahabat baik itu benar adanya. Itu saja. Percakapan kami siang itu berujung dengan keputusan mbak Ika yang cukup berani. Ia akan pergi ke Surabaya sendiri esok hari tanpa sepengetahuan suami. Ternyata kegalauan mbak Ika sudah mencapai titik jenuhnya, haha. Akhirnya kami sepakat untuk bertemu keesokan harinya.

Pagi sekitar pukul sepuluh, saya menjemput mbak Ika di depan KBS (yaelah, ketemuan di depan kebun binatang ;P). Tanpa basa-basi kami langsung menuju salah satu coffee shop baru yang letaknya tak jauh dari kantor kami dulu. Saya tak ingin membuang waktu karena mbak Ika hanya memiliki waktu sampai pukul dua siang, tepat setelah anak-anaknya pulang sekolah. Duduk di coffee shop yang masih lengang pengunjung, dengan dua cangkir latte dan dua potong kue, kami melepas rindu. Bercerita banyak hal selama sebelas bulan tak bertemu. Tiba-tiba saya merindukan momen sesederhana itu. Pagi-pagi di akhir pekan, duduk ditemani kopi sembari bercerita banyak hal dengan sahabat.

Di coffee shop itu, saya menunjukkan pada mbak Ika bagaimana tingkah laku anak-anak muda jaman sekarang, yang sibuk dengan secangkir kopi saja dan tak pernah lelah pindah posisi untuk mendapatkan banyak gambar lewat ponselnya. Benar saja, seorang anak muda yang datang dengan (mungkin) ayahnya pagi itu sampai rela membawa tripod untuk iPhone. Memindah latte yang sudah hancur latte-art di cangkirnya, memindahkannya ke meja yang kejatuhan cahaya mentari, duduk berpose dengan buku di tangannya seakan-akan ia sedang mambaca, dan menyalakan timer hingga beberapa kali. Mbak Ika tertawa sembunyi-sembunyi, setelah ia pikir hanya saya yang sibuk mengambil gambar taro dan green tea latte yang kami pesan sebelum akhirnya diminum.

SeeYouAgain15b

Lepas pukul dua belas siang, kami pindah ke kedai mei ayam yang letaknya hanya beberapa meter dari coffee shop tadi. Kami memesan dua porsi mie ayam untuk memuaskan perut yang mulai keroncongan sembari melanjutkan cerita-cerita yang belum kelar.

SeeYouAgain15

Selepas makan siang saya mengajak mbak Ika untuk mampir bertemu dengan Sohib. Sekalian kan, mumpung di Surabaya hehe. Mbak Ika sempat tertenggun melihat beberapa bangunan baru yang mulai menjulang di langit Surabaya. Sepertinya ia lupa-lupa ingat melihat kemajuan Surabaya (belum juga tinggal di luar lo mbak, haha ;P). Sohib nampak senang bisa bertemu kembali dengan mbak Ika, saya pun juga. Menghargai bagaimana nekatnya ia keluar rumah bahkan tanpa pamit hanya sekedar melepas rindu dan menjaga tali persahabatan agar tetap kuat dan kencang. Lain kali, ijin suami dulu ya mbak! biar afdol ketemuannya ;).

Siang yang singkat itu kami akhiri dengan, tarraaaa, lagi-lagi iPhone-selfie muncul di postingan ini ;P.

***

SeeYouAgain16

Saya selalu menghindari sebisa mungkin dengan apa yang disebut pertemuan last minute. Selalu saya coba setiap tahun namun terus saja gagal. Ada saja sahabat yang hanya bisa saya temui di akhir menjelang keberangkatan kembali ke Afrika. Begitu pun saat saya memutuskan untuk menemui Edwin di suatu siang yang terik.

Sejak Edwin merintis usahanya di bidang kuliner, ia nampak lebih sulit pergi keluar. Maka, menyempatkan waktu bertemu dengannya ada di daftar saya tahun ini. Jika tahun lalu saya bertemu dengan Edwin dan Yuriko di waktu dan tempat yang sama, tahun ini berbeda. Siang itu, kami berdua menghabiskan tiga jam di suatu kedai kopi dengan cerita-cerita garing yang selalu jadi bahan lelucon di Line kami plus khotbah-khotbah Edwin yang mau tak mau harus saya dengarkan ;P. Seperti pertemuan saya dengan sahabat-sahabat lain, I wish I had more chances menghabiskan waktu dengan Edwin seperti tahun pertama saat saya dan Rifda berkunjung ke rumah kakaknya. Menghabiskan enam jam yang bermakna untuk merekatkan persahabatan kami. But then, there is nothing I could ask for more karena sependek apapun pertemuan yang saya miliki tahun ini, semunya layak untuk disyukuri.

SeeYouAgain17b

If ya’all are reader of this blog, you’ll know how I love taking picture dan saya tak mungkin mengakhiri sebuah pertemuan tanpa foto. Merayu Edwin untuk berpose demi kebutuhan instagram siang itu gampang-gampang susah, mungkin karena ia merasa kelewat tampan ;P. Tapi eh tapi, setelah satu dua kali take, koko satu ini malah ribet setengah mati memastikan hasil fotonya sempurna ;|. Tadinya tak mau difoto eh ujung-ujungnya malah ada delapan belas frames sendiri di iPhone saya, hahaha. Win, Win ;P.

***

SeeYouAgain18

Sehari setelah menghabiskan suatu siang dengan mbak Susan dan mas Andhi, Ayah saya sempat bertanya seperti ini ; “Kamu sudah bertemu dengan orang yang berjasa memberimu jalan ke Afrika?, Orang-orang seperti itu jangan sampai dilupakan”. Saya tak menjawab apa-apa pada beliau, tapi saya tersenyum dalam hati because I did it. Semalam sebelumnya, saya menanyakan dimana kami akan bertemu pada mbak Susan. Ia menjawab pertanyaan saya dengan jawaban yang agak janggal. Akhir-akhir ini ia selalu pusing tiap kali masuk mall. Ternyata sebabnya karena kabar gembira, she’s pregnant, that was beautiful news :). Saya segera mengabari mas Andhi, yang tak lain sahabat dekatnya selama kuliah dulu. He was so happy just like me.

SeeYouAgain18b

Seperti mimpi rasanya bisa bertemu dengan mbak Susan dan mas Andhi di gedung Desain Produk ITS, almamater kami bertiga. Makan siang bersama, menikmati percakapan di bawah rerimbunan pohon, angin semilir, semua hal sederhana itu bermakna dalam sekali. Meski pertemuan kami terjadi dua hari sebelum saya kembali terbang ke Afrika, it was last-minute, tapi saya bahagia mendapati mbak Susan sehat-sehat saja. I know it shouldn’t be like that karena sudah seharusnya saya mendahulukan orang-orang yang berjasa dalam hidup saya setiap kali pulang. Tapi tak ada satu hal pun yang patut disesali karena sejatinya, pertemuan di Jumat siang yang damai itu mengajarkan saya satu pelajaran hidup lagi ; bersyukurlah karena kita dikelilingi orang-orang baik yang tulus, yang tidak mengharapkan apa-apa saat kita berhasil. Yang justru bahagia melihat kita mampu hidup lebih baik. And for me, two of them are precious, they are more than best friends.

***

SeeYouAgain17

When somebody decided to come to accompany you in the middle of the night at the international airport, shared laughters and stories even just for two and half hours before you left your country again, for me it touched. Ketulusan sekecil apapun sudah seharusnya dihargai, diingat, dan disimpan. Apa yang Maya lakukan malam itu meninggalkan kesan persahabatan yang lebih dalam.

Tahun ini agak berbeda, saya tak menginap semalam di Jakarta sebelum terbang lagi ke Afrika seperti tahun-tahun sebelumnya. Waktu dan uang saku adalah alasannya disamping jadwal pesawat yang berbeda dari biasanya. Penerbangan Minggu pagi pukul setengah delapan membuat saya memutuskan untuk tinggal di bandara beberapa jam setelah terbang dari Surabaya. Saya sampai pukul 00.15 dini hari dan melenggang santai di Soetta. Setelah mendapati semua koper lengkap di troli, saya mencari tempat paling nyaman di dekat pintu masuk agar lebih memudahkan saat check-in nanti. Toh konter Emirates dibuka pukul lima pagi. Saya duduk dan sesekali mengangguk-angguk karena ngantuk. Saya terbangun setelah menerima telepon dari Maya yang menanyakan saya sedang dimana. Sebentar, Maya benar-benar ke bandara ;P (mungkin ia lelah disindir Ruli dan saya di grup kami sebagai ratu PHP, mungkin ;P). Tawa khas Maya yang terdengar dari kejauhan menghapus rasa ngantuk pagi itu.

Hari itu Ruli juga tiba di Jakarta dari Surabaya. Last flight namun beda maskapai membuat kami tak bisa bertemu. Seharusnya pagi itu kesempatan yang baik untuk sekedar meluangkan waktu, berbagi cerita dan tawa bertiga bersama Maya. Sayang Ruli yang sudah terlalu capek dengan rentetan acara luar kotanya saat itu memilih untuk langsung istirahat di rumah dinas orang tuanya. Tapi itu tak mengurangi keseruan saya bersama Maya.

Maya masih seperti dulu, seperti saat ia dan Winda menemui saya di bandara tahun pertama saya pergi ke Afrika. Masih tak peduli dengan sekitar jika mendapati cerita-cerita lucu yang membuatnya tertawa terbahak-bahak. Begitu pulu kemarin. Saya dan Maya seakan tak peduli dengan bule-bule di sekitar kami, atau siapapun yang ada disana dan terus berbagi lelucon pun cerita-cerita yang tak pernah habis. Kami memutuskan mencari kedai apa saja yang masih buka sambil menunggu waktu check-in. Hanya ada satu kedai yang masih buka. Kami langsung mencari tempat duduk setelah memesan kopi, teh panas dan toast bread. Disana kami kembali berbagi cerita tentang beberapa hal yang mengganjal di pekerjaan kami masing-masing. Rasa roti bakar yang standar sekali tak membuat pertemuan kami terasa hambar karena bagi saya berbagi tawa dengan Maya selalu menyenangkan.

SeeYouAgain19b

Semula kami ingin meminta bantuan orang lain untuk mengambil foto kami berdua, tapi ternyata kenorakan selfie lewat iPhone kadang menyenangkan juga. Coba perhatikan foto diatas, Maya malah sibuk selfie-sukaesih sendiri saat saya ajak selfie bersama, sigh! ;|.

SeeYouAgain18

Ini benar sudah lima minggu saya pergi dari Indonesia? Gila ya, waktu bener-benar berjalan teramat cepat. Till’ we meet again guys ;).

Just A Little Gift

Ada dua alasan mengapa tanggal sebelas bulan Mei cukup istimewa. Pertama, itu hari lahir saya. Secondly, tanggal sebelas Mei tahun lalu dua sahabat baik saya, Ayos dan Winda resmi menikah. Ayos dan Winda sama-sama lahir di bulan Mei. Tanggal enam Ayos lahir, sedang Winda lahir tanggal tiga belas. Tak hanya mereka berdua, sahabat saya yang lain, mbak Ika lahir di tanggal yang sama dengan Rifda, tanggal empat. Dan terakhir, Sohib, lahir tanggal lima. So, we are bunch of cool Mayers exactly.

Tanggal sebelas kemarin, saya tak merayakan apa-apa. Selain memang bukan tradisi, kali ini saya memilih untuk mensyukuri lebih pada nikmat-nikmat yang tak kentara. Tak ada satu hadiah pun yang saya beli untuk diri sendiri macam ini. Hadiah dari sahabat-sahabat saya? Ada, meski bukan berupa sebuah benda. Melainkan hadiah sederhana yang mampu membuat saya terharu. Yup! ucapan selamat ulang tahun.

Saya selalu menaruh iPhone on airplane mode setiap akan tidur dan menyalakannya kembali saat bangun. Sebelum pergantian hari, saya sengaja mengatur alarm pukul sepuluh, setengah sebelas, dan pukul dua belas kurang lima belas menit. Jaga-jaga saja agar saya bisa bangun tepat setelah pukul dua belas malam. Saya hanya ingin memanjatkan doa sederhana berisi rasa syukur pada Allah yang telah melimpahkan banyak berkah dan kesempatan hidup. Panjatan rasa syukur karena Allah memberkahi orang tua, keluarga, sahabat, dan guru-guru dengan kesehatan. Pun doa-doa singkat berisi permintaan pada hal-hal yang belum saya capai dalam hidup. Bertemu jodoh kemudian menikah, melanjutkan pendidikan, hingga meminta petunjuk untuk dipermudahkan jalan menuju Eropa. Benua yang saya yakin akan menjadi tempat berpijak setelah Afrika. Lima belas menit setelah bangun tengah malam, saya kembali tidur.

Saat saya bangun dan mengaktifkan kembali iPhone, notifikasi di Line saya menumpuk. Ucapan selamat dari Winda, Ruli dan Maya yang tergabung dalam satu grup (baca : grup Sogeh) memenuhi layar. Saya membalas mereka dengan ucapan terima kasih pun menyempatkan mengucap selamat pada Winda yang telah melewati satu tahun pernikahan. Ucapan dari sahabat-sahabat saya yang lain, mbak Ika, Rifda, Fahmi, Sohib, Ayos, Edwin, Yuriko, Tomo, Dimas, juga memenuhi notifikasi di iPhone. I was like I had spring of joy because their wishes was so touchy, and I felt blessed when my bestfriends remembered the day I was born.

***

Friendship1

Saya memiliki ide sederhana untuk hadiah first wedding anniversary si Winda dan Ayos yang indah sekali diterjemahkan lewat goresan tangan flatmate saya di sini, mas Danang. It was an impromptu idea actually saat saya melihat mas Danang sedang bosan di kantor dan mulai mencoret-coret kertas gambar. Saat melihat tangannya gatal menggambar sebuah karikatur, saya langsung menyodorkan buku sketsa dan mentrasfer ide yang ada di benak saya. I know he is so so good in drawing. “Mas, yang ada di pikiran saya, Ayos memeluk Winda. Sedang saya, Ruli dan Maya ikut berbahagia melihat mereka berdua bahagia”, kira-kira itu yang saya ucapkan pertama kali. Mas Danang langsung meminta saya menunjukkan foto kami berlima. Saya mulai bersemangat setelah ia menggoreskan goresan pertama dan menggambar Winda. Ia hanya butuh sekian menit kemudian mengganti goresan pensilnya dan mulai menggambar wajah Ayos. Saya bertambah semangat saat mas Danang menangkap wajah Ayos dengan sempurna lengkap dengan kacamatanya. Kemudian, ia mulai menggambar Ruli.

Ia menangkap karakter wajah Ruli begitu sempurna lengkap dengan alis tebal dan bagian jenggotnya. Ide saya kemudian berkembang liar. Saya meminta mas Danang untuk melengkapi Ruli dengan odong-odong. Saya tertawa membayangkan Ruli mengayuh odong-odong mengingat badannya yang cukup tambun. Saat mas Danang mulai menggambar wajah saya, saya berpesan untuk melengkapi tangan saya dengan tumpukan dolar dan beberapa koin-koin emas berceceran. Please don’t judge me I’m a greedy person yang materialistik :). Konsep dolar dan emas hanyalah konsep yang datang tiba-tiba saat saya ingat obrolan saya dan Maya di Line yang selalu membuat kami berdua tertawa terbahak-bahak. Candaan saya dengan Maya kadang dibumbui candaan-candaan macam orang stress. Maya selalu menuduh saya mendewa-dewakan uang, hehe, sedang saya selalu menggoda Maya bahwa ia akan bahagia jika memiliki banyak uang. Karena dengan uang, Maya bisa membeli lipstik merah yang ia idamkan, membayar uang pendaftaran Ranu, ke salon hanya untuk creambath, atau sekedar duduk-duduk ‘ha-ha-hi-hi’ dengan teman-teman sosialitanya ditemani teh dan cakes cantik-cantik di kedai teh seharga lima ratus ribu. Dan, dengan dompet tebal, Maya bisa membawa pulang Skippy.

Ini lucu, ide saya berkembang lagi saat mas Danang menggambar wajah Maya. Saya meminta ia menggambar kaleng-kaleng Skippy di depan Maya yang sedang duduk dengan kalung emas tebal di lehernya. Kenapa tiba-tiba saya berpikir Skippy?. Malam itu saya dibuat kembung dengan cerita Maya yang tak kuasa menahan air liurnya pada Skippy. Maya berdiri di depan tumpukan Skippy dan Nutella saat ia berbelanja di sebuah supermarket dan tak mampu membawa pulang sekaleng Skippy. Kata Maya begini, “Sayang duitnya Jis, kalo gw beli, gw mikir. Anak gw makan enak ga ya di Batam?.”. Saya setengah terharu tapi tak mampu menahan tawa di dalam kamar. Saya membayangkan wajah Maya di depan rak dengan Skippy yang memanggil-manggil untuk dibawa pulang. Tawa saya semakin kencang saat saya membalas Line-nya dengan stiker si Brown yang menabur uang dan sebuah bebek kecil yang mencoba menangkap uang-uang yang ditabur. Maya membalas, “Jis, itu si bebek kayak gw, sedang elu yang nabur-nabur duit.”. Bagaimana saya bisa menahan tawa dengan obrolan gila macam itu :).

***

Melihat sketsa mas Danang ini membuat saya tak sabar bertemu mereka tahun ini. Saya memiliki ide untuk makan siang bersama merayakan cool Mayers nanti saat saya pulang. Dan tentu, saya berharap Maya bisa ke Surabaya lagi seperti tahun lalu saat kami merayakan persahabatan seperti ini. Di suatu siang yang hangat, dengan makanan-makanan yang menggugah selera, melepas rindu dengan cerita dan canda tawa. Oh, saya pun akan mencetak sketsa ini di kertas foto dan membingkainya sebanyak empat buah. Untuk saya sendiri, Winda, Ruli dan Maya macam simply gift untuk wedding anniversary Ayos&Winda dan untuk perayaan persahabatan kami berlima. I’m blessed I have them and our friendship and I feel happy as well that soon, Ayos Jr will come to this world! :).

Friendship2

This iPhone picture below was taken on 11th of May when I shared some pizzas with my colleagues at our office. Please dont judge my messy hair that day :).

Friendship3

Oh, Maya, sketsa dan tulisan ini adalah kejutan yang saya tutup-tutupi dari hari kemarin. Semoga kamu tersenyum dan bahagia like I do :).

Cheers,

-A-

Fahmi Rahman

Hari itu, pukul sembilan malam waktu Afrika Barat (atau sekitar pukul tiga pagi waktu Indonesia), saya menghubungi seseorang dari sini. Saya bertanya, “Jam segini kok sudah bangun?, baru bangun apa ga bisa tidur?”. Ia menjawabnya dengan nada kompilasi galau – ‘deg-deg ser‘ – resah namun bahagia. “Sepertinya yang kedua Jis”, nadanya lirih.

Dugaan saya benar, ia pasti masih terbangun dan sedang diselimuti rasa yang luar biasa abstrak. Pelan-pelan saya meniti satu-persatu nada bicaranya. Dalam hati saya bergumam, “Oh, mungkin begini nada seseorang yang beberapa jam lagi akan melepas masa lajangnya”. Malam itu saya menyematkan beberapa pesan pun doa padanya agar kelak, jika ia sudah menjadi suami dan ayah, jadilah imam dan ayah yang baik. Yang bertanggung jawab dan tegas, itu saja. “Mungkin setelah ini kamu akan memiliki waktu lebih banyak dengan keluarga kecilmu. Hehe, mungkin kita tidak akan bisa menghabiskan banyak waktu seperti dulu. Well, I know, that’s life. I’m happy for you, tapi jangan lupa, kita akan bersahabat sampai nanti kita tua”. It sounds cheesy but that was what I said to him, few months ago. Saya tersadar, waktu benar-benar berjalan amat cepat.

***

Fahmi

Perkenalkan, foto diatas adalah salah satu sahabat baik saya, namanya Fahmi, Fahmi Rahman. Persahabatan saya dengannya sudah cukup tua, dua belas tahun lebih.

Pagi itu saya duduk di teras mushola dengan atasan putih dan bawahan abu-abu yang warnanya masih cemerlang. Saya tidak sendiri, beberapa anak berpakaian sama nampak berusaha untuk saling kenal. Saat itu, saya masih teramat malu. Tipikal kutu buku. Tak lama duduk di teras mushola berlantai marmer abu-abu muda, seorang yang wajahnya nampak tak asing duduk di sebelah saya. Ingatan saya masih cerah betul, pagi itu bukan pertama kali saya melihatnya. Dua tiga kali saya pernah duduk berhadapan dengannya saat saya masih berseragam putih biru. Di dalam angkutan umum.

Saat tahu kami akan belajar di kelas yang sama, saya mengiyakan ajakannya untuk duduk sebangku. Bukan awal yang buruk untuk langsung memiliki teman pada hari pertama tahun ajaran baru. Mengingat teman baik yang saya punya di sekolah menengah pertama hanya bisa dihitung jari. Di kelas satu itulah persahabatan saya dengan Fahmi berawal.

Setahun belajar di kelas yang sama menyisakan banyak kenangan akan persahabatan kami. Saya masih ingat betul bagaimana seorang Fahmi mendadak populer di kelas Matematika. Saat itu, kami masuk di kelas matrix. Saya yang tahu betul bahwa Fahmi tidak cukup mahir Matematika, terheran. Entah darimana ia mendapat mukjizat mengerjakan soal-soal matrix effortlessly. Saat guru kami melontarkan trivia tentang matrix, tangan kanan Fahmi selalu mengarah ke atas. Begitupun jika kami harus menghadapi ulangan mingguan. Nilainya sempurna. Tapi itu hanya matrix, setelah kami berganti bab yang membuat kepala semakin pusing, mukjizat Fahmi di kelas Matematika nampak pudar sedikit demi sedikit. Saya yakin, pasti ia akan tertawa setelah membaca tulisan sebelum kalimat ini.

Fahmi adalah penolong yang paling bisa dipercaya. Saya memiliki salah satu kesalahan besar dalam hidup ; saya tak bisa berenang. Kesalahan ini saya bawa sejak SMP hingga SMA. Setiap kali memasuki kelas olah raga dan harus menghadiri sesi berenang, saya seperti berdiri di atas bara api. Saya menyukai bulu tangkis meski tidak mahir benar. Saya pun menyukai sesi basket dan sepak bola, meski itu dulu sekali. Kasti? sesi olah raga yang paling saya gemari. Saya amat buruk di sesi voli tapi berenang, satu-satunya momok paling menakutkan yang pernah saya punya selama SMA. Fahmi selalu membantu saya untuk mendapatkan centang di buku absen saat sesi berenang bulanan diadakan.

Kerap kali kami berangkat dari sekolah menuju kolam renang publik yang ada di lantai paling atas di satu pusat perbelanjaan yang cukup tua di Surabaya. Sore pukul tiga, biasanya kami sudah siap berangkat. Dengan angkutan umum, kami menuju kesana. Fahmi yang tentu saja bisa berenang sudah pasti selalu semangat sedang saya, saya tak henti mencari alasan tiap bulan untuk sekedar menghindari kolam renang. Mulai dari tak enak badan, acara keluarga, hingga alasan yang paling buruk yang pernah saya buat saat itu ; nenek saya meninggal. Oh, mungkin Tuhan tersenyum pahit mendengar alasan yang pernah saya buat. Entah bagaimana saya sebodoh itu, menulis surat palsu bahwa nenek saya meninggal (padahal saat itu beliau masih sehat :(), melipatnya rapi ke dalam sebuah amplop putih, dan menitipkannya kepada Fahmi untuk diberikan kepada guru olah raga kami. Sial, dulu saya pernah tak waras :|.

Fahmi dan teman baik saya yang lain, Mikael, pernah dihukum di depan kelas Bahasa Indonesia. Pagi itu, kami bertiga, masih asik mengitari kantin sekolah layaknya hari-hari biasa. Menikmati aneka makanan ringan di kantin saat jam istirahat kerap kami habiskan bertiga. Saat bel masuk berbunyi, kami berjalan melewati aula sekolah. Saat melintasi aula yang memiliki jendela-jendela kaca dengan frame berwarna abu-abu tua, kami berhenti sejenak. Kami berhenti hanya sekedar melihat bagaimana kakak-kakak kelas dinilai saat ebta praktek senam. Saya ingat, saat itu saya terheran dengan beberapa penilaian senam yang melibatkan keahilan roll depan dan roll belakang. Saya terheran karena saya hampir selalu gagal dengan roll belakang. Saya terheran sambil membayangkan bagaimana dua tahun lagi saat saya harus dinilai di atas matras senam. Tak lama kami bertiga berdiri melihat kakak-kakak kelas dinilai, kami kembali ke kelas. Pintu kelas selalu terbuka seperti halnya kelas-kelas yang lain. Namun saat itu, suasana kelas nampak lebih tenang dari biasanya. Padahal jam istirahat baru saja berakhir. Nampaknya, guru kami sudah duduk memberi materi dan tugas. Melihat kami bertiga yang baru masuk kelas, beliau menanyakan pertanyaan menggelikan dengan gayanya yang khas. Tak lama, kami pun harus mejeng di depan kelas hingga kelas Bahasa berakhir. Tidak hanya malu menjadi pajangan di depan, saya, khususnya mendapat hukuman tambahan. Saya lupa karena apa, tapi saya ingat hukumannya apa. Menulis kalimat “astagfirullah hal adzim”, satu buku penuh.

Wali kelas satu kami, yang kebetulan mengurus pembagian kelas, rupanya baik hati memberi kami kesempatan bertemu lagi. Kelas dua, saya sekelas dengan Fahmi dan tentu saja, kami duduk sebangku lagi. Di kelas ini kami semakin akrab, tapi ada satu kenangan yang tak mungkin saya lupa. Di kelas dua, saya pernah marah besar pada Fahmi. Saya yang pagi itu sedang bad mood, tertimpa gurauan Fahmi yang tak menyenangkan. Saya mendiamkannya beberapa hari, hingga saya memilih untuk duduk di barisan belakang. Duduk dengan teman saya yang lain. Wali kelas kami sekaligus guru fisika yang ramah, kocak, dan dekat sekali dengan murid-muridnya (halo Bu Bik, how are you there?), mulai melihat ada yang aneh sejak saya tak sebangku lagi dengan Fahmi. Beliau dengan gayanya yang khas (I still remember how she spoke in our class), berhasil membuat saya dengan berat hati kembali ke bangku saya semula. Perlahan saya kembali duduk sebangku dan melanjutkan tugas yang diberi oleh guru Bahasa Inggris kami untuk membimbing Fahmi mendalami tenses. Oh, satu lagi, saya lupa kami memiliki masalah apa, tapi kami pernah pula bertengkar sesaat sebelum perpisahan kelas. Pertengkaran itu bahkan berlanjut hingga kami sekelas berlibur untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu, kami tak pernah memiliki masalah lagi. Saya mensyukuri dua momen itu sebagai bumbu persahabatan.

Kelas tiga kami tak sekelas lagi. Fahmi di IPA 4 sedang saya di IPA 2. Meski begitu, kami masih sering mengerjakan tugas bersama, saling meminjam catatan pelajaran, hingga tukar-menukar informasi setiap kali exam. Oh, di kelas tiga saya sebangku dengan Mikael dan bertemu dengan teman-teman baik saya saat kelas satu (pasti karena campur tangan wali kelas kami juga :)). Tak sekelas bukan berarti saya tidak merepotkan Fahmi di mata pelajaran renang. Lagi-lagi, saya masih bergantung pada bantuannya menyematkan alasan-alasan tak masuk akal hanya sekedar absen bulanan. Puncak ketakutan saya pada sesi berenang adalah saat ebta praktek. Saat itu, kami masih berangkat bersama dari sekolah. Tiba di kolam renang publik yang entah saya selalu merasakan fobia, Fahmi dan saya berpisah sesuai kelas masing-masing. Karena giliran penilaian kelas saya lebih dulu dari kelasnya, saya harus menanggung malu di dalam kolam renang. Pasalnya, hari itu, saya, yang jarang sekali menyeburkan diri ke kolam, mau tak mau harus menyeburkan diri sebagai syarat penilaian. Di saat itulah, saya tidak mampu berbohong lagi pada kenyataan bahwa saya tak bisa berenang. Saat guru olah raga memanggil nama kami satu satu, saya yang kebetulan nomer urut satu (you guys must know from my name :|), mau tak mau harus siap-siap berenang empat putaran. Saat enam orang menempati start-nya masing-masing, dan guru kami membunyikan peluitnya, mereka berlima mulai berenang. Saya?. Saya diam di tempat sembari menemukan alasan cerdik. Mata saya alergi dengan kaporit. Guru saya yang memandang heran hanya bisa menanyakan apakah saya tak keberatan mendapat nilai 6. Enam?, “who is fucking care with six?, cause my nightmare is over”, kira-kira begitu saya mengumpat dari hati. Toh masih ada penilaian basket yang jelas-jelas saya mampu melakukannya lebih baik. Setelah sesi renang itu, saya tak henti tersenyum pada Fahmi sembari tak bisa menahan tawa. Alasan-alasan yang selalu saya pikir setiap bulan tak perlu lagi saya lakukan. After that day, my life was so bright.

Kebersamaan saya dengan Fahmi tak henti setelah masa SMA berakhir. Kami masih bersama dengan teman baik kami lainnya, Anjar (yang hingga saat ini masih bersahabat erat), berjuang menemukan jalan pendidikan selanjutnya. Saya masih ingat betul bagaimana kami bertiga memulai pencarian jurusan hingga mendaftar ujian masuk universitas. Kami bertiga datang dari kelas IPA namun memilih IPC, alias campuran. Sejak dulu, saya ingin menjadi mahasiswa jurusan Hubungan Internasional, sedang Fahmi berminat mendalami Manajemen. Anjar, ia jatuh hati pada kimia.

Setelah kami melewati ujian, kami mulai berjalan sendiri-sendiri. Saya sibuk mendalami desain di Desain Produk ITS. Meski saya diterima di Hubungan Internasional Universitas Airlangga, saya lebih memilih mengasah kemampuan kreatif saya di ITS. Fahmi berhasil melanjutkan pendidikannya di fakultas Manajemen Universitas Negeri Surabaya. Persahabatan kami memang erat adanya. Fahmi adalah satu-satunya teman baik saya yang tahu bagaimana saya memulai perjuangan di desain. Ia adalah sahabat yang tulus mengantarkan saya mencari letak kampus, hingga berkunjung ke fakultas desain untuk pertama kalinya. Di siang yang cukup terik, melewati jalanan di area kampus yang ditumbuhi banyak pohon tua yang rindang, hingga duduk di bangku kayu dengan dua mangkuk bakso sebagai tanda terima kasih.

Dulu, saat kami hampir lulus kuliah, saya mendapat kabar kurang bahagia. Fahmi memutuskan untuk tidak melanjutkan skripsinya. Ia tak mau bercerita secara gamblang apa penyebabnya. Hingga sepuluh kali membujuk dengan pertanyaan yang sama, ia hanya bilang karena masalah pribadi. Saat itu saya seperti melihat sisi Fahmi yang lain, sisi yang belum pernah saya tahu. Keputusannya meninggalkan skripsi dan gelar sarjana di depan mata sungguh bukan perkara mudah bagi saya. Saya hanya ingat bagaimana kami berjuang bersama mencari pintu-pintu pendidikan selanjutnya setelah lulus SMA. Tapi apapun keputusannya saat itu, Fahmi tentu menjadi yang paling tahu.

***

Melepas masa kuliahnya, Fahmi menyambung impiannya menjadi pengusaha. Jika saja ia ingat, profesi pengusaha adalah kata yang ia sematkan pada buku kenangan kelas satu SMA yang saya ciptakan dulu. Hingga saat ini, perlahan ia mulai memantapkan langkahnya menjadi apa yang ia impikan. Memiliki usaha sendiri tanpa harus bergantung pada gaji.

Saya banyak belajar dari Fahmi. Belajar menjadi manusia yang rendah hati dan tahu diri. Ia yang lahir dari keluarga cukup berada tidak serta merta membuatnya tinggi hati. Kesederhanaan adalah bagian dari dirinya.

Saya selalu melihat Fahmi sebagai seorang yang diberkahi jalan hidup yang ideal. Tahun kedua saat saya liburan di Indonesia, dengan santainya ia menceritakan beberapa langkah masa depan yang telah ia mulai. Saya ingat betul, sore itu saat kami berangkat ke musholla dekat rumah orang tuanya setelah kami membawa pulang kue untuk lebaran, ia menunjuk sebuah rumah yang berada tepat di samping rumah orang tuanya. Ia bilang, “rumah itu sudah saya beli, Zis”. Saya bergumam pada diri sendiri, “saya tidak salah dengar kan?”. Saya menimpali, “lunas Mi?”, “belum, masih separuh. Cuman DP saja kok Zis, lunas? uang dari mana”, jawabnya sambil tertawa renyah. Saat itu, saya, yang bahkan belum memulai apa-apa untuk masa depan, beku seketika. Saya tahu, rumah bukan barang murah. Jadi, nilai berapapun untuk membayar lima puluh persen dari harga rumah tentu bukan nilai yang kecil. Sahabat saya ini sepertinya benar-benar menata hidupnya dengan amat rapi. Dan, ideal.

Rumah itu hanya awal dari tatanan hidupnya yang baru. Saat ia mengirim berita bahwa ia akan menikah dengan gadis yang menjadi tambatan hatinya, saya termenung. Bahagia yang saya rasakan saat membaca pesan pendeknya tentu tak bisa saya lukiskan di sini. Bukan hanya bahagia, saya pun dirundung sedih. Sedih karena jarak antara saya dengannya, memaksa saya hanya tersenyum dari sini. Bukan perkara mudah bagi saya untuk tidak hadir di hari paling bahagia sepanjang hidupnya. Andai saja, andai, saya mampu terbang ke Indonesia saat itu, pasti akan saya lakukan. Tapi toh saya sadar, doa tulus untuknya mampu mencairkan perasaan itu.

Kini, Fahmi tengah menanti kebahagian terbesar setelah pernikahannya. Beberapa bulan lagi, ia akan menyandang status baru sebagai seorang ayah. Rasa bahagia saya sama besar saat ia mengirim foto USG bayi yang ada di kandungan istrinya beberapa bulan lalu. Saya bersyukur bukan main bahwa Tuhan, benar-benar melimpahkan hidup yang sungguh ideal pada sahabat saya ini.

Saya tahu, ketertinggalan saya teramat banyak jika dibandingkan dengan Fahmi. Belum memiliki rumah, belum beristri, apalagi memiliki anak. Saya pun tahu, bukan perkara mudah membandingkan apa yang sudah ia capai dan apa yang belum saya capai. Yet I know, this life has no blueprint. Jalan hidup setiap manusia memang berbeda. Yang saya tahu, saya merasa beruntung dan bahagia, cause God has sent me a real bestfriend to celebrate this life with a real friendship.

Fahmi adalah sahabat yang mendengarkan di kala masalah-masalah hidup menjadi lebih rumit. Ia sahabat yang selalu menyemangati saya untuk berjuang lebih keras dan tak lupa bersyukur selama berjuang di sini. Padanya, beberapa kali saya membagi kegalauan saya pada apa itu patah hati. Ia yang selalu punya waktu setiap saya kembali ke Indonesia. Yang selalu tertawa pada obrolan-obrolan bodoh tengah malam. Ada satu pesan sederhana yang selalu saya panjatkan dalam doa, bahwa hidup dengan manusia-manusia baik yang dikirim Tuhan, keluarga, sahabat, dan orang-orang terkasih lainnya adalah hidup yang selalu saya inginkan.

Mi, Tuhan akan selalu menjagamu dan keluarga kecilmu, pun akan menjaga persahabatan kita. Percaya saja :).

 

P.S. I was so pleased when I could find his photographs again, since I had issue with my external hard drive where I saved all my pictures there. I pretty remember I took his picture through my iPhone 5 when I came back home to Surabaya and spent that noon with Fahmi. I always love to see a clear picture from my iPhone :).

 

Lagos, 10 : 42 pm.

Tiga Hari Itu (bagian II)

TigaHariItu2-1

{Bagian I}

Bahkan hingga detik ini, saya masih bisa merasakan damainya Sabtu itu. Pagi, dan mentari sedang hangat-hangatnya.

***

Saya sengaja memperlambat laju motor agar bisa menikmati setiap momen sepanjang jalan pulang. Meskipun rindu pada Ayos, Winda dan Ruli belum tuntas penuh, tapi saya harus bangun pada kenyataan bahwa menghabiskan semalam dengan mereka itu berkah luar biasa.

Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Ayos dan Winda, saya tak henti melirik jarum jam di pergelangan tangan untuk memastikan saya on-time. Saya harus cepat-cepat sampai di rumah untuk kemudian istirahat sejenak. Kakak saya menghidangkan sebungkus nasi campur untuk sarapan. Nasi buatan orang Arab yang dulu sering kami beli untuk sekedar memanjakan lidah di akhir pekan. Nampaknya, ia selalu ingin menghidangkan makanan-makanan enak selagi adiknya di Indonesia.

Saya tidak punya banyak waktu untuk sekedar istirahat. Satu jam lagi janji untuk bertemu dengan sahabat baik yang sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri, mbak Ika, harus ditepati. Sempat saya ragu pertemuan dengannya tidak akan terjadi. Sejak ia pindah dari Surabaya ke kota yang lebih kecil dan tenang, apalagi ia seorang Ibu yang sedang menikmati masa tumbuh kedua anaknya, menjadi alasan keraguan saya. Sabtu itu menjadi hari terakhir saya di Surabaya yang artinya, it was our final day to meet or not at all. Bertemu dengan orang-orang penting yang acap kali saya rindukan pada hari-hari terakhir di Indonesia sungguh sebuah kebodohan besar. Kebodohan yang selalu terulang tiap tahun. Namun saya tak mau menyesalinya karena memang tahun ini saya banyak menghabiskan hari-hari di sana untuk sesuatu (let me keep it for a secret now, I promise I’ll share it on the right time here. Sometimes, someday).

Saya kembali mengendari motor ke salah satu town square di mana kami akan bertemu. Sungguh, Sabtu pagi yang sejuk membuat saya lagi-lagi menyesal kenapa tidak menikmati momen sesederhana itu dari awal. Tinggal ambil motor, kendarai pelan-pelan, nikmati sinar mentari pagi yang hangat dan angin yang sejuk, di akhir pekan (Zis, jangan terus berandai-andai, it was passed :|). Sesampainya di sana, saya mendapati mbak Ika dan suaminya, mas Dw, di kedai es krim legendaris. Mereka duduk berdua dengan jaket kulit yang entah disengaja atau tidak, nampak serasi dan manis. Saya masih seantusias dulu setiap kali bertemu dengan mereka berdua, terutama mbak Ika. Salah satu orang baik yang selalu mendukung saya meraih mimpi-mimpi apapun. Rindu pada mereka saya tumpahkan melalui pelukan dan rasa syukur karena akhirnya, pertemuan hari itu menggenapkan pertemuan yang selalu kita rayakan setiap tahun.

I couldn’t ask more saat berkesempatan menghabiskan siang yang damai dengan orang-orang baik. Siang itu kami bertiga akhirnya memiliki kesempatan semeja dengan mas Andhi. Tak perlu waktu lama untuk mbak Ika bisa akrab dengan mas Andhi. Begitupun dengan mas Dwi. Kami menghabiskan dua jam penuh keakraban sebelum akhirnya kedatangan orang baik lagi. Mbak Susan, Joan plus pak Tono, experienced florist yang bekerja di sini bersama saya. Kebetulan, saat itu beliau sedang cuti sebulan. Saya sungguh bersyukur karena hari itu bisa bertemu dengan mbak Susan lagi, sahabat mas Andhi yang berjasa membuka jalan saya pindah ke Afrika. Saya ingat, saat kepulangan kedua, saya hanya bisa mengantarkan oleh-oleh berupa baju ala Afrika untuk mbak Susan ke rumah orang tuanya. Rasanya seperti mimpi bisa duduk satu meja dengan mbak Ika, mas Dwi, mas Andhi dan mbak Susan di Indonesia.

Pertemuan dengan Joan pun membuat saya bahagia. Meskipun tidak seseru tahun-tahun sebelumnya saat saya dan Joan bisa bercanda semeja dengan Yuriko, Edwin, Rifda, Tomo, pun mbak Ika, tapi saya bersyukur. Kenapa? Sederhana saja. Saya sangat menghargai bagaimana Joan rela datang saat ia tahu, siang itu adalah satu-satunya kesempatan untuk bertemu saya dan mbak Ika sebelum ia menikah.

Setelah semua berkumpul, kami memutuskan untuk makan siang bersama. Meskipun makan siang kami cukup singkat, namun sungguh, it was a bless for me. Saya selalu menganggap setiap pertemuan yang tercipta setelah masing-masing dari kami terpisah waktu dan kesibukan pribadi adalah berkah yang luar biasa. Meski kadang, bukan jarak dan waktu yang membuat pertemuan nampak sulit. Justru kesibukan-kesibukan yang bisa disela yang membuat momen merayakan persahabatan nampak seperti ilmu kalkulus, no?. So, if you have an opportunity to see your best friends, spend your time with them cause you know, it shows that you are a person who understand that spending a moment with them is a bless :).

3HariItu5

3HariItu6

3HariItu7

Saya sungguh suka foto di atas ini :).

***

Setelah menghabiskan siang dengan mbak Ika, mas Dwi, mas Andhi, mbak Susan dan Joan dengan cerita dan tawa, akhirnya saya harus kembali ke rumah. Berat rasanya mengakhiri momen siang itu namun saya tak memiliki pilihan lain untuk merelakan rindu-rindu yang masih tersisa untuk mereka dengan salam dan pelukan perpisahan. I really wish I had more time, I really did.

Saya pun pulang untuk menciptakan momen berharga lainnya. Kali ini dengan orang-orang terpenting, keluarga. Saya memiliki niatan untuk makan malam sekeluarga sejak kepulangan pertama tiga tahun lalu, tapi baru terjadi tahun lalu. I know it sounds ridiculous cause I had spent so many events with my best friends but once with my family. Tapi lagi-lagi, saya tidak perlu menghardik diri sendiri karena itu. Saya hanya pantas bersyukur karena akhirnya, saya berkesempatan mewujudkan momen penting dan bermakna sesederhana makan malam.

Keluarga saya bukan tipe keluarga yang sering keluar rumah hanya untuk makan malam. We are very, very conservative. Mungkin itu salah satu sebab makan malam bersama was such a big deal. Sedari siang, saat saya bercengkrama dengan mbak Ika dan mas Dwi, saya memesan meja di salah satu restoran yang paling nyaman untuk keluarga. Memiliki menu beragam dengan lokasi yang tidak terlalu jauh dari rumah agar kami memiliki waktu yang cukup untuk menikmati makanan plus ambiance-nya.

Saat tiba di rumah, saya mendapati momen yang sedikit membuat saya sedih. There was a little quarrel antara ibu dan bapak. Well, memang tak jarang ibu dan bapak bertengkar hanya karena masalah sepele, tapi kenapa harus sore itu, sigh. Ibu saya berwatak keras, jika beliau sudah bilang tidak, ya tidak. Bahkan iming-iming macam “Ini malam terakhir saya di rumah lo, Bu” tidak cukup mempan. Bahkan kakak-kakak saya yang ikut membujuk ibu untuk mengganti pakaiannya untuk kemudian bersiap-siap tidak juga berhasil. Sedih? jelas. Malam terakhir yang seharusnya bisa saya nikmati secara lengkap satu keluarga, malah minus ibu. Tapi mau tak mau saya harus menghormati keputusan beliau. Kadang saya berusaha menganggap kejadian-kejadian seperti itu bagai bumbu-bumbu romantis antara suami dan istri yang biasa terjadi dalam sebuah keluarga. Well, maybe. Pada akhirnya, kami semua tetap berangkat, d’ show must go on. Dengan dandanan sederhana tapi rapi, saya mulai mendapati wajah-wajah bahagia yang mampu mengikis sedikit demi sedikit perasaan sedih lantaran esok sore, saya tidak akan melihat mereka lagi. But then, I had to remember that God blessed me with a very beautiful family, and I have to thank for it.

Tiba di restoran, kami langsung menuju meja dan duduk di kursi masing-masing. Tak lama, kami mulai memesan makanan yang ingin kami santap. Macam-macam. Momen malam itu sungguh lekat di ingatan saya hingga kini, bagaimana lucunya bapak menahan rasa pedas dari nasi goreng kambing yang beliau pilih. Keponakan yang gembira dengan steak panas berlumur butter dan saus, kakak terakhir yang duduk di samping saya yang terus-menerus meledek bapak dengan nasi goreng pedasnya, pun Sohib yang nampak tidak cukup menguasai standart dining manner, lol :P. Oh ya, malam itu Sohib hadir di acara makan malam kami. Ia tidak hanya hadir sebagai sahabat saya sedari kecil, tapi sudah seperti keluarga sendiri. Tadinya saya berandai jika saja Sohib bisa hadir dengan umiknya, paling tidak ibu saya tidak terlalu kikuk jika ada teman seumurannya. It was what I hoped before. Keceriaan, kehangatan, kebersamaan yang tercipta dari acara makan malam itu menyadarkan saya satu hal. Mungkin anda sering mendapati saya menyebut kutipan Ronan Keating di blog ini, tapi lirik ini benar adanya. Hindarilah keadaan saat anda tidak memiliki kesempatan kedua untuk menunjukkan perasaan pada orang-orang tersayang. So tell that someone that you love, just what you’re thinking of, if tomorrow never comes :).

Malam itu saya sungguh bersyukur akan kesempatan menciptakan momen sederhana yang bisa jadi, salah satu malam paling berharga tahun lalu.

3HariItu8

Satu lagi, abadikanlah setiap momen yang berharga dengan foto, cause “What I like about photographs is that they capture a moment that’s gone forever, impossible to reproduce”, Karl Lagerfeld.

-bersambung-

Lagos, 10 : 29 pm.

Tiga Hari Itu (bagian I)

Tiga hari sebelum meninggalkan Indonesia, saya sempat menghabiskan satu malam bersama sahabat-sahabat yang sering saya sebut di blog ini, Ayos, Winda, dan Ruli. Saya memenuhi janji pada Winda dan Ayos untuk menyempatkan memasak kemudian makan malam bersama di rumah mereka.

Hari itu, sedari pagi, saya sibuk mengerjakan neglected things yang seharusnya saya tuntaskan dari jauh hari. Dari kunjungan ke dokter gigi hingga mencari buku desain untuk oleh-oleh (kebodohan itu mencari buku impor in last minute!). Setelah buku ada di tangan, saya kembali tergesa-gesa mengejar waktu sholat Jumat. Saya tak mungkin rela melewatkan kesempatan terakhir sholat Jumat di Indonesia. Untung saja ada surau kecil tak jauh dari mall tempat saya berburu buku. Surau yang tak jauh dari kantor tempat Sohib bekerja. Surau itu terletak di dalam kampung yang mengingatkan saya kembali pada masa sekolah menengah pertama. Saya ingat sekali, di dalam kampung itu ada rumah kecil tempat saya belajar bahasa Inggris bersama guru yang sama yang mengajar saya di sekolah. Saya masih ingat betul bagaimana saya menikmati setiap langkah setelah ‘jumatan’. Saya dan Sohib duduk bersama dengan beberapa jenis gorengan di tangan sebagai pengganjal makan siang. Angin sepoi-sepoi di Jumat siang, di scene perkampungan yang Indonesia sekali, selalu membuat saya rindu setiap kali mengingatnya dari sini. Secuil scene siang itu sempat saya abadikan dengan iPhone :)

3HariItu3

3HariItu4

Setelah jumatan, saya kembali ke rumah untuk istirahat satu jam saja. Tak terasa jarum jam sudah melewati angka tiga. Setengah jam sebelum pukul empat perasaan malas yang kuat sekali hinggap di diri saya. Bukan kenapa, raga terlalu capai hingga sempat terpikir untuk mengurungkan niatan ke rumah Ayos. Untungnya, hati saya berkata lain. Saya mengindahkan perasaan malas karena saya tahu, jika saja saya memilih untuk tidak pergi, saya melewatkan momen persahabatan kami disaat saya masih berkesempatan.

Setengah perjalanan dari Surabaya Utara ke rumah mereka di daerah Juanda, saya berhenti sejenak di pasar serba ada untuk berbelanja bahan masakan. Saya menikmati semua hal yang terjadi di sekeliling saya. Sore itu banyak keluarga sederhana yang sekedar menghibur diri dengan berbelanja bersama. Sembari iseng, saya berpikir keluarga-keluarga seperti mereka hidupnya nampak sungguh indah (meski mungkin hanya nampak dari luarnya saja, entah). Tiba-tiba saja saya memiliki penyesalan kecil kenapa tidak menghabiskan hal sesederhana itu saat hari-hari awal di Indonesia berdua bersama Ibu. Berbelanja sore, berjalan kaki, sambil menikmati es krim berdua.

Keluar dari pasar serba ada tadi, saya mendapati langit berwarna jingga. Setelah pukul empat adalah saat dimana saya selalu merasa waktu tercantik yang dimiliki sebuah hari. Saya pun kembali mengendarai motor menuju rumah Ayos dan Winda. Sepanjang jalan, saya kembali melihat banyak momen sederhana yang membuat saya rindu Indonesia. Beberapa pedagang kaki lima yang mengayuh sepeda, ibu-ibu pekerja yang menunggu angkutan kota, pria-pria yang menghabiskan waktunya di warung kopi dekat rel kereta, hingga wajah-wajah murung di dalam bis kota. Semua momen sore itu nampak seperti secuil perwujudan budaya yang Indonesia sekali.

Sesampainya di rumah Ayos dan Winda, saya mulai merasa sedih karena tersadar hanya memiliki beberapa jam dengan mereka, apalagi tanpa Maya. Sambil menunggu Ruli, Winda dan saya mulai memasak menu makan malam sementara Ayos masih berkutat dengan pekerjaannya. Di dapur mungil mereka, saya meledek diri sendiri pada Winda karena menu yang akan kita masak hanya tumis selada, wortel dan jamur. Plus ayam tanpa tulang yang hanya akan digoreng, tahu dan tempe yang akan kami nikmati dengan sambal ala Winda. Bukan karena saya tidak mau sedikit repot memasak makanan yang lebih rumit daripada itu, tapi hari itu saya benar-benar lelah. Saya dan Winda beberapa kali tertawa ringan karena pisau yang kami pakai sedikit tumpul membuat pekerjaan memotong ayam menjadi begitu merepotkan.

Malam itu nikmat sederhana kembali tercipta dengan duduk bersama menyantap masakan sederhana. Kami berempat sempat bercanda ria setelah makan malam sembari bercerita banyak hal (hanya Ruli yang masih sibuk mengunyah buah stroberi dengan es krim vanila yang seharusnya bisa kami olah menjadi milkshake, sigh)Saat itulah saya merasa kesedihan saya sedikit demi sedikit mulai mencair berganti rasa syukur pada momen persahabatan malam itu. Selepas pukul sepuluh, kedua mata saya tak kuat menahan beban kantuk yang hinggap sedari sore. Pun begitu dengan Winda, Ayos dan Ruli.

Saya terbangun dalam keadaan sadar bahwa hari itu hari terakhir saya di Surabaya. Sebenarnya saya memiliki rencana memasak sarapan untuk kami berempat namun sayang, alarm di iPhone tidak cukup membantu saya bangun seperti biasanya. Winda berbaik hati menyeduh wedang kayu manis campur madu hangat yang katanya baik untuk stamina. Tak lama setelahnya, Winda harus siap-siap berangkat kerja. Saya semakin dekat dengan perpisahan semantara dengan mereka, tapi pastinya kami tidak bisa mengabaikan foto sebagai cara mengabadikan kenangan. Entah, pagi itu saya lebih menikmati interaksi antara kami daripada sekedar sibuk mengabadikan momen. Untung saja kualitas foto dari iPhone milik Winda ini mampu membuat saya tersenyum :). Oh, kami sempat berfoto di depan rumah Ayos dan Winda dengan bantuan Ayah Winda yang kebetulan mampir setelah beliau olah raga pagi.

3HariItu1

3HariItu2

Setelah cukup berfoto ria, saya harus berpamitan pulang untuk kemudian menemui beberapa lovely humans lainnya sebelum terbang ke Jakarta esok hari. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Ayos dan Winda, saya kembali tersenyum lebar melihat morning scene ala Indonesia di hari Sabtu yang hangat (damn, tiba-tiba saya rindu Indonesia :().

-bersambung-

Lagos, 8 : 40 am.

Hi For Wana

Wana1

I know its such a good thing having a proper time to see my friends when I come home. I remember myself was so introvert few years ago when I felt so comfortable with everyone I knew, only. That was one of my nature since I grew up as a home boy. A boy who loved spending time at home, with few friends I could count with my fingers. A boy who went to school, and came back home on time. It was a breakthrough I took by moving outside country that changed me a lot as a person. Since then there was a change on how I bring myself into a conversation, even with my few new friends I meet for the first time. I can talk a lot about something comfortably and be myself.

Wana2

Wana3

In my short time I had while I was in Indonesia last week, I took chance to meet my new comrade, Wana Darma. I finally met Wana in person since we knew each other through twitter. When I met Wana, I answered (talked?-too-much-I-think :P) his Q’s on how I moved from Indonesia, what am I doing here, how I survive, and for sure some bloggers that inspired me. I think I really talked too much that time :P. Wana is graduated from Gajah Mada University in Yogyakarta majoring Accounting but he has the same indulgence with me in food and cooking. First time we tweeted in the air, we talked a lot about food, cooking, and food photography. He has a blog contains food and some travel posts which I do love how he brings his blog with a very funky way (since I found it). I used to contribute on his ‘Males Makan’ series (It’s a Chef-esque post where he stops people to share a dish they cooked) and shared one of Nigerian food called Asun. Oops, I just realised that photographs on that post weren’t good enough :P.

Wana and I have the same thought that keeping our blog is not a simple thing, I feel that is happening in his blog. I do miss a lot of his post truly. So, Wana, when will you start again? :)

P.S. Uh, when Wana told me that he is 24 yo, I officially hated him :P. Sigh (don’t mind me, I’m kidding). I should meet with my new comrade in person which I do want her on this blog, Maharsi, a young lady who inspired me a lot as well. She is Wana’s comrade from the same Uni and the same major (small world!). Sadly we couldn’t make it because of time, but I swear you guys will see her exclusively on this blog sometims in future :). I swear.

One of That Precious Noon

This is crazy. I can’t even understand to myself that I’ve ignored this blog for almost two weeks. That was so terrible.

Among all things I have to do while I’m in Indonesia, there is one thing I always love to make every year when I’m home ; sharing an afternoon with stories, food, and coffee with lovely peeps. I felt blessed when I had a chance to sit down with Winda and Ayos, both are my best friend since we were in college. It was our second meeting after I came to their new house (yes, Winda is moving to our town, Surabaya! :)) just few hours after I landed in Indonesia, but it was the first time (I mean in proper way and time) I and this new-married-couple were really sat down and shared stories. Sharing stories with Ayos is always amazing. If you have read this post you’ll know why I adore him. So does Winda.

We spent time for almost four hours that day and I do really want to make it one more time. On Sunday noon, at one of the ‘happening’ new coffee spot in town. Oh, I presented an ordinary yet meaningful (hopefully! :D) wedding gift for them before we left. Some iPhone and some Mirrorless here :)

Ayos&Winda1

Ayos&Winda2

Ayos&Winda3

Ayos&Winda4

Ayos&Winda5

Hope you guys do not mind to say hi to one of long time best friend of mine, Fahmi. He’ll marry his girl next month which is it will hard for me cause I won’t be around for his big day :(. But I always pray for him, Ayos, Winda and my other best friends for our friendship. Hope we can keep it long last.

Ayos&Winda6

I’ll off to Bali tomorrow, hope I can post more posts for this blog when I’m coming back!

King Halim (bagian 4)

“…Begitulah makanan yang dulu saya masak, saya bawa ke kantor, saya nikmati dengan teman-teman di sana mampu meninggalkan kenangan. Makanan plus kebersamaan sama dengan kenangan. Sederhana sekali :)…” – King Halim (bagian 3)

Suatu pagi saya melihat seseorang yang jelas tak asing bagi saya. Rifda, teman baik selama kuliah di Desain Produk, duduk di bangku yang saya duduki di hari pertama kerja. Sekitar pukul sepuluh, Tomo datang bersama Rifda ke ruang konseptor. Saat Tomo mengenalkan Rifda pada teman-teman desain, saya merasa sedikit kikuk. Bukan kenapa, hanya agak aneh bertemu lagi dengan seorang teman baik yang kemudian menjadi partner kerja di sana. Tapi itu hanya terjadi pada hari pertama, selanjutnya saya senang bisa bertemu lagi dengan Rifda. Pun begitu dengannya. Kami menganggap pertemuan itu seperti sebuah berkah (lagi) yang layak dinikmati.

Sejak Rifda bergabung dengan kami, suasana tim lebih bervariasi. Rifda, Yuriko, dan Edwin (termasuk saya) menemukan koloni baru ; koloni untuk bermalas-malasan pada target desain, koloni yang lebih tertarik dengan gosip-gosip seputar kantor (kalau saja manajer saya dulu membaca tulisan ini, oh Tuhan, maaf ya Ko :P), koloni yang tak pernah semangat melakoni meeting dengan manajemen (maaf lagi Ko :P), dan koloni yang selalu bersemangat saat jam makan siang pun jam pulang. Saya tak termasuk di koloni terakhir. Saat di King Halim, Rifda masih seperti dulu, yang selalu terbuka pada hal-hal baru meski kadang moody sekali perihal tugas dan target. Rifda tentu saja jauh lebih menikmati waktu bersama Yuriko sekedar membahas film favorit masing-masing.

Tak lama setelah Rifda bergabung, kami kedatangan seorang perempuan lagi. Namanya Joan Jeannet, saya memanggilnya Johan (entah, saya lebih nyaman memanggilnya Johan *ditoyor-Joan*). Lulusan Desain Produk Ubaya ini tipikal perempuan yang setara dengan Rifda, mudah menyesuaikan diri dengan kami berlima. Sebagai yang paling muda di tim, kami berkewajiban membimbingnya dengan materi-materi dasar desain perhiasan yang menjemukan :P. Sebulan dengan kami, saya mulai merasa ada yang aneh dengan Johan. ‘Supel’-nya ia mengarah ke ‘gila’. Ternyata ia juga seorang perempuan muda yang bisa diajak gila (ini bahasanya ambigu bukan sih? :|). Maksudnya, ia bisa melebur dengan Yuriko, Edwin, Rifda dan saya untuk sekedar bermalas-malasan. Saya tentu tak menyertakan Tomo dan Jalal yang setiap hari serius bekerja meski ada kalanya mereka bisa diajak gila.

Saya dan Johan memiliki satu kesamaan : kulit wajah kami sensitif untuk urusan pimples (cih!). Untuk yang satu ini, Johan mulai mengikuti aliran ‘ke-Edwin Lau-an’ yang menutup mata pada gorengan, sambal, coklat, dan santan, sama seperti saya. Bedanya ia tak cukup disiplin. Saya masih ingat bagaimana dulu Johan tak bisa menahan nafsunya untuk mencomot beberapa tempe goreng kering saat makan siang. Sehari setelahnya, saat muncul satu pimple di wajahnya, Johan menyalahkan tempe kemarin. Kemudian ia menyesal dan berhenti. Seminggu setelahnya, begitu lagi :P. Sebagai dua ‘dayang-dayang’ di tim, Rifda dan Johan tentu amat dekat layaknya kakak-adik. Mereka berdua seringkali menemukan waktu untuk sekedar membahas masalah wanita, mulai dari baju, make-up, pria, dan tentu saja, gosip.

Tak hanya Rifda dan Johan, ada seorang perempuan lagi yang dari dulu ingin masuk geng konseptor. Namanya Ika Siswi, panggil saja mbak Ika. Sebagai rekan kerja tamu-tak-diundang saya, si Dimas, mbak Ika kerap mondar-mandir ke ruangan kami. Sebagai orang produksi, mbak Ika selalu terlibat di tim desain. Tapi sebentar, saya pikir bukan itu alasan yang masuk akal. Ia hanya mengikuti kelakuan Dimas ; berpura-pura sibuk mondar-mandir ke ruang konseptor agar nampak seperti bekerja, namun sebenarnya ia hanya ingin terlibat ke dalam pesta-pesta bekal yang selalu saya adakan :P. Saya ingat sekali, dulu, saat mulai dekat dengan mbak Ika, gantian saya yang sok sibuk mondar-mandir ke ruang produksi. Selain untuk meninjau proses produksi desain, saya kerap mengamati bagaimana pekerja-pekerja di sana menghabiskan harinya.

Ingatan saya kemudian melayang pada seorang ibu setengah baya yang bekerja di bagian produksi selama lima belas tahun lebih. Saya lupa namanya, yang saya ingat, saya pernah memberinya kue. Tidak hanya sekali, beberapa kali. Kadang saya sampaikan sendiri, kadang saya menitipkannya kepada mbak Ika. Saya iba melihat beliau, entah kenapa. It was such an ‘Oprah’ effect, hehe. Satu hal yang cukup mengejutkan bagi saya, ibu itu tahu nama saya. Apakah dulu saya terkenal itu? tidak, hehe. Hanya lucu saja, bekal saya kok ya sampai hingga ke ruang produksi yang letaknya di ujung. Ngomong-ngomong bagian produksi, saya baru tahu, ternyata ada seorang perempuan yang memikat hati seorang Edwin. Perempuan manis yang beruntung memikat hati koko-koko setampan Edwin itu bekerja di bagian produksi. Saya kira, hanya kepala HRD kami dan dua staf lawas purchasing saja yang terpikat dengan ketampanan Edwin :P *ditoyor-Edwin*. Perempuan manis itu bukan perempuan yang melirik Edwin di foto terakhir (lihat di bawah, kalau mbak Ika mah semua pria dilirik :P).

Saya pikir, saya harus menyertakan nama Ika yang lain di tulisan ini. Di tulisan pertama saya tentang King Halim, saya menyebut teman-teman desainer yang kebanyakan direkrut dari Jogja. Ika Winarti, satu dari sekian desainer di sana, termasuk yang cukup beruntung pernah menangani desain-desain saya. Bekerja dekat dengan saya artinya, akan selalu ada kudapan gratis yang bisa Ika dapat. Saya masih ingat keluhan Ika pada menu-menu yang ia dapat di dorm pabrik tempat ia tinggal dengan teman-temannya yang lain. Telur triplek (sebutan mereka untuk telur yang didadar saking tipisnya) sering ia dapat saat makan malam atau sarapan pagi sebelum masuk pabrik. Cerita Ika tentang telur tripleknya itu membuat saya iba hingga saya sering memasukkan nama Ika di daftar ‘undangan-pesta-di-ruang-konseptor’ yang sering kami adakan saat jam istirahat.

Ada beberapa hal yang membuat saya kagum pada Ika. Selain apa adanya dan ceria, ia tak pernah sekalipun sombong. Saya ingat sekali disela Ika mengerjakan desain saya di meja kerjanya. Ia bercerita tentang ayahnya yang kocak sebagai tanda rindu akan keluarganya di Jogja. Ada perasaan sayang yang teramat dalam pada sosok ayahnya. Mendengarnya bercerita membuat saya tersenyum, ternyata jarak membuat ia semakin menyayangi keluarganya. Saya, yang saat itu masih tinggal bersama orang tua, belum paham arti sebuah rindu bagi seorang perantau.

KingHalim4-1

KingHalim4-2

-bersambung-

Lagos, 9 : 23 pm.

A Present

I always teach myself one thing, if I have to give a present, it has to be proper. It has to. I dunno, I always keep in mind that giving a thing for someone, especially a person who you respect to, it has to be a proper thing. It doesn’t have to be an expensive one, just a thing that is beautiful, useful and meaningful. The meaning behind it speaks louder, oh definitely.

Days before my flatmate gone, I asked him to help me choosing a wrist watch for myself. I know he has a better sense of fashion than me (in fact I’m not good enough!), that’s why I always ask him for an advice. When I picked the one I thought I loved it, a very simple watch, he said it looked cheap. Then I moved to one shoulder bag I fell in love at first sight (I couldn’t achive that navy blue for now, maybe later :|). When we were busy looking around all the items inside the store, he found this rucksack. Then I told him directly “Is it really nice?”, he said “It’s so cool!”. The I said “should we pack this? It’s for you. I had a will to get you something before you leave. Thank God I didn’t choose that brown watch for you as a surprise, huh!”. Fortunately, he was so happy for the present.

When he stand in queue at the airport few hours before he left this country, I looked at this bag and realised that it’s so cool really. The reddish color inside of this bag is so damn cool. Contrast yet harmonious.

Did I mention that I’m a Fossil lover? :)
ProperPresent

Achive

Achive

Saya baru saja melewati hari yang cukup mengesankan. Pertama, sahabat saya resmi meninggalkan benua ini. Saya tidak akan menulis tentang perasaan sedih selama perjalanan ke bandara, atau, sekedar membuka pintu kamarnya (lagi). Baru saja, hal-hal kecil sudah mulai terlintas kembali mengingatkan padanya. Mug hitam yang selalu ia pakai untuk menyeduh coklat panas untuk sarapan, atau temaram lampu kamarnya tempat kami biasa berbagi cerita. Ia sudah terbang, entah berada di atas negara mana ia sekarang. Saya berdoa ia selamat sampai di Indonesia. Saya sudah memliki kerangka tulisan tentangnya, hanya saja, saya perlu waktu untuk mengumpulkan ingatan-ingatan, pun foto-foto yang berhasil saya kumpulkan.

Kedua, hari ini saya mulai menantang diri untuk bisa lebih bertanggung jawab dengan pekerjaan. Tanggung jawab saya akan lebih besar tanpa sahabat saya itu. Mau tak mau, ini perkara kemauan. Kemauan untuk berjuang lebih keras. Di postingan ini saya akan melihat sedikit lebih ke belakang. Memahami arti bersyukur dan kerja keras. Ada satu hal yang mampu menghapus perasaan lelah yang memuncak. Satu hal itu bisa jadi rasa syukur akan perubahan hidup sedikit demi sedikit. Apa yang dulu belum bisa dimiliki, sekarang sudah dimiliki.

Ijinkan saya mengenang laptop pertama yang saya miliki.

Jika mengingat kembali delapan tahun lalu, saat saya menempuh pendidikan di Desain Produk, ada satu hal yang membuat perasaan saya gusar. Pasalnya, semester ketiga, saya sudah harus berkenalan dengan tugas-tugas yang membutuhkan komputer. Kegusaran semakin menjadi karena saya tidak yakin bisa memilikinya. Bagi seorang mahasiswa desain yang berasal dari keluarga pas-pasan, sebuah perangkat komputer seharga empat-lima jutaan bukan hanya mahal, tapi sangat mahal.

Sebenarnya, komputer sewaan di warnet bisa menjadi alternatif. Koneksi internet yang saya butuhkan dulu, sudah menyatu dengan software-software dasar. Hanya saja, saya tak menemukan software desain, yang kemudian berhasil menjadi alasan logis sebagai bahan mengemis sebuah komputer. Adalah Ibu dan kakak termuda, yang berbaik hati memikirkan nasib kuliah saya. Seperangkat komputer yang mereka dapatkan dengan sistem cicilan, akhirnya membuat saya tersenyum lebar. Bagaimana tidak, angan-angan saya memiliki komputer sendiri menjadi kenyataan. Memiliki komputer di rumah membahagiakan saya meski hanya sekedar mengganti wallpaper di layar, atau mengutak-atik playlist di Winamp. Perlahan, saya meninggalkan warnet meski saya masih rajin datang setiap pukul sembilan pagi di hari minggu karena koneksi internet bulanan yang masih terlalu lambat.

Setahun kemudian, saya kembali gusar saat melihat hampir semua teman di kampus membawa komputer jinjing. Saya hanya bisa menikmati dari jauh sambil membayangkan bagaimana rasanya mengerjakan tugas kuliah di atas kasur, di perpustakaan, di restoran cepat saji, atau bahkan sambil makan di meja makan. Memiliki komputer jinjing bukan impian saya. Selain tak tega mengemis lagi, saya memaksa diri saya untuk menutup mata pada mimpi-mimpi kecil semacam itu. Saat tugas-tugas kuliah mulai beragam, dan mobilitas diperlukan, saya tak punya pilihan lain selain membunuh rasa malu untuk meminjam komputer jinjing pada teman. Beruntungnya, selalu ada tempat di kos teman-teman baik untuk saya.

Ingatan saya masih kuat pada suatu malam saat Werdha, salah seorang teman baik, rela datang ke kos teman saya yang lain, Arie, sesaat setelah saya mengirim pesan padanya. Pesan bahwa malam itu saya harus menyelesaikan tugas kuliah dengan deadline yang terus memendek. Tak ada pilihan lain selain harus tetap tinggal di kos Arie dan menyelesaikannya. Malam itu saya sangat butuh pinjaman sebuah komputer jinjing. Kebetulan, milik Werdha sedang tidak dipakai. Malam itu saya belajar, masih ada seorang teman sebaik Werdha yang memberi pertolongan tulus hingga rela menembus hujan. Mungkin saja kenangan itu terdengar biasa, namun bagi saya, selalu ada nilai-nilai penting yang tak bisa disepelekan begitu saja. Werdha, bagaimana kabarmu sekarang?, tetaplah menjadi orang baik Wer :)

Saya mungkin terlambat, baru memiliki komputer jinjing hampir dua tahun setelah saya lulus kuliah. Tapi ada satu hal yang harus saya syukuri, saya membeli komputer jinjing pertama dengan hasil keringat sendiri. Satu hal lagi, ia sebuah MacBook. Sebuah merk yang mungkin dulu hanya sebuah mimpi untuk saya miliki. Saya tak bermaksud jemawa disini, don’t get me wrong. Saya hanya sedikit membanggakan diri sendiri dengan sebuah syukur dan rasa percaya. Bahwa, dengan kerja keras, mimpi yang bahkan dulu tak pernah terlintas bisa menjadi nyata.

Macbook mungkin contoh kecil sebuah mimpi. Saya masih memiliki banyak mimpi. Saya yakin anda juga. Semua mimpi itu hanya perlu satu kata ; wujudkan. Wujudkan, tentu bukan sebuah kata sederhana. Ia terbentuk dari sebuah kemauan, keteguhan, ketangguhan dan kerja keras. Wujudkan itu ada pada saya. Anda?