Suhoor

Just a quick post, first Suhoor today (!!!). Ramadhan is coming, first day of fasting month :) . Here I just want to share quick meal for Suhoor that I cooked one hour ago, this ;

Sahur Perdana

Believe it or not, I just found ‘Kangkung’ or water spinach you called in English two days ago in Lagos, sounds ridiculous huh? Finally I could find and cooked Kangkung, a bit spicy but that was okay. Normally, first suhoor wasn’t easy for me, such a poor night (four hours only for sleeping :(..) and had to cook also after I woke up.

Hmm, I have to say my Mommy is SUPER WOMAN who always cook well, waking up everyone in my house, and after, has to wash dish for suhoor, O boy that isn’t easy at all. I miss Mom! :( anyway, this short post isn’t short anymore if I keep writing.

Bon Ramadhan everyone! Thanks to God for Ramadhan this year!

Kado Untuk Rifda

Saya pernah berjanji pada Rifda, salah satu teman terdekat, bisa pula dikatakan sahabat, untuk menulis tulisan sederhana ini sebagai kado di hari pentingnya. Tepat tanggal enam bulan lalu ia menikah. Postingan ini amat terlambat, tapi bukankah lebih baik daripada tidak sama sekali?

Saya dan Rifda satu angkatan di kampus desain produk delapan tahun lalu. Entah bagaimana awalnya kami akrab. Di angkatan desain produk tahun itu yang hanya memiliki dua perempuan, Rifda termasuk paling mudah akrab dengan teman lelaki. Ia supel sekali.

Lucunya kami tak cukup dekat di semester awal, saya dan Rifda, oh tidak, kami bertiga, saya, ia dan Ruli, kami justru dekat saat semester-semester akhir. Rifda dan Ruli dulu sering memandang saya sebagai mahasiswa yang gemar memilih teman-teman pintar. Kumpulan mahasiswa yang selalu memiliki ritme asistensi tugas mulus. Sedang Ruli dan Rifda biasa mendapatkan wajah murung dosen dan waktu asistensi yang singkat. Hmm tapi itu dulu saat kami bertiga belum cukup dekat. Persahabatan saya dengan mereka berdua masih cukup erat hingga kini meski komunikasi kami sedikit renggang karena kesibukan masing-masing.

Bagi saya Rifda memiliki kelebihannya sendiri, wawasannya cukup luas, pecinta buku, buah apel dan novel bagus. Kerapkali bisa berubah menjadi seorang pemanja dan moody.

Ada beberapa momen dengannya yang masih bisa saya ingat dengan baik hingga kini. Pernah kami menghabiskan suatu malam di rumah Ruli. ‘Sok’ sibuk membantu Ruli yang sedang dikejar deadline tugas akhir. Saya dan Rifda yang berhasil diiming-imingi makan malam gratis oleh Ruli saat itu tancap gas dari Surabaya ke Gresik. Sebenarnya bukan karena iming-iming itu sih, kami berdua sadar hanya punya hari itu untuk membantu Ruli sebelum akhirnya ia ujian. Saya masih ingat sekali bagaimana cerewetnya saya malam itu yang susah menemukan makanan warung yang menawarkan makanan rendah minyak. Saya memang kurang ajar hingga Ruli sempat diam-diam komplain ke Rifda atas sikap mengesalkan saya pada makanan-makanan berminyak itu. Padahal sebenarnya makanan yang saya pilih saat itu hanyalah sepiring Cap Cay kuah. Namun karena Cap Cay-nya ada beberapa bintik hitam sisa penggorengan olahan sebelumnya, nafsu makan saya turun seketika. Oh tapi itu dulu gegara ajaran Edwin Lau, chef yang terkenal dengan kampanye makanan sehat. Sekarang tidak lagi kok, saya pemakan segala, glutton!. Malam itu kami bertiga lebih banyak ngobrol (baca ; nggosipin orang!) daripada benar-benar membantu portofolio si Ruli. Hmm saya baru sadar kami bertiga tidak pernah berfoto bersama, poor me.

Kenangan dengan Rifda saat sekantor dulu juga masih membekas. Awalnya benar-benar aneh saat kami berkenalan ‘lagi’ di hari pertamanya, it was ridiculous!. Seperti biasa, setiap ada karyawan baru sudah jadi ritual pengenalan ke beberapa partner kerja, tapi Rifda? Oh, kami akan bekerja dalam tim yang sama. Di kantor dulu, Rifda dan saya, plus kawan kami yang juga tak selalu serius kerja, Yuriko dan Edwin, lebih banyak bertukar gosip akan banyak hal, mulai dari benda plastik yang menaungi AC kepala HRD, tentang manajer kami, hingga pandai bersandiwara memasang tampang serius saat kami harus duduk di meeting mingguan yang menjemukan. Rifda tak cukup lama bekerja sama dengan saya di tim konseptor, singkat sekali, hanya tiga bulan. Itupun hanya satu bulan setengah yang bisa dihitung aktif karena ia sering sakit hingga akhirnya mengundurkan diri.

Saya dan Rifda pernah bermimpi suatu saat bisa hidup di daratan biru. Ia terkesima dengan kemajuan teknologi Jerman, sedang saya yang tak pernah berhenti membayangkan artistiknya Italia dan Perancis. Kami pernah bermimpi bisa belajar disana. Bermimpi menjadi mahasiswa pasca sarjana yang mampu menghadang tekanan tugas-tugas berbahasa asing yang menumpuk, merasakan perubahan musim yang tak bisa kami dapatkan di negeri sendiri, berkunjung ke museum saat musim perkuliahan cukup renggang, belajar aksen bahasa setempat, hingga bermimpi bisa menjadi borjuis dadakan. Borjuis? Ya, Rifda pernah bermimpi bisa melenggang bebas masuk mengunjungi (baca ; belanja) butik-butik ternama sedang saya lebih memilih berburu makanan enak di restoran-restoran mahal. Ah, semoga suatu hari nanti mimpi-mimpi itu bisa menemukan jalannya sendiri.

Saya bahagia akhirnya Rifda menikah. Dulu saat kami intens bercakap di bbm, menikah adalah salah satu yang ia impikan dalam waktu dekat, selain perihal beasiswa master ke Jerman yang selalu ia impikan. Kini ia tak perlu lagi gelisah akan jodohnya. Tuhan telah memberinya jawaban dari hal besar yang selalu ia resahkan dulu.

Sayangnya saya tahu ia akan menikah bukan dari ia sendiri. Ia tak mengabari saya langsung, entahlah, mungkin karena terlalu bahagia sehingga lupa. Undangan virtual pun tak pernah sampai. Mungkin Rifda sadar betul saya tidak akan datang karena berada di benua yang berbeda. Kecewa iya, tapi itu terhapus dengan perasaan bahagia, karena akhirnya, doa yang dulu pernah saya panjatkan untuknya telah dijawab Tuhan di waktu yang sempurna. Menyedihkan memang tidak bisa menghadiri hari penting teman baik, but I had to face up reality that day.

Bukan saya terlalu kritis atau sensitif, tapi mungkin kita berdua harus belajar lagi bahwa persahabatan tidak seharusnya seperti bayangan, yang hanya ada saat terang namun hilang saat gelap. Kalimat didepan seperti curhat colongan ya, maaf ;). Saya akan terus memanjatkan doa untuknya agar apapun yang ia jalani di masa mendatang selalu dirahmati Tuhan. Amin.

Oh ya, masih ingat lirik lagu ini Rifda? Lirik dari lagu yang sering kita putar bersama Yuriko dan Edwin saat jarum jam kantor mendekati pertengahan angka empat dan lima? “..Engkau sangat berarti, istimewa di hati, selamanya rasa ini…jika tua nanti kita t’lah hidup masing-masing…ingatlah hari ini…”

Semoga kamu tak lupa.

Rifda1

Rifda2

Ah buku ini! Ini buku bagus dari Rifda yang ia hadiahkan untuk saya karena membantu menyusun laporan tugas akhirnya, one of my fav book from Paul Arden! Oh tidak, itu tujuh tahun yang lalu? Time flies.

Rifda3

P.S. Finally I had time untuk menghubungi Rifda dari sini sekedar mengucapkan selamat atas pernikahannya dua hari yang lalu. Terlambat sekali tapi saya yakin ia bahagia bisa mendengar suara saya dan ngobrol beberapa menit lewat telepon, terbukti she was screaming di pembicaraan awal kami. I love to make people happy. Rifda, jangan pernah lupa lirik ini “..Engkau sangat berarti, istimewa di hati, selamanya rasa ini…jika tua nanti kita t’lah hidup masing-masing…ingatlah hari ini…”. Maaf, saking sukanya saya pada lirik jenius dari P Project saya mengulangnya tiga kali. Well, like what was Henry David Thoreau said ; The language of friendship isn’t words but meanings.

Lagos, 2;39 pm.

Next (Part 2, Done!)

Ah saya baru punya waktu melanjutkan curhatan saya kapan hari :)

Belajar dengan passion itu jelas berbeda hasilnya. Kemampuan saya melihat, menganalisa kemudian menciptakan suatu desain banyak ditempa di desain produk. Kuliah disana awalnya jelas tidak mudah bagi saya, pertama, karena kuliah desain tidak murah. Kedua, persaingannya jelas cukup ketat, teman-teman memiliki kelebihannya masing-masing. Ketiga, hmm (deep breath), lingkungan sosial mungkin ya, sedikit ‘hedon’ <— ini pendapat saya pribadi ya :). Yang terakhir seringkali membuat saya kikuk, mati gaya :P.

Sejak kuliah saya selalu menanamkan niat bahwa kuliah saya harus baik karena tanggung jawab yang saya emban (<– ini bahasa saya berat sekali ;P).  Artinya perjuangan saya di bangku kuliah harus sejalan dengan perjuangan orang tua, kasihan mereka kan jika saya tidak serius. ‘Baik’ bukan berarti nilai saya semuanya harus A atau harus cumlaude atau tak pernah sekalipun mengulang mata kuliah di semester selanjutnya. Baik itu harus bisa menguasai ilmu dan penerapannya. I’m thinking.

Empat tahun belajar disana mengisahkan banyak hal yang kadang membuat saya tersenyum sendiri saat ini. Mahasiswa yang tidak modis, apalagi gaul, tanpa gadget yang mendukung kuliah (I had no laptop that time, can you imagine? ;P), sedikit nerd yang menyukai perpustakaan bukan hanya karena koleksi bukunya tapi internet gratisnya (whatta pity me!), ah semuanya terdengar lucu sekarang. Bersyukurnya saya bisa menyelesaikan empat tahun disana meski di detik-detik terakhir kelulusan, saya nampak pontang-panting karena kecerobohan manajemen waktu saat tugas akhir (phew!). Tapi untungnya, semua terlewati dengan baik. Sekali lagi, saya melibatkan passion meski passion saya saat itu agak labil.

Dua bulan setelah resmi menjadi Sarjana Teknik (kenapa bukan Sarjana Desain? :P ah sudahlah), saya menerima pekerjaan pertama. Sebenarnya dua bulan sebelum saya resmi bekerja di suatu perusahaan, saya sibuk dengan proyek seorang dosen di kampus, jadi bisa dibilang saya belum pernah menganggur :P. Menerima pekerjaan pertama di salah satu perusahaan perhiasaan terbesar di Indonesia? Perhiasan? Mimpi apa coba, saya sama sekali buta seluk beluk perhiasan.

Apa saya ala kadarnya menerima pekerjaan itu setelah melewati dua kali tes psikologi dan dua kali pula wawancara? Ala kardanya? Tidak. Saya tidak akan mau mengatai diri saya seperti itu, kenapa? Karena begini ; sikap sok-sok pemilih untuk seorang sarjana baru TIDAK berlaku bagi saya. Keputusan mengambil pekerjaan pertama sebagai salah satu tim konseptor perhiasan paling tidak membuka pandangan saya untuk belajar ilmu baru. Selama disana saya belajar banyak, proses desain, flow penjualan, produksi, dan hal-hal semacamnya yang dulu tidak saya dapatkan di bangku kuliah. Tak hanya itu sih, saya belajar team work yang sesungguhnya, team work dalam tim desain saya sendiri dan dengan tim departemen lain. Di perusahaan itu pula saya menemukan beberapa teman-teman baru yang hingga saat ini masih saling bersua meski lewat internet.

Salah satu hal yang mengesankan disana adalah saat saya diberi kebebasan memimpin salah satu proyek pameran perusahaan. Lucu juga sih karena pengetahuan teknik produk perhiasan belum saya kuasai benar, cuman mungkin, mungkin lo ya :D, divisi marketing, manajer produksi dan owner perusahaan percaya saya cukup kompeten dalam mengolah konsep dan pengembangannya. Sepertinya saya ke-GR-an ya :P, maaf. Pencapaian kecil itu bisa dianggap salah satu pembuktian, pembuktian pada diri saya sendiri bahwa paling tidak saya bisa melakukan ‘sesuatu’ untuk perusahaan sebulan sebelum resmi mengundurkan diri.

Nanti kalau saya punya waktu luang, saya tulis terpisah kenangan di perusahaan itu :).

Setelah resmi mengundurkan diri, sebulan setelahnya saya langsung tancap gas ke Afrika. Disini malah lebih gila. Gilanya dalam arti positif dan negatif. Begini, saya berangkat kesini sekali lagi, nothing to loose. Saya tak tahu seluk beluk event industry. Dan….ini pekerjaan terberat yang pernah saya kerjakan! Beratnya dimana? Lain kali saya share seluk beluk pekerjaan ini :). Jika ditanya apakah passion saya kemudian berlabuh disini? Jujur, saya masih memupuknya. Saya masih belajar dan hingga detik ini ilmu dan pengalamannya luar biasa.

***

Oya, sejak pertama bekerja di suatu perusahaan, saya selalu punya time frame. Maksudnya begini, setahun bekerja biasanya saya coba flash back dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ; “sudah dapat apa saja?, gaji naik berapa (??? :P), apresiasi perusahaan pada saya ada tidak (???), sudah belajar apa saja?, pengalaman bertambah ga’?” dan pertanyaan-pertanyaan sejenisnya. Nah biasanya jika saya tidak cukup puas dengan pekerjaan, tempat kerja plus sistem-sistem perusahaan, gaji juga (!!!), saya akan memberi waktu pada diri sendiri untuk bekerja di tempat itu MAKSIMAL dua tahun. Ya, dua tahun. Saya meninggalkan pekerjaan pertama setelah satu tahun tujuh bulan disana. Tidak puaskah saya? Monggo disimpulkan sendiri :P

NEXT? Pertanyaan selanjutnya ; “habis gini mau kemana? kerja apa? punya apa? sama siapa? …apa…dimana…bagaimana…?” dengan TANDA-TANYA yang cukup BESAR yang selalu menari-nari di pikiran saya. Bahkan saat ini pikiran-pikiran itu kerap menari sendiri.

Next2

Kembali ke awal tulisan bagian pertama saat terkesima dengan blog makanan seorang fotografer profesional itu, apakah dunia seperti miliknya akan menjadi pelabuhan saya setelah ini? Apakah saya akan siap meninggalkan semua fasilitas plus gaji dalam bentuk dolar? Ini pertanyaan bagus. Saya pribadi tidak pernah takut kehilangan pekerjaan dan fasilitasnya. Bagi saya kesempatan berkembang dan tahu banyak hal baru itu jauh lebih penting dari sekedar duduk manis di zona aman dan mengerjakan hal yang itu-itu saja. Bisa jadi nanti, saat saya siap, saya akan meninggalkan ini untuk melabuhkan passion saya di dunia kreatif yang lain.

Hanya saja saat ini saya belum merasakan zona aman di industri ini, saya belum settle dari segi ilmu, pengalaman dan juga pendapatan, but sooner or later I’ll fly higher than today! I BELIEVE.

Next (Part 1)

Next

Pukul setengah tujuh petang, atau setengah jam setelah jam kantor berakhir, saya masih mendinginkan kepala di depan layar laptop. Jari-jemari saya masih lihai melaju santai di atas trackpad, sesekali mengetik keyboard, memasukkan kata-kata kunci yang mengarahkan atensi saya pada beberapa halaman web. Halaman-halaman itu random sekali, mulai dari mesin jus yang ingin saya beli nanti saat di Surabaya, beberapa merk dslr plus lensa-lensanya yang memanjakan mata (sesekali membuat saya lemas karena harganya ;3), hingga halaman blogger makanan dari beberapa negara.

Yang terakhir itu paling berhasil membuat otak saya sedikit lebih dingin dari traffic jam tasking-tasking pekerjaaan yang belum selesai hari ini. Blog makanan yang kualitasnya yahud seringkali membuat saya menjadi nakal. Membuat saya sejenak lari melupakan target-target pekerjaan. Hari ini saya terpukau dengan blog milik seorang fotografer profesional asal Irlandia yang sekarang berdomisili di Australia.

Beberapa kali saya mengumpat hasil karyanya.

Kemudian saya berpikir, “sepertinya aku harus meninggalkan pekerjaan ini untuk mengejar passion di dunia kuliner, itu duniaku! Ah, makanan-makanan itu, propsnya, pencahayaan dan anglenya, oh warna strawberi, tone jeruk dan salmonnya? coklat, buku? Dia menulis buku makanan? Hmm… ” dengan terus mengumpat hasil jepretan fotografer tadi saking indahnya.

Pernah terlantas di benak anda seperti apa yang saya rasa tadi? Saat anda melihat sepertinya dunia yang anda cintai jelas di depan mata namun anda belum berada di dalamnya?

Dari kalimat di atas, apakah anda berpikir saat ini saya bekerja secara terpaksa? Terpaksa bekerja di dunia yang bukan passion saya? Well, jika anda berpikir seperti itu, coba saya jelaskan. Tidak, bukan penjelasan yang akan saya tulis setelah ini, sekedar curhatan atau apa ya, mungkin sharing, kata yang jauh lebih tepat.

Dulu, saat saya menempuh tahun pertama di sekolah menengah umum, saya sudah tahu apa yang akan saya ambil jika saya kesampaian kuliah dua tahun setelahnya. Saya yakin jurusan Hubungan Internasional itu tempat saya. Kenapa HI? Saya pikir jurusan itu keren. Saya tak mahir ilmu politik, pengetahuan politik saya amat dangkal, komunikasi saya buruk. Tapi yang jelas, saya selalu terpukau dengan seseorang yang mahir berbahasa asing. Mungkin itu sebabnya di pikiran saya HI itu keren, karena kita diwajibkan bisa berbahasa asing. HI juga seperti sebuah tantangan bagi saya yang sejak SD menyukai Bahasa Inggris daripada mata pelajaran lain. Tantangannya ada pada kesempatan melatih Bahasa Inggris itu tadi secara otodidak. Saya tak cukup beruntung karena harus memendam impian bisa merasakan kursus bahasa seperti teman-teman saya yang lain. Tapi toh saya percaya dengan belajar sendiri juga akan bisa dengan kamus Inggris-Inggris Oxford bekas yang dibelikan Ayah di pasar loak. HI masih ada di benak saya hingga saya akan menempuh ujian nasional.

Apakah HI pilihan saya di ujian masuk untuk menjadi seorang mahasiswa? Sebentar, ini intermezzo. Suatu siang saat saya duduk di bangku, mengikuti materi bimbingan belajar gratisan di kelas, seorang mentor pelajaran Bahasa Indonesia mendekati saya. Perempuan setengah baya itu sedikit menegur saya karena tidak konsen mendengarkan materinya. Tengurannya halus sekali, bahkan saya pikir itu bukan teguran. Ia bertanya “Azis, jurusan apa yang akan kamu pilih saat kuliah nanti?” Saya jawab dengan jawaban yang sama yang selalu saya berikan pada siapapun yang bertanya hal serupa, “HI, Hubungan Internasional!”. Tentu dengan nada yang selalu mantap saat saya mengucapkan dua huruf keren itu.

Ia kemudian bertanya kembali, “Kenapa HI? Kenapa kamu tidak mencoba peruntungan di desain produk?”, Saya yang siang itu masih bloon apa itu desain produk, hanya berbalik bertanya “Jurusan apa itu?”. Mentor saya kemudian berkata “Saya kira kamu punya tempat disana, sketsa tanganmu bagus sekali, kenapa kamu tak mencobanya? Coba besok, saat jam istirahat, usahakan ke ruang BK, cari informasinya. Saya melihat brosur desain produk”. Kemudian ia menuju tempat duduknya di depan kelas sambil tersenyum simpul.

Sejak itu saya tahu, bahwa diluar sana ada jurusan desain yang baru saya sadari, jurusan itu MUNGKIN bisa menjadi tempat setelah saya kuliah. ‘Tempat’ yang saya maksud lebih tepatnya ; Tempat dimana saya bisa kuliah jika saya tak diterima di HI, jurusan dimana hanya menampung tiga puluh mahasiswa baru dari tiga ribuan peminat setiap tahun sesuai kuota jalur reguler.

Waktu berselang, saat semua proses untuk menjadi seorang mahasiswa baru terlampaui dan mendapatkan kabar gembira bahwa saya, lulusan SMA jurusan IPA yang sok-sok’an mencoba peruntungan lewat jalur campuran (IPA+IPS) di UMPTN dengan hanya belajar tiga malam dari buku latihan UMPTN dadakan, yang lupa sama sekali apa itu rumus-rumus ekonomi, sejarah peradaban Cina, apalagi sosiologi, akhirnya ada di daftar tiga puluh orang di jurusan HI. Senang? Bangga iya. Apa HI kemudian tempat saya berlabuh? Ternyata tidak. Saya juga diterima di desain produk.

Keputusan yang sedikit memusingkan antara HI dan desain yang harus saya ambil di waktu yang bersamaan akhirnya dimenangkan desain produk. Apa yang melatarbelakangi keputusan saya saat itu? Jawabannya mudah sekali ; Passion. Kembali lagi, sederhana, saya mengikuti passion. Saya menyukai keindahan visual, tangan saya selalu menciptakan coretan-coretan sejak kecil, saya menyukai alat-alat tulis, cat warna, kanvas, foto-foto indah di kalender duduk yang sering saya jiplak di karya lukisan saat SMP, dan hal-hal kreatif lainnya. Saya kira alasan saya masuk akal, mengasah apa yang saya punya jauh lebih cepat dan berhasil daripada memulai sesuatu yang belum saya ketahui sama sekali. Bertemu dengan pribadi-pribadi kreatif membuat saya mensyukuri keputusan itu. Serasa menemukan tempat yang tepat, saya menikmati belajar ilmu desain yang dinamis dengan karakter-karakter teman yang unik, pun kemampuan desain yang beragam. Jadi, menyelesaikan studi desain selama tepat empat tahun adalah salah satu tahapan yang saya pikir berhasil saya tempuh dengan passion itu tadi.

Tadinya saya janji akan tidur lebih awal pukul sepuluh, otak saya sudah berimajinasi mau diapakan ceri-ceri cantik yang kedinginan di lemari es besok pagi, ya sudah, besok saya lanjutkan tulisan ini.

Lagos, 11.01 pm

Oh Sky.

I can not lie that I miss Indonesia either food or her breathtaking scenery. I do miss beaches and perfect sunrise/sunset, I really do. Indonesia such an amazing heaven on the planet where splendid and mesmerizing sceneries could find easily, mountainsea, beach, deep sea, oh I proud. I cant wait for my leave this year and stay for days in the exotic island, heading the ocean, feel the breeze, clear sky, orangish sunset, nice foods, hmm I cant stop thinking.

Here some snaps that I took randomly few days ago here, small moments that made me forget my endless works for minutes.

Oh Sky 1

Oh Sky 2

Oh Sky 3

Oh Sky 4

Oh Sky 5

Oh Sky 6

Oh Sky 7

Meester Carlo.

Mr Carlo

Hey, just wanted to pop in this blog and share my small meeting with Mr Carlo, flower supplier for our company. Today was my first time I met Mr Carlo and he’s friendly man indeed. We shared our business relationship for hours and uh he showed me his cute baby boy in his iPhone that really well photographed! His son is so fine and I do love his expression in those pictures, so innocent in very very cute poses!

He visits some countries in Africa for days concerning his business on fresh flower and will be back to Netherland tomorrow. And before he gone I said “Mr Carlo, I’d like to snap you, If you don’t mind” haha, “Oh sure!” and as you see above, he looks friendly rite?

P.S. To be honest I always love to meet vary friendly people, make friend and expand my network in the future and oh yea I’d love to take picture with him like what I did with Aunty Linie. Unfortunately, today I was in mess for appearance, hahaha yeah I’m quite difficult to put picture of mine, I mean, I have to make sure my picture is deliberate before I post it here. Seeya in Amsterdam Meester! ;P 

Oh Kecap!

Oh Kecap

Akhirnya flatmate saya sudah kembali dari cutinya sebulan. Biasanya, setelah liburan cuti ia selalu membawa bahan-bahan makanan yang mustahil ditemukan disini disamping barang-barang pribadinya (baca: baju-baju baru! *envy!). Bahan makanan yang wajib alias fardhu ain yang harus ada di koper setiap kami kembali dari Indonesia tak lain tak bukan adalah Kecap. Ya, Kecap manis.

Segitu pentingnya kah Kecap? Oh yes bagi saya. Kenapa? Pertama, jangan harap bisa bertemu dengan kecap manis di Lagos. TIDAK ADA! Meski di supermarket kadang bertemu dengan Soya Sauce bikinan Hongkong atau Thailand, rasanya jelas-jelas bukan kecap! Pernah saya coba membawanya pulang dan ternyata rasanya sungguh aneh dan berbeda. Kecap manis tidak ada disini kecuali kalau kita mau bersusah payah ke KBRI dan mengikhlaskan membelinya beberapa kali lipat dari harga sesungguhnya. Jadi, setiap pulang kampung, kecap manis jelas HARUS punya ruang sendiri di koper. Kedua, pentingnya kecap manis ya jelas untuk memper-maknyus masakan-masakan yang tidak akan afdol tanpa kecap, Semur dan Sate contohnya.

Kecap bisa menjadi andalan saat rasa malas memasak melanda (baca: kantong kempis). Siapa yang tak suka dengan telur ceplok yang dimakan dengan nasi panas dan lumuran kecap? Ada yang tidak suka? Kesalahan! *sigh. Saya pikir hampir semuanya suka. Selain sederhana dan murah, rasa telur ceplok berpadu dengan manisnya kecap kadang kala bisa menumbangkan rasa makanan-makanan lezat di restoran, setidaknya bagi saya. Ada yang tidak suka dengan ayam goreng atau telur dadar yang disajikan dengan kecap yang dicampur dengan tumbukan cabe rawit dan bawang merah mentah? Jika iya, sekali lagi, itu kesalahan besar.

P.S : Saya berterima kasih pada flatmate saya yang bersusah payah berburu kecap sesaat sebelum ia harus check-in. Sepertinya ia terlalu sibuk liburan sebulan penuh dan kemudian harus merelakan $2 untuk sebotol kecil kecap di salah satu toko di terminal Internasional Soetta. Ia membawa dua botol untuk oleh-oleh saya, hehehe, saya jelas akan memilih kecap daripada apapun untuk oleh-oleh. Sebenarnya saya berharap ia membawa kecap terbaik yang pernah ada, si Bango! Tapi tak apalah daripada tidak sama sekali, hehehe. Kadang hal kecil yang membuat saya bangga terlahir sebagai seorang Indonesia adalah kekayaan pusaka kulinernya, kecap manis salah satunya. Foto terlampir itu masakan pertama yang saya olah dengan kecap dua hari yang lalu, krengsengan hati sapi dan telur mata sapi, oh damn sepagi ini saya tiba-tiba lapar :P

A Little Celebration

It’s always good to be grateful when we are blessed with another year (it should!). A little celebration that I did yesterday as my BDAY gift (?), oh nope let me say it was just another spontaneous practicing Italian food.

A simply salty and cheesy cute bow-tie Farfalle served with Shrimps and Lumfish Caviar such a perfect late lunch meal and a piece of Strawberry Cheese cake was a yummy choice after salty and cheesy taste melted in my mouth. It was a little or too-little food for BDAY huh? Oh nope, I promise myself to have a proper dinner for late BDAY celebration when I’m coming home (yes! home!). I hope I can control my giddy side from pricey food for that celebration :P

Farfalle Shrimpcheese 3

Farfalle Shrimpcheese 1

Farfalle Shrimpcheese 6

Farfalle Shrimpcheese 2

Farfalle Shrimpcheese 5

Farfalle Shrimpcheese 4

Cheese Cake 1

Cheese Cake 3

Cheese Cake 2

P.S. Forgive me for the strong light on all these, that was because I cooked late and as always dramatic light comes around 5 pm makes pictures too sharp :P. I’ll post the recipe later, I’m off now, it’s Monday oh, real life awaits.

25

25

Personally, I always have a minor fear for my birthday for years, it sounds insane I know. There is nothing special for birth(day) unless the fact that I have to make tons of changes in life, for every single part of life, which means that some of the things I haven’t gotten yet MUST be on my hand and all dreams inside my bucket list must be REAL.

For me life isn’t easy when getting older and older, and probably that’s one of my personal reason that makes me hate to be stupid cause it will be harder. In the same time I should be grateful for everything that has been happened for past year, any wishes everything better for the next.

I’d like to write 24 memorable things that I should remember ;

  1. Had an encourage to show that I could raise my bar to another level, crossed the continent for the first time in my life
  2. One of the biggest fearless decision in life made me out from comfort zone
  3. Moved to the land where it has been teaching me so many things, out dare the real life since I started my steps, it’s unreal
  4. Working in the brand new industry where I find all the odds are endless
  5. Met an amazing Madam Uche who teach me so many priceless lesson
  6. Could be a wiser young man by loving adorable parents (+family) more, distance makes a real change
  7. Knew Alice Gao who inspire me a lot in (food) photography, I do love every single of her works, ALL (awe-inspiring Alice!)
  8. Met and worked for some well-known figures from this country, from politician, VS modelMiss Worldlawyers, until Vice President (more ahead)
  9. More grateful by enjoying every pieces of food that I could easily enjoy them, hm I’d like to be a serious glutton someday
  10. Stuck deeper into (food) photography since I got my mirrorless
  11. Had cool stuff(s) that I got from my own hard work (really worth it)
  12. Had an indescribable (or unforgettable) feeling when I got home after several months
  13. Spent three days at Ranu Kumbolo with 4 best friends, I could see entire sky full of stars along blissful night, felt a real freedom
  14. Eat out more
  15. Had some meetings with old friends, spent hours in some different places where we could share anything since we’ve been separated each other
  16. Salary raised (I spend more, seems the same :P)
  17. Having small private room where I can share anything, this young blog
  18. Did so many different projects that I couldn’t even believe that I could (port folio should be richer)
  19. Speaking English in daily life, learning more to speak with British accent, it would be enrich my language skill (and it’s free)
  20. Being expatriate in this age isn’t easy, but I’d like to be grateful for sure
  21. Broken hearted
  22. Respect myself more than before (so much)
  23. One of my biggest dream to visit my dream land has a mild sign into reality
  24. Spent 10 days for Ramadhan in my own country, it sounds ridiculous but it was meant to me

And I’d like to wish 25 things for a year ahead ;

  1. Keeping up my good work, build my self-esteem in my professional career
  2. Always ready for all the obstacles in the future
  3. Visiting different country in Africa where I can see the beauty of life clearly,
  4. Not only working but all experiences that I’ve gotten could open another door, another chances, another level of professionalism
  5. Meet more and more amazing figures who I can pick their brain and learn more
  6. Giving my parents small gift that I get from my hard work
  7. Not only see Alice Gao in her instagram feet, having chance for coffee time in NYC :P
  8. Exploring foods in different spots in Indonesia when I’m coming back, this year (can’t wait)
  9. Get my DSLR and high quality lenses
  10. More Apple products (!)
  11. Can fly back home twice in a year with executive class :P
  12. More new places, more travel, more experiences of life
  13. Enjoying more hi-end foods in hi-end places and capture them in hi-quality ones
  14. Meet more friends, can’t wait to see them this year (!)
  15. Salary raise twice oh no three times or four :P, and get another income from hobbies
  16. Posting more and more quality posts in this blog
  17. Taking part in some inter-continental projects
  18. Taking French class
  19. No more broken-hearted, can find perfect one for future (!!!)
  20. Visiting Marbella in April for work and spend more days to see Mediterranean, Paris – Berlin and their neighbours
  21. Celebrating I’d Fitr in houuuse this year (!)
  22. Getting my first step for Master Degree (!)
  23. Diving in many different amazing spots in Indonesia
  24. Taking swimming course (rggh!)
  25. Live this year fulfilled with energy and positivity, being meaningful person for others

Last, overwhelmed gratitude for all blesses every day, Thanks God.

Cheers,

Azis.

Bahagianya Pulang! (Bagian 2, Selesai)

Lagos – Dubai.

Saya sudah duduk manis di dalam pesawat. Seperti halnya penerbangan dari Dubai ke Lagos, penerbangan sebaliknya ini tak selalu ramai. Beberapa kursi tampak tak ada yang memiliki. Saya duduk tepat di barisan kursi sebelah kiri, dekat jendela. Siang hari cahaya dari luar nampak sangat kuat menembus jendela membuat saya terpaksa menutupnya. Pesawat saya mulai take-off. Bahagia yang sesungguhnya pun dimulai.

Saya mulai menaruh headsets di kedua daun telinga, menikmati musik dari playlist ponsel saya sendiri. Bahagia kecil terjadi lagi saat waktu menikmati makan siang tiba. Saya belum seribet sekarang saat melihat makanan-makanan bagus ada di depan mata. Saat itu saya hanya menikmati complete meal  mulai dari nasi hingga dessert-nya. Mousse coklat Emirates memang juara. Sungguh lumer di lidah.

Saat hari sudah sore, saya mulai membuka jendela di samping untuk menikmati sore dari ketinggian saat awan-awan yang mirip kumpulan kapas itu mulai menguning. Senjanya cukup indah hari itu. Saya tidak memperhatikan layar di depan saya sudah berada di ketinggian negara mana. Yang jelas, bisa menikmati senja di ketinggian, staring up my window dan sadar bahwa saya berada di pesawat dalam perjalanan pulang itu bisa jadi bahagia kecil lainnya. Hari mulai gelap, saya mulai mengantuk. Mata saya sepertinya meminta tanggung jawab untuk dipejamkan. Jam tidur yang terganggu sehari sebelumnya berhasil saya tebus. Jaket tebal tidak cukup mempan mengurangi dinginnya temperatur di dalam pesawat. Namun saya tetap terlelap tidur. Sesekali bangun untuk memastikan saya sudah melewati negara mana saja. Dan yang terpenting pukul yang berlaku detik itu selalu saya perhatikan.

Tidak terasa saya sudah bangun dengan badan yang lebih segar. Layar di depan menunjukkan Dubai sudah dekat. Saya mulai menyesuaikan waktu setempat dengan jam tangan abu-abu yang melingkar di pergelangan kiri. Tujuannya tentu saja agar saya update dengan zona waktu yang berlaku saat itu. Ini penting sekali agar saya selalu waspada dengan jadwal penerbangan selanjutnya.

Pesawat tiba di Dubai. Pagi sekali, beberapa menit setelah melewati pukul dua belas waktu Dubai. Bandara masih sibuk meski tak segila pagi dan siang hari. Saya bersemangat mencari terminal selanjutnya dengan langkah yang lebih mantap. Saya harus memastikan jam penerbangan dan titik terminal saya tepat. Setelah saya yakin dengan jam terbang selanjutnya dan tentu saja letak terminalnya, saya kembali menyusuri bandara yang sekilas seperti mall itu dengan langkah tergesa-gesa. Waktu transit saya ternyata tidak sesuai dengan apa yang ada di tiket saya. Saya hanya memiliki sekitar satu setengah jam dari tiga jam yang tertera di tiket. Sial!

Saya menyusuri beberapa toko setelah berhasil menukar dollar ke dirham. Tidak banyak barang yang saya beli, hanya beberapa benda kecil yang menurut saya unik dan ringan. Sempat mampir ke kedai Starbucks sebentar dan mencomot mug serta botol minum berhiaskan Burj al Arab. Selain itu, toko yang memajang beberapa pernak-pernik khas negeri kaya itu berhasil menggoda saya. Beberapa magnet lemari es, gantungan kunci, miniatur hotel milik Dubai yang menjulang, dan beberapa suvenir berukuran mini saya pilih. Oh ya, saya sempat bertemu kembali dengan gadis Iran di salah satu gerai parfum ternama.

Sebenarnya saya belum puas mengelilingi bandara, namun karena tak ingin mengambil resiko terlambat check-in, akhirnya saya putuskan kembali ke terminal yang sudah nampak sangat penuh. Penuh dengan orang-orang negeri sendiri yang akan pulang, selebihnya orang-orang barat yang transit disana setelah penerbangan dari Amsterdam.

Ah, saya semakin dekat dengan Jakarta. Kali ini saya harus menempuh delapan hingga sembilan jam lagi. Pesawat dari Dubai ke Jakarta selalu sesak. Kali ini saya tak cukup beruntung duduk di spot favorit saya. Seorang Jerman duduk di dekat jendela. Disampingnya seorang Belanda dan setelahnya baru saya. Penerbangan saya saat itu was the best ever, tentu karena kepulangan pertama. Saya tak henti melihat layar dimana pesawat sudah melewati India, kemudian ke arah timur lagi dan lagi hingga menunjukkan sudah diatas Malaysia. O gosh it was so fantastic! Saya akan tiba di Jakarta.

***

Jakarta-Surabaya.

Akhirnya, sumringah saya ada pada titik tertinggi, Jakarta! Saya berhasil mendarat di negara sendiri setelah sebelas bulan lamanya.

Tiba di Jakarta, artinya beberapa jam lagi saya akan tiba di kampung halaman. Keluar dari pesawat masih setengah tidak percaya, Indonesia!. Terdengar norak ya? Ah anda mungkin belum bisa merasakan apa yang saya rasa saat itu. Setelah melewati imigrasi, saya langsung menuju tempat penukaran uang. Saya tak memiliki rupiah yang cukup untuk pulang.

Tiket Jakarta-Surabaya yang sudah di tangan sejak tiga hari sebelum saya tiba, menunjukkan penerbangan ke Surabaya pukul 7 malam. Cukup lah, tak terlalu malam. Tapi….sial sekali! Pesawat saya delayed hingga pukul sembilan dan terus hingga akhirnya berangkat pukul sepuluh. Artinya saya akan tiba hampir tengah malam, rrghh! Saya mencoba menikmati setiap momennya. Menapaki jalan menuju pesawat saat itu benar-benar membahagiakan. Sejam perjalanan ke Surabaya tidak saya lewatkan dengan tidur meski mata saya setengah ngantuk. Akhirnya ya akhirnya! Surabaya!

Selesai dengan urusan koper tiga puluh kilo itu, saya mencari muka seorang yang sudah memaki-maki saya sejak perbincangan via bbm di bandara Lagos. Tak lain tak bukan, manusia yang menasbihkan sebagai orang paling kaya, si Ruli. Setelah beberapa menit mencari batang hidungnya akhirnya ketemu juga. Gila! Ia tambah tambun, hahaha! Makian-makian Ruli tak akan pernah habis, bahkan sampai di warung tempat kami menikmati rawon tengah malam, warung di depan JW Marriot. Sebenarnya saya memilih bakso sebagai makanan yang harus dinikmati pertama kali, tapi rawon juga bukan pilihan buruk. Apalagi…apalagi…saya bertemu dengan tempe! Jiah tempe! Fav food ever! Plus kerupuk putih. Nikmat sekali.

Setelah selesai ‘ngewarung’ dini hari akhirnya saya sampai juga di kampung. Ow no, dini hari melenggang di kampung sendiri dan….waktunya knocking doors! Ini lucu. Mengetuk pintu rumah, yang ada bapak saya yang membukanya. Kedengaran dari dalam ia ngomel kecil, “siapa tamu pagi-pagi begini…” jiah…tak dinanya saat pintu terbuka…”oh, kamu…” hahaha. Kalau diingat lucu juga ya! Setelah bapak, giliran mengagetkan ibu yang terlelap tidur. Saya ‘jawil’ beliau, setengah tak sadar matanya terbuka perlahan dan…..jiah ini lebih dramatis sedikit, beliau langsung terbangun dan memeluk saya. Matanya berkaca-kaca, mungkin beliau rindu sebelas bulan tak melihat batang hidung anak bungsunya.

Malam itu, oh bukan pagi, pagi itu pagi pertama di rumah, berbincang sebentar dengan bapak, ibu dan kakak saya yang terbangun karena kedatangan dadakan saya. Kami mengobrol ringan hingga pukul 2. Setelah itu saya ingin tidur di kasur! Meskipun agak sulit karena jetlag. Ah akhirnya…rumah.

Saya menghabiskan cuti saya sebulan yang lebih terasa seperti seminggu itu dengan maksimal. Kenyataannya sih tak terlalu maksimal jika saya ingat lagi. Tiga hari dihabiskan di alam terbuka dengan Maya, Ruli, Winda dan Ayos. Selebihnya banyak disibukkan dengan jalan-jalan dan bertemu dengan teman-teman kerja dulu pun sahabat-sahabat saya. Menghabiskan waktu dengan keluarga sedikit sekali, itu kesalahan saya yang saya janji…insyaallah tak akan terulang tahun ini. Saya sudah punya daftar baru tentang apa saja yang akan saya kerjakan untuk cuti tahun ini. Oh, pulang!

Sebentar, biar lebih sahdu saya putar dulu Home-nya Michael Steven Bublé yang tak pernah gagal membuat khayalan rumah di depan mata. Sepagi ini berpikiran pulang, jiah tak boleh ah!

Bahagianya Pulang 1

Bahagianya Pulang 2

Bahagianya Pulang 3

Bahagianya Pulang 4

Bahagianya Pulang 5

PS : Foto-foto terlampir diatas itu beberapa buah tangan yang saya beli, tidak semua bisa saya tunjukkan disini. Saya baru sadar bahwa saya tak banyak memiliki potret tahun lalu, jadi beberapa di postingan ini lah yang berhasil saya temukan di hardisk. Tak apalah, tahun ini akan saya posting lebih detail dengan foto-foto yang lebih menarik. Ah saya jadi tak sabar ke Lekki Market di Ikoyi, tempat saya menemukan kerajinan asli Afrika, kemudian belanja lebih kalap di Dubai nanti. Nanti…kalau saya pulang, bukan nanti beberapa jam kedepan hehehe. Sebentar, saya lirik dulu dompet saya *kemudian hening….